Selasa, 31 Juli 2012

KA(CIN)TA


Kata...
Cinta...
Kata-Kata...
Cinta-Cinta...

Kata-Kata bisa mengandung Cinta...
Cinta bisa ada dalam Kata-Kata...
Cinta dalam Kata
Kata dalam Cinta

Cinta dalam Kata memang Cinta yang lemah,
namun lebih kuat dibandingkan Cinta dalam Sukma
yang terpenjara oleh rasa putus asa

Seperti sedang menunggu pedang
Pedang yang tajam, setajam cahaya matahari
yang mampu membelah malam

Dan bila pedang itu tak datang juga,
Cinta hanyalah Raja
yang duduk angkuh di atas singgasana hati
tanpa bisa bersabda kepada semesta

Kata-Kata adalah Bata-Bata
untuk membangun jembatan
antara hati dan dunia
agar cinta memiliki jalan
untuk berjalan
untuk menemukan apa yang dicarinya
atau sekadar
untuk lebih memahami
bahwa yang ada di luar, juga ada di dalam

Surabaya, 31 Juli 2012
Gambar dikutp dari: http://instingcinta.blogspot.com/2011/06/kumpalan-gambar-cinta-love.html

Sabtu, 14 Juli 2012

Pelajaran dari atas Trotoar


Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juli 2012, aku menyusuri jalan Ir. Soekarno bersama kekasih tercinta, Elva, dengan sepeda motor supraku yang kuberi nama Super. Super baru saja memasuki babak baru dalam hidupnya karena angka pada penunjuk kilometernya sudah kembali ke 000000 pada tanggal 26 Juni 2012. Tak terasa sudah 10 tahun aku bersamanya dalam suka dan duka, gundah dan sumringah, galau dan gurau. Betul-betul sahabat setia. Tidak terlalu banyak menuntut. Kalau sedang marah, paling hanya menggemboskan bannya sendiri, membanting plat nomernya ke jalan, menjelek-jelekkan suara klaksonnya, dan melepaskan pelukan rantainya. Seandainya ada yang ingin membelinya dengan harga 1 Milyar pun, aku tidak akan menjualnya. Karena hampir tidak mungkin juga ada orang yang mau membeli motorku dengan harga 1 Milyar, lebih baik digunakan untuk membeli mobil mewah atau mini bus sekalian, bisa untuk jalan-jalan sekeluarga...hehe

Ketika itu sekitar pukul 7 malam, kami berhenti di sebuah tempat makan yang berada di pinggir jalan, tepatnya di atas trotoar. Kami belum pernah mengunjungi tempat makan ini sebelumnya. Bukan seperti warung tenda, tempat makan ini tidak menggunakan tenda, jadi kepala pengunjung langsung beratapkan langit dengan taburan bintangnya. Ada beberapa pohon juga di sela-sela meja-meja makannya. Konsep yang sangat natural. Dan yang menyebabkan kami memutuskan untuk berhenti di parkiran tempat makan ini adalah karena tempat makan ini ramai sekali dengan pengunjung. Bukan hanya pengunjung yang membawa sepeda motor, tapi banyak juga yang membawa mobil. Bukan hanya pengunjung berkulit sawo kematangan seperti kulitku, tapi sebagian besar justru pengunjung yang berkulit putih. Tidak heran, karena makanan yang dijual di tempat makan ini bernuansa chinese. Tulisan yang kubaca besar di meja kasirnya adalah DIM SUM 100% HALAL.

Kuberanikan saja duduk di salah satu kursinya dan langsung memanggil salah satu pelayannya. Yang laki-laki tentunya...hehe. Kemudian aku menanyakan buku menunya. Tak disangka ternyata tempat makan ini tidak memiliki buku menu, jadi pengunjung harus langsung menuju ke tempat pemesanan sambil melihat aneka menu disana, dan menunjuk beberapa menu yang dipilih untuk disantap. Langsung saja aku dan Elva menuju tempat pemesanan. Banyak sekali jenis-jenis makanannya. Sangat asing sekali di mata, tapi ada satu menu yang sangat familiar dan ini adalah makanan favaritku. Ceker ayam. Warna bumbunya merah, aromanya lumayan lezat. Bagiku, ini satu-satunya menu yang masuk akal. Yang lainnya kebanyakan berbentuk bulat-bulat, dan pasti nama-namanya juga mbulet (membingungkan). Elva memesan makanan yang mirip seperti bakso yang ternyata bernama tom yam. Tom yam adalah sup yang berasal dari Thailand, sedangkan dim sum sendiri adalah hidangan ringan dari China. Semua menu di tempat makan ini, kecuali tom yam, disajikan dengan menggunakan mangkuk yang dibentuk bulat dari bambu, di dalamnya masih ada wadah yang terbuat dari porselen, sehingga kehangatan makanan tetap terjaga. Tom yam disajikan dengan menggunakan mangkok biasa. Untuk minumnya, aku memesan jus jambu biji dan es teh.

Sambil menunggu hidangannya, aku melihat-lihat para pengunjung yang sedang asyik menikmati makanannya sambil mengobrol dan bersenda gurau. Tempat makan sesederhana ini, yang menggunakan trotoar sebagai alas meja dan kursinya, yang menggunakan badan jalan untuk tempat parkirnya, yang membiarkan kepala pengunjung bersentuhan dengan angin malam, memiliki daya tarik yang luar biasa sehingga bisa membuat banyak orang menduduki kursinya, kemudian memesan, dan menikmati makanannya. Pasti makanannya enak. Begitu pikirku. Tidak lama berselang, makanan dan minuman kami datang. Setelah berdoa, langsung kusantap ceker ayamku. Dan benar, rasanya enak sekali. Ini ceker terenak yang pernah aku makan di Surabaya. Kulit cekernya sangat mudah terlepas dari tulangnya. Bumbunya kental dan rasanya pedas-manis. Walaupun, jari-jari tangan kananku agak pegal karena tidak terbiasa menggunakan sumpit, tapi tidak mengurangi kenikmatan menyantap makanan ini. Tom yamnya pun setali tiga uang. Kuahnya sangat segar. Pantas saja banyak yang berkunjung kesini. Menu dim sum, yang selama ini kulihat berada di balik kaca restoran berkelas, kini ada di pinggir jalan. Mantap. Pemiliknya berhasil membawa konsep resto ke trotoar. Cerdas.

Selesai makan, ada perasaan nikmat dan perutpun tidak terlalu kenyang. Pas. Mudah-mudahan harganya pun pas juga di kantong. Setelah kami selesai ngobrol-ngobrol, aku langsung menuju kasir. Ternyata harga makanannya cukup bersahabat dengan dompet, 7 ribu untuk setiap porsi, apapun menunya. Menarik. Setiap menu dipukul rata dengan harga yang sama. Setelah membayar, aku bertanya kepada kasirnya tentang ketidaktersediannya buku menu. Dan jawaban ini yang membuat aku semakin kagum terhadap konsep tempat makan ini. Kasir tersebut menjawab, “Kami memang sengaja tidak memberikan buku menu, kami ingin mengedukasi pengunjung yang datang”. Luar biasa. Selama ini interaksi pengunjung dan pelayan di tempat makan biasanya kurang intensif, hanya memesan makanan yang ada di buku menu, kemudian menanyakan harganya setelah selesai makan. Dengan tidak adanya buku menu, pengunjung akan lebih banyak bertanya tentang menu-menu yang ada, dan itu menyebabkan interaksi yang intensif dengan pemilik dan pelayan tempat makan. Jawaban-jawaban yang ramah disertai humor-humor ringan dan juga pemberian edukasi terhadap menu-menu yang ada akan membuat pengunjung merasa nyaman dan senang, yang pada akhirnya memicu kontinuitas untuk berkunjung kembali ke tempat makan tersebut. Mereka tidak hanya menjual makanan, mereka menyebarkan keramahan, humor, dan edukasi tentang menu. Ini yang membuat tempat makan ini berbeda dibandingkan dengan tempat-tempat makan lain yang juga berada di atas trotoar, tempat berjalannya para pejalan kaki. Malam itu, aku dapat pelajaran berharga dari atas trotoar...(“,)

Surabaya, 14 Juli 2012
Gambar dikutip dari: http://bonappettit.wordpress.com/2011/12/14/the-best-dim-sum-in-surabaya/

Jumat, 06 Juli 2012

Memberi Itu Jangan Sampai Ikhlas..


Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 3 Juli 2012, aku berkesempatan hadir dalam suatu kelas Enterpreneur University (EU) di Graha SA Surabaya. Beruntung juga bertemu lagi dengan orang-orang yang memiliki spirit dan visi yang sama tentang dunia bisnis. Membuat semakin semangat. Pada kesempatan itu juga, aku bertemu dengan Mas Among Kurnia Ebo, direktur Marketing SRABI KRATON 13 RASA, pemegang 9 merek produk SUPERKICAU Group, dan salah satu mentor EU. Aku mendapat banyak sekali pelajaran dari Mas Ebo tentang bisnis dan sedekah. Dari beliau juga aku mendapat sebuah konsep yang sangat berharga tentang sedekah atau derma atau memberi itu sendiri. Konsep ini menghancurkan konsep yang aku yakini selama ini tentang sedekah. Konsep tersebut sebentar lagi akan aku paparkan pada catatan ini.

Sebenarnya ada 2 konsep tentang sedekah yang dipaparkan Mas Ebo, namun konsep yang kedua akan aku kombinasikan dengan konsep dari salah seorang guru The Secret, Dr. John F. Demartini. The Secret adalah judul sebuah buku yang berisi tentang pemaparan sebuah konsep yang luar biasa tentang Hukum Tarik-Menarik (Law of Attraction) yang bekerja di alam semesta ini. Salah seorang guru dalam buku tersebut adalah Dr. John F. Demartini yang juga adalah penulis buku "The Riches Within, Your 7 Secret Treasures". Beliau juga seorang pembicara internasional dan menjalankan klinik kiropraktik yang sukses, dan pernah diakui sebagai Kiropraktor Terbaik. Dari dua orang inilah konsep tentang sedekah akan aku paparkan.

Aku tidak akan mempertajam pembahasan mengenai manfaat bersedekah. Yang jelas manfaat dari aktivitas ini sangat personal dan semakin bisa terasa apabila kita semakin ahli dalam bersyukur. Secara garis besarnya, manfaat sedekah antara lain: Mengundang Rejeki, Menolak Bala, Menyembuhkan Penyakit, dan Memanjangkan Umur. Aku yakin, manfaat-manfaat tersebut tentu sudah diketahui oleh teman-teman semua. Dan aktivitas sedekah itu sendiri tentu sudah sering teman-teman lakukan dan telah mendapatkan manfaatnya. Dalam catatan ini, aku hanya ingin memaparkan sebuah konsep yang mudah-mudahan membuat teman-teman semua semakin sering dan senang bersedekah. Konsep inipun baru aku dapatkan dan ingin secepatnya aku bagi agar semakin banyak orang yang melakukan aktivitas ini. Dan yang kedua, dengan menulis seperti ini, aku menjadi semakin ingat akan konsepnya, sehingga catatan ini juga berfungsi sebagai pengingat untuk diriku sendiri agar mengaplikasikan konsep yang didapat. Tidak sekedar disimpan di dalam otak saja yang suatu saat akan tergusur oleh konsep baru tanpa pernah mengaplikasikannya sekalipun juga.

Konsep sedekah tentu tidak bisa dilepaskan dari konsep keikhlasan. Kalimat-kalimat yang menunjukkan eratnya hubungan sedekah dan keikhlasan seringkali kita dengar, seperti: "memberi itu harus ikhlas", "yang penting itu bukan besar kecilnya jumlah, tapi besar kecilnya keikhlasan dalam memberi", "tidak apa-apa sedikit, yang penting ikhlas", dan "lebih baik tidak usah memberi kalau tidak ikhlas". Selama ini sebagian besar dari kita tentu menganggap keikhlasan penting dalam memberi, sehingga kita cenderung memperhatikan faktor hati ini ketika memberikan sesuatu kepada orang lain. Ketika ingin memberi harus menyamankan hati terlebih dahulu, setelah memberi tidak usah dipikirkan agar tidak ada sesuatu yang membuat hati tidak nyaman. Kemudian kata SEIKHLASNYA menjadi bermakna sejumlah barang atau uang tertentu yang ketika diberikan memberikan efek paling nyaman di hati. Sehingga, ketika ada orang yang meminta sejumlah uang seikhlasnya, kita akan memberikan sejumlah uang tertentu yang ketika dilepaskan tidak akan menimbulkan gejolak di hati. Ikhlas. Lepas. Tuntas. Pas. Pas jumlahnya, pas rasanya! Dan biasanya dengan teknik memberi seperti ini, jumlahnya kecil! Benar tidak? Mudah-mudahan aku salah ya....hehehe. Kalau aku salah, aku mohon maaf. Kalau aku benar, aku mohon senyumnya. Teknik memberi seperti ini aku katakan teknik memberi yang konvensional. Teknik memberi yang modern itu justru TIDAK BOLEH IKHLAS!

Aku tidak sedang bercanda, aku serius seserius-seriusnya. Dalam memberi itu, usahakan jangan sampai ikhlas, tapi lepaskan saja. Ini konsep pertama dari Mas Ebo. Memberikan sedekah itu usahakan banyak sehingga menimbulkan perasaan kurang nyaman di hati. Ada sedikit rasa kehilangan. Kalau belum, berarti kurang banyak...hehe. Perasaan inilah yang namanya tidak ikhlas, tapi perasaan ini bisa dilatih sampai halus dengan terus-menerus mempraktekkan sedekah modern ini. Aku analogikan konsep ini seperti seseorang yang berlatih fitnes. Fitnes itu melatih otot-otot tubuh, sedangkan sedekah itu melatih otot-otot "hati". Fitnes itu dilakukan dengan pemanasan terlebih dahulu, peregangan otot-otot, kemudian dilanjutkan mengangkat beban-beban berat. Tubuh menjadi segar dan berkeringat. Apabila aktivitas fitnes ini baru pertama kali kita lakukan, setelah selesai fitnes, kemudian mengeringkan keringat, mandi, dan mulai istirahat, barulah terasa otot-otot tubuh kita pegal karena tidak terbiasa mengangkat beban berat. Pegal-pegal inilah yang aku analogikan dengan "ketidakikhlasan hati" ketika bersedekah. Cara agar bagian-bagian tubuh yang pegal tadi tidak pegal lagi, yaitu dengan melakukan fitnes lagi keesokan harinya atau dengan kata lain "membalasnya". Namanya juga baru pertama kali, pasti pegal. Kalau sudah "dibalas" dan dilakukan rutin pasti mulai terbiasa dan pegal-pegalnya berkurang. Sedekah juga begitu, kalau sering dilakukan, "pegal-pegalnya" berkurang. Kalau sudah tidak "pegal" untuk jumlah tertentu, tingkatkan jumlahnya sampai kira-kira "pegal"...hehe. Kalau sudah agak "enteng" memberi sejumlah tertentu, tingkatkan jumlahnya. Bahkan Mas Ebo mengatakan begini, "Semakin brutal kita memberi, semakin brutal Tuhan membalasnya!" Apa yang kita beri akan kembali kepada kita. Kalkulator Tuhan sangat canggih dan kurir-Nya tidak akan salah alamat!!

Konsep yang kedua dari Mas Ebo adalah "Terang-Terangan". Maksudnya terang-terangan dalam memberi sedekah. Terang-terangan itu lebih dimaksudkan agar memotivasi orang lain agar tergerak juga untuk bersedekah, bukan untuk sombong-sombongan. Menurut beliau, konsep "Terang-Terangan" atau "Diam-Diam" dalam bersedekah itu sama pahalanya, yang tidak boleh itu terang-terangan tidak sedekah atau diam-diam tidak sedekah..hehe. Untuk konsep "Terang-Terangan" ini mungkin belum cocok dengan karakterku. Bila ada yang cocok, silakan dilakukan dengan niat untuk memberikan motivasi kepada orang banyak agar tergerak melakukan sedekah. Aku sendiri lebih memilih konsep "Diam-Diam" dari Dr. John F. Demartini. Beliau memaparkan konsepnya seperti ini: "Ketika memutuskan untuk memberikan sumbangan, pertimbangkanlah yang berikut ini: bila Anda memberi kepada seseorang dan dia mengetahui Andalah yang memberi, maka sekaligus juga Anda menimbulkan alasan baginya untuk berterimakasih kepada Anda - "yang hanyalah bagian yang kecil saja". Namun, bila menyumbangnya diam-diam, maka Anda memberinya kesempatan untuk bersyukur kepada "Suatu keseluruhan" - alam semesta atau sumber asalnya. Bayangkanlah betapa dalam pengalaman si penerima ketika bersyukur kepada keseluruhan yang abadi ketimbang hanya kepada bagian kecil yang bersifat sementara belaka". Aku tidak sedang menabrakkan kedua konsep, "Terang-Terangan" dan "Diam-Diam", ini. Silakan dipilih salah satu yang sesuai dengan karakter dan selaraskan dengan niat untuk memberinya, bukan untuk pamernya.

Demikian yang bisa aku bagikan melalui catatan hari ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya dan yang paling penting adalah timbulnya tindakan yang semakin menghaluskan niat kita untuk berbagi kepada sesama. Itu dulu. Lain waktu aku sambung lagi. Mumpung hari Jumat, teman-teman yang muslim bisa langsung praktek di tempat ibadah. Tinggalkan uang berlogo binatang dan pahlawan berparang di rumah saja, masukkan yang berlogo peci, yang siap ibadah, di kotak amal. Teman-teman Hindu, Protestan, Khatolik, Budha, Kong Hu Cu bisa langsung praktek juga di tempat ibadah masing-masing. Khusus teman-teman Hindu, kalau sesarinya tidak muat diletakkan di canang sari, bisa dimasukkan di kotak dana punia terdekat.
Sukses selalu untuk semuanya, semoga semua berbahagia!

Surabaya, 6 Juli 2012
Gambar dikutip dari: http://www.chopra.com/laws/giving

Senin, 02 Juli 2012

From Connectivity to Chemistry


Pada catatan terdahulu, aku pernah menulis bahwa istilah chemistry saat ini sudah mengalami pergeseran makna. Dari yang semula bernuansa scientific menjadi lebih cair ke arah personal relationship. Agar tidak kehilangan jati dirinya sebagai salah satu ilmu sains, aku memilih untuk memaknainya menjadi kesesuaian frekuensi. Kesesuaian frekuensi inilah yang erat kaitannya dengan connectivity. Jadi, chemistry pada catatan kali ini lebih berhubungan dengan connectivity daripada reaksi-reaksi kimia itu sendiri.

Agar bisa connect dengan sesuatu atau seseorang itu membutuhkan keahlian khusus. Aku tidak katakan itu sulit, tapi bila hal ini mudah, tentu kita tidak akan pernah mendengar istilah LOLA (LOading LAma), "heng-hong", dan "nggak nyambung blas!" Bila "TIDAK SULIT" dan "TIDAK MUDAH", lalu apa? Berarti, "ITU BISA DIPELAJARI". Aku akan mengerucutkan konsep ini, sehingga lebih berkaitan dengan komunikasi diantara dua orang atau lebih.

Ada berapa banyak orang yang tidak asyik saat diajak ngobrol? Topik bercanda ditanggapi serius, topik serius ditanggapi bercanda. Diajak serius, malah serius bercandanya. Ada berapa banyak orang yang "nggak nyambung" saat diajak berbicara? Sedang asyik membahas BB, malah takjub sendiri melihat hape monoponik. Aku sungguh tidak tahu jawaban dua pertanyaan itu, yang jelas aku pernah menjadi salah satu dari orang-orang yang ada dalam pertanyaan itu.

Untuk bisa connect atau "nyambung" dengan seseorang, kita harus tahu variabel penting yang memengaruhi. Variabel itu bernama frekuensi. Sepertinya ilmiah, tapi mari kita buat mudah. Begini, setiap nada pada alat musik memiliki frekuensi tertentu yang berbeda satu sama lain. Nada C memiliki frekuensi 261.63 Hz, nada D memiliki frekuensi 293.66 Hz, nada E memiliki frekuensi 329.63 Hz, dan seterusnya. Dengan kata lain, frekuensi itu menunjukkan ciri khas atau karakteristik dasar dari sesuatu. Itu kan sesuatu, lalu bagaimana dengan seseorang? Frekuensi pada manusia memang lebih kompeks dibandingkan dengan frekuensi pada alat musik karena dipengaruhi oleh suasana hati, suasana pikiran, dan pengalaman hidup. Tapi, setiap orang memiliki "nada dasar" yang dominan, memiliki "tombol khusus masing-masing". Ada seseorang yang menyukai fashion, senang membicarakan teknologi, pintar sekali merangkai kata, gembira bila berhadapan dengan banyak makanan, dan sebagainya. Yang sulit itu adalah menemukan "nada dasar" orang-orang galau. Orang-orang tipe ini kurang jelas frekuensinya, kadang minor, kadang mayor, kadang ngeloyor...

Akhirnya menjadi mudah dimengerti bahwa seni connectivity itu adalah seni menemukan frekuensi, sedangkan chemistry itu sendiri adalah kesesuaian frekuensi. Contoh yang paling mudah dilihat dalam upaya menyesuaikan frekuensi adalah ketika kita berbicara dengan bayi. Bayi tentu tidak bisa menyesuaikan frekuensi dengan kita, jadi kita yang harus menyesuaikan frekuensi dengan bayi tersebut agar dia bisa tertawa. Sehingga kata-kata yang muncul adalah "uuhhh...lutuna, anak ciapa ini? Nang..ning...ning...nang..ning...klek!!" Ada penyesuaian disana. Jadi, bila ada seseorang yang mengatakan "chayank beud sama kamuh celama-lamax", berarti orang tersebut sedang berbicara dengan adik bayinya...hehehe

Tidak mudah memang bila kita langsung menyesuaikan frekuensi dengan seseorang yang baru kita kenal. Kita harus menemukan frekuensinya dulu. Mungkin dari hobinya memelihara tanaman, kegemarannya bersepeda, kecintaannya akan musik, dan kegilaannya akan shoping, yang kesemuanya itu bersinergi dengan frekuensi kita juga. Dari hal-hal kecil itulah kita bangun komunikasi. Mungkin awalnya timbul gesekan-gesekan. Namanya juga manusia, sesuai-sesuainya frekuensi, pasti ada hal-hal kecil yang tidak sesuai juga. Ini bukan seruling, ini manusia! Jadi, perbedaan tidak bisa dihindari. Anggap saja gesekan-gesekan itu sebagai "amplas" yang sedang menghaluskan hati agar kita bisa lebih santun dan lebih rendah hati.

Seiring berjalannya waktu, connectivity yang dijalin terus-menerus akan mampu memunculkan chemistry. Inilah mengapa judul catatan ini adalah From Connectivity to Chemistry. Chemistry itu sendiri jangan diartikan hanya tentang orang yang sedang jatuh cinta, tapi lebih umum, misalnya: chemistry seorang ibu kepada anaknya, chemistry antarsahabat, dan chemistry antarpemain sinetron. Dan ini adalah pengalaman pribadi, ketika aku SMA, aku memiliki seorang sahabat, yang saking connect-nya, kita bisa tiba-tiba tertawa bersama dari hanya saling menatap karena sudah mengetahui isi pikiran masing-masing. Poinnya adalah ketika chemistry tercapai, kadang-kadang kata-kata tidak lagi punya makna. Chemistry melemahkan kata-kata...! Dan daripada kita kehilangan chemistry, lebih baik aku akhiri saja deretan kata-kata ini..hehe. Selamat beraktivitas teman-teman, sukses selalu!

Surabaya, 2 Juli 2012
Gambar dikutip dari: http://apakah.net/koleksi-gambar-atau-foto-bayi-lucu/