Senin, 07 Februari 2011

Diamku...


Diamku...

Karena aku tahu dengan berbicara

tidak akan berarti banyak

Diamku...

Karena aku mengerti bahwa kata-kata

tak akan pernah lebih hangat dari sebuah pelukan

Diamku...

Karena aku menginginkan angin sejuk itu

mengitari hatimu yang masih beku

Diamku...

Karena aku berharap agar waktu saja

yang menggilas semuanya sampai tuntas

Diamku juga...

Karena aku paham bahwa tidak semua rasa

menyublim menjadi kata

Diamku juga...

Agar logika itu memiliki ruang yang layak untuk

ditempati..

Kemudian aku merenung dan berpikir sejenak...

Barangkali cinta itu bukan sebuah energi yang

mampu mentransformasi rasa menjadi kata,

tetapi justru karenanya kata menjadi lunglai

tak berdaya...

Dan karenanya, saat ini, aku memilih diam,

setidaknya dalam kata, bukan dalam rasa. Itu saja.



Denpasar, 7 Februari 2011

Rabu, 19 Januari 2011

Anak Kecil, Kau Membuatku Iri…


Beberapa tahun silam, ketika aku masih berusia sekitar lima tahun, aku ingin sekali menjadi orang “dewasa”. Bagiku saat itu, orang dewasa adalah sosok yang memiliki banyak sekali kebebasan yang tidak dimiliki seorang bocah ingusan. Orang-orang dewasa bisa membeli semua yang mereka inginkan, mereka bisa membeli banyak permen, membeli banyak balon, membeli beragam makanan ringan, jalan-alan sesuka hati, berkeliling kota dengan motor dan mobil, dan yang lebih mengesalkan lagi, orang dewasa bisa mengacak-ngacak rambut seorang anak kecil sepertiku sambil berbicara, “Nanti kalau sudah besar ya, Nak!” Di usiaku yang masih dini itu, aku banyak mengalami tekanan. Tekanan yang kuciptakan sendiri berdasarkan reaksi yang unik antara rasa iri dan dengki kepada orang dewasa ditambah dengan ketidakmampuanku memutar waktu agar berjalan lebih cepat.

Mau tidak mau, waktupun terus berjalan. Kadang cepat, kadang lambat, kadangkala seperti berhenti beberapa saat. Namun, itu jelas hanya perasaanku. Di dunia ini, tidak ada yang lebih konsisten dan angkuh dibanding waktu. Sampai akhirnya, waktu jualah yang mengantarkanku pada masa ini. Masa dimana keinginanku bertahun-tahun yang lalu telah terwujud. Aku telah menjadi orang “dewasa” atau orang yang lebih tua dibandingkan saat aku memiliki keinginan ini. Aku memang sengaja memberi tanda kutip pada kata dewasa untuk sekedar membatasi definisinya saja. Hal ini memang sengaja aku perjelas karena konteks dewasa yang sesungguhnya tentu tidak hanya sekedar menjadi lebih tua atau memiliki tubuh yang lebih besar, mobil yang bagus, rumah yang mewah, pakaian kantor yang rapi, atau bahkan memiliki kumis dan jenggot yang lebat. Makna dewasa tentunya lebih mengacu kepada konteks sikap dan sifat manusia yang melibatkan perpaduan yang khas antara logika dan perasaan. Dan untuk hal ini, setiap orang memiliki definisi tersendiri yang unik.

Setelah menyadari bahwa aku telah berada pada satu masa dimana keinginanku yang terpendam beberapa tahun lalu terwujud, tidak lupa aku mengucap syukur pada Sang Penguasa Waktu yang mengijinkan hamba-Nya ini mencapai keinginannya. Memang menyenangkan saat ini. Aku bisa membeli permen dengan uangku sendiri tanpa harus menarik baju Ibunda beberapa kali sambil menangis karena tidak memiliki uang di kantong. Aku pun tidak perlu memberat-beratkan badanku sendiri ketika Ayahnda ingin menggedongku dan mengajakku pulang ke rumah ketika aku sedang bermain pasir di pantai. Aku juga tidak perlu khawatir Nenek akan berkata, “Ayo, bobo dulu, sekarang sudah malam!”. Apalagi Kakek, aku yakin beliau tidak akan lagi mengatakan, “Jangan lupa cuci tangannya dulu sebelum makan.” Keinginanku terwujud, “kebebasan” itu tercapai.

Seiring berjalannya waktu, keinginan pun bertumbuh, kebutuhan bertambah. Kedewasaan tumbuh mesra bersama tanggung jawab. Ini tidak bisa disangkal lagi. Aku jadi teringat kata-kata seseorang dalam film spiderman, “Ketika kekuatan bertambah, tanggung jawab juga bertambah.” Bertambahnya tanggung jawab inilah yang mengantarkan kita pada satu aktivitas yang dinamakan bekerja. Dengan bekerja, kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain, meningkatkan nilai dari sesuatu, dan juga meningkatkan kualitas diri. Akhirnya, pikiran, waktu, dan tenaga tercurahkan untuk proses bekerja ini, tapi tentu saja tidak seluruhnya. Disela-sela waktu luang itulah aku seringkali bertemu dengan sosok anak-anak kecil. Mereka berlari, bernyanyi, melompat-lompat, menangis, berteriak, tertawa, bergelantungan, dan memutar-mutar tubuh mereka sesuka hatinya. Satu kata untuk mereka….aku iri! Itu saja!

Ingin juga rasanya bisa ‘sebebas mereka’. Tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut, berteriak dengan keras tanpa mempedulikan orang-orang sekitar, melompat-lompat kegirangan sampai capek, bernyanyi lagu apa saja tanpa memperdulikan harmonisasi, bermain hujan sambil berlari-lari kecil, sungguh aktivitas yang amat menyenangkan, seolah tanpa batas. Aku menginginkan hal-hal itu kembali. Keinginan yang sebenarnya sudah tercapai beberapa tahun silam disaat aku menginginkan menjadi dewasa dan lebih bebas. Disaat aku menganggap kebebasan adalah melakukan banyak hal dengan uang, kemudian dapat membeli banyak barang yang aku inginkan. Namun, kini aku melihat kebebasan dengan wajah yang lain, yang terpancar dari wajah polos anak-anak kecil yang mungkin saja memiliki impian besar. Milikilah ‘mimpi besar’, walaupun ‘tubuhmu masih kecil’. Itu lebih baik dibandingkan memiliki ‘tubuh yang besar’, tapi ‘bermimpi kecil’ atau bahkan ‘tidak memiliki mimpi apapun’.

Terimakasih ‘anak-anak’ kecil! Kalian telah berhasil membuatku iri. Bermainlah, bermimpilah, dan bertanggungjawablah terhadap mimpi itu. Itu saja.

Gresik, 19 Januari 2011

Kamis, 13 Januari 2011

Ketika Kita Berbicara...


Ada satu waktu ketika kita saling menatap
Ada saat ketika kita saling mengungkapkan sesuatu
Aku mengungkapkan sesuatu yang ada di kepalaku
Dirimu mengungkapkan sesuatu yang ada di hatimu
Kemudian engkau mulai berbicara terlebih dahulu,
menggebu-gebu, seolah tak ingin ada yang mengganggu,
hanya ingin ada seseorang yang mendengarkanmu, itu saja, tidak lebih..
Dan aku pun mulai mengangguk-anggukan kepala,
bukan karena aku paham sepenuhnya ceritamu,
hanya tidak ingin engkau marah saja..
Mulailah aku berdeham pelan untuk menghargai panjangnya ceritamu itu,
Engkau pun tersenyum, aku pun terhibur..
Sungguh indah..
Aku tahu, bukan solusi yang kaubutuhkan,
bukan hitung-hitunganku yang kauinginkan,
bukan teoriku yang kaurindukan
dirimu hanya ingin didengarkan,
dirimu hanya ingin mencurahkan,
dan dirimu hanya ingin aku merasakan apa yang kaurasakan,
itu saja, tidak lebih..


Kemudian aku mulai bertutur, secara teratur,
perlahan, terkonsep dengan jelas maksud dan tujuannya,
engkau mulai mengangguk, walaupun bukan itu
yang kuinginkan sebenarnya,
karena ketika aku bercerita, aku menginginkan solusi,
aku sedang mencari jalan keluar dari suatu hal,
dan engkau pun tahu itu..
Mulailah bibirmu itu mengungkap gagasan,
berbicara dengan tenang dan aku pun merasa nyaman
Walaupun terkadang idemu terasa aneh dari sudut pandangku,
aku tahu bahwa dirimu sedang berusaha membantu,
aku sangat menghargai itu..


Kembali kita saling menatap,
tercurahkan sudah apa yang ada di kepalaku dan
apa yang ada di dalam hatimu..
Sempat juga aku berpikir, kenapa ceritamu yang sederhana itu
bisa begitu panjang dan membutuhkan banyak waktu,
tapi tentu saja tidak aku ungkapkan,
karena bisa saja engkau bertanya kepadaku,
"Kenapa hal seperti itu bisa menjadi masalah bagimu?"

Gresik, 13 Januari 2011

Sabtu, 18 Desember 2010

Tiga Botol Nasi untuk Kita Resapi

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia kehidupan kepada kita semua. Mudah-mudahan catatan kecil ini semakin memperbesar rasa syukur kita kepada-Nya.
Pada bulan Oktober 2009 aku pernah menuliskan sebuah eksperiman yang sangat terinspirasi dari seorang professor bernama Masaru Emoto yang kuberi judul “Ketika Air sedang Mengajar (Part 2)”. Bagi siapapun yang belum dan ingin membaca catatan tersebut, silakan klik disini.
Catatan kali ini juga dibuat sebagai hasil percobaan yang aku lakukan selama kurang lebih 2 minggu. Percobaan ini hampir mirip seperti yang aku lakukan pada catatan “Ketika Air sedang Mengajar (Part 2)”. Namun, bahan yang aku pilih sebagai objek percobaan kali ini adalah nasi dan waktu percobaan dibuat lebih singkat. Botol yang digunakan juga merupakan botol transparan agar aku bisa melihat perubahannya setiap waktu.
Bermula dari rasa penasaran setelah melakukan percobaan dengan 3 roti dalam botol yang diberi label ‘terimakasih’, ‘bodoh dan tolol’, dan satu lagi tidak diberi label, aku melakukan percobaan ini. Aku tidak yakin bahwa ‘tulisan-tulisan itu’ yang menyebabkan perubahan yang terjadi pada ketiga roti. Karena keraguan ini aku meminta 3 botol transparan kepada Lul 'Ucil' Andriani, menyiapkan nasi putih yang dibentuk bulat-bulat dengan tangan sebanyak 3 buah, 2 kertas kecil denga tulisan ‘terimakasih’ dan ‘bodoh dan tolol’. Kertas tersebut ditempelkan pada dinding botol dengan isolasi bening. Setelah itu, nasi dimasukkan ke dalam botol seperti pada foto di bawah.


Setiap hari kuamati dengan cermat perubahan yang terjadi pada ketiga botol. Tidak lupa aku berikan afirmasi pada ketiga botol tersebut. Dan inilah hal yang paling membedakan percobaan kali ini dengan percobaan sebelumnya. Pada percobaan sebelumnya, aku memberikan afirmasi kepada botol secara berulang-ulang sesuai label yang tertera pada botol, namun kali ini aku melakukan hal yang lain. Pada botol yang dilabeli ‘terimakasih’, aku berikan afirmasi secara berulang-ulang dalam hati dengan kata-kata ‘bodoh dan tolol’, sedangkan pada botol yang dilabeli ‘bodoh dan tolol’, aku berikan afirmasi dalam hati dengan kata ‘terimakasih’ secara berulang-ulang pula. Afirmasi ini tentu saja aku lakukan dengan memegang botol yang bersangkutan. Aku tidak memberikan afirmasi apapun pada botol yang tidak dilabeli.
Satu hari berlalu, dua hari, tiga hari, seminggu, akhirnya mulai ada perubahan warna yang terjadi pada ketiga nasi dalam botol. Ini sungguh-sungguh menggetarkan hatiku. Ini merupakan jawaban dari banyak pertanyaan yang selama ini menggelayut dalam pikiran. Sungguh keajaiban Tuhan. Botol yang sama, nasi yang sama, kondisi penyimpanan yang sama, tulisan yang berbeda, afirmasi yang berbeda, memberikan reaksi yang berbeda. Ini sangat jelas mengisyaratkan ‘kekuatan afirmasi’ atau ‘kekuatan doa’. Nasi dalam botol yang dilabeli kata ‘terimakasih’, tetapi diberikan afirmasi ‘bodoh dan totol’ terlihat lebih kuning dibandingkan nasi yang lain, sedangkan nasi dalam botol yang dilabeli ‘bodoh dan tolol’, namun diberikan afirmasi ‘terimakasih’ adalah yang paling putih diantara ketiganya seperti terlihat pada foto di bawah.



Satu hal lagi yang tidak bisa aku buktikan melalui gambar maupun tulisan yaitu bahwa ketika botol yang dilabeli ‘terimakasih’ dibuka, aroma busuk langsung menusuk hidung. Hal yang hampir sama terjadi pada botol yang tidak dilabeli. Namun, aroma lain tercium dari botol yang dilabeli ‘bodoh dan tolol’. Aromanya tidak busuk, seperti aroma ragi yang khas. Bila belum yakin, silakan mencobanya sendiri. Banyak hal yang bisa disimpulkan dari percobaan yang sederhana ini. Silakan rekan-rekan, kawan-kawan, saudara-saudara menyimpulkan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan bidang ilmu masing-masing. Yang jelas, sebuah ungkapan ‘don’t judge a book by its cover’ menjadi lebih bermakna setelah melakukan percobaan ini. Apa yang tampak indah, menawan, dan baik di luar, belum tentu mengisyaratkan sesuatu yang sama di dalamnya. Yakinlah akan kekuatan doa karena ada Tangan Maha Lembut yang sedang menggenggam semuanya. Semoga bermanfaat. Itu saja..

Sabtu, 04 Desember 2010

Dan Tidurlah…


Foto ini aku ambil pada tanggal 21 Nopember 2010 sekitar pukul 10 malam di tangga salah satu rumah makan di Gresik. Rumah makan yang letaknya cukup strategis, yaitu pada perempatan jalan R.A. Kartini, Panglima Sudirman, Veteran, dan Kapten Dulasim. Seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun sedang tidur dengan posisi terlentang. Tidak di kasur, bukan juga dengan bantal empuk. Namun, melihat raut wajahnya yang amat kelelahan, aku berharap dia tidur nyenyak malam itu.

Entah apa yang sebenarnya ingin Tuhan sajikan kepada mataku malam itu. Sepasang mata yang pada akhirnya melihat sebujur tubuh yang sedang menikmati malam dengan caranya sendiri. Dengan cara yang jarang aku lihat secara langsung, sedekat itu, semalam itu, sedingin itu. Kemudian pikiran mulai berkelana, mencari maksud dan makna yang tersembunyi. Hati mulai tervibrasi oleh bias pandang yang diterima kedua bola mataku. Namun, tetap saja tak mampu bagiku menggapai keseluruhan makna yang Engkau sembunyikan dalam kelam malam itu.

Sebuah potret satu sisi tentang bagaimana seorang lelaki yang merelakan tubuhnya bercengkerama dengan pelukan angin malam, merelakan kepalanya beradu dengan tetes-tetes embun yang semoga saja menyegarkan, merelakan kerasnya tangga-tangga itu menjadi alas penat dan lelahnya, merelakan telinganya yang harus menerima suara-suara bising jalanan, merelakan hidungnya sesekali menghirup asap yang keluar dari knalpot kendaraan-kendaraan malam itu. Dan semoga saja ada mimpi yang sudi hadir pada tidurnya itu. Mimpi yang mewujud menjadi semangat dalam menjalani hari-harinya. Mimpi yang membakar asanya untuk terus berusaha menjadikan hidupnya lebih baik. Semoga.

Tidurlah…dengan tenang karena engkau pasti bukan pencuri yang tidak pernah tenang hidupnya itu…
Tidurlah…dengan damai karena engkau pasti bukan koruptor yang merugikan banyak orang itu…
Tidurlah…dengan nyenyak karena engkau pasti bukan orang yang senang memakan uang yang bukan milikmu…
Tidurlah…dengan pulas karena engkau bukan orang yang senang berpikir untuk menjatuhkan orang lain demi keuntunganmu sendiri…
Tidurlah…walau tanpa piyama, walau tanpa AC, walau tanpa alunan musik yang lembut, walau tanpa selimut yang tebal, walau tanpa susu yang hangat, walau tanpa lampu yang temaram, namun engkau tetap saja berdoa dan bersyukur atas anugerah hidup yang diberikan-Nya…
Dan tidurlah…dengan sebaik-baik posisimu, kemudian bangunlah karena pagi akan datang, masih dengan senyum mentari yang menyembunyikan seribu misteri, kemudian engkau bekerja, bukan sebagai peminta-minta yang merelakan hidupnya dipenuhi belas kasihan orang lain, dengan semangat untuk berbagi. Itu saja.

Gresik, Desember 2010

Sabtu, 20 November 2010

Yang Sudah Selesai, ya Selesai..


Tercium begitu wangi...
Semerbak bunga yang terbalut lembut asap dupa pagi ini
Membuatku rindu pada-Mu, padanya, pada mereka..
Pada semua yang begitu sabarnya membimbing pikiranku
untuk mengetahui bahwa diri-Mu ada,
bahwa dirimu bereksistensi..
Pada semua yang begitu teguhnya meminta hatiku percaya
dan merasakan kehadiran-Mu,
bahkan pada ruang-ruang yang begitu sempit,
untuk menunjukkan tiadanya ruang yang tak terjamah oleh-Mu
Terimakasih atas semua upaya itu,
Dan ijinkan di bawah naungan sinar syamsu ini, aku merasakan
begitu lembutnya kehadiran-Mu,
menyelinap masuk melalui aroma bunga dan dentingan suara genta..
yang telah lama tak kuhirup,
begitu lama tak kudengar..
Terasa asing, tetapi menggetarkan..
Tanpa eksitasi, hanya vibrasi.
Sensasi yang mengagumkan...
Hingga luruh semua yang bergelayut, menetap, melekat, dan terikat,
menjadi pikiranku, mungkin pada otakku..
Hal-hal yang membentuk pola-pola menawan,
yang seringkali membuatku terlampau jauh dari-Mu,
terlampau asing dihadapan-Mu..
Ingin kusingkirkan saja,
ingin kukosongkan itu semua,
ingin rasanya berbicara pada otakku sendiri bahwa,
"yang sudah selesai, ya selesai, aku ingin santai...berbincang hangat dengan-Mu!"
Itu saja..

Gresik, 14 November 2010

Rabu, 06 Oktober 2010

Antara..


Malam ini tak begitu dingin, tidak juga terasa menggerahkan..
Seharusnya aku bisa tertidur dengan lelap,
tapi entah kenapa pikiranku tiba-tiba saja tertuju pada-Mu.
Banyak pertanyaan yang ingin kuajukan,
tapi mungkin aku akan terjebak pada hal yang sama,
yang selalu saja tak dapat menggapai jawaban-Mu dengan utuh..
Namun, ketidakutuhan itulah yang membawaku bergerak
dari satu kebenaran yang kecil menuju kebenaran yang lebih besar..
dalam jagat yang Engkau pahat ini..

Jagat yang menyajikan begitu banyaknya daerah antara
dari dikotomi hitam-putih, materi-energi, eksistensi-esensi, surga-neraka..
Dan aku pun merasa nyaman berada diantaranya,
bukan pada satu polaritasnya, bukan pada salah satu sisinya..
Mungkin aku tak cukup pandai untuk memihak,
namun hal itulah yang membawaku pada sebuah pemahaman
bahwa tidak ada yang sempurna,
tidak ada yang seutuhnya salah ataupun seutuhnya benar..
Yang aku yakini bahwa segala sesuatunya
telah berada pada frekuensinya masing-masing,
bergumul hanya karena kesamaan tingkat energinya..

Kesamaan yang membawaku bertemu dengannya,
bertemu citranya dengan bentangan daerah antara
yang semakin meyakinkanku bahwa harmoni tidak terjadi
dari satu nada saja, arus tidak mengalir bila hanya ada satu kutub saja,
angin tidak bersemilir dalam satu tekanan,
air tidak mengalir tanpa perbedaan ketinggian..
Aku dan dirimu mungkin hanya berbeda nada, dalam Sumber Nada yang sama,
berbeda kutub hanya untuk mengalirkan arus,
berbeda tekanan untuk mengundang sejuknya angin,
dan berbeda ketinggian hanya untuk merasakan segarnya air. Itu saja..

Gresik, di malam 4 Oktober 2010