Minggu, 30 September 2012

Buah yang Terjatuh




Beberapa hari yang lalu, tepatnya seminggu yang lalu, tanggal 23 September 2012, saya bertemu dengan seorang pria pada satu sesi seminar di salah satu hotel di Surabaya. Pria ini sangat bersemangat. Usianya mungkin berkisar 30-35 tahun. Semangatnya bisa terlihat jelas dari tatapan mata dan gerakan tubuhnya. Dia berkeliling dari deretan bangku satu ke deretan bangku lain untuk membagikan kartu namanya. Hingga sampailah di deretan bangku dimana saya duduk. Akhirnya, terjadi percakapan. Saya lihat kartu namanya, tertera nama Atim Wibisono. Saya ulangi nama tersebut untuk memastikan bahwa saya mengejanya dengan benar. Kemudian dia menjawab, “Betul Mas, nama saya Atim, saya anak yatim!” Seketika itu juga saya tertawa karena saya mengira dia bercanda. Ada orang-orang yang memang senang mengaitkan namanya dengan suatu kejadian tertentu yang belum tentu benar. Kemudian dia berbicara lagi, “Loh, bener Mas, saya anak yatim, saya tidak punya bapak, ketika lahir ya ploong aja, ditinggal dan ditaruh aja, yang penting bisa hidup. Saya lulusan SD, saya berjuang sampai bisa seperti sekarang.” Seketika itu juga saya tertegun, saya lihat kembali kartu namanya, terdapat tulisan yang menunjukkan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengemasan produk. Saya tidak tahu persis apakah dia bekerja disana atau pemilik perusahaan tersebut, tapi yang jelas pria ini begitu membuat saya kagum. 

Kisah yang diceritakan Mas Atim memang mengandung humor. Saat ini dia sudah berada pada posisi yang memungkinkan dirinya untuk memandangi dan menertawakan masa lalunya, menepuk dadanya dengan bangga karena sudah berhasil bangkit dari keterpurukan. Mungkin ada diantara teman-teman yang memiliki kesamaan cerita masa lalu dengan Mas Atim, namun saya yakin banyak yang lebih beruntung hidupnya. Banyak diantara kita yang masih memiliki orang tua hingga sekarang. Masih bisa duduk dengan nyaman di kursi sekolah, kuliah dengan tenang, kerja dengan aman. Kita syukuri keadaan ini, semoga orang tua kita senantiasa sehat dan bahagia. Dan bagi teman-teman yang orang tuanya sudah tiada, saya doakan semoga arwah mereka mendapat tempat yang baik dan segala amal semasa hidup mereka diterima disisi-Nya. Amin.

Kisah Mas Atim ini mengingatkan saya pada sebuah perumpaan tentang buah. Seperti dituliskan dalam banyak buku Bahasa Indonesia bahwa buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Arti dari perumpaan tersebut kurang lebih adalah bahwa karakter seorang anak tidak akan jauh dari karakter orang tuanya. Memang benar adanya bahwa karakter orang tua yang mengasuh kita semenjak kecil, memberikan pendidikan, perlindungan, dan tempat yang layak untuk tinggal, berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter diri kita. Tapi, mari kita tidak menelan arti perumpaan ini bulat-bulat. Kita kunyah dulu. Saya bahkan pernah bercanda dengan seorang teman dengan mengatakan, “Kalau pohonnya di tepi sungai, kan bisa beda ceritanya. Buahnya yang sudah matang dan terjatuh bisa saja langsung nyemplung ke sungai dan terbawa arus sungai, sehingga jauuuh dari pohonnya. Atau bisa juga pohonnya ada di lereng gunung, sehingga ketika ada buahnya yang jatuh, langsung menggelinding ke bawah dan berhenti pada posisi yang jauh sekali dari pohonnnya. Buah jatuh jauh dari pohonnya...hehe.” Mungkin Mas Atim termasuk ke dalam “buah” seperti contoh saya ini. 

Syukurnya, kita ini lebih sakti dari buah, kita bisa bergerak lebih dinamis dibandingkan buah. Kita bisa menentukan apa yang kita lakukan selanjutnya setelah “terjatuh dari pohon”. Kita bisa memilih untuk diam di tempat, bergerak maju, bergerak mundur, bergerak zig-zag, salto sambil bilang “Waaww”, dan lain-lain. “Terjatuh” bisa diartikan mengalami hal yang tidak diinginkan, bisa juga diartikan “sudah matang dan dewasa”, sehingga bisa menentukan sendiri tujuan hidup yang ingin dicapai. Tapi terkadang tidak semudah itu. Kita, “sebagai buah”, boleh memiliki tujuan dan jalan hidup sendiri, tapi biasanya, “pohon” juga memiliki tujuan dan jalan hidup yang telah dirancang untuk “sang buah” tercinta. Bila tujuan dan jalannya sama, enak betul rasanya. Bila tujuannya sama, namun jalannya berbeda, ini agak pusing. Bila tujuan dan jalannya berbeda, ini pemicu kegilaan...hehe.  

Komunikasi semata terkadang tidak cukup. Kita, “sebagai buah”, harus menunjukkan antusiasme, kesungguhan, dan upaya yang konsisten dalam menjalani apa yang kita inginkan, hingga perlahan-lahan “pohon” mulai bisa memahami dan mengerti bahwa apa yang sedang kita jalani adalah hal yang juga baik, namun dengan jalan yang berbeda. Bila belum bisa saling memahami? Sabar, apapun yang kita lakukan akan terbayar, namun pastikan bahwa yang kita lakukan adalah hal yang baik bagi diri kita dan keluarga. Dan jangan lupa doa. Di depan “pohon”, kita manggut-manggut, tapi saat berdoa, tolong yang paling sesuai dengan hati. Kan Tuhan penguasa “pohon” juga..hehe. Sentuhan terakhirnya dengan amal. Niatkan sedekah kita agar kita bisa menjalani hidup ini di atas jalan yang kita tentukan sendiri, bukan di atas jalan yang ditentukan orang lain bagi kita, sekalipun mereka adalah orang-orang yang kita cintai. Cinta, bagi saya, itu sebenarnya lebih kepada memberikan kebebasan bagi orang lain untuk melihat keindahan dalam dirinya sendiri, daripada membentuk orang lain menjadi indah berdasarkan keinginan kita.  

Melalui catatan ini, saya tidak bermaksud menggurui siapapun. Saya tidak lebih baik dibandingkan teman-teman yang berkesempatan membaca catatan ini. Saya hanya ingin berbagi hal yang menurut saya baik. Bila ada hal yang bermanfaat, saya sangat bersyukur. Bila ada hal yang kurang berkenan, mari kita berdiskusi, sehingga nantinya catatan ini bisa menjadi lebih baik. Demikian yang bisa saya bagi pada kesempatan yang baik ini, selamat beraktivitas untuk semuanya. Happy Weekend! 

Surabaya, 30 September 2012 
Gambar dikutip dari: http://treelovers.premieretreeservices.com/2012/01/houston-fruit-trees/

Selasa, 14 Agustus 2012

Udeng dan Helm, Tentang Sebuah Dasar.


Beberapa hari yang lalu, aku berkesempatan mengikuti rangkaian upacara keagamaan yang dihadiri oleh ribuan umat Hindu di area pantai Matahari Terbit. Sebagian besar umat menggunakan sepeda motor, dan ada juga yang mengendarai mobil, sehingga cukup membuat jalanan menjadi penuh sesak. Semua umat menggunakan pakaian sembahyang, mulai udeng sampai kamen. Udeng adalah kain pengikat kepala yang bentuknya khas dan digunakan laki-laki pada saat terlibat dalam acara-acara yang bersifat keagamaan. Untuk perempuan memang tidak menggunakan pengikat kepala. Kamen adalah kain penutup bagian pinggang hingga kaki. Semua pengendara motor yang menggunakan pakaian sembahyang memang tidak menggunakan helm, tapi udeng. Hal seperti ini memang sudah sering aku amati dari dulu, terutama di Denpasar dan Mataram. Ada ‘toleransi’ dari pihak kepolisian untuk tidak menilang pengendara motor yang tidak menggunakan helm, namun menggunakan pakaian sembahyang.

Sementara di Surabaya, umat Hindu yang akan bersembahyang tetap menggunakan helm ketika sedang mengendarai motor. Sesampainya di tempat ibadah, barulah menggunakan udeng. Sebenarnya ini bagus. Aku lebih cocok dengan style yang ini..hehe. Bagaimanapun juga, ketika berkendara, kita sebisa mungkin mematuhi aturan lalu lintas. Helm digunakan untuk melindungi bagian tubuh kita yang sangat penting, yaitu kepala. Memang kita tidak mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi ketika bersepeda motor, namun bila kecelakaan tidak bisa dielakkan, helm akan menjadi benda yang paling berjasa.

Aku sempat bertanya kepada beberapa orang, “kenapa tidak menggunakan helm ketika berpakaian sembahyang?” Sampai saat ini belum ada jawaban yang membuat hatiku lega. Jawaban yang keluar biasanya, “tenang aja, polisi gak akan nilang!” Jawaban ini memang tidak nyambung, tapi menarik, ayo kita bahas! Kita menggunakan helm ketika bersepeda motor di jalan raya kan bukan semata-mata untuk menghindari tilang dari polisi, tetapi untuk melindungi diri kita, terutama kepala, terhadap benturan apapun yang mungkin terjadi. Dengan kaca helm, mata kita bisa terhindar dari debu jalanan yang terbawa angin. Selain itu, rambut yang baru saja dikeramas bisa terjaga kebersihannya di dalam helm. Intinya, helm digunakan untuk melindungi diri kita sendiri, sebagai bentuk dari rasa cinta kepada diri kita sendiri, bukan semata-mata untuk menghindari tilang polisi. Kalau yang terakhir itu menjadi alasan mengapa kita memakai helm, kita akan cenderung mudah menemukan kesempatan untuk bersepeda motor tanpa helm ketika tidak ada polisi yang bertugas di jalan raya. Di lain pihak, udeng terbuat dari bahan kain yang tentu tidak sekuat bahan pembuat helm. Dari segi tekstur bahannya, helm lebih baik dalam hal perlindungan kepala dibandingkan udeng saat kita bersepeda motor. Dan juga, selama ini, aku tidak pernah merasa kepalaku lebih keras ketika menggunakan pakaian sembahyang dibandingkan ketika menggunakan pakaian yang lain…hehe. Jadi menurutku, helm itu tetap perlu digunakan ketika bersepeda motor, walaupun dan meskipun kita berpakain sembahyang.

Apa poin dari catatan ini? Seringkali yang aku rasakan dalam kehidupan ini adalah bahwa kita bergerak karena didasarkan oleh salah satu dari 2 ENERGI. Energi takut dan energi cinta. Ini yang aku rasakan, tapi bila ada hal lain yang teman-teman ketahui, mohon bersedia untuk melengkapi catatan ini. Kita biasanya lebih mudah bergerak ke arah sesuatu yang kita sukai atau cintai. Aku mencintai basket, sehingga berlatih basket. Namun, ada juga yang berlatih basket karena merasa tersiksa dengan ukuran tubuhnya. Ada yang hobi dalam bidang teknologi karena memang menyukainya, tapi ada juga yang memelajari teknologi karena “takut disangka” tidak gaul oleh teman-temannya. Ada yang beribadah karena memang senang sekali mengucap syukur atas anugerah Tuhan dalam hidup, ada juga yang beribadah karena takut akan bencana, karena takut ketika tidak beribadah, sesuatu yang buruk akan terjadi. Ada yang memakai helm karena lebih berniat untuk melindungi dirinya saat bersepeda motor, ada juga yang karena menghindari tilang polisi. Ada yang mengerjakan PR karena memang menyukai tugas sekolah, ada juga yang takut dimarahi ibu guru bila tidak mengerjakannya. Aktivitasnya sama, namun digerakkan oleh energi yang berbeda.

Setelah aku pikir kembali, ketika sekolah dulu, banyak hal yang aku lakukan karena takut hal buruk terjadi. Takut dihukum di depan kelas, takut dimarahi guru dan orang tua, takut diledek teman-teman, takut kulit gosong karena dijemur, takut ditolak, dan takut-takut yang lain. Namun, sekarang aku berupaya untuk melakukan sesuatu atas dasar cinta. Mengapa? Karena dasar cinta itu LEBIH SOFT dan POWERFULL dibandingkan dasar takut. Alasan yang berdasar cinta membuat langkah semakin ringan, kita semakin cepat berkembang, dan meningkatkan kepuasan diri. Melangkah dengan alasan dasar ketakutan akan membuat langkah berat, stress, pusing, cepat marah, dan sering kecewa. Memang ada saja hal-hal yang kita takutkan dalam hidup ini. Ideal sekali rasanya bila berbicara melakukan semua hal dalam hidup ini atas dasar cinta. Namun, dengan pikiran dan hati kita, kita bisa perlahan-lahan untuk menggeser niat kita ke arah yang meringankan langkah. Mungkin dalam beberapa aspek terlebih dahulu, kemudian disusul yang lainnya. Semua orang ingin berbahagia, jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melangkah secara damai. Dan cinta itu sendiri adalah energi yang mampu mendamaikan hati dan meringankan langkah kita dalam hidup ini. Aku mencoba, teman-teman juga ya..(“,)!

Denpasar, 14 Agustus 2012
Gambar dikutip dari: oyeblog

Senin, 13 Agustus 2012

Satu, Loro, Three...


Aku sangat yakin, sebagian besar dari teman-teman sudah mengenal deretan angka yang menjadi judul tulisan ini, yaitu satu, dua, tiga. Loro berasal dari bahasa Jawa yang berarti dua, sedangkan three berasal dari bahasa Inggris yang berarti tiga. Lalu, mengapa dicampurkan antara bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris? Ya suka-suka. Sebagai orang yang pernah berkutat lama dengan ilmu kimia, aku senang mencampur-campurkan sesuatu agar menghasilkan sesuatu yang baru..hehe. Kalau belum menghasilkan sesuatu yang baru berarti belum reaksi kimia…(“,)

Ok, kita mulai. Kita semua sudah mengenal konsep angka semenjak di taman kanak-kanak. Biasanya konsep angka disandingkan dengan gambar-gambar. Misalnya, untuk menunjukkan angka satu, digambarkan seekor bebek yang sedang berenang. Untuk menunjukkan angka dua, digambarkan dua batang korek api. Untuk menunjukkan angka tiga, digambarkan tiga buah mobil, dan seterusnya. Mengapa harus disandingkan dengan gambar? Agar lebih mudah ditangkap pikiran. Pikiran kita yang canggih itu senang sekali dengan gambar-gambar, apalagi yang berwarna-warni. Sederhananya, gambar/simbol digunakan untuk memudahkan sesuatu masuk ke dalam pikiran. Coba saja bayangkan tugu! Yang muncul di pikiran kita, walaupun tidak sama bentuknya, adalah sebuah gambaran bentuk tugu, bukan deretan huruf T, U, G, dan U, apalagi deretan huruf I, T, dan S..hehe. Dengan catatan, kita sudah pernah melihat tugu sebelumnya. Bila belum? Ini yang namanya pikiran akan galau..(“,)

Seiring semakin tingginya pendidikan, gambar/simbol semakin disederhanakan. Untuk menunjukkan angka satu, cukup dituliskan 1. Untuk menunjukkan angka dua, cukup dengan 2. Untuk menunjukkan angka tiga, ditulis 3. Angka-angka tersebut juga adalah gambar/simbol dan tentu saja lebih sederhana dibandingkan gambar bebek, korek api, dan mobil. Karena kita tinggal di Indonesia, sehingga kita mengenal bentuk angka satu, dua, dan tiga seperti yang ada sekarang ini (1, 2, dan 3). Coba saja kita tinggal di Mesir, Arab, India, Cina, pasti berbeda bentuknya. Berbeda bentuk, namun esensinya sama. Jadi sebenarnya, konsep angka itu abstrak, namun disederhanakan dengan simbol/gambar, sehingga lebih mudah dilihat, dijangkau pikiran, dan diingat. Kemudian berkenalanlah kita dengan ilmu-ilmu sains, terutama matematika, yang mampu meng’konkret’kan konsep abstrak tersebut, sehingga banyak yang menyebut ilmu-ilmu sains sebagai ilmu-ilmu pasti.

Itu tadi tentang perbedaan bentuk. Sekarang tentang penamaannya. Jangan bandingkan dengan luar negeri dahulu. Di Indonesia saja, satu-dua-tiga disebutkan dengan berbagai nama. Ada yang menyebutnya dengan hiji-dua-tilu. Ada yang senang melafalkannya dengan setunggal-kalih-tiga, siji-loro-telu, asa-dua-talu, besik-due-telu, sekeq-due-telu, sada-dua-tolu, dan lain-lain. Bila aku uraikan terus, pasti akan sangat panjang. Namun, poinnya adalah berbeda nama, esensi sama.

Banyak hal dalam hidup ini yang sebenarnya memiliki esensi yang sama, namun dalam RUPA dan NAMA berbeda. Hal tersebut dikarenakan perbedaan daya interpretasi dan tafsir kita akan sesuatu. Mengacu terhadap hal tersebut, aku mengajak teman-teman untuk bersama-sama terus belajar, memperdalam sesuatu, dalam hal apapun yang disukai. Mulai menghaluskan daya penglihatan untuk menyentuh esensi setelah menyentuh eksistensi. Karena eksistensi sendiri mudah goyah dan seringkali berganti. Berhentilah meributkan sesuatu yang tampaknya berbeda, namun memiliki esensi yang sama. Damaikan diri kita, heningkan pikiran, ayo kita sama-sama belajar menghargai dan menghormati perbedaan.

Denpasar, 12 Agustus 2012
Gambar dikutip dari: http://nizarast.wordpress.com/2010/10/09/cara-mengetahui-angka-keberuntungan-lewat-tanggal-lahir/

Selasa, 31 Juli 2012

KA(CIN)TA


Kata...
Cinta...
Kata-Kata...
Cinta-Cinta...

Kata-Kata bisa mengandung Cinta...
Cinta bisa ada dalam Kata-Kata...
Cinta dalam Kata
Kata dalam Cinta

Cinta dalam Kata memang Cinta yang lemah,
namun lebih kuat dibandingkan Cinta dalam Sukma
yang terpenjara oleh rasa putus asa

Seperti sedang menunggu pedang
Pedang yang tajam, setajam cahaya matahari
yang mampu membelah malam

Dan bila pedang itu tak datang juga,
Cinta hanyalah Raja
yang duduk angkuh di atas singgasana hati
tanpa bisa bersabda kepada semesta

Kata-Kata adalah Bata-Bata
untuk membangun jembatan
antara hati dan dunia
agar cinta memiliki jalan
untuk berjalan
untuk menemukan apa yang dicarinya
atau sekadar
untuk lebih memahami
bahwa yang ada di luar, juga ada di dalam

Surabaya, 31 Juli 2012
Gambar dikutp dari: http://instingcinta.blogspot.com/2011/06/kumpalan-gambar-cinta-love.html

Sabtu, 14 Juli 2012

Pelajaran dari atas Trotoar


Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juli 2012, aku menyusuri jalan Ir. Soekarno bersama kekasih tercinta, Elva, dengan sepeda motor supraku yang kuberi nama Super. Super baru saja memasuki babak baru dalam hidupnya karena angka pada penunjuk kilometernya sudah kembali ke 000000 pada tanggal 26 Juni 2012. Tak terasa sudah 10 tahun aku bersamanya dalam suka dan duka, gundah dan sumringah, galau dan gurau. Betul-betul sahabat setia. Tidak terlalu banyak menuntut. Kalau sedang marah, paling hanya menggemboskan bannya sendiri, membanting plat nomernya ke jalan, menjelek-jelekkan suara klaksonnya, dan melepaskan pelukan rantainya. Seandainya ada yang ingin membelinya dengan harga 1 Milyar pun, aku tidak akan menjualnya. Karena hampir tidak mungkin juga ada orang yang mau membeli motorku dengan harga 1 Milyar, lebih baik digunakan untuk membeli mobil mewah atau mini bus sekalian, bisa untuk jalan-jalan sekeluarga...hehe

Ketika itu sekitar pukul 7 malam, kami berhenti di sebuah tempat makan yang berada di pinggir jalan, tepatnya di atas trotoar. Kami belum pernah mengunjungi tempat makan ini sebelumnya. Bukan seperti warung tenda, tempat makan ini tidak menggunakan tenda, jadi kepala pengunjung langsung beratapkan langit dengan taburan bintangnya. Ada beberapa pohon juga di sela-sela meja-meja makannya. Konsep yang sangat natural. Dan yang menyebabkan kami memutuskan untuk berhenti di parkiran tempat makan ini adalah karena tempat makan ini ramai sekali dengan pengunjung. Bukan hanya pengunjung yang membawa sepeda motor, tapi banyak juga yang membawa mobil. Bukan hanya pengunjung berkulit sawo kematangan seperti kulitku, tapi sebagian besar justru pengunjung yang berkulit putih. Tidak heran, karena makanan yang dijual di tempat makan ini bernuansa chinese. Tulisan yang kubaca besar di meja kasirnya adalah DIM SUM 100% HALAL.

Kuberanikan saja duduk di salah satu kursinya dan langsung memanggil salah satu pelayannya. Yang laki-laki tentunya...hehe. Kemudian aku menanyakan buku menunya. Tak disangka ternyata tempat makan ini tidak memiliki buku menu, jadi pengunjung harus langsung menuju ke tempat pemesanan sambil melihat aneka menu disana, dan menunjuk beberapa menu yang dipilih untuk disantap. Langsung saja aku dan Elva menuju tempat pemesanan. Banyak sekali jenis-jenis makanannya. Sangat asing sekali di mata, tapi ada satu menu yang sangat familiar dan ini adalah makanan favaritku. Ceker ayam. Warna bumbunya merah, aromanya lumayan lezat. Bagiku, ini satu-satunya menu yang masuk akal. Yang lainnya kebanyakan berbentuk bulat-bulat, dan pasti nama-namanya juga mbulet (membingungkan). Elva memesan makanan yang mirip seperti bakso yang ternyata bernama tom yam. Tom yam adalah sup yang berasal dari Thailand, sedangkan dim sum sendiri adalah hidangan ringan dari China. Semua menu di tempat makan ini, kecuali tom yam, disajikan dengan menggunakan mangkuk yang dibentuk bulat dari bambu, di dalamnya masih ada wadah yang terbuat dari porselen, sehingga kehangatan makanan tetap terjaga. Tom yam disajikan dengan menggunakan mangkok biasa. Untuk minumnya, aku memesan jus jambu biji dan es teh.

Sambil menunggu hidangannya, aku melihat-lihat para pengunjung yang sedang asyik menikmati makanannya sambil mengobrol dan bersenda gurau. Tempat makan sesederhana ini, yang menggunakan trotoar sebagai alas meja dan kursinya, yang menggunakan badan jalan untuk tempat parkirnya, yang membiarkan kepala pengunjung bersentuhan dengan angin malam, memiliki daya tarik yang luar biasa sehingga bisa membuat banyak orang menduduki kursinya, kemudian memesan, dan menikmati makanannya. Pasti makanannya enak. Begitu pikirku. Tidak lama berselang, makanan dan minuman kami datang. Setelah berdoa, langsung kusantap ceker ayamku. Dan benar, rasanya enak sekali. Ini ceker terenak yang pernah aku makan di Surabaya. Kulit cekernya sangat mudah terlepas dari tulangnya. Bumbunya kental dan rasanya pedas-manis. Walaupun, jari-jari tangan kananku agak pegal karena tidak terbiasa menggunakan sumpit, tapi tidak mengurangi kenikmatan menyantap makanan ini. Tom yamnya pun setali tiga uang. Kuahnya sangat segar. Pantas saja banyak yang berkunjung kesini. Menu dim sum, yang selama ini kulihat berada di balik kaca restoran berkelas, kini ada di pinggir jalan. Mantap. Pemiliknya berhasil membawa konsep resto ke trotoar. Cerdas.

Selesai makan, ada perasaan nikmat dan perutpun tidak terlalu kenyang. Pas. Mudah-mudahan harganya pun pas juga di kantong. Setelah kami selesai ngobrol-ngobrol, aku langsung menuju kasir. Ternyata harga makanannya cukup bersahabat dengan dompet, 7 ribu untuk setiap porsi, apapun menunya. Menarik. Setiap menu dipukul rata dengan harga yang sama. Setelah membayar, aku bertanya kepada kasirnya tentang ketidaktersediannya buku menu. Dan jawaban ini yang membuat aku semakin kagum terhadap konsep tempat makan ini. Kasir tersebut menjawab, “Kami memang sengaja tidak memberikan buku menu, kami ingin mengedukasi pengunjung yang datang”. Luar biasa. Selama ini interaksi pengunjung dan pelayan di tempat makan biasanya kurang intensif, hanya memesan makanan yang ada di buku menu, kemudian menanyakan harganya setelah selesai makan. Dengan tidak adanya buku menu, pengunjung akan lebih banyak bertanya tentang menu-menu yang ada, dan itu menyebabkan interaksi yang intensif dengan pemilik dan pelayan tempat makan. Jawaban-jawaban yang ramah disertai humor-humor ringan dan juga pemberian edukasi terhadap menu-menu yang ada akan membuat pengunjung merasa nyaman dan senang, yang pada akhirnya memicu kontinuitas untuk berkunjung kembali ke tempat makan tersebut. Mereka tidak hanya menjual makanan, mereka menyebarkan keramahan, humor, dan edukasi tentang menu. Ini yang membuat tempat makan ini berbeda dibandingkan dengan tempat-tempat makan lain yang juga berada di atas trotoar, tempat berjalannya para pejalan kaki. Malam itu, aku dapat pelajaran berharga dari atas trotoar...(“,)

Surabaya, 14 Juli 2012
Gambar dikutip dari: http://bonappettit.wordpress.com/2011/12/14/the-best-dim-sum-in-surabaya/

Jumat, 06 Juli 2012

Memberi Itu Jangan Sampai Ikhlas..


Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 3 Juli 2012, aku berkesempatan hadir dalam suatu kelas Enterpreneur University (EU) di Graha SA Surabaya. Beruntung juga bertemu lagi dengan orang-orang yang memiliki spirit dan visi yang sama tentang dunia bisnis. Membuat semakin semangat. Pada kesempatan itu juga, aku bertemu dengan Mas Among Kurnia Ebo, direktur Marketing SRABI KRATON 13 RASA, pemegang 9 merek produk SUPERKICAU Group, dan salah satu mentor EU. Aku mendapat banyak sekali pelajaran dari Mas Ebo tentang bisnis dan sedekah. Dari beliau juga aku mendapat sebuah konsep yang sangat berharga tentang sedekah atau derma atau memberi itu sendiri. Konsep ini menghancurkan konsep yang aku yakini selama ini tentang sedekah. Konsep tersebut sebentar lagi akan aku paparkan pada catatan ini.

Sebenarnya ada 2 konsep tentang sedekah yang dipaparkan Mas Ebo, namun konsep yang kedua akan aku kombinasikan dengan konsep dari salah seorang guru The Secret, Dr. John F. Demartini. The Secret adalah judul sebuah buku yang berisi tentang pemaparan sebuah konsep yang luar biasa tentang Hukum Tarik-Menarik (Law of Attraction) yang bekerja di alam semesta ini. Salah seorang guru dalam buku tersebut adalah Dr. John F. Demartini yang juga adalah penulis buku "The Riches Within, Your 7 Secret Treasures". Beliau juga seorang pembicara internasional dan menjalankan klinik kiropraktik yang sukses, dan pernah diakui sebagai Kiropraktor Terbaik. Dari dua orang inilah konsep tentang sedekah akan aku paparkan.

Aku tidak akan mempertajam pembahasan mengenai manfaat bersedekah. Yang jelas manfaat dari aktivitas ini sangat personal dan semakin bisa terasa apabila kita semakin ahli dalam bersyukur. Secara garis besarnya, manfaat sedekah antara lain: Mengundang Rejeki, Menolak Bala, Menyembuhkan Penyakit, dan Memanjangkan Umur. Aku yakin, manfaat-manfaat tersebut tentu sudah diketahui oleh teman-teman semua. Dan aktivitas sedekah itu sendiri tentu sudah sering teman-teman lakukan dan telah mendapatkan manfaatnya. Dalam catatan ini, aku hanya ingin memaparkan sebuah konsep yang mudah-mudahan membuat teman-teman semua semakin sering dan senang bersedekah. Konsep inipun baru aku dapatkan dan ingin secepatnya aku bagi agar semakin banyak orang yang melakukan aktivitas ini. Dan yang kedua, dengan menulis seperti ini, aku menjadi semakin ingat akan konsepnya, sehingga catatan ini juga berfungsi sebagai pengingat untuk diriku sendiri agar mengaplikasikan konsep yang didapat. Tidak sekedar disimpan di dalam otak saja yang suatu saat akan tergusur oleh konsep baru tanpa pernah mengaplikasikannya sekalipun juga.

Konsep sedekah tentu tidak bisa dilepaskan dari konsep keikhlasan. Kalimat-kalimat yang menunjukkan eratnya hubungan sedekah dan keikhlasan seringkali kita dengar, seperti: "memberi itu harus ikhlas", "yang penting itu bukan besar kecilnya jumlah, tapi besar kecilnya keikhlasan dalam memberi", "tidak apa-apa sedikit, yang penting ikhlas", dan "lebih baik tidak usah memberi kalau tidak ikhlas". Selama ini sebagian besar dari kita tentu menganggap keikhlasan penting dalam memberi, sehingga kita cenderung memperhatikan faktor hati ini ketika memberikan sesuatu kepada orang lain. Ketika ingin memberi harus menyamankan hati terlebih dahulu, setelah memberi tidak usah dipikirkan agar tidak ada sesuatu yang membuat hati tidak nyaman. Kemudian kata SEIKHLASNYA menjadi bermakna sejumlah barang atau uang tertentu yang ketika diberikan memberikan efek paling nyaman di hati. Sehingga, ketika ada orang yang meminta sejumlah uang seikhlasnya, kita akan memberikan sejumlah uang tertentu yang ketika dilepaskan tidak akan menimbulkan gejolak di hati. Ikhlas. Lepas. Tuntas. Pas. Pas jumlahnya, pas rasanya! Dan biasanya dengan teknik memberi seperti ini, jumlahnya kecil! Benar tidak? Mudah-mudahan aku salah ya....hehehe. Kalau aku salah, aku mohon maaf. Kalau aku benar, aku mohon senyumnya. Teknik memberi seperti ini aku katakan teknik memberi yang konvensional. Teknik memberi yang modern itu justru TIDAK BOLEH IKHLAS!

Aku tidak sedang bercanda, aku serius seserius-seriusnya. Dalam memberi itu, usahakan jangan sampai ikhlas, tapi lepaskan saja. Ini konsep pertama dari Mas Ebo. Memberikan sedekah itu usahakan banyak sehingga menimbulkan perasaan kurang nyaman di hati. Ada sedikit rasa kehilangan. Kalau belum, berarti kurang banyak...hehe. Perasaan inilah yang namanya tidak ikhlas, tapi perasaan ini bisa dilatih sampai halus dengan terus-menerus mempraktekkan sedekah modern ini. Aku analogikan konsep ini seperti seseorang yang berlatih fitnes. Fitnes itu melatih otot-otot tubuh, sedangkan sedekah itu melatih otot-otot "hati". Fitnes itu dilakukan dengan pemanasan terlebih dahulu, peregangan otot-otot, kemudian dilanjutkan mengangkat beban-beban berat. Tubuh menjadi segar dan berkeringat. Apabila aktivitas fitnes ini baru pertama kali kita lakukan, setelah selesai fitnes, kemudian mengeringkan keringat, mandi, dan mulai istirahat, barulah terasa otot-otot tubuh kita pegal karena tidak terbiasa mengangkat beban berat. Pegal-pegal inilah yang aku analogikan dengan "ketidakikhlasan hati" ketika bersedekah. Cara agar bagian-bagian tubuh yang pegal tadi tidak pegal lagi, yaitu dengan melakukan fitnes lagi keesokan harinya atau dengan kata lain "membalasnya". Namanya juga baru pertama kali, pasti pegal. Kalau sudah "dibalas" dan dilakukan rutin pasti mulai terbiasa dan pegal-pegalnya berkurang. Sedekah juga begitu, kalau sering dilakukan, "pegal-pegalnya" berkurang. Kalau sudah tidak "pegal" untuk jumlah tertentu, tingkatkan jumlahnya sampai kira-kira "pegal"...hehe. Kalau sudah agak "enteng" memberi sejumlah tertentu, tingkatkan jumlahnya. Bahkan Mas Ebo mengatakan begini, "Semakin brutal kita memberi, semakin brutal Tuhan membalasnya!" Apa yang kita beri akan kembali kepada kita. Kalkulator Tuhan sangat canggih dan kurir-Nya tidak akan salah alamat!!

Konsep yang kedua dari Mas Ebo adalah "Terang-Terangan". Maksudnya terang-terangan dalam memberi sedekah. Terang-terangan itu lebih dimaksudkan agar memotivasi orang lain agar tergerak juga untuk bersedekah, bukan untuk sombong-sombongan. Menurut beliau, konsep "Terang-Terangan" atau "Diam-Diam" dalam bersedekah itu sama pahalanya, yang tidak boleh itu terang-terangan tidak sedekah atau diam-diam tidak sedekah..hehe. Untuk konsep "Terang-Terangan" ini mungkin belum cocok dengan karakterku. Bila ada yang cocok, silakan dilakukan dengan niat untuk memberikan motivasi kepada orang banyak agar tergerak melakukan sedekah. Aku sendiri lebih memilih konsep "Diam-Diam" dari Dr. John F. Demartini. Beliau memaparkan konsepnya seperti ini: "Ketika memutuskan untuk memberikan sumbangan, pertimbangkanlah yang berikut ini: bila Anda memberi kepada seseorang dan dia mengetahui Andalah yang memberi, maka sekaligus juga Anda menimbulkan alasan baginya untuk berterimakasih kepada Anda - "yang hanyalah bagian yang kecil saja". Namun, bila menyumbangnya diam-diam, maka Anda memberinya kesempatan untuk bersyukur kepada "Suatu keseluruhan" - alam semesta atau sumber asalnya. Bayangkanlah betapa dalam pengalaman si penerima ketika bersyukur kepada keseluruhan yang abadi ketimbang hanya kepada bagian kecil yang bersifat sementara belaka". Aku tidak sedang menabrakkan kedua konsep, "Terang-Terangan" dan "Diam-Diam", ini. Silakan dipilih salah satu yang sesuai dengan karakter dan selaraskan dengan niat untuk memberinya, bukan untuk pamernya.

Demikian yang bisa aku bagikan melalui catatan hari ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya dan yang paling penting adalah timbulnya tindakan yang semakin menghaluskan niat kita untuk berbagi kepada sesama. Itu dulu. Lain waktu aku sambung lagi. Mumpung hari Jumat, teman-teman yang muslim bisa langsung praktek di tempat ibadah. Tinggalkan uang berlogo binatang dan pahlawan berparang di rumah saja, masukkan yang berlogo peci, yang siap ibadah, di kotak amal. Teman-teman Hindu, Protestan, Khatolik, Budha, Kong Hu Cu bisa langsung praktek juga di tempat ibadah masing-masing. Khusus teman-teman Hindu, kalau sesarinya tidak muat diletakkan di canang sari, bisa dimasukkan di kotak dana punia terdekat.
Sukses selalu untuk semuanya, semoga semua berbahagia!

Surabaya, 6 Juli 2012
Gambar dikutip dari: http://www.chopra.com/laws/giving

Senin, 02 Juli 2012

From Connectivity to Chemistry


Pada catatan terdahulu, aku pernah menulis bahwa istilah chemistry saat ini sudah mengalami pergeseran makna. Dari yang semula bernuansa scientific menjadi lebih cair ke arah personal relationship. Agar tidak kehilangan jati dirinya sebagai salah satu ilmu sains, aku memilih untuk memaknainya menjadi kesesuaian frekuensi. Kesesuaian frekuensi inilah yang erat kaitannya dengan connectivity. Jadi, chemistry pada catatan kali ini lebih berhubungan dengan connectivity daripada reaksi-reaksi kimia itu sendiri.

Agar bisa connect dengan sesuatu atau seseorang itu membutuhkan keahlian khusus. Aku tidak katakan itu sulit, tapi bila hal ini mudah, tentu kita tidak akan pernah mendengar istilah LOLA (LOading LAma), "heng-hong", dan "nggak nyambung blas!" Bila "TIDAK SULIT" dan "TIDAK MUDAH", lalu apa? Berarti, "ITU BISA DIPELAJARI". Aku akan mengerucutkan konsep ini, sehingga lebih berkaitan dengan komunikasi diantara dua orang atau lebih.

Ada berapa banyak orang yang tidak asyik saat diajak ngobrol? Topik bercanda ditanggapi serius, topik serius ditanggapi bercanda. Diajak serius, malah serius bercandanya. Ada berapa banyak orang yang "nggak nyambung" saat diajak berbicara? Sedang asyik membahas BB, malah takjub sendiri melihat hape monoponik. Aku sungguh tidak tahu jawaban dua pertanyaan itu, yang jelas aku pernah menjadi salah satu dari orang-orang yang ada dalam pertanyaan itu.

Untuk bisa connect atau "nyambung" dengan seseorang, kita harus tahu variabel penting yang memengaruhi. Variabel itu bernama frekuensi. Sepertinya ilmiah, tapi mari kita buat mudah. Begini, setiap nada pada alat musik memiliki frekuensi tertentu yang berbeda satu sama lain. Nada C memiliki frekuensi 261.63 Hz, nada D memiliki frekuensi 293.66 Hz, nada E memiliki frekuensi 329.63 Hz, dan seterusnya. Dengan kata lain, frekuensi itu menunjukkan ciri khas atau karakteristik dasar dari sesuatu. Itu kan sesuatu, lalu bagaimana dengan seseorang? Frekuensi pada manusia memang lebih kompeks dibandingkan dengan frekuensi pada alat musik karena dipengaruhi oleh suasana hati, suasana pikiran, dan pengalaman hidup. Tapi, setiap orang memiliki "nada dasar" yang dominan, memiliki "tombol khusus masing-masing". Ada seseorang yang menyukai fashion, senang membicarakan teknologi, pintar sekali merangkai kata, gembira bila berhadapan dengan banyak makanan, dan sebagainya. Yang sulit itu adalah menemukan "nada dasar" orang-orang galau. Orang-orang tipe ini kurang jelas frekuensinya, kadang minor, kadang mayor, kadang ngeloyor...

Akhirnya menjadi mudah dimengerti bahwa seni connectivity itu adalah seni menemukan frekuensi, sedangkan chemistry itu sendiri adalah kesesuaian frekuensi. Contoh yang paling mudah dilihat dalam upaya menyesuaikan frekuensi adalah ketika kita berbicara dengan bayi. Bayi tentu tidak bisa menyesuaikan frekuensi dengan kita, jadi kita yang harus menyesuaikan frekuensi dengan bayi tersebut agar dia bisa tertawa. Sehingga kata-kata yang muncul adalah "uuhhh...lutuna, anak ciapa ini? Nang..ning...ning...nang..ning...klek!!" Ada penyesuaian disana. Jadi, bila ada seseorang yang mengatakan "chayank beud sama kamuh celama-lamax", berarti orang tersebut sedang berbicara dengan adik bayinya...hehehe

Tidak mudah memang bila kita langsung menyesuaikan frekuensi dengan seseorang yang baru kita kenal. Kita harus menemukan frekuensinya dulu. Mungkin dari hobinya memelihara tanaman, kegemarannya bersepeda, kecintaannya akan musik, dan kegilaannya akan shoping, yang kesemuanya itu bersinergi dengan frekuensi kita juga. Dari hal-hal kecil itulah kita bangun komunikasi. Mungkin awalnya timbul gesekan-gesekan. Namanya juga manusia, sesuai-sesuainya frekuensi, pasti ada hal-hal kecil yang tidak sesuai juga. Ini bukan seruling, ini manusia! Jadi, perbedaan tidak bisa dihindari. Anggap saja gesekan-gesekan itu sebagai "amplas" yang sedang menghaluskan hati agar kita bisa lebih santun dan lebih rendah hati.

Seiring berjalannya waktu, connectivity yang dijalin terus-menerus akan mampu memunculkan chemistry. Inilah mengapa judul catatan ini adalah From Connectivity to Chemistry. Chemistry itu sendiri jangan diartikan hanya tentang orang yang sedang jatuh cinta, tapi lebih umum, misalnya: chemistry seorang ibu kepada anaknya, chemistry antarsahabat, dan chemistry antarpemain sinetron. Dan ini adalah pengalaman pribadi, ketika aku SMA, aku memiliki seorang sahabat, yang saking connect-nya, kita bisa tiba-tiba tertawa bersama dari hanya saling menatap karena sudah mengetahui isi pikiran masing-masing. Poinnya adalah ketika chemistry tercapai, kadang-kadang kata-kata tidak lagi punya makna. Chemistry melemahkan kata-kata...! Dan daripada kita kehilangan chemistry, lebih baik aku akhiri saja deretan kata-kata ini..hehe. Selamat beraktivitas teman-teman, sukses selalu!

Surabaya, 2 Juli 2012
Gambar dikutip dari: http://apakah.net/koleksi-gambar-atau-foto-bayi-lucu/