Minggu, 25 Desember 2011

3R + 1R = 4R


Anak TK-pun tahu kalau 3 + 1 = 4. Menambahkan huruf R setelah angka-angka itupun tidak memberikan hasil yang berbeda. Huruf R bisa saja diasosiasikan dengan Rambutan, Rompi, Rubah, Rusa, Rumah, ataupun Rombong (R yang terakhir ini harapanku sendiri..hehe). Namun, kepanjangan R pada judul di atas sebenarnya adalah RIGHT. Right adalah kata dalam bahasa Inggris yang apabila diartikan kedalam bahasa Indonesia bisa berarti 'benar', 'tepat', 'hak', dan 'kanan'. Aku pribadi bukanlah orang yang ahli tentang kebenaran dan kesalahan. Oleh karenanya, aku lebih senang mengartikan Right, dalam kaitannya dengan judul diatas, sebagai tepat, sehingga formula yang lengkap menjadi 3 Right + 1 Right = 4 Right. Mari kita mulai sekarang!

Konsep 3 Right sebenarnya sudah sering didengung-dengungkan banyak orang, entah itu di seminar kerja, status facebook, buku-buku motivasi, media elektronik, dan media massa. 3 Right berarti Right yang berjumlah tiga dan terdiri dari Right Person (Orang yang Tepat), Right Place (Tempat yang Tepat), dan Right Time (Waktu yang Tepat). Bila konsep 3R diperpanjang lagi, kurang lebih akan seperti ini kalimatnya: Orang tepat yang berada di tempat dan waktu yang tepat. Pertemuan tiga ketepatan! Seperti anugerah, dan orang yang seperti ini seringkali dinamakan orang yang beruntung. Memiliki kualitas, kemudian berada di suatu tempat yang memungkinkan kualitas itu bermanfaat bagi lingkungan sekitar, terlebih lagi ada waktu yang tepat ketika kualitas itu berdaya guna. Hal ini bisa diumpakan ada seorang guru yang memang senang mengajar sedang berada di dalam ruang kelas sedang mengajar beberapa peserta didik pada suatu waktu tertentu. Atau bisa juga dianalogikan dengan kehadiran seseorang yang sangat kita nantikan di suatu tempat pada suatu waktu. Atau yang lebih dramatis lagi, seorang yang tak dikenal menyelamatkan anak kecil yang sedang lengah menyeberang jalan dari gilasan mobil truk di jalanan yang ramai pada siang hari yang terik. Orang yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, momen untuk berada di tempat dan waktu yang tepat seringkali hanyalah sebuah harapan, sehingga konsep 3R ini lebih mengarah kepada sebuah konsep imajinatif yang tidak "down to earth". Ada orang yang dulunya sangat menyukai bermain bola dan bercita-cita jadi pemain bola profesional, kini berjualan nasi untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga. Ada yang sangat gemar bermain musik dan ingin suatu hari nanti membuat grup band, kini bekerja di salah satu Bank swasta. Ada yang gemar mengajar anak-anak, tapi entah mengapa sekarang bekerja di perusahaan sepatu. So, what?? Tidak ada yang salah dengan semua itu. Aku pun yang bertahun-tahun memelajari ilmu kimia di bangku kuliah, sekarang berjualan pisang goreng. Di dalam hidup banyak sekali pilihan. Kita bebas memilih jalan yang mana saja. Bertahan dan memperjuangkan mimpi masa kecil atau beralih kepada mimpi lain yang lebih menjanjikan keuntungan finansial atau bahkan menguburkan mimpi pribadi demi mimpi orang lain yang kita hormati dan cintai. Tapi setidaknya, ketiga hal itu masih lebih baik dibandingkan menguburkan mimpi karena mengalami musibah atau jatuh miskin. Banyak adik-adik di Indonesia ini yang mimpinya sangat tinggi, namun terpaksa menjadi anak jalanan karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Anak-anak cacat yang mungkin diantaranya ada yang ingin menjadi dokter, pilot, atau guru yang sekarang tidak berada di jurusan kedokteran, penerbangan, dan sekolah. Kita masih lebih beruntung, Kawan. Bahkan sangat beruntung.

Setiap mimpi punya jalur pencapaiannya masing-masing. Orang yang bermimpi menjadi pilot tidak akan serta merta menjadi pilot dengan terus-menerus mengasah kemampuan bermain bola. Seorang yang bermimpi menjadi pelukis akan sulit mencapai keinginannya dengan terus-menerus melatih kemampuan masaknya. Bila kita menanam benih jagung, ya akan tumbuh jagung, bukan tanaman yang lain. Tapi, sebagaimana seorang petani yang menebar benih, kita juga harus mengerti bahwa dibutuhkan waktu yang berbeda-beda bagi setiap benih untuk tumbuh, menjadi besar, dan buahnya siap untuk dipanen. Oleh karenanya, konsep 3R bukanlah sebuah konsep yang "cring" secara otomatis bisa terjadi begitu saja. Ada satu variabel lagi yang harus ditambahkan sehingga konsep 3R bisa bekerja dengan baik, yaitu Right Way. Ada jalan tertentu untuk mencapai mimpi tertentu. Ada jalan tertentu untuk mencapai tempat tertentu. Kalau konsep 1R ini hilang, konsep 3R tidak akan berjalan/terjadi. Orang bisa saja berceloteh, "Semuanya akan indah pada waktunya!". Namun, apanya yang akan indah? Bagaimana caranya mencapai keindahan itu? Kalimat itu kurang lengkap karena tidak ada faktor "Way" disana. Seharusnya kalimat itu menjadi "Semuanya akan indah pada waktunya bila kita menabur pada waktunya"! Tabur dulu, tuai kemudian. Apa yang kita tuai kalau kita tidak pernah menabur apapun? Ini kan sama saja dengan mengatakan, laksanakan kewajiban dulu, setelah itu terima apa yang menjadi hak kita. Give and then Take!

Dengan segala kekurangan, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengajari siapapun melalui catatan ini. Aku hanya ingin berbagi agar kita tidak terpenjara oleh konsep-konsep yang sepertinya sangat enak didengar telinga dan sedap dipandang mata, tetapi sulit, bahkan tidak pernah kita rasakan. Kita semua berhak untuk menjadi orang yang tepat di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula, selama kita berada pada jalur yang tepat. Kita juga berhak memandangi dan merasakan keindahan dari benih usaha yang kita tanam. Mungkin bukan saat ini, tapi di kemudian hari. Tuhan yang paling mengerti tentang waktu, tugas kita adalah berusaha dan berdoa. Selamat menikmati akhir pekan. Mudah-mudahan catatan ringan ini bisa menjadi teman bersantai sembari melepas lelah.

Surabaya, 25 Desember 2011
Gambar diambil dari: http://diaryzainal.blogspot.com/2011/04/terimakasihku.html

Sabtu, 10 Desember 2011

Diferensiasi - Fungsi = Sensasi


Sabtu malam ini cukup dingin. Surabaya Timur baru saja selesai diguyur hujan, walaupun masih menyisakan sedikit rintik. Malam minggu ini juga malam purnama, jadi semakin romantis saja nuansanya...(",). Beberapa jam lalu, aku bersepeda motor menuju daerah Kenjeran. Perjalanannya biasa saja sampai aku bertemu dengan dua orang ABG (Anak Baru Gede) yang memberiku inspirasi untuk menulis catatan ini. Suara sepeda motornya sudah nyaring dari belakang, kemudian mereka menyalipku, dan terus melaju hingga akhirnya berada jauh di depan sepeda motorku. Kedua lelaki bercelana pendek ini pula tidak mengenakan pelindung kepala sama sekali. Aku tidak tahu apakah ABG-ABG jaman sekarang dianugerahi kepala dengan tulang tengkorak yang sangat keras sehingga tidak perlu khawatir apabila terjadi gesekan dengan aspal pada kecepatan tinggi. Polantas memang sudah tidak bertugas lagi malam ini, jadi mereka cukup "aman". Namun, ada hal yang paling membuatku tidak nyaman, yaitu suara kendaraannya, sangat bising. Inilah yang dinamakan polusi suara. Aku yakin, motor tersebut tidak "berbunyi" sedemikian bisingnya ketika pertama kali mereka...ehm...maksudnya orang tua mereka membelinya. Dengan modal wawasan dari teman-temannya dan buku-buku perbengkelan sederhana, diubahlah suara motor yang "halus" menjadi lebih "bising". Melihat usia mereka, aku kira tujuannya tidak lebih dari sekedar menunjukkan eksistensi. Eksistensi yang dibalut sensasi dapat meningkatkan gengsi, tapi belum tentu meningkatkan prestasi.

Aku memang tidak terlalu paham mengenai permesinan, tapi aku "merasa" bahwa tindakan menaikkan tingkat kebisingan sepeda motor bukanlah suatu upaya meningkatkan kecepatan sepeda motor tersebut. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa design sepeda motor tersebut bukanlah design sepeda motor balap. Energi yang seharusnya dikonversi menjadi kecepatan "diambil sedikit" untuk meningkatkan bunyi, sehingga kecepatannya berkurang. Motor yang seperti ini adalah tipe yang "besar suaranya, tapi gak ada larinya". Namun, usaha mereka cukup memberiku inspirasi. Mereka telah mencoba melakukan suatu tindakan yang dinamakan modifikasi.

Istilah modifikasi bisa juga disamakan dengan istilah diferensiasi, suatu usaha menjadikan satu hal berbeda dari kebanyakan. Dalam ilmu pemasaran, diferensiasi itu penting, sejauh diferensiasi tersebut meningkatkan nilai guna (value in use) dari produk yang dipasarkan, sehingga meningkat pula kepuasan pelanggan. Aku ambil contoh produk minuman teh. Di Indonesia ini ada banyak sekali brand minuman teh, namun tiap-tiap brand memiliki diferensiasi yang jelas. Ada brand yang menjual teh original, brand lain menjual teh rasa buah-buahan, brand lain lagi menambahkan soda ke dalam teh. Semuanya memiliki ciri khasnya masing-masing. Begitu juga produk sabun. Ada sabun kecantikan, sabun kesehatan, sabun yang dapat memutihkan kulit, dan lain-lain. Ada hal yang memang sengaja dibuat berbeda dari yang lain untuk tujuan tertentu. Dalam bidang pemasaran, tentu saja tujuannya mengarah kepada peningkatan omzet penjualan dari sebuah produk.

Hal yang sama bisa kita lihat di industri musik. Banyak sekali penyanyi di Indonesia ini, ada yang solo, duo, trio, dan yang sekarang lagi "hot-hotnya" adalah boys band dan girls band Indonesia. Untuk tetap bisa mempertahankan eksistensinya, penyanyi solo harus memiliki diferensiasi dari penyanyi solo lain, baik dari warna suara, genre musik, gaya menyanyi, gaya berbusana, bahkan gaya bergoyang. Semua upaya itu memberi kesan hiburan yang berbeda kepada para pendengar dan penikmat musik. Imbas baiknya, diferensiasi tersebut dapat meningkatkan jumlah fans, sehingga semakin banyak "job" manggung, penjualan album meningkat, dan meningkatnya kesejahteraan penyanyi. Imbas baik tersebut tentu saja tidak terlepas dari manfaat yang dirasakan pendengar akibat diferensiasi yang dilakukan para penyanyi. Bila pendengar tidak mendapat manfaat dari diferensiasi yang dilakukan penyanyi, imbasnya akan berbeda, malah bisa-bisa mengarah kepada penurunanan popularitas dan penjualan album. Menjadi jelas sekarang bahwa diferensiasi tidak bisa lepas dari value in use. Sekarang barulah judul di atas menjadi jelas, diferensiasi yang tidak berimbas pada nilai guna/manfaat/fungsi hanyalah "diferensiasi kosong" yang dinamakan sensasi.

Sensasi dapat dianalogikan seperti ini: Lidah normal kita ini bisa mengecap 4 (empat) rasa, yaitu manis, asin, asam, pahit. Lidah bagian depan peka terhadap rasa manis, bagian samping kiri-kanan depan peka terhadap rasa asin, bagian samping kiri-kanan belakang peka terhadap rasa asam, dan bagian pangkal lidah peka terhadap rasa pahit. Lalu pedas bagaimana? Pedas itulah yang dinamakan sensasi. Jadi pedas bukanlah rasa, hanya sensasi, "tidak menempel di lidah". Begitu juga "diferensiasi kosong" yang hanya menimbulkan sensasi, tidak memberikan manfaat, sehingga tidak memberikan kesan mendalam di hati orang lain. Poinnya adalah, jangan takut menjadi berbeda, tapi beri juga manfaat bagi orang lain dari perbedaan yang dibuat. Dalam hal ini, kita harus sama-sama mengingatkan dan menguatkan.

Ketakukan menjadi berbeda seringkali muncul karena ketidaksiapan kita menerima respon dari orang lain yang seringkali "terpikirkan bernada negatif". Dipandang aneh, dicibir karena melakukan hal yang tidak dilakukan orang kebanyakan, diragukannya kompetensi, dan masih banyak lagi efek dari keputusan menjadi berbeda. Namun, selama niat kita untuk memberi manfaat bukan hanya bagi diri kita, tapi juga orang lain, yakinlah selalu ada jalan. Banyak orang-orang besar, yang namanya tertulis anggun dalam sejarah sains dan kitab-kitab agama, dihormati sampai saat ini, yang sikapnya dijadikan teladan, yang pola pikirnya diabadikan ke dalam rumus-rumus fenomenal, justru dulunya dipandang aneh oleh orang kebanyakan, bahkan dikucilkan karena konsep dan pola pikirnya berbeda dari khalayak. Bagiku, lebih baik dipandang "aneh", namun kita berani jujur kepada diri sendiri dengan menjadi diri sendiri daripada ingin dipandang "tidak aneh" dengan mengikuti pola-pola umum yang sebenarnya tidak sesuai dengan kepribadian kita. Be yourself...that's it! Selamat malam, selamat beristirahat!!


Surabaya, 10 Desember 201
Gambar diambil dari: http://my.opera.com/masyhudah/archive/monthly/?month=201001

Sabtu, 03 Desember 2011

Overgeneralisasi = Membuat Simpulan LEBAY!

Pada sabtu yang cerah ini, mudah-mudahan teman-teman semua dalam keadaan sehat. Pagi tadi tiba-tiba terbersit sebuah gagasan untuk membuat tulisan yang bertema overgeneralisasi. Gagasan ini muncul karena seringnya aku membaca tulisan, baik berupa status dan komentar pada facebook; tweet pada twitter; maupun tulisan-tulisan lain pada media cetak, dan mendengar secara langsung simpulan terhadap hal-hal tertentu yang tidak didukung oleh data-data yang akurat.

Overgeneralisasi adalah salah satu jenis kekeliruan berpikir seseorang yang mencoba untuk membuat simpulan berdasarkan data-data parsial (sebagian). Overgeneralisasi juga dikenal dengan bahasa yang lebih keren sebagai Fallacy of Dramatic Instance. Karena kata "lebay" sudah ada di jaman sekarang, aku mengistilahkan overgeneralisasi sebagai membuat simpulan lebay (berlebihan). Aku tidak tahu dari bahasa mana kata "lebay" ini muncul, tapi nampaknya istilah yang berarti berlebihan ini sudah sangat populer di kalangan anak muda Indonesia beberapa tahun belakangan ini.

Overgeneralisasi muncul karena beberapa faktor, baik dari dalam diri seseorang (internal), maupun dari pengaruh lingkungan (eksternal). Faktor dari dalam diri sangat dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan seseorang. Semakin dewasa seseorang, semakin ahli membuat simpulan, yang tentu saja didukung oleh data-data yang akurat, up to date, dan terpercaya, serta disampaikan berdasarkan pola pikir yang runut dan logis. Seandainya pun ada data-data yang "belum matang", tidak akan digeneralisasikan menjadi sebuah simpulan. Rasa sakit hati bisa juga memicu kekeliruan berpikir jenis ini. Misalnya saja, seorang cewek yang baru saja putus cinta dengan kekasihnya mulai mengeluarkan unek-unek kepada teman curhatnya seperti ini, "Semua cowok sama aja, semuanya penipu!! Gak ada cowok setia di dunia ini!!" Dahsyat kan kata-katanya?! Overgeneralisasi seperti itu muncul lebih dikarenakan faktor intern. Pandangan tentang 1 (satu) orang bisa membias kepada semua cowok, bahkan semua cowok di dunia ini, walaupun sang cewek belum tentu pernah bertemu semua cowok di dunia ini.

Overgeneralisasi karena faktor dari luar diri lebih dikarenakan oleh penularan simpulan seseorang yang diterima begitu saja tanpa analisis lebih lanjut. Simpulan-simpulan tersebut dapat berbunyi seperti ini, "Kamu ini kan lahirnya hari jumat kliwon, pasti gak cocok kerja di air!", "Kamu kan sering kalah maen futsal, berarti kamu gak bakat di olahraga ini. Lebih baik tekunin bidang lain aja!", "Semua orang Solo pasti kalem dan pendiam!", "Orang-orang berbintang Libra itu selalu ribet dan banyak pertimbangan!", "Cewek cantik pacarnya pasti gak terlalu ganteng!", "Anak bungsu itu pasti manja dan banyak maunya!", "Orang-orang Jakarta materialistis!", "Aku memang lahir sebagai pecundang karena tidak pernah menang dalam hal apapun!" Dan masih banyak lagi contoh kalimat yang lahir dari kekeliruan berpikir jenis overgeneralisasi.

Kata-kata seperti tersebut di atas bisa sangat memengaruhi sikap dan sifat kita. Kata-kata yang tertanam kuat di pikiran dan mulai masuk ke dalam belief system menjadi dasar perilaku keseharian. Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam menerima nasihat dan menanggapi sesuatu. Terima yang baik-baiknya saja. Bukan hanya orang-orang yang lahir di hari jumat kliwon yang tidak cocok kerja di air, tapi kita semua tidak akan pernah cocok karena kita bukan ikan. Kalah dalam beberapa pertandingan olahraga lebih disebabkan oleh kurangnya latihan, bukan karena tidak adanya bakat. Dan masih banyak lagi pernyataan yang bisa membantah kekeliruan kalimat-kalimat di atas. Yang terpenting dari semua adalah teruslah belajar agar kita semakin mahir menarik simpulan dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi dan kita alami, serta menjadikannya motivasi dan inspirasi dalam menjalani hidup, bukan untuk melemahkan orang lain, atau bahkan diri sendiri.
Selamat beraktivitas di sabtu pagi yang cerah ini. Semoga kebaikan datang dari segala penjuru.



Surabaya, 3 Desember
Gambar diambil dari : ikanbelo.blogspot.com

Senin, 28 November 2011

CHEMINLOVE

Semenjak menduduki bangku SD, aku memang suka menulis, lebih tepatnya menulis karangan. Mengarang itu mengasyikkan setidaknya karena 2 (dua) hal. Pertama, karena mengarang adalah suatu aktivitas penyaluran imajinasi. Bagi seorang anak SD, menyalurkan imajinasi itu penting. Siapapun yang menghambat atau menghalangi, bahkan mengubah alur cerita dalam imajinasi akan dianggap sebagai musuh. Imajinasi adalah ruang bagi seorang anak kecil untuk menjadi sosok yang diinginkannya. Satu-satunya tempat bagi mereka untuk menjadi satu-satunya orang yang berdiri paling gagah setelah mengalahkan musuh yang menculik perempuan yang dikaguminya. Hanya disanalah seorang anak kecil akan bersembunyi setelah dimarahi ibu guru karena nilai matematika yang jelek, diejek kawan karena kalah bermain kelereng, dan dijemur di lapangan karena lupa membawa topi pada saat upacara. Kedua, karena dengan mengarang aku bisa "mempermainkan" waktu. Dalam kenyataan, waktu mustahil "dipermainkan". Dia berjalan terus tanpa pandang bulu, membuat banyak hal menua. Akan tetapi, dalam imajinasi, waktu kehilangan taringnya. Aku bisa menceritakan sesuatu dari masa sekarang ke masa lalu, atau dari masa lalu ke masa sekarang, atau lagi dari masa sekarang ke masa yang aku reka-reka sendiri. Dan untuk membuat waktu semakin tak berdaya, aku selalu mengawali karanganku dengan 3 kata pamungkas, yakni "Pada Suatu Hari", yang bisa saja telah, sedang, akan, atau tidak akan pernah benar-benar terjadi.

Seiring waktu berjalan, aku belajar lebih banyak hal, melihat lebih banyak pemandangan, mendengar lebih banyak suara, mengecap lebih banyak rasa, dan menghirup lebih banyak aroma. Aku mempelajari lebih banyak ilmu yang sering disebut orang-orang dengan sebutan ilmu pasti. Aku sendiri sebenarnya kurang setuju bila dikatakan ada ilmu jenis ini karena setiap saat dunia berubah, bergerak begitu dinamis, dan apapun bisa berubah terhadap pergerakan waktu.

Matematikawan mencoba menghitung banyak hal, tapi akhirnya sampai juga pada lambang yang mengisyaratkan hasil yang tak terdefinisi, tak tentu, tak hingga, dan imaginer. Begitu juga dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi. Pada tahun-tahun tertentu muncul teori-teori yang menggantikan teori sebelumnya. Michael Faraday dengan sinar katodanya, Gustaf Kirchoff dengan radiasi benda hitamnya, Max Planck dengan teori energi terkuantisasinya, dan Einstein dengan efek fotolistriknya membuat mekanika klasik menjadi tidak relevan dan akhirnya tergantikan oleh mekanika kuantum. Teori atom Democritus tersisih oleh teori atom John Dalton, kemudian secara berurutan disempurnakan oleh teori atom J.J. Thomson, Rutherford, Niels Bohr, dan model atom abad 20 oleh Erwin Schrodinger. Teori evolusi pun setali tiga uang, berkembang terus.

Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan ilmu pasti tidaklah benar-benar pasti. Ada kemungkinan teori-teori yang saat ini digunakan, tergantikan oleh teori baru di masa-masa yang akan datang. Memang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengganti suatu teori dengan teori yang lain yang lebih baru dalam sains. Berbeda dengan ilmu-ilmu sosial yang sifatnya "lebih cair" karena terkait dengan pola-pola interaksi perilaku, khususnya manusia, yang cepat berubah seiring dengan kemajuan teknologi. Ada 3 tradisi besar orientasi teori ilmu sosial, khususnya psikologi, dalam menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia. Pertama, perilaku disebabkan faktor dari dalam atau deterministik. Kedua, perilaku disebabkan oleh faktor lingkungan atau proses belajar. Ketiga, perilaku disebabkan oleh interaksi manusia dengan lingkungan. Memang ada juga beberapa pola-pola perilaku yang tetap dipertahankan dalam kehidupan bermasyarakat sebagai ciri khas suatu daerah, suatu keyakinan, atau suatu keturunan. Namun, secara umum, teori-teori dalam bidang sosial sifatnya "lebih cair"/perubahannya lebih cepat bila dibandingkan teori-teori sains.

Melihat perbedaan "tingkat kekentalan" seperti inilah, aku berusaha memadukan nilai-nilai sains, khususnya kimia (chemistry), dengan perilaku manusia pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari melalui beberapa tulisan. Seperti mencampur sirup dengan air yang masing-masing berbeda kekentalannya. Menikmati sirup saja akan terasa manis sekali, sedangkan menikmati air saja akan tawar rasanya. Dan mencampur keduanya dalam sebuah buku adalah pekerjaan mengasyikkan. Buku ini kuberi nama CHEMINLOVE (Chemistry in Love).

Cheminlove adalah buku kecil yang tidak berusaha untuk memamerkan satu cabang ilmu sains, tapi berusaha untuk menjadikan sirup (konsep kimia) yang terlalu manis, sehingga banyak yang menghindarinya karena takut batuk, dengan mencampurkannya dengan air (perilaku/peristiwa dalam kehidupan sehari-hari). Aku sangat menyadari bahwa tidak semua hal bisa dicampurkan sekehendak hati kita, namun dalam cinta (in love) kita akan melihat banyak perbedaan yang ternyata hadir untuk saling melengkapi.

Cheminlove adalah juga mimpi/imajinasi yang terealisasi karena memanfaatkan 3 kata pamungkas yang aku ceritakan di awal tadi. Oleh karenanya, jangan terlalu sering menyepelekan kata-kata anak kecil. Cheminlove bisa terwujud karena aku melengkapi 3 kata pamungkas tersebut sehingga menjadi seperti ini, "Pada Suatu Hari Nanti, Aku Akan Memiliki Sebuah Buku Yang Aku Tulis Sendiri!"

Selasa, 01 November 2011

Lovember

Pagi ini..
Batang-batang cahaya matahari menyelinap
memasuki berbagai celah
untuk menyapa raga-raga yang lelap,
yang lelah akan pengejaran, pencarian, pemenuhan, dan pencapaian
Sebagian cahaya lainnya
sedang menyoroti tetes-tetes air di atas singgasana daun teratai,
yang tetap anggun dalam wujudnya,
tertetes, namun tak membasahi..
dekat, namun tak terikat..

Sebagian cahayanya lagi membentuk kilauan pada jaring laba-laba
dengan aneka diagonalnya,
bertahta indah pada ruang-ruang yang tak terjamah
oleh ayunan napas manusia

Pagi ini..
Angin telah bercerai dengan debu
Membawa kesegaran bagi kepenatan, kejenuhan, ketidakpuasan,
ketidakberdayaan, dan kealpaan
Dan cinta pun telah disemai dari langit,
kemudian merunduklah orang-orang yang menganggap
bahwa cinta telah berhenti di ujung pena,
yang lupa bahwa cinta meresap memenuhi bhuana,
bahkan pada tetes-tetes air mata subuh
yang membiaskan warna matahari

Pagi ini..
Banyak jiwa yang terkunci dalam dimensi
sedang tersenyum karena menyadari
bahwa kerinduan telah menemukan penawarnya,
bahwa berdiri di bawah pohon waktu yang rindang kedamaian
adalah sebuah pilihan yang tepat

Pagi ini....pagi yang penuh cinta....
kuberikan saja nama Lovember


Surabaya, 1 Nopember 2011

Selasa, 18 Oktober 2011

Tak Lelahkah..

Sahabatku, aku ingin bertanya..
Tidakkah engkau lelah berdiri mematung,
membiarkan wajahmu dibelai angin malam
seraya menatap tajam langit mendung itu
dan menanti rintik-rintik hujan turun menampar kedua pipimu,
kemudian engkau bebas menghamburkan tangisan
karena saat itu, hanya saat itu,
tak seorang pun bisa memisahkan air matamu dari air mata langit?

Ijinkan aku mengira bahwa dengan begitu
tak seorang pun tahu bahwa engkau sedang menyembunyikan tetes air matamu
dalam derasnya tetes air mata langit..
Tak seorang pun tahu bahwa engkau sedang membasuh air matamu
dengan air mata lain
Ya, membasuh air mata dengan air mata...tidak lebih

Engkau mungkin bisa mengelabui mataku, tetapi tidak untuk langit
Kau pasti tahu bahwa langit menyaksikan semua itu
dari atas permukaan air yang hening, namun bening seperti cermin

Dan tahukah kau bahwa purnama yang tergantung di langit yang penuh rahasia itu
tidak pernah benar-benar hilang?
Dia hanya bersembunyi dan sesekali muncul agar kau tidak bosan
dengan wujudnya
Agar kau tetap rindu, tetap kangen dirinya saja

Aku juga ingin bertanya lagi..
Masih senangkah kau mempermainkan waktu dengan harapan?
Kau jejalkan berdesak-desakkan pada pisau detiknya,
kemudian dicabik-cabiklah mereka semudah merobek
kertas putih tipis yang kosong, tanpa tulisan

Sahabatku, mari kita berlindung dari guyuran hujan itu,
sesekali bercanda dengan purnama dan bersama-sama
menaiki komidi putar waktu...sesekali saja..tanpa harapan
karena langit telah melihat sesuatu yang melebihi harapanmu dan harapanku
dari atas permukaan air yang hening, namun bening seperti cermin..

Surabaya, 18 Oktober 2011

Jumat, 30 September 2011

Telah Cukup Baginya


Dan bila mentari harus tetap terbit
menyapa bumi pada sebuah ufuk
kemudian sinarnya menembus gumpalan awan yang menutupi langit,
menjangkau debu-debu yang beterbangan di udara,
daun-daun yang basah oleh embun,
tanah kering yang lama tak dipijak,
dan gulungan ombak yang menyembunyikan mutiara,
biarlah cinta tetap menemukan getarnya
sekalipun pada cahaya bintang yang mengalah pada fajar

Karena telah cukup bagi cinta untuk tetap indah,
walaupun tak terlihat, sekalipun di kejauhan
Telah cukup bermakna baginya,
walaupun harus berdiam di balik awan..
Setidaknya untuk saat ini..saat ini saja
Karena kesetiaan akan menenggelamkan mentari
dan melarutkan seluruh cahayanya dalam samudera yang tenang
hingga hanya guratan bias yang tersisa di langit
dan lambat laun terhapus oleh cahaya redup purnama

Akhirnya tak ada yang dapat menyembunyikan wujudnya
Langit telah menyibakkan awan dan menelanjangi dirinya sendiri
agar cinta terlihat,
kemudian menyelimutinya dengan angin dari
nafas jiwa-jiwa yang rindu kedamaian



Selasa, 06 September 2011

Titik Netral


Hanya dua kata saja judul catatan hari ini. Cukup sederhana memang, namun kita akan mencoba mencari sesuatu yang bermakna dari hal yang sederhana ini. Netral bisa diartikan sesuatu yang tidak bermuatan, tidak positif, tidak juga negatif. Tidak memiliki perbedaan potensian/kutub. Tidak atas, tidak juga bawah, tidak kiri, dan tidak kanan, persis di tengah-tengah. Tidak juga memihak apapun atau siapapun.

Dalam ilmu kimia, khususnya larutan, netral berarti tidak asam, tidak juga basa (pahit). Seperti air murni, tawar rasanya. Netral dapat juga disamakan dengan karakter neutron sebagai salah satu elemen penyusun struktur atom. Neutron tidak bermuatan, sedangkan proton bermuatan positif dan elektron bermuatan negatif.

Bila sudah ada sedikit gambaran pemahaman, mari kita mulai! Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita berjumpa dengan hal-hal yang sifatnya netral. Ambil contoh yang kecil saja, sebuah pisau. Sebuah pisau sebenarnya tidak bermuatan apapun, tidak positif, tidak juga negatif, netral saja. Kemudian, pikiran kitalah yang memberikan muatan kepada pisau tersebut. Yang menjadikan pisau sebagai alat yang berguna untuk memotong bahan-bahan sayur dan makanan lainnya memberikan muatan yang positif kepada pisau tersebut. Yang menjadikan pisau sebagai alat untuk menakut-nakuti dan melukai orang lain memberikan muatan negatif kepada pisau tersebut. Begitu juga dengan ilmu pengetahuan. Ilmu yang tidak dikontrol dengan pikiran yang baik justru akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Bukan ilmunya yang salah, tetapi pikiran dan sikap kita terhadap ilmu tersebut. Kita ambil contoh saja ilmu kimia. Ilmu kimia itu netral saja. Pikiran yang positif menjadikan ilmu tersebut sangat bermanfaat dalam bidang kesehatan, teknologi, pangan, forensik, energi, dan sebagainya. Sebaliknya, pikiran yang negatif mengarahkan ilmu tersebut kepada hal-hal yang merugikan, misalnya perakitan bom untuk menghancurkan fasilitas-fasilitas umum, racun untuk membunuh seseorang, pembuatan narkoba untuk meraup keuntungan dan menghancurkan generasi muda. Dan masih banyak lagi hal-hal yang sifatnya netral, tapi kemudian dalam fungsinya atau penggunaannya cenderung mengarah pada salah satu kutub, bisa positif atau negatif.

Yang sering terjadi justru penyalahan hal-hal netral ini. Saat ini, bahan-bahan kimia cenderung berkonotasi negatif. Segala sesuatu yang mengandung bahan kimia cenderung menghancurkan dan merugikan kesehatan. Padahal udara, air, vitamin, dan makanan sehat yang bermanfaat bagi tubuh adalah juga merupakan bahan kimia. Udara itu baik, tapi bila kita bernapas cepat-cepat juga kurang baik. Makanan sehat baik bagi kesehatan, tapi kalau dimakan berlebihan juga membuat efek kurang baik bagi tubuh. Bom yang digunakan untuk menghancurkan rumah penjahat dalam film justru memiliki nilai artistik. Bukan bahan-bahan kimianya yang negatif atau positif, tetapi niat, tujuan, dan cara kita menggunakannya yang menjadikan bahan-bahan tersebut memiliki muatan/kutub.

Begitu juga jejaring sosial seperti facebook, friendster, my space, dan twitter. Bagiku, jejaring-jejaring sosial tersebut netral saja. Yang menjadikannya bermuatan adalah kita sebagai pengguna. Api itu netral saja. Tapi api kan berbahaya? Iya, berbahaya bagi tubuh bila berdekatan secara langsung. Tubuh bisa terluka dan terbakar. Namun, yang menggunakannya untuk menghangatkan badan di pegunungan pasti mendapat manfaat yang berarti dari api. Begitu juga yang menggunakannya untuk memasak, menerangi gelap malam, membakar dupa untuk beribadah, dan lain sebagainya. Bukan apinya yang negatif, tetapi cara kita menggunakannya.

Hidup tidak akan pernah lengkap tanpa dua sisinya, begitulah kira-kira yang pernah dikatakan M. Arief Budiman, seorang blogger kelahiran Rembang. Ada sisi positif dan ada juga sisi negatifnya. Kemudian manusia meramu batas-batas sesuatu agar hanya tampak sisi-sisi positifnya saja. Yang cenderung menimbulkan efek negatif dibuang karena tidak menguntungkan. Sungguh manusiawi. Karena pada dasarnya, kita semua menginginkan hal-hal yang baik terjadi dalam hidup. Namun bagiku, kebijaksanaan itu justru hadir ketika kita mampu berada pada sebuah titik netral dan memandang sesuatu dari dua sisinya. Sisi-sisi yang bertolak belakang, namun selalu ada, positif dan negatif. Cukupkah dengan memandang saja? "Memandang" adalah sebuah langkah awal, kita harus bergerak menuju sesuatu yang kita inginkan. Titik netral adalah sebuah "tempat peristirahatan sementara". Hidup akan menggiring kita untuk menentukan pilihan, kemudian bergerak, menyelaraskan langkah dengan visi, menguji sebuah teori, dan kemudian kita akan sampai pada pemahaman yang lebih mendalam akan sesuatu.

Sebagai akhir, aku berpesan, kepada siapapun yang menyalahkan cinta, berpikir ulanglah. Mungkin bukan cinta yang salah, tetapi niat, tujuan, atau cara kita mencintai sesuatu atau seseorang yang harus diperbaiki. Mungkin..

Denpasar, 6 September 2011



Minggu, 14 Agustus 2011

Kosong


Yang tak terlihat...

Dan tak terdengar...

Serta tak tercium...

Bahkan tak teraba...

Mungkin itulah kosong

Tiada rupa, tiada rasa

Sehingga sulit bagi persepsi untuk menjamahnya,

atau bahkan menyentuhnya

Hampa...

Membuat wajah tak mampu menumpahkan aneka emosi sebagai warna jiwa

Namun dalam keheningan, seandainya kita tertunduk untuk tertuju,

serpih-serpih kepercayaan mulai bersenyawa,

kemudian menabrak logika, menghadirkan sepercik pemahaman,

bahwa tiadalah yang benar-benar kosong jika kita meyakini

bahwa ada Energi besar yang meresapi semesta,

memenuhi seluruh bhuana.



Surabaya, 14 Agustus 2011

Kamis, 28 Juli 2011

Energi untuk Nasi


Salam hangat untuk semuanya. Hari ini aku menulis sebuah catatan berdasarkan percobaan yang aku lakukan terhadap nasi putih (lagi). Ini adalah percobaan keempat yang aku lakukan untuk membuktikan respon suatu benda yang diberikan sepaket energi. Aku memang menyukai nasi putih sebagai bahan percobaan karena dua hal, yang pertama karena nasi putih mudah didapat, yang kedua karena nasi adalah makanan pokok bangsa Indonesia. Dan bagi siapapun yang belum membaca catatan-catatan sebelumnya, silakan klik http://cheminlove.blogspot.com/2009/10/ketika-air-sedang-mengajar-part-2.html, http://cheminlove.blogspot.com/2010/12/tiga-botol-nasi-untuk-kita-resapi.html, dan http://cheminlove.blogspot.com/2011/05/nasi-dari-hati.html

Beberapa percobaan mengenai respon materi terhadap energi telah aku lakukan, hingga akhirnya aku sampai juga pada percobaan ini. Percobaan ini muncul karena keingintahuan yang lebih mendalam tentang kekuatan kata-kata yang terpancar melalui pikiran dan hati. Aku yakin, ketika kita mengucapkan sesuatu, memikirkan sesuatu, dan merasakan sesuatu, ada energi yang terpancar dari diri kita kepada alam semesta. Energi tersebut adalah suatu power atau kapasitas yang bisa merubah sesuatu. Berbicara alam semesta memang terkesan luas, oleh karenanya kita persempit saja menjadi materi atau benda atau zat.

Materi merespon energi yang diberikan kepadanya. Respon tersebut dapat sangat nyata dilihat oleh mata, dapat juga tidak. Perubahan yang dapat dilihat bisa berupa perubahan fisik atau bentuk, dapat pula perubahan yang bersifat kimia, seperti perubahan warna, aroma, terbentuknya gas, dan terbentuknya endapan. Perubahan yang tidak dapat dilihat bisa berupa vibrasi atau getaran di level atomik. Melalui percobaan ini, aku mencoba untuk membuktikan respon tersebut. Tentunya berupa perubahan yang tampak oleh mata.

Percobaan dimulai pada tanggal 14 Juli 2011 dengan memasukkan 2 gumpal nasi ke dalam 2 botol transparan yang sama. Botol tersebut kemudian ditutup rapat. Botol pertama aku beri label “THANKS”, sedangkan botol kedua aku beri label “BODOH”. Pada percobaan-percobaan sebelumnya, aku memberikan afirmasi berulang yang sesuai label botol sambil memegang botol tersebut. Percobaan kali ini berbeda!! Aku tidak menyentuh botol-botol tersebut. Aku hanya memandanginya sambil mengucapkan afirmasi sesuai dengan label pada masing-masing botol. Pada botol yang berlabel “THANKS”, aku mengucapkan terimakasih atas segala nikmat yang diberikan-Nya dalam kehidupan ini secara berulang-ulang di dalam hati, sedangkan pada botol yang berlabel “BODOH”, aku mengucapkan kata-kata seperti ‘bodoh’, ‘tolol’, dan ‘goblok’ secara berulang-ulang di dalam hati. Ingat, aku tidak menyentuhnya, hanya memandanginya saja. Sesekali ketika mengendarai sepeda motor atau sedang berada di luar kamar, aku mengingat kedua botol ini sambil mengucapkan afirmasi sesuai dengan labelnya masing-masing di dalam hati.

Setiap hari aku perhatikan perubahan yang terjadi pada kedua gumpal nasi dalam botol transparan tersebut. Mulai berubah warna dari putih, kuning, kecoklatan, abu-abu, dan akhirnya hitam. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan sampailah pada tanggal 27 Juli 2011. Ini menarik dan mengagumkan, nasi yang berada dalam botol “BODOH” lebih hitam dibandingkan dengan nasi yang ada pada botol “THANKS”. Warna hitamnya begitu dominan seperti tampak pada foto di bawah.





Afirmasi berbeda pada nasi yang beratnya relatif sama, disimpan dalam botol yang keadaannya dibuat sama, dan lama percobaan yang sama, memberikan hasil yang berbeda. Kesimpulan yang dapat diambil kurang lebih sama seperti percobaan-percobaan sebelumnya, hanya saja pada percobaan kali ini ada sebuah keadaan baru yang mengungkapkan secara tersirat bahwa energi yang dipancarkan melalui kata-kata yang diucapkan dari dalam hati (afirmasi) dapat menembus ruang. Tanpa memegang botol sekalipun, aku dapat melihat perubahan berbeda yang terjadi pada nasi setiap harinya. Melihat fenomena ini, aku jadi berpikir, ada kekuatan dibalik kata-kata atau afirmasi yang dapat menembus ruang serta memberikan perubahan terhadap sesuatu. Kata-kata yang begitu powerfull, yang diucapkan dengan kesungguhan hati dan ditujukan kepada Energi Yang Maha Besar kita kenal sebagai DOA. Dan doa itu MENEMBUS RUANG.

Ini percobaan sederhana, siapapun bisa melakukannya. Bila kurang yakin, silakan mencobanya sendiri. Aku akan sangat senang bila banyak diantara teman-teman yang akhirnya terinspirasi setelah melakukan percobaan ini. Tidak banyak yang ingin aku sampaikan lagi, aku hanya ingin menginspirasi teman-teman dengan hal yang sederhana ini. Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa diambil. Dan bagi siapapun yang saat ini terpisah jarak oleh teman, keluarga, kekasih, atau siapapun yang sangat dicintai, berdoalah yang terbaik untuk mereka, mudah-mudahan senantiasa dianugerahkan kesehatan dan kebahagiaan. Ingat, DOA MENEMBUS RUANG! Sukses selalu untuk semua!

Surabaya, 27 Juli 2011

Rabu, 13 Juli 2011

9 = CERMIN


Pada awalnya, aku menyukai angka 9 (sembilan) dengan alasan yang sederhana, karena angka 9 menunjukkan bulan lahirku, yaitu September. Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai mengenal banyak angka, banyak rumus, banyak reaksi, yang kesemuanya itu membuatku menyukai hitung-menghitung. Dan itulah yang menyebabkan aku masuk jurusan IPA ketika di SMA, dan melanjutkan studi di bidang kimia. Mempelajari sesuatu yang aku sukai dan menyukai apa yang aku pelajari. Sederhana, tapi banyak orang yang akhirnya sukses dengan menerapkan prinsip ini. Semoga aku dan semua yang meyakini dan menerapkannya menjadi sukses juga. Amin.

Mari kita mulai. Sembilan adalah angka tunggal yang nilainya paling tinggi. Lalu bagaimana dengan 10, 11, 12, 20, 50, 100? Bilangan-bilangan tersebut memang nilainya lebih tinggi dibandingkan 9, namun tidak berdiri sendiri (tidak tunggal). Sebagai contoh, 10 memang lebih tinggi nilainya dibanding 9, hanya saja 10 merupakan gabungan angka 1 dan 0 yang kedua-duanya memiliki nilai lebih rendah dibandingkan 9. Dan disinilah menariknya. Sebagai angka tertinggi, 9 memiliki nilai keunikan yang lain apabila berada dalam operasi aljabar, seperti pertambahan dan perkalian. Aku tidak akan menjabarkan operasi aljabar yang rumit dan banyak ada pada artikel-artikel mengenai keunikan angka 9 karena aku pun tidak menyukai kerumitan. Bagi yang kurang menyukai perhitungan, ini adalah sebuah sudut pandang baru dalam melihat deretan angka-angka, dan bagi yang menyukai perhitungan, ini adalah catatan yang menarik.

Sebagian dari kita pasti tahu, atau lebih tepatnya hapal, perkalian angka 9. Namun, mungkin batasnya saja yang berbeda. Ada yang tahu hingga perkaliannya dengan 10, ada juga yang hapal sampai batas 15, dan seterusnya. Untuk memudahkan, aku hanya akan mengambil angka 5 sebagai batas perkalian dengan 9 dan secara berturut-turut hasil perkaliannya adalah 9, 18, 27, 36, dan 45 (perkalian 9 dengan 0 tidak dimasukkan karena semua bilangan yang dikalikan 0 akan sama dengan 0). Bila kita agak sedikit iseng dan memiliki waktu cukup banyak, mari kita jumlahkan hasilnya dari perkalian 9 tersebut menjadi 1 digit angka. 9 tetap 9, 18 menjadi 1+8 = 9, 27 menjadi 2+7 = 9, 36 menjadi 3+6 = 9, 45 menjadi 4+5 = 9. Menarik bukan? Semua hasil penjumlahan bilangan-bilangan tersebut mengacu pada satu angka, yaitu 9. Dan itu tidak berhenti sampai dengan 5 deret perkalian angka 9. Silakan rekan-rekan coba sendiri! Ini sangat menarik! Bagi yang sudah berulang kali mencobanya, pasti akan menemukan angka yang sama, yaitu 9. Lalu bagaimana dengan 123x9? 123x9 = 1107 (1+1+0+7 = 9). Jadikan 1 angka dan kita pasti mendapat 1 angka yang sama, apa lagi kalau bukan 9?!

Keunikan kedua ini aku ceritakan berdasarkan pengalamanku yang amat sering menjumlahkan angka-angka pada plat nomor kendaraan. Memang terkesan seperti kurang kerjaan, tapi aktivitas ini aku kerjakan dengan senang hati dan akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan “angka 9 adalah cermin”. Angka pada plat nomor kendaraan biasanya terdiri dari satu, dua, tiga, atau empat angka. Satu angka pada plat nomor kita abaikan. Kita bermain saja pada deretan dua, tiga, atau empat angka. Karena berhubugan dengan angka 9, aku akan memberikan contoh-contoh yang mengandung angka 9 pada deret-deret tersebut. Untuk dua deret, sebagai contoh 29, 49, dan 69. Apabila kita menjumlahkan 2 dan 9, akan didapat hasil 11, dan apabila kita merubah 11 menjadi satu angka akan didapatkan angka 1+1 = 2. Dua adalah angka pertama pada angka 29. Begitu juga dengan 49, 4+9 = 13, 1+3 = 4, dan 4 adalah angka pertama pada 49. Dan tanpa menghitung angka 69-pun akan menjadi 6. Bila memang ingin menghitungnya, silakan! Artinya, angka 9 pada ketiga bilangan itu (29, 49, 69) hanya menampakkan angka yang dijumlahkan padanya (2, 4, dan 6) apabila kita melakukan penjumlahan untuk mendapatkan hanya 1 digit angka. Atau dengan kata lain, angka 9 bisa diabaikan, tapi aku lebih senang menyebutnya “ANGKA 9 ADALAH CERMIN SATU ANGKA YANG DIJUMLAHKAN PADANYA”. Lalu bagaimana dengan deretan 3 atau 4 angka. Sama saja! Sebagai contoh 239, 679, dan 2395.
2+3+9 = 14, 1+4 = 5 hasilnya akan sama dengan 2+3 (tanpa 9) = 5
6+7+9 = 22, 2+2 = 4 hasilnya akan sama dengan 6+7 (tanpa 9) = 13, 1+3 = 4
2+3+9+5 = 19, 1+9 = 10, 1+0 = 1 hasilnya akan sama dengan 2+3+5 (tanpa 9) = 10, 1+0 = 1
Angka 9 bisa diabaikan dalam penjumlahan karena hanya sebagai “cermin” penjumlahan angka-angka di sekitarnya.

Mungkin sekian yang dapat aku bagi, mudah-mudahan ada manfaatnya. Setiap angka pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sama seperti kita, nobody is perfect. Ini mungkin kelebihan angka 9, tapi tentu saja ada beberapa kelemahan. Sebagian besar orang pasti menginginkan mendapat ranking 1 dibanding 9, mendapat juara 1 dibanding 9. Hidup tidak akan lengkap tanpa dua sisinya. Silakan menyukai angka berapapun. Temukan kelebihannya dan jadikan hidup menarik!! Sukses selalu!

Sabtu, 09 Juli 2011

Jangan Baca Tulisan Ini


Tulisan ini memang dibuat untuk tidak dibaca siapapun, baik itu siswa, mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja kantor, pengusaha, pejabat, atau siapapun yang melihat secara langsung judul tulisan ini. Oleh karena itu, judulnya langsung mengacu pada tujuan pembuatan tulisan ini.

Namun, ternyata aku harus kecewa karena judul tulisan ini tidak membuat rekan-rekan sekalian untuk tidak membaca isinya. Bukan hanya sekedar “mengklik” judulnya, tetapi juga membaca beberapa kalimat pembukanya. Walaupun aku tidak melihat rekan-rekan secara langsung, aku yakin ini terjadi. Ayo ngaku! He..he..he. Dan disinilah menariknya. Melalui tulisan ini, aku ingin membagi sesuatu tentang “kekuatan kata jangan” yang sebenarnya lebih cocok dijadikan judul tulisan ini, tapi tidak menjamin lebih banyak orang yang membaca..(“,)

Beberapa pakar komunikasi menyatakan bahwa pikiran kita tidak dapat memproses pikiran yang negatif. Tidak ada jaminan seorang anak kecil berhenti main di pasir ketika diberikan perintah “Jangan main di pasir!” Begitu juga, tidak ada yang bisa menjamin bahwa tulisan ini tidak akan dibaca orang hanya dengan memberikan judul “Jangan Baca Tulisan Ini.” Sebagian besar orang tidak senang diperintah, apalagi bila perintah itu digandengkan dengan kata-kata negatif seperti “Jangan” atau “Tidak Boleh.” Bagi anak kecil, perintah seperti itu seperti tantangan. Namun, bagi yang tidak merasa anak kecil, perintah seperti itu membuat penasaran. Kita adalah makhluk pembelajar dan selalu ingin tahu. Membuat penasaran adalah salah satu langkah awal untuk membuat seseorang, bahkan diri kita, belajar.

Terkait dengan pernyataan pakar komunikasi di atas, aku kurang sependapat. Sebenarnya pikiran kita juga memproses kata negatif seperti “Jangan”. Kevin Hogan, penulis buku The Psychology of Persuasion, mengatakan, “Pernyataan negatif pada umumnya menyebabkan orang LEBIH MENGINGAT atau MEMPROSES LEBIH CERMAT apa yang disampaikan. Hal itu tidak berarti orang akan melakukan cara lain. Pernyataan negatif hanya membuat suatu perintah/gagasan/permintaan LEBIH MUNGKIN DIINGAT.” Tambahan kata jangan dalam judul tulisan ini hanya membuat lebih mudah diingat, bukan menjadikan rekan-rekan bersedia membaca. Kata “Jangan” membuat seseorang MEMIKIRKAN sesuatu, tetapi belum tentu MELAKUKAN sesuatu yang dipikirkan. Sama dengan ketika aku mengatakan “Jangan memikirkan facebook!”, “Jangan keluar..di luar hujan!”, “Jangan merokok!”, dan secara ajaib, facebook, tetes-tetes air hujan, dan sebatang rokok masuk secara berurutan ke dalam pikiran.

Begitu powerfullnya sebuah kata “Jangan”, sehingga orang-orang pemasaran suatu produk seringkali membubuhkan kata ini dalam setiap iklan-iklan produknya. Ini hanya sebuah wawasan, silakan rekan-rekan menggunakannya dengan niat untuk memberi manfaat bagi orang lain. Bila ada yang memiliki wawasan lebih dari apa yang dijabarkan dalam tulisan ini, silakan memberikan komentarnya. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Selamat beraktifitas dan bermalam minggu. Sukses selalu untuk semua.

Surabaya, 9 Juli 2011.

Rabu, 29 Juni 2011

Bukan Hal yang Sama


Ada yang terlintas saat keheningan menyelimuti
Semilirnya angin yang kurasakan saat ini
mungkin takkan kurasakan lagi
Bintang malam yang bertahta di langit sana mungkin
tak dapat kulihat lagi pada titik yang sama esok hari
Aku memang tidak melihat bulan,
namun beberapa waktu yang lalu nampak bersinar
Esok hari, mungkin aku masih berjumpa matahari,
tapi dengan kehangatan yang berbeda
Mungkin juga masih mendengar kicauan burung,
namun burung yang berbeda
Bersyukur bila masih dianugerahkan nafas,
tapi pasti bukan udara yang sama,
yang kuhirup dan kuhembuskan di hari-hari sebelumnya


Aku melihat air, tapi bukan air yang sama
Merasakan hujan, tapi bukan hujan yang sama
Mendapati senyuman, tapi bukan senyuman yang sama
Berjabat tangan, tapi bukan jabat tangan yang sama
Berkeringat, tapi bukan keringat yang sama
Menangis, tapi bukan dengan air mata yang sama
Tertawa, tapi bukan tawa yang sama
Semuanya tidaklah sama, waktu membuatnya berbeda,
membuatnya berubah dengan setiap gilasan detiknya
Walaupun seakan-akan kulihat sama,
tapi atom berotasi, bergetar, bertranslasi, tidaklah diam,
bahkan quark-pun tidak mematung
Semesta bergerak, dan tidak pernah kudapati hal yang sama
setiap waktunya

Dan kini kudapati diriku yang telah begitu
mengabaikan hal ini
Menganggap akan mendapati hal yang sama esok hari,
Senyuman orang-orang yang sama,
dekapan yang sama, suara yang sama, tawa yang sama,
air mata yang sama, kehangatan yang sama, amarah yang sama,
udara yang sama, dan keheningan yang sama
Semuanya berubah..
Karena semuanya bergelantungan pada tiang waktu
Dan rasa syukur harusnya aku pahami dengan cara
memandang bahwa tidak akan pernah ada hal yang sama
yang kita temui, bahkan untuk satu detik kemudian.

Surabaya, 29 Juni 2011

Sabtu, 14 Mei 2011

Nasi dari Hati..


Menakjubkan. Itu adalah satu kata yang terbersit ketika aku memerhatikan 2 buah botol transparan yang aku letakkan di meja kamarku. Ini adalah percobaan ketiga yang aku lakukan untuk membuktikan hubungan yang terjalin antara eksistensi materi dan esensi energi, antara sesuatu yang nampak dan yang tidak nampak, antara sesuatu yang terlihat dengan sesuatu yang terasa. Lebih khusus lagi, mengenai respon yang diberikan materi terhadap energi yang menyertainya. Percobaan ini juga semakin meyakinkanku akan suatu tenaga yang sering orang bilang dengan istilah “the power of love”. Bila ada yang kurang menyukai istilah tersebut, aku akan mengalah dengan menyebutnya “kekuatan rasa syukur”.

Sebelum melanjutkan membaca catatan ini, ada baiknya membaca catatanku sebelumnya yang menunjukkan percobaan yang hampir sama dengan percobaan kali ini. Hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman kita dalam memandang fenomena yang terjalin antara sebuah materi dan sepaket energi, sehingga diharapkan terajut satu benang merah kesimpulan yang utuh. Dua percobaanku sebelumnya tertuang di http://cheminlove.blogspot.com/2009/10/ketika-air-sedang-mengajar-part-2.html dan http://cheminlove.blogspot.com/2010/12/tiga-botol-nasi-untuk-kita-resapi.html

Baiklah aku akan mulai. Percobaan ini dilakukan karena rasa ingin tahu yang besar mengenai sesuatu yang ada di alam semesta, namun tidak nampak, tetapi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam merubah banyak hal. Ada semacam kekuatan yang dimiliki setiap insan hidup yang berdaya untuk merubah sesuatu. Aku memulainya dengan mengambil 2 buah botol transparan kecil, kemudian memasukkannya dengan sejumlah nasi yang sama. Botol-botol tersebut aku tutup dengan solasi bening untuk menghindari aliran udara yang mampu memengaruhi kecepatan reaksi yang terjadi. Oleh karena itu, reaksi yang terjadi berada dalam sistem tertutup. Botol pertama aku beri label “DH”, yang merupakan singkatan “Dari Hati”, sedangkan botol kedua aku beri label “TDH”, yang merupakan singkatan “Tidak Dari Hati”. Pemberian label ini hanya untuk membedakan saja antara botol pertama dan botol kedua yang tentu akan diperlakukan berbeda. Pada percobaan kedua, jelas sekali membuktikan bahwa label hanya digunakan sebagai sistem pembeda dan tidak memengaruhi secara langsung perubahan materi di dalam botol.

Kedua botol ini kemudian aku taruh berdekatan satu sama lain di atas meja. Setiap hati, sebelum sembahyang, aku sempatkan untuk memegang botol yang berlabel “DH” kemudian mengucap syukur dan terimakasih atas segala anugerah yang diberikan-Nya dalam kehidupan ini. Baik berupa kesehatan, keluarga yang begitu mendukung segala aktivitasku, teman-teman yang begitu baik, mata yang mampu memandang, hidung yang mampu bernapas dengan baik, telinga yang bisa mendengar suara-suara alam, kaki yang mampu berjalan, tangan yang mampu menggenggam dan menulis. Aku ucapkan terimakasih yang berulang-ulang seraya menghayati setiap anugerah yang ada dalam kehidupan ini. Setelah selesai, aku letakkan botol pertama dan mengambil botol kedua yang berlabel “TDH”. Sambil menggenggamnya aku ucapkan terimakasih berulang-ulang dalam hati, namun perbedaannya, aku tidak menghayati setiap kata terimakasih yang aku ucapkan. Aku hanya berfokus ada pengulangan kata terimakasih yang aku ucapkan. Bila dihitung secara matematis, kata terimakasih yang aku ucapkan pada botol “TDH” LEBIH BANYAK dibandingkan dengan botol “DH”.
Setiap hari aku ulangi aktivitas tersebut pada kedua botol. Dan ini adalah hasilnya setelah 4 hari, tepatnya pada tanggal 12 Mei 2011.

Nasi pada botol TDH berwarna hitam, sedangkan pada botol DH berwarna hijau kekuningan. Dan hasilnya setelah 6 hari seperti pada gambar di bawah.

Teman-teman, banyak hal yang bisa kita petik dari percobaan yang sederhana ini. Dan seperti biasa, aku selalu memberi kesempatan seluas-luasnya kepada teman-teman sekalian untuk menyimpulkannya, mengaitkannya ke dalam banyak aspek kehidupan, dan membawanya menjadi satu kecerdasan yang teraplikasi dalam hidup. Mungkin aku bukan orang yang tepat berbicara tentang moral, tetapi percobaan ini memiliki nilai moral yang cukup tinggi. Seringkali dalam kehidupan, kita jumpai bahwa kualitas lebih berperan dibandingkan dengan kuantitas. Namun yang terbaik tentu saja kuantitas yang didukung juga dengan kualitas yang baik. Bukan tentang seberapa banyak, seberapa sering, tetapi seberapa besar rasa syukur atau energi yang menyertai setiap tindakan kita. Seringkali kita melakukan sesuatu “tanpa daya di dalamnya”. Mengucapkan terimakasih tanpa benar-benar merasakan bahwa pemberian yang kita terima adalah suatu anugerah, memberikan maaf tanpa benar-benar merasakan bahwa setiap kesalahan orang lain perlahan-lahan sirna dari hati, mengucapkan selamat ulang tahun hanya agar terdengar mengucapkannya tanpa benar-benar ingin mendoakan yang terbaik. Aku tidak mengatakan bahwa kegiatan tersebut salah, hanya saja akan menjadi lebih baik bila didukung “power” yang senada. Hal-hal diatas sering juga aku lakukan, dan kini aku telah mengerti bahwa mengisi setiap ucapan dengan “energi” yang senada pasti akan menghasilkan sesuatu yang menakjubkan.
Sebagai penutup, aku ingin mengatakan bahwa “KATA-KATA MENJADI PENTING BUKAN SAJA KARENA KEINDAHANNYA TERAJUT OLEH KECEMERLANGAN PIKIRAN, TETAPI JUGA KARENA DESIR ENERGI YANG MENGALIRINYA….DARI DALAM HATI.” Itu saja.

Surabaya, 14 Mei 2011

Jumat, 06 Mei 2011

Cintaku Bercara...


Engkau yang terus-menerus mengetuk pintu hati..
Kemudian berhembus lembut mengitari bunga-bunga di dalamnya
Merangkum semua wewangian itu menjadi sesungging senyum
yang membuat orang sekitarku merasa aneh,
mengerutkan keningnya, menarik sedikit lehernya
dan mengatakan "apa kamu sudah gila?"

Tapi engkau tetap saja berputar-putar di relung ini,
seolah tak peduli dengan apa yang ada di sekitarku,
dengan apa yang telah engkau perbuat pada waktu,
sehingga berjalan lebih lambat dari biasanya
dengan apa yang telah engkau perbuat pada purnama,
sehingga terlihat lebih indah dibandingkan biasanya
dengan apa yang telah engkau perbuat pada kicau burung-burung itu,
sehingga terdengar begitu harmonisnya
dengan apa yang telah engkau perbuat pada jantungku,
sehingga bekerja lebih giat, berdenyut lebih kencang..

Ini memang gila..
Tapi begitulah dirimu bicara..
dengan cara-cara yang bagaimanapun juga
sulit untuk diterjemahkan oleh para pengolah pikiran,
tapi tetap saja banyak yang ingin mendefinisikanmu,
memenjarakanmu dengan kata-kata,
mereduksi dayamu untuk berhembus..

Cara-cara yang terkadang juga kurasa aneh
Cara-cara yang terkadang juga membuatku ingin marah
Cara-cara yang seringkali tak dapat diterima akal sehatku
Tapi mungkin begitulah caramu..
Tersadarku bahwa setiap kita memiliki
cara yang tak sama dalam menghembuskannya
Dan di antara semua hembusan yang ada, engkau berbeda,
Aku mencintai caramu menghembuskannya mengelilingi hatiku,
Aku mencintai cintamu,
namun terlebih lagi, aku mencintai caramu mencintaiku. Itu saja..


Surabaya, 6 Mei 2011


Sabtu, 16 April 2011

Aku Berjalan...


Aku sedang berjalan...
Menapaki jalan yang terkadang..
Terkadang lurus
Terkadang terjal
Terkadang berliku
Terkadang curam
Terkadang licin
Terkadang berbatu
dan terkadang aku pun berhenti untuk
menghela napas sejenak
Ada yang tetap melaju sambil melambaikan tangan,
mengajakku untuk terus berjalan bergabung dengannya
Ada juga yang menepuk pundakku seraya berkata,
"Istirahat dulu saja sebentar, disini sejuk, belum tentu
kita dapatkan tempat seperti ini lagi di depan sana!"

Masih beristirahat dan sambil meneguk segelas air,
aku melihat raut-raut wajah
Ada yang tampak tegang dan terus berjalan ke depan
tanpa menoleh sedikitpun ke kiri dan kanan..
Ada juga yang melompat-lompat kegirangan tanpa memperhatikan
langkah kakinya..
Ada yang santai sambil memasukkan tangannya di saku celana
dan tak hentinya tersenyum, seolah-olah
dia tahu betul medan yang akan dilaluinya..
Ada yang berlari kencang sambil sesekali mengelap
wajahnya yang penuh dengan butiran-butiran keringat..
Ada yang berjalan cukup lambat, dan terus mengeluh,
"Untuk apa melanjutkan perjalanan ini? Aku capek, aku ingin berhenti!
Tidak ada seorang pun yang tahu pasti apa yang ada di depan sana.
Untuk apa ini semua??"
Ada juga yang dengan hati-hatinya berjalan sambil bibirnya bergumam,
"Satu..dua..tiga..empat..lima..enam..tujuh..delapan"
Ada juga yang baru saja terjatuh karena kakinya tersandung batu,
namun dengan segera bangkit dan melanjutkan perjalanan..
Ada juga yang sedang menangis memegang kakinya yang terkilir..

Aku masih menatap raut-raut itu,
Entah aku harus meniru salah satu raut itu
atau memilih menciptakan sendiri raut yang khusus,
Tak berapa lama seseorang yang ada di sampingku,
yang menepuk pundakku itu berkata,
"Teruslah berjalan, sesekali engkau boleh berhenti
seperti ini bila lelah, namun pastikan, berjalanlah dengan dua hal,
agar langkahmu terasa ringan, yaitu kakimu dan hatimu.
Mungkin kita akan dipertemukan di tempat peristirahatan yang lain,
walaupun jalan yang kita tempuh berbeda, namun aku yakin kita sedang
menuju cahaya yang sama!"


Surabaya, 16 April 2011

Selasa, 29 Maret 2011

Seperti Hadirnya...


Ada yang hadir,
Saat tatapanmu membuat darahku berdesir
tak tentu arah..
Ada yang hadir,
Saat senyumanmu itu menggetarkan sesuatu
dalam dadaku..
Entah bagaimana sesuatu itu hadir,
namun begitu tiba-tiba,
seperti menunggu saat pikiranku sedang tak sigap..
begitu mudahnya sampai-sampai tulang-tulangku
tak mampu menahannya.

Kehadiran yang sangat sederhana, namun bermakna,
seperti kehadiran semilirnya angin
yang sedari tadi ditunggu rumput-rumput hijau,
seperti hadirnya sinar matahari yang mengangkat perlahan
embun bunga melati,
seperti lembutnya alir air yang membasuh tubuh batu-batu kali
seperti hadirnya lengkung pelangi sebagai senyum langit kepada bumi
begitu sederhana, seperti berbicara,
dengan suatu bahasa yang tak mudah ditafsirkan
hanya dengan logika

Tak ada dayaku untuk menahannya hadir
Karena menahannya sama saja menyiksa hatiku sendiri
Terlampau menguras energi
Waktu pun terbunuh percuma
Kubiarkan saja mengalir memenuhi tempat yang nyaman baginya
Dan pada akhirnya tercurah sebagai hal-hal indah
yang dapat kau pandangi, dapat kau sentuh,
dan kau kan dapati diriku dan dirimu tersenyum kepadanya. Itu saja.

Sabtu, 19 Maret 2011

Ada Saatnya


Ada saat ketika kita mulai menyadari
bahwa waktu telah mewujud menjadi sebuah roda kehidupan
yang sangat besar, yang berputar sangat pelan,
detik demi detik, menggilas hati,
hingga mati rasa, lunglai tak berdaya
Tak peduli sudah seperti apa wujudnya
Tak peduli berapa banyak air mata yang tertumpah dan terjatuh
Tak peduli betapa rasanya ingin berteriak,
namun tak cukup tenaga dimiliki...

Begitu angkuhnya, namun tetap saja dia berjalan,
sekalipun kita berusaha berteriak berhenti berulang kali
Semua beban bergeliat tak tentu geraknya,
namun pada akhirnya mereka kompak menyerang otak,
sehingga tak ada lagi ruang bagi pikiran jernih untuk bersemayam
Penat, gelap, sesak.....namun terasa dekat....dekat sekali...
tak pernah merasa sedekat ini
hingga sekujur tubuh merinding dan getarannya menyingkirkan
apapun yang tak seharusnya hadir bagi hati yang sedang tumbuh
Kemudian getarannya semakin mereda, perlahan berkurang,
hingga hilang entah kemana,
menyisakan hati dengan wujudnya yang baru, yang lebih kuat dari sebelumnya,
dan roda itu terus saja berputar, namun tak terasa lagi gilasannya.

Surabaya, 19 Maret 2011

Senin, 07 Februari 2011

Diamku...


Diamku...

Karena aku tahu dengan berbicara

tidak akan berarti banyak

Diamku...

Karena aku mengerti bahwa kata-kata

tak akan pernah lebih hangat dari sebuah pelukan

Diamku...

Karena aku menginginkan angin sejuk itu

mengitari hatimu yang masih beku

Diamku...

Karena aku berharap agar waktu saja

yang menggilas semuanya sampai tuntas

Diamku juga...

Karena aku paham bahwa tidak semua rasa

menyublim menjadi kata

Diamku juga...

Agar logika itu memiliki ruang yang layak untuk

ditempati..

Kemudian aku merenung dan berpikir sejenak...

Barangkali cinta itu bukan sebuah energi yang

mampu mentransformasi rasa menjadi kata,

tetapi justru karenanya kata menjadi lunglai

tak berdaya...

Dan karenanya, saat ini, aku memilih diam,

setidaknya dalam kata, bukan dalam rasa. Itu saja.



Denpasar, 7 Februari 2011

Rabu, 19 Januari 2011

Anak Kecil, Kau Membuatku Iri…


Beberapa tahun silam, ketika aku masih berusia sekitar lima tahun, aku ingin sekali menjadi orang “dewasa”. Bagiku saat itu, orang dewasa adalah sosok yang memiliki banyak sekali kebebasan yang tidak dimiliki seorang bocah ingusan. Orang-orang dewasa bisa membeli semua yang mereka inginkan, mereka bisa membeli banyak permen, membeli banyak balon, membeli beragam makanan ringan, jalan-alan sesuka hati, berkeliling kota dengan motor dan mobil, dan yang lebih mengesalkan lagi, orang dewasa bisa mengacak-ngacak rambut seorang anak kecil sepertiku sambil berbicara, “Nanti kalau sudah besar ya, Nak!” Di usiaku yang masih dini itu, aku banyak mengalami tekanan. Tekanan yang kuciptakan sendiri berdasarkan reaksi yang unik antara rasa iri dan dengki kepada orang dewasa ditambah dengan ketidakmampuanku memutar waktu agar berjalan lebih cepat.

Mau tidak mau, waktupun terus berjalan. Kadang cepat, kadang lambat, kadangkala seperti berhenti beberapa saat. Namun, itu jelas hanya perasaanku. Di dunia ini, tidak ada yang lebih konsisten dan angkuh dibanding waktu. Sampai akhirnya, waktu jualah yang mengantarkanku pada masa ini. Masa dimana keinginanku bertahun-tahun yang lalu telah terwujud. Aku telah menjadi orang “dewasa” atau orang yang lebih tua dibandingkan saat aku memiliki keinginan ini. Aku memang sengaja memberi tanda kutip pada kata dewasa untuk sekedar membatasi definisinya saja. Hal ini memang sengaja aku perjelas karena konteks dewasa yang sesungguhnya tentu tidak hanya sekedar menjadi lebih tua atau memiliki tubuh yang lebih besar, mobil yang bagus, rumah yang mewah, pakaian kantor yang rapi, atau bahkan memiliki kumis dan jenggot yang lebat. Makna dewasa tentunya lebih mengacu kepada konteks sikap dan sifat manusia yang melibatkan perpaduan yang khas antara logika dan perasaan. Dan untuk hal ini, setiap orang memiliki definisi tersendiri yang unik.

Setelah menyadari bahwa aku telah berada pada satu masa dimana keinginanku yang terpendam beberapa tahun lalu terwujud, tidak lupa aku mengucap syukur pada Sang Penguasa Waktu yang mengijinkan hamba-Nya ini mencapai keinginannya. Memang menyenangkan saat ini. Aku bisa membeli permen dengan uangku sendiri tanpa harus menarik baju Ibunda beberapa kali sambil menangis karena tidak memiliki uang di kantong. Aku pun tidak perlu memberat-beratkan badanku sendiri ketika Ayahnda ingin menggedongku dan mengajakku pulang ke rumah ketika aku sedang bermain pasir di pantai. Aku juga tidak perlu khawatir Nenek akan berkata, “Ayo, bobo dulu, sekarang sudah malam!”. Apalagi Kakek, aku yakin beliau tidak akan lagi mengatakan, “Jangan lupa cuci tangannya dulu sebelum makan.” Keinginanku terwujud, “kebebasan” itu tercapai.

Seiring berjalannya waktu, keinginan pun bertumbuh, kebutuhan bertambah. Kedewasaan tumbuh mesra bersama tanggung jawab. Ini tidak bisa disangkal lagi. Aku jadi teringat kata-kata seseorang dalam film spiderman, “Ketika kekuatan bertambah, tanggung jawab juga bertambah.” Bertambahnya tanggung jawab inilah yang mengantarkan kita pada satu aktivitas yang dinamakan bekerja. Dengan bekerja, kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain, meningkatkan nilai dari sesuatu, dan juga meningkatkan kualitas diri. Akhirnya, pikiran, waktu, dan tenaga tercurahkan untuk proses bekerja ini, tapi tentu saja tidak seluruhnya. Disela-sela waktu luang itulah aku seringkali bertemu dengan sosok anak-anak kecil. Mereka berlari, bernyanyi, melompat-lompat, menangis, berteriak, tertawa, bergelantungan, dan memutar-mutar tubuh mereka sesuka hatinya. Satu kata untuk mereka….aku iri! Itu saja!

Ingin juga rasanya bisa ‘sebebas mereka’. Tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut, berteriak dengan keras tanpa mempedulikan orang-orang sekitar, melompat-lompat kegirangan sampai capek, bernyanyi lagu apa saja tanpa memperdulikan harmonisasi, bermain hujan sambil berlari-lari kecil, sungguh aktivitas yang amat menyenangkan, seolah tanpa batas. Aku menginginkan hal-hal itu kembali. Keinginan yang sebenarnya sudah tercapai beberapa tahun silam disaat aku menginginkan menjadi dewasa dan lebih bebas. Disaat aku menganggap kebebasan adalah melakukan banyak hal dengan uang, kemudian dapat membeli banyak barang yang aku inginkan. Namun, kini aku melihat kebebasan dengan wajah yang lain, yang terpancar dari wajah polos anak-anak kecil yang mungkin saja memiliki impian besar. Milikilah ‘mimpi besar’, walaupun ‘tubuhmu masih kecil’. Itu lebih baik dibandingkan memiliki ‘tubuh yang besar’, tapi ‘bermimpi kecil’ atau bahkan ‘tidak memiliki mimpi apapun’.

Terimakasih ‘anak-anak’ kecil! Kalian telah berhasil membuatku iri. Bermainlah, bermimpilah, dan bertanggungjawablah terhadap mimpi itu. Itu saja.

Gresik, 19 Januari 2011

Kamis, 13 Januari 2011

Ketika Kita Berbicara...


Ada satu waktu ketika kita saling menatap
Ada saat ketika kita saling mengungkapkan sesuatu
Aku mengungkapkan sesuatu yang ada di kepalaku
Dirimu mengungkapkan sesuatu yang ada di hatimu
Kemudian engkau mulai berbicara terlebih dahulu,
menggebu-gebu, seolah tak ingin ada yang mengganggu,
hanya ingin ada seseorang yang mendengarkanmu, itu saja, tidak lebih..
Dan aku pun mulai mengangguk-anggukan kepala,
bukan karena aku paham sepenuhnya ceritamu,
hanya tidak ingin engkau marah saja..
Mulailah aku berdeham pelan untuk menghargai panjangnya ceritamu itu,
Engkau pun tersenyum, aku pun terhibur..
Sungguh indah..
Aku tahu, bukan solusi yang kaubutuhkan,
bukan hitung-hitunganku yang kauinginkan,
bukan teoriku yang kaurindukan
dirimu hanya ingin didengarkan,
dirimu hanya ingin mencurahkan,
dan dirimu hanya ingin aku merasakan apa yang kaurasakan,
itu saja, tidak lebih..


Kemudian aku mulai bertutur, secara teratur,
perlahan, terkonsep dengan jelas maksud dan tujuannya,
engkau mulai mengangguk, walaupun bukan itu
yang kuinginkan sebenarnya,
karena ketika aku bercerita, aku menginginkan solusi,
aku sedang mencari jalan keluar dari suatu hal,
dan engkau pun tahu itu..
Mulailah bibirmu itu mengungkap gagasan,
berbicara dengan tenang dan aku pun merasa nyaman
Walaupun terkadang idemu terasa aneh dari sudut pandangku,
aku tahu bahwa dirimu sedang berusaha membantu,
aku sangat menghargai itu..


Kembali kita saling menatap,
tercurahkan sudah apa yang ada di kepalaku dan
apa yang ada di dalam hatimu..
Sempat juga aku berpikir, kenapa ceritamu yang sederhana itu
bisa begitu panjang dan membutuhkan banyak waktu,
tapi tentu saja tidak aku ungkapkan,
karena bisa saja engkau bertanya kepadaku,
"Kenapa hal seperti itu bisa menjadi masalah bagimu?"

Gresik, 13 Januari 2011