Minggu, 06 Juni 2010

Gula dalam Secangkir Teh..


Hari minggu pagi ini adalah jadwalku melakukan aktivitas cuci-mencuci. Sudah banyak pakaian kotor yang menunggu untuk dibersihkan. Kesemuanya itu kutampung sementara dalam sebuah tas kresek putih besar untuk kemudian kupindahkan dalam ember hitam berisi air yang tergeletak dekat kamar mandi. Setelah kumasukkan semua pakaian ke dalamnya, barulah aku membubuhi detergen bubuk dengan sangat hati-hati. Terlalu banyak detergen akan menimbulkan banyak busa dan tentu saja memberikan efek tertentu bagi tangan saat mencuci, biasanya terasa agak panas karena terkandung soda api di dalamnya. Setelah deterjen kumasukkan, aku memanfaatkan waktu sejenak untuk melihat reaksi yang terjadi di dalam ember. Tidak ada yang terlalu menarik bagiku, perlahan-lahan warna air berubah menjadi putih akibat dispersi deterjen, tetapi tidak terlalu banyak. Belum ada busa yang muncul. Setelah cukup lama termenung, akhirnya aku MENGADUK pakaian di dalam air secara perlahan. Secara perlahan pula, busa muncul ke permukaan air dan warna putih keruh menyebar secara merata. Seketika itu juga pikiranku melayang pada sebuah kisah yang sempat diceritakan oleh Cavett Robert.

Diceritakan bahwa seorang ayah melihat putrinya sedang menuangkan gula berkali-kali ke dalam cangkir tehnya. Setelah tuangan gula yang ketujuh, sang ayah tak tahan untuk mencegah tuangan selanjutnya.
“Nak,” katanya sambil memegang tangan putrinya yang hampir menuangkan gula untuk kedelapan kalinya.
“Tidakkah jika terlalu banyak gula yang kamu tuangkan, akan membuat tehmu menjadi terlalu manis?”
“Tidak, Ayah,” jawab putrinya dengan lucu.
“Tidak, jika saya tidak MENGADUKNYA!”

Ada kesamaan makna yang terkandung dalam kisah “mencuci pakaian” dan kisah Cavett Robert, yaitu tentang suatu proses pengadukan. Dalam kimia, proses pengadukan dilakukan untuk mempercepat tumbukan antarpartikel di dalam campuran, sehingga memengaruhi laju reaksi yang terjadi. Dengan kata lain, pengadukan adalah salah satu upaya untuk mempercepat reaksi. Kita, termasuk penulis, seringkali menjalani kehidupan tanpa mengasah bakat dan kemampuan yang kita miliki. Kita bukan tidak memiliki potensi itu, namun kita enggan untuk sekadar “mengaduknya” dan menjadikannya berguna bagi peningkatan kualitas diri. Kemampuan kita untuk mengolah pikiran-pikiran yang ada, kemudian menghasilkan satu konsep yang menarik dan berguna, itulah yang sama artinya dengan “proses pengadukan”. Memiliki pikiran-pikiran cemerlang belumlah cukup, masih harus dikelola, dibentuk menjadi satu konsep yang baik dan berguna bagi orang lain. Orang besar itu bukan karena kebesaran pikirannya, tetapi kebesaran manfaat yang diberikan oleh kebesaran pikirannya itu.

Mungkin begitu ideal bila aku menuliskan tentang mengelola pikiran, kemudian menjadikannya bermanfaat bagi sesama. Bukan ingin menjelaskan bahwa aku telah berhasil dalam banyak proses pengadukan, baik pikiran dan perasaan, tetapi setidaknya kita memiliki potensi yang sama untuk melakukan proses itu. Semoga catatan kecil ini senantiasa mengubah dirinya menjadi satu inspirasi baru dalam pikiran kita, kemudian merajut dengan pikiran lain, yang pada akhirnya melahirkan satu aktivitas yang penuh dengan makna dalam menjalani hidup ini. Have a nice day!!

selsurya.blogspot.com, 6 Juni 2010

1 komentar:

  1. wow............

    i think...
    i'll be your next fans...
    fans of your word...

    mas yudha keren banget....
    oke..oke...
    like this....

    BalasHapus