Kamis, 09 April 2015

Tentang Cinta Terakhir

Aku ingin menulis sesuatu tentang kita
Tentang rasa, tentang cinta
Tentang sesuatu yang membalut hatimu dan hatiku
Candamu dan candaku
Juga lukamu dan lukaku
Mungkin engkau bosan
Menatap seorang lelaki pemuja kata
Mengumbar rasa kepada semesta
Karena engkau tau cinta tak terbahasa
Tapi ijinkan aku untuk tidak memperdulikannya
Setidaknya untuk saat ini saja,
Ketika aku ingin menulis sesuatu tentang kita
Tentang rasa, tentang cinta
Bukan untuk mengumbarnya
Bukan untuk menyombongkannya
Bahkan harus kukatakan, bahwa ini bukan untukmu
Tapi untukku
Untuk membuatku semakin sadar
Semakin ingat, bahwa aku mencintaimu
Cinta dalam kesadaran
Sadar dalam mencintai
Cinta yang tidak membuatku mabuk
Tapi cinta yang membuatku melakukan
Hal-hal terbaik yang kupunya..untuk kita
Cinta yang tidak membutakan
Tapi cinta yang membuatku mampu
Melihat keutuhan dirimu, keunikan dirimu
Canda-tawamu, sedih-lukamu, lebih-kurangmu
Cinta yang tidak hanya memaksamu untuk bahagia
Tapi cinta yang juga mengijinkanmu untuk bersedih
Cinta yang mengijinkanmu untuk bosan
Cinta yang mengijinkanmu untuk bete
Cinta yang mengijinkanmu untuk ngambek dan ngomel-ngomel
Cinta yang mengijinkanmu untuk memarahiku
Karena aku tau,
Setiap aku menahan kemarahanmu padaku
Aku telah menyediakan ruang yang lebih besar
Untuk amarahmu di lain waktu
Dan mungkin ini yang terberat
Yang tidak pernah kau baca sendiri dari semua kata-kataku
Yang tidak pernah kau dengar sendiri dari semua ucapanku
Hingga detik ini..
Aku ingin memohon ijin kepadamu
Dengan seluruh keikhlasanmu
Dengan seluruh rasa cintamu
Ijinkan aku untuk mengatakannya dengan jujur
Bahwa engkau bukanlah cinta terakhirku!
Maafkan aku bila kau anggap ini menyakitkan
Tapi aku ingin selalu mencintaimu dengan sederhana
Aku hanya ingin engkau ingat bahwa cinta tidak punya akhir
Biarkan aku jatuh cinta lagi..dan lagi..dan lagi..
Kepadamu
Kepada duniamu
Kepada bahagiamu
Dan kepada semua pertanyaan yang sering kau lontarkan
Padahal kita sudah sama-sama tau jawabannya.
Surabaya, di sebuah kontrakan yang tak berpagar, 31-03-2015

Hidup dalam Tidur

Aku sedang hidup dalam tidur
Berlari di masa lalu
Dengan semua rasa pilu
Berkejaran di masa depan 
Dengan semua khayalan dan angan
Aku melihat tubuh
Namun, jarang merasakan diriku utuh
Aku melihat kaki
Namun, jarang hadir di masa kini
Mataku tertutup, wajahku tertunduk,
Berharap doaku Kaupeluk
Tapi pikiranku tak tertuju
Hatiku masih ragu
Ketus menuntut Kau tak keliru
Mengabulkan semua doaku dan rindu

Kita Tetaplah Anak-Anak

Berapapun usia kita, kita tetaplah anak dari orang tua kita. Kadangkala, mereka memperlakukan kita seperti anak-anak, padahal kita merasa diri kita sudah 'besar'. Tapi, kita memanglah anak mereka, dan setiap orang memiliki sisi kanak-kanak di dalam dirinya masing-masing. Tidak perduli apakah orang itu remaja ataukah sudah dewasa.
Banyak orang yang mungkin rindu diomeli ibu, diceramahi bapak, dibawelin mama, dijewer kupingnya sama papa, ditanya hal-hal sepele tiap beberapa jam, masih diingetin mandi walaupun sudah besar, diingetin sembahyang padahal lagi males-malesan, tapi tidak bisa mengulang momen itu kembali. Bersyukurlah kalau kita masih dikaruniai mereka hingga saat ini. Kita mungkin mengeluh ibu kita cerewet, tapi jutaan orang di luar sana mungkin saja ingin mendengar kembali suara ibu mereka ketika ngomel. Kita mungkin juga mengeluh dengan sikap ayah kita, tapi mungkin saja ada banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk bertemu ayah mereka beberapa saat hanya untuk memohon maaf dan mengucapkan terimakasih.
Bagi orang tua kita, kita tetaplah anak-anak. Bersyukurlah kita masih diingatkan bahwa ada sisi kanak-kanak di dalam diri kita, karena dengan menyadari sisi itulah kita memiliki kesempatan untuk lebih berbahagia, sekalipun kita merasa diri kita sudah dewasa. Dan kedewasaan bagi saya bukanlah tentang penolakan terhadap sisi kanak-kanak di dalam diri, apalagi berusaha menghilangkan sisi itu, tapi kemampuan untuk menyadari dan memeluknya dengan lebih hangat.

Minggu, 08 Maret 2015

Kukatakan Kepadamu

Baiklah, akan kukatakan kepadamu
Bahwa sebenarnya kita tidak pernah terpisah
Sekarang tatap mataku..
Kini engkau ada di hadapanku
Dan aku ada di hadapanmu, bukan?
Engkau melihatku
Dan aku melihat wajahku sendiri
Ada di kedua bola matamu.

Dan pada saat yang bersamaan
Engkau ada di dalam diriku
Dan aku ada di dalam dirimu
Kenapa bisa seperti itu??
Begini, biar kujelaskan perlahan
Wujudmu terhenti sampai di kedua bola mataku saja
Tapi cintamu merasuk hingga
ke dalam pikiran dan hatiku

Bila aku hanya mengandalkan mataku
Jelas cintaku hanya sebatas keanggunan fisikmu
Tapi, jangan salah paham dulu
Bukan berarti aku tidak perduli itu
Itu tidak salah sama sekali
Hanya saja itu belum dalam
Aku mencintai kedua mataku
Dengannya aku menangkap wujudmu
Aku mencintai wujudmu

Bila aku hanya mengandalkan telingaku
Cintaku akan terkungkung dalam suaramu
Tidak bisa bergerak lebih bebas dari itu
Tapi, seperti yang kukatakan sebelumnya
Itu juga tidak salah
Hanya saja belum dalam
Aku mencintai kedua telingaku
Dengannya aku menangkap suaramu
Aku mencintai suaramu

Yang terdalam..yang terhalus
Cintamu tak dapat kusandera dengan inderaku
Terlalu kecil..begitu halus
Menempati ruang-ruang di pikiran dan hatiku
Sehingga engkau kini menggandakan diri!
Di hadapanku dan di dalam diriku
Aku mencintai engkau yang ada di hadapanku
Aku mencintai engkau yang ada di dalam diriku
Dan aku mencintai caraku mencintaimu

Mungkin engkau bertanya...
Kenapa mesti mencintai caraku mencintaimu?
Supaya aku bisa kembali
Ke titik kesetimbangan cinta itu sendiri
Ketika engkau yang ada di hadapanku
Mulai berbeda dengan engkau yang ada di dalam pikiranku
Ketika engkau yang sebenarnya
Mulai berkonflik dengan engkau yang aku harapkan
Ketika engkau dengan segala sifat dan sikap
Mulai berseteru dengan sifat dan sikap
yang aku inginkan ada padamu
Apakah sekarang engkau mulai paham?

Intinya, aku manusia yang rindu rasa - rindu rupa
Terkadang tergiur menjebak rasa dalam kata
Dan senang mengurai kata menjadi rasa
Entah sampai kapan
Mungkin sampai bumi berhenti berputar..
Ah, pasti engkau anggap itu doa, kan?
Tuhan tidak senaif itu
Dia juga senang puisi
Lalu engkau sebut apa kehidupan ini
bila bukan jalinan bait-bait puisi
pada kertas semesta-Nya?


Rabu, 24 Desember 2014

Jing

Bila ada orang yang memakimu dengan sebutan 'anjing', tariklah napas lebih dalam, kemudian hembuskan..jangan ditahan, nanti pingsan..haha.
Sadari kalau memang ada rasa marah yang muncul. Rasa marah yang hadir karena ketidaktahuan kita bahwa ada sifat2 anjing yang perlu kita pelajari juga..karena bisa jadi sifat2 itu lebih mulia dari sifat kita sebagai manusia. 
Kalau ada yang menyebutmu 'babi', 'gajah', atau apapun..kemarahanmu yg muncul mungkin karena tidak tau bahwa ada sifat2 mulia dari hewan2 itu. Maka, dengan pola pikir itu, mungkin saja orang yang sedang menghinamu itu sedang memujimu.
Dan tenang saja, makian dan hinaan apapun yang terlontar kepadamu tidak menunjukkan siapa dirimu, tetapi hanya menunjukkan siapa diri pemaki dan penghinanya.
Teko yang berisi air putih hanya mengeluarkan air putih, teko yang berisi teh mengeluarkan teh, dan teko yang tidak berisi apa2, tidak mengeluarkan apa2, selain suara gaduh bila dipukul,,,dengan sendok!
Sekian dan terimakasih..anjing. 

Jalan yang Berbeda, Cahaya yang Sama

Kita sedang sama-sama melangkah
Menapaki jalan untuk mencapai tujuan
Aku tidak tahu kapan aku akan sampai
Mungkin kau pun begitu
Aku pun tidak tahu akan ada apa di depan sana
Sama seperti dirimu
Namun, kita terus melangkah
Sesekali beristirahat
Untuk menyadari kalau kita masih bernapas
Dan napas yang aku hirup dan hembuskan ini
Yang masuk ke dalam tubuhku
Keluar dari tubuhku
Mungkin pernah berada dalam tubuhmu
Dan pernah keluar dari tubuhmu
Kemudian aku perlahan menyadari
Bahwa semesta adalah sebuah ruang raksasa
Yang mengikat kita melalui tali-tali udara
Yang tak kasat mata..
Ayolah Kawan..
Masihkah engkau tak menyadari kesatuan ini?
Tuhan sedang bercanda..
Melalui perbedaan-perbedaan yang tampak
Di hadapan kita,
Kita seolah-olah menyusuri jalan yang berbeda
Namun, dihadiahkan cahaya matahari yang sama
Untuk menerangi jalan-jalan itu
Kita terus melangkah mencapai tujuan kita masing-masing
Seolah-olah ada istana di ujung jalan sana
Namun, ternyata istananya disembunyikan
Di dalam hati kita sendiri. Itu saja.
Surabaya, 23-12-2014

#CintaItu

Cinta itu bukan menggenggam, apalagi mencengkeram, tapi memberikan ruang bagi kekurangan dan kelebihan. Genggaman hadir karena ketakutan akan kehilangan..semakin takut kehilangan, semakin kuat genggamannya.

Cinta memberikan kebebasan bagi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri. Kebebasan dalam keunikan menghadirkan keindahan. Keindahan yang hadir karena gerakan sempurna antara kepakan sayap kelebihan dan sayap kekurangan.

#CintaItuMenerbangkan