Sabtu, 18 Mei 2013

Personalitas Kecil


Dulu, ketika saya kelas 2 SMP, sekarang mungkin setara dengan kelas 8, ada teman saya yang ribut sekali ketika pelajaran bahasa indonesia. Teman saya itu duduk persis di depan bangku saya. Gak tau juga apa yang diributkan dengan teman sebangkunya, yang jelas bapak guru bahasa indonesia langsung menoleh ke arahnya dan langsung mendekatinya. 

Tanpa basa-basi, ba-bi-bu-be-bo, telinga kanan teman saya ini langsung dijewer oleh pak guru, dan dia meringis kesakitan. Sebagai teman yang baik, saya hanya bisa tertawa kecil saja..kalau tertawa besar, tentu saya bukan teman yang baik:) Setelah menjewer telinga teman saya, pak guru bahasa indonesia langsung menuju depan kelas dan mulai menerangkan begini, "Saya tidak menjewer Amin (nama disamarkan untuk kepentingan penulis), saya hanya menjewer bagian yang nakal dalam diri Amin."

Saya tidak tahu apakah pak guru ini sedang berpuisi atau membaca sajak, yang jelas, kata-katanya sulit dipahami pada waktu itu. Menjewer kenakalan seseorang berarti kan menjewer orang itu?! Aneh kata-katanya...! Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai memelajari banyak hal, tentang karakter, sifat, dan ego state yang ada dalam diri manusia, dan akhirnya....AHA..kata-kata pak guru beberapa tahun silam itu terngiang kembali.

Tiap orang memiliki bagian-bagian kecil diri, yang kita sebut saja personalitas mini/kecil. Ada si nakal, si baik, si gembira, si bijaksana, si sukses, si berani, si kasih sayang, dan lain-lain. Bagian-bagian kecil diri itu berinteraksi terus-menerus dalam diri kita dalam menghadapi sesuatu. Keributan-keributan yang mereka hadirkan kadangkala membuat kita galau, bingung, bimbang, ingin melangkah, tapi kok ya sulit, masih sayang, tapi kok benci ya, sebenernya gak mau nakal, tapi tangan gatel mau ngusilin orang lain. Menarik....setiap orang unik. Setiap orang adalah RASA dengan KOMPOSISI tertentu.

Dan benar kata pak guru bahasa indonesia saya dulu, dia hanya menjewer bagian yang nakal dari diri teman saya itu. Karena tentu saja, dalam diri teman saya itu ada bagian yang baik hati, penuh kasih, bijaksana, dekat dengan Tuhan, yang jarang dimunculkan sebagai karakter yang dominan, yang jarang diajak berbicara, dan jarang dipeluk dengan mesra oleh bagian-bagian diri yang lainnya.

Kalau kita menyadari konsep ini, sebenarnya kita bisa lebih sabar menghadapi orang-orang yang pemarah, pendendam, cerewet, dan usil. Di dalam diri mereka pasti ada bagian-bagian yang "baik hati", namun jarang dimunculkan. Bukan karena seseorang itu nakal, kita membenci keseluruhan dirinya. Setiap orang pernah salah, pernah menyakiti orang lain, baik sengaja maupun tidak, tapi hanya orang kuat yang bisa memaafkan. Hanya orang kuat yang bisa, dan hanya orang-orang yang mencintai hatinya sendiri.

Happy Weekend, teman-teman!

Kamis, 16 Mei 2013

FILM KEHIDUPAN

Saya punya seorang kawan yang memiliki banyak koleksi film. Kualitas gambar di filmnya pun bagus, sebagian besar filenya bertipe blue ray. Kawan saya ini jarang menceritakan detail kisah film yang akan dia berikan kepada saya. Paling hanya gambaran besarnya saja, kemudian berkata, "Wes, nonton aja, cocok buat kamu.." Karena saya bersahabat sudah cukup lama dengan dia, saya percaya-percaya saja. Ada kalanya dia memberikan saya film yang ending-nya sedih, seringkali dia memberikan film yang berakhir bahagia, terkadang juga ada film yang ending-nya menyisakan sesuatu yang setengah bahagia, setengah sedih..hehe..bingung jelaskannya. Tapi, secara keseluruhan, saya selalu suka film-film yang dia beri. Pertama, karena kawan saya itu sangat mengerti karakter saya, sehingga bisa memberikan referensi film yang cocok untuk saya. Kedua, karena dia tidak pernah menceritakan keseluruhan isi film, sehingga membuat saya penasaran dan ingin menontonnya. Seandainya dia menceritakan detail isi filmnya sampai endingnya, saya pasti tidak akan tertarik lagi menontonnya. Apa serunya menyaksikan film yang kita sudah ketahui jalan cerita hingga endingnya?

Akhirnya, saya mulai berpikir, seandainya kehidupan kita seperti film yang diberikan kawan saya itu. Keseruan menjalani kehidupan itu justru terletak pada ketidaktahuan kita terhadap masa depan. Seandainya tahu, apa serunya lagi menjalani hidup ini? Sehingga keputusan terbaik yang bisa kita lakukan dengan keterbatasan pengetahuan kita terhadap masa depan itu adalah mensyukuri nikmat yang kita terima saat ini. Dan, film kehidupan itu dianugerahkan secara khusus kepada kita oleh Tuhan, Yang Sangat Mengerti kita. Sehingga, hal terbaik yang bisa kita lakukan lagi, seperti yang saya lakukan pada kawan saya itu, adalah 'percaya-percaya saja.'

Selamat malam, teman-teman. Mudah-mudahan status yang tidak pendek ini ada manfaatnya. Selamat beristirahat:)


Jumat, 12 April 2013

Pintu Kemana Saja


Saya senang sekali mengunjungi tempat baru, melihat pemandangan alam, dan mencicipi kuliner khas suatu daerah. Dengan bepergian ke berbagai tempat, wawasan saya bertambah, bertemu dengan orang-orang baru dan mengenal budaya-budaya baru. Singkatnya, saya senang jalan-jalan. 

Suatu ketika, saya bayangkan diri saya memiliki pintu kemana saja-nya Doraemon. Saya bayangkan lagi pintu itu berwarna pink dan ketika saya buka, saya langsung berada di tempat yang saya inginkan. Mulailah saya bayangkan tempat mana saja yang ingin saya kunjungi. Muncul banyak sekali nama, mulai dari daerah-daerah di dalam negeri sampai luar negeri. 

Karena saking banyaknya tempat yang ingin saya kunjungi, saya batasi khayalan saya tentang pintu ajaib ini. Saya konsep bahwa pintu ini hanya bisa 1 kali saja dipakai, untuk masuk ke tempat yang saya inginkan dan kembali ke tempat saya semula. Hanya 1 kali pakai saja, masuk dan kemudian kembali. Dengan begitu, saya betul-betul memikirkan tempat yang paling penting yang akan saya kunjungi. Mulailah berkurang beberapa tempat dalam daftar khayalan saya. 

Tapi ternyata masih lumayan banyak tempat yang ingin saya kunjungi, terutama bersama orang-orang terdekat. Mulailah saya konsepkan lagi batasan pintu ajaib ini. Pintu ajaib ini hanya bisa dilewati oleh saya sendiri, hanya saya sendiri. Jadi, saya tidak bisa mengajak siapa-siapa, termasuk keluarga saya sendiri. Nah loh?! Mulai terasa pusing. Apa enaknya pergi jalan-jalan tanpa mengajak teman-teman atau keluarga? Mana bisa maksimal happy-nya? Perlahan mulai saya sadari bahwa tempat-tempat baru dan pemandangan yang indah-indah itu memang menyegarkan mata, tapi keberadaan orang-orang terdekat ke tempat-tempat tersebut menyegarkan hati. Saya jelas memilih yang menyegarkan hati..karena hati ukurannya lebih besar dibandingkan mata..hehehe 

Dengan tambahan konsep baru itu, mulai banyak tempat yang berkurang..berkurang terus..berkurang terus..sampai akhirnya hanya tersisa satu tempat. Rasanya enak sekali memilih satu tempat seperti ini. Tidak menimbulkan sakit kepala dan kegalauan:) Setelah memantapkan hati, mulailah saya melangkah melewati pintu ajaib itu. Perlahan saya melihat pemandangan yang tidak begitu luas, tidak lebih luas dari gunung-gunung yang pernah saya daki, tidak lebih luas dari laut-laut yang pernah saya kunjungi, tidak bising dengan suara ombak dan kicau burung, hanya senyum beberapa orang saja..benar-benar beberapa orang saja. Beberapa orang yang masih bisa saya lihat dan saya peluk. Masih bisa saya ajak bicara dan bercanda. Saya berada di sebuah rumah yang tidak begitu luas, namun hangat oleh kasih sayang keluarga. 

Sejauh apapun kita berkelana, menuntut ilmu, ataupun bekerja, rumah yang ditinggali oleh orang-orang yang kita sayang dan menyayangi kita adalah tempat terindah. Bukan semata-mata karena tempatnya, tapi kehangatan cinta yang diberikan orang-orang tersebut yang menyelimuti hati kita. So, bersama siapa kita berada itu jauh lebih penting dibandingkan dimana kita berada. Thanks to Doraemon. Lain waktu kita berkhayal lagi ya..! 

*Note: Jangan lupa bersih-bersih rumah:)
Gambar dikutip dari: 
mahdiyaturrahmah.wordpress.com

"Rumah Saya Sebesar..."

Dulu, ketika saya masih kecil, ya sekitar usia 5-6 tahun, saya seringkali terlibat "lomba" dengan teman-teman sebaya. Lomba yang nge-trend waktu itu adalah lomba "besar-besaran" kepemilikan atas sesuatu. Namanya juga anak kecil, "lomba" yang diikuti ya biasanya lomba adu mulut...hehe

Mulailah teman saya itu unjuk gigi duluan, "Rumah saya itu lebih besar dari rumahmu." Ditantang seperti itu jelas naluri emosi saya meningkat. Seandainya ketika itu saya tau bahwa rumah yang dia maksud adalah rumah orang tuanya, mungkin saya tidak terlampau emosi, sialnya saya belum tau. Langsung saja saya balas, "Rumah saya jelas lebih besar dari rumahmu, rumah saya sebesar komplek perumahan ini." Tak mau kalah, dia membalasnya, "Rumah saya sebesar kota!!". Masih dengan emosi, saya mengatakan, "Rumah saya sebesar pulau". Emosi melihat tangan saya yang bergerak membentuk sebuah lingkaran besar, dia membalasnya lagi, "Rumah saya sebesar Negara Indonesia." Mulailah saya berpikir sejenak, kemudian akhirnya muncul ide cemerlang. Sambil tersenyum saya mengatakan, "Rumah saya sebesar dunia..haha!!" Dengan cepat teman saya itu mengatakan, "Rumah saya sebesar alam semesta!" Wuih...besar banget pikir saya. Untuk ukuran anak kecil, frase "alam semesta" udah nyangkut di otaknya saja sudah luar biasa, apalagi dia bisa menggunakannya untuk melawan saya waktu itu. Saya mulai kehabisan kata-kata...tuk..tuk..tuk...dan kemudian secercah harapanpun muncul, dengan santai dan sambil tersenyum saya mengatakan, "Rumah saya sebesar Tuhan." Teman saya langsung diam seribu bahasa, walaupun saya tau betul dia tidak menguasai seribu bahasa. Jangankan seribu bahasa, bahasa Indonesianya saja masih acak-acakan.

Bagi sebagian orang, cerita di atas mungkin lucu, mungkin biasa saja, atau bahkan mungkin ada yang tersinggung karena mengeksplorasi sesuatu yang membawa-bawa Tuhan dalam perkelahian. Tapi ya namanya juga anak kecil..hehe. Habis beradu mulut, biasanya tak lebih dari 5 menit, 2 jari kelingking sudah tertaut kembali. Melalui ilustrasi cerita di atas, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kita akan selalu "menang" dengan "mengandalkan Tuhan". Mengandalkan Tuhan yang saya makud tentu tidak persis sama dengan cerita di atas, tapi dengan meletakkan prinsip tersebut di hati kita masing-masing, tidak perlu sesumbar atau bahkan digunakan untuk merendahkan orang lain yang berbeda cara pandangnya. Cukup untuk diri sendiri dulu. Menang yang keren itu bukan dengan mengalahkan orang lain, tapi dengan meredam keinginan-keinginan untuk menyombongkan diri. Banyak hal yang rasa-rasanya tidak mungkin kita lakukan dalam hidup ini. Dan bila kita ingin mengurangi ketidakmungkinan-ketidakmungkinan tersebut, jangan hanya mengandalkan diri sendiri, andalkan Tuhan, pasrah dan ikhlas. Walaupun masih sulit, kita coba dan tidak lupa saling mengingatkan.

Selamat hari Jumat, teman-teman:)


Selasa, 12 Februari 2013

Jangan Marah, ya..

Di siang yang terik ini, setidaknya di Surabaya, mudah-mudahan teman-teman semua dalam kondisi hati yang tenang dan damai, terpancar kebahagiaan, dan tidak sedang emosi. Pada catatan kali ini, saya akan sedikit membahas tentang marah, tentang apa yang sebenarnya membuat kita marah, mengapa orang-orang tertentu marah akan hal tertentu, sedangkan orang-orang lainnya tidak, mengapa ada orang yang baru disenggol sedikit, sudah mau ngebacok, mengapa orang-orang tertentu lebih sabar dibandingkan orang yang lain. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diketahui dengan memahami konsep marah. Dengan menulis hal ini, bukan berarti saya adalah orang paling sabar sedunia, yang tidak pernah marah. Orang-orang terdekat saya tahu persis bahwa ketika saya marah, saya diam. Tidak banyak kata yang diucapkan. Dan orang-orang yang marahnya diam lebih mengerikan dibanding orang-orang yang marahnya berteriak atau mengumpat. Karena dengan berteriak, orang-orang akan segera tahu apa yang menjadi penyebab orang tersebut marah, tapi orang yang marahnya diam??!

Saya tidak melarang siapapun untuk marah. Marah itu juga anugerah, yang ketika kita bisa memanfaatkan energinya, kita bisa lebih cepat mendapat apa yang kita inginkan. Hanya saja, seringkali kita kesulitan untuk mengontrol diri kita sendiri ketika marah itu datang. Baru-baru ini saya mengetahui dari seseorang bernama Anthony Robbins bahwa sebenarnya kita marah bukan karena perilaku orang lain terhadap kita, tapi lebih karena aturan yang kita tetapkan sendiri di pikiran kita masing-masing. Saya ulangi ya, kita menjadi marah karena aturan yang kita tetapkan sendiri di pikiran kita masing-masing. Ketika ada orang lain atau keadaan yang timbul dan berada di luar aturan yang ada di pikiran kita, secara otomotis kita menjadi marah atau mungkin kecewa.

Iya, mungkin ada orang yang merobek buku kita, mungkin orang lain menjambak rambut kita, mungkin ada orang yang berkata-kata kasar di depan kita, mungkin orang lain tidak membalas SMS atau BBM kita, mungkin kita tidak bisa makan makanan yang kita inginkan hari itu, dan mungkin kita sudah begitu lama menunggu seseorang keluar dari Mall, sehingga pantaslah untuk marah. Semua itu pemicu, dan yang menentukan kita marah dan bersikap reaktif terhadap hal-hal tersebut adalah kita. Ada aturan dalam pikiran kita sendiri yang mengatakan bahwa ketika orang lain tidak membalas SMS atau BBM kita berarti orang tersebut tidak peduli terhadap kita, ketika orang lain berkata-kata kasar kepada kita berarti orang tersebut menganggap kita rendah dan hina atau orang tersebut sangat tidak menyukai kita, dan kita hanya punya waktu toleransi 5 menit untuk menunggu seseorang yang sedang jalan-jalan, bila lebih, berarti orang tersebut tidak menghargai kita atau tidak mencintai kita atau tidak menganggap kita ada. Padahal kan tidak mesti seperti itu. Itu hanya pikiran-pikiran picik kita saja. Itulah yang saya katakan bahwa kita marah lebih kepada aturan yang ada di pikiran kita sendiri daripada sikap dan keadaan yang ada di luar diri kita.

Cek hati kita. Kapan saja hati kita merasa ingin marah dan kecewa berarti ada aturan di pikiran kita yang membuat kita memutuskan, ”Inilah saat yang tepat untuk menumpahkan semuanya!” Sekali lagi, saya tidak melarang siapapun untuk marah, tapi setidaknya dengan mengetahui aturan yang tersimpan di pikiran kita tentang ”syarat marah” kita, kita menjadi lebih memiliki banyak pilihan. Entah itu dengan merubah kata-kata dalam ”syaratnya” atau membiarkannya tetap seperti itu dan tetap marah. Yang jelas, ketika kita marah, kita seperti mengambil batu bara panas dengan tangan kita sendiri, kemudian melmparkannya kepada orang lain. Orang lain bisa saja terkena lemparan batu bara kita, bisa saja menghindar dan tidak kena. Orang lain mungkin saja sakit hati, sedih, malu, menyesal, dongkol dengan amarah kita, bisa saja tidak. Tapi yang jelas, kita 100% merasakan panas batu bara yang kita pegang, kita PASTI tersakiti. Ilustrasi ini begitu indah, setidaknya bagi saya, dan karenanya saya bagikan kepada teman-teman semua. Ilustrasi mengagumkan ini saya dapatkan dari pemikiran seorang biksu bernama Ajahn Brahm, penulis buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.

So, cek kembali apa yang bisa dicek. Mungkin uang kita di dompet atau di ATM..hehe. Jangan marah, ya...bercanda. Beberapa orang sulit sekali diajak serius, beberapa yang lainnya sulit sekali bercanda, makanya saya mohon maaf apabila ada unsur keseriusan dan ke-bercanda-an yang kurang berkenan dalam catatan ini. Cek hati kita untuk mengetahui aturan main di pikiran kita! Semoga hari ini menyenangkan bagi teman-teman semua. Selamat siang, selamat berkarya!

Surabaya, 12 Februari 2012


Jumat, 14 Desember 2012

Tentang Sebuah Titik

Saya awali catatan ini dengan sebuah cerita yang saya dapat dari seorang guru.

Pasangan muda, yang baru menikah, menempati rumah di sebuah komplek perumahan. Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri, melalui kaca jendela, melihat tetangganya sedang menjemur kain.  

”Cuciannya kelihatan kurang bersih, ya?!” kata sang istri.
”Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus,” lanjut sang istri lagi.
...
Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun.

Sejak hari itu, setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya.

Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya,

”Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar! Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya?”

Sang suami berkata, ”Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita.”

***


Ketika pertama kali membaca cerita di atas, saya terdiam beberapa saat sambil merenung dan bergumam dalam hati, ”Iya, seringkali apa yang saya pikir tentang apa yang saya lihat belum tentu benar. ’Bagaimana saya melihatnya’ lebih penting daripada ’apa yang saya lihat’.” Dan berbicara tentang bagaimana kita melihat sesuatu, akan menyentuh sekurang-kurangnya 3 hal, yakni cara pandang, sudut pandang, dan jarak pandang.Kedengarannya cukup rumit, tapi saya akan mencampuradukkannya dalam catatan ini sehingga terkesan lebih sederhana.

Segala sesuatu dalam kehidupan ini tidak punya makna, kecuali kita yang memberikannya. Oleh karenanya, saya menyebut bahwa manusia adalah ’mesin pembuat makna’. Sesuatu diterima panca indera, kemudian diramu oleh logika. Ada yang dimaknai positif, ada yang negatif, bahkan ada juga yang dibiarkan netral. Segala sesuatu yang ’dianggap’ positif dikejar, kemudian yang ’negatif’ ditolak habis-habisan dan dihindari, yang netral tentu saja dibiarkan karena ’tidak terlalu memiliki pengaruh’ dalam kehidupan masing-masing orang. Yang seringkali menjadi permasalahan adalah apa yang saya anggap positif, belum tentu dianggap positif oleh orang yang lain. Negatif menurut saya, belum tentu negatif menurut orang lain. Cara saya memandang sesuatu tidak selalu sama dengan cara orang lain memandang sesuatu. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh perbedaan wawasan, pengalaman hidup, lingkungan pergaulan, gaya hidup, dan lain sebagainya. Sudut pandang saya menilai sesuatu tidak selalu sama dengan orang lain. Misalkan saja, saya memandang dari sudut seorang anak muda, yang lain memandang dari sudut pemikiran orang tua, yang lainnya lagi memandang dari sudut pandang anak alay. Sebenarnya ada berapa sudut? Apa benar jumlahnya ada 360? Saya memang tidak pernah menghitungnya, tapi kurang lebih ada tak hingga sudut pandang..hehe. Jarak pandang saya terhadap sesuatu tidak selalu sama dengan jarak pandang orang lain. Saya memandangnya 5 cm dari objek, ada juga yang memandangnya dari puncak gunung Semeru. Pasti beda hasil pengamatannya. Mengetahui perbedaan-perbedaan seperti ini adalah sebuah kebijaksanaan. Yang tidak tepat adalah merasa diri paling benar, merasa cara, sudut, dan jarak pandangnya adalah yang paling berkualitas, yang lainnya tidak sempurna. Ini penyakit. Namanya cacat otak.

Lalu, apa hubungannya dengan ’titik’? Merasa diri paling benar adalah sebuah titik. Dengan merasa paling benar, kita telah mem-block segala hal yang mungkin untuk terjadinya perubahan, sekecil apapun. Pokoknya titik, tidak ada yang lain, sekalipun ada, yang ada itu salah. Padahal, alam semesta ini berubah setiap waktu. Apa yang kita lihat diam, tidak benar-benar diam. Ada vibrasi, ada rotasi, ada translasi yang dinamis. Kita hidup dalam alam semesta yang selalu bergerak, berubah, dan penuh dengan ketidakpastian. Para tetua jaman dulu menyarankan, ”Agar bahagia, sebaiknya kita hidup selaras dengan sifat alam semesta.” Kita seringkali stres karena memiliki ’suatu harapan yang pasti’ di otak kita, diikat kencang-kencang, kemudian dipertemukan dengan keadaan yang sama sekali berbeda. Mampuslah sudah. Makanya ilmu ikhlas itu ilmunya orang sakti. ’Memiliki harapan yang pasti’, dilepaskan, kemudian siap menerima ketidakpastian, dan berfokus pada apa yang bisa dilakukan. Dilepaskan kemana? Ya kepada Big Boss, Yang Paling Berkuasa. Melepasnya ini loh yang sulit. Kita memang sudah melepas uang lima ribu rupiah, memberikannya kepada fakir miskin, tapi uangnya masih nempel di otak. Lah itu padahal bisa buat nasi, tempe, tahu, sayur, sama es teh, atau lumayan kalau dibelikan pentol, bisa dapat satu plastik besar. Ini penyakit. Namanya cacat otak, tapi tidak separah cacat otak yang pertama tadi. Semakin sering memberi, cacat otak yang ini bisa semakin sembuh.

Intinya begini teman-teman, mari kita terbuka terhadap perubahan. Tidak harus kita setuju dengan semua hal, tapi minimal kita tahu dan mencoba untuk menghormati. Tidak menjadikan diri kita ”titik”, yang tidak mau lagi menerima apapun yang masih mungkin, tapi jadikan diri kita ”titik-titik...”, yang siap belajar dari manapun, siapapun, dan kapanpun. Apa yang kita anggap benar hari ini, belum tentu benar di kemudian hari. Yang kita anggap salah saat ini, belum tentu salah esok hari. Kesalahan orang lain di satu ”titik” tidak berarti kita harus menyalahkannya dalam semua aspek. Setiap orang berhak dinilai lebih, berhak mendapatkan kesempatan yang lain untuk berubah menjadi lebih baik, karena kita sendiri pun menginginkan hal demikian. Memaafkan tidak berarti kita membenarkan tindakan orang lain yang salah, tapi cara yang paling efektif untuk berdamai dengan hati kita sendiri, agar benih dendam tidak muncul. Saya sering salah, mungkin juga pernah benar, tapi saya berupaya untuk tidak merasa paling benar.Respect yourself, respect the others.
Demikian yang bisa saya bagi malam ini. Mudah-mudahan catatan ini bisa menjadi teman sebelum tidur. Selamat beristirahat dan semoga mimpi indah. Sampai berjumpa di catatan selanjutnya.

Surabaya, 14 Desember 2012, 
Gambar dikutip dari: ulilabshor 

Sabtu, 03 November 2012

Jagang of Happiness

Seperti yang sudah saya katakan beberapa hari sebelumnya, saya akan menulis sebuah catatan berjudul “Jagang of Happiness”, syukur hari ini bisa terealisasi. Terimakasih banyak kepada teman-teman semua yang telah berpartisipasi memberikan komentar-komentar yang sangat positif dan inspiratif tentang makna kebahagiaan dan hal-hal apa saja yang membuat kebahagiaan itu muncul dan mewarnai kehidupan. Saya banyak belajar dari komentar-komentar tersebut. Komentar-komentar tersebut juga menandakan bahwa teman-teman tahu apa yang bisa membuat diri berbahagia. Itu hebat. Dan catatan sederhana ini mudah-mudahan bisa menjadi teman bagi rasa syukur kita dalam menikmati segala karunia yang hadir.

Happiness atau kebahagiaan memang tidak bisa lepas dari rasa syukur. Siapapun yang bisa bersyukur, dia berbahagia, terlepas dari apapun yang dimiliki dan dialami. Tentu saja, semakin baik yang kita miliki dan semakin sesuai kejadian yang kita inginkan dengan kenyataan, kita akan semakin bersyukur, dan itu berarti kita akan semakin bahagia atau merasa senang. Ada satu kalimat yang saya sukai dari komentar teman-teman tentang kebahagiaan, bahwa “Kebahagiaan Itu Sederhana”. Waw..saya sangat setuju dengan itu. Wujud kebahagiaan itu memang sederhana, bisa terkandung dalam hal apapun, sekecil apapun, seringan apapun, semudah apapun. Namun, banyak dari kita, termasuk saya sendiri, belum bisa merasakan kebahagiaan setiap waktu, walaupun saya tahu bahwa kebahagiaan itu sederhana. Kebahagiaan memang selalu sederhana, namun terkadang, kerumitan pikiran kita sendiri yang menyebabkan begitu sulitnya mengakses sesuatu yang sederhana tersebut. Ketika pikiran kita mulai sederhana, mulai tidak disibukkan oleh begitu banyaknya tuntutan, mulai bisa melihat keindahan anugerah yang kita terima melalui orang-orang yang masih kurang beruntung hidupnya, mulai bisa keluar dari masalah yang sebelumnya menghimpit, kita mulai bahagia. Poinnya, kebahagiaan selalu sederhana, pikiran kita yang terkadang rumit.

Karena kebahagiaan selalu sederhana dan pikiran kita terkadang rumit, maka kita harus punya sesuatu yang selalu sederhana. Sesuatu yang sederhana inilah yang nantinya menjadi kunci bagi kita untuk mengakses kebahagiaan, serumit apapun pikiran kita pada suatu waktu. Sesuatu yang sederhana ini saya namakan “JAGANG” atau tiang penopang. Jagang itu bisa disamakan seperti “standar sepeda atau standar sepeda motor” yang membuat sepeda atau motor tersebut tetap bisa berdiri ketika tidak sedang digunakan. Pada umumnya terbuat dari besi, dan ukurannya tidak terlalu besar. Fungsinya menopang keseluruhan tubuh sepeda motor. Namun, karena bentuknya yang sederhana, seringkali kita tidak terlalu memberi perhatian. Jadi, jagang dalam catatan ini bisa diartikan sebagai sesuatu yang sederhana, namun bermakna dalam menopang keseluruhan kebahagiaan kita.

Seperti standar sepeda motor yang “menempel” pada bagian bawah motor, jagang kebahagiaan kita juga harus menempel pada diri kita, bukan orang lain. Jadi, jagang kebahagiaan kita adalah milik kita, “menempel” dengan diri kita, berada dalam kontrol kita, bukan orang lain. Kita bebas menentukan jagang kebahagiaan kita sendiri, yang bisa saja berbeda dengan orang lain, namun pastikan jagang itu “melekat” dengan diri kita dan dapat kita kontrol sepenuhnya. Kita bisa berbahagia jika seseorang berbahagia, namun kita tidak bisa memastikan dan mengontrol kapan seseorang itu berbahagia. Selama orang tersebut belum atau tidak berbahagia, selama itu pula kita sulit mengakses kebahagiaan. Hal itu karena kita meletakkan penopang kebahagiaan kita pada orang lain, bukan pada diri kita sendiri. Penopang kebahagiaan kita sangat dipengaruhi oleh orang lain. Apakah itu salah? TIDAK! Itu bagus, merasa ikut berbahagia saat orang lain berbahagia itu sangat manusiawi. Namun, akan lebih baik lagi bila kita juga memiliki jagang kebahagiaan yang melekat dengan diri kita, hanya diri kita, apapun kondisinya di luar sana.

Ketika kita berbicara sesuatu yang ada di luar diri kita, apapun bentuknya, kita harus menyadari bahwa ada sesuatu yang bisa kita kontrol, ada juga yang tidak. Meletakkan penopang kebahagiaan di luar diri kita itu berarti kita harus kuat dalam penerimaan. Kita harus siap menerima bahwa yang terjadi tidak selalu sama bentuknya seperti apa yang kita inginkan. Bila kita selalu siap, itu bagus, luar biasa, bila tidak?? Itulah mengapa saya menyarankan agar kita juga memiliki jagang kebahagiaan yang melekat dengan diri kita. Sebagai contoh, seseorang mengatakan dirinya berbahagia bila sudah berpenghasilan 5 juta rupiah. Itu berarti, saat ini penghasilannya belum mencapai 5 juta rupiah, dan itu berarti pula berapapun penghasilannya, bila belum mencapai 5 juta rupiah, dia belum berbahagia. Padalah, setiap detik kehidupan kita ini anugerah, dan dia hanya bisa mensyukuri keadaan ketika penghasilannya 5 juta rupiah. Begitu banyak nikmat yang disia-siakan. Contoh lain, saya akan berbahagia bila ibu saya berbahagia. Sungguh mulia, saya juga ingin membahagiakan ibunda saya. Namun, ada satu kelemahan pada penopang kebahagiaan seperti itu, saat ibunya merasa tidak berbahagia, seketika itu juga dia tidak berbahagia. Dalam proses membahagiakan ibunya, dia tidak bahagia sampai ibunya bahagia. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang menjadi kebahagiaan orang lain, kita hanya bisa berupaya mewujudkan apa yang orang lain inginkan. Contoh yang lain lagi, bahagia itu ketika saya bisa bersantai memandangi langit sore dengan rintik-rintik hujan. Kalau suatu sore langit panas menyengat?? Poinnya adalah “gantungkan juga kebahagiaan di dalam diri, jangan hanya di luar diri”. Keep it simple. Sederhanakan kebahagiaan kita dan pastikan berada dalam kontrol kita. Dengan begitu, kita akan mudah mengaksesnya.

Jadi, buatlah jagang of happiness kita masing-masing. Pastikan sangat MUDAH, sangat SEDERHANA, dan berada DALAM KONTROL kita. Jadikan hal-hal di luar diri kita PENAMBAH, PELENGKAP, dan PENYEMPURNA kebahagiaan kita. Misalnya, ketika saya bisa bersyukur, dalam kondisi apapun itu, seketika itu juga saya berbahagia, dan saya akan LEBIH BERBAHAGIA bila saya bisa memeluk dan membahagiakan orang tua saya. Contoh lain, saya berbahagia ketika saya bisa menarik dan menghembuskan napas dengan baik, saya berbahagia ketika saya memutuskan untuk berbahagia, saya berbahagia ketika saya masih bisa menyunggingkan senyum, saya berbahagia ketika saya....dan....dan....(silakan diisi sendiri). Banyak hal yang bisa membuat kita bahagia, teman-teman. Mudah-mudahan kita senantiasa bisa mensyukuri anugerah dalam kehidupan kita, mudah-mudahan kebahagiaan selalu mengiringi setiap langkah kita dalam hidup. Amin.

Sekarang, ijinkan saya untuk mengetahui JAGANG of HAPPINESS yang teman-teman miliki dengan menulis komentar pada catatan ini. Ijinkan banyak orang terinspirasi dan termotivasi dengan JAGANG of HAPPINESS teman-teman semua. Selamat hari Sabtu, selamat berakhir pekan, selamat berbahagia...(“,)

Surabaya, 3 Nopember 2012