Sabtu, 30 Juni 2012

Tentang Masa...


Ada satu masa...
Ketika hujan tak bisa membilas semua duka
dan terik mentari tak bisa uapkan semua lara,
kemudian Cinta menguraikan dirinya
...dalam sentuhan jemari...
...dalam bias senyuman...
...dalam lembut tatapan...
...dan dalam hangat pelukan...
Tidak lagi bertahta angkuh dalam singgasana hati,
yang entah kapan sudi meleburkan dirinya dalam kata-kata.

Ada satu masa...
Ketika kusadari bahwa,
Ketidakhadiran tidaklah selalu berarti ketidakberadaan,
Karena mentari hanya terbenam, namun tetap ada
di balik bagian bumi yang lain..
Karena bulan selalu purnama, walaupun tidak selalu hadir
utuh mengisi malam-malam kita..
Karena mata hanya mampu menatap raga, tidak Cinta,
yang tetap ada, walaupun tak selalu hadir,
tak selalu tampak, tak selalu terlihat,
tapi selalu terasa oleh hati yang terbuka.
Itu saja.

Surabaya, 30 Juni 2012, diiringi "White Door by KipaLoops",
Gambar dikutip dari: http://lembar-kisah.blogspot.com/2011/01/embun.html

Senin, 18 Juni 2012

Motivator Jalanan


Salah satu kelebihan tinggal di Negara berkembang seperti Negara kita tercinta ini adalah tersajinya pemandangan yang aku namakan "dua arus kehidupan". Ada "arus kaya" dan banyak "arus miskin". Kaya dan miskin yang aku maksudkan pada catatan ini lebih mengarah kepada kepemilikan harta benda. Dua arus ekstrem ini saling berlawanan dan menimbulkan kesenjangan dalam banyak aspek kehidupan di Negara kita.

Untuk melihat arus yang pertama, coba sesekali berjalan-jalan santai sambil memerhatikan suasana jalan raya yang dipenuhi kendaraan berlalu lalang. Di Surabaya, khususnya Surabaya Timur, aku sering memerhatikan suasana seperti ini pada pagi atau siang hari. Di beberapa ruas jalan tertentu seringkali terjadi macet. Mobil dan motor banyak sekali jenisnya. Dari yang model "jadul" sampai model terbaru berderet menghiasi jalanan. Dari yang harganya jutaan rupiah sampai milyaran rupiah turut serta ambil bagian. Dari plat nomor berwarna merah, kuning, hitam, sampai putih. Dari plat nomor yang bertuliskan 1 huruf setelah angka, sampai 3 huruf setelah angka. Dari yang tanpa kaca spion, sampai yang kaca spionnya berjumlah 4. Dari kendaraan yang pintunya dibuka ke samping, sampai yang dibuka ke atas. Sering-sering melihat hal yang seperti ini, aku semakin ragu kepada orang-orang yang mengatakan bahwa saat ini Negara kita sedang dalam kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan.

Masih di jalan raya, tepatnya di sekitar lampu rambu lalu lintas. Bila kita beruntung, kita akan menemukan beberapa orang yang kurang beruntung. Ini adalah arus yang kedua. Ada penjual koran, penjual kerupuk, penjual gorengan dan kacang rebus, penjual mainan anjing dan bunga matahari plastik, "pengamen tutup botol", pengelap kendaraan, dan peminta-minta. Dari anak-anak kecil yang sudah diarahkan dan diatur sampai kakek-nenek yang tidak bertenaga. Dari yang memiliki sandal sampai yang bertelanjang kaki. Dari yang sambil menggendong bayi sampai yang menggendong bantal kecil agar terlihat seperti menggendong bayi. Dari yang berteriak "sepuluh ribu tiga!!" sampai yang memelas "sak ikhlase, Mas..mohon amale..".

Untuk aktivitas yang terakhir, aku mohon ijin untuk menuliskannya 1 paragraf. Aku sering sekali bertemu peminta-minta. Di jalan raya, di area tempat tinggal, dan di warung-warung tenda. Memang ada beberapa yang karena kondisi fisiknya sulit melakukan aktivitas yang bisa mendatangkan uang. Ada juga yang memang sudah tua. Namun, banyak juga yang memiliki keadaan fisik cukup potensial melakukan aktivitas kerja yang bisa mendatangkan uang, tentu saja selain aktivitas meminta-minta. Memang ada doa yang terlantun untuk kita apabila kita memberi kepada orang-orang golongan terakhir ini, seperti murah rejeki, sehat, dan kerjaan lancar, tapi seandainya doa itu manjur, kenapa mereka tidak mendoakan diri mereka sendiri agar semakin berejeki, semakin kaya, dan semakin bisa membantu orang lain?! Aku tidak sedang menghasut teman-teman agar tidak memberi sedekah kepada orang-orang ini, tapi hanya memaparkan sebuah pandangan saja. Banyak orang miskin di luar golongan peminta-minta ini yang bekerja banting tulang, pagi-malam, untuk menjemput rejeki, bahkan dalam kondisi fisik yang tidak seberuntung kita. Bagiku, cara terbaik agar kita bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan adalah bukan dengan memintanya, tapi memberikan sesuatu yang kita miliki. Dengan meminta, kita akan dihadapkan dengan 2 KEMUNGKINAN, yaitu diberi atau tidak diberi, tapi dengan memberi, kita akan dihadapkan dengan 1 KEPASTIAN, yaitu diberi.

Sepertinya sederhana, memberi..kemudian kita mendapatkan sesuatu. Tapi aku harus jujur, memberi itu tidak mudah, teman-teman. Memberi itu aktivitas orang-orang kuat, bukan orang-orang lemah. Memberikan sesuatu saat kita memiliki banyak hal memang tidak sulit, tetapi memberikan sesuatu pada saat kita sendiri pun kekurangan dan bahkan membutuhkan bantuan, disinilah seni kehidupan dimulai.

Aku sering terkagum-kagum kepada orang-orang yang sepertinya kekurangan, tapi masih bisa tersenyum, masih giat bekerja, masih sopan menyapa, dan masih jujur dalam sikap. Walaupun memang tidak menggunakan seragam kerja yang baru disetrika, dasi yang berwarna cerah, sepatu mengkilap, parfum bermerk, dan jam tangan mewah. Satu-satunya parfum yang orang-orang ini pakai berasal dari campuran debu dan aroma keringat. Tetap bekerja dengan giat menawarkan dagangannya, menarik gerobak sampahnya, menggosok-gosokkan sepatu dengan lapnya, menyapu daun-daun jalanan dengan sapu lidinya, dan menyanyi riang ditemani pengeras suara bututnya. Mereka bekerja, mereka menjemput rejeki, mereka menantang hidup, mereka memberi dalam kekurangan, mereka ini MOTIVATOR JALANAN.

Kita harus banyak belajar dari para motivator jalanan ini. Tidak semua dari mereka ini bertubuh lengkap, tidak semuanya juga berusia muda, tapi mereka masih bisa tersenyum sambil bekerja. Aku tidak tahu persis apa makna senyumannya. Mungkin menyimpan deretan kata-kata seperti, "Hai orang-orang berdasi pengeluh, aku saja masih bisa tersenyum dan tidak mengeluh hari ini..!" atau "Hai orang-orang bermobil mewah, selapar-laparnya perutku, aku tidak memakan uang orang lain..!" atau "Hai orang-orang berumah besar, sepanas-panasnya terik matahari siang ini, tidak akan menggerakkanku untuk mengambil sesuatu yang bukan hakku..!" atau....entahlah, aku tidak tahu lagi. Tapi satu yang aku tahu, aku harus mengakhiri catatanku siang ini...(",)
Selamat beraktivitas teman-teman, selamat belajar dari para motivator jalanan ini!

Surabaya, 18 Juni 2012, Perjalanan Hati
Gambar dikutip dari: http://benradit.wordpress.com/2012/05/09/hak-pendidikan-anak-jalanan-terlupakan-2/

Selasa, 05 Juni 2012

THE LOVINK


Puas, akhirnya buku The Lovink telah rampung. Tidak menyangka juga ide-ide itu telah berwujud lembar-lembar kertas yang siap dibaca. Kumpulan ide itu telah mewujud. Aku tidak tahu proses apa namanya, tetapi mirip dengan "menyublim", proses perubahan wujud materi dari gas menjadi padat, atau sebaliknya. Wujud ide itu seperti gas; tidak tampak, pergerakan partikelnya aktif, sesekali hinggap di kepala. Dicuekin sebentar, langsung terbang entah kemana. Dipikirin supaya datang, malah nggak datang-datang. Sedang bersiap untuk tidur siang, malah datang. Daripada terbang lagi, langsung saja ditangkap, diperangkap dalam tinta menjadi kata-kata. Dan ini benar-benar terjadi, judul THE LOVINK muncul begitu saja di kepala ketika aku hendak tidur siang. Walaupun agak mengantuk, aku segera mengambil buku kecil berwarna hijau di atas meja yang kuberi nama "Dream-Happen's Book" dan menuliskan judul tersebut pada salah satu lembarnya. LOVINK adalah gabungan kata LOVE yang berarti CINTA dan INK yang berarti TINTA. Beberapa saat setelah menulis THE LOVINK, aku menulis "ada cinta dalam tinta". Jadilah sebaris kalimat dalam sebuah buku kecil hijau itu, sebuah buku yang berisi kumpulan mimpi yang saling berebut untuk mewujud.

Sebenarnya, tidak ada keinginan yang teramat sangat untuk menyusun tulisan-tulisan menjadi sebuah buku (lagi). Aku memang memiliki beberapa tulisan di blog. Aku membuat dan mulai menulis di blog pada tahun 2008. Ketika itu situsnya bernama selsurya.blogspot.com. Selsurya diambil sebagai domain karena tugas akhirku di jurusan kimia ITS adalah tentang "benda kecil" tersebut. Seiring berjalannya waktu, tulisanku semakin bertambah dan semakin melenceng. Semula memang ada tulisan tentang sel surya dan beberapa aplikasinya, namun makin lama semakin membias kemana-mana. Ada cerita tentang kegundahan anak muda, tour ke berbagai daerah, lirik lagu, puisi jatuh cinta, puisi patah hati, konsep-konsep kimia dan beberapa aplikasinya, serta beberapa tulisan tentang pengembangan diri. Untuk konsep-konsep kimia dan beberapa aplikasinya, aku sudah membukukannya. Buku tersebut aku beri judul "CHEMINLOVE, ketika SAINS dan CINTA bertemu dalam TABUNG REAKSI KEHIDUPAN". Aku sudah merasa puas sampai disana. Hingga pada suatu siang, sebuah ide muncul begitu saja...wuusss...dan akhirnya, aku mulai menyusun beberapa catatanku lagi, dan mulai berpikir untuk membukukannya.

THE LOVINK tak ubahnya seperti kumpulan catatan harian. Sebuah perjalanan hidup. Dan aku memulainya dengan kata-kata, "Hidup itu..bukan sekedar tentang perjalanan kaki, tetapi perjalanan hati..bukan sekedar tentang yang paling cepat, tetapi yang paling dekat". The Lovink mencoba menjadi sebuah cermin untuk melihat diri kita sendiri yang senantiasa hidup dalam sebuah energi yang bernama cinta. Sulit memang untuk dipahami dan didefinisikan karena cinta hanya bisa dirasakan. Sekalipun kita mencoba mendefinisikannya, kita hanya mampu memenjarakan sebagian kecil wujudnya dalam kata-kata. Pesan itulah yang ingin aku sampaikan dalam buku The Lovink. The Lovink hadir untuk menampakkan "sedikit" wujud cinta itu, dalam tinta.

Lahirnya The Lovink memberikan aku sebuah wawasan yang luar biasa, bahwa ada hal yang sangat kurang ajar di dunia ini. Hal itu bernama ide. Tidak tahu sopan-santun. Bila dijemput, malah tidak datang...pulang pun, seenaknya sendiri. Dan dengan segala keterpaksaan, aku katakan bahwa KITA YANG HARUS SIAP. Ketika ide itu datang, tangkaplah, sekecil apapun, kemudian tuliskan, jebak dia dalam kata-kata agar tidak kemana-mana. Mungkin kita tidak membutuhkannya saat itu, tapi pasti ada manfaatnya di kemudian hari. Dan ketika "kemudian hari" itu tiba, disaat itulah ada energi besar yang membungkus raga, pikiran, dan hati untuk membantu kita melakukan hal-hal menakjubkan.

Sebuah ide memang membutuhkan waktu untuk menjadi gede. Ada katalisnya juga. Namanya PEDE. So, jangan pernah lupakan 3De ini: Ide, Pede, Gede...hehehe. Semoga teman-teman semua jadi orang gede karena pede dengan idenya. Jangan sia-siakan ide, sekecil apapun itu. Seperti yang sudah aku bilang, mungkin saat ini belum punya dampak yang cukup berarti, tapi yakinlah di kemudian hari ada manfaatnya. Seperti kata Syahrini, yakinlah di kemudian hari akan jadi "SESUATU, gitu".
Sukses selalu untuk semuanya.

Surabaya, 5 Juni 2012