Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2015

A Seed and Forest (Sebutir Biji dan Hutan)

Adalah sebutir biji. Ia memiliki rasa ingin tau yang kuat mengenai bagaimana hutan tercipta. Ia tidak cukup pengetahuan untuk menjawab rasa ingin tahunya itu. Maka ia pun memulai pengembaraannya untuk mencari jawaban.
Dalam perjalanannya ia belajar satu per satu pengetahuan yang bisa ia pelajari, dimulai dari ilmu tanah, ilmu air, dan ilmu udara. Ia sekarang mengerti bahwa di sekelilingnya ada tanah, air dan udara. Dan ia tau fungsi mereka masing-masing. Namun pengetahuan ini belum cukup dalam menjawab bagaimana penciptaan hutan.
Ia melanjutkan perjalanannya. Ia memperluas pengetahuannya. Si biji mempelajari ilmu lain seperti ilmu iklim, cuaca, juga ilmu kelangitan, seperti cahaya matahari, bulan, bintang. Sekarang ia tahu apa fungsi dari masing-masing komponen itu dan bagaimana hubungannya antara satu dan lainnya. Ia juga paham bagaimana semua itu berhubungan dengan tanah, air, dan udara.
Si biji sekarang menjadi biji yang pintar dan terpandang. Ia sudah layak mendapatkan gelar biji yang berilmu tinggi. Ia paham dengan baik apa yang terjadi pada alam di sekelilingnya. Namun pengetahuannya ini yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun masih belum mampu menjawab keingintahuannya mengenai bagaimana hutan tercipta.
Beberapa tahun lamanya kemudian, si biji masih ingin tau bagaimana hutan tercipta. Tapi ia tidak tau harus belajar apa lagi. Dan ia tidak punya tempat untuk bertanya. Hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Sampai suatu hari ia bertemu sebatang pohon tua yang besar.
Ia pun bertanya kepada sang pohon besar, "Wahai pohon tua besar yang bijak, apakah engkau tau bagaimana hutan tercipta? Sudikah kau menceritakannya kepadaku?
"Sang pohon besar memandang ke bawah ke arah si biji. Ia berkata, "O biji, berhentilah bergerak, dan duduklah diam di sampingku."Si biji menuruti apa yang dikatakan oleh pohon besar. Ia duduk berdiam diri di samping pohon besar itu.
Sehari, seminggu, sebulan pun berlalu, biji tetap duduk diam tidak bergeming. Perlahan-lahan mulai terjadi perubahan pada dirinya. Biji mulai ditumbuhi akar kecil, yang kemudian membesar dan menjalar menembus tanah. Tubuhnya meninggi karena batang yang tumbuh keluar dari tubuhnya. Daun pun muncul dari batangnya. Ia merasakan cahaya matahari masuk ke dalam tubuhnya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dulu ia hanya tau mengenai cahaya, namun sekarang ia bisa merasakannya mengalir melalui daun dan seluruh tubuh. Ia merasakan akarnya yang menyerap zat-zat mineral dari dalam tanah ke dalam tubunya. Ia pun semakin tumbuh. Semakin besar, dan besar.
Bertahun-tahun sudah berlalu, si biji sekarang bukanlah sebuah biji lagi. Ia telah menjadi sebatang pohon yang sangat tinggi besar, berbatang banyak, dan daun-daunnya yang rimbun. Sekarang si biji mengerti bahwa selama ini ia sudah berada di dalam hutan. Dan ia sekarang mengerti bagaimana hutan itu tercipta.
Si biji mengerti. Ia lah hutan itu!

Kamis, 09 April 2015

Kang Suto Mencari Tuhan

....
Di Klender, yang banyak masjid itu, saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasehati, "Hiasi dengan baca Quran, biar rumahmu teduh."
Para "Unyil" ke mesjid, berpeci, dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemaruk terhadap agama.
Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, supir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat, tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.
Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, Ba, Ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, 'ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya kurang lebih ngain.
"Ain, Pak Suto," kata Ustad Bentong bin H. Sabit.
"Ngain," kata Kang Suto.
"Ya kaga bisa nyang begini mah," pikir ustad.
Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyam. Tapi Kang Suto tidak putus asa. Dia cari guru ngaji yang lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Alfatika.
"Al-kham-du...," tuntun guru barunya.
"Al-kam-ndu..," Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, "Salah."
"Lha kam ndu lilah...," Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak bisa sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.
Kang Suto takut, "Mau belajar malah cari dosa," gerutunya.
Ia tahu, saya tidak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan dari saya.
"Begini Kang," akhirnya saya menjawab. "Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima atau tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula, bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan 'ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma orang Arab melulu."
....
~Mohamad Sobary

Kapan Kamu Merasa Cukup?

Pertanyaan yang hadir di benak saya tadi malam adalah, "Kapan kamu akan merasa cukup?"
Pertanyaan yang sederhana, namun membuat saya merenung cukup lama. Merenungi perjalanan hidup yang sebagian besar diisi dengan menciptakan impian, kemudian mengejarnya. Bila berhasil senang, jikalau gagal sedih. Menciptakan impian lagi yang lebih besar, dan mengabaikan impian sebelumnya..terus-menerus, seperti berlari ke suatu tempat yang tidak ada ujungnya. Sekalipun terpenuhi, akan tercipta impian dan keinginan baru yang lebih besar dan meminta untuk dipenuhi. Di tengah perjalanan, baru tersadarkan olen sebuah pertanyaan, "Kapan kamu akan merasa cukup?"
"Apakah kamu takut, jika dalam merasa cukup, segala anugerah untukmu akan berhenti dialirkan?" Itu menjadi pertanyaan selanjutnya yang hadir di benak. Kemudian ada suara yang tak kalah jernihnya, "Hanya dalam rasa berkecukupanlah, rasa syukur dapat tumbuh. Dan hanya dengan rasa syukurlah, kebahagiaan akan mekar dalam dirimu. Rasa kekurangan tidak akan menumbuhkan kebersyukuran, apalagi kebahagiaan. Ketika engkau merasa cukup, engkau mulai bisa menikmati aliran anugerah dalam hidupmu. Dalam rasa cukup, engkau menerima segalanya. Ini bukan tentang apa yang sedang engkau miliki, tapi tentang mensyukuri apapun yang engkau miliki saat ini. Dan itu tidak didapatkan dengan memaksa hal-hal di luar dirimu untuk mencukupkan dirinya, tapi keputusan sadar dari dalam diri untuk merasa cukup." Jadi, kapan kamu merasa cukup?

Senin, 22 Desember 2014

Masih Kaku

Dulu, ketika saya awal-awal berlatih kempo di sebuah dojo, rasanya bangga bisa menguasai beberapa jurus. Ada tendangan, pukulan, tangkisan, disertai dengan teriakan yang perkasa. Pokoknya keren deh. Di luar latihan, saya menjadi sosok yang berani dan percaya diri. Setiap ada masalah dikit aja dengan orang lain, maunya langsung mukul atau nendang, saking beraninya. Setiap ada laki-laki yang cara berjalan atau meliriknya tidak saya sukai, maunya langsung ngantem mukanya. Namanya juga masih anak kemarin sore belajar beladiri..merasa diri hebat, padahal hanya hebat dalam memberi nutrisi bagi ego sendiri. Sangat kaku, segala sesuatu disikapi dengan cara-cara yang mengedepankan otot.
Di lain waktu, saya belajar main gitar. Di awal-awal belajar, jari-jari tangan kiri saya sering sakit karena belum terbiasa menekan senar-senar gitar. Karena baru belajar, jari-jari saya kaku sekali, tidak luwes seperti guru saya. Nada yang dihasilkan oleh jari-jari yang kaku pun ikut kaku, tidak mengalir..tidak harmonis. Kadang-kadang nadanya berbunyi..tek..tek..tek. Kayanya saya salah neken tuh..haha. Namanya juga masih anak kemarin sore belajar gitar...meluweskan jari-jarinya sendiri saja masih belum mampu. Masih kaku.
Saya amati dalam berbagai hal di kehidupan ini, ketika saya baru pertama kali belajar sesuatu, rentan sekali hadir ego untuk menyombongkan diri. Saya merasa menguasai banyak hal, tapi sebenarnya tidak paham esensi apa-apa! Masih di permukaan..masih sangat dangkal..tapi sudah sering bikin orang lain dongkol. Kekakuan adalah ciri bahwa kita baru mempelajari sesuatu. Dan keluwesan adalah ciri dari kedewasaan dan kemahiran kita dalam menguasai sesuatu. Sama seperti orang yang baru pertama kali naik sepeda, seluruh tubuhnya menegang, sangat kaku. Berbeda dengan orang yang sudah mahir, sangat luwes, namun tidak kehilangan keseimbangan dalam keluwesannya itu.
Ini bukan hanya tentang beladiri, tentang belajar gitar, atau naik sepeda, ini tentang ilmu apapun yang kita pelajari dalam hidup ini. Entah itu belajar masak, belajar balet, renang, menari, ilmu kimia, matematika, fisika, astronomi, psikologi, ilmu komputer, manajemen, komunikasi, agama,dll! Bila masih kaku, berarti masih harus banyak berlatih. Bila masih sering bikin ribut dengan orang lain, berarti masih harus banyak belajar. Orang-orang yang sudah ahli justru sangat luwes, sangat tenang, dan jarang bikin ribut. Bila masih berteriak sana-sini tentang yang ini benar-yang ini salah-dan saya yang terbenar, sama seperti suara senar gitar yang berbunyi tek..tek..tek. Belum harmonis. Jari-jarinya masih kaku. Namanya juga masih anak kemaren so..ah sudahlah! 

Senin, 01 Desember 2014

Tuhan dan Kotoran Sapi

"Pernah gak kalian bercermin?" tanya saya kepada beberapa anak SMP yang sedang mengikuti camp di salah satu lembaga bimbingan belajar.
"Ya pasti pernah, Mas!!" kata mereka, sambil menunjukkan raut wajah yang sedikit kebingungan. Mungkin karena pertanyaannya yang aneh atau tidak begtu penting.
Saya tersenyum, kemudian melanjutkan bertanya, "Nah, ketika kalian bercermin, pernah gak kalian tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada orang yang ada di depan cermin?"
Seorang anak cowok langsung merespon pertanyaan saya itu dengan berkata, "Gendeng Mas!" Teman-temannya yang lain langsung tertawa mendengar jawaban anak ini.
Kemudian, mulai terdengar jawaban dari anak-anak yang lain: "Gak pernah, Mas!", "Aneh Mas!", "Ngapain gitu, Mas?!", "Untuk apa, Mas?", "Narsis Mas!"
"Kalau kalian gak pernah mengucapkan terimakasih pada diri sendiri, lalu kalian mengucapkan terimakasih kepada siapa?" tanya saya lagi.
Seorang anak dengan cepat menjawab, "Kepada Tuhan, Mas." Anak-anak yang lain langsung terkagum-kagum dengan jawaban anak ini yang cepat dan tegas. Termasuk saya.
"Tuhan ada gak di dalam diri kita?" tanya saya.
"Ada Mas!" jawab mereka serempak.
"Kalau kita mengucapkan terimakasih kepada diri sendiri, kita sedang mengucapkan terimakasih kepada Tuhan, gak?"
Wajah mereka tampak berpikir, dan akhirnya seluruh anak mengatakan, "Iya Mas."
"Tuhan ada gak di tangan kita?" tanya saya lagi.
"Ada Mas!" kata mereka.
"Kalau kita mengucapkan terimakasih kepada tangan kita, sama gak dengan mengucapkan terimakasih kepada Tuhan?" kembali saya bertanya.
"Iya Mas!" kata mereka lagi.
"Tuhan ada di kaki kita?"
"Ada."
"Tuhan ada dalam diri setiap orang?"
"Ada."
"Ada dalam diri binatang?"
"Ada"
"Ada di dalam diri anjing?"
"Ada."
"Ada di dalam diri babi?"
Sebagian anak mulai kebingungan, sebagian lagi mengatakan, "Ada Mas."
"Tuhan ada dalam kotoran sapi?" tanya saya sedikit jahil.
Dan merekapun serempak menjawab, "Gak ada Mas!" sambil menunjukkan wajah jijik.
Saya tertawa, dan seisi kelas pun tertawa. 

Tentang Kita dan Hujan

Semakin dewasa, kita semakin membenci hujan. Padahal dulu kita pernah tertawa di bawah rintik hujan dari langit yang sama, Kawan. Bajumu basah, bajuku juga basah. Namun, kita tetap saja nyengir bersama ingus kita masing-masing. Dan kita berdua sudah tahu bahwa beberapa menit ke depan, di dalam rumah yang berbeda, kita akan sama-sama tertunduk terpaku sambil mendengarkan omelan ibu kita masing-masing. Omelan yang akan memberhentikan kita berhujan-hujanan hari itu...tapi tidak besok, Kawan. Besok memiliki hiburannya sendiri, permainannya sendiri, keindahannya sendiri.
Kau tahu apa yang paling indah dari air hujan, Kawan? Air-air itu akan terus mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terbang bersama sinar mentari walaupun tahu rasanya jatuh berkali-kali. Lalu kau pasti protes bahwa air dan manusia itu berbeda..fitrahnya air memang seperti itu..sedangkan manusia berbeda. Tidak semua orang nyaman mengalir ke tempat yang lebih rendah, dan tidak semua orang juga cepat bangkit ketika terjatuh. Ah..aku kenal betul tabiatmu yang suka protes ini, Kawan. Itulah yang membuat kita tetap berkawan. Bukan karena engkau tidak memiliki sifat yang aku tidak sukai, tapi karena aku bisa menerima hal itu, dan engkau juga melakukan hal yang sama akan sikapku yang tidak kau sukai.

Kamis, 24 April 2014

Gadis Berkerudung Biru

Pagi masih bersahabat, sinar matahari belum terasa menyengat. Angin pun masih sesekali berhembus, itupun pelan saja. Seorang gadis berkerudung mengayuh sepedanya dengan perlahan. Menyusuri jalan yang tidak begitu lebar. Mengenakan baju berlengan panjang berwarna biru muda, senada dengan warna kerudungnya. Celana jeans-nya juga biru, namun warnanya lebih muda dibandingkan bajunya. Paduan warna yang menyejukkan mata.

Hingga akhirnya sesuatu terjadi dan membuat gadis berkerudung ini harus merelakan celana jeansnya bersentuhan dengan jalan setelah sepedanya oleng dan hilang keseimbangan. Saya yang berada di belakangnya segera menghampiri, kemudian mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Dengan ramah, gadis ini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tentu saya tahu maksudnya. Segera saya angkat sepedanya dan menegakkannya kembali.

Setelah membersihkan debu-debu yang menempel di celana dan lengan bajunya, gadis ini segera menaiki sepedanya kembali. Saya pun bertanya, "Kenapa Mbak?" Dia pun menjawab, "Keberatan Mas." Saya mengerti betul maksudnya, karena ketika mengangkat sepedanya, saya merasakan ada beban yang berat, bukan beban sepedanya, tapi beban tas yang diletakkan di keranjang depan sepadanya. Setelah mengucapkan terimakasih, gadis ini langsung membuka tasnya dan memindahkan beberapa buku ke tas kresek yang telah disiapkannya di dalam tas. Saya pun mohon pamit dan melanjutkan perjalanan.

Banyak hal yang terjadi di hadapan kita memberikan pelajaran berharga. Terjatuh adalah hal yang tidak begitu disukai oleh sebagian kita, termasuk saya. Apalagi kalau bukan karena rasanya tidak enak dan mengharuskan kita berurusan dengan debu, kerikil, atau tanah yang menempel di pakaian kita. Belum lagi kalau menimbulkan luka. Ada yang mengatakan bahwa menyusuri hidup itu seperti mengayuh sepeda. Agar seimbang, kita harus mengayuhnya terus. Gadis berkerudung itu mengayuh sepedanya terus, namun beban yang diletakkan di depan sepedanya terlalu berat! Keseimbangan bukan hanya ditentukan oleh faktor mengayuh, tapi juga beban yang kita bawa.

Setiap kita memiliki beban masing-masing. Beragam pula cara kita membawanya. Dari terjatuhlah kemudian kita belajar untuk meletakkan beban, mengaturnya sedemikian rupa sehingga keseimbangan - yang kita harapkan - pun tercapai. Itu pun kalau kita mau berpikir untuk menata bebannya langsung. Hidup yang tanpa beban itu sepertinya ideal dan sempurna. Kita berjalan dengan keseimbangan kita masing-masing dalam hidup ini. Namun, hidup yang seperti itu tentu saja jauh dari uluran tangan orang lain, jauh dari senyuman hangat orang lain, dan jauh dari ucapan terimakasih.

Saya melihat, bukan ketiadaan beban yang membuat banyak orang bijak memiliki senyum yang teduh, namun kehandalannya dalam meletakkan beban pada tempatnya, kemudian tersenyum lembut kepada beban-beban itu sambil bertutur, "Aku mengakui dan menerima dirimu hadir dalam kehidupanku, namun dirimu bukan aku."

Jumat, 11 April 2014

Dikampleng Kehidupan

Entah kapan bermulanya, sudah cukup lama ada bagian diri saya yang tidak nyaman dengan rumah sakit. Jangankan berkunjung, mendengar orang mengatakan "rumah sakit" saja sudah cukup membuat bagian diri ini tidak nyaman. Namanya saja rumah sakit, pasti berisi banyak orang sakit. Beda halnya kalau namanya rumah sehat, pasti banyak orang yang sehat disana, atau paling tidak, banyak orang yang sebentar lagi sehat.

Saya punya teman-teman dokter, bahkan adik kandung saya seorang perawat. Saya sangat menghargai profesi mereka, hanya saja makna saya tentang rumah sakit membuat saya antipati dengan tempat tersebut, semewah apapun, sebagus apapun. Saya menganggap, bila ada seseorang, pasien, yang masuk rumah sakit, pasti ada yang "tidak beres" dengan tubuhnya. Dan saya tentu saja tidak mau menjadi orang seperti itu.

Sampai suatu ketika, mau tidak mau, saya harus menginap di tempat yang tidak saya sukai ini. Alamak..mimpi apa saya semalam?! Berkunjung saja tidak nyaman, apalagi pakai acara menginap segala. Hmmm...saya jadi berpikir..kadang-kadang, untuk membuat pemaknaan kita lebih dewasa, kehidupan perlu mengambil tindakan "mengampleng". Ketika sedang "sempoyongan" karena "dikampleng", barulah saya sadar bahwa ada hal-hal baik, ada wawasan baru, ada keberkahan, ada rejeki, ada silaturahmi yang tersembunyi di dalam hal yang selama ini saya hindari karena tidak saya sukai.

Cerita atau Ceritera

Teman sekelas saya pernah bertanya kepada guru sastra indonesia, "Pak, mana kata yang benar, cerita atau ceritera?" Saya yang kebetulan duduk tidak jauh dari teman saya itu agak kaget mendengar pertanyaannya. Pertanyaan sederhana seperti itu sih bisa saya jawab, tidak perlu nanya guru segala. Itu gampil. Untuk ukuran anak kelas 2 SMA, saya tidak butuh waktu lama menjawabnya. Tapi, pertanyaan itu sudah terlanjur terlontar, tinggal mendengar jawaban guru kami saja.

Dan ini yang menarik, jawaban pak guru ternyata tidak sama dengan apa yang ada di pikiran saya. Itu yang membuat jawaban ini masih saya ingat sampai sekarang. Jawabannya betul-betul menghancurkan tembok keangkuhan yang saya bangun dengan banyak teori buku. Dengan santainya pak guru menjawab, "Kata apapun yang kamu pakai itu benar adanya. Ketika kamu memutuskan menggunakan kata cerita, gunakan kata itu secara konsisten pada seluruh karanganmu. Begitu juga ketika kamu memutuskan menggunakan kata ceritera. Pada akhirnya, pembaca bisa melihat konsistensi dari tulisanmu."

Jawaban pak guru ketika itu memang belum saya pahami secara utuh, namun seiring berjalannya waktu, saya semakin bisa melengkapi makna yang terkandung dalam jawaban beliau. Jawaban pak guru melampaui dualitas benar-salah, dan itu tidak mudah diterima oleh keangkuhan saya ketika itu, yang saklek memandang sesuatu, bahwa yang ini salah, yang itu benar. Akhirnya, saya semakin sadar juga, tidak semua orang yang membaca tulisan kita mengurusi hal remeh-temeh seperti baku atau tidaknya kata. Ada yang mampu melihat lebih dalam dari itu.

Bila kehidupan kita seperti sebuah cerita yang kita karang sendiri, maukah kita berlama-lama mengurusi kata-kata baku dan tidak baku, ketimbang menikmati membaca tulisan kita sendiri dan melihat konsistensinya?

Kalau Kita Mau

Suatu ketika saya mengalami kejadian yang membuat perasaan sedih saya muncul. Sudah lupa kapan tepatnya, tapi yang jelas, ketika itu perasaan saya berada pada kondisi 'aku rapopo' (aku RApuh POrak POranda)..hehe. Mau ngapa2in gak enak rasanya.

Sampai akhirnya sesosok malaikat berwujud manusia yang ditakdirkan menjadi teman saya muncul. Tidak lupa juga sambil membawa kata-kata penyejuk jiwa yang dipetiknya langsung dari surga. Dengan tenangnya dia bersabda, "Sudahlah Yud, yang lalu biarlah berlalu, masa lalu menjadi milik masa lalu, ikhlaskan saja." Mendengar kalimat suci itu, semua keinginan saya lenyap, kecuali 1 hal...keinginan untuk menampok mulutnya!

Jangankan orang yg sedang sedih, orang yang sedang biasa2 saja belum tentu bisa menjalankan perintah teman saya itu. Anggap saja saya sedang duduk selonjoran di lantai 1 sebuah gedung sambil nangis, kemudian seorang teman datang ingin membantu saya berdiri..tapi dia menyuruh saya langsung loncat ke lantai 10! Kan bisa tanya dulu, "Masih mau selonjoran atau mau berdiri dan naik ke lantai atas?"

Kadang, orang yg sedang sedih belum tentu langsung mau 'berdiri', dia mau 'selonjoran' dulu sambil 'menikmati' perasaannya. Kadang juga dia hanya ingin ada orang yang 'selonjoran' juga di sampingnya, mendengarkannya bercerita panjang lebar, kemudian setelah ceritanya habis, dia berdiri sendiri, bahkan tanpa perlu 'dibantu'. Kadang, ada yang senang 'disuguhkan' tangga, jadi dia bisa terbantu untuk 'berdiri dan naik".

Tidak ada yg salah dengan nasihat baik, tapi tidak semua orang butuh pencerahan. Orang yang merasa dirinya 'cerah' tidak perlu kita sajikan cahaya, beri 'kegelapan' agar 'cahayanya' semakin bersinar. Itupun kalau kita mau.

#Dari.SejenakHening. By: Adjie Silarus

Pernahkah kita merasa rajin berdoa pada Tuhan, tapi doa kita tidak kunjung terkabul? Sebulan berdoa, menunggu, masih belum terkabul. Berdoa lagi, menunggu 3 bulan, belum juga terkabul. Bahkan hingga menunggu satu tahun belum juga terkabul.

Anehnya, disisi lain, ada orang yang biasa saja, berdoa jarang, tapi yang diminta dalam doa, semua terpenuhi. Padahal orang itu kelakuannya tidak beres, suka menipu, berbohong, dsb. Namun, apa yang dia minta dalam doa selalu terkabul.

Sekarang bayangkan kita sedang duduk di sebuah warung makan, nah, tidak lama kemudian datanglah pengamen. Tampilannya urakan. Main musiknya amburadul. Suaranya fals.

Bagaimana reaksi kita?

Kebanyakan dari kita akan bereaksi dengan segera memberikan uang, tidak tahan melihat dan mendengarkan suara falsnya lama-lama disitu, kan?

Berbeda jika pengamen yang datang rapi, main musiknya enak, suaranya merdu merayu, dan membawakan lagu-lagu kesukaan kita.

Bagaimana reaksi kita?

Pastinya kita akan menikmati apa yang dibawakan pengamen itu, membiarkannya bernyanyi sampai selesai, lama pun tidak masalah, dan kalau perlu kita suruh bernyanyi lagi.

Kalau pengamennya seperti itu, sampai sealbum pun kita rela mendengarkan, dan mau membayar dengan jumlah yang besar, mungkin sepuluh, dua puluh, atau bahkan seratus ribu. Kalau yang pengamen urakan tadi, paling cuma lima ratus rupiah atau paling banter selembar uang dua ribu rupiah.

Mungkin begitu pula cara Tuhan melihat kita yang taat dan setia menghadap-Nya. Tuhan betah dan suka mendengarkan doa kita dan melihat kita berdoa. Tuhan tersenyum dan bahkan tertawa melihat kita yang punya tekad kuat untuk berdoa, walaupun sambil terkantuk-kantuk.

Tuhan sepertinya ingin sering bertemu kita dalam waktu yang lama lewat doa. Bagi Tuhan, sebenarnya hal yang mudah untuk memberikan apa yang kita mau. Namun, Dia ingin menahan kita lebih lama, agar lebih intim bermesraan dengan-Nya. Lalu kemudian di penghujung nanti, apa yang kita dapatkan jauh lebih besar dan indah dari apa yang kita minta dalam doa, pada waktu-Nya.


#hanya.bagi.yang.cocok

Selasa, 25 Februari 2014

Semut-Semut Nakal


Semut-semut nakal adalah judul sebuah lagu yang sering saya dengar sewaktu SD dulu. Seperti lagu anak-anak lain, lagunya lucu dan berisi kegalauan anak kecil yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada para semut. Di jaman sekarang ini, justru lagu anak-anak sudah sangat langka. Anak-anak kecil jaman sekarang diperdengarkan lagu-lagu yang bernuansa cinta khas orang dewasa, lengkap dengan lika-likunya. Cintanya sih tidak salah...lika-likunya itu loh yang saya pikir tidak pantas bila sering didengarkan oleh anak-anak kecil. Tugas anak kecil ya bermain..bermain..bermain..belajar. Urusan cinta-cintaan nanti dulu.

Kembali ke urusan semut. Sore ini ada yang curhat sambil ngomel-ngomel. Kemarin malem dia membeli pizza. Makan di tempat. Sebelum pulang, tidak lupa memesan satu paket pizza yang ukurannya kecil untuk dibawa pulang dan dimakan esok paginya. Sampailah dia di rumah dan menaruh bungkus pizzanya di atas meja di dalam kamarnya. Malam harinya dibiarkannya pizza itu dan dia bergegas tidur.

Pagi harinya..langit begitu cerah..burung-burung bernyanyi riang. Pizza yang sudah disiapkan dari kemarin malam untuk disantap sebagai sarapan sudah lebih dahulu menjadi sarapannya para semut! Tidak terbendung lagi amarahnya. Diambilnya obat nyamuk semprot dan tidak beberapa lama tamatlah sudah riwayat para semut itu. Dan sekalipun para semut sudah meninggal, pizzanya sudah tidak bisa dimakan lagi, dan dia pun tetap emosi. Akhirnya banjirlah curhatannya:

"Sebel..sebel..sebel!! Pizza-ku dimakan semut. Aku udah beli dari tadi malem untuk sarapan, malah dimakan semut. Banyak banget semutnya. Langsung aku semprot mereka semua pake obat nyamuk! Mereka nyuri pizzaku!!"

"Oh..iya..iya..pasti sebel banget rasanya.Tapi pizza kan masih diproduksi..kita bisa beli lagi."

"Iya! Tapi sebel...semut-semut itu nyuri makananku!"

"Emang semut punya konsep 'mencuri'? Sepertinya dalam dunia semut gak ada konsep itu. Semut paling taunya cuma jalan ke suatu tempat..nyari makanan..kalo udah nemu ya mereka panggil temen-temennya untuk bantu ngangkat ke sarang. Mereka gak tau kalo tindakan mereka itu termasuk kategori mencuri dan merugikan orang lain."

"Oh iya ya...semut gak merasa mencuri ya?!"

"Iya, itu konsepmu aja tentang mereka. Jadi, sebenernya kamu marah terhadap konsepmu sendiri tentang semut. Semakin kamu nyalahin semut, semakin kamu berharap agar semut bisa mengubah sikapnya sesuai keinginanmu. Itu kan susah banget?! Lebih baik kamu yang mengubah sikapmu..menutup rapat makanan..meletakkan makanan di tempat yang sulit dijangkau semut, dll."

"Oke deh...lain kali aku taruh makanan di dalam toples. Aku punya banyak toples!"

"Nah gitu dong!"

"Tapi aku masih sebel!"

"Iya, gak apa-apa, gak ada larangan untuk sebel kok." :)

Kadang kita itu ya seperti itu, termasuk saya juga. Menyalahkan sesuatu berdasarkan kriteria-kriteria yang kita buat sendiri.Sebel-sebel sendiri. Marah-marah sendiri. Berharap sesuatu yang kita salahkan berubah, sedangkan kita tidak. Kalo mudah sih gak apa-apa, tapi kalo sulit?! Mengubah diri sendiri aja tidak gampang, apalagi orang lain, apalagi binatang, terlebih lagi semut! Kita harus menguasai bahasa semut untuk mengubah semut! Dan untuk menguasai bahasa semut, kita harus belajar, kan?! Kita yang harus bergerak, kan?! Kita yang harus berubah, kan?! Yang jelas, jangan belajar sama saya karena saya tidak menguasai bahasa semut..hahaha.

Pelajaran terpentingnya adalah: Setiap apapun kondisi mental kita, itu disebabkan oleh aturan yang kita buat sendiri, baik secara sadar maupun tidak. Kita menjadi marah karena aturan kita sendiri. Menjadi bahagia karena aturan kita sendiri. Menjadi galau karena aturan kita sendiri. Kadang kita gregetan untuk menyalahkan faktor luar yang bisa berupa orang lain, keadaan, cuaca, dll. Itu manusiawi saja. Mungkin dari kecil kita sama-sama pernah belajar "memukul" meja atau lantai atau tembok atau benda-benda lain yang kita "anggap" membuat kita terjatuh atau terluka. Dari sanalah awalnya kenapa kita mudah sekali menyalahkan sesuatu di luar diri kita daripada melakukan instrospeksi...hehe.

So, ini poinnya, apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, ingatlah selalu untuk melihat ke "dalam" diri sendiri. Ini tentang aturan yang kita buat sendiri. :)

Senin, 17 Februari 2014

From Inside to Outside


Dulu, ketika saya sekolah, ada mata pelajaran tertentu yang saya tidak suka. Tentu ada juga yang saya sukai. Hingga akhirnya saya mengerti bahwa rasa suka-tidak suka itu sifatnya dinamis, tidak statis. Bisa bergerak-gerak; dari suka menjadi lebih suka, dari tidak suka menjadi biasa saja, dari biasa saja menjadi suka, dll. Hal ini sangat terkait dengan pemaknaan yang kita berikan terhadap sesuatu. Makna yang dikaitkan dengan nilai (value) diri - berhubungan dengan tujuan, impian, atau harapan - bisa sangat memengaruhi tindakan-tindakan kita. 

Pemaknaan, tentu saja sifatnya sangat personal. Namun, faktor luar bisa menjadi pemicu pergeseran makna dalam diri kita. Salah satu faktor luar itu, terkait dengan masa sekolah saya, adalah guru-guru yang sangat menguasai pelajaran tertentu yang mana pelajaran tersebut tidak saya sukai. Melihat antusiasme, gairah, kesederhanaan bahasa yang digunakan dalam menjelaskan, lelucon-lelucon, dan keterkaitan nilai-nilai pelajaran tersebut dengan filosofi kehidupan membuat saya berpikir ulang. 

Pasti ada yang 'salah'! Kenapa guru ini bisa sangat menyukai pelajaran ini, sedangkan saya tidak? Kenapa guru ini bisa sangat enjoy, sedangkan saya tidak? Pasti ada yang 'salah'! Pasti ada makna tertentu yang 'kurang/tidak menguntungkan/memberdayakan' yang telah saya kaitkan dengan mata pelajaran ini, sehingga saya tidak suka. Mata pelajarannya sama saja. Perbedaannya terletak pada makna yang ada di benak saya dan guru tersebut tentang mata pelajarannya. Ini bukan 'salah' mata pelajarannya. Ini tentang pemaknaan yang saya berikan tentang mata pelajarannya. Seandainya saja saya memiliki pemaknaan yang sama/hampir sama tentang mata pelajaran ini dengan guru saya, kemungkinan saya akan mulai menyukainya. 

Konsep pemaknaan ini menjadi penting karena pada tingkat tertentu bisa memengaruhi tindakan. Kita akan kesulitan untuk bisa membuat seseorang menyukai sesuatu bila kita tidak 'menyentuh' tataran pemaknaannya. 'Memaksakan' agar 'mata pelajarannya' disukai tidak lebih efektif dibandingkan menularkan antusiasme, cinta, dan gairah kita terhadap 'mata pelajaran' itu. Seperti yang dilakukan guru saya. 

Antusiasme, cinta, dan gairah itu mengalir. Cintai dulu 'mata pelajarannya', kemudian cinta inilah yang akan dirasakan oleh banyak orang dan 'menggeser' pemaknaan-pemaknaan mereka. Inilah yang menjadi dasar; lakukanlah apa yang kita cintai, cintai apa yang kita lakukan, biarkan cinta ini yang menggerakkan pemaknaan orang lain, daripada 'berusaha' untuk membuat orang lain menyukai apa yang kita lakukan. Kecintaan orang lain terhadap kita adalah cermin kecintaan kita terhadap diri kita sendiri. From inside to outside. 

Selamat mencintai hari ini teman-teman. Semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat, terutama sebagai pengingat untuk diri saya sendiri. :)

Sabtu, 15 Februari 2014

Buku Lama Bersemi Kembali


Saya senang membaca buku. Ada banyak koleksi buku di rumah. Ada kalanya saya beli buku baru, kemudian membacanya santai-santai. Tidak ada target waktu khusus untuk menyelesaikan membaca sebuah buku. Bila ada waktu luang, ya saya baca. Ada kalanya juga saya baca lagi buku-buku yang dulu pernah saya baca. Anehnya, saya kadang-kadang kaget menemukan kalimat-kalimat tertentu yang 'sepertinya terlewat' ketika saya membacanya dulu. Tidak jarang kalimat-kalimat tersebut menjadi 'pengetahuan baru' dan menjadi solusi bagi permasalahan kita saat ini. 'Buku yang sama yang kita baca pada waktu dengan wawasan yang berbeda bisa memberikan sudut pandang baru'.

'Buku lama' mungkin sama dengan masa lalu. Dan masa lalu tentunya tidak identik dengan kekeliruan atau kesalahan yang pernah kita lakukan saja. Masa lalu juga berisi kemenangan-kemenangan kita, pelajaran-pelajaran berharga, dan perjumpaan-perjumpaan dengan orang-orang yang tidak bisa kita lihat lagi saat ini. 'Masa lalu' yang kita baca saat ini bisa memberi sudut pandang baru yang sama sekali berbeda ketika kita membacanya dulu. Setiap kita sedang bertumbuh. Ada benarnya orang yang mengatakan bahwa hidup baru bisa dimaknai ketika kita melihat ke belakang dan baru bisa dijalani ketika kita melihat ke depan. Namun, seberapa banyak orang yang berani membuka 'buku lamanya', mencarinya di tumpukan buku-buku baru dan membersihkan 'debu-debunya'??
Itu pilihan..sama seperti ketika kita memilih untuk menikmati membaca buku yang sedang kita pegang saat ini:)

Film di Langit


Lagi tidur-tiduran di teras depan rumah sambil lihat awan. Bergerak terus, selalu membuat pola atau bentuk yang baru. Kadang saya lihat bentuknya seperti anjing, seperti gajah, seperti orang berlari, seperti bola, seperti nenek sihir yang membuka mulutnya ingin memakan kupu-kupu, seperti singa yang sedang menerkam kaki burung besar. Ini serius, saya tidak sedang melebaykan cerita, tapi itu kesan yang terlihat oleh saya.

Karena seringnya menonton TiVi, menonton video di youtube, menonton film di laptop, atau PC, atau tab, jadi lupa kalau langit juga menyuguhkan cerita yang tidak kalah indahnya untuk kita nikmati. Natural, indah, menawan, dan kita bisa jadi sutradaranya. Keren kan?! Hehe..

Itu hanya sedikit cerita dari langit, masih banyak cerita2 yang lain, yang seringkali kita lewatkan karena terlampau sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan. Kita adalah bagian dari alam ini, setidaknya kita tidak lupa memerhatikan alam. Saat ini saya sedang memerhatikan awan, dan mungkin di saat yang sama, awan2 itu sedang memerhatikan saya

Hal Terpenting Tentang Ego State


Di Amerika Serikat, perpecahan yang mendalam berkembang antara orang-orang yang mendukung perang kedua di Irak dan mereka yang menentangnya. Akhirnya, argumen menentang perang menjadi meyakinkan, hampir secara mutlak. Sebagai percobaan, sekelompok pemilih pro-perang dimasukkan ke suatu ruangan dan dimintai menilai dukungan mereka pada skala 1-10. Mereka kemudian diberi ceramah tentang alasan menentang perang. Saat itu tahun 2008, lima tahun sejak berlangsungnya konflik Irak, dan terdapat segunung laporan objektif tentang isu-isu yang paling diperdebatkan, seperti senjata pemusnah massal, ancaman terorisme, korban sipil, dan sebagainya.

Para peneliti menyajikan posisi antiperang sefaktual mungkin, sengaja tidak memihak. Pada akhir ceramah, kelompok itu diminta menilai posisi pro-perang mereka untuk kedua kalinya pada skala 1-10. Hasilnya, mungkin mengejutkan kita, kelompok itu justru SEMAKIN PRO-PERANG. Alasannya bukan karena mereka tidak memercayai fakta antiperang. Mereka hanya TIDAK SUKA DIPERLIHATKAN KESALAHAN MEREKA.

Sama halnya, bagian-bagian diri kita yang merasa dimusuhi tidak akan berhenti. Bagian diri kita yang kita hakimi tidak akan berubah. Dia tidak memiliki motivasi untuk bekerja sama-bahkan sebaliknya. Apa pun yang kita musuhi bahkan akan menggali lebih dalam.

Sejak awal keseluruhan usaha untuk membuat perbedaan nyata antara diri yang lebih rendah dan lebih tinggi adalah kesia-siaan. Tidak ada bagian diri kita yang terpisah, serbabaik, dan serbabijak yang menang atau kalah. Kehidupan adalah satu aliran kesadaran. Tidak ada aspek diri kita yang terbuat dari hal lain. Ketakutan dan kemarahan terbuat dari kesadaran murni, sama halnya dengan cinta dan kasih sayang. Pada akhirnya, pelepasan tidak dicapai dengan mengutuk apa yang buruk pada diri sendiri dan membuangnya, melainkan dengan sebuah proses yang menyatukan kedua sisi berlawanan.

~Deepak Chopra

Selasa, 24 Desember 2013

Tadi makan mie ayam di warung kopi. Keren kan, di warung kopi ada mie ayam?! hehe..Untuk menemani semangkuk mie ayam, saya memesan minuman dingin rasa jeruk. Siang ini cukup terik, sehingga perpaduan antara dingin-kecut-manisnya es jeruk dan hangat-asin-pedasnya kuah mie ayam sangat pas rasanya di tenggorokan.

Ketika sedang menikmati mie ayam, seorang ibu datang, menggendong seorang anak laki-laki dengan kain. Tangan kiri ibu ini menggandeng tangan kanan seorang anak perempuan. Tangan kanannya memegang 'alat musik' yang terbuat dari kayu yang dihiasi beberapa tutup botol minuman bersoda.

Tidak beberapa lama mulailah ibu ini bernyanyi sambil menggerakkan-gerakkan 'alat musik' sederhananya. Lagunya berbahasa Indonesia, namun asing di telinga saya. Baru beberapa kalimat meluncur dari mulut ibu itu, saya segera memberinya uang. Saya menghargai upaya ibu ini, namun terlebih lagi, saya ingin menikmati makan siang saya saja. Saya ingin ibu itu menghentikan nyanyiannya dan segera pindah ke tempat yang lain.

Tak disangka-sangka, beberapa detik setelah saya memberinya uang, ibu ini langsung memesan mie ayam di tempat saya makan! Glek! "Pak, mie-ne siji (mie ayamnya satu), mangkok'e loro (mangkuknya dua)," pesan ibu itu kepada tukang mie ayam. Ada perasaan kaget campur bingung campur linglung dalam hati dan kepala saya. Sungguh, makan siang saya hari ini ramai sekali rasanya..hehe. Ibu itu duduk di hadapan saya, kemudian menenangkan kedua anaknya yang rewel. Apa yang saya inginkan untuk 'pergi', malah 'mendekat'.

Selang beberapa saat, mie ayam yang dipesan ibu itu datang juga. Tukang mie ayam sepertinya paham maksud ibu itu. Dia tidak memberikan apa yang dipesan, tapi memberikan 2 mangkuk yang telah berisi mie ayam setengah porsi-setengah porsi kepada ibu itu. Keren! Pastilah maksud ibu itu juga demikian, karena dia membawa 2 orang anak yang harus diberi makan. Ini komunikasi setengah kebatinan..hehe. Sambil menikmati mie ayam yang tinggal sedikit lagi di mangkuk, sesekali saya melihat ketiga orang ini makan. Rukun dan lahap sekali.

Apa pelajarannya?? Terkadang, apa yang kita inginkan pergi justru tidak pergi, malah mendekat untuk menunjukkan pelajaran yang berharga kepada kita. Kehidupan bukan saja tentang terpenuhinya keinginan, tapi juga keselarasan dengan rancangan-Nya. Dan komunikasi antara tukang mie ayam dan ibu itu menunjukkan bahwa ada hal-hal yang terkadang luput dari pemahaman kita hanya karena kita terlalu lama bersenang-senang dalam struktur, dalam konteks, dalam arti, bukan dalam makna.

Selasa, 03 Desember 2013

Keramaian Warung Penyetan

Dulu, saya anti 'keramaian'. Paling males kalau lihat orang bergerombol ada di satu tempat. Entah apa yang dilihat atau dicari. Maunya sih melatih pikiran supaya tidak ikut-ikutan, melawan mainstream. Jadi orang yang antimainstream itu keren. Makanya, saya agak males kalau diajak ke Mall atau ke tempat-tempat ramai. Tapi di satu sisi, saya juga tidak suka kalau diajak ke tempat yang terlalu sepi, seperti kuburan...haha. Agak galau juga.

Lambat-laun saya agak mengurangi ego yang satu ini. Sekarang saya suka ikut nimbrung kalau ada orang ramai di suatu tempat, terutama tempat makan, apalagi tempat makan penyetan. Bagi yang tidak mengerti tempat makan penyetan, ini mirip dengan warung-warung makan pecel lele dan lalapan. Memang yang dijual bukan hanya lele, ada tempe, tahu, ayam, bebek, ikan mujair, belut, telur, dll. Semuanya digoreng dan tentu saja disajikan dengan sambal dan lalapan. Hanya ada 2 sebab utama kenapa warung penyetan bisa ramai: Enak atau Murah. Bisa juga perpaduan keduanya. Sebab tambahan: yang goreng cantik..hehe

Tadi saya sempat melihat keramaian di salah satu warung penyetan di dekat tempat saya tinggal. Warung ini baru beberapa bulan buka, tapi keramaiannya cukup konstan hingga hari ini. Saya mampir saja. Pas masuk, saya langsung tahu apa yang membuat warung ini ramai. Konsep ini tidak dilakukan di warung penyetan lain di sekitarnya. Pertama, beberapa jenis ikan disajikan mentah dan segar, dikelilingi es batu. Orang datang memilih ikan dan meminta penjual menggorengkannya. Ini menghadirkan sensasi yang berbeda dibandingkan ketika kita memesan makanan di warung penyetan lain. Konsumen dilibatkan. Konsumen memakan ikan hasil pilihannya sendiri! Rasanya tetap ikan, tapi sensasinya beda. Kedua, ada 2 jenis sambal: pedas dan biasa. Ada juga irisan mangga muda untuk memberi rasa asam. Sambal ini ditaruh di ulekan besar. Masih fresh. Cita rasanya terjaga. Dalam dunia 'perpenyetan', yang menguasai sambal, menguasai pasar. Konsep ini bagus, konsumen bisa memilih 'tingkat' sambal mana yang sesuai dengan kondisi lidah dan perutnya. Dua hal itu yang saya tangkap dari kelebihan warung penyetan ini. Mungkin ada kelebihan-kelebihan lain yang luput dari pandangan saya, tapi bagi saya, 2 hal itu yang mencolok. Terkait harga, tentu saja itu relatif. Tapi bagi saya, cukup terjangkau.

Setelah saya makan, rasa sambalnya cukup enak. Rasa ikannya ya seperti ikan biasa, tapi karena saya yang pilih ikan itu, jadi rasanya enak..haha. Demikianlah yang bisa saya bagi malam ini, mudah-mudahan bisa memberi inspirasi dan mungkin juga ide untuk memilih menu makan malam ini. Selamat malam minggu, teman-teman! :

Sukses Bagi Saya dan (mungkin) Bagi Anda

Sore teman-teman :) Pada catatan ini, saya ingin membagi tentang konsep sukses. Konsep ini tentu saja adalah konsep yang cocok untuk diri saya. Apakah nantinya akan cocok dengan teman-teman? Saya tidak tahu. Yang saya bisa lakukan adalah membagi konsep saya sendiri. Dan memang dari sanalah bermula keindahan kehidupan ini, berbagi manfaat bagi sesama, sekecil apapun.

Sukses. Mendengar kata itu apa yang teman-teman bayangkan? Apakah terbersit sebuah pekerjaan yang hebat, baju kantor yang mahal, rumah yang megah, mobil yang keren, uang yang berlimpah, keluarga yang damai? Dulu, kilasan bayangan-bayangan itu muncul secara otomatis dalam pikiran saya ketika saya membaca atau mendengar kata sukses. Alhasil, seketika itu juga saya langsung 'down' karena kesemua bayangan itu belum ada di dalam kehidupan saya saat ini. Itu hanya MIMPI..! Itu khayalan saja! Belum terjadi..! Memang ada tipikal orang yang langsung termotivasi ketika membayangkan hal-hal seperti itu. Adrenalin terpicu, sehingga semangat pun jadi membara untuk meraih semuanya. Namun, hal yang sebaliknya terjadi pada saya. Saya tidak tergerak sama sekali untuk melangkah kesana, rasanya jauh sekali, rasanya momen saat ini tidak ada artinya.

Lama-lama, saya jadi 'kurang suka' dengan kata sukses. Rasanya seperti jauh sekali dari momen-momen saat ini. Mungkin banyak diantara teman-teman semua yang se-tipikal dengan saya. Namun, akhirnya saya berpikir ulang, teman-teman. Saya mulai merenung, "Mungkin yang salah bukan kata SUKSES-nya, tapi makna yang saya berikan kepada kata itu. Dan saya tentunya bebas memberikan makna apapun terhadap kata sukses itu. Yang penting saya nyaman. Daripada saya berlari terus dari kata ini, lebih baik saya berikan makna yang 'enak' rasanya bagi diri saya sendiri. Siapa yang mau marah terhadap makna yang saya berikan terhadap kata sukses? Saya kira tidak ada! Itu hak saya untuk memaknai apapun dalam hidup ini."

AHA..dan saya pun mendapat makna yang 'rasanya enak' bagi diri saya sendiri tentang sukses. Perkara apakah itu 'enak' juga bagi teman-teman, saya tidak tahu, tapi coba baca dulu makna yang saya berikan. Sukses bagi saya terdiri dari 5 poin atau nilai. Yang pertama adalah MENYUKAI diri sendiri. Yang kedua adalah MENYUKAI visi saya sendiri. Yang ketiga adalah MENYUKAI apa yang saya lakukan. Yang keempat adalah MENYUKAI bagaimana saya melakukannya. Yang kelima, MENYUKAI untuk berbagi manfaat kepada sesama.

Kenapa kata MENYUKAI itu penting untuk memaknai SUKSES bagi saya? Karena segala sesuatu yang dimulai dengan rasa suka akan memberi tenaga tambahan bagi kita dalam melakukan apapun. Dan sukses itu sendiri bukanlah tujuan, tapi perjalanan mencapai tujuan. Dalam semua perjalanan, menyukai diri sendiri terlebih dahulu adalah step yang paling vital. Menyukai berarti menerima diri kita apa adanya, baik kelebihan maupun kekurangannya. Penerimaan dan penghargaan kepada diri sendiri membuat langkah menjadi ringan, setiap hal yang muncul dalam perjalanan tidak cepat menjadi masalah, tapi malah menjadi kesempatan untuk berbenah. Visi juga penting. Visi adalah impian besar, bukan impian yang biasa yang sifatnya untuk kepentingan diri sendiri. Visi adalah cita-cita luhur yang kita tetapkan dari dalam hati kita untuk kepentingan banyak orang. Kemudian, lakukan banyak hal yang kita sukai yang mengarahkan kita ke visi itu. Terima apapun yang terjadi sebagai hasil. Memang ada saja yang rasanya kurang 'enak', tapi cobalah untuk mengambil hikmahnya, ubah cara melakukannya, teruslah belajar. Dan di puncak perjalanan, berbagi adalah yang paling cantik untuk menghiasi makna sukses. Apa artinya kelimpahan yang kita miliki kalau tidak bermanfaat bagi sesama, terutama orang-orang yang terdekat dengan kita? Masih pantaskah kita disebut sukses kalau kita tidak bisa membaginya dengan orang-orang di sekitar kita? Apa artinya karir yang luar biasa, rumah yang mewah, mobil keren, uang banyak kalau tidak bermanfaat bagi orang lain? Kalau kita enggan berbagi, saya pikir sukses menjadi sebuah perjalanan yang egois.

Itu dulu yang bisa saya bagi sore ini, teman-teman. Karena saya sudah berbagi, saat ini saya sudah sukses :) Saya pun senang melakukan aktivitas berbagi ini. Jadi, tidak perlu menunggu 'suatu hari nanti' yang 'entah kapan itu' kita menjadi sukses. Saat ini, kita semua sudah bisa SUKSES :)

Sabtu, 14 September 2013

Sekilas Tentang Khusyuk

Lama tidak menulis (mengetik) di blog ini..hehe. Akhirnya tangan gatal juga. Hari ini tanpa ba-bi-bu, aku langsung saja ke hal penting yang aku dapat setelah membaca sebuah buku yang sangat ciamik dari Agung Webe. Judulnya Inner Peace. Ada satu catatan yang sangat berkesan bagiku, dimulai dengan sebuah kalimat 'Khusyuk bukanlah konsentrasi, khusyuj adalah trance'.
Mungkin ada yang belum mengerti 'trance', dan aku akan jelaskan dengan bahasa sederhana saja bahwa trance itu adalah kondisi yang seringkali kita alami dalam keseharian yang menyebabkan kita larut pada suatu kejadian atau hal tertentu. 'Trance' terjadi misalnya ketika kita sedang menonton tv, membaca buku, membaca blog ini, dihipnosis oleh seseorang, mengikuti seminar, mendengarkan musik, dll. Kita mengalami fenomena trance setiap hari.
Oke langsung saja aku kutip catatan yang ditulis oleh Agung Webe terkait dengan khusyuk.
Khusyuk bukanlah konsentrasi, khusyuk adalah trance
Dalam beribadah, kita memang harus mengalami trance, yaitu mengalami penyatuan antara kehidupan luar kita (sebagai saksi) dan kehidupan dalam kita (sebagai yang disaksikan).
Sekali lagi bahwa khusyuk bukanlah konsentrasi yang mengharuskan kita fokus pada satu titik dan mengharapkan pikiran tidak mengeluarkan gambar-gambar lainnya, sehingga bila pikiran sedang mengeluarkan gambar lain, sesegera mungkin Anda tepis dan Anda hilangkan. Anda berusaha kembali fokus pada satu titik yang Anda buat.
Apa yang terjadi?
Sekali gambar pikiran dihilangkan, ia akan tumbuh seribu. Ya, prinsip mati satu tumbuh seribu sangat berlaku sekali bagi gambar-gambar pikiran Anda. Jadi, akan sampai kapan Anda berusaha menghilangkan gambar pikiran untuk satu kondisi yang Anda namakan khusyuk?
"Khusyuk tidak akan pernah dicapai dengan konsentrasi."
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara khusyuk dan konsentrasi. Khusyuk adalah kondisi penyatuan antara kehidupan luar dan kehidupan dalam, dalam bahasa lain disebut trance. Dan trance hanya bisa dicapai dengan menyadari sepenuhnya aliran pikiran dan hanyut dalam aliran tersebut.
Sementara konsentrasi adalah kegiatan pemusatan pikiran yang menyebabkab ia mengambil jarak dan dengan jarak tersebut ia berdiri kokoh sehingga tidak bisa hanyut.
Apabila khusyuk yang Anda lakukan adalah fokus kepada satu titik dan mencoba menghilangkan, menepis, atau membunuh gambar-gambar pikiran Anda, maka usaha tersebut akan sia-sia, karena pikiran akan mengeluarkan seribu gambar ketika satu gambarnya Anda bunuh! Jadi, setiap kali ibadah, yang Anda harapkan akan menjadi khusyuk di dalamnya, ikuti aliran pikiran yang ada. Hanya mengikuti sampai sejauh mana gambar itu bisa bertahan disana. Ia tidak akan bertahan, ia akan selalu berganti seperti slide-slide film. Apabila Anda benar-benar mengikuti TANPA MENILAI, maka Anda akan masuk dalam kondisi khusyuk atau trance tersebut.