Tampilkan postingan dengan label Akademik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akademik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 April 2010

Alle Anfang ist Schwer


Judul di atas adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Jerman yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti setiap permulaan itu sulit. Ungkapan ini tidak berfungsi sebagai penurun motivasi saat kita hendak melakukan sesuatu yang baru, tetapi sebagai “warning system” agar kita bisa mengatur energi yang tepat saat menjumpai hal yang baru. Hal baru adalah konsekuensi dari suatu proses pembelajaran. Ketidakterbukaan kita terhadap hal-hal baru inilah yang sering mengurung kita di dalam rutinitas yang menjemukan. Memang tidak semua hal baru itu baik untuk kita ikuti, bahkan malah ada yang tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang timur. Bila tidak mampu mengikuti, minimal kita mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri.

Banyak orang merasa enggan memasuki realitas baru dengan beragam masalah yang baru pula. Ada juga yang merasa bahwa hal baru adalah sebuah tantangan yang harus ditaklukan. Bagaimanapun juga itu adalah sebuah pilihan. Seringkali kita jenuh menjalani rutinitas hidup yang itu-itu saja. Pergi ke kampus, mendengarkan ceramah dosen, mengerjakan tugas, dan membuat laporan. Syukur-syukur kalau ada yang bertanya dengan penuh perhatian, “Bagaimana perasaanmu hari ini? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?” Namun, yang sering terjadi adalah pertanyaan seperti, “Bro, tugas kimia dasar udah beres apa belum? Nanti sore aku pinjem buat ‘nyocokin’ jawaban ya!” Belum lagi para karyawan yang setiap hari berhadapan berjam-jam dengan sebuah benda bernama komputer, mengerjakan begitu banyak hal yang entah kapan bisa terselesaikan. Bila ini yang terjadi, kita memang butuh penyegaran agar kembali bersemangat dalam menjalani rutinitas. Kita harus berani memasuki realitas yang baru.

Butuh lebih dari sekedar keinginan untuk bergelut dengan hal yang baru. Harus ada keberanian untuk mencoba. Sebuah batu bata yang diam di tepi jalan hampir tidak mungkin bergerak bila kita hanya menginginkannya untuk bergerak. Kita harus mencoba mendorongnya, baik secara perlahan ataupun cepat, tergantung energi yang kita miliki. Ada gaya tertentu yang harus kita lawan agar baru bata mulai bergerak dari keadaan diamnya. Gaya tersebut dipengaruhi oleh suatu koefisien yang dikenal dalam fisika sebagai koefisien gesekan statis. Statis dapat diartikan diam atau tidak bergerak. Ketika gaya yang kita berikan mampu mengalahkan “daya tahan batu bata ini”, barulah batu bata akan bergerak. Dalam bahasa yang lebih rumit, batu bata bergerak saat gaya yang kita berikan melampaui besarnya gaya gesek statis maksimum. Selama batu bata bergerak, ada gaya lagi yang harus kita kalahkan besarnya agar batu bata tidak terhenti. Gaya ini dipengaruhi oleh koefisien gesekan kinetis. Uniknya, besarnya koefisien gesekan kinetis tidak pernah melampaui besarnya koefisien gesekan statis. Itu berarti lebih mudah menjaga agar sebuah benda tetap bergerak dalam suatu satuan waktu tertentu daripada membuatnya mulai bergerak.

Menjadi jelas bahwa kita membutuhkan energi tertentu untuk mulai melangkah atau bergelut dengan hal yang baru. Seribu atau sepuluh ribu langkah pasti dimulai dari langkah pertama. Orientasi mahasiswa baru menjadi masa-masa sulit ketika kita baru memasuki masa kuliah. Setelah berlalu, semuanya tampak penuh dengan persahabatan. Semua kualitas memiliki kecenderungan untuk membiasa. Begitu juga dengan masa training yang merupakan masa yang cukup berat bagi para calon karyawan. Namun, kita harus menjalani dengan ikhlas. Saat yang paling menegangkan ketika kita mulai tertusuk panah Cupid adalah berkenalan dengan orang yang kita sukai. Belum lagi kewajiban mengungkapkan isi hati. Semuanya butuh lebih dari sekedar keinginan. Rasa yang terurai dalam kata dan tindakan tidak jarang memberikan kelegaan tersendiri, apapun hasilnya, apapun responnya.

Dengan begitu, mulai saat ini, marilah kita kalahkan gaya gesekan statis maksimum dalam diri agar kita bisa melangkah maju menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sukses selalu. Semoga bermanfaat.

selsurya.blogspot.com, 7 April 2010

Minggu, 10 Januari 2010

Kesempatan Adalah Sebuah Reaktan


Hidup yang kita jalani saat ini adalah sebuah kesempatan. Kesempatan untuk memberi manfaat bagi sesama seraya mendekatkan diri kepada Yang Maha Tinggi. Satu ciri khas sebuah kesempatan adalah adanya batas waktu. Dengan kata lain, kesempatan selalu terbatas. Ini yang harus kita sadari. Terbatasnya kesempatan mengharuskan kita memberikan usaha-usaha terbaik untuk memanfaatkannya, bukan malah menjadi pribadi manja yang hanya bisa mengeluh. Mengeluh itu hanya memperbesar ukuran keringat.
Banyak orang mengatakan bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Namun, ada sebagian lagi yang didatangi kesempatan yang sama berulang kali. Memang ada kesempatan yang datang hanya sekali seumur hidup. Ada juga yang datang berkali-kali. Bagiku, tidak penting seberapa sering kesempatan itu datang. Yang terpenting adalah kesadaran kita akan kehadirannya dan berusaha menyambutnya dengan segenap usaha. Kesempatan adalah salah satu reaktan keberuntungan. Keberuntungan terbentuk karena reaksi yang sempurna antara kesempatan, persiapan, dan usaha. Dengan tambahan doa sebagai katalis, maka hidup adalah sebuah keajaiban. Kita seringkali mengharap keajaiban datang setiap berhadapan dengan masalah tanpa menyadari bahwa kehidupan yang kita jalani saat ini adalah sebuah keajaiban. Masalah itu justru hadir untuk melapangkan hati kita agar mampu menerima anugerah yang lebih besar lagi. Ada perbedaan paling mendasar antara orang optimis dan pesimis, yaitu perbedaan cara pandang mengenai masalah. Orang optimis memandang masalah sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri, namun orang pesimis memandangnya dengan cara terbalik, setiap kesempatan selalu dianggap masalah. Menjadi salah satu diantaranya adalah sebuah pilihan.
Kadangkala kita berada pada satu titik dimana kita berhadapan langsung dengan dua atau lebih pilihan yang sulit. Sulit karena kesemuanya itu memberikan kesempatan yang sama untuk dapat meningkatkan kualitas diri. Sulit juga karena dengan memilih salah satu berarti juga mengorbankan yang lainnya. Ingin berlari tetapi tidak mampu. Memutuskan diam, namun tidak nyaman. Kemudian doa terlantun begitu indahnya, bahkan lebih panjang dari biasanya. Seseorang pernah mengajarkan bahwa cara terbaik membuat keputusan dari pilihan-pilihan yang sulit adalah dengan mendekatkan kematian. Kematian, yang entah kapan itu, didekatkan secara perlahan untuk memicu pikiran dan hati kita memberikan stimulus-stimulus positif yang mengarah pada keputusan terbaik. Terbaik bagi kehidupan di dunia, maupun kelak. Memang sedikit menyeramkan, tapi tidak ada salahnya dicoba karena toh hanya pengandaian saja. Setidaknya, dengan mendekatkan kematian, kita akan semakin menyadari bahwa hidup bukan hanya urusan perut saja. Bukan hanya tentang kekuasaan saja. Bukan juga melulu tentang uang. Uang memang penting. Namun, sifat materinya hanya bisa didekatkan dengan sifat materi lain, bukan dengan energi. Uang bisa digunakan untuk membeli rumah, mobil mewah, kasur yang empuk, dan makanan yang nikmat (materi), tetapi tidak bisa digunakan untuk membeli persahabatan, persaudaraan, kenyamanan, kebahagiaan, keikhlasan, dan umur panjang, apalagi cinta (energi).
Mudah-mudahan semua keputusan dan tindakan yang kita ambil untuk setiap kesempatan yang hadir memberi warna tersendiri dalam hidup. Warna-warna yang pada akhirnya membentuk satu lukisan kebijaksanaan diri yang menawan. Semoga bermanfaat.



Terima kasih kepada Ibunda dan Ayahnda yang sangat menghargai keputusan yang telah aku ambil. Mudah-mudahan bisa menjadi berkah bagi keluarga. Amien.

Sabtu, 26 Desember 2009

Antara Positif dan Tak-Negatif


Kita seringkali mendengar seruan atau nasihat seseorang yang mengajak kita untuk berpikir positif. Berpikir positif dapat diartikan secara sederhana dengan berpikir yang baik-baik atau berpikir yang baiknya saja. Lalu, yang negatif? Dihilangkan dari pikiran hingga tak berbekas. Sulitkah? Tentu saja. Menurutku, setidaknya ada 3 hal yang menjadi penyebab dasar kesulitan ini.
Pertama, setiap hari kita dihinggapi puluhan ribu pikiran. Richard Carlson, dalan bukunya "Don't sweat the small stuff", menyatakan bahwa dalam sehari, rata-rata, manusia memiliki kurang lebih 50.000 pemikiran yang beragam. Bukan perkara mudah mengontrol begitu banyaknya pemikiran manusia setiap hari. Pikiran-pikiran tersebut, pada akhirnya, menimbulkan beragam keinginan. Ketika melihat baju di toko, ingin membeli. Melihat gadis cantik, ingin berkenalan. Melihat buku kimia, ingin tidur. Semuanya berpusat pada pikiran. Namun, Erbe Sentanu pernah memberikan deskripsi yang cukup menarik tentang kehadiran pikiran manusia ini. Menurutnya, gerakan pikiran manusia itu seperti gerakan awan di langit. Jangan berfokus pada setiap gerakan awan itu, tetapi jadilah langit yang luas itu. Menjadi sesuatu yang kokoh dan tidak terganggu oleh pergerakan awan-awan pikiran. Itulah idenya.
Kedua, setiap orang mempunyai definisi yang berbeda tentang sesuatu yang positif. Positif bagiku bukan berarti positif bagi orang lain. Namun, hal-hal positif memberikan kesamaan manfaat yang tidak bisa dielakkan, yaitu kedamaian hati. Pikiran positif akan mendatangkan perasaan positif. Perasaan positif itu lebih penting dibandingkan pikiran positif itu sendiri. Oleh karena itu, pikirkanlah hal-hal yang dapat mendamaikan hati kita. Dengan hati yang damai, dunia tampak lebih indah.
Ketiga, kita masih sering menganggap bahwa berpikir tak-negatif adalah juga berpikir positif. Ini tidak sepenuhnya tepat. Sebagai contoh, seseorang yang ingin berhenti dari kebiasaan merokok seharusnya tidak memberikan afirmasi kepada pikirannya bahwa "Aku tidak akan merokok lagi." Kata-kata "Aku tidak akan merokok lagi" adalah contoh kata-kata yang ada dalam pikiran tak-negatif karena terdapat kata "tidak" dan hal yang, dianggap sebagian besar orang, negatif (merokok). Bagaimana mungkin bisa berhenti merokok, sedangkan dalam pikirannya masih "tertulis dengan jelas" kata merokok? Afirmasi yang lebih baik adalah "Aku ingin lebih sehat lagi dan Aku ingin keluargaku bahagia melihat Aku lebih gemuk." Atau "Aku menghargai tubuh yang bersih." Bisa juga dengan "Aku menghargai uang dan menggunakannya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan." Tidak ada lagi kata merokok. Harapannya, kebiasaan merokok akan memudar secara perlahan. Contoh kedua adalah pikiran untuk melupakan seseorang. Biasanya pikiran ini timbul pada akhir hubungan persahabatan atau percintaan yang kurang berlangsung baik. Kenapa aku bisa tahu? Karena aku pernah mengalaminya dan hanya ingin berbagi. Afirmasi yang timbul biasanya "Aku tidak ingin mengingatnya." Afirmasi seperti ini tentu saja merupakan afirmasi tak-negatif. Kita harus mengubahnya. Kita coba dengan "Aku ingin melupakannya." Nampaknya, lebih enak untuk dipikirkan. Namun, tetap saja sulit. Walaupun kata "tidak" telah dihilangkan, tetapi masih ada kata "-nya" setelah kata "melupakan". Bagaimana bisa kita melupakan sesuatu yang kita pikirkan terus? Afirmasi yang lebih baik adalah "Aku kini lebih bebas menjalani hari-hari yang indah." Atau "Aku kini mempersiapkan hatiku untuk seseorang yang mencintaiku dengan tulus." Mudah-mudahan pikiran dan harapan itu terkabul. Amiiiieeeeeennnnnnnnn!
Berpikir positif itu indah, asal kita tahu seninya. Aku bukan orang yang selalu dapat berpikir positif. Kadangkala ada saja awan gelap pikiran yang sulit disingkirkan. Menangani hal ini, aku butuh waktu untuk berdiam diri seraya berdoa memohon petunjuk. Mudah-mudahan selalu ada titik terang bila kita memusatkan pikiran dan hati kita pada Sumber Cahaya Yang Abadi. Semoga bermanfaat.

Kamis, 26 November 2009

Kesesuaian Frekuensi, Mungkin Itulah 'Chemistry'..


Bila ada satu kata yang paling sering aku dengar 4 tahun belakangan ini, itulah kimia. Bila ada satu hal yang paling membuat aku bangga sebagai seorang mantan mahasiswa, itu juga kimia. Bila ada satu ilmu yang penuh dengan reaksi, dengan yakin aku katakan, "Pastilah itu kimia!". Kimia, kimia, dan kimia. Satu ilmu yang telah berhasil menjebakku dalam rutinitas pencampuran, pendinginan, pemanansan, pembakaran, penguapan, pengeringan, dan hal-hal lainnya yang tidak hanya membutuhkan keuletan, tetapi juga kesabaran. Aku telah terjebak, namun di tempat yang tepat dan nikmat.
Bila kita mempelajari kimia, kita harus rela mempelajari sifat zat dan mempelajari reaksi yang menjadikan satu zat berubah menjadi zat lain. Hanya ada dua asas yang mendasari konsep kimia, yakni kekekalan materi dan kekekalan energi. Reaksi kimia merubah satu zat menjadi zat lain, namun jumlah materi yang terlibat sepanjang reaksi selalu kekal. Begitu pula dengan energinya. Jumlah energi yang terlibat dalam reaksi kimia selalu kekal. Hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan terhadap energi yang tidak dapat kita ciptakan dan musnahkan, yakni merubahnya dari satu bentuk ke bentuknya yang lain. Menariknya, bila cinta dipahami sebagai sepaket energi, maka kita tidak akan pernah bisa memusnahkannya. Itulah yang menjadi alasan mengapa sulit bagi kita melupakan seseorang yang pernah kita cintai. Melupakan sama dengan memusnahkan. Lebih baik kita berusaha merubahnya menjadi bentuk energi lain yang positif.
Kimia, yang dalam bahasa Inggris disebut juga chemistry, diartikan secara indah oleh Martin H. Manser. Menurut beliau, "Chemistry is scientific study of the structure of substances and how they combine together." Dua atau lebih zat yang berbeda bisa bersatu (combine together) secara sempurna bila menganut satu prinsip pencampuran, yaitu "like dissolves like" atau suka sama suka. Tidak ada yang sempurna selain Yang Maha Sempurna, maka dari itu diperlukan pengaturan suhu, emosi, untuk mencapai pencampuran yang diinginkan.
Belakangan ini, istilah chemistry mengalami pergeseran makna. Definisi yang semula bersifat 'scientific' bergeser ke arah yang lebih kepada 'interpersonal relation'. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa curahan hati sebagai berikut, "Mungkin belum ada chemistry diantara kita!", "Rasanya nyaman banget ngobrol ma kamu, serasa ada chemistry diantara kita!", "Mana ekspresinya? Nggak ada chemistry sama sekali di adegan tadi!", "Should i give a reason for it? just say.. its our chemistry that make it this way." Chemistry dalam konteks curhat di atas lebih tepat diartikan sebagai kecocokan daripada ilmu kimia itu sendiri. Namun, sebagai seseorang yang sempat bergelut dengan hal-hal ilmiah, aku tetap memilih definisi yang lebih rumit, yakni kesesuaian frekuensi. Kesesuaian frekuensi menyebabkan resonansi, turut bergetarnya sesuatu karena pengaruh getaran sesuatu yang lain. Dan pada akhirnya, kecocokan itu timbul karena adanya resonansi...dari dalam hati.
Semoga bermanfaat.

NB: Terima kasih kepada Myru Nana atas komentarnya yang sangat inspiratif tentang chemistry!

http://selsurya.blogspot.com/

Kamis, 12 November 2009

Hasil keikhlasan adalah 1 dibagi 0


Ada 4 operator dasar dalam perhitungan aljabar, yaitu tambah (+), kurang (-), kali (x), dan bagi (/). Banyak orang menyukai perhitungan menggunakan operator pertambahan. Selain karena relatif mudah, banyak diantara kita yang memang ingin bertambah setiap saat, seperti bertambah pintar, bertambah rajin, bertambah dewasa, bertambah cantik, bertambah ganteng, dan bertambah kaya. Operator kurang pun tidak kalah menariknya. Dengan kehadiran operator ini diharapkan membawa dampak berarti bagi kehidupan kita. Kita diharapkan mampu mengurangi kemalasan, kesombongan, kedengkian, dan kemarahan, sehingga tercipta nilai positif kedamaian. Kedua operator ini, tambah (+) dan kurang (-), memiliki level energi yang sama, hanya saja arah fungsinya berlawanan. Keduanya dapat digunakan untuk tujuan positif, bahkan negatif. Semuanya tergantung seberapa besar nilai kita sekarang.
Naik satu tingkat ke level energi perhitungan yang lebih tinggi, kita bertemu dengan kali (x) dan bagi (/). Operator kali (x) ini sungguh luar biasa. Dengan adanya operator ini, bilangan yang semula biasa saja dapat memiliki nilai hasil yang berlipat ganda apabila disandingkan dengan nilai lain yang tepat. Pemasaran dengan sistem jaringan dibangun dengan basis perhitungan perkalian. Tujuannya sudah jelas, yaitu keuntungan yang maksimal. Keuntungan tidak sekedar bertambah, tetapi juga berlipat-lipat. Oleh karena itu, banyak orang yang menyukai sistem ini.
Operator dasar yang terakhir adalah bagi (/). Pembagian merupakan fenomena matematika yang cukup rumit, bahkan terumit bila dibandingkan dengan penggunaan operator yang lain. Operator tambah dan kurang menghasilkan suatu nilai bilangan yang pasti, baik bernilai positif atau negatif, bernilai bulat ataupun desimal. Operator bagi (/) tidak hanya menghasilkan nilai-nilai bilangan yang bulat atau desimal, positif atau negatif, tetapi juga dapat menghasilkan nilai-nilai yang cukup unik, yaitu tak hingga, tak tentu, dan tak terdefinisi. Simbol dan nilai-nilai tersebut digambarkan seperti bentuk alis manusia yang berliku. Mungkin itu sebagai tanda kebingungan. Sulitnya operator pembagian ini mungkin menjadi penyebab sulitnya berbagi dalam hidup.
Salah satu perhitungan yang menyebabkan munculnya nilai unik ini adalah pembagian 1 dengan 0. Perhitungan ini menarik karena dapat dianalogikan dengan kehidupan kita. Satu dapat dilambangkan dengan Satu Energi Yang Maha Besar, Yang Maha Mencipta Semesta. Nilai nol dianalogikan dengan keikhlasan hati manusia dalam menjalani hidup. Ketika Yang Satu itu (1) membagi atau memberi (/) kepada yang ikhlas (0), maka hasilnya menjadi tak terukur logika. Inilah satu momen dimana logika matematika bertemu dengan kelembutan religi. Sungguh sulit sekaligus indah. Sulit untuk menjadikan diri kita seutuhnya ikhlas (nol). Namun, sulit tak memiliki korelasi dengan kemustahilan. Kita semua sedang berusaha mencapai titik ini, titik dimana angerah itu mewujud dengan indah.
Semoga bermanfaat!!

Selasa, 10 November 2009

Valentino Rossi dan Werner Heisenberg..


Bagi para pecinta MotoGP, Valentino Rossi bukanlah nama yang asing. Kemenangannya pada ajang MotoGP 2009 mengakibatkan namanya semakin dielu-elukan. The Doctor, sebutan untuk Valentino Rossi, telah memantapkan dirinya meraih gelar juara dunia MotoGP ke 9 dan menjadikannya sebagai lawan yang sulit untuk dikalahkan. Kecepatan motor yang sangat mengagumkan dan kelihaiannya menyalip lawan di tikungan menjadikannya sosok pembalap yang luar biasa. Selamat Bro..!
Di sisi lain, para fotografer yang berada di pinggir arena balap berusaha semaksimal mungkin untuk mengabadikan berbagai posisi para pembalap yang sedang berlaga. Itu bukan perkerjaan mudah. Selain membutuhkan kamera yang berkualitas tinggi, dibutuhkan juga keahlian khusus untuk mengambil gambar yang sedang bergerak dengan kecepatan tinggi. Cara yang paling sederhana adalah dengan mengambil sederet jepretan (snapshots) ketika objek (para pembalap) mulai mendekati daerah jangkauan cahaya kamera. Agar dapat hasil yang memuaskan, para fotografer biasanya memilih posisi di dekat tikungan. Hasil foto-foto tersebut, kemudian diseleksi dan dipilih yang terbaik.
Dalam bekerja, para fotografer harus berfokus pada posisi para pembalap, bukan pada kecepatan motor para pembalap tersebut. Akan sangat menyulitkan apabila seorang fotografer harus menafsirkan kecepatan motor pembalap ketika difoto pada posisi tertentu. Sudah ada tim lain yang memantau kecepatan para pembalap tersebut, termasuk pembalap yang bersangkutan. Artinya, pengukuran posisi dan kecepatan suatu objek tidak dapat dilakukan secara tepat satu sama lain pada waktu bersamaan, Semakin tepat pengukuran terhadap posisi, maka akurasi pengukuran kecepatan akan menurun. Begitu pula sebaliknya. Hal ini telah diungkapkan Werner Heisenberg pada tahun 1927 dan dikenal sebagai prinsip ketakpastian (uncertainty principle).
Prinsip ini penting mengingat banyak sekali pergerakan di alam semesta. Bahkan, benda/materi yang tampak diam pun, tidak benar-benar diam. Elektron sebagai partikel elementer penyusun materi melakukan pergerakan secara terus-menerus mengelilingi inti atom. Semuanya bergerak, namun tak selalu tampak. Entah apa yang terjadi bila sedetik saja elektron itu diam, tidak mengelilingi inti.
Ada hal yang menarik dari prinsip ketakpastian ini. Hidup kita seringkali diisi oleh usaha pencapaian target yang membutuhkan kecepatan tertentu. Semua orang memiliki kecepatannya masing-masing tergantung target yang ingin dicapai, waktu yang disediakan, dan tenaga yang dimiliki. Ada yang terbiasa dengan kecepatan tinggi, ada pula yang santai dengan kecepatan yang lebih rendah. Semuanya mendapatkan hasil masing-masing. Kecepatan itu penting, tetapi posisi juga menentukan. Agar posisi tampak jelas, kurangi sedikit kecepatan itu. Lihat dimana kita berdiri sekarang, sehingga mampu menerapkan strategi-strategi yang jitu untuk pergerakan lebih lanjut. Mungkin ada benarnya seseorang yang mengatakan bahwa hidup itu dapat dipahami bila kita melihat ke belakang dan dapat dijalani bila kita melihat ke depan. Kita membutuhkan posisi untuk melihat dan menafsirkan kedua dimensi tersebut dengan cara mengurangi kecepatan pergerakan pencapaian target dalam hidup. Namun, jangan jadikan ini sebagai alasan untuk diam dan terus bersantai. Bergeraklah untuk kemajuan diri, Bangsa, dan Negara. Selamat Hari Pahlawan!

Senin, 09 November 2009

Karena Nol tidak selalu Kosong..


Aku teringat masa-masa sekolah dulu. Suatu masa yang penuh dengan gejolak dalam meraih cita dan cinta. Berangkat pagi-pagi ke Sekolah untuk memanfaatkan beberapa menit yang tersedia sebelum bel tanda masuk berbunyi untuk mengerjakan PR yang tertunda karena bermain super nintendo semalamam. Duduk manis di dalam ruang kelas hanya untuk menunggu bel tanda istirahat dan bel pulang. Membawa banyak buku pelajaran ke sekolah sambil berharap dihampiri seorang teman akrab, yang dengan cerianya mengatakan, “Hari ini kosong, guru-guru pada rapat semuanya!”. Tobat…tobat…!! Ampun Bu guru…! Ampun Pak guru…! Ampun Bu penjaga kantin…! (lho?)
Berbicara mengenai kata kosong, ada sesuatu yang menarik. Seringkali kosong dikaitkan dengan suatu angka, yaitu nol. Pada beberapa kasus, kedua istilah ini dapat dianggap sama. Tidak semua nol berarti kosong. Begitu pula sebaliknya. Kosong dapat diartikan ketidakhadiran sesuatu atau ketidakberisian (pada contoh di atas, kosong dapat diartikan ketidakhadiran guru-guru di kelas), sedangkan nol merupakan salah satu nilai numerik tak negatif. Kosong lebih mengarah pada sifat ruang (berdimensi 3), sedangkan nol dapat berfungsi pada sistem 1, 2, ataupun 3 dimensi.
Kapan kedua istilah ini dapat dianggap memiliki makna yang sama? Misalkan, ada 9 buah jeruk di atas meja. Jeruk-jeruk tersebut dimakan sampai habis, kemudian kulit dan bijinya dibuang di tempat sampah. Ada berapa jeruk yang tersisa di atas meja? Jawabannya, sudah tidak ada jeruk yang tersisa di atas meja (kosong/ketidakhadiran jeruk di atas meja). Itu berarti juga nilainya sama dengan nol (9-9 = 0).
Kedua istilah tersebut akan bermakna berbeda satu sama lain ketika kita berbicara tentang himpunan matematika. Misalkan, Budi memiliki himpunan bilangan cacah yang kurang dari 1, sedangkan Badu memiliki himpunan kosong. Mereka sama-sama memiliki himpunan matematika, tetapi berbeda dari segi isi. Budi memiliki bilangan 0, sedangkan Badu tidak memiliki bilangan apapun dalam himpunannya (kosong). Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa nol pun suatu nilai dan sangat bermakna. Oleh karena itu, jangan pandang rendah angka nol. Teknologi komputer yang berkembang sampai saat ini dibangun dengan memanfaatkan banyak bilangan berbasis satu dan nol. Semakin banyak nol yang disisipkan di belakang nilai uang, maka pertambahan nilai uang tersebut semakin tinggi.
Aku tidak akan mengungkit bagaimana sebagian besar dari kita mengucapkan nomor handphone saat membeli pulsa. Itu hanya permainan kata-kata saja. Yang terpenting, kedua belah pihak saling mengerti dan pulsa handphone telah bertambah.
Banyak hal di dalam hidup kita yang dapat disamakan satu sama lain dalam beberapa kondisi, namun tidak pada kondisi yang lain. Jarang, atau bahkan tidak ada sama sekali 2 hal yang memiliki kesamaan pada seluruh segi kehidupan. Pasti ada perbedaannya, walaupun di satu titik yang kecil. Itulah yang menjadikannya indah...menjadikannya tampak bermakna. Merasa baik ketika perbedaan itu tiba pada suatu kondisi tertentu menjadikan kita sebagai pribadi yang penuh dengan rasa hormat.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 29 Oktober 2009

Chemistry is all about life..!!


Catatan ini bukan semata-mata untuk menyombongkan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam, bukan pula untuk merangkum segala isi alam semesta dalam satu kata, yaitu kimia, terlebih lagi bukan untuk ajang promosi salah satu jurusan terkenal di ITS. Buang semua pikiran itu..! Catatan ini dimaksudkan untuk sedikit memotivasi teman-teman yang karena angin nasib dipertemukan secara mendadak dengan tabung reaksi, erlenmeyer, buret, spatula, botol semprot, dan pengaduk. Jangan mengeluh, apalagi pindah jurusan, jalani saja dengan ikhlas..!
Sebagai seseorang yang pernah menduduki bangku kuliah selama 4 tahun di jurusan kimia, aku tidak asing lagi dengan istilah bahan kimia. Bahan kimia tersebut ada yang berbahaya dan banyak sekali yang bermanfaat bagi kehidupan. Berbicara mengenai bahan kimia, aku teringat percakapan seorang ibu dan pedagang tahu di pasar;

Ibu : “Pak, kok tahunya agak keras, pasti pake bahan kimia ya?”
Penjual tahu (PT) : “Nggak kok Bu, ini tahu baru. Percaya deh...Rasanya enak, harganya murah!!”

Sepintas percakapan tersebut sangat sederhana, namun telah sukses menggeser makna dari “bahan kimia” ke arah konotasi yang negatif. Sekarang, yang menjadi pertanyaan selanjutnya terkait percakapan di atas adalah, apakah mungkin penjual tahu tersebut membuat tahu tanpa bahan kimia? Apakah dengan segenap tenaga dalamnya, penjual tahu tersebut berhasil mensintesis tahu? Aku tidak perlu menjelaskan pembuatan tahu mulai dari penanaman bibit kedelai, tapi yang jelas bahan-bahan pembuat tahu adalah bahan kimia. Bahkan, tidak ada satu bahan pun di dunia ini yang tidak merupakan bahan kimia. Oksigen yang kita hirup, tempe penyet yang kita makan, air yang kita minum, obat yang kita konsumsi, dan tanah yang kita injak saat berjalan tidak lain dan tidak bukan adalah bahan-bahan kimia. Bukannya mau sombong, tapi ini fakta dan merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Eyang J.W. Dobereiner, Mbah J.A.R. Newlands, Bang Dmitri Mendeleyev, dan Mas Lothar Meyer yang dengan susah payah menyusun tabel periodik unsur-unsur kimia.
Ada juga percakapan yang masih kuingat sampai sekarang dengan seseorang yang bernama Burhan (bukan nama sebenarnya). Petunjuk : Kalimat dalam tanda kurung adalah perkataan dalam hati dan tidak diucapkan secara terang-terangan.

Burhan : “Denger-denger sekarang udah kuliah ya? Dimana?”
Yuda : “Iya dong, di ITS Surabaya.”
Burhan : “Ngambil jurusan apa?”
Yuda : “Jurusan kimia.”
Burhan : “Wah, pasti udah bisa bikin bom ya?!”
Yuda : “(Ya, buat ngebom rumahmu!!) Nggak kok, belum sampe sana pelajarannya.”
Burhan : “Nanti kalo udah bisa, ajarin ya!”
Yuda : “(Ya pasti dong, kamu kan korban pertamaku) Iya deh, tapi jangan untuk hal-hal yang negatif ya!”

Aku tidak tahu Burhan bercanda atau tidak, tapi yang lebih penting lagi penilaiannya tentang ilmu kimia sendiri sangat sempit, hanya sebatas bom. Banyak orang awam, yang tidak berkecimpung langsung dalam bidang kimia, memandang ahli-ahli kimia adalah orang-orang yang mahir dalam pembuatan bom. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah karena tidak semua orang bisa merakit bom tanpa pengetahuan kimia yang memadai, tetapi tidak bisa dijadikan tolak ukur penilaian ilmu itu sendiri. Kimia itu luas Bro...! Luas...!!

Ada juga percakapan yang cukup memilukan hati terkait ilmu kimia ini. Tapi orang yang berbicara sudah kumaafkan lahir dan batin.

Miss. X : “Ilmu kimia yang kalian pelajari di bangku kuliah hanya akan terpakai tidak lebih dari 5% di dunia kerja.”
Yuda : (Mbak dapet data dari mana? Tahun berapa? Yang buat masih hidup nggak? Sample perusahaannya apa aja? Simpangannya berapa? Udh di uji-t belum? Kalo aku jadi dosen, pasti lebih dari 5% donk?! Nggak mungkin kan dosen kimia pake hanya 5% ilmu kimianya?!)
Miss. X : “Oleh karena itu, siapkan dirimu menghadapi tantangan dunia kerja!”
Yuda : (Gimana kalo Mbak aja yang t’tantang berkelahi?)

Semangatnya sih boleh, tapi jangan pake data yang merendahkan kualitas ilmu kimia donk! Gimana mau semangat belajar kalo tahu bahwa ilmu kimia yang dipake cuma sedikit dalam dunia kerja? Teruslah belajar, kejar ilmu setinggi langit, jadikan bermanfaat bagi Nusa, Bangsa, dan agama. Kita tidak bisa hitung persentase ilmu yang kita serap, kita lupakan, dan kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada rumusnya. Semua pengetahuan yang kita miliki pada akhirnya membentuk karakter kita, dan menjadikan kita pribadi yang unik. Perhitungan seperti itu sungguh tidak penting. Hitunglah sesuatu yang dapat meningkatkan motivasi kita dalam bekerja, berkarya, dan beramal. Lupakan saja semua rumus yang dapat melemahkan motivasi kita akan semua hal yang baik.
Teruslah berjuang dan berkarya, hidup Kimia, hidup Indonesia..!

Sabtu, 24 Oktober 2009

Satu Pusat Yang Sama (Cahaya Putih)..


Sesuatu yang nampak paling indah di langit ketika hujan mulai mereda dan matahari mulai bersinar kembali adalah pelangi. Paduan warnanya sungguh menyejukkan hati. Kehadirannya seolah-olah mengisyaratkan bahwa hujan telah berlalu dan mari kita sambut sesuatu yang baru. Warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu berpadu dengan komposisi yang seimbang. Komposisi yang saling mendukung satu sama lain untuk menyebarkan pesona keindahan langit. Langit pun tersenyum seraya mengetuk hati kita bahwa hidup bukan tentang dominasi, tetapi tentang keseimbangan menuju keindahan.
Ada yang tersurat, ada pula yang tersirat. Ada yang nampak, ada pula yang tersembunyi penuh makna. Begitulah cara alam mengajar kita. Keindahan warna pelangi ini pun menjadi satu materi penuh arti.
Warna hadir secara khas dengan tingkat energinya. Rentang panjang gelombang tertentu pada cahaya tampak menghadirkan warna tersendiri. Sebagai contoh, warna merah memiliki panjang gelombang yang lebih panjang daripada warna hijau, sedangkan warna ungu memiliki panjang gelombang yang lebih pendek daripada warna hijau. Hal inilah yang sesungguhnya menjadi alasan ilmiah mengapa seseorang cenderung menyukai warna tertentu. Ada kesesuaian tingkat energi yang dibawa oleh warna tersebut dengan tingkat energi emosi seseorang. Tidak ada satu warna yang lebih baik dari warna yang lain. Semuanya berada pada rentang panjang gelombang yang tepat.
Keseluruhan rentang panjang gelombang cahaya tampak dikandung oleh sebuah cahaya, yakni cahaya putih. Putih sesungguhnya bukanlah warna, tetapi lebih kepada kesan yang ditimbulkan oleh kehadiran warna-warna (mejikuhibiniu) dengan proporsi yang seimbang. Pengertian ini dapat diperkuat dengan memerhatikan perputaran sebuah benda/bangun berbentuk lingkaran yang telah diberikan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna-warna tersebut berada pada posisinya masing-masing dalam lingkaran dengan proporsi yang sama satu sama lain dan berputar pada SATU PUSAT YANG SAMA, sehingga cahaya putih merekah dengan indah. Titik pusat inilah yang menjadi penyebab beragam warna yang ada memancarkan cahaya putih. Tidak ada lagi perbedaan, semuanya tampak satu. Tidak ada dominasi dan arogansi, hanya tentang keseimbangan...itu saja. Tampak sederhana, namun penuh makna.
Mungkin hanya ini yang dapat aku bagi dengan segala kekurangan yang ada. Memang terlampau mudah untuk mengetahui tanpa memahami, untuk memahami tanpa merasa, dan merasa tanpa bertindak. Bila hal kecil ini bisa memberi sedikit inspirasi, aku sangat terhibur. Bila hal kecil ini menyebabkan satu langkah berarti, aku sangat bersyukur. Namun, bila tidak ada sedikit pun makna yang tertangkap, aku mohon maaf, mudah-mudahan kebaikan datang dari segala penjuru.

Rabu, 21 Oktober 2009

Doa adalah Katalis Terbaik..


Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan seorang teman tentang mekanisme reaksi yang terjadi pada roti yang telah diberi label "terima kasih" dan "kamu bodoh" (percobaan dengan menggunakan roti ini tertuang dalam catatanku yang berjudul "Ketika Air sedang Mengajar (Part 2)"). Tidak mudah menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan mekanisme reaksi, apalagi bahan yang aku gunakan sebagai objek penelitian hanyalah 3 potong roti. Banyak faktor pendukung yang dibuat tidak berbeda satu sama lain (berat roti, kondisi botol, dan kondisi tempat penelitian). Perbedaannya hanya terletak pada label dan kata-kata yang diberikan. Dan sekarang, aku akan mencoba menjawabnya melalui pendekatan teori katalis.
Katalis adalah suatu zat yang berperan sebagai pemercepat reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi reaksi tersebut. Dengan kata lain, katalis adalah pihak ketiga yang menyebabkan suatu reaksi berjalan lebih cepat daripada seharusnya (tanpa diberi katalis). Bila pengertian di atas masih terlalu rumit, anggaplah katalis sebagai "makcomblang" yang menyebabkan terjalinnya hubungan satu orang dengan orang lainnya menjadi lebih cepat. Dalam menjalankan tugasnya, katalis pun mengambil bagian dalam reaksi, tetapi tidak mengalami perubahan kimia yang permanen (be careful Guys!). Mengingat perannya sebagai "makcomblang" inilah, maka proses pemilihan katalis menjadi sangat penting adanya.
Konsep di atas merupakan konsep katalis berbasis materi (zat). Terkait dengan "percobaan roti", aku akan mencoba memaparkan sebuah konsep yang aku beri nama konsep katalis berbasis energi. Perbedaan kedua jenis katalis ini terletak pada wujudnya saja, namun memiliki fungsi yang sama, yaitu mempercepat reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasinya. Satu-satunya hal yang paling tepat untuk memaparkan konsep katalis berbasis energi ini adalah DOA. Doa adalah sepaket energi yang kita keluarkan dari lubuk hati menuju Energi Yang Maha Besar. Hati (Heart) merupakan pemancar energi yang sangat potensial dalam diri kita. Penelitian yang dilakukan HeartMath Institute menunjukkan bahwa medan magnet dari hati bahkan 5000 kali lebih kuat daripada yang ditimbulkan oleh otak (Franckh, 2009)
Agar dapat dibawa ke dunia luar, energi dari hati ini membutuhkan sebuah media. Media yang dimaksud terkenal dengan beberapa nama, diantaranya: medan kuantum, medan matriks, atau kuantum hologram. Medan energi ini memungkinkan kita terhubung dengan apapun dan dengan siapapun, secara sadar atau tidak. Menjadi jelaslah bahwa doa memberikan suatu mekanisme reaksi tersendiri terhadap sesuatu dan bekerja dalam dimensi energi.
Mohon maaf bila konsep ini mengaburkan perihal teknis karena bagaimanapun juga alam semesta tidak diciptakan untuk bisa dimengerti hanya oleh logika. Biarlah logika dan perasaan menempatkan dirinya masing-masing dalam memaknai hidup ini. Logika tanpa perasaan hanya akan mendatangkan keangkuhan, sedangkan perasaan tanpa logika menyebabkan kerapuhan. Bersyukurlah kita yang telah dianugerahkan-Nya logika dan perasaan ini.

Kamis, 15 Oktober 2009

Atom: Samudera Kerendahan Hati


Kata atom sudah tidak asing lagi di telinga para kimiawan, fisikawan, binaragawan, dan kawan-kawan sekalian. Secara sederhana, atom didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Dapat diartikan pula bahwa atom adalah penyusun suatu materi. Definisi ini cukup memberikan suatu gambaran sederhana bahwa ada sesuatu yang kecil sebagai penyusun sesuatu yang lebih besar. Banyak orang “beranggapan” (karena memang tidak dapat melihatnya) bahwa atom adalah penyusun terkecil suatu unsur. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena atom juga terdiri dari beberapa elemen penyusun, diantaranya elektron, neutron, dan proton. Apakah elektron merupakan elemen yang terkecil? Jawabannya tentu saja bukan karena masih ada kuark dan kawan-kawannya yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberi kebingungan baru terhadap definisi atom, hanya ingin membeberkan fakta sederhana tentang atom tanpa kehilangan segi keilmiahannya.
Banyak orang di zaman dahulu ingin meneliti “isi” dari atom. Bukan karena kurang kerjaan, tapi hanya dengan hal demikianlah seorang ilmuwan mempercayai sesuatu. Keingintahuan para ilmuwan tersebut membawa mereka hanyut dalam beragam penelitian. Hal inilah yang menyebabkan seseorang bernama Ernest Rutherford melakukan penelitian dengan menggunakan sinar alfa. Penelitian Rutherford terdiri atas penembakan foil emas tipis dengan menggunakan sinar alfa dan mengamati pembelokannya lewat kerlipan yang dihasilkan pada layar ZnS (seng sulfida). Yang paling menarik dari penelitian Rutherford ini adalah perilaku sinar alfa setelah ditembakkan dan mengenai foil emas tipis tersebut. Ada sinar yang terbelokkan dengan sudut yang besar, sebagian kecil “dipantulkan” oleh sesuatu, dan sebagian besar bergerak lurus melewati foil. Ini berarti bahwa sebagian besar atom tersebut terdiri atas ruang hampa (kosong) sehingga sinar alfa dapat menembusnya tanpa mendapat halangan sedikitpun dan sebagian kecilnya terdiri atas sesuatu yang kemudian dikenal sebagai inti atom.
Menjadi begitu bermakna ketika “kekosongan”atom ini menjadi dasar perilaku hidup kita. Tidak jarang dijumpai bahwa sesuatu yang tampak berisi sesungguhnya adalah kosong namun bukan tanpa arti. “Kekosongan” atom ini jangan diartikan bahwa tidak ada yang berguna dalam hidup. Apalagi sampai diartikan bahwa hidup itu hanya kekosongan belaka. Itu pengertian yang terlalu ekstrem. “Kekosongan” atom ini baiknya dimaknai bahwa kerendahan hati menjadi penting dalam hidup. Menjadi tidak sepantasnya kita menjadi angkuh karena menganggap diri paling “berisi” (paling pintar, paling ganteng, paling cantik, paling kaya, paling terkenal, dan paling berkuasa). Bila kita sulit mendapat pemahaman dari hal-hal yang besar, ada baiknya kita memahami hal-hal kecil. Dan atom telah mengajarkan kepada kita semua untuk menjadi “kosong” dalam “keberisian” yang tampak. Aku tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi hal yang indah. Aku pun ingin belajar untuk senantiasa berjalan dalam kedamaian hidup bersama kerendahan hati. Seorang guru pernah bertutur bahwa hidup itu harus besar dan luas, namun sederhana dalam sikap. Hal ini menyiratkan bahwa kesederhanaan bukan tumbuh karena kita tidak memiliki apa-apa, tetapi justru muncul karena kita memiliki banyak sekali hal yang tidak ada satupun diantaranya menjadi pantas untuk disombongkan. Sebagai penutup, mudah-mudahan hal yang kecil ini dapat menjadi samudera pemahaman bagi kita semua untuk selalu rendah hati dalam bersikap, sehingga kedamaian mewujud dengan ikhlas.

Senin, 16 Maret 2009

Relativitas Kata Sifat

Kata relativitas pertama kali aku dengar ketika mengenyam pendidikan di bangku SMP, tepatnya SMP 6 Mataram. Kata ini terdengar asing sekali dan tidak bernuansa Indonesia. Apalagi banyak rumus-rumus matematika dan fisika yang lahir dari konsep ini. Sungguh membuat kepalaku pusing tidak karuan... Namun, life must go on, Bro!
Setelah kupikir-pikir dengan seksama, ternyata konsep relativitas ini sangat penting. Konsep ini banyak mengajarkanku tentang kesabaran. Kesabaran yang muncul akibat suatu kesadaran bahwa seluruh kata sifat yang ada di dunia ini bersifat relatif. Relatif karena setiap orang mempunyai parameter penilaian tertentu terhadap suatu hal. Parameter ini tidak muncul dengan sendirinya, tetapi dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, dan interaksi sosial. Sampai disini aku harap kata-kataku tidak terlalu berat...!! Lanjut Mang!!
Sebagian besar dari kita pasti pernah mengomentari karya orang lain. Bukan hanya karyanya, tapi orangnya pun kita komentari. Oleh karena itu, acara gosip masih tetap bisa bertahan di Indonesia. Kata-kata yang sering keluar tidak terlepas dari kata sifat seperti: jelek, bagus, rapi, kotor, bau, tinggi, rendah, panjang, pendek, besar, kecil, ganteng, cantik, galak, cerewek, pendiam, jahat, baik, kalem, dll, dsb, etc. Semua kata sifat tersebut sangat bergantung terhadap batas-batas penilaian yang ditetetapkan seseorang. Cantik menurut seseorang, belum tentu cantik untuk orang lain. Jelek bagi seseorang, belum tentu jelek bagi yang lain. Semuanya sangat relatif..!! Jadi, jangan terlalu bangga atau berkecil hati terhadap predikat yang diberikan seseorang kepada kita. Bangunan dikatakan tinggi karena memang ada yang lebih rendah. Penggaris dikatakan panjang karena ada yang lebih pendek. Gentong dikatakan besar karena ada yang lebih kecil. Kata baik muncul karena ada sesuatu yang kurang baik sebagai pembanding.
Relativitas seperti ini pasti sangat merepotkan. Oleh karena itu, manusia berpikir untuk mengurangi kerepotan tersebut dengan menyepakati beberapa besaran pokok. Aku tidak akan membahas tujuh besaran pokok fisika yang akan membuat catatan ini bernuansa akademik, tapi bila ingin tahu silahkan buka buku fisika yang sekarang ada di gudang belakang rumah dan tergeletak dengan nyamannya di dalam kardus coklat tua...!(“,)
Konsep relativitas ini seharusnya mampu membuat kita berpikir lebih dinamis dan tidak mudah putus asa. Tidak ada yang kekal di dunia ini selain perubahan itu sendiri. Saat ini ribuan pasang mata sedang memandang kita, ribuan telinga siap untuk mendengar kata-kata yang memberi pencerahan, dan banyak tangan yang siap mengangkat kita disaat kita jatuh. Jadi, persiapkan diri kita untuk dinilai orang lain. Menjadi diri sendiri merupakan salah satu cara untuk bersikap jujur pada diri sendiri dan orang lain. Mulailah hari dengan senyuman, maka dunia akan tersenyum dengan tulusnya.

Kamis, 12 Februari 2009

Angka 8

Seluruh angka yang ada di muka bumi ini mempunyai keunikan masing-masing. Hal tersebut berlaku juga untuk angka 8 (baca: delapan). Bentuknya cukup khas: tidak memiliki titik sudut (bila dituliskan dengan jenis font: times new roman, calibri, comic sans, maupun arial black) dan tidak ada suatu titik akhir pada penulisan angka ini karena merupakan paduan dua bulatan yang sangat istimewa.
Titik sudut merupakan “titik lemah” pada suatu bangun, baik bangun datar maupun bangun ruang. Oleh karena itu, design terowongan kereta api menggunakan bentuk setengah lingkaran untuk menopang beban yang ada di atasnya. Seandainya bentuk yang digunakan merupakan bangun-bangun yang memiliki titik sudut, seperti persegi atau segitiga, pasti daya topangnya lebih rendah. Kekuatan suatu bangun yang tidak memiliki titik sudut tersebar merata ke seluruh bagian, sehingga tidak ada dominasi pada satu sisi. Semakin kecil sudut suatu bangun, maka bangun tersebut semakin tajam dan itu sangat berbahaya karena dapat melukai sesuatu yang ada di dekatnya. Hal ini dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semakin sempit/kecil sudut pandang yang kita gunakan untuk menilai/memahami sesuatu, maka hasil yang didapatkan tidak maksimal. Oleh karena itu, dibutuhkan perluasan sudut pandang dengan cara banyak belajar dari pengalaman, sehingga kita memiliki pandangan yang luas dan mampu menilai sesuatu dengan bijak/tidak dari satu sudut pandang saja.
Sifat kedua yang juga cukup unik dari angka 8 adalah tidak ada titik akhir karena keseluruhan garis bersatu padu membentuk dua lingkaran yang sangat indah. Prinsip ini sangat baik diterapkan dalam dalam kehidupan kita, terutama terkait dengan konsep usaha. Tidak ada kata menyerah dalam mencapai sesuatu yang kita inginkan. Berusahalah dengan segenap tenaga yang kita miliki. Jadikan satu rangkaian yang tidak terputus dan lumuri dengan doa yang ikhlas. Apapun hasil yang didapat merupakan hal terbaik yang Tuhan berikan untuk umat-Nya.
Angka 8 juga memberi kesan positif bagi mahasiswa kimia. Angka ini ditetapkan sebagai angka tertingga dalam penyusunan unsur golongan A. Unsur-unsur VIII A merupakan unsur yang stabil karena memenuhi kaidah oktet dan duplet. Unsur-unsur tersebut adalah He, Ne, Ar, Kr, Xe, dan Rn. Seluruh unsur yang ada di alam ini berikatan untuk mencapai kestabilan seperti gas mulia. Begitu juga dengan manusia, saling berikatan untuk mencapai kestabilan dan kebahagian.
Hal yang sama terkait juga dengan tangga nada. Karena angka 8 identik dengan kestabilan, maka nada-nada yang terdiri dari do rendah sampai do tinggi merupakan suatu tangga yang stabil. Begitu harmonisnya bila kita mampu memainkannya dengan baik. Tidak ada benturan frekuensi yang terjadi karena semuanya telah berada pada posisinya masing-masing tanpa ada keinginan untuk menduduki posisi yang lain.
Selain itu, angka 8 juga merupakan hitungan tertinggi yang digunakan saat kita melakukan pemanasan sebelum olah raga yang sebenarnya. Harapannya, dengan metode perhitungan seperti ini, kita akan merasa senang dalam beraktivitas dan meminimalkan cedera yang terjadi.
Akhir kata, selamat beraktivitas dan semoga tulisan ini memberikan manfaat yang berarti.


Minggu, 11 Januari 2009

Asimtot (mendekat tetapi tidak menyatu)

“Hari ini kita akan belajar mengenai trigonometri, adik-adik! Trigonometri adalah salah satu cabang ilmu matematika yang mempelajari tentang indahnya hubungan antargaris pada segi tiga. Tahu segitiga nggak? Klo nggak tahu, balik lagi aja ke TK!!

Berbicara tentang trigonometri pasti bicara juga tentang tiga serangkai ini; yakni sinus, cosinus, ma tangen (udah pada tahu rumus cepetnya kan, soalnya nggak akan diajarin disini). Sin, cos, ma tan udah kaya keluarga aja. Jangan memisahkan mereka bertiga dari ingatan selama kita ada di kelas IPA karena usaha itu akan memisahkamu dengan temen-temen sekelas yang kamu cintai dan mendekatkanmu dengan adek-adek kelas. Bahaya Brur!!!

Kita nggak akan membahas sin, cos, ma tan secara keseluruhan, tapi kita akan lebih fokus pada tan aja. Ini bukan usaha pemisahan loh, cuma pemokusan (ngeles!). Nilai tangen dari suatu bilangan bervariasi, tergantung dari besarnya bilangan tersebut. Semakin besar bilangan yang dioperasikan dengan operator tangen tidak menjamin hasilnya akan semakin besar pula. Sebagai contoh, nilai tangen 45 = 1, sedangkan nilai tangen 180 = 0. Kita ketahui bersama bahwa nilai 45 lebih kecil daripada 180, tetapi nilai tangennya memberikan hasil yang lebih besar. Ini bukan sulap, pemirsa!

Pada segitiga, nilai tangen suatu sudut dapat diketahui dengan membandingkan panjang sisi depan dan panjang sisi samping sudut yang bersangkutan. Biar lebih bingung lagi, nilai tan suatu bilangan dapat diperoleh dari perbandingan nilai sin dan cosnya. Udah mulai ngerti kan!!?!

Sekarang kita berbicara lebih dalam lagi (kaya sumur aja!). Ada beberapa nilai bilangan tertentu yang saat kita operasikan dengan tan memberi nilai yang cukup unik. Unik karena kita akan melihat tulisan Math ERROR pada kalkulator casio fx-350MS. Kenapa bisa terjadi hal demikian? Setelah diselidiki oleh ahli-ahli matematika, hal tersebut terjadi karena nilai penyebut dari suatu perbandingan adalah 0. Jadi, bilangan apapun bila dibandingkan dengan 0 akan membuat kalkulator bingung tujuh keliling. Contoh bilangan yang memberikan nilai unik ini adalah tangen 90 dan 270. Nilai ini akan sulit direpresentasikan pada suatu grafik cartesian. Maka dari itu, dibuat suatu pendekatan dengan menggambarkan kumpulan titik-titik (garis) yang merupakan nilai-nilai tangen bilangan yang lebih rendah dan mendekati niai 90 atau 270. Garis ini bentuknya melengkung dan sangat indah. Garis ini berusaha mendekati suatu garis lurus tertentu, namun tidak menyinggungnya sama sekali apalagi memotongnya. Berusaha untuk terus mendekatinya, tapi tidak akan pernah bersatu dengan garis lurus tadi. Inilah filosofi asimtot….sang pengagum sejati; berusaha ada di dekat seseorang yang dikagumi, tanpa ada keinginan untuk menyakitinya dan sadar dengan sepenuhnya bahwa menjadi satu terkadang bukan pilihan yang bijak.”

Teeetttt….teeettttt….teetttetteee….t….!!! “Udah waktunya istirahat, adik-adik!”

Tidak semua larutan dapat saling campur! (Oleh : Asisten Percobaan 5 Kimia Dasar 1)


Mencampur larutan adalah hal yang tidak terlalu sulit untuk dilakukan seorang mahasiswa kimia. Laboratorium menjadi tempat yang asyik untuk melakukan pekerjaan ini. Banyak hasil yang dapat diperoleh dari hanya mencampur larutan. Timbulnya warna pada campuran, keluarnya gas, dan terbentuknya endapan bukanlah pemandangan yang aneh lagi. Sungguh sesuatu yang biasa….biasa membuat bingung bila harus menjelaskan reaksinya..hehe.

Terlepas dari kebingungan tadi, aku hanya ingin mencoba menjelaskan tentang campur-mencampur ini dalam kaitannya dengan suatu hubungan manusia. Manusia selalu berhubungan dengan manusia lainnya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Hubungan tersebut tidak selamanya berjalan dengan mulus dan tidak semua manusia bisa berhubungan dengan manusia lainnya dengan nyaman. Ada konflik sebagai bumbu.

Begitu juga dengan larutan. Hanya ada satu prinsip dalam pelarutan, yaitu like dissolved like. Larutan satu akan mampu bercampur sempurna dengan larutan lain apabila memiliki sifat (polaritas) yang sama atau tidak jauh berbeda. Bila pencampuran dilakukan antarlarutan yang memiliki tingkat polaritas yang berbeda, maka akan terbentuk lapisan antarmuka (interface) yang memisahkan kedua fase larutan. Peristiwa tersebut dapat kita lihat dengan nyata pada campuran air dan minyak. Salah satu hal yang dapat kita lakukan agar larutan yang tidak saling campur tersebut menjadi bercampur yaitu dengan mengatur temperatur campuran. Pengaturan temperatur dapat dilakukan dengan memanaskan atau mendinginkan campuran. Dengan begitu, diharapkan campuran tersebut tidak akan terpisah lagi. Tapi perlu diingat bahwa ada beberapa campuran yang membutuhkan suhu ekstrim (sangat tinggi atau sangat rendah) agar dapat saling bercampur satu sama lain.

Maka dari itu tidak heran bila melihat orang yang satu selalu tidak akur dengan orang yang lain. Ada orang yang sangat mencintai orang yang lain. Ada orang yang sangat akrab dengan orang yang dulunya sangat dia benci karena sudah melewati suatu proses pengaturan temperatur. Kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk mengatur temperatur emosi diri kita sendiri. Tidak seperti larutan yang membutuhkan pengaturan temperatur dari lingkungan. Sekarang, sudah saatnya kita mengatur temperatur emosi kita untuk dapat berhubungan baik dengan semua orang…(“,)

Usaha tidak bergantung waktu

Baru-baru ini aku sempat membaca buku fisika kelas 2 SMP (sekarang dikenal dengan kelas 8). Buku itu mengingatkanku tentang dasar-dasar energi dan usaha. Ada satu hal yang menyita perhatianku saat itu, yaitu persamaan usaha. Konsep ini sangat fundamental dan membuatku benar-benar tergugah. Persamaan usaha itu adalah :

W = F.s

dengan W=Usaha, F=gaya, dan s=perpindahan.

Tidak ada variabel waktu dalam persamaan di atas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usaha tidak bergantung dengan waktu. Kita harus selalu berusaha dalam hidup ini, sepanjang waktu. Tidak ada batasan dalam berusaha. Variabel yang cukup kuat pengaruhnya adalah F (Force) atau gaya yang dapat dianalogikan dengan kemampuan. Jadi, berusahalah sesuai kemampuan kita, jangan terlalu memaksakan diri. Tetap semangat dan tetap berusaha untuk menggapai mimpi-mimpi kita…Chayoo!!!

Minggu, 07 September 2008

Mekanika Klasik dan Mekanika Kuantum.

Termodinamika adalah salah satu mata kuliah yang menjabarkan dengan sangat indahnya perbedaan mekanika klasik dan kuantum. Karena keindahannya itu, banyak mahasiswa yang menjadi terlena dan terbuai sehingga terlibat lebih sering ke dalamnya..(”,)
Ada perbedaan yang paling mendasar diantara mekanika klasik dan kuantum. Perbedaan itu adalah tentang jarak pandang. Mekanika klasik memandang sesuatu dari jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan mekanika kuantum. Contoh sederhananya adalah sebagai berikut: Pantai di Kenjeran Surabaya merupakan suatu pemandangan yang indah dan kontinya dari sudut pandang mekanika klasik. Birunya pantai merupakan suatu kesatuan yang utuh. Deburan ombak menambah meriah suasana. Namun, mekanika kuantum tidak memandang demikian. Dari sudut pandang kuantum, pantai terdiri dari sesuatu yang tidak kontinyu (terpaket-paket). Paket-paket tersebut adalah butiran-butiran air. Hal tersebut terjadi karena mekanika kuantum mampu melihat sesuatu dari jarak yang dekat, sehingga mampu menjabarkan sesuatu lebih detail lagi. Hal yang sama bisa terjadi pada hamparan padang pasir di Mesir. Mekanika kuantum memandang bahwa hamparan padang pasir terdiri dari kuanta (paket) yang berupa butiran pasir.
Kedua perbedaan ini saling melengkapi satu sama lain. Menambah indah khasanah ilmu pengetahuan. Perbedaan memang tak selamanya baik, tetapi yang terbaik pasti berbeda (setengah isi setengah kosong). Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi dalam hal jarak pandang. Sudah sepantasnya kita selalu belajar untuk melihat sesuatu lebih dekat, sehingga mampu memberikan suatu penilaian yang bijak. Kadangkala kita sering menilai sesuatu sebelum kita mengenalnya/mengetahuinya lebih dekat. Banyak perbedaan di alam ini yang menguji pertimbangan kita. Jangan menutup diri akan perbedaan, tetapi kontrol diri dengan iman. Mudah-mudahan dengan memandang sesuatu lebih dekat, kita menjadi lebih bijak....

Agama, Ilmu pengetahuan, dan Seni.

Ketiga hal yang menjadi judul di atas merupakan suatu segitiga sama kaki yang sangat kokoh dan baik bagi keseimbangan hidup. Mencapai kesetimbangan dalam suatu reaksi kimia berarti berhubungan dengan mengontrol faktor internal reaktan dan eksternal. Faktor internal reaktan dapat berupa kadar/konsentrasi, sedangkan faktor eksternal dapat berupa temperatur dan tekanan. Kontrol yang sama dapat diterapkan untuk ketiga hal di atas. Ketiga hal tersebut sebaiknya kita ”kontrol” kadarnya agar tercapai keseimbangan dalam hidup. Kadar yang berlebihan dari suatu reaktan tertentu tentu menggeser tanda panah reaksi menjauhi kesetimbangan.
Agama mengarahkan hidup manusia. Mempelajari agama mendekatkan diri dengan Tuhan. Mengaplikasikan ajaran-Nya membuat hidup manusia lebih bermakna. Kita lebih tenang dalam menjalani hidup. Hidup tanpa arah menyesatkan manusia, sehingga sering muncul kebingungan.
Mempelajari ilmu pengetahuan dapat memudahkan hidup manusia. Banyak teknologi berkembang di dunia untuk kemakmuran hidup manusia. Banyak sistem yang diterapkan untuk memudahkan jalannya suatu proses. Bersyukurlah orang-orang yang selalu berusaha mempelajari ilmu pengetahuan untuk kemudahan hidup umat manusia.
Seni dibutuhkan untuk menghaluskan hidup kita. Alunan nada-nada, gemulainya gerak tari, indahnya guratan pada kanvas lukis, dan eloknya pahatan kayu membuat hidup terasa damai. Energi-energi yang dihasilkan menciptakan harmonisasi hidup yang indah.
Singkatnya, kesemuanya itu dapat diringkas dalam satu kalimat: Agama untuk mengarahkan hidup, ilmu pengetahuan untuk memudahkan hidup, dan seni untuk menghaluskan hidup manusia.

Senin, 25 Agustus 2008

Kimia Permukaan dan Kimia Inti

Dua mata kuliah di atas tidak bisa dianggap remeh. Jangan juga dibayangkan sebagai mata kuliah yang akan memperburuk indeks prestasi (IP). Hadapi saja dengan senyuman.......dan belajar tentunya.

Menyinggung mengenai permukaan dan inti memang memaksa kita untuk mencari batasan diantara keduanya. Batasan itu menjadi kasat mata saat kita kaitkan pada kehidupan sehari – hari. Mana sebenarnya yang merupakan bagian permukaan dan mana yang menyentuh inti permasalahan?

Banyak diantara kita yang sering melupakan esensi karena sibuk membenahi ”permukaan”. Tidak jarang pula kita mencoba menyelesaikan masalah yang justru penyelesaiannya tidak menyentuh sama sekali terhadap inti permasalahan. Contoh yang sangat sederhana yaitu saat kita membersihkan langit – langit kamar dari jaring laba – laba. Tindakan yang sering kita lakukan adalah membersihkan jaring laba – laba tersebut dengan sapu sampai bersih. Tindakan tersebut cukup baik dalam penyelesaian masalah, namun hanya menyentuh permukaan masalahnya saja. Masalah yang utama adalah mengapa sampai ada jaring laba – laba di kamar? Jawabanya tentu saja adalah karena ada laba – laba dan laba – laba tersebut cukup nyaman untuk tinggal di kamar yang jarang dibersihkan. Tindakan yang seharusnya dilakukan adalah mengusir (karena membunuh dianggap terlalu kejam) laba – laba itu dari kamar dan tidak lupa membersihkan kamar tersebut. Hal terakhir inilah yang dapat dikatakan penyelesaian masalah yang menyentuh pada inti permasalahan.

Contoh tersebut tentu terlalu sederhana bila dibandingkan dengan masalah – masalah hidup lainnya, tetapi kita selalu mencoba belajar dari hal yang sederhana menuju kepada hal yang lebih kompleks. Chayoo!!!

(NB: Tulisan ini tidak bermaksud untuk membanding – bandingkan kedua mata kuliah yang menjadi judul di atas. Terima kasih.)

Tentang pikiran dan energi..

Tiada hari tanpa bepikir. Berpikir positif atau negatif adalah pilihan. Semua mempunyai dampak bagi kehidupan kita. Lalu apa hubungannya dengan energi?

Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Banyak alat yang dapat mengubah energi, contohnya adalah setrika yang mampu mengubah energi listrik menjadi energi panas dan generator yang dapat mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Pikiran juga dapat difungsikan demikian. Pikiran dapat digunakan untuk mengubah satu bentuk energi menjadi bentuk energi lain yang lebih baik. Energi negatif yang masuk selayaknya dikelola dengan baik pada pikiran, sehingga menjadi energi positif. Energi positif ini sangat baik untuk kesehatan. Tidak sedikit orang yang stress akibat tidak mampu mengubah energi yang masuk dengan pikirannya. Aku bukan orang yang tidak pernah stress, hanya orang yang selalu berusaha dengan pikirannya untuk mengubah energi yang masuk menjadi baik untuk kesehatan. Anugerah berupa pikiran ini seharusnya kita manfaatkan dengan baik. Kita gunakan tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk makhluk lain dan alam semesta.

Bukan perkara mudah untuk mengubah satu bentuk energi menjadi bentuk energi lain melalui pikiran. Terkadang peran perasaan lebih dominan, sehingga sulit mentransformasikan energi yang masuk. Berlatihlah mulai dari hal yang kecil dan sederhana....Semangat!