Rabu, 24 Desember 2014

Jing

Bila ada orang yang memakimu dengan sebutan 'anjing', tariklah napas lebih dalam, kemudian hembuskan..jangan ditahan, nanti pingsan..haha.
Sadari kalau memang ada rasa marah yang muncul. Rasa marah yang hadir karena ketidaktahuan kita bahwa ada sifat2 anjing yang perlu kita pelajari juga..karena bisa jadi sifat2 itu lebih mulia dari sifat kita sebagai manusia. 
Kalau ada yang menyebutmu 'babi', 'gajah', atau apapun..kemarahanmu yg muncul mungkin karena tidak tau bahwa ada sifat2 mulia dari hewan2 itu. Maka, dengan pola pikir itu, mungkin saja orang yang sedang menghinamu itu sedang memujimu.
Dan tenang saja, makian dan hinaan apapun yang terlontar kepadamu tidak menunjukkan siapa dirimu, tetapi hanya menunjukkan siapa diri pemaki dan penghinanya.
Teko yang berisi air putih hanya mengeluarkan air putih, teko yang berisi teh mengeluarkan teh, dan teko yang tidak berisi apa2, tidak mengeluarkan apa2, selain suara gaduh bila dipukul,,,dengan sendok!
Sekian dan terimakasih..anjing. 

Jalan yang Berbeda, Cahaya yang Sama

Kita sedang sama-sama melangkah
Menapaki jalan untuk mencapai tujuan
Aku tidak tahu kapan aku akan sampai
Mungkin kau pun begitu
Aku pun tidak tahu akan ada apa di depan sana
Sama seperti dirimu
Namun, kita terus melangkah
Sesekali beristirahat
Untuk menyadari kalau kita masih bernapas
Dan napas yang aku hirup dan hembuskan ini
Yang masuk ke dalam tubuhku
Keluar dari tubuhku
Mungkin pernah berada dalam tubuhmu
Dan pernah keluar dari tubuhmu
Kemudian aku perlahan menyadari
Bahwa semesta adalah sebuah ruang raksasa
Yang mengikat kita melalui tali-tali udara
Yang tak kasat mata..
Ayolah Kawan..
Masihkah engkau tak menyadari kesatuan ini?
Tuhan sedang bercanda..
Melalui perbedaan-perbedaan yang tampak
Di hadapan kita,
Kita seolah-olah menyusuri jalan yang berbeda
Namun, dihadiahkan cahaya matahari yang sama
Untuk menerangi jalan-jalan itu
Kita terus melangkah mencapai tujuan kita masing-masing
Seolah-olah ada istana di ujung jalan sana
Namun, ternyata istananya disembunyikan
Di dalam hati kita sendiri. Itu saja.
Surabaya, 23-12-2014

#CintaItu

Cinta itu bukan menggenggam, apalagi mencengkeram, tapi memberikan ruang bagi kekurangan dan kelebihan. Genggaman hadir karena ketakutan akan kehilangan..semakin takut kehilangan, semakin kuat genggamannya.

Cinta memberikan kebebasan bagi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri. Kebebasan dalam keunikan menghadirkan keindahan. Keindahan yang hadir karena gerakan sempurna antara kepakan sayap kelebihan dan sayap kekurangan.

#CintaItuMenerbangkan


Senin, 22 Desember 2014

Masih Kaku

Dulu, ketika saya awal-awal berlatih kempo di sebuah dojo, rasanya bangga bisa menguasai beberapa jurus. Ada tendangan, pukulan, tangkisan, disertai dengan teriakan yang perkasa. Pokoknya keren deh. Di luar latihan, saya menjadi sosok yang berani dan percaya diri. Setiap ada masalah dikit aja dengan orang lain, maunya langsung mukul atau nendang, saking beraninya. Setiap ada laki-laki yang cara berjalan atau meliriknya tidak saya sukai, maunya langsung ngantem mukanya. Namanya juga masih anak kemarin sore belajar beladiri..merasa diri hebat, padahal hanya hebat dalam memberi nutrisi bagi ego sendiri. Sangat kaku, segala sesuatu disikapi dengan cara-cara yang mengedepankan otot.
Di lain waktu, saya belajar main gitar. Di awal-awal belajar, jari-jari tangan kiri saya sering sakit karena belum terbiasa menekan senar-senar gitar. Karena baru belajar, jari-jari saya kaku sekali, tidak luwes seperti guru saya. Nada yang dihasilkan oleh jari-jari yang kaku pun ikut kaku, tidak mengalir..tidak harmonis. Kadang-kadang nadanya berbunyi..tek..tek..tek. Kayanya saya salah neken tuh..haha. Namanya juga masih anak kemarin sore belajar gitar...meluweskan jari-jarinya sendiri saja masih belum mampu. Masih kaku.
Saya amati dalam berbagai hal di kehidupan ini, ketika saya baru pertama kali belajar sesuatu, rentan sekali hadir ego untuk menyombongkan diri. Saya merasa menguasai banyak hal, tapi sebenarnya tidak paham esensi apa-apa! Masih di permukaan..masih sangat dangkal..tapi sudah sering bikin orang lain dongkol. Kekakuan adalah ciri bahwa kita baru mempelajari sesuatu. Dan keluwesan adalah ciri dari kedewasaan dan kemahiran kita dalam menguasai sesuatu. Sama seperti orang yang baru pertama kali naik sepeda, seluruh tubuhnya menegang, sangat kaku. Berbeda dengan orang yang sudah mahir, sangat luwes, namun tidak kehilangan keseimbangan dalam keluwesannya itu.
Ini bukan hanya tentang beladiri, tentang belajar gitar, atau naik sepeda, ini tentang ilmu apapun yang kita pelajari dalam hidup ini. Entah itu belajar masak, belajar balet, renang, menari, ilmu kimia, matematika, fisika, astronomi, psikologi, ilmu komputer, manajemen, komunikasi, agama,dll! Bila masih kaku, berarti masih harus banyak berlatih. Bila masih sering bikin ribut dengan orang lain, berarti masih harus banyak belajar. Orang-orang yang sudah ahli justru sangat luwes, sangat tenang, dan jarang bikin ribut. Bila masih berteriak sana-sini tentang yang ini benar-yang ini salah-dan saya yang terbenar, sama seperti suara senar gitar yang berbunyi tek..tek..tek. Belum harmonis. Jari-jarinya masih kaku. Namanya juga masih anak kemaren so..ah sudahlah! 

Minggu, 14 Desember 2014

Perdebatan Tentang Listrik

Suatu sore, setrika lagi nongkrong sama teman-temannya di ruang tengah. Ada kulkas, kipas angin, mesin cuci, dan lampu. Setrika memulai obrolannya,
"Fren, menurut kalian, listrik itu apa sih? Bagiku listrik itu sesuatu yang ketika mengaliri tubuhku, tubuhku jadi makin panas. Dan ketika tidak mengalir lagi, tubuhku kembali seperti biasa."
"Kurang tepat kalo artinya seperti itu, Ka," kata kulkas kepada setrika. "Justru listrik itu adalah sesuatu yang membuat sekujur tubuhku merinding kedinginan, bukan malah semakin panas. Air bisa kuubah jadi es kalau listrik mengalir di tubuhku."
"Wah, ngawur aja kalian ini," mesin cuci mulai ngoceh. "Listrik gak ada hubungannya dengan panas dingin, justru listrik itu berhubungan dengan goyang. Kalo listrik mengalir, badanku maunya goyang aja..seger...campur apek!"
"Sudahlah, kalian ini sebenarnya belum tau apa-apa tentang listrik," kata lampu mulai memberi pencerahan. "Kalian ini makhluk-makhluk bawah, aku yang termasuk makhluk atas karena letakku di atap, jadi aku lebih mengerti tentang listrik dibanding kalian. Listrik itu adalah sesuatu yang mengubah kegelapan menjadi terang. Dari gelap terbitlah terang."
"Itu bukannya quote-nya ibu Kartini ya, Mpu?" potong kulkas.
"Tau apa kamu tentang ibu Kartini. Kamu belum lahir waktu beliau lahir," kata lampu.
"Iya nih, sok tau banget kamu, Kas..t'goyang..kapok!" ejek mesin cuci kepada kulkas.
Tidak beberapa lama, sang pemilik rumah yang sedari tadi mendengar perdebatan alat-alat elektroniknya itu mulai bersuara, "Kalian semua benar, apa yang kalian definisikan sebagai listrik sudah benar menurut persepsi kalian masing-masing. Kalian mempersepsikan listrik sesuai dengan fungsinya dalam diri kalian masing-masing. Seandainya saja kalian tidak banyak berdebat, hening saja sebentar, kalian akan tau bahwa listrik yang mengalir di tubuh kalian; setrika, kulkas, mesin cuci, lampu, tv, radio, laptop, hp, tab, panggangan roti, ac blender, solder, dll adalah listrik yang sama. Tidak ada bedanya. Yang berbeda adalah fungsi dan persepsi kalian. Itu saja."

Tentang Sabar

Sabar itu dimulai tepat setelah pikiran kita berhenti bertanya "sampai kapan?". Ketika kita masih berkutat dengan pertanyaan itu, sebenarnya kita masih belum memulai untuk sabar, kita hanya sedang menampung emosi di dalam diri kita sendiri.

Awal Rasa Cinta

Awal dari semua rasa cinta adalah penerimaan...penerimaan bahwa diri kita pantas untuk dicintai. Kalau kita tidak bisa mengerti dan mencintai diri kita sendiri, dari mana kita memiliki energi untuk mengerti dan mencintai orang lain?
Kadang, pertanyaan terpenting dalam hidup kita adalah pertanyaan yang tidak perlu lagi dijawab, hanya perlu direnungi, karena justru jawabannya sudah terkandung di dalam pertanyaannya itu.

Minggu, 07 Desember 2014

Reza Bakhtiar

Untuk sahabatku, yang juga seorang adik, dan bos 10.11..kata-kata ini bukan untuk mengobati rasa kehilangan yang ada di hatimu saat ini, bukan untuk mengusir rasa sedih yang saat ini sedang bertamu, dan bukan untuk menghapus kerinduan yang sedari kemarin hadir..kata-kata ini hanya penanda, bahwa aku ada di sampingmu, Kawan. Baik ketika rasa senang hadir di hatimu, maupun ketika kesedihan menyapa.
Menangislah, bukan untuk menendang kesedihan itu, bukan untuk memukul rasa bersalah itu, tapi untuk mendekapnya, memeluknya lebih erat dari biasanya. Sampai rasa sedih itu sedih untuk berlama-lama hadir di hatimu. Hingga rasa bersalah itu merasa bersalah bila harus menetap lebih lama di hatimu. Mereka bukan musuhmu, mereka hanya bukan dirimu. Dirimu bukan rasamu, bukan juga pikiranmu. Mereka semua hanya tamu-tamu dalam semesta kecilmu. Engkau abadi, begitu pula dengan sosok yang kau tangisi saat ini.
Menangislah, namun jangan merasa lemah. Engkau kuat dan aku bisa melihat itu. Air matamu saat ini bukan tanda kelemahan, namun kejujuran akan perasaanmu sendiri. Keberanian yang sejati hadir bukan karena ketiadaan rasa takut, tapi karena kejujuran dalam mengakui keberadaan rasa takut itu. Kebahagiaan yang hakiki juga hadir bukan karena ketiadaan rasa sedih, tapi karena keikhlasan dalam memeluk rasa sedih itu. Air matamu mengajarkanku tentang kejujuran dan keikhlasan ini, Kawan.
Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengatakan bahwa dirimu kuat. Dirimu memang kuat, bukan karena aku ingin menghiburmu, dan bukan karena aku sahabatmu. Dan dalam ketegaran dan kekuatanmu itu, engkau pasti sudah melihat bahwa surga yang ada di kedua telapak kakinya itu kini bersatu dengan keindahan semesta, bersatu dengan bintang-bintang, rembulan, matahari, bahkan udara yang kini kau hirup dan kau hembuskan. Surga itu kini menjadi lebih luas..jauh lebih luas dari apa yang mampu kau lihat dengan matamu. Bahkan, surga itu kini meresap ke dalam semesta kecilmu, menyatu dengan dirimu. _/|\_

Kita Hidup Berdampingan dengan Masa Lalu

Bintang yang kita lihat di langit ketika malam, mungkin saja sudah hancur dan tidak ada lagi, namun cahayanya baru sampai ke bumi dan tertangkap mata kita. Matahari yang kita lihat ketika pagi adalah matahari beberapa detik yang lalu. Ini adalah beberapa bukti bahwa ada masa lalu yang kita lihat di masa kini.
Kita hidup di saat ini, namun juga hidup berdampingan dengan masa lalu. Cukup dibutuhkan sebuah lagu untuk membawa memori kita pada peristiwa di masa lalu, cukup sebuah rasa makanan untuk mengantarkan pikiran kita kepada sebuah tempat yang pernah kita kunjungi di masa lalu, cukup semilir angin yang membawa aroma tertentu yang mengantarkan kenangan kita dengan seseorang ke saat ini.
Tidak dibutuhkan hal besar untuk 'memanggil' masa lalu kita ke kehidupan kita saat ini, namun dibutuhkan upaya yang sangat besar untuk 'memusnahkan' atau melupakan masa lalu..karena kita tidak mungkin melupakan tanpa mengingatnya terlebih dahulu. Ingin melupakan dan ingin mengingat sebenarnya adalah permohonan yang sama dengan kata-kata yang berbeda. 

Kelak Kau akan Mengerti

Kelak kau akan tau, Nak..kehidupan itu tidak selalu berjalan selaras dengan apa yang sekedar kau inginkan, tidak selalu sesuai dengan buku yang kau baca, tidak persis sama dengan apa yang orang-orang katakan kepadamu...Kau berhak memaknai kehidupanmu sendiri, dengan persepsimu sendiri, dengan kelapangan hatimu sendiri. Dunia hanya seluas lapangnya hatimu dan seindah makna yang kau bentuk dengan pikiranmu.
Jelajahilah dunia bukan hanya dengan buku yang kau pegang saat ini, namun dengan kedua kakimu, kedua tanganmu, kedua mata, telinga, dan semua anggota badanmu..melangkahlah ke tempat dimana hatimu nyaman untuk berada. Dengan begitu, semua tempat akan menjadi rumah bagimu. Karena rumah adalah tempat dimana hatimu berada, tidak peduli engkau sendirian atau bersama orang lain. Kemudian, berilah lengkung terbaik yang dimiliki bibirmu, agar semesta juga tersenyum kepadamu.
Hidup bukan hanya perjalanan kaki, tapi juga perjalanan hati.
~Your Happiness Is, part 2

Senin, 01 Desember 2014

Yang Membutakan

Cinta itu tidak membutakan. Justru dengan cinta, kita bisa melihat sesuatu lebih dalam. Kita bisa menemukan keindahan pada sesuatu yang mungkin selama ini kita anggap biasa saja. Pandangan kita menjadi hanya terfokus pada keindahan. Cinta membuat kita melihat keindahan lebih jelas.
Jadi, bukan cinta yang membutakan..yang membutakan adalah kemarahan. Ribuan kebaikan dari seseorang bisa lenyap seketika ketika api amarah muncul dari dalam diri. Dan dari semua api yang ada dalam kehidupan kita, api di dalam diri kita lah yang paling berbahaya...karena bukan saja mampu membakar kebaikan-kebaikan orang lain, tetapi juga mampu membakar hubungan baik yang selama ini dibina.
Setiap orang punya 'titik api' di dalam dirinya. Sekali titik ini tersentuh oleh pikirannya sendiri tentang keadaan, kejadian, atau sikap seseorang, api amarah muncul. Ketika ada bagian di dalam diri kita yang sedang marah, menyadari bahwa diri kita sedang marah adalah langkah penting agar 'nyala apinya tidak melebar kemana-mana'. Namun, upaya untuk menahan 'nyala apinya', memaksa diri agar tidak marah ketika sebenarnya ingin marah adalah langkah awal untuk membuat 'kobaran apinya' semakin besar di kemudian hari.

Tuhan dan Kotoran Sapi

"Pernah gak kalian bercermin?" tanya saya kepada beberapa anak SMP yang sedang mengikuti camp di salah satu lembaga bimbingan belajar.
"Ya pasti pernah, Mas!!" kata mereka, sambil menunjukkan raut wajah yang sedikit kebingungan. Mungkin karena pertanyaannya yang aneh atau tidak begtu penting.
Saya tersenyum, kemudian melanjutkan bertanya, "Nah, ketika kalian bercermin, pernah gak kalian tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada orang yang ada di depan cermin?"
Seorang anak cowok langsung merespon pertanyaan saya itu dengan berkata, "Gendeng Mas!" Teman-temannya yang lain langsung tertawa mendengar jawaban anak ini.
Kemudian, mulai terdengar jawaban dari anak-anak yang lain: "Gak pernah, Mas!", "Aneh Mas!", "Ngapain gitu, Mas?!", "Untuk apa, Mas?", "Narsis Mas!"
"Kalau kalian gak pernah mengucapkan terimakasih pada diri sendiri, lalu kalian mengucapkan terimakasih kepada siapa?" tanya saya lagi.
Seorang anak dengan cepat menjawab, "Kepada Tuhan, Mas." Anak-anak yang lain langsung terkagum-kagum dengan jawaban anak ini yang cepat dan tegas. Termasuk saya.
"Tuhan ada gak di dalam diri kita?" tanya saya.
"Ada Mas!" jawab mereka serempak.
"Kalau kita mengucapkan terimakasih kepada diri sendiri, kita sedang mengucapkan terimakasih kepada Tuhan, gak?"
Wajah mereka tampak berpikir, dan akhirnya seluruh anak mengatakan, "Iya Mas."
"Tuhan ada gak di tangan kita?" tanya saya lagi.
"Ada Mas!" kata mereka.
"Kalau kita mengucapkan terimakasih kepada tangan kita, sama gak dengan mengucapkan terimakasih kepada Tuhan?" kembali saya bertanya.
"Iya Mas!" kata mereka lagi.
"Tuhan ada di kaki kita?"
"Ada."
"Tuhan ada dalam diri setiap orang?"
"Ada."
"Ada dalam diri binatang?"
"Ada"
"Ada di dalam diri anjing?"
"Ada."
"Ada di dalam diri babi?"
Sebagian anak mulai kebingungan, sebagian lagi mengatakan, "Ada Mas."
"Tuhan ada dalam kotoran sapi?" tanya saya sedikit jahil.
Dan merekapun serempak menjawab, "Gak ada Mas!" sambil menunjukkan wajah jijik.
Saya tertawa, dan seisi kelas pun tertawa. 

Ruang Antara

Kebahagiaan memberikan kita sayap untuk terbang melayang menembus ruang yang tak berwaktu. Kemudian kita melihat hidup itu begitu indah dan penuh warna. Namun, ketika kesedihan bertamu, mematahkan sayap-sayap itu, kita kehilangan kemampuan untuk terbang. Seakan langit runtuh menghantam kita ke kedalaman hati kita sendiri.
Kebahagiaan membuat kita melihat kehidupan secara meluas, dan kesedihan membuat kita melihat kehidupan secara mendalam. Namun, ada ruang diantara keduanya, yang membuat kita melihat dunia dan kehidupan apa adanya. 

~Your Happiness Is, part 2

Tentang Kita dan Hujan

Semakin dewasa, kita semakin membenci hujan. Padahal dulu kita pernah tertawa di bawah rintik hujan dari langit yang sama, Kawan. Bajumu basah, bajuku juga basah. Namun, kita tetap saja nyengir bersama ingus kita masing-masing. Dan kita berdua sudah tahu bahwa beberapa menit ke depan, di dalam rumah yang berbeda, kita akan sama-sama tertunduk terpaku sambil mendengarkan omelan ibu kita masing-masing. Omelan yang akan memberhentikan kita berhujan-hujanan hari itu...tapi tidak besok, Kawan. Besok memiliki hiburannya sendiri, permainannya sendiri, keindahannya sendiri.
Kau tahu apa yang paling indah dari air hujan, Kawan? Air-air itu akan terus mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terbang bersama sinar mentari walaupun tahu rasanya jatuh berkali-kali. Lalu kau pasti protes bahwa air dan manusia itu berbeda..fitrahnya air memang seperti itu..sedangkan manusia berbeda. Tidak semua orang nyaman mengalir ke tempat yang lebih rendah, dan tidak semua orang juga cepat bangkit ketika terjatuh. Ah..aku kenal betul tabiatmu yang suka protes ini, Kawan. Itulah yang membuat kita tetap berkawan. Bukan karena engkau tidak memiliki sifat yang aku tidak sukai, tapi karena aku bisa menerima hal itu, dan engkau juga melakukan hal yang sama akan sikapku yang tidak kau sukai.

Senin, 24 November 2014

What We Accept, Transform

Ada seseorang yang tidak menyukai aktivitas memasak. Namun, sebagai seorang perempuan, dia merasa lingkungan seolah-olah menuntutnya untuk pintar memasak. Baginya, memasak itu rumit dan ribet, terlebih lagi dia tidak suka capek-capek membeli bahan-bahan makanan, kemudian mengolahnya. Lebih mudah dan praktis membeli makanan jadi di tempat makan. Simple.
Di jaman modern seperti sekarang ini, saya memang kerap bertemu dengan orang-orang, terutama perempuan, yang tidak menyukai memasak atau tidak begitu handal dalam memasak. But it's ok. Jaman berubah, dan bagi saya, setiap orang punya hobby yang berbeda-beda. Memiliki hal yang disukai dan tidak disukai. Tidak perlu dipaksakan untuk menyukai sesuatu yang sebenarnya tidak disukai.
Saya katakan kepada perempuan ini, "Tidak apa-apa bila tidak suka memasak. Itu oke. Lakukan saja apa yang kamu suka. Tidak ada yang salah dengan memasak, jadi tidak perlu sampai membencinya. Kamu hanya belum menyukainya saja, belum menemukan sesuatu yang menarik disana karena pikiranmu sudah membloknya dengan kata 'ribet'. Ada memang masakan yang perlu dimasak dengan 'ribet', namun ada juga yang praktis." Dalam banyak pertemuan dengannya, saya berulang kali mengatakan hal yang serupa dan mirip maknanya.
Bertahun-tahun berlalu, hal yang mengagumkan terjadi, kini perempuan itu suka memasak! Ketika bertemu saya, dia berkata, "Saya heran kenapa sekarang saya jadi suka memasak?! Hahaha...!" Saya juga ikut tertawa jadinya. Kini dia menyadari bahwa tidak semua aktivitas memasak itu ribet, ada juga yang mudah dan praktis. Saya sangat senang melihat perubahannya. Terutama saya menjadi semakin sadar bahwa dalam penerimaan, terjadi transformasi.
Seringkali kita berupaya mengubah seseorang untuk menjadi seperti ini dan seperti itu. Untuk menjadi seseorang dengan karakter yang 'baik' sesuai pandangan kita atau orang banyak. Namun, hal tersebut belum tentu nyaman dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Bisa saja orang itu 'berusaha berubah' sesuai dengan yang kita inginkan, namun bila dalam prosesnya dia merasa tidak nyaman, seperti sedang 'melawan sesuatu', akan ada titik jenuh yang menyeretnya kembali kepada pola lama. Dan setelah itu, bisa saja kita kecewa karena merasa orang tersebut keras kepala dan tidak mendengarkan kita.
Dalam penerimaan, kita memberi ruang bagi seseorang untuk merasa nyaman dengan sesuatu yang dianggapnya sebagai kekurangan. Dirinya akan merasa diterima dan dicintai. Dan ketika cinta itu muncul dalam dirinya, cinta itulah yang nantinya menggerakkannya untuk melakukan sesuatu. Untuk bertransformasi menjadi lebih baik. Tidak perlu kita 'berupaya mengubah' orang lain, biarlah rasa cinta di dalam dirinya yang menggerakkannya. Yang perlu kita lakukan adalah memberi ruang agar seseorang bisa lebih menerima dan mencintai dirinya sendiri, terutama mencintai kekurangannya sendiri. Ketika seseorang 'melihat' ada ruang yang lebih besar yang terisi cinta, sesuatu yang menakjubkan terjadi. Di dalam hidup ini, tidak ada yang lebih ajaib dari cinta, bukan?!

Berterimakasih kepada ATM

Saya menegurnya, kemudian menyodorkan sebuah kartu ATM dengan warna keemasan. Jelas sekali dia kaget, matanya melotot, leher dan bahunya menegang. Dengan cepat tangan kanannya mengambil kartu ATMnya dari tangan saya. Beberapa detik kemudian, akhirnya dia tersadar, kemudian mengucapkan, "Thank You." Saya mengangguk pelan, tersenyum kepadanya, kemudian pergi. Bahagia rasanya bisa menolong orang lain. Tubuh kita sepertinya memang didesign untuk berbahagia setelah membantu orang lain. 
Beberapa menit yang lalu memang ada suatu kejadian. "Tiiittt....tiiiittt....tiiittt...", suara sebuah ATM di samping saya berbunyi. Ternyata cewek bule yang baru saja keluar dari ruangan lupa untuk mengambil kartu ATMnya kembali. Dia nampaknya terburu-buru tadi. Setelah mengakhiri transaksi, saya ambil kartu ATM yang terlupakan itu. Saya mencari-cari kemana gerangan sang cewek bule. Ternyata cepat juga jalannya...hehe. Dia memasuki supermarket, kemudian saya menghampirinya.
Dia mengucapkan terimakasih. Saya pun demikian. Saya mengucapkan terimakasih kepada ATM yang telah mengeluarkan bunyi tertentu, sehingga saya tahu ada tindakan yang belum tuntas. Berterimakasih kepada telinga yang berfungsi dengan baik. Kepada mata, tangan, kaki, dan semua aparat tubuh yang telah membantu saya dalam memberikan ATM itu kepada pemiliknya  Hari yang indah selalu lahir dari hati yang bersyukur. Tidak harus menunggu ucapan terimakasih dari orang lain, ucapkanlah kepada diri kita sendiri. Minimal kepada udara yang masih lalu-lalang di hidung kita semua. Sudah berterimakasih hari ini??

Melihat Bulan

"Kau sedang melihat bulan itu, Kawan?"
"Ya, Aku sedang memandanginya."
"Bila kau melihatnya lebih dekat, mungkin Kau tidak akan takjub lagi memandanginya. Permukaan bulan tidak lagi seindah yang dapat Kau pandangi dari sini..."
"Maka biarkan Aku memandanginya dari jarak yang membuat bulan itu tetap indah di mataku."
"Apakah Engkau puas hanya dengan memandanginya, tanpa mendekatinya?!"
"Tidak semua hal yang ingin Kau nikmati harus Kau dekati. Kadangkala, dengan memandanginya saja, itu sudah cukup. Bulan tetaplah bulan, dia ada di langit sana. Namun, keputusan untuk menikmati keindahannya ada di dalam diri kita sendiri. Bulan hanyalah bulan. Keindahan bulan tidak ada pada bulannya, tapi ada di dalam cara kita memandangnya."
"Kau termanipulasi pikiranmu sendiri, Kawan.."
"Mendekati bulan untuk menikmati keindahannya pun adalah bentuk lain dari manipulasi pikiran."
"Tapi, keindahan harus diuji."
"Bukan keindahan yang harus diuji, tapi ketidakpercayaan kita terhadap keindahan itu. Kita seolah-olah menguji keindahan, tapi yang sebenarnya kita uji adalah keraguan kita terhadap keindahan. Sama halnya dalam cinta, kita seolah-olah melakukan sesuatu untuk menguji cinta seseorang kepada kita, tapi yang sebenarnya kita lakukan adalah menguji keraguan kita sendiri terhadap cinta seseorang itu kepada kita."
"Ya,,sekarang Aku mengerti. Nampaknya kita sudah cukup panjang berdebat tentang bulan yang sama, yang kita lihat berdua malam ini."
"Untuk hal yang sama-sama bisa kita lihat saja, kadangkala perdebatan bisa muncul, apalagi untuk hal-hal yang sama-sama tidak bisa kita lihat."

Orang yang Angkuh

Kami sedang sama-sama menunggu takoyaki yang sedang diolah sang koki. Saya duduk di sebuah kursi plastik, sedangkan lelaki ini berdiri sekitar 1 meter di samping saya. Tangannya terlipat di depan dada, semakin memperjelas bentuk otot-otot lengannya yang sangat terlatih mengangkat beban. Bajunya kaos hitam ketat, seperti ingin menunjukkan bentuk dada dan otot-otot perutnya. Tidak lupa juga kacamata hitam yang membuatnya tampak sebagai sosok lelaki yang sangat macho. "Angkuh," pikir saya.
Beberapa menit berlalu, dan akhirnya takoyaki 'lelaki macho' itu sudah siap untuk dibawa pulang. Dan mau tidak mau, dia harus melewati saya untuk mengambil makanannya. Saya perhatikan bagaimana dia bergerak dan berjalan, dan ketika melewati saya, badannya membungkuk, senyumnya terurai, dan ini yang membuat semua pikiran saya tentang dia rontok: Bibirnya mengucapkan, "Permisi Mas.." Sangat sopan! Semua penilaian saya tentang lelaki ini hancur lebur dalam sekian detik. Siapa yang sedang menonjolkan otot lengannya? Siapa yang sedang memamerkan otot dada dan perut? Siapa yang angkuh??!! Bukan lelaki itu, tapi pikiran saya tentang lelaki itu!
Tidak jarang kita..ehmm...saya menilai orang dari fisiknya, kemudian membuat penilaian keseluruhan sifatnya dari data fisiknya itu. Itu sangat angkuh! Saya yang angkuh, lebih tepatnya pikiran saya yang sedang angkuh. Ini permainan pikiran. Melihat sesuatu tidak seperti apa adanya, kemudian terjebak dengan penilaian-penilaian parsial, dibalut dengan emosi-emosi yang diambil dari 'lemari masa lalu'. Melihat orang dari 'otot tubuhnya', bukan dari 'otot hatinya'. Memang tidak mudah melihat 'otot hati' seseorang, namun bila hanya bermodalkan melihat 'otot tubuh' seseorang (tampilan fisik) kemudian melakukan penilaian sifat dan sikap, itu adalah cara tercepat untuk 'tersesat'.
Tidak semua yang kita pikirkan benar. Terkadang penilaian yang dilakukan pikiran kita didasarkan pada ketakutan kita sendiri, kesedihan yang pernah muncul di masa lalu, dan kenangan-kenangan lainnya. Menyadari itu saja sudah sangat bagus, karena nantinya, penilaian-penilaian kita, makna yang kita buat terhadap sesuatu, membawa kita kepada rasa-rasa tertentu. Rasa suka ataupun tidak suka, cinta ataupun benci. Dan ada yang pernah mengatakan begini, "Terimakasih karena telah mencintaiku, karena dengan begitu engkau telah meletakkanku di hatimu. Terimakasih telah membenciku, karena dengan begitu engkau telah meletakkanku di pikiranmu."

Kita itu seperti Televisi yang punya Antena

Penampilannya sederhana. Saya bertemu dengan lelaki ini sekitar 2 tahun yang lalu ketika sedang di Mataram. Namun, apa yang dikatakannya ketika itu masih 'membekas' di ingatan saya sampai sekarang. Kami berbincang-bincang tentang banyak hal di tempat kerjanya, sampai akhirnya dia menceritakan tentang ilmu kebatinan yang dia miliki. Ketika itu, saya tidak terlalu tertarik dengan ilmu seperti itu. Dia bercerita pernah bertarung dengan orang sakti inilah, orang sakti itulah, di alam ini dan itu. Saya hanya mendengarkan saja, karena tidak paham mau mengomentari apa. Sambil bercerita, tangannya lihai sekali mengerjakan pesanan saya.
Setelah ceritanya selesai, dia berkata begini, "Saya sebenarnya sudah tidak mencari apa-apa lagi dalam hidup ini, Mas. Apa yang mau dicari kalau semuanya sudah ada?! Saya bekerja untuk keluarga, untuk memberi contoh kepada anak saya bahwa dalam hidup, kita harus bekerja. Saya menjalaninya dengan santai saja, dan yang penting senang." Jeda beberapa saat, dia melanjutkan lagi, "Kita itu seperti tivi yang punya antena, Mas..ada channel-channelnya. Kalau Mas suka olahraga, akan ketemu orang-orang yang suka olahraga. Kalau suka musik, akan ketemu orang-orang yang suka musik juga. Dan kita bisa atur...kita mau ketemu orang seperti apa, tinggal diatur aja 'channelnya'. Hidup ya kaya gitu. Sampean masih muda, kalau mau menikmati hidup, gilai sesuatu." Logat jawanya tidak hilang, walaupun tinggal di Mataram.
Senyumnya terkembang mengakhiri nasehatnya. Untuk orang berusia 40 tahun, dia terlihat awet muda. Saya tidak hanya kagum dengan kebijaksanaanya, tapi saya bahkan hampir tidak percaya bahwa kata-kata itu bisa keluar dari seorang lelaki pembuat stempel, yang ruang kerjanya berukuran 2 x 2 meter. Sungguh wawasannya melampaui ruang kerjanya. Tidak semua guru ada di ruang kelas..kita bisa menemukan dimanapun, selama kita 'mengatur channel' untuk melihat dunia sebagai tempat belajar yang asyik, dan setiap orang akan terlihat hadir untuk memberikan pelajaran-pelajaran 

Mirroring

Di dalam ilmu kimia, ada dikenal sebuah konsep yang bernama "Like Dissolves Like". Konsep ini menjelaskan kenapa satu larutan bisa bercampur dengan larutan tertentu, tapi tidak dengan larutan yang lainnya. Ini tentang perbedaan kutub (polaritas) yang dimiliki tiap-tiap larutan. Kita juga demikian. Kita cenderung berkumpul dengan orang-orang yang 'polaritasnya' (hobby, visi, sifat) sama atau hampir sama.
Konsep ini hampir sama dengan konsep 'Law of Attraction' yang sering kita dengar. Kita cenderung memiliki kemampuan 'menarik' sesuatu yang memiliki kesamaan sifat dengan kita. Kebahagiaan menarik kebahagiaan. Kesedihan menarik kesedihan. Keluhan menarik keluhan. Kita menarik kebahagiaan dengan menjadikan diri kita bahagia terlebih dahulu, sehingga kebahagiaan yang ada di dalam diri menarik kebahagiaan-kebahagiaan lain yang ada di luar diri. Kita justru hanya memiliki sedikit daya untuk menarik kebahagiaan hanya dengan menginginkan kebahagiaan, sedangkan rasa di hati kita sedang sedih. Keinginan itu penting, namun rasa di balik keinginan itu jauh lebih penting.
Bila kita telusuri lebih dalam, ini bukan sekedar konsep tarik-menarik, tetapi lebih kepada konsep 'Mirroring'. Konsep ini saya ketahui dari seseorang bernama Gregg Braden. Konsep ini berbicara tentang medan energi yang menyusun semua materi yang ada di alam semesta. Ini tentang rasa (feelings) di dalam diri kita yang memiliki daya magnetik dan elektrik untuk membentuk pola-pola tertentu. Pola yang terbentuk di dalam diri kita inilah yang nantinya menggerakkan semesta untuk membentuk pola yang sama di luar diri kita. "Dunia luar" merefleksikan "dunia yang ada di dalam diri kita". Yang ada di "dalam", ada di "luar". Bila ingin mengubah yang 'di luar', ubah yang 'di dalam'.
Segitu dulu aja, saya udah mulai pusing..hahaha 

Tinggi-Rendah

Mohon maaf saya menggunakan kata "tinggi" dan "rendah" pada status ini. Tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun atau pihak manapun, hanya ingin mengajak untuk saling bercermin, saling belajar, saling memberi inspirasi, dan saling memuji.
Ada orang yang pendidikannya rendah, tapi ulet dan tekun dalam membangun usaha, akhirnya sukses dan bisa memperkerjakan banyak orang yang bahkan pendidikannya lebih tinggi. Ada orang yang pendidikannya tinggi, memanfaatkan kepintarannya untuk berkarya, memberi inspirasi bagi banyak orang, menjual sesuatu yang bermanfaat, dan akhirnya hidup berkelimpahan, namun tetap rendah hati.
Ada orang yang pendidikannya rendah, malas, tidak suka belajar, sukanya mengkritik, membenci orang-orang kaya, hidupnya serba kekurangan, dan menganggap itu adalah nasib yang harus diterima dengan ikhlas. Ada orang yang pendidikannya tinggi, dan dengan kepintarannya senang mengkritik, menjatuhkan orang lain, menjalankan usaha hanya untuk meraup keuntungan pribadi, sombong, dihujat banyak orang, dan senang dengan kepopuleran seperti itu.
Ada begitu banyak orang di dunia ini, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Pendidikan itu penting, namun yang utama tentu kebermanfaatan untuk sesama. Tinggal "kacamata" apa yang kita gunakan dalam melihat hal-hal tersebut. Kalau memang niatnya mengkritik, orang sebaik apapun selalu bisa dicari "titik lemahnya". Kalau niatnya belajar, bahkan kita bisa belajar dari anak kecil yang belum bersekolah. Ini semua tentang niat. Seperti sebuah ungkapan yang cukup lucu, "Kalau Anda baru belajar tentang palu, semua orang akan terlihat seperti paku!"
Orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi (seharusnya) bisa terlihat dari caranya menyederhanakan sesuatu yang kompleks, bukan malah merumitkan sesuatu yang sederhana agar terkesan canggih. Dan ini perlu kita ingat bersama, bahwa orang berpendidikan tinggi yang hanya bekerja demi keuntungan pribadi tentu tidak lebih baik daripada orang yang pendidikannya rendah, namun mendedikasikan dirinya untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Dalam dimensi "memberi manfaat" tersebut, dualitas "tinggi-rendah" seharusnya sudah saling meluruhkan satu sama lain. Sudah tidak menjadi persoalan yang perlu menjadi bahan perdebatan. Lebih baik kita saling mendukung satu sama lain dan berkarya..berkarya..berkarya!

Tentang Ngoceh

Setiap kita belajar dari pengalaman kita masing-masing. Entah itu rasanya 'MANIS', 'asin', 'asem tenan', 'pahit', dan 'gurih'.  Yang jelas, setiap kejadian yang 'ada rasanya', pasti lebih nyantol, teringat, dan menjadi pengalaman untuk kita serap pelajarannya. Dan pelajaran-pelajaran itu tentu saja khas bagi setiap orang. Kita menyerap pelajaran yang berbeda satu sama lain karena pengalaman kita yang berbeda-beda. Kita melihat kejadian yang berbeda, memaknai kejadian dengan cara berbeda, merespon kejadian dengan gaya yang berbeda, dan pastilah pelajarannya pun berbeda!
Cuma, kadang kita kebablasan. Kita merasa pengalaman kita yang paling berharga, paling benar, paling hebat...karena dilewati dengan perasaan yang paling-paling deh. Kemudian, pengalaman ini kita jadikan referensi untuk 'mengatasi' masalah orang lain. Bila masalahnya belum bisa teratasi juga, kita paksakan, kita salahkan orang lain karena cara yang dia lakukan belum sama dengan cara kita. Karena kalau sudah sama, pasti berhasil, dan masalahnya teratasi. Apa benar cara yang sama selalu memberikan hasil yang sama? Belum tentu! Banyak orang meniru cara seseorang melakukan sesuatu, tapi mendapatkan hasil yang berbeda. Kenapa? Niatnya berbeda!
Memaksakan cara kita menyelesaikan sesuatu kepada orang lain sama seperti kita memaksakan baju kita untuk dikenakan orang lain. Orang lain belum tentu memiliki 'ukuran badan' yang sama dengan kita. Itu baru perihal ukuran, belum perihal 'warna', 'jenis kain', dan 'modelnya'. Belum tentu juga sesuai 'seleranya'. Dan belum tentu juga orang lain sedang membutuhkan 'baju', walaupun kita sedang melihatnya tidak mengenakan 'baju'. Bisa jadi dia sedang 'kepanasan' dan lebih butuh 'dikipasi'. Setiap orang punya pola artistik tersendiri dalam melakukan dan menyelesaikan sesuatu..dan juga, sebenarnya sudah memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, hanya saja sedang sibuk dengan ocehan pikirannya sendiri. Jangan kita tambahi dengan 'ngoceh' juga. Dan saya baru sadar, ternyata saya sudah kebanyakan 'ngoceh' juga ini. 

Kacang Rebus

Saya lagi ngemil kacang rebus..saya amati kacang-kacang yang masuk ke mulut..saya kunyah perlahan..saya perhatikan dengan seksama tekstur kulit-kulit kacangnya..di dalam kulit-kulit yang kasar itu bisa ada 'buah' yang enak dan permukaannya halus..ini keren..di dalam sesuatu yang kasar, bisa ada sesuatu yang lembut..apa yang kita lihat kasar di luar, belum tentu kasar di dalam..dan perlu diingat, kacang ini tumbuh di dalam tanah..tanah itu posisi 'rendah'..di posisi 'rendah', kacang bisa menghasilkan 'buah'.

Bisa-Bisanya

Seorang bapak keluar dari tempatnya menjahit, kemudian memberi tau saya bahwa tempat tambal ban ada di sebelah utara, sedangkan saya sedang berjalan menggiring sepeda motor ke arah selatan. "Kalau terus ke selatan, tidak ada tempat tambal ban...jadi putar balik saja..ada gang di sebelah kanan..masuk saja..tambal bannya di sekitar sana," kata bapak itu. "Oh begitu..terimakasih banyak ya, Pak!" jawab saya.
Saya berjalan sekitar 50 meter, tiba di sebuah gang, dan menemukan tempat tambal ban yang buka. Syukurlah. Setelah diperiksa, ternyata pentil bannya lepas, sehingga harus mengganti ban dalam. Tidak apa-apa, pikir saya. Tidak ada pilihan lain juga. Yang penting ban belakang sepeda motor saya bisa tertangani dengan baik, dan saya bisa pulang dengan mengendarai sepeda motor yang kondisinya sudah baik.
"Buka 24 jam, Pak?" tanya saya kepada bapak tukang tambal ban. "Nggak Mas, bukanya malam saja sampai jam 7 pagi. Siang sampai sore tutup." Hebat juga, pikir saya. Saya jarang menemukan tempat tambal ban sepeda motor yang bukanya malam sampai pagi hari. Dan ini pertama kalinya saya mampir ke tempat tambal ban jam 12 malam! Bersyukur masih ada orang-orang yang bekerja malam hari seperti bapak ini. Ternyata ada juga rejekinya walaupun buka tambal ban malam hari seperti ini. Dan saya yang ditugaskan mengantarnya malam ini. 
Setiap pertemuan tentu tidak terjadi begitu saja. Tidak terjadi secara kebetulan. Kalaupun kita menyebutnya kebetulan, itu adalah batasan logika kita dalam membangun alasan atau merancang sebab terjadinya sesuatu. Di sepanjang perjalanan pulang, saya masih tidak habis pikir, bisa-bisanya saya bertemu seorang bapak penjahit yang memberi tau saya tempat tambal ban. Bisa-bisanya juga saya bertemu bapak tukang tambal ban itu. Bisa-bisanya ban motor saya 'bermasalah' tengah malam seperti ini. Dan bisa-bisanya Anda menemukan tulisan ini dan membacanya! Ada sebabnya?

#YangMembutakan

Cinta itu tidak membutakan. Justru dengan cinta, kita bisa melihat sesuatu lebih dalam. Kita bisa menemukan keindahan pada sesuatu yang mungkin selama ini kita anggap biasa saja. Pandangan kita menjadi hanya terfokus pada keindahan. Cinta membuat kita melihat keindahan lebih jelas.
Jadi, bukan cinta yang membutakan..yang membutakan adalah kemarahan. Ribuan kebaikan dari seseorang bisa lenyap seketika ketika api amarah muncul dari dalam diri. Dan dari semua api yang ada dalam kehidupan kita, api di dalam diri kita lah yang paling berbahaya...karena bukan saja mampu membakar kebaikan-kebaikan orang lain, tetapi juga mampu membakar hubungan baik yang selama ini dibina.
Setiap orang punya 'titik api' di dalam dirinya. Sekali titik ini tersentuh oleh pikirannya sendiri tentang keadaan, kejadian, atau sikap seseorang, api amarah muncul. Ketika ada bagian di dalam diri kita yang sedang marah, menyadari bahwa diri kita sedang marah adalah langkah penting agar 'nyala apinya tidak melebar kemana-mana'. Namun, upaya untuk menahan 'nyala apinya', memaksa diri agar tidak marah ketika sebenarnya ingin marah adalah langkah awal untuk membuat 'kobaran apinya' semakin besar di kemudian hari.

Tuhan Ada Dimana?

"Pernah gak kalian bercermin?" tanya saya kepada beberapa anak SMP yang sedang mengikuti camp di salah satu lembaga bimbingan belajar.
"Ya pasti pernah, Mas!!" kata mereka, sambil menunjukkan raut wajah yang sedikit kebingungan. Mungkin karena pertanyaannya yang aneh atau tidak begtu penting.
Saya tersenyum, kemudian melanjutkan bertanya, "Nah, ketika kalian bercermin, pernah gak kalian tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada orang yang ada di depan cermin?"
Seorang anak cowok langsung merespon pertanyaan saya itu dengan berkata, "Gendeng Mas!" Teman-temannya yang lain langsung tertawa mendengar jawaban anak ini.
Kemudian, mulai terdengar jawaban dari anak-anak yang lain: "Gak pernah, Mas!", "Aneh Mas!", "Ngapain gitu, Mas?!", "Untuk apa, Mas?", "Narsis Mas!"
"Kalau kalian gak pernah mengucapkan terimakasih pada diri sendiri, lalu kalian mengucapkan terimakasih kepada siapa?" tanya saya lagi.
Seorang anak dengan cepat menjawab, "Kepada Tuhan, Mas." Anak-anak yang lain langsung terkagum-kagum dengan jawaban anak ini yang cepat dan tegas. Termasuk saya.
"Tuhan ada gak di dalam diri kita?" tanya saya.
"Ada Mas!" jawab mereka serempak.
"Kalau kita mengucapkan terimakasih kepada diri sendiri, kita sedang mengucapkan terimakasih kepada Tuhan, gak?"
Wajah mereka tampak berpikir, dan akhirnya seluruh anak mengatakan, "Iya Mas."
"Tuhan ada gak di tangan kita?" tanya saya lagi.
"Ada Mas!" kata mereka.
"Kalau kita mengucapkan terimakasih kepada tangan kita, sama gak dengan mengucapkan terimakasih kepada Tuhan?" kembali saya bertanya.
"Iya Mas!" kata mereka lagi.
"Tuhan ada di kaki kita?"
"Ada."
"Tuhan ada dalam diri setiap orang?"
"Ada."
"Ada dalam diri binatang?"
"Ada"
"Ada di dalam diri anjing?"
"Ada."
"Ada di dalam diri babi?"
Sebagian anak mulai kebingungan, sebagian lagi mengatakan, "Ada Mas."
"Tuhan ada dalam kotoran sapi?" tanya saya sedikit jahil.
Dan merekapun serempak menjawab, "Gak ada Mas!" sambil menunjukkan wajah jijik.
Saya tertawa, dan seisi kelas pun tertawa. 

Selasa, 10 Juni 2014

#ConversationWithTree

Hon, mohon maaf ya, jangan ngambek..please! Maaf atas keusilan tangan-tangan kami yang memaku dan melukai bagian tubuhmu, memasang beban-beban berat yang membebanimu. Maaf ya, Hon. Kami tahu uang dan kekuasaan itu penting, tapi tanpa oksigen yang kalian hasilkan, kami bisa apa? Kami tahu bangsa yang kuat, cerdas, dan religius itu bagus, tapi tanpa dukunganmu dan kawan-kawanmu, tanpa dukungan alam semesta, kami mau hidup dengan cara apa?

Maaf atas kelancangan ini ya, Hon. Mohon sabar dulu. Euforia ini pun nantinya akan surut, sama seperti hal-hal yang lain yang terjadi dalam kehidupan ini. Kehidupan akan kembali kepada harmoninya. Keputusan untuk menjalani kehidupan dengan sedih, susah, senang, dan bahagia tetaplah berada di tangan kami masing-masing, bahkan bukan di tangan keempat orang yang wajahnya, saat ini, sering ditempel di tubuhmu. Cuma memang, saat ini kami sedang membutuhkan pemimpin yang jujur, amanah, dan bijaksana. Mohon dukunganmu juga ya, Hon. Salam buat kawan-kawan yang lain. 

Tentang Kata

Kata-kata suci yang paling suci pun hanyalah kata-kata.
Semua ajaran adalah referensi.
Pengalaman sejati adalah hidup kita sendiri.
Jalan bukanlah di langit, bukan pula di tempat lain. Jalan adalah di hati.

~Unknown

Jumat, 23 Mei 2014

Sambil Menikmati Es Tebu

...
Dan semuanya menjadi jelas 
ketika aku menatap keduanya..
Karena tiada tirai yang lebih berkuasa 
menyembunyikan rahasia hatimu,
kecuali kedua kelopak mata itu.

Dan sebaiknya kau tahu,
Kedua lingkaran hitam itu 
berbicara melebihi keindahan kata-kata 
yang mampu dituliskan pujangga
Dan simpul senyum itu,
yang membuat rona pada kedua bukit pipimu,
lebih anggun dibanding
pelangi yang mampu melingkari matahari
...

#HatiTakBertangga

Ada Kalanya

Ada kalanya berkata aku bukan siapa-siapa, biasa-biasa saja, hanya pelayan yang hadir dalam semesta
Ada kalanya juga meyakinkan diri bahwa aku ini luar biasa dan istimewa
Ada kalanya berucap kamu adalah kamu, aku adalah aku, jadilah yang terbaik dalam versi kita masing-masing, kita semua unik dan berbeda,
Ada kalanya bertutur bahwa kamu adalah aku, aku adalah kamu, kita berada dalam kumparan energi yang sama untuk saling membantu
Kesemuanya memiliki nilai benar dan salah dalam tataran tertentu, dalam takaran persepsi kita masing-masing
Dan kita akan semakin menyadari bahwa ujung dari kata-kata adalah hal-hal yang selalu bisa dipertentangkan,
Selalu bisa diperdebatkan,
Selalu bisa dicarikan lawannya yang sepadan,
Sehingga kemudian diam menjadi alternatif untuk menyingkir dari dualitas
Memasuki ruang keheningan yang tidak bisa dimasuki kata-kata
Menemukan diri yang tidak bisa dipertentangkan, diperdebatkan,dan dicarikan lawan yang sepadan
Namun, tentu saja, ada kalanya kita harus kembali,
Hadir dalam dimensi yang menyajikan kanan dan kiri

#HatiTakBertangga

Kamis, 24 April 2014

Gadis Berkerudung Biru

Pagi masih bersahabat, sinar matahari belum terasa menyengat. Angin pun masih sesekali berhembus, itupun pelan saja. Seorang gadis berkerudung mengayuh sepedanya dengan perlahan. Menyusuri jalan yang tidak begitu lebar. Mengenakan baju berlengan panjang berwarna biru muda, senada dengan warna kerudungnya. Celana jeans-nya juga biru, namun warnanya lebih muda dibandingkan bajunya. Paduan warna yang menyejukkan mata.

Hingga akhirnya sesuatu terjadi dan membuat gadis berkerudung ini harus merelakan celana jeansnya bersentuhan dengan jalan setelah sepedanya oleng dan hilang keseimbangan. Saya yang berada di belakangnya segera menghampiri, kemudian mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Dengan ramah, gadis ini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tentu saya tahu maksudnya. Segera saya angkat sepedanya dan menegakkannya kembali.

Setelah membersihkan debu-debu yang menempel di celana dan lengan bajunya, gadis ini segera menaiki sepedanya kembali. Saya pun bertanya, "Kenapa Mbak?" Dia pun menjawab, "Keberatan Mas." Saya mengerti betul maksudnya, karena ketika mengangkat sepedanya, saya merasakan ada beban yang berat, bukan beban sepedanya, tapi beban tas yang diletakkan di keranjang depan sepadanya. Setelah mengucapkan terimakasih, gadis ini langsung membuka tasnya dan memindahkan beberapa buku ke tas kresek yang telah disiapkannya di dalam tas. Saya pun mohon pamit dan melanjutkan perjalanan.

Banyak hal yang terjadi di hadapan kita memberikan pelajaran berharga. Terjatuh adalah hal yang tidak begitu disukai oleh sebagian kita, termasuk saya. Apalagi kalau bukan karena rasanya tidak enak dan mengharuskan kita berurusan dengan debu, kerikil, atau tanah yang menempel di pakaian kita. Belum lagi kalau menimbulkan luka. Ada yang mengatakan bahwa menyusuri hidup itu seperti mengayuh sepeda. Agar seimbang, kita harus mengayuhnya terus. Gadis berkerudung itu mengayuh sepedanya terus, namun beban yang diletakkan di depan sepedanya terlalu berat! Keseimbangan bukan hanya ditentukan oleh faktor mengayuh, tapi juga beban yang kita bawa.

Setiap kita memiliki beban masing-masing. Beragam pula cara kita membawanya. Dari terjatuhlah kemudian kita belajar untuk meletakkan beban, mengaturnya sedemikian rupa sehingga keseimbangan - yang kita harapkan - pun tercapai. Itu pun kalau kita mau berpikir untuk menata bebannya langsung. Hidup yang tanpa beban itu sepertinya ideal dan sempurna. Kita berjalan dengan keseimbangan kita masing-masing dalam hidup ini. Namun, hidup yang seperti itu tentu saja jauh dari uluran tangan orang lain, jauh dari senyuman hangat orang lain, dan jauh dari ucapan terimakasih.

Saya melihat, bukan ketiadaan beban yang membuat banyak orang bijak memiliki senyum yang teduh, namun kehandalannya dalam meletakkan beban pada tempatnya, kemudian tersenyum lembut kepada beban-beban itu sambil bertutur, "Aku mengakui dan menerima dirimu hadir dalam kehidupanku, namun dirimu bukan aku."

Senin, 21 April 2014

Cuman Numpang Lewat

Oksigen yang kau hirup itu, cuman numpang lewat ... Justru "numpang lewat" itulah yang membuatmu hidup ... Coba kau serakah dan ingin memiliki, kau pasti mati ...
Gak percaya? Tarik napas sebanyak banyaknya ... Lalu simpan, miliki dan jangan kau keluarkan lagi ... Rasa memiliki, justru membuat hidup ini kau akhiri ..

~Arif Rh

Jumat, 18 April 2014

Sebuah Afirmasi

Aku mengijinkan semua hal yang memberdayakanku, yang mengalirkan keberlimpahan hidupku, dan membawa manfaat bagi banyak orang, untuk terjadi dalam hidupku secara sengaja maupun tidak sengaja, melalui peristiwa apapun juga baik yang kurencanakan maupun tidak. Dan aku bersyukur bahwa hal-hal itu mewujud dalam waktu singkat.

#Bila anda merasa doa ini akan membawa manfaat bagi banyak orang untuk berubah kearah kemajuan hidupnya, silahkan kirimkan untuknya.


~Agung Webe

Sederhana yang Tidak Sederhana

Kita sudah terlanjur hidup di jaman yang canggih. Mungkin karena saking canggihnya, banyak orang - termasuk saya - lebih menyukai hal-hal yang beraroma rumit. Kalau sederhana, rasanya sudah tidak relevan lagi, ketinggalan jaman. Kurang 'high class'. Sehingga, yang namanya berpikir sederhana di jaman yang sudah terlanjur canggih bin modern ini bukanlah hal yang mudah. Atau bisa juga dikatakan, bukanlah hal yang disukai.

Beberapa permasalahan yang kita hadapi sebenarnya bisa saja diselesaikan dengan hal yang sederhana. Hanya saja, karena kita terlanjur menyukai kerumitan, ketika solusi itu muncul dari orang yang lebih berpengalaman, muncullah kalimat-kalimat ini, "Masa' bisa?!'', "Masa' gitu aja?!", "Kok sederhana sekali solusinya?! Masalah saya rumit!" Kita berpikir masalah yang rumit haruslah diselesaikan dengan solusi yang rumit. Biar pas. Biar pantes. Kita lupa kalau ukuran 'kunci' selalu lebih kecil dari 'gemboknya'.

Bahkan untuk beberapa masalah yang menyangkut emosi, seseorang pernah mengatakan bahwa solusinya bisa dengan melakukan pernapasan perut, menyadari napas yang masuk dan keluar, sambil mengucap syukur. Hanya itu. Kemudian saya berpikir, "Masa' gitu aja?!"

Happy Monday

#SapuDanLapPel

"Kata-kata ibarat sapu. Ketika dipakai menyapu, lantai lebih bersih, namun debu terbang kemana-mana. Dan hening ibarat lap pel. Lantai bersih tanpa membuat debu terbang."
Pujian, makian, kekaguman, kebencian, dan kata-kata manusia hanya menjernihkan sebagian, sekaligus memperkotor di bagian lain. Sedangkan hening di dalam bersama rasa cukup seperti lap pel, bersih, jernih tanpa menimbulkan dampak negatif.

~Susanna Tamaro

Masa Lalu..Biarlah Masa Lalu

Seorang anak kecil yang cantik, mungkin usianya belum sampai 5 tahun, mengenakan baju yang berwarna-warni, cerah, membuat banyak orang gemas melihatnya. Tangan kanannya memegang mic, bersiap untuk bernyanyi. Sambil sedikit menggerak-gerakkan badannya, gadis cilik ini dengan sabar menunggu musik intro mengalun. Akhirnya tibalah waktu yang tepat baginya untuk mengeluarkan suara..."Kau kira tak menyakiti aku.......Apabila dia menelponmu......Meskipun kau tlah resmi milikku......Karna dia bekas pacarmu....Kau kira hatiku tak cemburu......Disaat dia bersamamu......Ku takut terulang masa lalu......Saat dia jadi pacarmu...."

Ribuan orang dewasa bertepuk tangan melihat aksi gadis cilik ini. Mereka bergembira! Mereka bersorak-sorai! Siapa yang tidak bangga memiliki anak yang pintar bernyanyi?! Orang tua mana yang tidak senang melihat aksi panggung anaknya dilihat dan membuat senang banyak orang?! Bukan bermaksud menghakimi, bukan juga karena saya tidak menyukai lagu dangdut, tapi karena saya tahu bahwa daya serap gadis cilik itu terhadap apapun yang masuk ke otaknya sedang bagus-bagusnya. Baik itu berupa kata, gambar, nada, rasa makanan dan minuman, aroma sesuatu, tekstur suatu benda, dll. Kata-kata saja sudah sangat powerfull, bisa memengaruhi nasib, apalagi kalau kata-kata itu dibalut nada...apalagi kalau sering dinyanyikan.

‪#‎Repetisi‬

Jumat, 11 April 2014

Mengapa Harus Saya?

Bila disuruh jujur, ada bagian diri saya yang tidak menyukai kegagalan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Bagian diri yang kemudian meratap dan mempertanyakan sesuatu yang tidak membutuhkan jawaban, "Mengapa harus saya? Mengapa saat ini? Mengapa dengan cara seperti ini?"

Namun, bagian diri itu tidak sendirian. Ada bagian diri lain yang menemaninya sambil berkata, "Kegagalan itu adalah sebuah proses belajar untuk bertumbuh menjadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijaksana. Kegagalan sangat mahal harganya karena berisi banyak pelajaran. Kesuksesan atau keberhasilan itu memiliki makna justru karena ada kegagalan. Sesuatu disebut gagal karena ada acuan yang disebut berhasil. Begitu juga sebaliknya. Dua hal yang berlawanan hadir untuk saling menguatkan makna satu sama lain."

Dan kehidupan pun, dengan adilnya, tidak selalu mempertemukan saya dengan kegagalan. Seringkali saya juga berjumpa dengan keberhasilan dan kesuksesan yang menyuguhkan rasa gembira. Namun, dalam kegembiraan itu, saya kadang mulai berlaku tidak adil. Hampir tidak pernah, dalam momen-momen seperti itu, ada bagian diri saya yang bertanya, "Mengapa harus saya? Mengapa saat ini? Mengapa dengan cara seperti ini?"