Sabtu, 22 Agustus 2015

Knock The Door

Jesus says, ”Knock and the door shall be opened unto you.” But please remember if it is a door or not. Don’t go on knocking on the wall, otherwise no door shall be opened unto you. And, in fact, when you knock at the door, when you really reach near the door, you will find it has always been open. It has always been waiting for you. A door is a waiting, a door is a welcoming, a door is a receptivity. It has been waiting for you, and you have been knocking on the wall.
What is the wall?
When you start through knowledge and not through being, you are knocking at the wall. Become, be! Don’t gather information. If you want to know love, be a lover. If you want to know God, be meditation. If you want to enter the infinite, be prayer. But be! Don’t know about prayer. Don’t try to accumulate what others have said about it. Learning will not help; rather, unlearning will help. Drop whatsoever you know, so that you can know. Drop all information and all scriptures, forget all Korans and Bibles and Gitas; they are the barriers, they are the wall. And if you go on knocking against that wall, those doors will never open, because there are no doors. And people are knocking against the Koran, knocking against the Vedas, knocking against the Bible, and no door opens.

#Osho

KESATUAN DENGAN KEHIDUPAN:

[Kesadaran yang memisahkan timbul dari kesadaran adanya “si aku” (“I”, “me”, “mine”, “myself”) yang berelasi dengan segala hal sebagai objek. Sebaliknya, kesadaran yang menyatukan adalah kesadaran sebelum tercipta paham adanya “si aku”. Kita, Anda dan saya, adalah kesadaran INI, kesadaran tak-berbentuk, tak-berobjek, tanpa ego.
Kesadaran INI mirip seperti ruang mahaluas tak-terbatas yang mendasari dan melingkupi semua bentuk-bentuk kehidupan. Apabila Anda menyentuh dimensi Kehidupan Tak-Berbentuk ini–sebuah Kesadaran Tak-berbentuk yang menyatukan–maka Anda akan mengerti bahwa Anda bukan memiliki hidup, tetapi Anda adalah hidup itu sendiri; Anda bukan memiliki Kesadaran, tetapi Anda adalah Kesadaran itu sendiri. Kesadaran INI bukan milik Anda, bukan milik saya; INI adalah Kesadaran Semesta, Universal, Ilahi. Kesadaran INI adalah Anda yang sesungguhnya.
.....Rasakan beberapa saat kemahaluasan dari Kesadaran atau Kehidupan Tak-Berbentuk yang adalah Anda yang sesungguhnya. Tinggallah dalam realisasi ini dalam beberapa saat dan perhatikan bagaimana Kesadaran Tak-Berbentuk ini bermanifestasi dalam dunia bentuk, meresapi dan melampaui segala hal yang Anda sadari.
.....Apabila Anda merealisasikan atau menghidupi Kesadaran Tak-Berbentuk ini sementara Anda hidup dan berelasi dalam dunia bentuk, maka Anda akan menemukan secara relative mudah kedamaian, kebahagiaan dan kelimpahan dalam hidup.]

#Romo Sudrijanta Johanes

A Seed and Forest (Sebutir Biji dan Hutan)

Adalah sebutir biji. Ia memiliki rasa ingin tau yang kuat mengenai bagaimana hutan tercipta. Ia tidak cukup pengetahuan untuk menjawab rasa ingin tahunya itu. Maka ia pun memulai pengembaraannya untuk mencari jawaban.
Dalam perjalanannya ia belajar satu per satu pengetahuan yang bisa ia pelajari, dimulai dari ilmu tanah, ilmu air, dan ilmu udara. Ia sekarang mengerti bahwa di sekelilingnya ada tanah, air dan udara. Dan ia tau fungsi mereka masing-masing. Namun pengetahuan ini belum cukup dalam menjawab bagaimana penciptaan hutan.
Ia melanjutkan perjalanannya. Ia memperluas pengetahuannya. Si biji mempelajari ilmu lain seperti ilmu iklim, cuaca, juga ilmu kelangitan, seperti cahaya matahari, bulan, bintang. Sekarang ia tahu apa fungsi dari masing-masing komponen itu dan bagaimana hubungannya antara satu dan lainnya. Ia juga paham bagaimana semua itu berhubungan dengan tanah, air, dan udara.
Si biji sekarang menjadi biji yang pintar dan terpandang. Ia sudah layak mendapatkan gelar biji yang berilmu tinggi. Ia paham dengan baik apa yang terjadi pada alam di sekelilingnya. Namun pengetahuannya ini yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun masih belum mampu menjawab keingintahuannya mengenai bagaimana hutan tercipta.
Beberapa tahun lamanya kemudian, si biji masih ingin tau bagaimana hutan tercipta. Tapi ia tidak tau harus belajar apa lagi. Dan ia tidak punya tempat untuk bertanya. Hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Sampai suatu hari ia bertemu sebatang pohon tua yang besar.
Ia pun bertanya kepada sang pohon besar, "Wahai pohon tua besar yang bijak, apakah engkau tau bagaimana hutan tercipta? Sudikah kau menceritakannya kepadaku?
"Sang pohon besar memandang ke bawah ke arah si biji. Ia berkata, "O biji, berhentilah bergerak, dan duduklah diam di sampingku."Si biji menuruti apa yang dikatakan oleh pohon besar. Ia duduk berdiam diri di samping pohon besar itu.
Sehari, seminggu, sebulan pun berlalu, biji tetap duduk diam tidak bergeming. Perlahan-lahan mulai terjadi perubahan pada dirinya. Biji mulai ditumbuhi akar kecil, yang kemudian membesar dan menjalar menembus tanah. Tubuhnya meninggi karena batang yang tumbuh keluar dari tubuhnya. Daun pun muncul dari batangnya. Ia merasakan cahaya matahari masuk ke dalam tubuhnya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dulu ia hanya tau mengenai cahaya, namun sekarang ia bisa merasakannya mengalir melalui daun dan seluruh tubuh. Ia merasakan akarnya yang menyerap zat-zat mineral dari dalam tanah ke dalam tubunya. Ia pun semakin tumbuh. Semakin besar, dan besar.
Bertahun-tahun sudah berlalu, si biji sekarang bukanlah sebuah biji lagi. Ia telah menjadi sebatang pohon yang sangat tinggi besar, berbatang banyak, dan daun-daunnya yang rimbun. Sekarang si biji mengerti bahwa selama ini ia sudah berada di dalam hutan. Dan ia sekarang mengerti bagaimana hutan itu tercipta.
Si biji mengerti. Ia lah hutan itu!

Kamis, 09 April 2015

Kang Suto Mencari Tuhan

....
Di Klender, yang banyak masjid itu, saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasehati, "Hiasi dengan baca Quran, biar rumahmu teduh."
Para "Unyil" ke mesjid, berpeci, dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemaruk terhadap agama.
Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, supir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat, tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.
Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, Ba, Ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, 'ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya kurang lebih ngain.
"Ain, Pak Suto," kata Ustad Bentong bin H. Sabit.
"Ngain," kata Kang Suto.
"Ya kaga bisa nyang begini mah," pikir ustad.
Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyam. Tapi Kang Suto tidak putus asa. Dia cari guru ngaji yang lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Alfatika.
"Al-kham-du...," tuntun guru barunya.
"Al-kam-ndu..," Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, "Salah."
"Lha kam ndu lilah...," Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak bisa sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.
Kang Suto takut, "Mau belajar malah cari dosa," gerutunya.
Ia tahu, saya tidak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan dari saya.
"Begini Kang," akhirnya saya menjawab. "Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima atau tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula, bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan 'ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma orang Arab melulu."
....
~Mohamad Sobary

Kapan Kamu Merasa Cukup?

Pertanyaan yang hadir di benak saya tadi malam adalah, "Kapan kamu akan merasa cukup?"
Pertanyaan yang sederhana, namun membuat saya merenung cukup lama. Merenungi perjalanan hidup yang sebagian besar diisi dengan menciptakan impian, kemudian mengejarnya. Bila berhasil senang, jikalau gagal sedih. Menciptakan impian lagi yang lebih besar, dan mengabaikan impian sebelumnya..terus-menerus, seperti berlari ke suatu tempat yang tidak ada ujungnya. Sekalipun terpenuhi, akan tercipta impian dan keinginan baru yang lebih besar dan meminta untuk dipenuhi. Di tengah perjalanan, baru tersadarkan olen sebuah pertanyaan, "Kapan kamu akan merasa cukup?"
"Apakah kamu takut, jika dalam merasa cukup, segala anugerah untukmu akan berhenti dialirkan?" Itu menjadi pertanyaan selanjutnya yang hadir di benak. Kemudian ada suara yang tak kalah jernihnya, "Hanya dalam rasa berkecukupanlah, rasa syukur dapat tumbuh. Dan hanya dengan rasa syukurlah, kebahagiaan akan mekar dalam dirimu. Rasa kekurangan tidak akan menumbuhkan kebersyukuran, apalagi kebahagiaan. Ketika engkau merasa cukup, engkau mulai bisa menikmati aliran anugerah dalam hidupmu. Dalam rasa cukup, engkau menerima segalanya. Ini bukan tentang apa yang sedang engkau miliki, tapi tentang mensyukuri apapun yang engkau miliki saat ini. Dan itu tidak didapatkan dengan memaksa hal-hal di luar dirimu untuk mencukupkan dirinya, tapi keputusan sadar dari dalam diri untuk merasa cukup." Jadi, kapan kamu merasa cukup?

Jebakan Ego

Apakah jika saya mencintai kanan, saya harus membenci kiri?
Apakah jika saya mencintai gelap, saya harus membenci terang?
Apakah jika saya mencintai biru, saya harus membenci sesuatu yang bukan biru?
Apakah jika saya mencintai bunga, saya harus membenci sesuatu yang bukan bunga?
Apakah jika saya mencintai matahari, saya harus membenci bulan?
Apakah jika saya mencintai ketenangan, saya harus membenci keramaian?
Apakah jika saya mencintai kebersihan, saya harus membenci kekotoran?
Apakah jika saya mencintai kebaikan, saya harus membenci keburukan?
Apakah jika saya menganut agama tertentu, saya harus membenci orang-orang yang menganut agama lain?
Apakah jika saya tidak menganut agama tertentu, saya harus membenci orang-orang yang menganut agama?
Apakah jika saya mencintai makanan tertentu, saya harus membenci orang-orang yang mengharamkan makanan itu?
Apakah jika saya mengharamkan makanan tertentu, saya harus membenci makanannya dan orang-orang yang memakannya?
Apakah jika saya mencintai kebahagiaan, saya harus membenci kesedihan?
Apakah setiap rasa cinta yang tumbuh dalam diri harus diiringi hadirnya rasa benci sebagai bayangannya?
Apakah harus seperti itu polanya?
Apakah itu hanya semacam jebakan ego?
Mungkinkah pertikaian yang hadir di bumi ini bukan karena orang-orang tidak memiliki rasa cinta, namun memilikinya dan membenci bagian lain dari apa yang dicintainya?
Mungkin ini bukan kumpulan pertanyaan yang perlu dijawab, hanya perlu direnungi, karena masing-masing kita sebenarnya sudah sama-sama mengetahui jawabannya.

Apa Salahnya?

Apa salahnya punya rasa marah?
Kita menderita bukan karena kemarahan, tapi melawan dan menolak rasa marah yang muncul.
Apa salahnya punya rasa sedih?
Kita menderita bukan karena kesedihan, tapi melawan dan menolak rasa sedih yang muncul.
Apa salahnya punya rasa bosan?
Kita menderita bukan karena kebosanan, tapi melawan dan menolak rasa bosan muncul.
Apa salahnya punya rasa kecewa?
Kita menderita bukan karena kekecewaan, tapi melawan dan menolak rasa kecewa yang muncul.
Kita menderita bukan karena hadirnya rasa-rasa itu, tapi lebih karena menolak hadirnya rasa-rasa itu agar tampak kuat di hadapan orang lain, agar tampak hebat, agar tampak baik. Padahal, kekuatan seseorang itu terlihat bukan karena berhasil melawan, tapi berhasil menjadikan rasa-rasa itu sebagai kawan.

Tentang Cinta Terakhir

Aku ingin menulis sesuatu tentang kita
Tentang rasa, tentang cinta
Tentang sesuatu yang membalut hatimu dan hatiku
Candamu dan candaku
Juga lukamu dan lukaku
Mungkin engkau bosan
Menatap seorang lelaki pemuja kata
Mengumbar rasa kepada semesta
Karena engkau tau cinta tak terbahasa
Tapi ijinkan aku untuk tidak memperdulikannya
Setidaknya untuk saat ini saja,
Ketika aku ingin menulis sesuatu tentang kita
Tentang rasa, tentang cinta
Bukan untuk mengumbarnya
Bukan untuk menyombongkannya
Bahkan harus kukatakan, bahwa ini bukan untukmu
Tapi untukku
Untuk membuatku semakin sadar
Semakin ingat, bahwa aku mencintaimu
Cinta dalam kesadaran
Sadar dalam mencintai
Cinta yang tidak membuatku mabuk
Tapi cinta yang membuatku melakukan
Hal-hal terbaik yang kupunya..untuk kita
Cinta yang tidak membutakan
Tapi cinta yang membuatku mampu
Melihat keutuhan dirimu, keunikan dirimu
Canda-tawamu, sedih-lukamu, lebih-kurangmu
Cinta yang tidak hanya memaksamu untuk bahagia
Tapi cinta yang juga mengijinkanmu untuk bersedih
Cinta yang mengijinkanmu untuk bosan
Cinta yang mengijinkanmu untuk bete
Cinta yang mengijinkanmu untuk ngambek dan ngomel-ngomel
Cinta yang mengijinkanmu untuk memarahiku
Karena aku tau,
Setiap aku menahan kemarahanmu padaku
Aku telah menyediakan ruang yang lebih besar
Untuk amarahmu di lain waktu
Dan mungkin ini yang terberat
Yang tidak pernah kau baca sendiri dari semua kata-kataku
Yang tidak pernah kau dengar sendiri dari semua ucapanku
Hingga detik ini..
Aku ingin memohon ijin kepadamu
Dengan seluruh keikhlasanmu
Dengan seluruh rasa cintamu
Ijinkan aku untuk mengatakannya dengan jujur
Bahwa engkau bukanlah cinta terakhirku!
Maafkan aku bila kau anggap ini menyakitkan
Tapi aku ingin selalu mencintaimu dengan sederhana
Aku hanya ingin engkau ingat bahwa cinta tidak punya akhir
Biarkan aku jatuh cinta lagi..dan lagi..dan lagi..
Kepadamu
Kepada duniamu
Kepada bahagiamu
Dan kepada semua pertanyaan yang sering kau lontarkan
Padahal kita sudah sama-sama tau jawabannya.
Surabaya, di sebuah kontrakan yang tak berpagar, 31-03-2015

Hidup dalam Tidur

Aku sedang hidup dalam tidur
Berlari di masa lalu
Dengan semua rasa pilu
Berkejaran di masa depan 
Dengan semua khayalan dan angan
Aku melihat tubuh
Namun, jarang merasakan diriku utuh
Aku melihat kaki
Namun, jarang hadir di masa kini
Mataku tertutup, wajahku tertunduk,
Berharap doaku Kaupeluk
Tapi pikiranku tak tertuju
Hatiku masih ragu
Ketus menuntut Kau tak keliru
Mengabulkan semua doaku dan rindu

Kita Tetaplah Anak-Anak

Berapapun usia kita, kita tetaplah anak dari orang tua kita. Kadangkala, mereka memperlakukan kita seperti anak-anak, padahal kita merasa diri kita sudah 'besar'. Tapi, kita memanglah anak mereka, dan setiap orang memiliki sisi kanak-kanak di dalam dirinya masing-masing. Tidak perduli apakah orang itu remaja ataukah sudah dewasa.
Banyak orang yang mungkin rindu diomeli ibu, diceramahi bapak, dibawelin mama, dijewer kupingnya sama papa, ditanya hal-hal sepele tiap beberapa jam, masih diingetin mandi walaupun sudah besar, diingetin sembahyang padahal lagi males-malesan, tapi tidak bisa mengulang momen itu kembali. Bersyukurlah kalau kita masih dikaruniai mereka hingga saat ini. Kita mungkin mengeluh ibu kita cerewet, tapi jutaan orang di luar sana mungkin saja ingin mendengar kembali suara ibu mereka ketika ngomel. Kita mungkin juga mengeluh dengan sikap ayah kita, tapi mungkin saja ada banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk bertemu ayah mereka beberapa saat hanya untuk memohon maaf dan mengucapkan terimakasih.
Bagi orang tua kita, kita tetaplah anak-anak. Bersyukurlah kita masih diingatkan bahwa ada sisi kanak-kanak di dalam diri kita, karena dengan menyadari sisi itulah kita memiliki kesempatan untuk lebih berbahagia, sekalipun kita merasa diri kita sudah dewasa. Dan kedewasaan bagi saya bukanlah tentang penolakan terhadap sisi kanak-kanak di dalam diri, apalagi berusaha menghilangkan sisi itu, tapi kemampuan untuk menyadari dan memeluknya dengan lebih hangat.

Minggu, 08 Maret 2015

Kukatakan Kepadamu

Baiklah, akan kukatakan kepadamu
Bahwa sebenarnya kita tidak pernah terpisah
Sekarang tatap mataku..
Kini engkau ada di hadapanku
Dan aku ada di hadapanmu, bukan?
Engkau melihatku
Dan aku melihat wajahku sendiri
Ada di kedua bola matamu.

Dan pada saat yang bersamaan
Engkau ada di dalam diriku
Dan aku ada di dalam dirimu
Kenapa bisa seperti itu??
Begini, biar kujelaskan perlahan
Wujudmu terhenti sampai di kedua bola mataku saja
Tapi cintamu merasuk hingga
ke dalam pikiran dan hatiku

Bila aku hanya mengandalkan mataku
Jelas cintaku hanya sebatas keanggunan fisikmu
Tapi, jangan salah paham dulu
Bukan berarti aku tidak perduli itu
Itu tidak salah sama sekali
Hanya saja itu belum dalam
Aku mencintai kedua mataku
Dengannya aku menangkap wujudmu
Aku mencintai wujudmu

Bila aku hanya mengandalkan telingaku
Cintaku akan terkungkung dalam suaramu
Tidak bisa bergerak lebih bebas dari itu
Tapi, seperti yang kukatakan sebelumnya
Itu juga tidak salah
Hanya saja belum dalam
Aku mencintai kedua telingaku
Dengannya aku menangkap suaramu
Aku mencintai suaramu

Yang terdalam..yang terhalus
Cintamu tak dapat kusandera dengan inderaku
Terlalu kecil..begitu halus
Menempati ruang-ruang di pikiran dan hatiku
Sehingga engkau kini menggandakan diri!
Di hadapanku dan di dalam diriku
Aku mencintai engkau yang ada di hadapanku
Aku mencintai engkau yang ada di dalam diriku
Dan aku mencintai caraku mencintaimu

Mungkin engkau bertanya...
Kenapa mesti mencintai caraku mencintaimu?
Supaya aku bisa kembali
Ke titik kesetimbangan cinta itu sendiri
Ketika engkau yang ada di hadapanku
Mulai berbeda dengan engkau yang ada di dalam pikiranku
Ketika engkau yang sebenarnya
Mulai berkonflik dengan engkau yang aku harapkan
Ketika engkau dengan segala sifat dan sikap
Mulai berseteru dengan sifat dan sikap
yang aku inginkan ada padamu
Apakah sekarang engkau mulai paham?

Intinya, aku manusia yang rindu rasa - rindu rupa
Terkadang tergiur menjebak rasa dalam kata
Dan senang mengurai kata menjadi rasa
Entah sampai kapan
Mungkin sampai bumi berhenti berputar..
Ah, pasti engkau anggap itu doa, kan?
Tuhan tidak senaif itu
Dia juga senang puisi
Lalu engkau sebut apa kehidupan ini
bila bukan jalinan bait-bait puisi
pada kertas semesta-Nya?


Rabu, 24 Desember 2014

Jing

Bila ada orang yang memakimu dengan sebutan 'anjing', tariklah napas lebih dalam, kemudian hembuskan..jangan ditahan, nanti pingsan..haha.
Sadari kalau memang ada rasa marah yang muncul. Rasa marah yang hadir karena ketidaktahuan kita bahwa ada sifat2 anjing yang perlu kita pelajari juga..karena bisa jadi sifat2 itu lebih mulia dari sifat kita sebagai manusia. 
Kalau ada yang menyebutmu 'babi', 'gajah', atau apapun..kemarahanmu yg muncul mungkin karena tidak tau bahwa ada sifat2 mulia dari hewan2 itu. Maka, dengan pola pikir itu, mungkin saja orang yang sedang menghinamu itu sedang memujimu.
Dan tenang saja, makian dan hinaan apapun yang terlontar kepadamu tidak menunjukkan siapa dirimu, tetapi hanya menunjukkan siapa diri pemaki dan penghinanya.
Teko yang berisi air putih hanya mengeluarkan air putih, teko yang berisi teh mengeluarkan teh, dan teko yang tidak berisi apa2, tidak mengeluarkan apa2, selain suara gaduh bila dipukul,,,dengan sendok!
Sekian dan terimakasih..anjing. 

Jalan yang Berbeda, Cahaya yang Sama

Kita sedang sama-sama melangkah
Menapaki jalan untuk mencapai tujuan
Aku tidak tahu kapan aku akan sampai
Mungkin kau pun begitu
Aku pun tidak tahu akan ada apa di depan sana
Sama seperti dirimu
Namun, kita terus melangkah
Sesekali beristirahat
Untuk menyadari kalau kita masih bernapas
Dan napas yang aku hirup dan hembuskan ini
Yang masuk ke dalam tubuhku
Keluar dari tubuhku
Mungkin pernah berada dalam tubuhmu
Dan pernah keluar dari tubuhmu
Kemudian aku perlahan menyadari
Bahwa semesta adalah sebuah ruang raksasa
Yang mengikat kita melalui tali-tali udara
Yang tak kasat mata..
Ayolah Kawan..
Masihkah engkau tak menyadari kesatuan ini?
Tuhan sedang bercanda..
Melalui perbedaan-perbedaan yang tampak
Di hadapan kita,
Kita seolah-olah menyusuri jalan yang berbeda
Namun, dihadiahkan cahaya matahari yang sama
Untuk menerangi jalan-jalan itu
Kita terus melangkah mencapai tujuan kita masing-masing
Seolah-olah ada istana di ujung jalan sana
Namun, ternyata istananya disembunyikan
Di dalam hati kita sendiri. Itu saja.
Surabaya, 23-12-2014

#CintaItu

Cinta itu bukan menggenggam, apalagi mencengkeram, tapi memberikan ruang bagi kekurangan dan kelebihan. Genggaman hadir karena ketakutan akan kehilangan..semakin takut kehilangan, semakin kuat genggamannya.

Cinta memberikan kebebasan bagi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri. Kebebasan dalam keunikan menghadirkan keindahan. Keindahan yang hadir karena gerakan sempurna antara kepakan sayap kelebihan dan sayap kekurangan.

#CintaItuMenerbangkan


Senin, 22 Desember 2014

Masih Kaku

Dulu, ketika saya awal-awal berlatih kempo di sebuah dojo, rasanya bangga bisa menguasai beberapa jurus. Ada tendangan, pukulan, tangkisan, disertai dengan teriakan yang perkasa. Pokoknya keren deh. Di luar latihan, saya menjadi sosok yang berani dan percaya diri. Setiap ada masalah dikit aja dengan orang lain, maunya langsung mukul atau nendang, saking beraninya. Setiap ada laki-laki yang cara berjalan atau meliriknya tidak saya sukai, maunya langsung ngantem mukanya. Namanya juga masih anak kemarin sore belajar beladiri..merasa diri hebat, padahal hanya hebat dalam memberi nutrisi bagi ego sendiri. Sangat kaku, segala sesuatu disikapi dengan cara-cara yang mengedepankan otot.
Di lain waktu, saya belajar main gitar. Di awal-awal belajar, jari-jari tangan kiri saya sering sakit karena belum terbiasa menekan senar-senar gitar. Karena baru belajar, jari-jari saya kaku sekali, tidak luwes seperti guru saya. Nada yang dihasilkan oleh jari-jari yang kaku pun ikut kaku, tidak mengalir..tidak harmonis. Kadang-kadang nadanya berbunyi..tek..tek..tek. Kayanya saya salah neken tuh..haha. Namanya juga masih anak kemarin sore belajar gitar...meluweskan jari-jarinya sendiri saja masih belum mampu. Masih kaku.
Saya amati dalam berbagai hal di kehidupan ini, ketika saya baru pertama kali belajar sesuatu, rentan sekali hadir ego untuk menyombongkan diri. Saya merasa menguasai banyak hal, tapi sebenarnya tidak paham esensi apa-apa! Masih di permukaan..masih sangat dangkal..tapi sudah sering bikin orang lain dongkol. Kekakuan adalah ciri bahwa kita baru mempelajari sesuatu. Dan keluwesan adalah ciri dari kedewasaan dan kemahiran kita dalam menguasai sesuatu. Sama seperti orang yang baru pertama kali naik sepeda, seluruh tubuhnya menegang, sangat kaku. Berbeda dengan orang yang sudah mahir, sangat luwes, namun tidak kehilangan keseimbangan dalam keluwesannya itu.
Ini bukan hanya tentang beladiri, tentang belajar gitar, atau naik sepeda, ini tentang ilmu apapun yang kita pelajari dalam hidup ini. Entah itu belajar masak, belajar balet, renang, menari, ilmu kimia, matematika, fisika, astronomi, psikologi, ilmu komputer, manajemen, komunikasi, agama,dll! Bila masih kaku, berarti masih harus banyak berlatih. Bila masih sering bikin ribut dengan orang lain, berarti masih harus banyak belajar. Orang-orang yang sudah ahli justru sangat luwes, sangat tenang, dan jarang bikin ribut. Bila masih berteriak sana-sini tentang yang ini benar-yang ini salah-dan saya yang terbenar, sama seperti suara senar gitar yang berbunyi tek..tek..tek. Belum harmonis. Jari-jarinya masih kaku. Namanya juga masih anak kemaren so..ah sudahlah! 

Minggu, 14 Desember 2014

Perdebatan Tentang Listrik

Suatu sore, setrika lagi nongkrong sama teman-temannya di ruang tengah. Ada kulkas, kipas angin, mesin cuci, dan lampu. Setrika memulai obrolannya,
"Fren, menurut kalian, listrik itu apa sih? Bagiku listrik itu sesuatu yang ketika mengaliri tubuhku, tubuhku jadi makin panas. Dan ketika tidak mengalir lagi, tubuhku kembali seperti biasa."
"Kurang tepat kalo artinya seperti itu, Ka," kata kulkas kepada setrika. "Justru listrik itu adalah sesuatu yang membuat sekujur tubuhku merinding kedinginan, bukan malah semakin panas. Air bisa kuubah jadi es kalau listrik mengalir di tubuhku."
"Wah, ngawur aja kalian ini," mesin cuci mulai ngoceh. "Listrik gak ada hubungannya dengan panas dingin, justru listrik itu berhubungan dengan goyang. Kalo listrik mengalir, badanku maunya goyang aja..seger...campur apek!"
"Sudahlah, kalian ini sebenarnya belum tau apa-apa tentang listrik," kata lampu mulai memberi pencerahan. "Kalian ini makhluk-makhluk bawah, aku yang termasuk makhluk atas karena letakku di atap, jadi aku lebih mengerti tentang listrik dibanding kalian. Listrik itu adalah sesuatu yang mengubah kegelapan menjadi terang. Dari gelap terbitlah terang."
"Itu bukannya quote-nya ibu Kartini ya, Mpu?" potong kulkas.
"Tau apa kamu tentang ibu Kartini. Kamu belum lahir waktu beliau lahir," kata lampu.
"Iya nih, sok tau banget kamu, Kas..t'goyang..kapok!" ejek mesin cuci kepada kulkas.
Tidak beberapa lama, sang pemilik rumah yang sedari tadi mendengar perdebatan alat-alat elektroniknya itu mulai bersuara, "Kalian semua benar, apa yang kalian definisikan sebagai listrik sudah benar menurut persepsi kalian masing-masing. Kalian mempersepsikan listrik sesuai dengan fungsinya dalam diri kalian masing-masing. Seandainya saja kalian tidak banyak berdebat, hening saja sebentar, kalian akan tau bahwa listrik yang mengalir di tubuh kalian; setrika, kulkas, mesin cuci, lampu, tv, radio, laptop, hp, tab, panggangan roti, ac blender, solder, dll adalah listrik yang sama. Tidak ada bedanya. Yang berbeda adalah fungsi dan persepsi kalian. Itu saja."

Tentang Sabar

Sabar itu dimulai tepat setelah pikiran kita berhenti bertanya "sampai kapan?". Ketika kita masih berkutat dengan pertanyaan itu, sebenarnya kita masih belum memulai untuk sabar, kita hanya sedang menampung emosi di dalam diri kita sendiri.

Awal Rasa Cinta

Awal dari semua rasa cinta adalah penerimaan...penerimaan bahwa diri kita pantas untuk dicintai. Kalau kita tidak bisa mengerti dan mencintai diri kita sendiri, dari mana kita memiliki energi untuk mengerti dan mencintai orang lain?
Kadang, pertanyaan terpenting dalam hidup kita adalah pertanyaan yang tidak perlu lagi dijawab, hanya perlu direnungi, karena justru jawabannya sudah terkandung di dalam pertanyaannya itu.

Minggu, 07 Desember 2014

Reza Bakhtiar

Untuk sahabatku, yang juga seorang adik, dan bos 10.11..kata-kata ini bukan untuk mengobati rasa kehilangan yang ada di hatimu saat ini, bukan untuk mengusir rasa sedih yang saat ini sedang bertamu, dan bukan untuk menghapus kerinduan yang sedari kemarin hadir..kata-kata ini hanya penanda, bahwa aku ada di sampingmu, Kawan. Baik ketika rasa senang hadir di hatimu, maupun ketika kesedihan menyapa.
Menangislah, bukan untuk menendang kesedihan itu, bukan untuk memukul rasa bersalah itu, tapi untuk mendekapnya, memeluknya lebih erat dari biasanya. Sampai rasa sedih itu sedih untuk berlama-lama hadir di hatimu. Hingga rasa bersalah itu merasa bersalah bila harus menetap lebih lama di hatimu. Mereka bukan musuhmu, mereka hanya bukan dirimu. Dirimu bukan rasamu, bukan juga pikiranmu. Mereka semua hanya tamu-tamu dalam semesta kecilmu. Engkau abadi, begitu pula dengan sosok yang kau tangisi saat ini.
Menangislah, namun jangan merasa lemah. Engkau kuat dan aku bisa melihat itu. Air matamu saat ini bukan tanda kelemahan, namun kejujuran akan perasaanmu sendiri. Keberanian yang sejati hadir bukan karena ketiadaan rasa takut, tapi karena kejujuran dalam mengakui keberadaan rasa takut itu. Kebahagiaan yang hakiki juga hadir bukan karena ketiadaan rasa sedih, tapi karena keikhlasan dalam memeluk rasa sedih itu. Air matamu mengajarkanku tentang kejujuran dan keikhlasan ini, Kawan.
Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengatakan bahwa dirimu kuat. Dirimu memang kuat, bukan karena aku ingin menghiburmu, dan bukan karena aku sahabatmu. Dan dalam ketegaran dan kekuatanmu itu, engkau pasti sudah melihat bahwa surga yang ada di kedua telapak kakinya itu kini bersatu dengan keindahan semesta, bersatu dengan bintang-bintang, rembulan, matahari, bahkan udara yang kini kau hirup dan kau hembuskan. Surga itu kini menjadi lebih luas..jauh lebih luas dari apa yang mampu kau lihat dengan matamu. Bahkan, surga itu kini meresap ke dalam semesta kecilmu, menyatu dengan dirimu. _/|\_

Kita Hidup Berdampingan dengan Masa Lalu

Bintang yang kita lihat di langit ketika malam, mungkin saja sudah hancur dan tidak ada lagi, namun cahayanya baru sampai ke bumi dan tertangkap mata kita. Matahari yang kita lihat ketika pagi adalah matahari beberapa detik yang lalu. Ini adalah beberapa bukti bahwa ada masa lalu yang kita lihat di masa kini.
Kita hidup di saat ini, namun juga hidup berdampingan dengan masa lalu. Cukup dibutuhkan sebuah lagu untuk membawa memori kita pada peristiwa di masa lalu, cukup sebuah rasa makanan untuk mengantarkan pikiran kita kepada sebuah tempat yang pernah kita kunjungi di masa lalu, cukup semilir angin yang membawa aroma tertentu yang mengantarkan kenangan kita dengan seseorang ke saat ini.
Tidak dibutuhkan hal besar untuk 'memanggil' masa lalu kita ke kehidupan kita saat ini, namun dibutuhkan upaya yang sangat besar untuk 'memusnahkan' atau melupakan masa lalu..karena kita tidak mungkin melupakan tanpa mengingatnya terlebih dahulu. Ingin melupakan dan ingin mengingat sebenarnya adalah permohonan yang sama dengan kata-kata yang berbeda.