Jumat, 18 Juni 2010

Roti Bakar


Gerimis turun dengan lancangnya dari langit Gresik malam ini. Namun, hal itu tidak menurunkan semangatku untuk pergi keluar. Perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Masuk kembali ke dalam kamar sama saja dengan mengundang maag dengan ramah. Setelah berpakaian lengkap, disertai jaket tebal, aku pun bergegas menuju halaman depan kost, menaiki motor, dan melajukannya. Di sepanjang jalan, di setiap warung kopi yang kutemui, hampir dipastikan seluruh pengunjungnya sedang mengarahkan fokus mereka pada layar kaca yang menyajikan tayangan dengan dominasi warna hijau. Entah apa yang membuat 22 orang di suatu lapangan berlari kesana-kemari memperebutkan sebuah bola dengan mengikuti aturan tertentu. Memang sulit untuk dipercaya, tapi banyak orang menyukainya. Walaupun begitu, aku tetap berdoa yang terbaik, mudah-mudahan gelaran piala dunia yang diadakan di Johannesburg tahun ini berjalan dengan lancar dan para penjaga warung kopi mendapat rezeki yang bermanfaat. Amin.

Setelah menyusuri jalan veteran, R.A. Kartini, dr. Sutomo, Jaksa Agung Suprapto, dan Panglima Sudirman, akhirnya aku sampai juga di jalan Arief Rahman Hakim. Jalan ini mengingatkanku pada sebuah jalan yang sering aku lalui ketika masih kuliah di Surabaya. Sungguh jalan yang penuh kenangan, dan juga penuh air ketika hujan datang. Sambil menoleh kanan-kiri, akhirnya mataku berjumpa dengan sebuah gerobak bertuliskan “ROTI BAKAR”. Ini dia yang kucari, menu makan malam ini. Bukannya ingin meniru orang Barat yang senang sekali mengonsumsi roti, aku hanya tidak ingin terlalu kenyang saja malam ini. Setelah memarkir sepeda motor, aku melihat-lihat menu yang tertempel pada kaca gerobak. Ada 34 menu roti bakar dan kesemuanya menggugah selera. Ada roti bakar nanas + stoberi, blueberry + kacang, keju + kacang, coklat + keju, milo + keju, dll (dan lainnya lupa). Karena keterbatasan isi dompet, aku pun memesan roti bakar milo + kacang.

Sambil menunggu roti yang akan diproses lebih lanjut, aku pun duduk di kursi plastik yang ada di samping gerobak. Ada 7 kursi plastik yang disediakan disana. Itu berarti hanya 7 orang yang diperkenankan duduk sambil menungu roti yang sedang dibakar. Bila pembeli melebihi jumlah tersebut, silakan berdiri di dekat gerobak sambil melipat kedua tangan di depan dada. Atau bisa juga memberikan pesan singkat kepada penjual seperti, “Pak, saya tinggal dulu, nanti saya ambil rotinya ya!” Semuanya bisa diatur, yang penting jangan mengeluh. Setelah kucermati dengan seksama, roti bakar termurah yang tertera pada menu adalah roti bakar nanas + stroberi, dengan harga 6 ribu rupiah, sedangkan roti bakar termahal adalah roti bakar milo-keju + milo-keju, dengan harga 13 ribu rupiah. Kesemua menu itu menggunakan roti yang sama, baik dari segi kualitas, maupun segi kuantitas. Jadi, yang membedakan harga masing-masing roti bakar bukanlah “rotinya”, tetapi “isi rotinya”.

Ada satu pelajaran menarik yang aku dapat malam ini. Aku lebih senang menyebutnya dengan “the power of content”. Hal ini membuatku sadar akan “pentingnya sebuah isi”. Berbeda isi, berbeda harga. Dalam banyak hal, kualitas diri kita tidak saja ditentukan oleh faktor fisik, tetapi juga faktor-faktor lain yang berkaitan dengan “isi”, seperti kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spiritual. Dan justru faktor-faktor itulah yang paling menentukan kesuksesan seseorang. Jutaan orang Indonesia belajar di sekolah, kuliah di kampus, dan bekerja di manapun sedang dalam proses “mengisi diri” dengan kualitas-kualitas yang mereka harapkan masing-masing. Ada yang mengisinya dengan “nanas”, “stroberi”, “kacang”, “coklat”, “keju”, dan “blueberry”. Semuanya sesuai dengan selera. Aku jadi teringat seorang guru yang mengatakan bahwa kita bekerja bukan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tapi kita bekerja untuk menjadi semakin mahal. Tidak mudah memang untuk memegang prinsip seperti ini, apalagi uang adalah kebutuhan yang sangat penting. Namun, aku yakin kita bisa merubah pikiran serta tindakan kita sedikit demi sedikit dengan berfokus pada peningkatan kualitas diri. Yang lebih penting lagi, kita saling memotivasi satu sama lain.
Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa diambil dari catatan malam ini. Sukses selalu dan selamat makan malam…!!

selsurya.blogspot.com, 17 Juni 2010, 22.15 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar