Sabtu, 18 Desember 2010

Tiga Botol Nasi untuk Kita Resapi

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia kehidupan kepada kita semua. Mudah-mudahan catatan kecil ini semakin memperbesar rasa syukur kita kepada-Nya.
Pada bulan Oktober 2009 aku pernah menuliskan sebuah eksperiman yang sangat terinspirasi dari seorang professor bernama Masaru Emoto yang kuberi judul “Ketika Air sedang Mengajar (Part 2)”. Bagi siapapun yang belum dan ingin membaca catatan tersebut, silakan klik disini.
Catatan kali ini juga dibuat sebagai hasil percobaan yang aku lakukan selama kurang lebih 2 minggu. Percobaan ini hampir mirip seperti yang aku lakukan pada catatan “Ketika Air sedang Mengajar (Part 2)”. Namun, bahan yang aku pilih sebagai objek percobaan kali ini adalah nasi dan waktu percobaan dibuat lebih singkat. Botol yang digunakan juga merupakan botol transparan agar aku bisa melihat perubahannya setiap waktu.
Bermula dari rasa penasaran setelah melakukan percobaan dengan 3 roti dalam botol yang diberi label ‘terimakasih’, ‘bodoh dan tolol’, dan satu lagi tidak diberi label, aku melakukan percobaan ini. Aku tidak yakin bahwa ‘tulisan-tulisan itu’ yang menyebabkan perubahan yang terjadi pada ketiga roti. Karena keraguan ini aku meminta 3 botol transparan kepada Lul 'Ucil' Andriani, menyiapkan nasi putih yang dibentuk bulat-bulat dengan tangan sebanyak 3 buah, 2 kertas kecil denga tulisan ‘terimakasih’ dan ‘bodoh dan tolol’. Kertas tersebut ditempelkan pada dinding botol dengan isolasi bening. Setelah itu, nasi dimasukkan ke dalam botol seperti pada foto di bawah.


Setiap hari kuamati dengan cermat perubahan yang terjadi pada ketiga botol. Tidak lupa aku berikan afirmasi pada ketiga botol tersebut. Dan inilah hal yang paling membedakan percobaan kali ini dengan percobaan sebelumnya. Pada percobaan sebelumnya, aku memberikan afirmasi kepada botol secara berulang-ulang sesuai label yang tertera pada botol, namun kali ini aku melakukan hal yang lain. Pada botol yang dilabeli ‘terimakasih’, aku berikan afirmasi secara berulang-ulang dalam hati dengan kata-kata ‘bodoh dan tolol’, sedangkan pada botol yang dilabeli ‘bodoh dan tolol’, aku berikan afirmasi dalam hati dengan kata ‘terimakasih’ secara berulang-ulang pula. Afirmasi ini tentu saja aku lakukan dengan memegang botol yang bersangkutan. Aku tidak memberikan afirmasi apapun pada botol yang tidak dilabeli.
Satu hari berlalu, dua hari, tiga hari, seminggu, akhirnya mulai ada perubahan warna yang terjadi pada ketiga nasi dalam botol. Ini sungguh-sungguh menggetarkan hatiku. Ini merupakan jawaban dari banyak pertanyaan yang selama ini menggelayut dalam pikiran. Sungguh keajaiban Tuhan. Botol yang sama, nasi yang sama, kondisi penyimpanan yang sama, tulisan yang berbeda, afirmasi yang berbeda, memberikan reaksi yang berbeda. Ini sangat jelas mengisyaratkan ‘kekuatan afirmasi’ atau ‘kekuatan doa’. Nasi dalam botol yang dilabeli kata ‘terimakasih’, tetapi diberikan afirmasi ‘bodoh dan totol’ terlihat lebih kuning dibandingkan nasi yang lain, sedangkan nasi dalam botol yang dilabeli ‘bodoh dan tolol’, namun diberikan afirmasi ‘terimakasih’ adalah yang paling putih diantara ketiganya seperti terlihat pada foto di bawah.



Satu hal lagi yang tidak bisa aku buktikan melalui gambar maupun tulisan yaitu bahwa ketika botol yang dilabeli ‘terimakasih’ dibuka, aroma busuk langsung menusuk hidung. Hal yang hampir sama terjadi pada botol yang tidak dilabeli. Namun, aroma lain tercium dari botol yang dilabeli ‘bodoh dan tolol’. Aromanya tidak busuk, seperti aroma ragi yang khas. Bila belum yakin, silakan mencobanya sendiri. Banyak hal yang bisa disimpulkan dari percobaan yang sederhana ini. Silakan rekan-rekan, kawan-kawan, saudara-saudara menyimpulkan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan bidang ilmu masing-masing. Yang jelas, sebuah ungkapan ‘don’t judge a book by its cover’ menjadi lebih bermakna setelah melakukan percobaan ini. Apa yang tampak indah, menawan, dan baik di luar, belum tentu mengisyaratkan sesuatu yang sama di dalamnya. Yakinlah akan kekuatan doa karena ada Tangan Maha Lembut yang sedang menggenggam semuanya. Semoga bermanfaat. Itu saja..

Sabtu, 04 Desember 2010

Dan Tidurlah…


Foto ini aku ambil pada tanggal 21 Nopember 2010 sekitar pukul 10 malam di tangga salah satu rumah makan di Gresik. Rumah makan yang letaknya cukup strategis, yaitu pada perempatan jalan R.A. Kartini, Panglima Sudirman, Veteran, dan Kapten Dulasim. Seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun sedang tidur dengan posisi terlentang. Tidak di kasur, bukan juga dengan bantal empuk. Namun, melihat raut wajahnya yang amat kelelahan, aku berharap dia tidur nyenyak malam itu.

Entah apa yang sebenarnya ingin Tuhan sajikan kepada mataku malam itu. Sepasang mata yang pada akhirnya melihat sebujur tubuh yang sedang menikmati malam dengan caranya sendiri. Dengan cara yang jarang aku lihat secara langsung, sedekat itu, semalam itu, sedingin itu. Kemudian pikiran mulai berkelana, mencari maksud dan makna yang tersembunyi. Hati mulai tervibrasi oleh bias pandang yang diterima kedua bola mataku. Namun, tetap saja tak mampu bagiku menggapai keseluruhan makna yang Engkau sembunyikan dalam kelam malam itu.

Sebuah potret satu sisi tentang bagaimana seorang lelaki yang merelakan tubuhnya bercengkerama dengan pelukan angin malam, merelakan kepalanya beradu dengan tetes-tetes embun yang semoga saja menyegarkan, merelakan kerasnya tangga-tangga itu menjadi alas penat dan lelahnya, merelakan telinganya yang harus menerima suara-suara bising jalanan, merelakan hidungnya sesekali menghirup asap yang keluar dari knalpot kendaraan-kendaraan malam itu. Dan semoga saja ada mimpi yang sudi hadir pada tidurnya itu. Mimpi yang mewujud menjadi semangat dalam menjalani hari-harinya. Mimpi yang membakar asanya untuk terus berusaha menjadikan hidupnya lebih baik. Semoga.

Tidurlah…dengan tenang karena engkau pasti bukan pencuri yang tidak pernah tenang hidupnya itu…
Tidurlah…dengan damai karena engkau pasti bukan koruptor yang merugikan banyak orang itu…
Tidurlah…dengan nyenyak karena engkau pasti bukan orang yang senang memakan uang yang bukan milikmu…
Tidurlah…dengan pulas karena engkau bukan orang yang senang berpikir untuk menjatuhkan orang lain demi keuntunganmu sendiri…
Tidurlah…walau tanpa piyama, walau tanpa AC, walau tanpa alunan musik yang lembut, walau tanpa selimut yang tebal, walau tanpa susu yang hangat, walau tanpa lampu yang temaram, namun engkau tetap saja berdoa dan bersyukur atas anugerah hidup yang diberikan-Nya…
Dan tidurlah…dengan sebaik-baik posisimu, kemudian bangunlah karena pagi akan datang, masih dengan senyum mentari yang menyembunyikan seribu misteri, kemudian engkau bekerja, bukan sebagai peminta-minta yang merelakan hidupnya dipenuhi belas kasihan orang lain, dengan semangat untuk berbagi. Itu saja.

Gresik, Desember 2010

Sabtu, 20 November 2010

Yang Sudah Selesai, ya Selesai..


Tercium begitu wangi...
Semerbak bunga yang terbalut lembut asap dupa pagi ini
Membuatku rindu pada-Mu, padanya, pada mereka..
Pada semua yang begitu sabarnya membimbing pikiranku
untuk mengetahui bahwa diri-Mu ada,
bahwa dirimu bereksistensi..
Pada semua yang begitu teguhnya meminta hatiku percaya
dan merasakan kehadiran-Mu,
bahkan pada ruang-ruang yang begitu sempit,
untuk menunjukkan tiadanya ruang yang tak terjamah oleh-Mu
Terimakasih atas semua upaya itu,
Dan ijinkan di bawah naungan sinar syamsu ini, aku merasakan
begitu lembutnya kehadiran-Mu,
menyelinap masuk melalui aroma bunga dan dentingan suara genta..
yang telah lama tak kuhirup,
begitu lama tak kudengar..
Terasa asing, tetapi menggetarkan..
Tanpa eksitasi, hanya vibrasi.
Sensasi yang mengagumkan...
Hingga luruh semua yang bergelayut, menetap, melekat, dan terikat,
menjadi pikiranku, mungkin pada otakku..
Hal-hal yang membentuk pola-pola menawan,
yang seringkali membuatku terlampau jauh dari-Mu,
terlampau asing dihadapan-Mu..
Ingin kusingkirkan saja,
ingin kukosongkan itu semua,
ingin rasanya berbicara pada otakku sendiri bahwa,
"yang sudah selesai, ya selesai, aku ingin santai...berbincang hangat dengan-Mu!"
Itu saja..

Gresik, 14 November 2010

Rabu, 06 Oktober 2010

Antara..


Malam ini tak begitu dingin, tidak juga terasa menggerahkan..
Seharusnya aku bisa tertidur dengan lelap,
tapi entah kenapa pikiranku tiba-tiba saja tertuju pada-Mu.
Banyak pertanyaan yang ingin kuajukan,
tapi mungkin aku akan terjebak pada hal yang sama,
yang selalu saja tak dapat menggapai jawaban-Mu dengan utuh..
Namun, ketidakutuhan itulah yang membawaku bergerak
dari satu kebenaran yang kecil menuju kebenaran yang lebih besar..
dalam jagat yang Engkau pahat ini..

Jagat yang menyajikan begitu banyaknya daerah antara
dari dikotomi hitam-putih, materi-energi, eksistensi-esensi, surga-neraka..
Dan aku pun merasa nyaman berada diantaranya,
bukan pada satu polaritasnya, bukan pada salah satu sisinya..
Mungkin aku tak cukup pandai untuk memihak,
namun hal itulah yang membawaku pada sebuah pemahaman
bahwa tidak ada yang sempurna,
tidak ada yang seutuhnya salah ataupun seutuhnya benar..
Yang aku yakini bahwa segala sesuatunya
telah berada pada frekuensinya masing-masing,
bergumul hanya karena kesamaan tingkat energinya..

Kesamaan yang membawaku bertemu dengannya,
bertemu citranya dengan bentangan daerah antara
yang semakin meyakinkanku bahwa harmoni tidak terjadi
dari satu nada saja, arus tidak mengalir bila hanya ada satu kutub saja,
angin tidak bersemilir dalam satu tekanan,
air tidak mengalir tanpa perbedaan ketinggian..
Aku dan dirimu mungkin hanya berbeda nada, dalam Sumber Nada yang sama,
berbeda kutub hanya untuk mengalirkan arus,
berbeda tekanan untuk mengundang sejuknya angin,
dan berbeda ketinggian hanya untuk merasakan segarnya air. Itu saja..

Gresik, di malam 4 Oktober 2010

Senin, 20 September 2010

Hujan Doamu


Aku terhanyut...
Dalam waktu yang membuat segalanya dapat berlalu
Aku terpenjara...
Dalam ruang yang penuh dengan cinta, sarat akan makna
Aku terbelenggu...
Dalam takdir yang membuatku yakin akan kebesaran-Mu
Kebesaran yang menempatkanku
Di tengah-tengah keluarga yang penuh kasih,
Diantara para penguat hati
yang selalu ada dalam suka dan duka...
Kau hadirkan pula sewujud pesona penyejuk jiwa
yang membuatku tertambat olehnya...
Kau membuatku tak punya daya untuk meminta lagi
Kau jejali hidupku dengan anugerah
yang tak terperi
Lalu apa yang harus kulakukan selain bersyukur?
Apa yang harus kulafalkan selain ungkapan terimakasih?
Dan kini, Kau hadirkan sebuah hari yang begitu bermakna,
saat begitu banyaknya ciptaan-Mu menghujaniku doa...
Doa yang mungkin terlalu mulia untuk zat sepertiku
Dan aku ingin berkata,
Terima kasih atas semua doa yang terlantun,
semoga bermuara pada samudera kehendak mulia Yang Tunggal
Dan dibawah topangan langit dan naungan bumi ini,
aku hanya ingin menjaga cinta-Mu, cinta mereka. Itu saja...

Gresik, 20 September 2010

Kamis, 26 Agustus 2010

Engkau seperti...


Sekian lama sudah kujejaki langkah di bumi
mencoba berdamai dengan sesuatu yang kusebut takdir..
mencoba menguak banyak hal yang tersembunyi
di balik paparan foton matahari..
di balik keangkuhan selubung awan di langit..
di balik harmoni aliran air..
dan di balik rintihan hujan dari langit..
dengan pikirku..

Dan diantara semua keindahan itu
Engkau hadir..
Dengan seribu bias yang sulit untuk kumengerti..
tak mudah untuk kupahami..
Sekalipun demikian, engkau tetap dalam eksistensimu..
Tak tahu Engkau yang menemukanku
atau bahkan Aku yang menemukanmu..
Namun, aku percaya ada yang mempertemukan kita..
Dalam dimensi ini

Dan bagiku
Engkau seperti..
Angin kencang yang mengoyak ombak gelisah
pada samudera hatiku..
Sebuah frekuensi yang menggetarkan
relung atom jiwaku..
Dan butir-butir air yang terjun dari sebuah tebing,
mencoba mengikis bebatuan kesombanganku..
Dan dalam semua gejolak ini,
aku berharap Engkau adalah sebuah elektron
yang pada akhirnya bertahta pada singgasana orbital kosongku..itu saja..

Gresik, 26 Agustus 2010

Rabu, 25 Agustus 2010

WAHAI ENGKAU WAKTU


Wahai engkau yang begitu angkuh,
yang tak pernah berhenti berjalan sekalipun engkau tahu
aku telah lama mengikutimu..
bertahun-tahun, hingga kini..
Tak tahu dari mana asalmu,
kemana tujuanmu, dan untuk apa engkau ada,
tapi keadaan seolah memaksaku untuk bisa mengikutimu..

Perlahan, namun pasti..
Jantungku berdetak, langkahmu berdetik,
Terkadang kita seirama..
Terkadang engkau seolah berjalan
lebih cepat, menggilas asaku, menggilas mimpiku..
Terkadang lagi engkau begitu lambat,
sehingga ingin kudorong saja tubuhmu yang gemuk ini..
Sebenarnya siapa yang tidak konsisten?
Aku atau dirimu?
Langkahku atau langkahmu?

Sungguh curang dirimu ini..
Engkau melenggak tak kekurangan suatu apapun,
sedangkan aku berjalan menjadi semakin tua,
namun belum tentu semakin dewasa,
belum tentu semakin bijaksana,
belum tentu semakin pandai berdamai dengan hati..
Dan engkau terus saja bergulir seolah bangga
dengan jejakmu yang kausebut masa lalu,
bangga dengan alurmu nanti yang kausebut masa depan..
Namun, aku hanya hadir di masa kini..hanya di masa kini,
berjumpa denganmu...terjerat olehmu...itu saja

Kamis, 19 Agustus 2010

Songa = Songai = Sungai(Part 3)


Satu..dua…tiga…satu..dua..tiga…begitulah kira-kira teriakan kami ketika mendayung perahu maju mengikuti arus sungai Pekalen. Jeram pertama yang kami lewati bernama PILAR, pilihan jeram tersulit. Arus airnya sangat deras, bebatuan yang ada di sekitar pun berukuran besar. Sempat ada rasa takut, tetapi melihat semangat teman-teman, keberanianku pun semakin tumbuh. Akhirnya, jeram pertama terlewati dengan sukses. Berhasil melewati jeram pertama, aku semakin termotivasi untuk melewati jeram berikutnya. Setiap berhasil melewati rintangan yang sulit, kami selalu menempelkan dayung menghadap ke atas, kemudian memukulkannya ke permukaan air sambil meneriakkan nama tim kama, Hap-Hap. Aku tidak tahu persis nama tim Wawan dan kawan-kawan, tapi nampaknya nama yang cocok adalah Gerombolan si Berat. Walaupun beranggotakan empat orang, termasuk Mas Tono, guide, aku yakin total beban perahu mereka lebih berat dibandingkan total beban perahu kami yang berisi lima orang.


Jeram-jeram lain tak kalah seru tantangannya. Ada yang bernama jeram hiu, ada juga yang bernama jeram titanic. Aku tidak hapal nama keseluruhan jeram yang ada disana karena sangat banyak. Ada sekitar 50 jeram yang ada di songa atas. Keseluruhan jeram menghadirkan pesona yang berbeda. Beberapa kali kami melihat air terjun yang begitu indah. Perahu pun sengaja kami dekatkan agar kami merasakan cipratan air terjun yang jatuh dengan bebasnya. Gua-gua kelelawar pun tak luput dari pandangan kami selama mendayung perahu. Yang lebih indah lagi, aku dapat melihat pelangi begitu dekat, begitu nyata, di atas permukaan air sungai. Sungguh, ini panorama yang begitu indah. Pelangi yang selama ini hanya bisa aku lihat setelah hujan di atas langit sana, kini bisa aku lihat di depan mataku, diantara cipratan-cipratan air sungai yang jatuh dari atas tebing. Tuhan, sungguh pemandangan yang luar biasa. Aku bangga bisa hadir di tempat seindah ini. Aku bangga bisa menjadi warga Indonesia.

Ada pelajaran menarik setiap kali aku mendayung perahu mengarungi jeram, baik itu maju, maupun mundur. Sulit bagiku mengontrol arus air yang ada, tetapi aku diberi kemampuan untuk mengontrol perahu yang aku tumpangi. Bergerak maju atau mundur adalah pilihan. Terkadang ingin mengarungi sisi jeram sebelah kiri, tetapi arus terlalu deras membawa kami ke sisi sebelah kanan. Melawannya seringkali membawa perahu kami tersangkut pada batu yang besar. Berpegang pada pengalaman itu, kami pun selalu mencoba bergerak seirama dengan arus air yang mengalir, dengan penuh semangat, tanpa merasa putus asa. Begitu juga dalam mengarungi jeram kehidupan ini. Kita dianugerahi akal pikiran untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan ini. Terkadang ada keinginan yang tidak tercapai karena angin nasib membawa kita pada pilihan yang berbeda. Dan kita pun senantiasa berusaha dan berjuang, mencoba menjalani kehidupan dengan tetap menjaga harmonisasi dengan alam semesta. Tetaplah semangat karena selalu tersaji keindahan dibalik setiap tantangan yang kita hadapi dalam hidup ini.

Sempat juga kami beristirahat sejenak sambil memakan pisang goreng dan meneguk teh hangat yang dicampur dengan jahe pada sebuah gubuk sambil mengistirahkan raga yang sedari tadi tak hentinya mendayung. Begitu nikmat, walaupun hanya pisang goreng. Mungkin karena dimakan pada saat kelelahan di tempat yang sangat indah. Lima belas menit beristirahat, kami pun segera melanjutkan perjalanan yang tersisa. Tiga puluh menit mendayung, akhirnya kami semua sampai pada titik akhir perjalanan arung jeram siang ini. Mobil pick up telah menunggu untuk mengantarkan kami menuju basecamp.

Sesampainya di basecamp, kami langsung menuju kamar mandi dan langsung membersihkan badan. Benar-benar petualangan yang penuh dengan kesegaran dan tantangan. Selesai mandi, makan siang telah siap di meja makan, dan kami pun sudah tidak sabar melahapnya. Ada sebakul nasi putih yang dicampur dengan jagung, ada urap-urap, tahu, tempe, ikan pari, sambal yang menggugah selera, dan tidak lupa semangka sebagai buah pencuci mulut. Sungguh nikmat makan siang hari ini.



Setelah makan siang kami pun menyempatkan berbincang-bincang dengan Mas Andre dan Mas Tono. Dari keterangan yang diberikan, kami menjadi tahu bahwa objek wisata sungai Pekalen mematok target 29 ribu pengunjung setiap tahun. Hingga bulan Agustus ini, target itu telah tercapai. Sungguh luar biasa…!! Kami bertujuh termasuk orang beruntung yang bisa menikmati keindahan berarung jeram di lokasi ini. Setelah berbincang-bincang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Tidak lupa, kami pun mampir untuk menikmati nasi punel di daerah Bangil, tepatnya di jalan Jaksa Agung Suprapto.




Hari semakin petang, dan matahari kian tenggelam. Bias sinarnya masih mampu membuat mataku takjub akan kehadiran pelangi yang membelah langit. Sungguh pemandangan yang memesona di balik kaca jendela mobil yang kami tumpangi. Terimakasih Tuhan, terimakasih teman-teman. Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya…Gunung Rinjani menunggu kita!!!

Selasa, 17 Agustus 2010

Songa = Songai = Sungai (Part 2)

Matahari begitu indahnya memaparkan kemilaunya pagi ini. Kami bertujuh berada di balik kaca jendela mobil kijang mencoba mengumpulkan tenaga sambil bercanda dan mendengarkan radio. Sudah tidak sabar menikmati keindahan sungai Pekalen. Sesampainya di daerah Gending, kami berbelok ke arah kanan. Di daerah ini terdapat pabrik gula yang cukup tua. Terlihat dari bentuk bangunan yang tidak terlalu terawat dengan baik. Setelah cukup jauh memasuki kawasan Gending, kami bertanya kepada penduduk setempat tentang lokasi sungai Pekalen. Dari informasi yang diperoleh, ternyata kami masih harus terus menanjak. Untung saja supir yang juga merangkap sebagai teman kami terlatih untuk daerah-daerah terjal.

Tidak beberapa lama, kami memasuki kawasan hutan. Di kiri-kanan jalan banyak sekali terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi. Aku tidak tahu persis jenis pohon yang tumbuh, tetapi cukup menyejukkan. Jalan yang kami lewati juga sudah semakin kecil, sehingga supir harus lebih berhati-hati. Beberapa saat kemudian, papan kayu yang bertuliskan “Songa Adventure” terpampang jelas di hadapan kami. Akhirnya sampai juga, pikirku. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dari rumah Syafi di jalan Citarum, Probolinggo. Setelah memarkir kendaraan, kami disambut ramah oleh orang-orang yang ada di basecamp songa adventure. Banyak dari mereka berpakaian layaknya seorang guide yang telah siap memandu kami berarung jeram pagi ini. Basecamp ini memiliki lahan parkir yang cukup luas, terdapat meja makan, dan kursi-kursi di bagian tengah. Disisi kiri pintu masuk terdapat gudang penyimpanan perlengkapan arung jeram, sedangkan di sisi kanannya terdapat beberapa kamar mandi yang sangat bersih. Setelah urusan administrasi selesai, kami disuguhi teh botol dingin. Segar sekali rasanya meminum es teh di kawasan seperti ini. Desa Pesawahan, Tiris, yang indah.



Setelah minum es teh, kami membagi kelompok menjadi dua karena satu perahu hanya bisa diisi oleh 5 orang, termasuk guide. Setelah berpikir agak rumit, akhirnya aku berkelompok dengan Dani, Daus, dan Kakang, sedangkan Wawan berkelompok dengan Syafi dan Anto. Setelah mengganti pakaian, kami memakai atribut arung jeram, mulai dari helm, pelampung yang bentuknya seperti rompi, kemudian tidak lupa juga membawa dayung. Selain itu, kami juga dibekali air mineral. Sebuah mobil pick up dan dua orang guide telah siap mengantar kami sampai titik start petualangan hari ini. Perjalanan cukup berliku dan terjal. Banyak bebatuan yang membuat perjalanan kami dipenuhi goyangan-goyangan tidak penting, tapi mengasyikkan. Setelah 20 menit berlalu, kami masih harus berjalan kaki menyusuri kampung hingga ke tepian sungai. Tidak apa-apa, yang penting sehat.



Ternyata sudah banyak orang di tepian sungai Pekalen. Ada yang sedang mencuci perahu, ada yang duduk-duduk santai saja, dan ada yang mengobrol. Suasananya begitu sejuk. Sungai Pekalen begitu memesona, buih-buih air yang menabrak bebatuan besar di sungai itu seolah berbicara, “Saatnya, berpetualang, Guys!!” Aku, Daus, Dani, dan Kakang menaiki perahu yang telah dipompa dan dicuci sebelumnya. Guide kita bernama Mas Andre. Wawan, Anto, dan Syafi ada di perahu yang lain. Guide mereka bernama Mas Tono. Mas Andre memberikan banyak sekali pengarahan sebelum kami berarung jeram. Kami harus benar-benar paham akan aba-aba seperti “maju”, “mundur”, “kanan”, “kiri”, “boom”, dan “goyang-goyang”. Kami juga dijelaskan bagaimana cara berenang apabila terpelanting dari perahu, bagaimana mengangkat teman yang terlempar dari perahu, selain itu dijelaskan pula cara memegang dayung yang benar agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. Mas Andre juga berpesan, “Berarung jeram itu tidak harus cepat, santai saja tetapi seirama.” Artinya, kekompakan tim adalah penting. Suatu prinsip hidup yang luar biasa bila kita bisa terapkan secara utuh karena hidup itu bukan hanya melulu tentang yang lebih cepat, yang lebih baik, tetapi bagaimana juga menjaga keserasian hubungan dengan alam, lingkungan, dan sesama. Inilah yang dimaksud dengan “santai saja, tetapi seirama”. Setelah selesai berdoa, kami langsung mendayung perahu maju, dan siap berpesta dengan arus air yang nakalnya minta ampun ini…!!!..(bersambung..)

Senin, 16 Agustus 2010

Songa = Songai = Sungai (Part 1)


Dulu, ketika masih kuliah, aku ingin sekali bisa jalan-jalan ke daerah Probolinggo sambil menikmati panorama sungai Pekalen. Hanya saja, waktu itu, faktor finansial masih menjadi pertimbangan utama, walaupun waktu luang untuk melakukan aktivitas tersebut cukup memadai. Semangat saja memang tidak cukup. Uang tidak serta-merta jatuh dari langit dan mengenai kepala kita di saat tertidur di malam hari. Apalagi berharap, ketika kita bangun, kita sudah berada di lokasi wisata yang diidamkan. Buang jauh-jauh pikiran itu. Bila masih muncul sedikit saja, tendang sampai kutub utara…!!

Kini, ketika sudah bekerja, keinginan itu muncul lagi. Mencuat seperti jamur yang tumbuh tiba-tiba di pekarangan rumah. Masalah finansial mungkin sudah bisa sedikit teratasi. Hanya tinggal mengalkulasi pendapatan tiap bulan yang dikurangi dengan pajak penghasilan, pinjaman, biaya kost, biaya pulsa dan biaya pokok lainnya, kemudian menguranginya lagi dengan biaya rekreasi ke sungai Pekalen, setelah itu didapat sisa uang. Sisa uang inilah yang berfungsi sebagai cerminan jumlah hari yang digunakan untuk berpuasa dalam bulan ini. Sungguh perhitungan yang matematis-dramatis. Akan tetapi, bukan itu masalah utamanya. Masalah yang lebih penting lagi adalah ketersediaan waktu luang untuk melakukan aktivitas tersebut. Kesibukan kerja saat ini memang cukup menyita waktu. Oleh karena itu, harus dicari waktu yang benar-benar tepat untuk melakukan aktivitas rekreasi. Sungguh bukan bermaksud untuk sombong, tetapi aku ingin mengatakan bahwa uang bisa dicari, tetapi waktu tak dapat kembali. Maka dari itu, sungguh berharganya waktu ini apabila kita bisa menikmatinya bersama orang-orang yang kita sayangi, bersama keluarga atau teman-teman yang dekat di hati. Dan beruntung sekali, aku memiliki teman-teman yang sangat menyukai kegiatan jalan-jalan sambil menikmati keindahan alam.

Setelah beberapa bulan melakukan bincang-bincang secara langsung, maupun komunikasi via sms dan jejaring sosial, akhirnya diputuskan tanggal keberangkatan ke sungai Pekalen adalah 8 Agustus 2010. Memang tidak semua teman yang ingin ikut, bisa ikut. Namun, menunggu mereka pulang dari Jakarta dan Kalimantan pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Akhirnya, beranggotakan tujuh pasukan, kami berangkat menuju Pekalen.

Sabtu malam, kami bertujuh telah berkumpul di Keputih gang makam, blok E, no. 22, Surabaya. Sebuah mobil kijang telah siap di depan pagar. Itu tandanya, Mushlik dan Wawan telah berhasil memindahkannya dari pelataran parkir wisma SIER. Pukul 19.30, kami telah berkumpul semua, berdoa bersama, dan bersiap untuk perjalanan yang mengasyikkan ini. Walaupun sempat tertunda beberapa menit karena ternyata Wawan agak kesusahan mengoperasikan mobil ini, tapi semuanya bisa teratasi berkat pengetahuan perbengkelan Syafi dan Daus, serta Kakang yang mengambil selang, entah untuk apa. Kami pun siap berangkat. Posisi supir tentu saja diisi oleh Wawan yang didampingi seorang navigator bernama Daus. Di posisi tengah ada aku, Syafi yang kondisinya belum sembuh betul, dan Kakang yang terus-menerus mengingatkan pentingnya keselamatan mengemudi. Di posisi belakang, ada Anto dan Dani yang semakin akur saja setelah sekian lama tidak bertemu. Bila kita cermati dengan seksama, perpaduan kedua badan mereka nyaris menyerupai angka sepuluh. To..To..jangan lupa olahraga!! Probolinggo, here we come…!!!


Tujuan pertama malam ini adalah rumah Syafi, tempat dimana kita akan beristirahat sejenak sebelum menuju Pekalen besok paginya. Surabaya – Porong – Pasuruan berhasil kami lewati, tentunya melalui jalur alternatif karena kita tidak memiliki banyak waktu untuk menikmati keindahan panorama lumpur Lapindo pada malam hari. Setelah menghabisan 3,5 jam perjalanan, kita semua sampai di jalan Citarum, Probolinggo, dan langsung disambut ramah oleh ibunda Syafi. Ternyata tidak hanya sambutan ramah, tetapi sepiring nasi, ayam kecap, tempe dan tahu penyet, rempeyek, dan tumis wortel membuat kebahagiaan hati dan perutku semakin sinergis saja. Setelah mengobrol santai sambil makan malam, kami pun bergegas tidur di lantai dua, mempersiapkan diri untuk bertemu matahari besok pagi.

Dan pagi pun begitu cepat datang, lebih cepat dibandingkan perkiraan kedua mataku, tetapi tidak bagi Wawan yang telah terbangun semenjak jam 3 subuh dan kebingungan mencari kamar mandi. Kami semua mandi bergiliran, kemudian beribadah, dan langsung menuju ruang tengah, bukan untuk menonton televisi, tetapi untuk makan (lagi). Menu sarapan hari ini adalah ayam goreng, tempe dan tahu penyet, sop, kerupuk upil, dan rempeyek…tentu saja. Beruntung sekali pak Ustad (baca: Syafi) dilahirkan dari rahim seorang ibu yang begitu baik. Seorang ibu yang mengingatkan kami bahwa, “Sing telaten, bakal panen”. Sungguh nasehat yang bermakna dalam. Beliau juga sempat bertutur, “Siapapun yang mencari, akan menemukan”. Setelah saling pandang dan saling ejek, kami pun mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa menit saja…


(bersambung..)

Senin, 02 Agustus 2010

Kata dalam Semesta


Kita sedang sama-sama berbicara,
namun dalam gaya yang berbeda..
Aku selalu saja berbicara dengan kata,
sedangkan Engkau bersabda melalui semesta,
melalui gerakan air yang kusebut mengalir..
melalui gerakan angin yang kusebut berhembus..
melalui gerakan matahari yang kusebut terbit dan terbenam..
melalui gerakan bumi yang kusebut berotasi dan berevolusi..
melalui mekarnya bunga..
melalui riuh-rendahnya ombak di pantai..
melalui gemuruhnya halilintar..
dan melalui derasnya hujan..

Engkau merajut pelangi,
kemudian aku menuturkan kata indah..
Engkau mengangkat sedikit tanah bumi,
kemudian bibirku menggetarkan musibah..
Engkau hadirkan fajar,
dan aku pun berdecak kagum..
Engkau goyangkan samudera,
kemudian aku limpahkan air mata..

Kita sedang sama-sama berbicara,
namun dalam gaya yang berbeda..
Aku masih tetap angkuh berbicara dengan kata,
menafsirkan kedipan mata-Mu dengan sastra,
membaca liukan tubuh-Mu dengan persamaan gerak fisika,
menghitung kasih-Mu dengan rumus empiris matematika,
menakar keajaiban-Mu dalam tabung reaksi kimia,
dan Engkau tetap saja bersabda dengan semesta,
menyadarkanku bahwa begitu sulitnya menyentuh bahasa-Mu
dengan logikaku,
tetapi mungkin dengan hatiku


Gresik, 2 Agustus 2010, selsurya.blogspot.com

Jumat, 30 Juli 2010

Tuhan, Aku ingin santai saja...


Tuhan..
Aku harus jujur pada-Mu
Capek sekali rasanya sepulang kerja malam ini
Dan saat ini, aku tidak ingin berdialog terlalu rumit dengan-Mu
Tapi bukan berarti aku malas membaca ayat-ayat
dalam kitab itu, Tuhan..
Aku akan tetap mempelajarinya,
walaupun kusadar bahwa Engkau mengerti semua bahasa
Aku hanya ingin santai saja...
Sudah lama rasanya tidak mencurahkan isi hati
dengan cara seperti ini..
Mungkin karena aku terlampau sibuk dengan urusan duniaku,
sehingga jarak kita semakin lama semakin melebar
Tidak mendalam sebagaimana seharusnya..

Mohon maaf, ya Tuhan..
Seringkali aku menunduk, tetapi tidak tertuju pada-Mu
Seringnya mata salah memandang..
Melihat samudera hanya dari perpaduan yang unik antara hidrogen dan oksigen,
alih-alih kerendahan yang meluaskan hati..
Melihat mentari dari kedahsyatan reaksi fusi nuklir,
ketimbang keindahan keikhlasan dalam memberi..

Bosan juga sebenarnya meminta ikan kepada-Mu,
namun Engkau tidak pernah berhenti memberiku kail..
Kita berdamai saja, ya..
Izinkan aku berusaha semampuku,
Setelah itu, Engkau yang tentukan hasilnya, sepenuhnya, terserah...

Tuhan,
Sekian dulu, ya..
Kantukku semakin menjadi
Kita sambung lagi esok pagi,
Itupun jika Engkau tidak mencabut nyawaku
karena doa yang kurang ajar ini..
Selamat malam, semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu

Gresik, 30 Juli 2010, selsurya.blogspot.com

Minggu, 18 Juli 2010

Titipan pagi


Setetes embun pagi ini membawa memoriku jauh terbang
menembus dimensi yang paling angkuh, waktu,
dan dimensi yang selalu membingungkan, ruang..
Masih teringat jelas senyuman itu..
Peluk hangat itu..
Tatapan sayu itu..
Kecup sayang itu..
dan teriakan-teriakan di siang hari yang bolong itu..
Masih terekam dengan sempurna
bagaimana kulit pahaku memerah karena aku tidak dapat mengeja kata
dengan baik..
kemudian telinga kiriku pun memerah karena aku tidak ingin tidur siang
dan memilih bermain bersama teman-temanku, waktu itu..
Itu semua karena cubitan kecilmu, yang semakin kecil, semakin sakit, sungguh..
Tentu saja aku tidak dapat melupakan aroma masakan di dapur kita
yang pengap itu..
Dan aku tidak pernah tahu rahasia bumbu yang lezat itu
Sampai pada akhirnya aku menyimpulkan sendiri,
bahwa bumbu rahasia itu adalah cintamu kepadaku,
kasihmu kepadaku..
Kini aku mulai tidak percaya kepada semua orang, tanpa kecuali,
yang mengatakan bahwa cinta itu buta, sungguh..
Engkau mengajarkan bahwa cinta itu tulus...itu saja, tanpa kecuali
Dan kini, entah ini takdir atau nasib, aku terpisah jauh darimu,
namun kutitipkan senyumku pada sinar mentari
dan pelukan hangat pada semilir angin yang berhembus
pagi ini..
Pagi ini saja dulu, Bunda...esok lagi.

Gresik, selsurya.blogspot.com, 18 Juli 2010

Minggu, 20 Juni 2010

Teruntukmu...


Ada selembar hati yang secara perlahan masuk
mengisi celah hati
Bersemayam di dalamnya dengan penuh keanggunan
Mengetuk-ngetuk dengan halus melalui senyum yang
tak mungkin terlupa
Mengguncangkan logikaku dengan sepercik tatapan
yang sulit terhapus begitu saja..

Aku terjatuh...
Tak tahu kapan tepatnya
Tak tahu juga bagaimana bisa terjadi
Tak habis pikir, bahkan kedua kakiku tampak
masih sangat kuat
Masih cukup tegar untuk menopang tubuhku, tetapi tidak hatiku..

Kumenatap langit yang tergurat pesona warna
Membius mataku yang berteman keangkuhan
Bias syamsu damaikan hati
yang sedari tadi diisi oleh riuh rendah kicau burung sore hari
Entah berapa lama lagi aku disini
Mencoba berdiri di atas keputusanku sendiri
Tegar berjalan meniti waktu

Dan jika suatu saat nanti aku bertanya..
Itu hanya karena tidak ingin ada yang membusuk
karena terlalu lama memendam
Dan tidak ingin ada yang membatu
karena terlalu lama membeku..
Jika hatimu ragu,
Aku akan menunggu, tapi dengan batas waktu..
Jika hatimu resah,
Aku pun turut gelisah,
Berusaha untuk tidak pasrah..
Jika satu hari nanti kepastian itu datang dari lubuk hatimu yang dalam itu
Aku pastikan masih ada ruang di hati ini
Entah untuk kau tempati atau hanya untuk kau singgahi
Karena engkau adalah jalan bagiku untuk melihat begitu sederhananya kasih itu..

selsurya.blogspot.com, Gresik, 20 Juni 2010

Jumat, 18 Juni 2010

Roti Bakar


Gerimis turun dengan lancangnya dari langit Gresik malam ini. Namun, hal itu tidak menurunkan semangatku untuk pergi keluar. Perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Masuk kembali ke dalam kamar sama saja dengan mengundang maag dengan ramah. Setelah berpakaian lengkap, disertai jaket tebal, aku pun bergegas menuju halaman depan kost, menaiki motor, dan melajukannya. Di sepanjang jalan, di setiap warung kopi yang kutemui, hampir dipastikan seluruh pengunjungnya sedang mengarahkan fokus mereka pada layar kaca yang menyajikan tayangan dengan dominasi warna hijau. Entah apa yang membuat 22 orang di suatu lapangan berlari kesana-kemari memperebutkan sebuah bola dengan mengikuti aturan tertentu. Memang sulit untuk dipercaya, tapi banyak orang menyukainya. Walaupun begitu, aku tetap berdoa yang terbaik, mudah-mudahan gelaran piala dunia yang diadakan di Johannesburg tahun ini berjalan dengan lancar dan para penjaga warung kopi mendapat rezeki yang bermanfaat. Amin.

Setelah menyusuri jalan veteran, R.A. Kartini, dr. Sutomo, Jaksa Agung Suprapto, dan Panglima Sudirman, akhirnya aku sampai juga di jalan Arief Rahman Hakim. Jalan ini mengingatkanku pada sebuah jalan yang sering aku lalui ketika masih kuliah di Surabaya. Sungguh jalan yang penuh kenangan, dan juga penuh air ketika hujan datang. Sambil menoleh kanan-kiri, akhirnya mataku berjumpa dengan sebuah gerobak bertuliskan “ROTI BAKAR”. Ini dia yang kucari, menu makan malam ini. Bukannya ingin meniru orang Barat yang senang sekali mengonsumsi roti, aku hanya tidak ingin terlalu kenyang saja malam ini. Setelah memarkir sepeda motor, aku melihat-lihat menu yang tertempel pada kaca gerobak. Ada 34 menu roti bakar dan kesemuanya menggugah selera. Ada roti bakar nanas + stoberi, blueberry + kacang, keju + kacang, coklat + keju, milo + keju, dll (dan lainnya lupa). Karena keterbatasan isi dompet, aku pun memesan roti bakar milo + kacang.

Sambil menunggu roti yang akan diproses lebih lanjut, aku pun duduk di kursi plastik yang ada di samping gerobak. Ada 7 kursi plastik yang disediakan disana. Itu berarti hanya 7 orang yang diperkenankan duduk sambil menungu roti yang sedang dibakar. Bila pembeli melebihi jumlah tersebut, silakan berdiri di dekat gerobak sambil melipat kedua tangan di depan dada. Atau bisa juga memberikan pesan singkat kepada penjual seperti, “Pak, saya tinggal dulu, nanti saya ambil rotinya ya!” Semuanya bisa diatur, yang penting jangan mengeluh. Setelah kucermati dengan seksama, roti bakar termurah yang tertera pada menu adalah roti bakar nanas + stroberi, dengan harga 6 ribu rupiah, sedangkan roti bakar termahal adalah roti bakar milo-keju + milo-keju, dengan harga 13 ribu rupiah. Kesemua menu itu menggunakan roti yang sama, baik dari segi kualitas, maupun segi kuantitas. Jadi, yang membedakan harga masing-masing roti bakar bukanlah “rotinya”, tetapi “isi rotinya”.

Ada satu pelajaran menarik yang aku dapat malam ini. Aku lebih senang menyebutnya dengan “the power of content”. Hal ini membuatku sadar akan “pentingnya sebuah isi”. Berbeda isi, berbeda harga. Dalam banyak hal, kualitas diri kita tidak saja ditentukan oleh faktor fisik, tetapi juga faktor-faktor lain yang berkaitan dengan “isi”, seperti kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spiritual. Dan justru faktor-faktor itulah yang paling menentukan kesuksesan seseorang. Jutaan orang Indonesia belajar di sekolah, kuliah di kampus, dan bekerja di manapun sedang dalam proses “mengisi diri” dengan kualitas-kualitas yang mereka harapkan masing-masing. Ada yang mengisinya dengan “nanas”, “stroberi”, “kacang”, “coklat”, “keju”, dan “blueberry”. Semuanya sesuai dengan selera. Aku jadi teringat seorang guru yang mengatakan bahwa kita bekerja bukan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tapi kita bekerja untuk menjadi semakin mahal. Tidak mudah memang untuk memegang prinsip seperti ini, apalagi uang adalah kebutuhan yang sangat penting. Namun, aku yakin kita bisa merubah pikiran serta tindakan kita sedikit demi sedikit dengan berfokus pada peningkatan kualitas diri. Yang lebih penting lagi, kita saling memotivasi satu sama lain.
Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa diambil dari catatan malam ini. Sukses selalu dan selamat makan malam…!!

selsurya.blogspot.com, 17 Juni 2010, 22.15 WIB

Minggu, 06 Juni 2010

Gula dalam Secangkir Teh..


Hari minggu pagi ini adalah jadwalku melakukan aktivitas cuci-mencuci. Sudah banyak pakaian kotor yang menunggu untuk dibersihkan. Kesemuanya itu kutampung sementara dalam sebuah tas kresek putih besar untuk kemudian kupindahkan dalam ember hitam berisi air yang tergeletak dekat kamar mandi. Setelah kumasukkan semua pakaian ke dalamnya, barulah aku membubuhi detergen bubuk dengan sangat hati-hati. Terlalu banyak detergen akan menimbulkan banyak busa dan tentu saja memberikan efek tertentu bagi tangan saat mencuci, biasanya terasa agak panas karena terkandung soda api di dalamnya. Setelah deterjen kumasukkan, aku memanfaatkan waktu sejenak untuk melihat reaksi yang terjadi di dalam ember. Tidak ada yang terlalu menarik bagiku, perlahan-lahan warna air berubah menjadi putih akibat dispersi deterjen, tetapi tidak terlalu banyak. Belum ada busa yang muncul. Setelah cukup lama termenung, akhirnya aku MENGADUK pakaian di dalam air secara perlahan. Secara perlahan pula, busa muncul ke permukaan air dan warna putih keruh menyebar secara merata. Seketika itu juga pikiranku melayang pada sebuah kisah yang sempat diceritakan oleh Cavett Robert.

Diceritakan bahwa seorang ayah melihat putrinya sedang menuangkan gula berkali-kali ke dalam cangkir tehnya. Setelah tuangan gula yang ketujuh, sang ayah tak tahan untuk mencegah tuangan selanjutnya.
“Nak,” katanya sambil memegang tangan putrinya yang hampir menuangkan gula untuk kedelapan kalinya.
“Tidakkah jika terlalu banyak gula yang kamu tuangkan, akan membuat tehmu menjadi terlalu manis?”
“Tidak, Ayah,” jawab putrinya dengan lucu.
“Tidak, jika saya tidak MENGADUKNYA!”

Ada kesamaan makna yang terkandung dalam kisah “mencuci pakaian” dan kisah Cavett Robert, yaitu tentang suatu proses pengadukan. Dalam kimia, proses pengadukan dilakukan untuk mempercepat tumbukan antarpartikel di dalam campuran, sehingga memengaruhi laju reaksi yang terjadi. Dengan kata lain, pengadukan adalah salah satu upaya untuk mempercepat reaksi. Kita, termasuk penulis, seringkali menjalani kehidupan tanpa mengasah bakat dan kemampuan yang kita miliki. Kita bukan tidak memiliki potensi itu, namun kita enggan untuk sekadar “mengaduknya” dan menjadikannya berguna bagi peningkatan kualitas diri. Kemampuan kita untuk mengolah pikiran-pikiran yang ada, kemudian menghasilkan satu konsep yang menarik dan berguna, itulah yang sama artinya dengan “proses pengadukan”. Memiliki pikiran-pikiran cemerlang belumlah cukup, masih harus dikelola, dibentuk menjadi satu konsep yang baik dan berguna bagi orang lain. Orang besar itu bukan karena kebesaran pikirannya, tetapi kebesaran manfaat yang diberikan oleh kebesaran pikirannya itu.

Mungkin begitu ideal bila aku menuliskan tentang mengelola pikiran, kemudian menjadikannya bermanfaat bagi sesama. Bukan ingin menjelaskan bahwa aku telah berhasil dalam banyak proses pengadukan, baik pikiran dan perasaan, tetapi setidaknya kita memiliki potensi yang sama untuk melakukan proses itu. Semoga catatan kecil ini senantiasa mengubah dirinya menjadi satu inspirasi baru dalam pikiran kita, kemudian merajut dengan pikiran lain, yang pada akhirnya melahirkan satu aktivitas yang penuh dengan makna dalam menjalani hidup ini. Have a nice day!!

selsurya.blogspot.com, 6 Juni 2010

Kamis, 20 Mei 2010

Berguru pada Bambu


Langit di Keputih, Surabaya, hari minggu siang ini tampak masih dikelilingi awan kelabu. Sedikit demi sedikit tetes-tetes air turun sebagai gerimis. Cuaca yang pas sekali untuk bersantai di dalam kamar sambil menonton acara di televisi. Beberapa kali menekan remote, akhirnya aku terpaku pada salah satu channel yang menyajikan pertandingan sengit antara pemakai baju kaos merah putih dan pemakai baju kaos berwarna kuning menyala. Masing-masing kubu yang bertanding sedang mempertaruhkan nama baik Negara yang diwakilinya. Loncatan demi loncatan, keringat demi keringat, smash demi smash, sesekali diperlihatkan juga teknik netting, akhirnya pemakai kaos merah putih harus mengakui keunggulan pemakai baju kaos kuning. Stadium Putra, Kuala Lumpur, Malaysia menjadi saksi bisu kemenangan Cina atas Indonesia dalam laga memperebutkan piala Thomas. Taufik Hidayat, Markis Kido, Hendra Setiawan, dan Simon Santoso tentu sulit melupakan nama-nama seperti Lin Dan, Fu Haifeng, Cai Yun, dan Chen Jin. Namun, perjuangan mereka sangat pantas dihargai sebagai upaya mengharumkan nama Indonesia dalam bidang olahraga bulutangkis. Kekalahan ini seharusnya bisa menjadi cambuk, tidak hanya bagi para pemain bulutangkis, tetapi bagi segenap warga Indonesia untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri dalam upaya menghadapi berbagai bentuk persaingan.

Kekalahan tim Thomas Indonesia ini menyiratkan suatu pesan yang sangat berharga, bahwa kita masih harus banyak belajar dan berlatih. Ada benarnya juga seseorang yang mengatakan, “Belajarlah hingga ke negeri Cina”. Perkataan itu menjadi semakin berarti karena memang Cina yang berhasil mempertahankan gelar juara Thomas Cup untuk kali kedelapan, karena memang Cina yang menjadi juara pada empat kali gelaran Thomas Cup berturut-turut, dan karena memang Cina yang menyebabkan angka 3-0 ini terjadi pada tanggal 16 Mei 2010. Namun, bila belum cukup uang terkumpul untuk biaya perjalanan ke Cina, kita tidak perlu bersedih hati. Jangan urungkan semangat untuk belajar. Gobind Vashdev memaparkan bahwa syarat belajar itu sama seperti syarat sebuah gelas agar dapat terisi air. Gelas tersebut harus terbuka agar air dapat masuk memenuhinya. Selain itu, gelas haruslah kosong agar air memiliki tempat di dalamnya. Sebagai syarat terakhir, posisi gelas haruslah lebih rendah dibandingkan sumber airnya. Mudah untuk dituliskan, namun tidak berarti sulit untuk dilakukan karena “there is a will, there is a way”.

Sekalipun kita belum bisa berkunjung ke Cina saat ini , kita masih bisa belajar hal-hal kecil tentang negeri tirai bambu ini. Ya, negeri tirai bambu karena di Cina banyak sekali terdapat tumbuhan yang satu ini. Pada kesempatan yang berbahagia ini, aku akan berbagi sedikit “kebajikan bambu” yang sangat terinspirasi oleh cerita bijak bapak Budi S. Tanuwibowo. Banyak orang tahu bahwa pada saat bambu bertumbuh besar, secara hampir bersamaan, ia juga beranak-pinak dengan cara bertunas. Ada pelajaran berharga yang dapat kita tangkap, yaitu tentang menjaga warisan orang tua dan melanjutkannya sepenuh hati. Bambu juga memiliki ruang kosong di dalam batangnya. Ruang ini disamping bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan bunyi atau nada, juga melambangkan sifat kosong dan rendah hati. Sifat bambu selanjutnya adalah lurus. Hampir tidak pernah dijumpai ada bambu yang tidak lurus atau bercabang, walau tentu saja beranting. Sifat ini melambangkan kesetiaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Batang bambu beruas-ruas atau berbuku-buku yang melambangkan tahapan, tatanan, atau aturan. Ruas bambu mengingatkan kita pentingnya kesabaran dalam melalui proses demi proses, tahapan demi tahapan. Akar bambu yang menghujam lurus masuk ke dalam tanah menandakan pentingnya dasar pijakan yang tepat, sehingga tindakan kita bisa dipertanggungjawabkan secara kuat. Akar seperti inilah yang menyebabkan bambu kokoh dan tidak mudah tumbang. Jalinan akar bambu memaparkan tentang ketulusan untuk saling membantu. Tunas bambu muda, yang disebut rebung, dapat diolah menjadi makanan yang lezat. Selain itu, bambu dapat digunakan sebagai bahan seruling, angklung, calung, rakit, bahan bangunan, dan bambu runcing. Daun bambu dapat digunakan sebagai bungkus bacang dan jajanan khusus yang terbuat dari ketan. Kesemuanya itu menandakan bahwa bambu memiliki kemampuan untuk menyumbangkan semua bagian dirinya untuk kehidupan.

Begitu banyaknya nilai positif yang dapat kita petik dari tanaman yang banyak tumbuh di negeri Cina ini. Mudah-mudahan banyak hal yang bisa kita perbuat dari bahan renungan yang singkat ini. Tetap jaya tim bulutangkis Indonesia!!! Semoga bermanfaat.

Kamis, 06 Mei 2010

Aku Tahu


Aku tahu...
bahwa Engkau Maha Pengasih,
tetapi bibir ini tak pernah berhenti mengeluh akan masalah
Aku tahu...
bahwa Engkau Maha Pemurah,
tetapi tangan ini tak hentinya meminta belas kasihan orang lain
Aku tahu...
bahwa Engkau Maha Adil,
tetapi lidah ini selalu mendendangkan untung dan rugi
Aku tahu...
bahwa Engkau Maha Penyayang,
dan aku begitu memanfaatkannya sebagai pembaik bagi dosa-dosaku
Aku tahu...
bahwa Engkau Maha Melihat,
tetapi tetap saja berharap malam akan menghalangi pandangan-Mu akan sikapku
Aku tahu...
bahwa Engkau Maha Mendengar,
tetapi berharap gemuruhnya halilintar akan mengaburkan umpatan dan dustaku
Ternyata aku pun tahu bahwa Engkaulah Yang Maha Menjawab Doa,
tetapi beribadah hanya untuk memenuhi kewajibanku, bukan kerinduanku terhadap-Mu
Aku tahu, tetapi Engkau Maha Tahu...
Tak pernah pantas bagiku untuk mengagungkan pengetahuan kosong ini dihadapan-Mu
Pengetahuan yang seharusnya kuisi dan kupenuhi dengan rasa percaya

Gresik, 5 Mei 2010, 21.10 WIB
selsurya.blogspot.com

Jumat, 30 April 2010

Getar Hatiku


Getar hatiku…
Ketika melihatmu berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum
seraya menengadahkan tangan menghampiri setiap orang yang melintas
Getar hatiku…
Karena saat ini begitu dingin dan engkau tetap saja mengabaikan ragamu
yang menggigil
Getar hatiku…
Karena kecil kakimu itu tak lelahnya menyusuri setiap jalan
hanya untuk belas kasihan
Getar hatiku…
Karena tak dapat kutangkap dengan jelas keceriaan yang seharusnya dimiliki
seorang anak sepertimu dalam sorot mata yang sayu itu
Getar hatiku…
Karena tak kuat membayangkan betapa kebingungannya dirimu
bila tak memiliki apa-apa untuk ditukarkan dengan sebungkus nasi malam ini
Mengapa engkau hadirkan di depan mataku, ya Tuhan?
Apakah ingin Kau ingatkan aku tentang rasa syukur?
Ataukah ini teguran halusmu terhadapku yang selalu merasa bisa
tanpa pernah bisa merasa?
Mungkinkah ingin Kau kembalikan ingatanku kepada sosok seorang ibu
yang selalu memarahiku setiap malas belajar?
Benarkah Kau ingin aku ingat semua jasa ayahku hingga aku bisa sampai pada detik ini?
Cukup, bila Engkau ingin aku tahu bahwa Engkaulah satu-satunya
Sang Penguasa Takdir yang memberiku kewenangan untuk merubah nasibku sendiri
Maafkan aku, ya Tuhan…
Karena lebih sering mengingat-Mu dikala melihat kesedihan
dan lebih sering memanggil nama-Mu dikala berjumpa penderitaan
Aku menyerah dalam setiap kehendak-Mu

Gresik, 29 April 2010, 21.40 WIB

Serangan ke Sarangan (Part 3)

Setelah kenyang menikmati sate kelinci kami berencana melanjutkan perjalanan menuju air terjun Tirta Sari. Berdasarkan informasi penduduk sekitar, lokasi air terjun tersebut terletak sekitar 1,5 kilometer dari pintu masuk yang berada di seberang tempat kami berdiri saat itu. Bergegas kami pun kembali ke tempat parkir dan siap berpetualang kembali. Sesampainya di tempat parkir, yang letaknya di dekat Mushola, teman-teman tidak lupa menunaikan ibadahnya. Setelah ibadah selesai, ada satu ambisi lagi yang ingin dilakukan, yaitu memindahkan durian yang ada di dalam keranjang di pinggir jalan ke dalam perut kami masing-masing. Begitu mengetahui niat ini, langit langsung menangis sejadi-jadinya. Alhasil, kami pun masuk ke dalam mobil tanpa bisa merasakan manisnya durian yang sedari tadi memanggil-manggil mesra dengan aromanya. Ternyata langit tak menyukai orang yang terlalu banyak makan.

Mengetahui langit kurang bersahabat, kami pun agak ragu juga untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi air terjun. Namun, memang benar apa yang dikatakan Bang Haji, “Masa muda adalah masa yang berapi-api”. Dan kami pun tetap melanjutkan perjalanan menuju air terjun. Masalah hujan akan dipikirkan nanti setelah kami sampai di depan pintu masuk. Perjalanan kami lumayan menantang. Air hujan tak henti-hentinya menghujam mobil yang kami tumpangi. Jalanan makin lumer saja karena tidak beraspal. Ini anugerah yang tiada terkira. Kami bisa melihat telaga dalam dua keadaan hari ini, yaitu saat mentari bersinar begitu anggunnya dan ketika hujan meriakkan butir-butir air di dalamnya. Menantang, namun menyamankan.

Sesampainya di depan pintu masuk, hujan mulai mereda sampai akhirnya berhenti sama sekali. Namun, kami dikejutkan oleh curamnya jalan yang ada di hadapan. Kondisi ini tentu saja tidak baik bagi kesehatan mobil yang kami naiki. Akhirnya, mobil diparkir di sebelah loket masuk yang sudah tidak berpenjaga karena hari telah larut sore. Setelah itu, ada seseorang yang tiba-tiba datang menawarkan jasa antar-jemput dengan menggunakan sepeda motor. Biaya sekali antar menuju lokasi pemberhentian terakhir adalah 10 ribu. Jadi, bila dihitung dengan cermat, biaya pulang-pergi sampai akhirnya kami kembali ke tempat parkir mobil adalah 20 ribu. Bagi mahasiswa, uang ini bisa digunakan untuk makan bakso dan minum es teh sebanyak tiga kali. Mengetahui konversi seperti ini, kami pun urung menggunakan jasa antar yang ditawarkan. Namun, baru beberapa langkah kami berjalan, aku agak ragu seraya melihat langit yang berbiaskan warna kelabu. Belum lagi jam menunjukkan pukul 5 sore dan besok pagi adalah hari aktif kerja dan kuliah. Akhirnya, kami mencoba melakukan negosiasi dengan menggabungkan ilmu ekonomi, klimatologi, kesehatan, dan sedikit PPKn. Beberapa menit berselang, akhirnya disepakati bahwa biaya transportasi pulang pergi adalah 20 ribu, namun satu motor diisi 2 penumpang. Itu artinya 1 motor berisi 3 orang karena ditambah pengendara. Lima motor siap berangkat untuk mengantar 10 laskar ini.

Untung saja kami memutuskan untuk menggunakan jasa antar jemput, bila tidak tentu saja tenaga kami habis terkuras karena jalan yang dilalui begitu curam dan ada tanjakan yang begitu terjal. Setelah melewati beberapa rumah penduduk, akhirnya kami sampai di pintu gerbang pemberhentian terakhir kendaraan bermotor. Tidak berhenti sampai disini. Kami masih harus berhadapan dengan sawah ladang nan luas untuk sampai di lokasi air terjun. Setelah membayar biaya jasa antar, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, dipandu oleh seorang penduduk setempat yang bernama pak Sabar. Berdasarkan informasi yang diberikan pak Sabar, letak air terjunnya masih sekitar 1 km lagi. Langkah demi langkah, sawah demi sawah, sungai demi sungai, tanjakan demi tanjakan, keringat demi keringat, umpatan demi umpatan, dan akhirnya kami sampai juga di lokasi air terjun. Untung saja fisik kami cukup terlatih. Satu pelajaran penting hari ini, yaitu : “Satu kilometernya orang desa lebih jauuuhhh dibandingkan satu kilometernya orang kota”.


Sesegera mungkin kami pun meminum beberapa teguk air terjun Tirta Sari karena, menurut pak Sabar, memiliki khasiat untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Tidak peduli penyakit apa yang bisa disembuhkan, yang jelas kami sangat membutuhkan air itu untuk mengganti tetes-tetes keringat yang banyak jatuh dalam perjalanan tadi. Ternyata airnya sangat dingin dan menyegarkan. Di sekitar lokasi telah dibangun tangga, entah oleh siapa, sehingga kami bisa lebih dekat dengan bagian hulu air terjun. Cipratan demi cipratan air perlahan namun pasti telah membasahi pakaian kami, tapi tak masalah karena kami semua belum mandi. Belum sempat kulakukan perhitungan dengan memanfaatkan sudut elevasi untuk menentukan tinggi bagian hulu air terjun, langit sudah semakin gelap. Kami pun bergegas meninggalkan lokasi penuh kepuasan, penuh kebahagiaan.

Akhirnya, satu mimpi telah mewujudkan diri dengan cara yang terkadang sulit untuk dimengerti. Dan persahabatan telah membalutnya begitu sempurna dalam canda dan tawa. Terima kasih sahabat-sahabatku. Perjalanan kita belum berakhir dan yakinlah selalu ada cinta, bahkan dalam sebuah salak.


selsurya.blogspot.com, 30 April 2010

Selasa, 27 April 2010

Serangan ke Sarangan (Part 2)

Mojokerto – Jombang – Nganjuk – Caruban – Madiun kami lewati dengan mulus. Memang ada beberapa kesalahan komunikasi, tapi bisa kami atasi, dengan senyuman, tawa, dan sumpah serapah. Tepat pukul 13.00 WIB kami semua sampai di sebuah tempat bernama Kosala Tirta. Tempat ini cukup ramai dikunjungi keluarga yang sedang menikmati liburan akhir pekan sambil duduk santai di atas tikar. Kami pun tidak ingin ketinggalan. Di atas tikar berwarna biru, kami duduk rapi membentuk lingkaran tak beraturan sambil menunggu bakso dan mie ayam yang telah dipesan sebagai menu makan siang. Syukur keadaan Gendut masih prima siang ini. Setidaknya lambungnya masih memiliki waktu toleransi 1 jam dari jam makan siang biasanya.


Berselang beberapa menit, bakso dan mie ayam telah siap untuk disantap. Ada kecap, saos, dan juga kerupuk sebagai penambah rasa dan menu pelengkap. Semua makan dengan lahapnya. Semilir angin membawa kesejukan bagi peluh selama perjalanan. Rindangnya pepohonan melindungi kami semua dari serangan sinar ultraviolet A, B, dan C. Sesekali kami pun bercanda agar nuansa istirahat ini begitu meyenangkan. Selalu ada sindiran dan ejekan halus yang terlontar, namun tak pernah berhasil menembus hati. Ditangkap oleh mata dan telinga, kemudian dilepaskan melalui mulut dalam bentuk tawa. Harus kuakui bahwa keberadaan air mineral sangat penting pada saat seperti ini. Saat satu mulut melakukan lebih dari satu aktivitas secara simultan, yaitu makan dan tertawa.

Setelah urusan perut dan administrasi selesai, kami pun melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa kilometer saja. Jalan yang kami lalui mulai menanjak. Hal ini tentu saja menguras konsentrasi supir. Para penumpang hanya bisa berdoa yang terbaik agar perjalanan berlangsung lancar. Berselang beberapa kilometer dari tempat makan siang, kami singgah di salah satu Mesjid yang ada di Desa Baron. Teman-teman beribadah dengan khusyuk. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan. Jalan makin menanjak. Itu menandakan bahwa kami telah dekat dengan tempat tujuan. Kaca mobil mulai dibuka, AC dimatikan, dan kami pun menikmati kesegaran udara dataran tinggi Magetan. Pemandangan yang begitu mengagumkan. Hamparan hijau sawah memberi kesegaran bagi mataku yang sekian lama hanya memandangi gedung-gedung tinggi dan arus lalu lintas yang jarang pernah lancar. Aku merasakan pesonamu, Indonesia.

Tepat pukul setengah tiga, kami telah sampai di objek wisata Telaga Sarangan. Objek Wisata yang menyajikan eksotisme panorama alam yang dipadu dengan kesegaran udara sekitar dan kejernihan air telaga, serta harumnya aroma durian. Benar-benar paket yang lengkap. Sambil berjalan santai mengitari telaga, banyak sekali kami temui pedagang baju, ukiran kayu, gantungan kunci, sayur-mayur, dan sate kelinci. Sesekali kami melihat beberapa orang yang tertawa kegirangan di atas speed boat yang melaju kencang mengitari telaga yang memiliki luas kurang lebih 30 hektar dan kedalaman 28 meter ini. Ada juga yang memilih menunggangi kuda sambil melihat-lihat daerah sekitar. Namun, semua hal itu tidak menyurutkan niat kami untuk selalu mencintai kesehatan dengan rajin berjalan kaki.



Setelah agak lelah berjalan kaki, kami mampir di salah satu warung yang menjual sate kelinci. Harga sate ini cukup murah, yaitu 6000 rupiah untuk sepuluh tusuk. Tidak menunggu waktu lamu, aku memesan 10 porsi sate kelinci, tentu saja dilengkapi dengan lontong. Kami duduk dengan santainya di atas tikar, tepat bersebelahan dengan tembok pembatas telaga. Sambil menunggu sate yang sedang dibakar, kami melakukan berbagai aktivitas. Ada yang saling memijat, ada yang berfoto-foto ria, ada yang rekaman video, ada yang membalas sms, ada yang merebahkan diri di atas tikar, dan ada juga yang sibuk mengetik status di facebook. Benar juga sebuah nasihat yang berbunyi, “Jangan pernah menyia-nyiakan waktu.”


Cukup lama waktu berselang, akhirnya sate yang ditunggu-tunggu hadir di hadapan. Setelah melalui proses perhitungan yang cukup rumit, ternyata sate yang tersaji di atas piring berjumlah 15 tusuk. Tentu saja harganya melebihi estimasi sebelumnya. Sungguh strategi penjualan yang dasyat. Atau mungkin sang penjual telah bisa membacanya dari raut muka kami yang sangat kelaparan dan doyan sekali makan, apalagi gratisan, sehingga memberikan porsi sate berlebih. Sungguh cerdas. Perlahan namun pasti, sate dan lontong berpindah tempat menuju perut kami, tentu saja tidak dengan tusuk satenya. Daging kelinci memiliki tekstur yang lebih lembut dibandingkan daging ayam. Rasa bumbunya begitu menyatu dengan rasa dagingnya. Ada pedasnya, manisnya, dan sedikti pahit karena makan sambil berhadapan dengan Kakang. Dan ada satu lagi sentuhan terakhir yang membuat rasa sate ini begitu sempurna. Satu penyelesaian yang begitu menentukan rasa, yaitu sate ini tidak menggunakan bahan pengurang isi dompet. Ini semua tidak terlepas dari jasa Gusti Ageng Abdul Manan yang begitu dermawan menyisihkan sebagian gajinya pada kami sore ini. Makasi Bang!!




Bersambung..

Sabtu, 24 April 2010

Serangan ke Sarangan


Kali ini aku dan beberapa teman memiliki kesempatan untuk mengunjungi salah satu kota di jawa timur yang memiliki pemandangan alam cukup memikat. Metode rapat yang kami pilih menggunakan jalur dunia maya, dan nampaknya cukup efektif saat ini mengingat berbedanya aktivitas dan tempat tinggal kami masing-masing. Inilah salah satu keuntungan adanya jejaring sosial di jaman sekarang ini. Bukan hanya membuat dunia lebih datar, tetapi bisa mempersatukan orang-orang yang tidak begitu pandai pelajaran geografi, namun senang jalan-jalan. Dan ini sangat terbukti, masih ada saja orang yang menyamakan Balongbendo dengan Madiun.

Rencana awal begitu sempurna. Ada empat belas makhluk yang akan ikut ambil bagian dalam perjalanan ini. Namun, arah angin nasib tidak pernah bisa kita perkirakan. Ada satu yang diterbangkan ke Kalimantan, ada yang dibawa ke toko obat, ada juga yang nyangkut di rapat pengurus organisasi, dan satu lagi singgah ke acara nikahan. Untuk acara yang terakhir ini, kami mohon maaf dengan sangat kepada yang bersangkutan. Mudah-mudahan senantiasa dianugerahkan kebahagian dalam menjalani bahtera rumah tangga. Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk menunggu sampai datang tanggal 28 Maret 2010. Mudah-mudahan tidak kapok dengan kehadiran segerombol anak-anak yang menghabiskan lima durian di teras rumah.

Perjalanan dilakukan pagi sekali, yaitu pukul setengah 9. Dua mobil sewaan dan tentu saja dua orang supir telah siap di depan kost E22, Keputih, Surabaya. Kami bersepuluh tidak lupa berdoa sebelum berangkat. Doaku yang pertama adalah agar Gendut tidak tertawa terbahak-bahak di dalam mobil yang akan mengakibatkan mobil kehilangan keseimbangan dan itu berarti mengancam nyawa beberapa orang lain yang ada di dalamnya. Doaku yang kedua adalah agar Mas Boy tidak bertemu seseorang berseragam coklat, kemudian menjawab pertanyaan yang diajukan sambil tertawa nyengir dan garuk-garuk kepala, “Belum bikin SIM, Pak!” Setelah doa selesai, kami pun pulang ke tempat masing-masing..(lho?), maksudnya langsung berangkat. Satu mobil BMW dan sebuah Mercedes Benz siap untuk meluncur. Namun, tentu saja bukan dua orang dari kami yang akan meluncurkannya hari ini. Kami cukup bahagia bisa ada di dalam avanza dan karimun estilo.

Baru kali ini perjalanan kami begitu “nyaman”. Biasanya harus berurusan dengan angin kencang yang terkadang membawa debu yang menabrak mata, sekarang harus terpaksa berurusan dengan AC yang bisa dikontrol intensitas dinginnya. Biasanya harus memakai masker agar polusi kendaraan tidak langsung menusuk hidung, sekarang aku malah lupa membawanya. Kepala biasanya masih harus dibebani benda bernama helm, sekarang rasanya tidak bisa lepas dari sandaran kursi yang empuk. Biasanya telinga dimanjakan dengan genjrengan gitar pengamen amatir, saat ini harus mulai terbiasa dengan nada-nada yang keluar dari radio dan MP3 player. Belum lagi kalo kita mampir ke pom bensin. Biasanya empat angka nol sudah cukup, sekarang harus ditambahkan satu angka nol lagi di belakang. Hidup cepat sekali berubah. Dan perubahan itu sangat kami nikmati. Sangat menyenangkan. Setidaknya selalu ada tangan yang akan membantu di kala kita kesusahan dan kelelahan.

Bersambung….

Rabu, 21 April 2010

Daerahku, Daerahmu


Ketika aku ditanya dari mana asalku, aku selalu menjawab dengan singkat, “Mataram”. Bila ada pertanyaan lanjutan, aku akan mencoba menjelaskan bahwa ayahku berasal dari Denpasar, sedangkan ibuku berasal dari Mataram. Pertanyaan selanjutnya biasanya aku jawab sambil tersenyum, “Dua adikku bernama Desi dan Dewi”. Bila kebetulan aku sedang mempunyai waktu luang, aku akan melanjutkan dengan sebuah cerita singkat bahwa aku menikmati masa kecil, TK, dan SD selama 11 tahun di Cianjur, 6 tahun masa SMP dan SMA di Mataram, dan sempat kuliah selama 4 tahun di Surabaya. Bila membayangkan masa-masa mengenyam pendidikan, sungguh angkuh rasanya bila aku tidak bersyukur. Aku hanya tinggal duduk memperhatikan guru atau dosen yang mengajar, mengerjakan tugas, membaca-baca buku pelajaran, praktikum, mengikuti ujian, bermain dengan teman-teman dekat, sedangkan orang tua banting tulang untuk membiayai semua pernak-pernik pendidikanku ini. Belum lagi begitu banyaknya orang yang tak kukenal telah membantu biaya kuliahku di perguruan tinggi negeri. Mohon maaf karena telah merepotkan semuanya. Mudah-mudahan ada pahala yang setimpal untuk semua kebaikan ini.

Mengenang masa lalu seperti ini membawa memoriku pada sebuah kota yang kecil, bila dibandingkan Surabaya, tempat dimana aku dilahirkan. Di kota kecil ini juga aku mulai belajar naik motor, mengurus SIM C, belajar bahasa Sasak, berenang di pantai Senggigi, memancing di Lingsar, meminum air awet muda di Narmada, merasakan pelecing kangkung dan sate bulayak, naik cidomo, dan nongkrong di jalan Udayana. Banyak hal yang aku dapatkan di kota bernama Mataram ini, namun belum ada yang bisa aku berikan bagi tanah kelahiranku ini. Terkadang ada rasa malu ketika mengaku berasal dari Mataram, tetapi tidak lancar berbahasa Sasak. Belum sempat lancar berbahasa Sunda, pindah ke Mataram. Belum fasih Ha-Na-Ca-Ra-Ka, pindah ke Surabaya. Baru sedikit bicara “Ora opo-opo”, sudah ditertawakan teman-teman. Ini yang membuatku mencintai bahasa ibu, bahasa Indonesia.

Seringnya berpindah tempat hidup seperti ini, membuatku bertanya apa makna dari “putra dan putri daerah”. Beberapa kali aku berkunjung ke suatu acara yang menampilkan tarian, nyanyian, dan peragaan busana dengan mengusung nama “persembahan putra-putri daerah”. Sampai disini mungkin belum terlalu menjadi permasalahan. Bisa saja orang-orang yang menampilkan tarian, nyanyian, dan peragaan busana itu adalah orang-orang yang memang lahir dan tinggal lama di daerah tersebut, sehingga layak disebut putra dan putri daerah. Apalagi bila mereka juga lahir dari orang tua yang asli dari daerah tersebut. Atau bisa juga mereka adalah beberapa siswa dari salah satu sekolah di daerah tersebut yang kebetulan mengikuti ekstrakurikuler tari, olah vokal, atau peragaan busana, walaupun diantara mereka ada yang lahir di daerah lain. Orang tua mereka pasti senang karena anak-anaknya memiliki bakat lain di luar potensi akademik-teoritis.

Tahapan yang lebih serius, mungkin juga bisa dikatakan masalah, adalah ketika kita mengusung nama putra dan putri daerah ini pada proses pemilihan kepala atau pimpinan atau ratu pada daerah tertentu. Banyak orang yang memang lahir di suatu daerah kemudian mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin daerah tersebut. Hal tersebut sah-sah saja, apalagi bila didukung oleh kemampuan orasi yang memadai, uang yang cukup, sikap yang pantas diteladani, dan tentu saja pendukung yang selalu siap untuk berkeliling-keliling kota. Namun, ada juga calon pemimpin yang lahir di daerah pencalonan, tetapi sebelumnya tinggal lama dan berkiprah di daerah lain. Belum lagi bila pekerjaan sebelumnya tidak ada hubungannya dengan ranah politik sama sekali. Bagaimana dengan kompetensi orang-orang, yang secara KTP, tidak dilahirkan di daerah tersebut, tetapi memilki pengaruh dan peranan cukup besar bagi masyarakat sekitar? Tentu saja masyarakat sekarang lebih mampu menilai dan memilih dengan bijak. Melalui tulisan ini, tidak ada niatan kepada siapapun untuk mengarahkan suatu pilihan tertentu atau menghasut untuk tidak memilih apapun, hanya ingin memaparkan pandangan mengenai putra dan putri daerah saja. Mohon maaf bila dirasa menyinggung. Mudah-mudahan kita bisa sama-sama berlibur di suatu daerah bernama Mataram. Masih ada gunung Rinjani yang harus didaki. Semoga bermanfaat..!

Jumat, 16 April 2010

Gantungan Pakaian


Sambil berbaring di tempat tidur, aku memandangi gantungan pakaian yang terpasang di pintu kamarku. Warnanya merah dan dua paku besar sudah cukup menopangnya agar dapat berfungsi dengan baik. Jaket, celana panjang, baju kemeja, sabuk, beberapa kaos oblong, dan celana pendek berdesak-desakan untuk dapat menempati tempat yang sangat terbatas. Mungkin salahku juga yang tidak segera mencuci pakaian yang sudah beberapa kali dipakai. Namun, derasnya hujan membuatku malas melakukan aktivitas pencampuran air dan minyak yang telah didamaikan oleh detergen. Alhasil, aku menjadi khawatir terhadap kekuatan gantungan pakaian yang sedang aku pandangi saat ini.

Gantungan pakaian, yang kebanyakan terbuat dari bahan logam dan plastik, tentu saja memiliki kapasitas beban maksimum. Bila beban yang diberikan melebihi kapasitas beban maksimum yang dimiliki sebuah gantungan pakaian, maka dapat dipastikan pakaian kita akan patuh kepada gaya gravitasi dan mendarat dengan mulus di lantai. Namun, tentu saja kapasitas beban maksimum ini tidak tertulis dalam suatu buku petunjuk penggunaan barang saat kita membeli gantungan pakaian. Kapasitas ini bersifat tersirat dan besarnya berbeda untuk tiap jenis gantungan pakaian.

Interaksi kita dengan beberapa orang dalam suasana yang berbeda-beda menuntut kita untuk memiliki beberapa jenis pakaian. Ada yang biasa digunakan kuliah, kerja, ngapel, ngepel, olahraga futsal atau basket, pergi nge-band, pergi ke acara ulang tahun atau pesta nikahan, rapat desa, gotong-royong kampung, pergi ke tempat ibadah, dan beberapa aktivitas lain yang memerlukan pakaian khusus. Beragamnya jenis pakaian inilah yang biasanya menjadi beban tersendiri bagi gantungan pakaian di kamar kita.

Beban pakaian yang melampaui kapasitas beban maksimum gantungan pakaian membuat kita mengeluarkan energi tambahan berupa tindakan perbaikan atau pembelian barang baru. Tentu saja hal seperti ini tidak kita inginkan bersama. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan keseimbangan kedua parameter diatas. Terkadang terjadi, dalam hidup ini, beban yang ada melebihi kapasitas beban maksimum yang tersedia, maka kerusakan tidak dapat dielakkan. Kita menjejalkan begitu banyaknya beban dalam pikiran, sehingga tidak jarang muncul depresi dan stres. Belum lagi, kecerobohan kita membeli gantungan pakaian yang berkualitas buruk atau cepat rusak. Terkadang pula kita salah tempat menggantungkan sesuatu, sehingga kebahagiaan menjadi jauh dari jangkauan.

Kebahagiaan adalah hak semua makhluk, namun tetap saja tidak semua orang dapat merasakannya setiap saat. Seringkali kita kecewa, sedih, dan marah. Mungkin semua rasa itu datang karena kita menggantungkan sesuatu pada tempat yang salah. Kita sedih karena menggantungkan harapan dan mimpi pada tempat yang rapuh. Kita menjadi marah karena telah menggantungkan keinginan yang besar pada tempat yang kecil dan sempit. Menggantungkan rezeki pada orang yang punya sedikit uang lebih banyak tidak jarang berujung pada kekecewaan. Perlukah dibuktikan lagi bahwa ada Yang Maha Kuat, Maha Besar, dan Maha Pemurah? Masihkah disangsikan lagi keberadaan-Nya? Aku tidak bermaksud menggurui. Seringkali aku lupa dan khilaf. Harapan, mimpi, dan keinginan jatuh karena tergantung pada tempat yang tidak kokoh. Dan aku tidak ingin hal seperti ini terjadi berulang kali pada kita semua.

Kita boleh berharap, bermimpi, dan memiliki keinginan yang besar. Tidak ada seorang pun yang melarang dan jangan pernah marah bila ada teman yang berkata, “Jangan terlalu berharap, nanti kecewa!” Teman kita itu sedang mengingatkan kita bahwa jangan sampai meletakkan semua harapan itu pada tempat yang salah, pada tempat yang akan membuat kita kecewa. Berterimakasihlah padanya dan pada-Nya. Sebagai penutup, mudah-mudahan ada makna yang dapat dipetik dari catatan sederhana ini. Semoga bermanfaat.

Gresik, 15 April 2010, 23.20 WIB