Rabu, 25 April 2012

Sebungkus Nasi Pecel


Salah satu hal aneh yang aku temui ketika hari-hari awal aku tinggal di Surabaya adalah menu sarapan sebagian besar penduduknya. Mungkin sebagian besar orang tidak asing lagi dengan yang namanya nasi pecel. Di kota kelahiranku pun, Mataram, ada. Namun, bukan nasi pecelnya yang membuatku merasa aneh, tetapi suatu kenyataan bahwa menu nasi pecel adalah salah satu menu sarapan wajib yang disediakan oleh banyak warung makan di kota ini. Memang ada juga warung-warung yang menyediakan aneka sayuran dan beberapa lauk-pauk sebagai menu sarapan, namun lebih mudah menemukan nasi pecel di pagi hari di warung-warung makan. Ini aneh...lebih tepatnya asing karena aku tidak terbiasa dengan menu sarapan yang “berbumbu” seperti ini. Kalau dalam istilahku, “perut akan kaget kalau pagi-pagi sudah harus menerima asupan makanan yang berbumbu ‘hard’ seperti pecel”. Tapi mau bagaimana lagi, dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung, aku pun berusaha sedikit demi sedikit membiasakan diri sarapan dengan menu yang satu ini.

Lambat laun, seiring waktu berjalan, aku semakin ‘terlatih’ untuk menikmati pecel sebagai menu sarapan. Memang tidak mudah, penuh perjuangan. Dan semua pasti bisa menebak apa yang terjadi dengan perutku di awal-awal perjuangan ini. Berat sobat. Hidup memang bukan urusan perut saja, tapi bila perut bermasalah, hidup bermasalah..hehe. Minimal beberapa waktu dalam hidup harus rela dialokasikan di kamar mandi dan apotek!

Dua paragraf di atas sudah cukup untuk berbasa-basi, supaya tidak terlalu tegang...hehe. Sekarang kita masuk ke topikyang sesungguhnya. Pagi itu, beberapa bulan yang lalu, aku lupa hari apa, aku sedang bersepeda motor, berkeliling-keliling menikmati kota saja. Masih di Surabaya. Waktu itu, mungkin sekitar pukul 7, banyak sekali kendaraan tumpah ruah di jalan raya. Memang bukan hari libur, jadi banyak orang yang sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja masing-masing, dengan raut wajah yang hampir semuanya tegang, entah karena takut terlambat, banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan hari itu, atau mungkin karena memang wajahnya seperti itu...hehe.

Ketika sedang mengamati raut-raut wajah itu, mataku terpaku pada salah satu warung pecel di sekitar jalan Panjang Jiwo. Warung pecel ini tidak begitu besar, tapi cukup ramai. Langsung saja aku menepikan motor dan memesan satu bungkus nasi pecel dengan ayam dan telur ceplok sebagai lauk, ditambah teh hangat sebagai pembersih tenggorokan. Berhubung ada penjual buah di dekat warung, aku membeli 1 potong buah pepaya dan 1 potong buah semangga. Beuh...mantap betul menu sarapan hari ini, lengkap dengan pencuci mulutnya.

Setelah transaksi selesai, aku melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan menuju tempat kost, mataku disajikan pemandangan yang membuat hatiku bergetar. Ada seorang ibu yang cukup tua, mungkin sekitar 40 tahun, sedang menarik gerobak sampah yang berwarna kuning. Ibu ini berbaju kaos lengan panjang, bercelana panjang kaos, tanpa alas kaki, dan mengenakan topi lebar yang biasa dipakai para petani. Wajahnya? Jangan ditanya, lusuh dan penuh dengan keringat. Baru kali ini aku melihat seorang ibu menjadi penarik gerobak sambah. Gerobak itu penuh dengan sampah, jadi pasti cukup berat. Seketika itu juga aku teringat nasi pecel, teh hangat, dan buah yang baru aku beli. Aku mungkin bisa membelinya lagi, tapi ibu ini belum tentu. Langsung saja aku mendekati ibu itu dan memberikan sarapanku. Disini menariknya...Ketika aku memberikan sarapanku pada ibu itu, wajahnya seketika itu juga sumringah, berseri dengan senyuman yang sulit aku gambarkan dengan kata-kata. Mungkin itu senyuman yang jarang sekali dikeluarkan. Kemudian bibirnya mulai bergumam, “Ya Allah, matur nuwun, Mas..” Baru memberi nasi pecel saja sudah dibilang ‘ya Allah’...hehe. Tertangkap jelas ekspresi kebahagiaan yang dipancarkan ibu itu, dan aku pun tertular kebahagiannya.

Ada pelajaran menarik yang aku petik dari peristiwa itu. Seorang ibu telah mengajarkanku tentang kebahagiaan yang diputuskannya terhadap 1 bungkus nasi pecel. Aku jadi merenung, mungkinkah aku bisa sebahagia itu apabila mendapatkan satu bungkus nasi pecel dengan teh hangat dan sedikit buah-buahan ‘saja’? Mungkinkah aku bisa tersenyum selebar itu? Mungkinkah aku langsung berucap syukur ketika mendapat sebungkus nasi pecel? Jawabannya mungkin TIDAK! Kebahagiaanku nampaknya telah lebih mahal dari sebungkus nasi pecel, lebih mahal dari kebahagiaan ibu itu. Ya ampun! Seandainya kebahagiaan itu sesederhana penerimaan sebungkus nasi pecel, alangkah bahagianya aku saat ini dengan semua yang dititipkan-Nya kepadaku, hingga detik ini! Alangkah sederhananya merasa bahagia itu. Aku malu. Terlalu tinggi syarat yang aku tetapkan untuk merasa bahagia, sehingga sulit bagiku untuk melihat rasa syukur bahkan dalam sebungkus nasi pecel. Ibu itu telah mengingatkanku tentang syukur itu sendiri. Ibu itu memang telah dikirimkan-Nya untuk memberikan pelajaran berharga pada suatu pagi, beberapa bulan yang lalu, entah hari apa itu.

Surabaya, 25 April 2012
Gambar diambil dari: http://archive.kaskus.us/thread/8773803/

Kamis, 05 April 2012

Naik Becak..Ayo Melambat


Pernah naik becak?? Sebagian besar dari kita pasti pernah menaikinya. Bila belum?? Coba! Aku angkat judul naik becak pada catatan kali ini karena “merasa” ritme kehidupan berjalan begitu cepatnya di jaman yang serba canggih ini. Kemajuan teknologi membuat dunia semakin “datar” saja. Media jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Myspace memungkinkan setiap orang terkoneksi dengan orang lain dengan begitu cepatnya dari berbagai belahan dunia. Dunia sudah tidak bulat lagi..hehe. Berbagai informasi menghantam otak manusia setiap saat dan memengaruhi keputusan, sikap, pola pikir, dan pada akhirnya membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Acara-acara hiburan di televisi membuat anak-anak kecil berlaku, berbicara, dan menyanyi lebih dewasa daripada usia mereka. Sampai-sampai ada yang berinisiatif membentuk “boyband” anak-anak! So fast to serious!! Bahkan sehari yang lalu, aku menanam biji cabe, sekarang sudah berbuah lebat..haha. Yang terakhir tentu saja bohong, tapi yang jelas, aku ingin menunjukkan bahwa banyak hal yang bergerak begitu cepatnya di jaman sekarang ini.

Begitu banyaknya orang yang menasihatkan agar kita bergerak lebih cepat..lebih cepat..dan lebih cepat lagi. Pekerjaan harus diselesaikan lebih cepat, kuliah S1 kalau bisa diselesaikan 3 tahun saja, yang belum memiliki pacar harus cepat-cepat mencari pasangan, yang sudah memiliki pasangan harus cepat-cepat menikah, dan yang belum memiliki rumah tinggal harus cepat-cepat mengontrak/membeli rumah. Banyak yang cepat, bukan? Asal jangan sampai ada orang yang menasihatkan, “Yang masih hidup harus cepat-cepat mati!” Kata cepat itu sendiri sebenarnya sudah keren, namun bila ditambahkan lagi 1 kata cepat menjadi cepat-cepat, nilai kerennya menurun. Cepat-cepat terkesan terburu-buru dan dilakukan dalam kondisi yang kurang nyaman. Catatan ini bukan dimaksudkan untuk memprovokasi siapapun untuk mengurangi apapun yang bisa dikerjakan dengan cepat, tapi lebih kepada bersama-sama menyediakan sedikit momen untuk melambat…setiap hari.

Inspirasi untuk melambat ini datang dari seorang Abang becak yang sedang mengayuh kendaraannya pada suatu pagi yang cerah. Aku jadi teringat masa-masa ketika bersekolah di Cianjur. Sering sekali aku menaiki alat transportasi yang satu ini. Rasanya menyenangkan, ada angin semilir yang menerpa wajah, dan banyak benda terlihat lebih jelas. Bentuk pohon, daun, awan, tiang listrik, bangunan, sungai, dan trotoar dapat terlihat lebih jelas bila dibandingkan saat kita menumpangi kendaraan bermotor. Banyak hal yang bentuknya lebih jelas apabila kita melambat, apalagi kalau kita diam…hehe. Sesekali tidak ada salahnya menyimpan kendaraan kita di garasi dan berkeliling kota dengan becak, itung-itung penghematan BBM. Ongkos naik becak memang agak gelap, tidak ada standar yang jelas untuk jarak tertentu, tapi tidak apa-apa, anggap saja kita beramal kepada Abang becak yang sebagian besar adalah bapak-bapak dan ada juga yang hampir kakek-kakek. Bila di daerah tempat tinggal tidak ada becak, pergi ke kota lain yang ada becaknya, sekalian jalan-jalan. Tapi ingat, becak yang aku maksud adalah kendaraan roda tiga yang dikayuh oleh manusia, bukan digerakkan oleh motor, karena di Lamongan ada satu jenis kendaraan seperti becak yang digerakkan oleh motor, namanya BELA (Becak Lamongan) dan pengendaranya menggunakan helm.

Sampai di paragraf ini, aku akan memberikan inti dari catatan ini. Sebagian besar dari kita mengejar sesuatu dalam hidup ini. Sebagian besar dari kita memiliki impian dan kecepatan adalah hal yang penting dalam proses pencapaiannya. Namun, apabila kita yakin bahwa keberhasilan pencapaian impian kita sangat ditentukan juga oleh ENERGI BESAR yang hanya bisa diakses dalam zona yang hening dan gelombang otak yang berfrekuensi rendah, maka momen untuk melambat adalah hal yang sangat penting. Gelombang otak yang berfrekuensi rendah inilah yang aku analogikan seperti naik becak, bukan kendaraan bermotor. Sebagian orang menyebutnya zona khusyuk, atau berada dalam frekuensi gelombang alfa, atau dalam bahasa yang lebih keren, meditation state. Inspirasi, kreatifitas, dan ide-ide baru biasanya hadir apabila kita berada dalam zona tersebut. Seperti yang aku tulis sebelumnya, banyak hal yang terlihat lebih jelas justru ketika kita melambat, dalam hal ini gelombang otak kita yang melambat. Dan sediakan sedikit waktu, mari kita duduk saja, santai saja, bernapas perlahan saja, amati udara yang keluar dan masuk, dan syukuri apa saja yang kita miliki/terima. Rasakan seperti naik becak..hehe. Mari melambat…how slow are you??!

Surabaya, 5 April 2012
Gambar diambil dari: http://pakdeazemi.wordpress.com/2010/06/28/pengen-meniru-keikhlasan-ttkang-becak-di-jogya/

Selasa, 20 Maret 2012

Ngapain Nyuci Motor, Nanti Hujan Lho?!


Pagi ini langit Keputih memang tidak cerah, tapi tidak begitu mendung juga. Awan-awan masih tampak berwarna putih dengan guratan tipis warna abu-abu. Matahari tidak menampakkan diri. Beberapa hari terakhir ini, Surabaya memang sering dilanda hujan dan angin kencang, biasanya terjadi sore hingga malam hari. Melihat kondisi langit pagi ini, aku memutuskan untuk mencuci motor karena sudah tampak kotor sekali. Banyak jejak-jejak tanah yang menempel pada badan motor. Untuk tahap pertama, langsung saja aku mengambil seember air dan sebuah sikat gigi bekas untuk menyikat bagian-bagian motor yang sulit dijangkau tangan. Ketika sedang asyik menyikat motor, datanglah seorang Ibu yang rumahnya tidak jauh dari kostku. Sambil berjalan kaki, beliau mendekati dan bertanya, "Ngapain nyuci motor, nanti hujan lho?!" Kemudian aku menjawab dengan nada bercanda sambil tersenyum, "Supaya keringetan, Bu! Itung-itung olahraga..hehe!"

Pertanyaan yang dilontarkan Ibu tersebut sebenarnya tidak terlalu membutuhkan jawaban. Pertanyaan jenis ini sebenarnya mengandung sindiran yang sangat halus bahwa apa yang sedang aku kerjakan itu akan sia-sia beberapa saat kemudian. Karena memang pada dasarnya aku terganggu dengan kondisi motorku yang kotor dan ingin mencucinya, aku tidak terlalu peduli dengan kemungkinan turunnya hujan. Aku hanya ingin mencuci motor dan aku senang melakukannya.

Setelah menerima jawabanku, Ibu itu tersenyum sambil melanjutkan jalan kakinya. Sambil mencuci motor, aku mulai berandai-andai. Seandainya saja aku tidak begitu ingin/niat mencuci motor, mungkin aku sudah berhenti mencuci motor setelah mendapat pertanyaan dari Ibu tadi. Dan tentu saja motorku akan tetap kotor. Mungkin juga tidak akan ada upaya untuk membersihkannya karena toh hujan akan turun ketika motor sedang kukendarai di jalan dan pekerjaanku tidak akan banyak berarti. Tapi, siapa yang dapat memastikan turunnya hujan? Seandainya pun hujan turun, aku tidak begitu peduli, aku hanya senang mencuci motorku sendiri. Aku menikmati saat-saat mencuci dengan tanganku sendiri sebagai ungkapan rasa terimakasih atas jasa-jasanya menemaniku ke berbagai tempat...ceileh!

Seringkali dalam kehidupan ini kita bertemu orang-orang dengan beragam pendapatnya tentang sesuatu yang kita lakukan. Mungkin ada yang kurang suka, mungkin ada yang mendukung, mungkin juga ada yang seolah-olah mampu melihat kesia-siaan pekerjaan kita di masa depan. Tapi pada prinsipnya, sia-sia bagi orang lain, bukan berarti sia-sia bagi kita. Dan bagiku, pekerjaan yang dilakukan dengan senang hati, sehingga menimbulkan perasaan nyaman, tidak akan pernah sia-sia. Oleh karenanya, penting untuk menyukai apa yang kita lakukan agar kita selalu punya alasan untuk terus melangkah, terus bekerja, dan terus berkarya. Dan kita semua tahu pasti, perasaan nyaman dan puas itu akan semakin besar...semakin besar...semakin besar...ketika kita mampu membaginya kepada banyak orang. Siapapun yang terus-menerus memberi, akan terus-menerus menerima.

Sampai paragraf ini diketik, hujan tidak turun di langit Keputih, walaupun langit memang mendung. Motorku masih tetap bersih...hehe

"Bila sulit bagi kita untuk menutup mulut orang lain, tutuplah telinga kita dan terus lakukan apa yang membuat kita nyaman. Semoga suatu saat nanti ada manfaat yang bisa kita bagi kepada orang lain."


Surabaya, 20 Maret 2012
Gambar diambil dari: http://desy-purnama.blogspot.com/2012/02/lakon-hujan-hari-sabtu.html

Minggu, 04 Maret 2012

Rp. 100,00 (Seratus Rupiah)


Cukup lama tidak menulis di blog. Rindu rasanya. Mudah-mudahan catatan ringan di minggu malam ini bisa menemani saat santai bersama keluarga atau teman-teman. Catatan ini terinspirasi oleh pengalamanku ketika bertemu dengan dua orang pengamen di depan teras kost. Sebenarnya aku sering sekali bertemu dengan pengamen, apalagi di daerah Keputih Surabaya, keberadaan pengamen bukanlah hal yang langka. Di warung-warung tenda saat sedang menyantap makanan, di depan rumah/tempat kost, di dalam kereta api, di dalam bis kota, dan di perempatan jalan adalah lokasi-lokasi para pengamen mangkal. Diantara sekian banyak pertemuanku dengan pengamen, pertemuan yang satu ini yang paling berkesan.

Malam itu aku sedang santai saja di tempat kost. Beberapa saat kemudian muncul dua orang pengamen di depan kost. Satu orang memegang gitar kecil, yang satu lagi menggendong galon air mineral, yang ternyata bisa difungsikan sebagai alat musik pukul. Mulailah kedua orang ini menyanyi sambil memainkan “alat musiknya” masing-masing. Aku tidak begitu familiar dengan lagu yang dinyanyikan. Terlebih lagi, suara mereka dan nada alat musik mereka adalah dua hal yang sama-sama egois. Berbeda arah, keras kepala dan tidak mau berdamai, tetap angkuh di posisinya masing-masing, sehingga tidak bersatu sama sekali. Ini yang para musisi bilang dengan “tidak harmonis”. Terus terang, aku sama sekali tidak menikmati permainan musik mereka. Mungkin banyak orang yang pernah bertemu tipe pengamen seperti ini. Ada yang memberikan sejumlah uang hanya agar mereka berhenti bernyanyi dan kemudian pergi, ada juga yang memberi tanda “tidak ada uang untuk kalian” dengan goyangan telapak tangan kanannya. Aku adalah tipe orang pertama. Aku memberikan mereka uang. Uang itu adalah uang logam. Tentu tidak banyak jumlahnya. Dan itupun hanya sekeping uang logam. Uang itu bernilai SERATUS RUPIAH.

Uang seratus rupiah itu aku berikan begitu anggunnya, dengan tangan yang sangat manis, tangan kanan, dan diterima dengan tangan kanan pula. Belum ada kejadian berarti sampai serah terima ini berlangsung. Beberapa saat, pengamen yang memegang gitar mencermati dengan serius uang yang aku berikan, maklum malam hari dan penerangan di depan kost tidak begitu baik, sehingga perlu keseriusan tertentu untuk melihat sesuatu. Setelah sang pengamen mengetahui bahwa uang yang aku beri adalah uang seratus rupiah, pengamen tersebut marah-marah. Teman pengamen yang satu lagi pun setali tiga uang. Aku diam saja karena memang tidak tahu mau berbuat apa. Setelah itu, mereka pergi dan aku kembali masuk ke kost.

Ada yang salah? Iya. Pasti ada. Bila tidak, tidak mungkin ada respon marah yang seperti itu. Aku renungi kejadian ini, kemudian aku sampai pada simpulan, “dua orang pengamen itu TERSINGGUNG”. Tersinggung dengan nilai uang yang aku berikan. Terlalu kecil, sehingga tidak bisa dikonversi bahkan dengan segelas air mineral untuk membasuh dahaga mereka yang kering karena bernyanyi dari rumah ke rumah. Sungguh, aku sama sekali tidak punya niat untuk membuat mereka tersinggung. Uang itu adalah satu-satunya uang logam yang terselip di saku celanaku. Memang ada beberapa uang yang bisa diberikan, namun aku harus mengambilnya di dalam kamar. Namun kembali, karena aku tidak begitu menikmati permainan musik mereka, aku tidak melakukan upaya itu. Aku bisa saja menolak untuk memberikan mereka uang dan mereka tidak berhak marah. Itu resiko pekerjaan seorang pengamen. Aku juga pernah tidak memberikan uang kepada beberapa pengamen jalanan dan tidak terjadi apa-apa, responnya datar saja. Tapi karena pada malam itu aku memiliki uang seratus rupiah di saku celana, aku memilih untuk memberikannya kepada mereka. Dan ternyata efeknya cukup mengesankan.

Mungkin aku salah. Seratus rupiah memang nilai uang yang kecil di jaman sekarang. Mereka merasa tersinggung karena pekerjaan mereka dinilai dengan uang serendah itu. Aku sering melihat pengamen-pengamen rumahan seperti ini biasanya menerima uang logam 500 rupiah atau seribu rupiah. Mungkin juga ada yang pernah memberikan dua ribu rupiah untuk mereka. Uang seratus rupiah masih mungkin diberikan kepada pengamen-pengamen yang beraktivitas di dalam bis atau kereta api yang membawa gelas air mineral kosong untuk menampung uang hasil jerih payah mereka.

Terlepas dari kesalahanku, aku ingin berharap. Mungkin nilai uang seratus rupiah itu kecil, tapi seandainya pengamen itu bisa bertemu dengan 10 orang yang memberi mereka uang seratus rupiah, mereka telah berhasil mengumpulkan uang seribu rupiah. Seandainya bertemu dengan 20 orang yang memberikan mereka uang seratus rupiah, mereka telah mengumpulkan uang dua ribu rupiah. Lumayan, dan memang butuh kerja keras. Terlebih lagi, butuh keinginan untuk memperbaiki diri agar kualitas menyanyi dan bermain musik menjadi lebih baik, sehingga banyak orang senang, dan pada akhirnya menghargai dengan nilai uang yang tinggi. Kita cenderung mudah mensyukuri hal-hal “besar dan baik” yang datang kepada kita. Sangat manusiawi, akupun demikian. Namun, kita pasti bisa untuk mulai belajar mensyukuri juga hal-hal “kecil dan baik” yang datang kepada kita. Dengan adanya kejadian ini, aku jadi berpikir dan mulai memiliki suatu keyakinan: “Tidak semua niat baik diterima baik oleh orang lain, namun tidak ada hal besar, bermanfaat, dan berlangsung lama tanpa dimulai oleh niat yang baik.”

Surabaya, 4 Maret 2012
Gambar diambil dari: http://ferrialpondrafi.blogspot.com/2011/06/79-memberi.html


Kamis, 26 Januari 2012

The Spirit of Java


Beberapa hari yang lalu, aku memiliki kesempatan untuk mengunjungi sebuah kota yang terkenal dengan slogan "Spirit of Java". Kota ini dikenal juga dengan nama Surakarta, namun lebih sering disebut sebagai kota Solo. Solo adalah sebuah kota yang terletak di Jawa Tengah dan memiliki banyak warisan budaya. Mungkin banyak orang lebih mengenal Yogyakarta dibanding Solo karena promosinya yang lebih baik. Namun, setelah mengunjungi Solo, aku berpikir Solo memiliki potensi untuk bisa dikembangkan lebih baik dan diperkenalkan kepada lebih banyak orang di dunia. Pemberian slogan "Spirit of Java" juga merupakan suatu upaya untuk menjadikan kota Solo lebih marketable, sehingga banyak orang yang mengenal dan berkunjung ke kota Solo.

Pertama menginjakkan kaki di kota ini, aku langsung disuguhkan dengan pemandangan rumah-rumah, bangunan, gedung, pasar yang dari sisi bentuk bangunannya sangat bernuansa tempo dulu. Jarang sekali aku temukan gedung-gedung tinggi menjulang seperti kota tempat aku tinggal saat ini, Surabaya. Ada banyak becak, pejalan kaki, beberapa kendaraan bermotor, pohon-pohon yang cukup rindang, dan kesemuanya itu memberi kesan bahwa Solo adalah kota yang sangat friendly. Tempo bicara kebanyakan orang Solo seragam dan bagiku cenderung lambat, apalagi aku terbiasa berkomunikasi dengan orang-orang Surabaya yang kebanyakan tempo bicaranya cepat. Kemudian, nada bicara, dari beberapa orang Solo yang aku temui, mereka cenderung berbicara dengan nada yang rendah dan menggunakan bahasa Jawa halus. Saking halusnya, aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman halus dan sebuah kata Jawa pamungkas, "enggeh".

Setelah melihat-lihat kota dengan beragam polah masyarakat dan bentuk-bentuk bangunannya, aku berpikir lagi. Mulai terbersit dalam pikiranku hubungan antara bentuk bangunan yang dominan di sebuah kota dengan karakter masyarakat yang ada di kota tersebut. Sebagian besar bentuk bangunan yang aku lihat di kota Solo tampak sederhana, jauh dari kemewahan. Ada motif-motif lengkungan yang cukup dominan, terutama pada bangunan seperti Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Pura Mangkunegaran, dan beberapa rumah penduduk. Motif lengkungan pada bangunan banyak juga kita jumpai di Bali ataupun Yogyakarta, tapi dengan pola yang berbeda. Namun, aku melihat ada kesamaan karakter masyarakat yang tinggal di kota yang didominasi oleh bentuk bangunan dengan pola-pola lengkungan, biasanya masyarakatnya ramah, santun, berjalan perlahan, dan terkesan santai. Berbeda dengan Jakarta dan Surabaya. Dua kota ini lebih didominasi oleh bentuk bangunan yang tinggi menjulang dan cenderung lurus, minim lengkungan. Dan karakter masyarakatnya cenderung bergerak cepat, tidak santai, berbicara dalam tempo yang cepat. Ini hanya pemikiranku saja, mungkin ada benarnya, mungkin juga banyak salahnya. Namun, setidaknya bagi diriku sendiri, lengkungan adalah refleksi dari fleksibilitas.

Selain melihat-lihat kota, aku juga sempat menikmati aneka kuliner di Solo. Kuliner yang pertama kali aku nikmati adalah timlo solo. Makanan ini cukup terkenal di Solo. Saking terkenalnya, nama makanan ini pun digunakan kelompok parodi Timlo yang sekarang cukup terkenal di jagat hiburan Tanah Air. Timlo adalah makanan berkuah dengan rasa gurih. Semacam sup yang berisi ati ayam, rempelo ayam, sosis, dan telur pindang potong. Khusus sosisnya, ternyata Solo mempunyai sosis tersendiri. Bukan seperti sosis-sosis berwarna merah yang sering kita jumpai di supermarket, tapi bentuknya seperti kulit lumpia dan berwarna coklat, dipotong hingga berbentuk persegi panjang dan di dalamnya berisi suiran daging ayam. Bagiku, rasanya timlo ini enak untuk kategori makanan yang baru pertama kali dicicipi. Timlo yang aku nikmati ini bernama timlo maestro yang terletak di jalan Ahmad Dahlan. Harganya bervariasi, mulai 11 ribu sampai 16 ribu, tergantung "isi" yang kita inginkan.

Selain itu, beruntung aku bisa mengunjungi pasar yang dibuka selama sebulan penuh dalam sebuah rangkaian acara yang dinamakan sekaten. Sekaten adalah sebuah acara yang diadakan untuk peringatan kelahiran Nabi Muhammad yang diadakan setiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud di Yogyakarta dan Solo. Ada banyak sekali dagangan yang dijual di area pasar ini, ada aneka kuliner, seperti gorengan, martabak, dan banyak sekali jajanan-jajanan pasar yang aku tidak tahu namanya, baju-baju batik, blangkon, keris, sandal, sepatu, mainan anak-anak, dan lain-lain. Setelah dari area pasar ini, aku menuju pasar klewer. Di pasar klewer banyak sekali pakaian batik dan asesorisnya. Aku tidak menghabiskan waktu lama di pasar ini, aku hanya sekedar melihat-lihat. Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Keraton Kasunanan Surakarta. Lokasi dari pasar sampai ke Keraton memang tidak jauh, aku bisa berjalan kaki dengan santai. Keraton Kasunanan Surakarta bernuansa biru, banyak dihiasi motif lengkung, ada arca di kiri-kanan bangunan, dan halamannya cukup luas. Namun sayang, tidak ada plakat yang menunjukkan identitas bangunan ini. Aku pun sempat ragu apakah memang benar ini Keratonnya. Setelah bertanya, ternyata memang benar. Pasar Klewer pun demikian, tidak ada gapura khusus atau plakat yang menunjukkan identitas lokasi. Ini mungkin akan membingungkan bagi para wisatawan yang berkunjung. Pura Mangkunegaran pun setali tiga uang, tidak memiliki identitas lokasi. Yang terlihat adalah sebuah hamparan halaman yang luas dengan gerbang tinggi dan pendapa di dalamnya, tanpa nama. Pura Mangkunegaran bukanlah Pura tempat beribadah umat Hindu, tetapi sebuah istana yang dulunya adalah tempat kediaman sri Paduka Mangkunegara dan dibangun setelah tahun 1757. Bangunannya hampir serupa dengan Keraton, tetapi lebih kecil. Ini masukan untuk teman-teman di Solo ataupun mungkin pemerintah setempat untuk bisa memberikan nama pada area-area wisata yang penting di Solo, sehingga lebih memiliki daya tarik.




Lokasi lain yang aku kunjungi adalah Pasar Antik Triwindu. Pasar ini menjual banyak sekali kerajinan-kerajinan masyarakat, ada patung wayang beraneka jenis, setrika kuno yang masih menggunakan arang, kursi antik, topeng wayang, berbagai hiasan dinding dan meja, uang kuno, lampu kuno, dan banyak sekali barang-barang antik dan klasik lainnya. Pasar ini terletak di kawasan Ngarsopuro. Karena aku menginap di daerah Nonongan, jadi tinggal berjalan kaki saja menuju lokasi ini. Lokasi lainnya adalah Pusat Kuliner Galabo. Di lokasi ini berderet rombong-rombong yang berjualan makanan khas Solo, ada nasi liwet, gudeg cakar, timlo, tengkleng (makanan berbahan dasar kambing dengan kuah kuning rempah), sate kere (konon nama "kere" berasal dari orang-orang yang tidak bisa membeli daging, tetapi ingin makan sate, lalu membuat sate dengan tempe), pecel, dan lain-lain. Karena aku menyukai ceker, aku mencicipi gudeg cakarnya. Rasanya gudegnya enak dan manis, cekernya sangat empuk. Suasana di pusat kuliner ini sangat ramai, ada tenda-tenda yang dilengkapi tempat duduk dan meja untuk makan, kemudian ada juga live music yang panggungnya didirikan di mall seberang pusat kuliner ini. Suasananya sangat nyaman untuk makan.




Menariknya, selama mengunjungi berbagai lokasi di Solo, aku lebih banyak berjalan kaki. Jarak antarlokasi memang tidak jauh dan pemandangan seperti ini sangat jarang ditemukan di kota-kota besar, seperti Surabaya misalnya. Bila capek, berjalan kaki, banyak abang tukan becak yang siap mengantarkan. Tarifnya disesuaikan dengan jarak, bisa 10 ribu, 15 ribu, bahkan 20 ribu. Yang penting pintar-pintar menawar. Kebanyakan becak di Solo dicat berwarna merah. Baju dari abang tukang becaknya pun didominasi oleh kaos berwarna merah. Bus yang biasa digunakan untuk transportasi dalam kota, juga berwarna merah. Ini baru keren. Bukan karena warna merahnya, tapi karena sudah ada upaya pencitraan atau pemberiaan keunikan dari segi warna untuk menawarkan sesuatu yang berbeda dari sarana transportasi kota Solo sehingga kota ini memiliki ciri khas dan layak untuk dikunjungi oleh wisatawan, baik asing maupun lokal.

Tempat terakhir yang aku kunjungi adalah Solo Grand Mall. Aku ingin melihat apa saja barang yang banyak dijual di kota ini. Pertama memasuki Mall ini, aku langsung kaget melihat kerumunan orang. Mall ini sangat ramai, hampir seperti pasar. Mungkin hanya ada satu Mall di kota ini, sehingga masyarakat Solo tumpah ruah di bangunan ini. Produk-produk yang dijual hampir sama dengan Mall-Mall di kota lain, ada kebutuhan pokok, sepatu, sandal, tas, baju, elektronik, dan aneka makanan. Untuk para pengusaha properti, khususnya pusat perbelanjaan, Solo nampaknya memiliki potensi pasar yang luar biasa. Begitu juga untuk para pengusaha kuliner, banyak makanan berlabel franchise yang bisa dibawa ke kota Solo. Dan banyak juga makanan khas di Solo yang bisa memberi inspirasi untuk kemudian dikemas lebih menarik dan dipasarkan lebih luas.



Solo, terimakasih atas keramahan, kuliner, dan kenyamanan kotamu. Mudah-mudahan "Spirit of Java" meresap kepada semua masyarakat Solo untuk berkarya dan mambangun kota lebih baik lagi.

Minggu, 25 Desember 2011

3R + 1R = 4R


Anak TK-pun tahu kalau 3 + 1 = 4. Menambahkan huruf R setelah angka-angka itupun tidak memberikan hasil yang berbeda. Huruf R bisa saja diasosiasikan dengan Rambutan, Rompi, Rubah, Rusa, Rumah, ataupun Rombong (R yang terakhir ini harapanku sendiri..hehe). Namun, kepanjangan R pada judul di atas sebenarnya adalah RIGHT. Right adalah kata dalam bahasa Inggris yang apabila diartikan kedalam bahasa Indonesia bisa berarti 'benar', 'tepat', 'hak', dan 'kanan'. Aku pribadi bukanlah orang yang ahli tentang kebenaran dan kesalahan. Oleh karenanya, aku lebih senang mengartikan Right, dalam kaitannya dengan judul diatas, sebagai tepat, sehingga formula yang lengkap menjadi 3 Right + 1 Right = 4 Right. Mari kita mulai sekarang!

Konsep 3 Right sebenarnya sudah sering didengung-dengungkan banyak orang, entah itu di seminar kerja, status facebook, buku-buku motivasi, media elektronik, dan media massa. 3 Right berarti Right yang berjumlah tiga dan terdiri dari Right Person (Orang yang Tepat), Right Place (Tempat yang Tepat), dan Right Time (Waktu yang Tepat). Bila konsep 3R diperpanjang lagi, kurang lebih akan seperti ini kalimatnya: Orang tepat yang berada di tempat dan waktu yang tepat. Pertemuan tiga ketepatan! Seperti anugerah, dan orang yang seperti ini seringkali dinamakan orang yang beruntung. Memiliki kualitas, kemudian berada di suatu tempat yang memungkinkan kualitas itu bermanfaat bagi lingkungan sekitar, terlebih lagi ada waktu yang tepat ketika kualitas itu berdaya guna. Hal ini bisa diumpakan ada seorang guru yang memang senang mengajar sedang berada di dalam ruang kelas sedang mengajar beberapa peserta didik pada suatu waktu tertentu. Atau bisa juga dianalogikan dengan kehadiran seseorang yang sangat kita nantikan di suatu tempat pada suatu waktu. Atau yang lebih dramatis lagi, seorang yang tak dikenal menyelamatkan anak kecil yang sedang lengah menyeberang jalan dari gilasan mobil truk di jalanan yang ramai pada siang hari yang terik. Orang yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, momen untuk berada di tempat dan waktu yang tepat seringkali hanyalah sebuah harapan, sehingga konsep 3R ini lebih mengarah kepada sebuah konsep imajinatif yang tidak "down to earth". Ada orang yang dulunya sangat menyukai bermain bola dan bercita-cita jadi pemain bola profesional, kini berjualan nasi untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga. Ada yang sangat gemar bermain musik dan ingin suatu hari nanti membuat grup band, kini bekerja di salah satu Bank swasta. Ada yang gemar mengajar anak-anak, tapi entah mengapa sekarang bekerja di perusahaan sepatu. So, what?? Tidak ada yang salah dengan semua itu. Aku pun yang bertahun-tahun memelajari ilmu kimia di bangku kuliah, sekarang berjualan pisang goreng. Di dalam hidup banyak sekali pilihan. Kita bebas memilih jalan yang mana saja. Bertahan dan memperjuangkan mimpi masa kecil atau beralih kepada mimpi lain yang lebih menjanjikan keuntungan finansial atau bahkan menguburkan mimpi pribadi demi mimpi orang lain yang kita hormati dan cintai. Tapi setidaknya, ketiga hal itu masih lebih baik dibandingkan menguburkan mimpi karena mengalami musibah atau jatuh miskin. Banyak adik-adik di Indonesia ini yang mimpinya sangat tinggi, namun terpaksa menjadi anak jalanan karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Anak-anak cacat yang mungkin diantaranya ada yang ingin menjadi dokter, pilot, atau guru yang sekarang tidak berada di jurusan kedokteran, penerbangan, dan sekolah. Kita masih lebih beruntung, Kawan. Bahkan sangat beruntung.

Setiap mimpi punya jalur pencapaiannya masing-masing. Orang yang bermimpi menjadi pilot tidak akan serta merta menjadi pilot dengan terus-menerus mengasah kemampuan bermain bola. Seorang yang bermimpi menjadi pelukis akan sulit mencapai keinginannya dengan terus-menerus melatih kemampuan masaknya. Bila kita menanam benih jagung, ya akan tumbuh jagung, bukan tanaman yang lain. Tapi, sebagaimana seorang petani yang menebar benih, kita juga harus mengerti bahwa dibutuhkan waktu yang berbeda-beda bagi setiap benih untuk tumbuh, menjadi besar, dan buahnya siap untuk dipanen. Oleh karenanya, konsep 3R bukanlah sebuah konsep yang "cring" secara otomatis bisa terjadi begitu saja. Ada satu variabel lagi yang harus ditambahkan sehingga konsep 3R bisa bekerja dengan baik, yaitu Right Way. Ada jalan tertentu untuk mencapai mimpi tertentu. Ada jalan tertentu untuk mencapai tempat tertentu. Kalau konsep 1R ini hilang, konsep 3R tidak akan berjalan/terjadi. Orang bisa saja berceloteh, "Semuanya akan indah pada waktunya!". Namun, apanya yang akan indah? Bagaimana caranya mencapai keindahan itu? Kalimat itu kurang lengkap karena tidak ada faktor "Way" disana. Seharusnya kalimat itu menjadi "Semuanya akan indah pada waktunya bila kita menabur pada waktunya"! Tabur dulu, tuai kemudian. Apa yang kita tuai kalau kita tidak pernah menabur apapun? Ini kan sama saja dengan mengatakan, laksanakan kewajiban dulu, setelah itu terima apa yang menjadi hak kita. Give and then Take!

Dengan segala kekurangan, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengajari siapapun melalui catatan ini. Aku hanya ingin berbagi agar kita tidak terpenjara oleh konsep-konsep yang sepertinya sangat enak didengar telinga dan sedap dipandang mata, tetapi sulit, bahkan tidak pernah kita rasakan. Kita semua berhak untuk menjadi orang yang tepat di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula, selama kita berada pada jalur yang tepat. Kita juga berhak memandangi dan merasakan keindahan dari benih usaha yang kita tanam. Mungkin bukan saat ini, tapi di kemudian hari. Tuhan yang paling mengerti tentang waktu, tugas kita adalah berusaha dan berdoa. Selamat menikmati akhir pekan. Mudah-mudahan catatan ringan ini bisa menjadi teman bersantai sembari melepas lelah.

Surabaya, 25 Desember 2011
Gambar diambil dari: http://diaryzainal.blogspot.com/2011/04/terimakasihku.html

Sabtu, 10 Desember 2011

Diferensiasi - Fungsi = Sensasi


Sabtu malam ini cukup dingin. Surabaya Timur baru saja selesai diguyur hujan, walaupun masih menyisakan sedikit rintik. Malam minggu ini juga malam purnama, jadi semakin romantis saja nuansanya...(",). Beberapa jam lalu, aku bersepeda motor menuju daerah Kenjeran. Perjalanannya biasa saja sampai aku bertemu dengan dua orang ABG (Anak Baru Gede) yang memberiku inspirasi untuk menulis catatan ini. Suara sepeda motornya sudah nyaring dari belakang, kemudian mereka menyalipku, dan terus melaju hingga akhirnya berada jauh di depan sepeda motorku. Kedua lelaki bercelana pendek ini pula tidak mengenakan pelindung kepala sama sekali. Aku tidak tahu apakah ABG-ABG jaman sekarang dianugerahi kepala dengan tulang tengkorak yang sangat keras sehingga tidak perlu khawatir apabila terjadi gesekan dengan aspal pada kecepatan tinggi. Polantas memang sudah tidak bertugas lagi malam ini, jadi mereka cukup "aman". Namun, ada hal yang paling membuatku tidak nyaman, yaitu suara kendaraannya, sangat bising. Inilah yang dinamakan polusi suara. Aku yakin, motor tersebut tidak "berbunyi" sedemikian bisingnya ketika pertama kali mereka...ehm...maksudnya orang tua mereka membelinya. Dengan modal wawasan dari teman-temannya dan buku-buku perbengkelan sederhana, diubahlah suara motor yang "halus" menjadi lebih "bising". Melihat usia mereka, aku kira tujuannya tidak lebih dari sekedar menunjukkan eksistensi. Eksistensi yang dibalut sensasi dapat meningkatkan gengsi, tapi belum tentu meningkatkan prestasi.

Aku memang tidak terlalu paham mengenai permesinan, tapi aku "merasa" bahwa tindakan menaikkan tingkat kebisingan sepeda motor bukanlah suatu upaya meningkatkan kecepatan sepeda motor tersebut. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa design sepeda motor tersebut bukanlah design sepeda motor balap. Energi yang seharusnya dikonversi menjadi kecepatan "diambil sedikit" untuk meningkatkan bunyi, sehingga kecepatannya berkurang. Motor yang seperti ini adalah tipe yang "besar suaranya, tapi gak ada larinya". Namun, usaha mereka cukup memberiku inspirasi. Mereka telah mencoba melakukan suatu tindakan yang dinamakan modifikasi.

Istilah modifikasi bisa juga disamakan dengan istilah diferensiasi, suatu usaha menjadikan satu hal berbeda dari kebanyakan. Dalam ilmu pemasaran, diferensiasi itu penting, sejauh diferensiasi tersebut meningkatkan nilai guna (value in use) dari produk yang dipasarkan, sehingga meningkat pula kepuasan pelanggan. Aku ambil contoh produk minuman teh. Di Indonesia ini ada banyak sekali brand minuman teh, namun tiap-tiap brand memiliki diferensiasi yang jelas. Ada brand yang menjual teh original, brand lain menjual teh rasa buah-buahan, brand lain lagi menambahkan soda ke dalam teh. Semuanya memiliki ciri khasnya masing-masing. Begitu juga produk sabun. Ada sabun kecantikan, sabun kesehatan, sabun yang dapat memutihkan kulit, dan lain-lain. Ada hal yang memang sengaja dibuat berbeda dari yang lain untuk tujuan tertentu. Dalam bidang pemasaran, tentu saja tujuannya mengarah kepada peningkatan omzet penjualan dari sebuah produk.

Hal yang sama bisa kita lihat di industri musik. Banyak sekali penyanyi di Indonesia ini, ada yang solo, duo, trio, dan yang sekarang lagi "hot-hotnya" adalah boys band dan girls band Indonesia. Untuk tetap bisa mempertahankan eksistensinya, penyanyi solo harus memiliki diferensiasi dari penyanyi solo lain, baik dari warna suara, genre musik, gaya menyanyi, gaya berbusana, bahkan gaya bergoyang. Semua upaya itu memberi kesan hiburan yang berbeda kepada para pendengar dan penikmat musik. Imbas baiknya, diferensiasi tersebut dapat meningkatkan jumlah fans, sehingga semakin banyak "job" manggung, penjualan album meningkat, dan meningkatnya kesejahteraan penyanyi. Imbas baik tersebut tentu saja tidak terlepas dari manfaat yang dirasakan pendengar akibat diferensiasi yang dilakukan para penyanyi. Bila pendengar tidak mendapat manfaat dari diferensiasi yang dilakukan penyanyi, imbasnya akan berbeda, malah bisa-bisa mengarah kepada penurunanan popularitas dan penjualan album. Menjadi jelas sekarang bahwa diferensiasi tidak bisa lepas dari value in use. Sekarang barulah judul di atas menjadi jelas, diferensiasi yang tidak berimbas pada nilai guna/manfaat/fungsi hanyalah "diferensiasi kosong" yang dinamakan sensasi.

Sensasi dapat dianalogikan seperti ini: Lidah normal kita ini bisa mengecap 4 (empat) rasa, yaitu manis, asin, asam, pahit. Lidah bagian depan peka terhadap rasa manis, bagian samping kiri-kanan depan peka terhadap rasa asin, bagian samping kiri-kanan belakang peka terhadap rasa asam, dan bagian pangkal lidah peka terhadap rasa pahit. Lalu pedas bagaimana? Pedas itulah yang dinamakan sensasi. Jadi pedas bukanlah rasa, hanya sensasi, "tidak menempel di lidah". Begitu juga "diferensiasi kosong" yang hanya menimbulkan sensasi, tidak memberikan manfaat, sehingga tidak memberikan kesan mendalam di hati orang lain. Poinnya adalah, jangan takut menjadi berbeda, tapi beri juga manfaat bagi orang lain dari perbedaan yang dibuat. Dalam hal ini, kita harus sama-sama mengingatkan dan menguatkan.

Ketakukan menjadi berbeda seringkali muncul karena ketidaksiapan kita menerima respon dari orang lain yang seringkali "terpikirkan bernada negatif". Dipandang aneh, dicibir karena melakukan hal yang tidak dilakukan orang kebanyakan, diragukannya kompetensi, dan masih banyak lagi efek dari keputusan menjadi berbeda. Namun, selama niat kita untuk memberi manfaat bukan hanya bagi diri kita, tapi juga orang lain, yakinlah selalu ada jalan. Banyak orang-orang besar, yang namanya tertulis anggun dalam sejarah sains dan kitab-kitab agama, dihormati sampai saat ini, yang sikapnya dijadikan teladan, yang pola pikirnya diabadikan ke dalam rumus-rumus fenomenal, justru dulunya dipandang aneh oleh orang kebanyakan, bahkan dikucilkan karena konsep dan pola pikirnya berbeda dari khalayak. Bagiku, lebih baik dipandang "aneh", namun kita berani jujur kepada diri sendiri dengan menjadi diri sendiri daripada ingin dipandang "tidak aneh" dengan mengikuti pola-pola umum yang sebenarnya tidak sesuai dengan kepribadian kita. Be yourself...that's it! Selamat malam, selamat beristirahat!!


Surabaya, 10 Desember 201
Gambar diambil dari: http://my.opera.com/masyhudah/archive/monthly/?month=201001