Jumat, 12 April 2013

"Rumah Saya Sebesar..."

Dulu, ketika saya masih kecil, ya sekitar usia 5-6 tahun, saya seringkali terlibat "lomba" dengan teman-teman sebaya. Lomba yang nge-trend waktu itu adalah lomba "besar-besaran" kepemilikan atas sesuatu. Namanya juga anak kecil, "lomba" yang diikuti ya biasanya lomba adu mulut...hehe

Mulailah teman saya itu unjuk gigi duluan, "Rumah saya itu lebih besar dari rumahmu." Ditantang seperti itu jelas naluri emosi saya meningkat. Seandainya ketika itu saya tau bahwa rumah yang dia maksud adalah rumah orang tuanya, mungkin saya tidak terlampau emosi, sialnya saya belum tau. Langsung saja saya balas, "Rumah saya jelas lebih besar dari rumahmu, rumah saya sebesar komplek perumahan ini." Tak mau kalah, dia membalasnya, "Rumah saya sebesar kota!!". Masih dengan emosi, saya mengatakan, "Rumah saya sebesar pulau". Emosi melihat tangan saya yang bergerak membentuk sebuah lingkaran besar, dia membalasnya lagi, "Rumah saya sebesar Negara Indonesia." Mulailah saya berpikir sejenak, kemudian akhirnya muncul ide cemerlang. Sambil tersenyum saya mengatakan, "Rumah saya sebesar dunia..haha!!" Dengan cepat teman saya itu mengatakan, "Rumah saya sebesar alam semesta!" Wuih...besar banget pikir saya. Untuk ukuran anak kecil, frase "alam semesta" udah nyangkut di otaknya saja sudah luar biasa, apalagi dia bisa menggunakannya untuk melawan saya waktu itu. Saya mulai kehabisan kata-kata...tuk..tuk..tuk...dan kemudian secercah harapanpun muncul, dengan santai dan sambil tersenyum saya mengatakan, "Rumah saya sebesar Tuhan." Teman saya langsung diam seribu bahasa, walaupun saya tau betul dia tidak menguasai seribu bahasa. Jangankan seribu bahasa, bahasa Indonesianya saja masih acak-acakan.

Bagi sebagian orang, cerita di atas mungkin lucu, mungkin biasa saja, atau bahkan mungkin ada yang tersinggung karena mengeksplorasi sesuatu yang membawa-bawa Tuhan dalam perkelahian. Tapi ya namanya juga anak kecil..hehe. Habis beradu mulut, biasanya tak lebih dari 5 menit, 2 jari kelingking sudah tertaut kembali. Melalui ilustrasi cerita di atas, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kita akan selalu "menang" dengan "mengandalkan Tuhan". Mengandalkan Tuhan yang saya makud tentu tidak persis sama dengan cerita di atas, tapi dengan meletakkan prinsip tersebut di hati kita masing-masing, tidak perlu sesumbar atau bahkan digunakan untuk merendahkan orang lain yang berbeda cara pandangnya. Cukup untuk diri sendiri dulu. Menang yang keren itu bukan dengan mengalahkan orang lain, tapi dengan meredam keinginan-keinginan untuk menyombongkan diri. Banyak hal yang rasa-rasanya tidak mungkin kita lakukan dalam hidup ini. Dan bila kita ingin mengurangi ketidakmungkinan-ketidakmungkinan tersebut, jangan hanya mengandalkan diri sendiri, andalkan Tuhan, pasrah dan ikhlas. Walaupun masih sulit, kita coba dan tidak lupa saling mengingatkan.

Selamat hari Jumat, teman-teman:)


Selasa, 12 Februari 2013

Jangan Marah, ya..

Di siang yang terik ini, setidaknya di Surabaya, mudah-mudahan teman-teman semua dalam kondisi hati yang tenang dan damai, terpancar kebahagiaan, dan tidak sedang emosi. Pada catatan kali ini, saya akan sedikit membahas tentang marah, tentang apa yang sebenarnya membuat kita marah, mengapa orang-orang tertentu marah akan hal tertentu, sedangkan orang-orang lainnya tidak, mengapa ada orang yang baru disenggol sedikit, sudah mau ngebacok, mengapa orang-orang tertentu lebih sabar dibandingkan orang yang lain. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diketahui dengan memahami konsep marah. Dengan menulis hal ini, bukan berarti saya adalah orang paling sabar sedunia, yang tidak pernah marah. Orang-orang terdekat saya tahu persis bahwa ketika saya marah, saya diam. Tidak banyak kata yang diucapkan. Dan orang-orang yang marahnya diam lebih mengerikan dibanding orang-orang yang marahnya berteriak atau mengumpat. Karena dengan berteriak, orang-orang akan segera tahu apa yang menjadi penyebab orang tersebut marah, tapi orang yang marahnya diam??!

Saya tidak melarang siapapun untuk marah. Marah itu juga anugerah, yang ketika kita bisa memanfaatkan energinya, kita bisa lebih cepat mendapat apa yang kita inginkan. Hanya saja, seringkali kita kesulitan untuk mengontrol diri kita sendiri ketika marah itu datang. Baru-baru ini saya mengetahui dari seseorang bernama Anthony Robbins bahwa sebenarnya kita marah bukan karena perilaku orang lain terhadap kita, tapi lebih karena aturan yang kita tetapkan sendiri di pikiran kita masing-masing. Saya ulangi ya, kita menjadi marah karena aturan yang kita tetapkan sendiri di pikiran kita masing-masing. Ketika ada orang lain atau keadaan yang timbul dan berada di luar aturan yang ada di pikiran kita, secara otomotis kita menjadi marah atau mungkin kecewa.

Iya, mungkin ada orang yang merobek buku kita, mungkin orang lain menjambak rambut kita, mungkin ada orang yang berkata-kata kasar di depan kita, mungkin orang lain tidak membalas SMS atau BBM kita, mungkin kita tidak bisa makan makanan yang kita inginkan hari itu, dan mungkin kita sudah begitu lama menunggu seseorang keluar dari Mall, sehingga pantaslah untuk marah. Semua itu pemicu, dan yang menentukan kita marah dan bersikap reaktif terhadap hal-hal tersebut adalah kita. Ada aturan dalam pikiran kita sendiri yang mengatakan bahwa ketika orang lain tidak membalas SMS atau BBM kita berarti orang tersebut tidak peduli terhadap kita, ketika orang lain berkata-kata kasar kepada kita berarti orang tersebut menganggap kita rendah dan hina atau orang tersebut sangat tidak menyukai kita, dan kita hanya punya waktu toleransi 5 menit untuk menunggu seseorang yang sedang jalan-jalan, bila lebih, berarti orang tersebut tidak menghargai kita atau tidak mencintai kita atau tidak menganggap kita ada. Padahal kan tidak mesti seperti itu. Itu hanya pikiran-pikiran picik kita saja. Itulah yang saya katakan bahwa kita marah lebih kepada aturan yang ada di pikiran kita sendiri daripada sikap dan keadaan yang ada di luar diri kita.

Cek hati kita. Kapan saja hati kita merasa ingin marah dan kecewa berarti ada aturan di pikiran kita yang membuat kita memutuskan, ”Inilah saat yang tepat untuk menumpahkan semuanya!” Sekali lagi, saya tidak melarang siapapun untuk marah, tapi setidaknya dengan mengetahui aturan yang tersimpan di pikiran kita tentang ”syarat marah” kita, kita menjadi lebih memiliki banyak pilihan. Entah itu dengan merubah kata-kata dalam ”syaratnya” atau membiarkannya tetap seperti itu dan tetap marah. Yang jelas, ketika kita marah, kita seperti mengambil batu bara panas dengan tangan kita sendiri, kemudian melmparkannya kepada orang lain. Orang lain bisa saja terkena lemparan batu bara kita, bisa saja menghindar dan tidak kena. Orang lain mungkin saja sakit hati, sedih, malu, menyesal, dongkol dengan amarah kita, bisa saja tidak. Tapi yang jelas, kita 100% merasakan panas batu bara yang kita pegang, kita PASTI tersakiti. Ilustrasi ini begitu indah, setidaknya bagi saya, dan karenanya saya bagikan kepada teman-teman semua. Ilustrasi mengagumkan ini saya dapatkan dari pemikiran seorang biksu bernama Ajahn Brahm, penulis buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.

So, cek kembali apa yang bisa dicek. Mungkin uang kita di dompet atau di ATM..hehe. Jangan marah, ya...bercanda. Beberapa orang sulit sekali diajak serius, beberapa yang lainnya sulit sekali bercanda, makanya saya mohon maaf apabila ada unsur keseriusan dan ke-bercanda-an yang kurang berkenan dalam catatan ini. Cek hati kita untuk mengetahui aturan main di pikiran kita! Semoga hari ini menyenangkan bagi teman-teman semua. Selamat siang, selamat berkarya!

Surabaya, 12 Februari 2012


Jumat, 14 Desember 2012

Tentang Sebuah Titik

Saya awali catatan ini dengan sebuah cerita yang saya dapat dari seorang guru.

Pasangan muda, yang baru menikah, menempati rumah di sebuah komplek perumahan. Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri, melalui kaca jendela, melihat tetangganya sedang menjemur kain.  

”Cuciannya kelihatan kurang bersih, ya?!” kata sang istri.
”Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus,” lanjut sang istri lagi.
...
Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun.

Sejak hari itu, setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya.

Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya,

”Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar! Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya?”

Sang suami berkata, ”Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita.”

***


Ketika pertama kali membaca cerita di atas, saya terdiam beberapa saat sambil merenung dan bergumam dalam hati, ”Iya, seringkali apa yang saya pikir tentang apa yang saya lihat belum tentu benar. ’Bagaimana saya melihatnya’ lebih penting daripada ’apa yang saya lihat’.” Dan berbicara tentang bagaimana kita melihat sesuatu, akan menyentuh sekurang-kurangnya 3 hal, yakni cara pandang, sudut pandang, dan jarak pandang.Kedengarannya cukup rumit, tapi saya akan mencampuradukkannya dalam catatan ini sehingga terkesan lebih sederhana.

Segala sesuatu dalam kehidupan ini tidak punya makna, kecuali kita yang memberikannya. Oleh karenanya, saya menyebut bahwa manusia adalah ’mesin pembuat makna’. Sesuatu diterima panca indera, kemudian diramu oleh logika. Ada yang dimaknai positif, ada yang negatif, bahkan ada juga yang dibiarkan netral. Segala sesuatu yang ’dianggap’ positif dikejar, kemudian yang ’negatif’ ditolak habis-habisan dan dihindari, yang netral tentu saja dibiarkan karena ’tidak terlalu memiliki pengaruh’ dalam kehidupan masing-masing orang. Yang seringkali menjadi permasalahan adalah apa yang saya anggap positif, belum tentu dianggap positif oleh orang yang lain. Negatif menurut saya, belum tentu negatif menurut orang lain. Cara saya memandang sesuatu tidak selalu sama dengan cara orang lain memandang sesuatu. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh perbedaan wawasan, pengalaman hidup, lingkungan pergaulan, gaya hidup, dan lain sebagainya. Sudut pandang saya menilai sesuatu tidak selalu sama dengan orang lain. Misalkan saja, saya memandang dari sudut seorang anak muda, yang lain memandang dari sudut pemikiran orang tua, yang lainnya lagi memandang dari sudut pandang anak alay. Sebenarnya ada berapa sudut? Apa benar jumlahnya ada 360? Saya memang tidak pernah menghitungnya, tapi kurang lebih ada tak hingga sudut pandang..hehe. Jarak pandang saya terhadap sesuatu tidak selalu sama dengan jarak pandang orang lain. Saya memandangnya 5 cm dari objek, ada juga yang memandangnya dari puncak gunung Semeru. Pasti beda hasil pengamatannya. Mengetahui perbedaan-perbedaan seperti ini adalah sebuah kebijaksanaan. Yang tidak tepat adalah merasa diri paling benar, merasa cara, sudut, dan jarak pandangnya adalah yang paling berkualitas, yang lainnya tidak sempurna. Ini penyakit. Namanya cacat otak.

Lalu, apa hubungannya dengan ’titik’? Merasa diri paling benar adalah sebuah titik. Dengan merasa paling benar, kita telah mem-block segala hal yang mungkin untuk terjadinya perubahan, sekecil apapun. Pokoknya titik, tidak ada yang lain, sekalipun ada, yang ada itu salah. Padahal, alam semesta ini berubah setiap waktu. Apa yang kita lihat diam, tidak benar-benar diam. Ada vibrasi, ada rotasi, ada translasi yang dinamis. Kita hidup dalam alam semesta yang selalu bergerak, berubah, dan penuh dengan ketidakpastian. Para tetua jaman dulu menyarankan, ”Agar bahagia, sebaiknya kita hidup selaras dengan sifat alam semesta.” Kita seringkali stres karena memiliki ’suatu harapan yang pasti’ di otak kita, diikat kencang-kencang, kemudian dipertemukan dengan keadaan yang sama sekali berbeda. Mampuslah sudah. Makanya ilmu ikhlas itu ilmunya orang sakti. ’Memiliki harapan yang pasti’, dilepaskan, kemudian siap menerima ketidakpastian, dan berfokus pada apa yang bisa dilakukan. Dilepaskan kemana? Ya kepada Big Boss, Yang Paling Berkuasa. Melepasnya ini loh yang sulit. Kita memang sudah melepas uang lima ribu rupiah, memberikannya kepada fakir miskin, tapi uangnya masih nempel di otak. Lah itu padahal bisa buat nasi, tempe, tahu, sayur, sama es teh, atau lumayan kalau dibelikan pentol, bisa dapat satu plastik besar. Ini penyakit. Namanya cacat otak, tapi tidak separah cacat otak yang pertama tadi. Semakin sering memberi, cacat otak yang ini bisa semakin sembuh.

Intinya begini teman-teman, mari kita terbuka terhadap perubahan. Tidak harus kita setuju dengan semua hal, tapi minimal kita tahu dan mencoba untuk menghormati. Tidak menjadikan diri kita ”titik”, yang tidak mau lagi menerima apapun yang masih mungkin, tapi jadikan diri kita ”titik-titik...”, yang siap belajar dari manapun, siapapun, dan kapanpun. Apa yang kita anggap benar hari ini, belum tentu benar di kemudian hari. Yang kita anggap salah saat ini, belum tentu salah esok hari. Kesalahan orang lain di satu ”titik” tidak berarti kita harus menyalahkannya dalam semua aspek. Setiap orang berhak dinilai lebih, berhak mendapatkan kesempatan yang lain untuk berubah menjadi lebih baik, karena kita sendiri pun menginginkan hal demikian. Memaafkan tidak berarti kita membenarkan tindakan orang lain yang salah, tapi cara yang paling efektif untuk berdamai dengan hati kita sendiri, agar benih dendam tidak muncul. Saya sering salah, mungkin juga pernah benar, tapi saya berupaya untuk tidak merasa paling benar.Respect yourself, respect the others.
Demikian yang bisa saya bagi malam ini. Mudah-mudahan catatan ini bisa menjadi teman sebelum tidur. Selamat beristirahat dan semoga mimpi indah. Sampai berjumpa di catatan selanjutnya.

Surabaya, 14 Desember 2012, 
Gambar dikutip dari: ulilabshor 

Sabtu, 03 November 2012

Jagang of Happiness

Seperti yang sudah saya katakan beberapa hari sebelumnya, saya akan menulis sebuah catatan berjudul “Jagang of Happiness”, syukur hari ini bisa terealisasi. Terimakasih banyak kepada teman-teman semua yang telah berpartisipasi memberikan komentar-komentar yang sangat positif dan inspiratif tentang makna kebahagiaan dan hal-hal apa saja yang membuat kebahagiaan itu muncul dan mewarnai kehidupan. Saya banyak belajar dari komentar-komentar tersebut. Komentar-komentar tersebut juga menandakan bahwa teman-teman tahu apa yang bisa membuat diri berbahagia. Itu hebat. Dan catatan sederhana ini mudah-mudahan bisa menjadi teman bagi rasa syukur kita dalam menikmati segala karunia yang hadir.

Happiness atau kebahagiaan memang tidak bisa lepas dari rasa syukur. Siapapun yang bisa bersyukur, dia berbahagia, terlepas dari apapun yang dimiliki dan dialami. Tentu saja, semakin baik yang kita miliki dan semakin sesuai kejadian yang kita inginkan dengan kenyataan, kita akan semakin bersyukur, dan itu berarti kita akan semakin bahagia atau merasa senang. Ada satu kalimat yang saya sukai dari komentar teman-teman tentang kebahagiaan, bahwa “Kebahagiaan Itu Sederhana”. Waw..saya sangat setuju dengan itu. Wujud kebahagiaan itu memang sederhana, bisa terkandung dalam hal apapun, sekecil apapun, seringan apapun, semudah apapun. Namun, banyak dari kita, termasuk saya sendiri, belum bisa merasakan kebahagiaan setiap waktu, walaupun saya tahu bahwa kebahagiaan itu sederhana. Kebahagiaan memang selalu sederhana, namun terkadang, kerumitan pikiran kita sendiri yang menyebabkan begitu sulitnya mengakses sesuatu yang sederhana tersebut. Ketika pikiran kita mulai sederhana, mulai tidak disibukkan oleh begitu banyaknya tuntutan, mulai bisa melihat keindahan anugerah yang kita terima melalui orang-orang yang masih kurang beruntung hidupnya, mulai bisa keluar dari masalah yang sebelumnya menghimpit, kita mulai bahagia. Poinnya, kebahagiaan selalu sederhana, pikiran kita yang terkadang rumit.

Karena kebahagiaan selalu sederhana dan pikiran kita terkadang rumit, maka kita harus punya sesuatu yang selalu sederhana. Sesuatu yang sederhana inilah yang nantinya menjadi kunci bagi kita untuk mengakses kebahagiaan, serumit apapun pikiran kita pada suatu waktu. Sesuatu yang sederhana ini saya namakan “JAGANG” atau tiang penopang. Jagang itu bisa disamakan seperti “standar sepeda atau standar sepeda motor” yang membuat sepeda atau motor tersebut tetap bisa berdiri ketika tidak sedang digunakan. Pada umumnya terbuat dari besi, dan ukurannya tidak terlalu besar. Fungsinya menopang keseluruhan tubuh sepeda motor. Namun, karena bentuknya yang sederhana, seringkali kita tidak terlalu memberi perhatian. Jadi, jagang dalam catatan ini bisa diartikan sebagai sesuatu yang sederhana, namun bermakna dalam menopang keseluruhan kebahagiaan kita.

Seperti standar sepeda motor yang “menempel” pada bagian bawah motor, jagang kebahagiaan kita juga harus menempel pada diri kita, bukan orang lain. Jadi, jagang kebahagiaan kita adalah milik kita, “menempel” dengan diri kita, berada dalam kontrol kita, bukan orang lain. Kita bebas menentukan jagang kebahagiaan kita sendiri, yang bisa saja berbeda dengan orang lain, namun pastikan jagang itu “melekat” dengan diri kita dan dapat kita kontrol sepenuhnya. Kita bisa berbahagia jika seseorang berbahagia, namun kita tidak bisa memastikan dan mengontrol kapan seseorang itu berbahagia. Selama orang tersebut belum atau tidak berbahagia, selama itu pula kita sulit mengakses kebahagiaan. Hal itu karena kita meletakkan penopang kebahagiaan kita pada orang lain, bukan pada diri kita sendiri. Penopang kebahagiaan kita sangat dipengaruhi oleh orang lain. Apakah itu salah? TIDAK! Itu bagus, merasa ikut berbahagia saat orang lain berbahagia itu sangat manusiawi. Namun, akan lebih baik lagi bila kita juga memiliki jagang kebahagiaan yang melekat dengan diri kita, hanya diri kita, apapun kondisinya di luar sana.

Ketika kita berbicara sesuatu yang ada di luar diri kita, apapun bentuknya, kita harus menyadari bahwa ada sesuatu yang bisa kita kontrol, ada juga yang tidak. Meletakkan penopang kebahagiaan di luar diri kita itu berarti kita harus kuat dalam penerimaan. Kita harus siap menerima bahwa yang terjadi tidak selalu sama bentuknya seperti apa yang kita inginkan. Bila kita selalu siap, itu bagus, luar biasa, bila tidak?? Itulah mengapa saya menyarankan agar kita juga memiliki jagang kebahagiaan yang melekat dengan diri kita. Sebagai contoh, seseorang mengatakan dirinya berbahagia bila sudah berpenghasilan 5 juta rupiah. Itu berarti, saat ini penghasilannya belum mencapai 5 juta rupiah, dan itu berarti pula berapapun penghasilannya, bila belum mencapai 5 juta rupiah, dia belum berbahagia. Padalah, setiap detik kehidupan kita ini anugerah, dan dia hanya bisa mensyukuri keadaan ketika penghasilannya 5 juta rupiah. Begitu banyak nikmat yang disia-siakan. Contoh lain, saya akan berbahagia bila ibu saya berbahagia. Sungguh mulia, saya juga ingin membahagiakan ibunda saya. Namun, ada satu kelemahan pada penopang kebahagiaan seperti itu, saat ibunya merasa tidak berbahagia, seketika itu juga dia tidak berbahagia. Dalam proses membahagiakan ibunya, dia tidak bahagia sampai ibunya bahagia. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang menjadi kebahagiaan orang lain, kita hanya bisa berupaya mewujudkan apa yang orang lain inginkan. Contoh yang lain lagi, bahagia itu ketika saya bisa bersantai memandangi langit sore dengan rintik-rintik hujan. Kalau suatu sore langit panas menyengat?? Poinnya adalah “gantungkan juga kebahagiaan di dalam diri, jangan hanya di luar diri”. Keep it simple. Sederhanakan kebahagiaan kita dan pastikan berada dalam kontrol kita. Dengan begitu, kita akan mudah mengaksesnya.

Jadi, buatlah jagang of happiness kita masing-masing. Pastikan sangat MUDAH, sangat SEDERHANA, dan berada DALAM KONTROL kita. Jadikan hal-hal di luar diri kita PENAMBAH, PELENGKAP, dan PENYEMPURNA kebahagiaan kita. Misalnya, ketika saya bisa bersyukur, dalam kondisi apapun itu, seketika itu juga saya berbahagia, dan saya akan LEBIH BERBAHAGIA bila saya bisa memeluk dan membahagiakan orang tua saya. Contoh lain, saya berbahagia ketika saya bisa menarik dan menghembuskan napas dengan baik, saya berbahagia ketika saya memutuskan untuk berbahagia, saya berbahagia ketika saya masih bisa menyunggingkan senyum, saya berbahagia ketika saya....dan....dan....(silakan diisi sendiri). Banyak hal yang bisa membuat kita bahagia, teman-teman. Mudah-mudahan kita senantiasa bisa mensyukuri anugerah dalam kehidupan kita, mudah-mudahan kebahagiaan selalu mengiringi setiap langkah kita dalam hidup. Amin.

Sekarang, ijinkan saya untuk mengetahui JAGANG of HAPPINESS yang teman-teman miliki dengan menulis komentar pada catatan ini. Ijinkan banyak orang terinspirasi dan termotivasi dengan JAGANG of HAPPINESS teman-teman semua. Selamat hari Sabtu, selamat berakhir pekan, selamat berbahagia...(“,)

Surabaya, 3 Nopember 2012

Minggu, 30 September 2012

Buah yang Terjatuh




Beberapa hari yang lalu, tepatnya seminggu yang lalu, tanggal 23 September 2012, saya bertemu dengan seorang pria pada satu sesi seminar di salah satu hotel di Surabaya. Pria ini sangat bersemangat. Usianya mungkin berkisar 30-35 tahun. Semangatnya bisa terlihat jelas dari tatapan mata dan gerakan tubuhnya. Dia berkeliling dari deretan bangku satu ke deretan bangku lain untuk membagikan kartu namanya. Hingga sampailah di deretan bangku dimana saya duduk. Akhirnya, terjadi percakapan. Saya lihat kartu namanya, tertera nama Atim Wibisono. Saya ulangi nama tersebut untuk memastikan bahwa saya mengejanya dengan benar. Kemudian dia menjawab, “Betul Mas, nama saya Atim, saya anak yatim!” Seketika itu juga saya tertawa karena saya mengira dia bercanda. Ada orang-orang yang memang senang mengaitkan namanya dengan suatu kejadian tertentu yang belum tentu benar. Kemudian dia berbicara lagi, “Loh, bener Mas, saya anak yatim, saya tidak punya bapak, ketika lahir ya ploong aja, ditinggal dan ditaruh aja, yang penting bisa hidup. Saya lulusan SD, saya berjuang sampai bisa seperti sekarang.” Seketika itu juga saya tertegun, saya lihat kembali kartu namanya, terdapat tulisan yang menunjukkan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengemasan produk. Saya tidak tahu persis apakah dia bekerja disana atau pemilik perusahaan tersebut, tapi yang jelas pria ini begitu membuat saya kagum. 

Kisah yang diceritakan Mas Atim memang mengandung humor. Saat ini dia sudah berada pada posisi yang memungkinkan dirinya untuk memandangi dan menertawakan masa lalunya, menepuk dadanya dengan bangga karena sudah berhasil bangkit dari keterpurukan. Mungkin ada diantara teman-teman yang memiliki kesamaan cerita masa lalu dengan Mas Atim, namun saya yakin banyak yang lebih beruntung hidupnya. Banyak diantara kita yang masih memiliki orang tua hingga sekarang. Masih bisa duduk dengan nyaman di kursi sekolah, kuliah dengan tenang, kerja dengan aman. Kita syukuri keadaan ini, semoga orang tua kita senantiasa sehat dan bahagia. Dan bagi teman-teman yang orang tuanya sudah tiada, saya doakan semoga arwah mereka mendapat tempat yang baik dan segala amal semasa hidup mereka diterima disisi-Nya. Amin.

Kisah Mas Atim ini mengingatkan saya pada sebuah perumpaan tentang buah. Seperti dituliskan dalam banyak buku Bahasa Indonesia bahwa buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Arti dari perumpaan tersebut kurang lebih adalah bahwa karakter seorang anak tidak akan jauh dari karakter orang tuanya. Memang benar adanya bahwa karakter orang tua yang mengasuh kita semenjak kecil, memberikan pendidikan, perlindungan, dan tempat yang layak untuk tinggal, berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter diri kita. Tapi, mari kita tidak menelan arti perumpaan ini bulat-bulat. Kita kunyah dulu. Saya bahkan pernah bercanda dengan seorang teman dengan mengatakan, “Kalau pohonnya di tepi sungai, kan bisa beda ceritanya. Buahnya yang sudah matang dan terjatuh bisa saja langsung nyemplung ke sungai dan terbawa arus sungai, sehingga jauuuh dari pohonnya. Atau bisa juga pohonnya ada di lereng gunung, sehingga ketika ada buahnya yang jatuh, langsung menggelinding ke bawah dan berhenti pada posisi yang jauh sekali dari pohonnnya. Buah jatuh jauh dari pohonnya...hehe.” Mungkin Mas Atim termasuk ke dalam “buah” seperti contoh saya ini. 

Syukurnya, kita ini lebih sakti dari buah, kita bisa bergerak lebih dinamis dibandingkan buah. Kita bisa menentukan apa yang kita lakukan selanjutnya setelah “terjatuh dari pohon”. Kita bisa memilih untuk diam di tempat, bergerak maju, bergerak mundur, bergerak zig-zag, salto sambil bilang “Waaww”, dan lain-lain. “Terjatuh” bisa diartikan mengalami hal yang tidak diinginkan, bisa juga diartikan “sudah matang dan dewasa”, sehingga bisa menentukan sendiri tujuan hidup yang ingin dicapai. Tapi terkadang tidak semudah itu. Kita, “sebagai buah”, boleh memiliki tujuan dan jalan hidup sendiri, tapi biasanya, “pohon” juga memiliki tujuan dan jalan hidup yang telah dirancang untuk “sang buah” tercinta. Bila tujuan dan jalannya sama, enak betul rasanya. Bila tujuannya sama, namun jalannya berbeda, ini agak pusing. Bila tujuan dan jalannya berbeda, ini pemicu kegilaan...hehe.  

Komunikasi semata terkadang tidak cukup. Kita, “sebagai buah”, harus menunjukkan antusiasme, kesungguhan, dan upaya yang konsisten dalam menjalani apa yang kita inginkan, hingga perlahan-lahan “pohon” mulai bisa memahami dan mengerti bahwa apa yang sedang kita jalani adalah hal yang juga baik, namun dengan jalan yang berbeda. Bila belum bisa saling memahami? Sabar, apapun yang kita lakukan akan terbayar, namun pastikan bahwa yang kita lakukan adalah hal yang baik bagi diri kita dan keluarga. Dan jangan lupa doa. Di depan “pohon”, kita manggut-manggut, tapi saat berdoa, tolong yang paling sesuai dengan hati. Kan Tuhan penguasa “pohon” juga..hehe. Sentuhan terakhirnya dengan amal. Niatkan sedekah kita agar kita bisa menjalani hidup ini di atas jalan yang kita tentukan sendiri, bukan di atas jalan yang ditentukan orang lain bagi kita, sekalipun mereka adalah orang-orang yang kita cintai. Cinta, bagi saya, itu sebenarnya lebih kepada memberikan kebebasan bagi orang lain untuk melihat keindahan dalam dirinya sendiri, daripada membentuk orang lain menjadi indah berdasarkan keinginan kita.  

Melalui catatan ini, saya tidak bermaksud menggurui siapapun. Saya tidak lebih baik dibandingkan teman-teman yang berkesempatan membaca catatan ini. Saya hanya ingin berbagi hal yang menurut saya baik. Bila ada hal yang bermanfaat, saya sangat bersyukur. Bila ada hal yang kurang berkenan, mari kita berdiskusi, sehingga nantinya catatan ini bisa menjadi lebih baik. Demikian yang bisa saya bagi pada kesempatan yang baik ini, selamat beraktivitas untuk semuanya. Happy Weekend! 

Surabaya, 30 September 2012 
Gambar dikutip dari: http://treelovers.premieretreeservices.com/2012/01/houston-fruit-trees/

Selasa, 14 Agustus 2012

Udeng dan Helm, Tentang Sebuah Dasar.


Beberapa hari yang lalu, aku berkesempatan mengikuti rangkaian upacara keagamaan yang dihadiri oleh ribuan umat Hindu di area pantai Matahari Terbit. Sebagian besar umat menggunakan sepeda motor, dan ada juga yang mengendarai mobil, sehingga cukup membuat jalanan menjadi penuh sesak. Semua umat menggunakan pakaian sembahyang, mulai udeng sampai kamen. Udeng adalah kain pengikat kepala yang bentuknya khas dan digunakan laki-laki pada saat terlibat dalam acara-acara yang bersifat keagamaan. Untuk perempuan memang tidak menggunakan pengikat kepala. Kamen adalah kain penutup bagian pinggang hingga kaki. Semua pengendara motor yang menggunakan pakaian sembahyang memang tidak menggunakan helm, tapi udeng. Hal seperti ini memang sudah sering aku amati dari dulu, terutama di Denpasar dan Mataram. Ada ‘toleransi’ dari pihak kepolisian untuk tidak menilang pengendara motor yang tidak menggunakan helm, namun menggunakan pakaian sembahyang.

Sementara di Surabaya, umat Hindu yang akan bersembahyang tetap menggunakan helm ketika sedang mengendarai motor. Sesampainya di tempat ibadah, barulah menggunakan udeng. Sebenarnya ini bagus. Aku lebih cocok dengan style yang ini..hehe. Bagaimanapun juga, ketika berkendara, kita sebisa mungkin mematuhi aturan lalu lintas. Helm digunakan untuk melindungi bagian tubuh kita yang sangat penting, yaitu kepala. Memang kita tidak mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi ketika bersepeda motor, namun bila kecelakaan tidak bisa dielakkan, helm akan menjadi benda yang paling berjasa.

Aku sempat bertanya kepada beberapa orang, “kenapa tidak menggunakan helm ketika berpakaian sembahyang?” Sampai saat ini belum ada jawaban yang membuat hatiku lega. Jawaban yang keluar biasanya, “tenang aja, polisi gak akan nilang!” Jawaban ini memang tidak nyambung, tapi menarik, ayo kita bahas! Kita menggunakan helm ketika bersepeda motor di jalan raya kan bukan semata-mata untuk menghindari tilang dari polisi, tetapi untuk melindungi diri kita, terutama kepala, terhadap benturan apapun yang mungkin terjadi. Dengan kaca helm, mata kita bisa terhindar dari debu jalanan yang terbawa angin. Selain itu, rambut yang baru saja dikeramas bisa terjaga kebersihannya di dalam helm. Intinya, helm digunakan untuk melindungi diri kita sendiri, sebagai bentuk dari rasa cinta kepada diri kita sendiri, bukan semata-mata untuk menghindari tilang polisi. Kalau yang terakhir itu menjadi alasan mengapa kita memakai helm, kita akan cenderung mudah menemukan kesempatan untuk bersepeda motor tanpa helm ketika tidak ada polisi yang bertugas di jalan raya. Di lain pihak, udeng terbuat dari bahan kain yang tentu tidak sekuat bahan pembuat helm. Dari segi tekstur bahannya, helm lebih baik dalam hal perlindungan kepala dibandingkan udeng saat kita bersepeda motor. Dan juga, selama ini, aku tidak pernah merasa kepalaku lebih keras ketika menggunakan pakaian sembahyang dibandingkan ketika menggunakan pakaian yang lain…hehe. Jadi menurutku, helm itu tetap perlu digunakan ketika bersepeda motor, walaupun dan meskipun kita berpakain sembahyang.

Apa poin dari catatan ini? Seringkali yang aku rasakan dalam kehidupan ini adalah bahwa kita bergerak karena didasarkan oleh salah satu dari 2 ENERGI. Energi takut dan energi cinta. Ini yang aku rasakan, tapi bila ada hal lain yang teman-teman ketahui, mohon bersedia untuk melengkapi catatan ini. Kita biasanya lebih mudah bergerak ke arah sesuatu yang kita sukai atau cintai. Aku mencintai basket, sehingga berlatih basket. Namun, ada juga yang berlatih basket karena merasa tersiksa dengan ukuran tubuhnya. Ada yang hobi dalam bidang teknologi karena memang menyukainya, tapi ada juga yang memelajari teknologi karena “takut disangka” tidak gaul oleh teman-temannya. Ada yang beribadah karena memang senang sekali mengucap syukur atas anugerah Tuhan dalam hidup, ada juga yang beribadah karena takut akan bencana, karena takut ketika tidak beribadah, sesuatu yang buruk akan terjadi. Ada yang memakai helm karena lebih berniat untuk melindungi dirinya saat bersepeda motor, ada juga yang karena menghindari tilang polisi. Ada yang mengerjakan PR karena memang menyukai tugas sekolah, ada juga yang takut dimarahi ibu guru bila tidak mengerjakannya. Aktivitasnya sama, namun digerakkan oleh energi yang berbeda.

Setelah aku pikir kembali, ketika sekolah dulu, banyak hal yang aku lakukan karena takut hal buruk terjadi. Takut dihukum di depan kelas, takut dimarahi guru dan orang tua, takut diledek teman-teman, takut kulit gosong karena dijemur, takut ditolak, dan takut-takut yang lain. Namun, sekarang aku berupaya untuk melakukan sesuatu atas dasar cinta. Mengapa? Karena dasar cinta itu LEBIH SOFT dan POWERFULL dibandingkan dasar takut. Alasan yang berdasar cinta membuat langkah semakin ringan, kita semakin cepat berkembang, dan meningkatkan kepuasan diri. Melangkah dengan alasan dasar ketakutan akan membuat langkah berat, stress, pusing, cepat marah, dan sering kecewa. Memang ada saja hal-hal yang kita takutkan dalam hidup ini. Ideal sekali rasanya bila berbicara melakukan semua hal dalam hidup ini atas dasar cinta. Namun, dengan pikiran dan hati kita, kita bisa perlahan-lahan untuk menggeser niat kita ke arah yang meringankan langkah. Mungkin dalam beberapa aspek terlebih dahulu, kemudian disusul yang lainnya. Semua orang ingin berbahagia, jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melangkah secara damai. Dan cinta itu sendiri adalah energi yang mampu mendamaikan hati dan meringankan langkah kita dalam hidup ini. Aku mencoba, teman-teman juga ya..(“,)!

Denpasar, 14 Agustus 2012
Gambar dikutip dari: oyeblog

Senin, 13 Agustus 2012

Satu, Loro, Three...


Aku sangat yakin, sebagian besar dari teman-teman sudah mengenal deretan angka yang menjadi judul tulisan ini, yaitu satu, dua, tiga. Loro berasal dari bahasa Jawa yang berarti dua, sedangkan three berasal dari bahasa Inggris yang berarti tiga. Lalu, mengapa dicampurkan antara bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris? Ya suka-suka. Sebagai orang yang pernah berkutat lama dengan ilmu kimia, aku senang mencampur-campurkan sesuatu agar menghasilkan sesuatu yang baru..hehe. Kalau belum menghasilkan sesuatu yang baru berarti belum reaksi kimia…(“,)

Ok, kita mulai. Kita semua sudah mengenal konsep angka semenjak di taman kanak-kanak. Biasanya konsep angka disandingkan dengan gambar-gambar. Misalnya, untuk menunjukkan angka satu, digambarkan seekor bebek yang sedang berenang. Untuk menunjukkan angka dua, digambarkan dua batang korek api. Untuk menunjukkan angka tiga, digambarkan tiga buah mobil, dan seterusnya. Mengapa harus disandingkan dengan gambar? Agar lebih mudah ditangkap pikiran. Pikiran kita yang canggih itu senang sekali dengan gambar-gambar, apalagi yang berwarna-warni. Sederhananya, gambar/simbol digunakan untuk memudahkan sesuatu masuk ke dalam pikiran. Coba saja bayangkan tugu! Yang muncul di pikiran kita, walaupun tidak sama bentuknya, adalah sebuah gambaran bentuk tugu, bukan deretan huruf T, U, G, dan U, apalagi deretan huruf I, T, dan S..hehe. Dengan catatan, kita sudah pernah melihat tugu sebelumnya. Bila belum? Ini yang namanya pikiran akan galau..(“,)

Seiring semakin tingginya pendidikan, gambar/simbol semakin disederhanakan. Untuk menunjukkan angka satu, cukup dituliskan 1. Untuk menunjukkan angka dua, cukup dengan 2. Untuk menunjukkan angka tiga, ditulis 3. Angka-angka tersebut juga adalah gambar/simbol dan tentu saja lebih sederhana dibandingkan gambar bebek, korek api, dan mobil. Karena kita tinggal di Indonesia, sehingga kita mengenal bentuk angka satu, dua, dan tiga seperti yang ada sekarang ini (1, 2, dan 3). Coba saja kita tinggal di Mesir, Arab, India, Cina, pasti berbeda bentuknya. Berbeda bentuk, namun esensinya sama. Jadi sebenarnya, konsep angka itu abstrak, namun disederhanakan dengan simbol/gambar, sehingga lebih mudah dilihat, dijangkau pikiran, dan diingat. Kemudian berkenalanlah kita dengan ilmu-ilmu sains, terutama matematika, yang mampu meng’konkret’kan konsep abstrak tersebut, sehingga banyak yang menyebut ilmu-ilmu sains sebagai ilmu-ilmu pasti.

Itu tadi tentang perbedaan bentuk. Sekarang tentang penamaannya. Jangan bandingkan dengan luar negeri dahulu. Di Indonesia saja, satu-dua-tiga disebutkan dengan berbagai nama. Ada yang menyebutnya dengan hiji-dua-tilu. Ada yang senang melafalkannya dengan setunggal-kalih-tiga, siji-loro-telu, asa-dua-talu, besik-due-telu, sekeq-due-telu, sada-dua-tolu, dan lain-lain. Bila aku uraikan terus, pasti akan sangat panjang. Namun, poinnya adalah berbeda nama, esensi sama.

Banyak hal dalam hidup ini yang sebenarnya memiliki esensi yang sama, namun dalam RUPA dan NAMA berbeda. Hal tersebut dikarenakan perbedaan daya interpretasi dan tafsir kita akan sesuatu. Mengacu terhadap hal tersebut, aku mengajak teman-teman untuk bersama-sama terus belajar, memperdalam sesuatu, dalam hal apapun yang disukai. Mulai menghaluskan daya penglihatan untuk menyentuh esensi setelah menyentuh eksistensi. Karena eksistensi sendiri mudah goyah dan seringkali berganti. Berhentilah meributkan sesuatu yang tampaknya berbeda, namun memiliki esensi yang sama. Damaikan diri kita, heningkan pikiran, ayo kita sama-sama belajar menghargai dan menghormati perbedaan.

Denpasar, 12 Agustus 2012
Gambar dikutip dari: http://nizarast.wordpress.com/2010/10/09/cara-mengetahui-angka-keberuntungan-lewat-tanggal-lahir/