Jumat, 27 November 2009

Catatan Kecil tentang Sebatang Pohon..


Mataku terpaksa memandangi sederetan pohon yang tumbuh di tepi jalan Arief Rahman Hakim, Surabaya, ketika sedang melaju dengan sepeda motor. Terpaksa karena hanya itu pemandangan yang cukup membuatku merasa damai di tengah hiruk-pikuk keramaian kota metropolis. Sebenarnya, tidak terlalu banyak juga pohon yang tumbuh, tapi cukuplah untuk sekedar memberikan asupan oksigen yang berarti bagi paru-paruku. Masih bisa bernapas sampai sekarang adalah anugerah yang sangat luar biasa.
Di musim hujan seperti ini, kehadiran pohon sangat berarti sebagai penyerap air hujan yang sampai ke tanah, sehingga diharapkan tidak ada kelebihan air yang dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor. Kemampuannya mengolah karbondioksida menjadi oksigen dapat memberikan manfaat berarti bagi makhluk hidup lain. Kelebihan gas karbondioksida ini dapat memberikan pengaruh buruk bagi lingkungan karena dapat menimbulkan pemanasan global (global warming). Itulah sebagian manfaat dari kehadiran pohon bagi kehidupan makhluk. Pohon, yang kita lihat diam, tanpa ekspresi, dan tenang, memberikan satu manfaat besar bagi kita. Tidak ada kesombongan, yang ada adalah keikhlasan memberi. Ketenangan pohon ini memberikan aku inspirasi. Ada kalanya ketika kita harus diam, tak berbicara, namun tetap memberikan manfaat yang berharga bagi orang lain. Ini patut kita tiru agar pintu keikhlasan berkorban dalam hati terbuka secara perlahan.
Pertumbuhan sebatang pohon mengikuti cahaya matahari, namun akarnya menyusuri tanah yang dalam. Tumbuh mengikuti cahaya, namun akarnya kuat mencengkeram bumi. Seperti itulah kita seharusnya. Menimba ilmu mengikuti cahaya-cahaya kebenaran, namun tidak serta-merta melupakan asal-usul kita, suatu tempat awal dimana kita tumbuh. Kekokohan sebatang pohon dapat terlihat dari ketinggian pohon itu dan kedalaman akar yang menyangga tubuhnya. Dalam pertumbuhan sebatang pohon, ada kalanya ranting-ranting tua patah dan tergantikan ranting-ranting baru. Daun-daun yang telah layu menggugurkan dirinya dan diganti daun-daun yang lebih segar, kemudian tumbuh mekar. Sama seperti perjalanan hidup kita. Pola pikir yang telah usang, diganti dengan yang lebih memberi manfaat bagi banyak orang. Pandangan-pandangan yang sempit diperluas agar memberi kenyamanan bagi yang lain. Teori-teori lama digantikan dengan yang lebih bijaksana. Semuanya berubah seiring dengan peningkatan kedewasaan kita semua. Berubah untuk menjadi lebih baik.

Mudah-mudahan catatan kecil ini memberikan satu bentuk motivasi yang baru. Selamat Idul Adha 1430 Hijriyah, bagi yang merayakan, semoga kita semua senantiasa berkorban seperti pengorbanan sebatang pohon.

Surabaya, 27 Nopember 2009

Kamis, 26 November 2009

Kesesuaian Frekuensi, Mungkin Itulah 'Chemistry'..


Bila ada satu kata yang paling sering aku dengar 4 tahun belakangan ini, itulah kimia. Bila ada satu hal yang paling membuat aku bangga sebagai seorang mantan mahasiswa, itu juga kimia. Bila ada satu ilmu yang penuh dengan reaksi, dengan yakin aku katakan, "Pastilah itu kimia!". Kimia, kimia, dan kimia. Satu ilmu yang telah berhasil menjebakku dalam rutinitas pencampuran, pendinginan, pemanansan, pembakaran, penguapan, pengeringan, dan hal-hal lainnya yang tidak hanya membutuhkan keuletan, tetapi juga kesabaran. Aku telah terjebak, namun di tempat yang tepat dan nikmat.
Bila kita mempelajari kimia, kita harus rela mempelajari sifat zat dan mempelajari reaksi yang menjadikan satu zat berubah menjadi zat lain. Hanya ada dua asas yang mendasari konsep kimia, yakni kekekalan materi dan kekekalan energi. Reaksi kimia merubah satu zat menjadi zat lain, namun jumlah materi yang terlibat sepanjang reaksi selalu kekal. Begitu pula dengan energinya. Jumlah energi yang terlibat dalam reaksi kimia selalu kekal. Hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan terhadap energi yang tidak dapat kita ciptakan dan musnahkan, yakni merubahnya dari satu bentuk ke bentuknya yang lain. Menariknya, bila cinta dipahami sebagai sepaket energi, maka kita tidak akan pernah bisa memusnahkannya. Itulah yang menjadi alasan mengapa sulit bagi kita melupakan seseorang yang pernah kita cintai. Melupakan sama dengan memusnahkan. Lebih baik kita berusaha merubahnya menjadi bentuk energi lain yang positif.
Kimia, yang dalam bahasa Inggris disebut juga chemistry, diartikan secara indah oleh Martin H. Manser. Menurut beliau, "Chemistry is scientific study of the structure of substances and how they combine together." Dua atau lebih zat yang berbeda bisa bersatu (combine together) secara sempurna bila menganut satu prinsip pencampuran, yaitu "like dissolves like" atau suka sama suka. Tidak ada yang sempurna selain Yang Maha Sempurna, maka dari itu diperlukan pengaturan suhu, emosi, untuk mencapai pencampuran yang diinginkan.
Belakangan ini, istilah chemistry mengalami pergeseran makna. Definisi yang semula bersifat 'scientific' bergeser ke arah yang lebih kepada 'interpersonal relation'. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa curahan hati sebagai berikut, "Mungkin belum ada chemistry diantara kita!", "Rasanya nyaman banget ngobrol ma kamu, serasa ada chemistry diantara kita!", "Mana ekspresinya? Nggak ada chemistry sama sekali di adegan tadi!", "Should i give a reason for it? just say.. its our chemistry that make it this way." Chemistry dalam konteks curhat di atas lebih tepat diartikan sebagai kecocokan daripada ilmu kimia itu sendiri. Namun, sebagai seseorang yang sempat bergelut dengan hal-hal ilmiah, aku tetap memilih definisi yang lebih rumit, yakni kesesuaian frekuensi. Kesesuaian frekuensi menyebabkan resonansi, turut bergetarnya sesuatu karena pengaruh getaran sesuatu yang lain. Dan pada akhirnya, kecocokan itu timbul karena adanya resonansi...dari dalam hati.
Semoga bermanfaat.

NB: Terima kasih kepada Myru Nana atas komentarnya yang sangat inspiratif tentang chemistry!

http://selsurya.blogspot.com/

Rabu, 25 November 2009

Not only be a giver..


Akhir-akhir ini langit Surabaya sudah tampak bersahabat, setidaknya bagi para petani yang sangat membutuhkan air hujan. Memang belum terlampau sering hujan turun, namun hawa mendung langit, sesekali, menawarkan kesejukan tersendiri. Kipas angin di kamar tidak perlu lembur lagi dan selimut di atas tempat tidur mulai berfungsi kembali. Cerita mimpi tidur malamku sudah bisa kunikmati seutuhnya tanpa harus khawatir terputus karena terbangun tengah malam gara-gara kegerahan.
Hujan, begitu indah ketika bisa dimaknai sebagai serah terima air dari langit kepada bumi.Langit memberinya dengan senang hati dan bumi pun menerimanya dengan lapang hati. Langit telah menyajikan satu keindahan lagi. Menjadi pemberi, itulah yang ingin disampaikannya. Seperti hidup kita yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain, senatiasa memberi disertai keikhlasan hati. Petuah bumi pun tidak kalah pentingnya. Menjadi penerima yang lapang hati, itulah nasehatnya. Tanpa kelapangan hati bumi, pemberian langit tak akan berarti. Di lain waktu, bumi pun senantiasa menjadi pemberi yang baik dengan mengikhlaskan sedikit air dari samuderanya terangkat menuju langit menjadi segerombolan kabut tipis awan. Bumi tidak sekedar menerima, namun juga memberi. Begitu pula dengan langit. Semuanya memiliki peran penting masing-masing pada suatu waktu tertentu.
Kita dapat menarik satu benang merah dari persahabatan langit dan bumi. Alam semesta ternyata tidak hanya bercerita tentang keikhlasan memberi, tetapi juga kelapangan hati untuk menerima. Apa jadinya hidup ini bila semua orang ingin memberi? Lantas, siapa yang akan menerima semua pemberian itu? Maka, menjadi seorang penerima yang baik berarti menjadi seseorang yang telah memberikan makna terhadap sebuah pemberian, sehingga arus kebaikan senatiasa mengalir memenuhi jagat raya ini.
Seringkali, kita enggan menerima hal-hal kecil karena telah terbiasa menerima hal-hal yang sedikit lebih besar. Begitu enggan rasanya mendengar curahan hati seorang anak kecil, seorang teman, atau seorang nenek karena telah terbiasa dengan pembicaraan akademik maha rumit. Terkadang, mereka tidak butuh masukan, tetapi hanya ingin didengarkan. Mereka hanya ingin bercerita. Itu saja. Sedikit senyuman dan anggukan sudah cukup membuat mereka merasa dihargai. Jangan pernah bermimpi untuk dihargai bila kita tidak pernah berusaha untuk menghargai orang lain. Belajar mendengarkan adalah salah satu cara mewujudkan diri kita sebagai seorang penerima yang baik. Pada akhirnya, kita harus yakin bahwa akan selalu ada waktu terbaik untuk kita bisa saling berbagi dan bercerita.
Seiring berjalannya waktu, hidup membawaku pada suatu pemahaman bahwa masing-masing kita telah dipantaskan-Nya menerima segala bentuk pemberian-Nya. Anugerah itu dilimpahkan karena kita telah pantas untuk menerimanya. Musibah itu hadir karena kita telah pantas dan memenuhi syarat untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Keluhan, cacian, dan umpatan atas musibah ternyata merupakan bentuk pengingkaran kita terhadap kepantasan tersebut. Maka dari itu, menjadi penting bagi kita untuk saling mengingatkan dan saling menguatkan. Sebagai penutup, mudah-mudahan kita semua menjadi pribadi yang lebih bijak atas semua penerimaan kita. Semoga bermanfaat.

NB: Terima kasih kepada Mas Fahrul yang telah meyakinkan judul catatan ini dan kepada Dani, yang dengan statusnya telah memberikan inspirasi tentang sebuah penerimaan..

Selasa, 24 November 2009

Life is only life..


Seringkali aku bertanya untuk apa aku hidup di dunia ini. Tidak jarang juga aku menuntut jawaban dari langit tentang apa sebenarnya makna kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurutku, adalah hal yang wajar terlantun dalam hati dan pikiran kita sebagai hamba-hamba-Nya yang sedang dimuliakan-Nya melalui kehidupan ini. Bahkan, mungkin merupakan hal yang wajib dipertanyakan agar kita tahu dimana tujuan akhir kita dan bagaimana memaknai kehidupan yang sedang kita jalani sekarang. Akan menjadi hal yang aneh bila kita menjalani sesuatu yang kita sendiri pun tidak tahu apa maknanya dan kemana akan berujung. Keanehan itu sendiri nantinya akan tumbuh sebagai bunga-bunga keraguan, kekhawatiran, ketakutan, dan keputusasaan dalam menjalani hidup. Lalu, masih adakah tempat bagi bunga kebahagiaan untuk tumbuh dan bersemi? Maka dari itu, mendefinisikan hidup kita adalah hal yang penting, setidaknya bagi kebahagiaan kita pribadi.
Hidup seringkali dipandang dari beragam sudut, sehingga menghadirkan beragam makna. Bagi penyuka olahraga renang, wajar saja bila mengatakan bahwa hidup seperti air yang mengalir. Bagi yang suka berkeliling dengan kereta, tidak salah bila memaknai hidup seperti putaran roda yang membawanya pada suatu tujuan. Bagi yang senang bermain peran, tidak dilarang untuk mendefinisikan hidup sebagai panggung sandiwara. Bagi sang pemimpi, hidup juga menyajikan banyak pilihan. Bagi penikmat jalan spiritual, hidup tampak indah karena dimaknai sebagai anugerah. Bagi para musisi, hidup tampak bernuansa penuh dengan nada. Penuh perbedaan, namun satu dalam makna. Hidup dijadikan suatu ladang subur ekspresi diri yang dapat menumbuhkan bunga-bunga kebahagiaan. Memang tidak setiap saat kita mampu memupuk bunga-bunga kebahagiaan itu. Ada kalanya musibah dan bencana sesekali datang menggoda. Namun, yakinlah bahwa orang yang berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, tetapi berusaha menjadikan setiap hal yang hadir dalam hidup menjadi yang terbaik.
Kita hadir dalam definisi yang beragam tentang hidup bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. Seperti sebuah analogi, sulit memaksakan agar elang terbang bergerombol dan bebek bernyanyi sendirian. Biarlah elang terbang menyendiri mengitari cakrawala dan bebek bernyanyi riang bersama karena mereka "nyaman" dengan aktivitasnya masing-masing. Mereka sedang mengekspresikan diri masing-masing dengan caranya sendiri. Ketidakbahagiaan justru akan muncul ketika elang ingin berenang seperti bebek dan bebek ingin terbang setinggi elang. Ini yang dinamakan melampaui kodrat Ilahi. Kita memang bukan elang, apalagi bebek. Kita makhluk yang lebih baik karena mampu mengontrol ekspresi itu, sehingga tidak mengganggu yang lainnya dan secara bersama menjadi bermanfaat bagi sesama. Bermanfaatlah bagi sesama karena dengan itulah kita menjadi sebaik-baiknya diri kita, menjadi sebaik-baik ciptaan-Nya.
Marilah kita menjalani hidup ini dengan cara kita sendiri, dengan cara yang juga penuh toleransi, dengan cara yang melahirkan kebahagiaan, yang pada akhirnya tidak memberikan kita pilihan lain selain bersyukur kepada Penguasa Tertinggi. Kita memang tidak selalu bisa membahagiakan semua orang, namun kita bisa memulainya dengan membahagiakan diri kita sendiri.
Semoga bermanfaat. Thanks for your sms, Bu (Oka)...!

Jumat, 20 November 2009

21 Desember 2012 : Hari Semangat..!


Film 2012 yang dibuat Sony Pictures menyita perhatian publik di seluruh dunia. Bukan hanya karena efek animasinya yang sangat luar biasa, tapi juga karena pembuatan film ini merupakan respon terhadap sistem penanggalan suku Maya tentang hari kiamat. Ada yang mengatakan bahwa pada 2012 akan terjadi pembalikan kutub magnetik bumi yang bisa mengakibatkan badai hebat. Yang lainnya tak kalah seru membahas datangnya badai matahari seperti yang diilustrasikan dalam film Knowing. Dan film tetaplah film, seringkali tidak sesuai dengan realita yang ada karena dibangun berdasarkan ideologi kapitalisme untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Biarlah para penggiat dunia film membuat film yang baik dan berkualitas serta didukung animasi yang memukau, bila perlu. Ini adalah hal-hal yang dapat menumbuhkan kreativitas. Pengekangan terhadap hal-hal seperti ini biasanya berdampak kepada peningkatan nilai jual barang. Di satu sisi seolah-olah tampak sebagai upaya “pembersihan”, namun sisi lainnya adalah upaya promosi gratis yang sangat menguntungkan produsen.
Kehadiran film 2012 mengindikasikan beberapa hal. Salah satunya adalah banyak orang kini telah menaruh perhatiannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan akhir zaman. Harapannya adalah semakin banyak orang yang mulai melakukan introspeksi dan menyiapkan diri seuntuhnya menghadapi masa itu, bukan malah sibuk menghitung-hitung kapan tanggal yang paling tepat, apalagi sampai memprediksi bencana apa yang paling pas. Badai mataharikah? Air bahkah? Hantaman planet Nibirukah? Gempa bumikah? Masih pentingkah semua itu?
Memprediksikan sesuatu tentu tidak ada yang melarang, tapi jangan sampai meresahkan banyak pihak, apalagi sampai mengambil alih wewenang mutlak Yang Maha Mencipta itu. It’s not our job..! Hari kiamat itu ada bukan untuk diprediksi kapan kehadirannya, tetapi menjadi pengingat bahwa semuanya akan kembali kepada Ilahi. Kita tidak seharusnya menutup diri terhadap hadirnya hari kiamat, namun jangan sampai keterbukaan itu membawa kita pada bentuk ketakutan yang tidak perlu sehingga enggan menatap masa depan. Seorang guru pernah mengatakan bahwa apa yang terjadi kepada kita tidak lebih penting dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam diri kita. Penghinaan, cacian, kritik, dan umpatan yang ditujukan kepada kita tidak lebih penting dari keikhlasan untuk memaafkan yang datang dari dalam diri kita. Begitu juga dengan segala bentuk prediksi tentang hari kiamat ini tidak lebih penting dibandingkan dengan kebesaran hati kita untuk menatap masa depan dengan harapan penuh kemenangan. Maka dari itu, menjadi jelas bahwa hati kita adalah sumber terbesar kekuatan kita.
Kini, marilah kita sambut tanggal 21 Desember 2012 tidak lagi sebagai hari kiamat, tetapi sebagai hari yang penuh dengan semangat. Bagi yang berulang tahun pada tanggal tersebut, tetaplah membeli kue tar dan merayakannya dengan gembira. Bagi yang berencana menikah pada tanggal tersebut, tetap siapkan dekorasi gedung terbaik agar seluruh tamu undangan terpesona. Bagi yang berencana membeli rumah pada tanggal tersebut, belilah dengan harga terbaik. Bagi semua kakek yang bernama Ki Amat, tetaplah tersenyum seraya melihat cucu-cucu yang setiap hari semakin nakal.
Semoga bermanfaat dan tetap semangat!

Kamis, 12 November 2009

Hasil keikhlasan adalah 1 dibagi 0


Ada 4 operator dasar dalam perhitungan aljabar, yaitu tambah (+), kurang (-), kali (x), dan bagi (/). Banyak orang menyukai perhitungan menggunakan operator pertambahan. Selain karena relatif mudah, banyak diantara kita yang memang ingin bertambah setiap saat, seperti bertambah pintar, bertambah rajin, bertambah dewasa, bertambah cantik, bertambah ganteng, dan bertambah kaya. Operator kurang pun tidak kalah menariknya. Dengan kehadiran operator ini diharapkan membawa dampak berarti bagi kehidupan kita. Kita diharapkan mampu mengurangi kemalasan, kesombongan, kedengkian, dan kemarahan, sehingga tercipta nilai positif kedamaian. Kedua operator ini, tambah (+) dan kurang (-), memiliki level energi yang sama, hanya saja arah fungsinya berlawanan. Keduanya dapat digunakan untuk tujuan positif, bahkan negatif. Semuanya tergantung seberapa besar nilai kita sekarang.
Naik satu tingkat ke level energi perhitungan yang lebih tinggi, kita bertemu dengan kali (x) dan bagi (/). Operator kali (x) ini sungguh luar biasa. Dengan adanya operator ini, bilangan yang semula biasa saja dapat memiliki nilai hasil yang berlipat ganda apabila disandingkan dengan nilai lain yang tepat. Pemasaran dengan sistem jaringan dibangun dengan basis perhitungan perkalian. Tujuannya sudah jelas, yaitu keuntungan yang maksimal. Keuntungan tidak sekedar bertambah, tetapi juga berlipat-lipat. Oleh karena itu, banyak orang yang menyukai sistem ini.
Operator dasar yang terakhir adalah bagi (/). Pembagian merupakan fenomena matematika yang cukup rumit, bahkan terumit bila dibandingkan dengan penggunaan operator yang lain. Operator tambah dan kurang menghasilkan suatu nilai bilangan yang pasti, baik bernilai positif atau negatif, bernilai bulat ataupun desimal. Operator bagi (/) tidak hanya menghasilkan nilai-nilai bilangan yang bulat atau desimal, positif atau negatif, tetapi juga dapat menghasilkan nilai-nilai yang cukup unik, yaitu tak hingga, tak tentu, dan tak terdefinisi. Simbol dan nilai-nilai tersebut digambarkan seperti bentuk alis manusia yang berliku. Mungkin itu sebagai tanda kebingungan. Sulitnya operator pembagian ini mungkin menjadi penyebab sulitnya berbagi dalam hidup.
Salah satu perhitungan yang menyebabkan munculnya nilai unik ini adalah pembagian 1 dengan 0. Perhitungan ini menarik karena dapat dianalogikan dengan kehidupan kita. Satu dapat dilambangkan dengan Satu Energi Yang Maha Besar, Yang Maha Mencipta Semesta. Nilai nol dianalogikan dengan keikhlasan hati manusia dalam menjalani hidup. Ketika Yang Satu itu (1) membagi atau memberi (/) kepada yang ikhlas (0), maka hasilnya menjadi tak terukur logika. Inilah satu momen dimana logika matematika bertemu dengan kelembutan religi. Sungguh sulit sekaligus indah. Sulit untuk menjadikan diri kita seutuhnya ikhlas (nol). Namun, sulit tak memiliki korelasi dengan kemustahilan. Kita semua sedang berusaha mencapai titik ini, titik dimana angerah itu mewujud dengan indah.
Semoga bermanfaat!!

Selasa, 10 November 2009

Valentino Rossi dan Werner Heisenberg..


Bagi para pecinta MotoGP, Valentino Rossi bukanlah nama yang asing. Kemenangannya pada ajang MotoGP 2009 mengakibatkan namanya semakin dielu-elukan. The Doctor, sebutan untuk Valentino Rossi, telah memantapkan dirinya meraih gelar juara dunia MotoGP ke 9 dan menjadikannya sebagai lawan yang sulit untuk dikalahkan. Kecepatan motor yang sangat mengagumkan dan kelihaiannya menyalip lawan di tikungan menjadikannya sosok pembalap yang luar biasa. Selamat Bro..!
Di sisi lain, para fotografer yang berada di pinggir arena balap berusaha semaksimal mungkin untuk mengabadikan berbagai posisi para pembalap yang sedang berlaga. Itu bukan perkerjaan mudah. Selain membutuhkan kamera yang berkualitas tinggi, dibutuhkan juga keahlian khusus untuk mengambil gambar yang sedang bergerak dengan kecepatan tinggi. Cara yang paling sederhana adalah dengan mengambil sederet jepretan (snapshots) ketika objek (para pembalap) mulai mendekati daerah jangkauan cahaya kamera. Agar dapat hasil yang memuaskan, para fotografer biasanya memilih posisi di dekat tikungan. Hasil foto-foto tersebut, kemudian diseleksi dan dipilih yang terbaik.
Dalam bekerja, para fotografer harus berfokus pada posisi para pembalap, bukan pada kecepatan motor para pembalap tersebut. Akan sangat menyulitkan apabila seorang fotografer harus menafsirkan kecepatan motor pembalap ketika difoto pada posisi tertentu. Sudah ada tim lain yang memantau kecepatan para pembalap tersebut, termasuk pembalap yang bersangkutan. Artinya, pengukuran posisi dan kecepatan suatu objek tidak dapat dilakukan secara tepat satu sama lain pada waktu bersamaan, Semakin tepat pengukuran terhadap posisi, maka akurasi pengukuran kecepatan akan menurun. Begitu pula sebaliknya. Hal ini telah diungkapkan Werner Heisenberg pada tahun 1927 dan dikenal sebagai prinsip ketakpastian (uncertainty principle).
Prinsip ini penting mengingat banyak sekali pergerakan di alam semesta. Bahkan, benda/materi yang tampak diam pun, tidak benar-benar diam. Elektron sebagai partikel elementer penyusun materi melakukan pergerakan secara terus-menerus mengelilingi inti atom. Semuanya bergerak, namun tak selalu tampak. Entah apa yang terjadi bila sedetik saja elektron itu diam, tidak mengelilingi inti.
Ada hal yang menarik dari prinsip ketakpastian ini. Hidup kita seringkali diisi oleh usaha pencapaian target yang membutuhkan kecepatan tertentu. Semua orang memiliki kecepatannya masing-masing tergantung target yang ingin dicapai, waktu yang disediakan, dan tenaga yang dimiliki. Ada yang terbiasa dengan kecepatan tinggi, ada pula yang santai dengan kecepatan yang lebih rendah. Semuanya mendapatkan hasil masing-masing. Kecepatan itu penting, tetapi posisi juga menentukan. Agar posisi tampak jelas, kurangi sedikit kecepatan itu. Lihat dimana kita berdiri sekarang, sehingga mampu menerapkan strategi-strategi yang jitu untuk pergerakan lebih lanjut. Mungkin ada benarnya seseorang yang mengatakan bahwa hidup itu dapat dipahami bila kita melihat ke belakang dan dapat dijalani bila kita melihat ke depan. Kita membutuhkan posisi untuk melihat dan menafsirkan kedua dimensi tersebut dengan cara mengurangi kecepatan pergerakan pencapaian target dalam hidup. Namun, jangan jadikan ini sebagai alasan untuk diam dan terus bersantai. Bergeraklah untuk kemajuan diri, Bangsa, dan Negara. Selamat Hari Pahlawan!

Senin, 09 November 2009

Karena Nol tidak selalu Kosong..


Aku teringat masa-masa sekolah dulu. Suatu masa yang penuh dengan gejolak dalam meraih cita dan cinta. Berangkat pagi-pagi ke Sekolah untuk memanfaatkan beberapa menit yang tersedia sebelum bel tanda masuk berbunyi untuk mengerjakan PR yang tertunda karena bermain super nintendo semalamam. Duduk manis di dalam ruang kelas hanya untuk menunggu bel tanda istirahat dan bel pulang. Membawa banyak buku pelajaran ke sekolah sambil berharap dihampiri seorang teman akrab, yang dengan cerianya mengatakan, “Hari ini kosong, guru-guru pada rapat semuanya!”. Tobat…tobat…!! Ampun Bu guru…! Ampun Pak guru…! Ampun Bu penjaga kantin…! (lho?)
Berbicara mengenai kata kosong, ada sesuatu yang menarik. Seringkali kosong dikaitkan dengan suatu angka, yaitu nol. Pada beberapa kasus, kedua istilah ini dapat dianggap sama. Tidak semua nol berarti kosong. Begitu pula sebaliknya. Kosong dapat diartikan ketidakhadiran sesuatu atau ketidakberisian (pada contoh di atas, kosong dapat diartikan ketidakhadiran guru-guru di kelas), sedangkan nol merupakan salah satu nilai numerik tak negatif. Kosong lebih mengarah pada sifat ruang (berdimensi 3), sedangkan nol dapat berfungsi pada sistem 1, 2, ataupun 3 dimensi.
Kapan kedua istilah ini dapat dianggap memiliki makna yang sama? Misalkan, ada 9 buah jeruk di atas meja. Jeruk-jeruk tersebut dimakan sampai habis, kemudian kulit dan bijinya dibuang di tempat sampah. Ada berapa jeruk yang tersisa di atas meja? Jawabannya, sudah tidak ada jeruk yang tersisa di atas meja (kosong/ketidakhadiran jeruk di atas meja). Itu berarti juga nilainya sama dengan nol (9-9 = 0).
Kedua istilah tersebut akan bermakna berbeda satu sama lain ketika kita berbicara tentang himpunan matematika. Misalkan, Budi memiliki himpunan bilangan cacah yang kurang dari 1, sedangkan Badu memiliki himpunan kosong. Mereka sama-sama memiliki himpunan matematika, tetapi berbeda dari segi isi. Budi memiliki bilangan 0, sedangkan Badu tidak memiliki bilangan apapun dalam himpunannya (kosong). Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa nol pun suatu nilai dan sangat bermakna. Oleh karena itu, jangan pandang rendah angka nol. Teknologi komputer yang berkembang sampai saat ini dibangun dengan memanfaatkan banyak bilangan berbasis satu dan nol. Semakin banyak nol yang disisipkan di belakang nilai uang, maka pertambahan nilai uang tersebut semakin tinggi.
Aku tidak akan mengungkit bagaimana sebagian besar dari kita mengucapkan nomor handphone saat membeli pulsa. Itu hanya permainan kata-kata saja. Yang terpenting, kedua belah pihak saling mengerti dan pulsa handphone telah bertambah.
Banyak hal di dalam hidup kita yang dapat disamakan satu sama lain dalam beberapa kondisi, namun tidak pada kondisi yang lain. Jarang, atau bahkan tidak ada sama sekali 2 hal yang memiliki kesamaan pada seluruh segi kehidupan. Pasti ada perbedaannya, walaupun di satu titik yang kecil. Itulah yang menjadikannya indah...menjadikannya tampak bermakna. Merasa baik ketika perbedaan itu tiba pada suatu kondisi tertentu menjadikan kita sebagai pribadi yang penuh dengan rasa hormat.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 05 November 2009

Harapan Tak Berbeban..


Suatu ketika aku mendengar sebuah pernyataan menarik dari seorang kawan tentang harapan. Dia mengatakan, “Jangan terlalu banyak berharap, nanti kecewa!”. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam suasana persahabatan yang cukup santai. Bila ditelaah lebih dalam, pernyataan tersebut mungkin juga ada benarnya. Segala sesuatu yang melebihi takaran atau sering disimbolkan dengan kata “terlalu” tidak jarang memberikan dampak yang kurang baik. Terkadang, sulit bagi kita untuk cepat merasa cukup dalam pencapaian sesuatu. Bahkan, seringkali terlihat, terdengar, dan terasa tabrakan-tabrakan keinginan dan kepentingan yang berujung pada kebahagiaan di satu sisi dan kekecewaan di sisi yang lainnya. Itulah hidup.
Ada yang puas hanya dengan berjalan kaki, ada yang ingin terus berlari, bahkan ada yang ingin terbang tinggi agar memiliki jangkauan pandang yang lebih luas dibandingkan yang lainnya. Selama semuanya nyaman dengan aktivitas masing-masing tanpa ingin mengganggu yang lainnya, mungkin dunia akan terasa lebih damai.
Maaf bila mata ini salah memandang, tapi yang sering terlihat justru bentrokan keinginan yang menimbulkan perpecahan. Banyak yang belum merasa bahagia dengan pencapaiannya selama ini karena hidup dalam standar kebahagiaan orang lain, bahkan tidak sedikit yang tidak tahu apa yang membuatnya hidup bahagia di dunia ini. Untuk kasus yang terakhir, mungkin disanalah pentingnya sebuah harapan.
Pernah, pada suatu ketika, aku berada pada masa-masa ketika aku tidak tahu apa yang menjadi keinginanku, sehingga sulit merasa bahagia. Apa yang terjadi dalam hidup dianggap sebagai sebuah fenomena alam yang sudah seharusnya terjadi. Realitas tidak tercermin sebagai sebuah harapan yang mewujudkan dirinya bak merekahnya bunga mawar. Yang terjadi selanjutnya adalah ketidakhadiran rasa syukur yang mengakibatkan tak tersentuhnya dinding-dinding kebahagiaan dalam hati. Tidak ada sensasi layaknya seorang jagoan yang berseru, “Inilah yang aku inginkan!”. Kita memang tidak bisa melawan takdir, tetapi kita tidak dilarang untuk memperbaiki nasib dengan usaha dan doa.
Mengapa kita perlu berdoa? Apakan Tuhan Yang Maha Sempurna itu tidak mengetahui keinginan-keinginan kita? Bukan Tuhan yang tidak tahu, tetapi kita yang seringkali masih bingung dengan keinginan-keinginan kita, sehingga anugerah-Nya tidak disadari sebagai suatu kehadiran yang patut disyukuri. Belum sampai anugerah itu menyentuh bumi, sebagian dari kita sudah sibuk dengan keinginan yang lain. Yang lainnya sedang kebingungan seraya bertanya, “Aku kan minta ikan, kenapa dikasi kail?”. Sisanya lagi sedang sungguh-sungguh bertanya, “Kapan Engkau hadirkan kepadaku, ya Tuhan?”.
Ada hal-hal dalam hidup yang terkadang bukan perwujudan dari harapan-harapan kita sebelumnya. Beban harapan muncul ketika kita dengan sombongnya mengambil alih semua kehendak jawaban atas harapan-harapan kita tanpa mengizinkan Tangan-Tangan Yang Maha Lembut itu mengambil bagian. Kita terlampau angkuh untuk meminta semua yang kita inginkan tanpa mau menerima apa yang kita butuhkan. Namun, dengan berhenti berharap, kita telah dengan sengaja menutup hati kita akan kehadiran kuasa Sang Pengabul Doa. Menjadikan harapan sebagai beban malah semakin mengunci pintu keikhlasan. Sulit memang untuk membuka pintu keikhlasan, tetapi setidaknya jangan sampai kita sengaja untuk menguncinya. Biarkan perlahan-lahan terbuka oleh penerimaan-penerimaan kita akan karunia-Nya yang membungkus semua harapan-harapan kita. Semoga bermanfaat.

Rabu, 04 November 2009

Serendah Iri Hati, Setinggi Kesombongan..


Langit selalu menyajikan pemandangan yang sarat akan makna. Mentari, bulan, bintang, dan awan datang dan pergi silih berganti memainkan perannya masing-masing dalam pentas cakrawala. Sambutan hangat pun tersaji indah di balik kicauan burung-burung, lambaian ranting pepohonan, kepulan kabut pegunungan, dan riuhnya ombak di pantai. Semuanya tampak menakjubkan. Tersaji kebahagiaan yang menawan di tempat serendah bumi dan setinggi langit. Batas antara langit dan laut pun menjadi samar ketika keduanya membentang seluas mata memandang. Berpelukan begitu mesra seolah mengabaikan ketinggian dan kerendahan masing-masing. Adakah tersirat makna di dalamnya?
Seringkali dalam kehidupan ini kita bertemu hal-hal yang dapat merendahkan dan meninggikan diri. Berhadapan dengan pujian membuat kita menjadi semakin tinggi. Berdampingan dengan cacian mengakibatkan kerendahan diri yang sulit dielakkan. Sungguh manusiawi. Namun, akan menjadi penghalang pertumbuhan kualitas hidup kita apabila kesombongan dan iri hati turut berpartisipasi. Aku bukanlah pribadi yang tidak pernah menyombongkan diri akan sesuatu ataupun iri terhadap sesuatu. Akan menjadi sulit bagiku untuk menuliskan tentang kesombongan tanpa pernah merasa sombong. Begitu pula dengan iri hati. Aku hanya pribadi yang baru tersadar bahwa kedua sikap ini merupakan penghalang terbesar pertumbuhan kualitas hidup manusia.
Kesombongan telah menjadikan kita pribadi yang sulit untuk tumbuh lebih tinggi dalam kualitas-kualitas yang membanggakan. Kesombongan telah menghentikan langkah-langkah kita mencapai pembaharuan-pembaharuan yang menyegarkan. Logika tak terbuka, sehingga sulit menampung ide-ide baru. Hati sudah terkunci, sehingga sulit berempati. Mata dan telinga pun telah tertutup dengan rapi. Adakah yang ingin menjadi individu yang terhenti? Akan ada perhentian di suatu saat nanti, namun dengan kesombongan kita telah berhasil menciptakan perhentian akhir yang lebih awal daripada yang seharusnya.
Sama halnya dengan sombong, rasa iri pun merupakan pembatas kualitas hidup manusia. Dengan iri berarti kita telah dengan sengaja menempatkan diri kita lebih rendah dibandingkan kualitas-kualitas yang membanggakan. Iri adalah perwujudan pelarian ketidakmampuan kita untuk mencapai kualitas-kualitas tertentu yang lebih baik. Dengan kata lain, kita telah membuat jarak terhadap kualitas hidup yang lebih baik, sehingga menjadikan kita individu yang sulit untuk dihargai dan tidak pantas untuk dipuji. Menjadikan kita pribadi yang ragu atas pencapaian-pencapaian yang lebih baik. Terlebih lagi, menjadikan kita ragu akan kemahakuasaan Ilahi yang mampu menyentuhkan anugerah-anugerah-Nya agar kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi jelas bahwa tidak ada yang lebih merendahkan diri selain rasa iri yang disertai dengki.
Hidup menyajikan segudang pilihan. Ingin bebas atau terbatas dalam kualitas. Kesombongan dan iri hati adalah pembatas yang tepat bila diinginkan. Menghilangkan keduanya berarti menyiapkan diri untuk terbang bebas menggapai kualitas tanpa batas. Maaf atas semua tindakan yang sempat mengantarkanku kepada pembatasan-pembatasan ini. Mudah-mudahan menjadi pembelajaran yang indah mencapai kedewasaan dalam bersikap.