Senin, 28 Desember 2009

Di Bawah Cahaya Purnama Tahun Baru


Detik demi detik bergulir, membawa kita semua pada akhir tahun 2009. Mengantarkan kita semua di gerbang sebuah masa baru lagi dengan segudang misteri yang menunggu untuk disingkap. Entah ada kejutan apa lagi. Tak seorang pun yang tahu pasti. Itulah hidup, penuh ketidakpastian. Namun, ketidakpastian membuat segalanya tampak mungkin dan memberikan ruang bagi kita untuk mengembangkan kebijaksanaan atas beragam pilihan. Hidup akan kehilangan makna bila takdir bukanlah sebuah rahasia. Sangat kering. Dan hidup akan dimaknai sebagai proses menunggu waktu mati, yang sudah pasti.
Hidup harus terus dijalani. Dan mimpi adalah pengindah perjalanan itu sendiri. Namun, mimpi hanyalah sebuah visi. Kita harus juga mampu menetapkan misi. Seseorang pernah mengatakan bahwa vision without mission is daydream, but mission without vision is nightmare. Hidup bukanlah penuh dengan mimpi, namun perpaduan yang indah antara visi dengan misi.
Waktu mungkin terlihat begitu angkuh, seperti sebuah kereta yang enggan berhenti, apalagi mundur, dan terus membawa kita bergerak maju. Melintasi kejadian-kejadian yang penuh dengan tawa, bahkan juga air mata, dengan gayanya yang amat tidak peduli. Kita mungkin bisa tertidur, tetapi waktu tidak. Kita mungkin mampu menahan napas sejenak, tapi waktu tidak. Kita mungkin bisa mengumpat waktu, tapi waktu tidak peduli, tidak pula berniat membalas umpatan kita. Maka dari itu, berdamailah dengan waktu, bergeraklah seirama dengannya, daripada memaksakan diri berhenti pada suatu masa yang sudah lama ditinggalkannya. Waktu tidak bisa menunggu, bahkan sedetik pun.
Kini, kereta waktu itu telah sampai di penghujung tahun. Bukan untuk berhenti, hanya sekedar melintasi. Mimpi-mimpi melambung tinggi ke langit dan bergelantungan dengan manis pada awan-awan, yang beruntungnya terbasuh cahaya purnama. Purnama yang mungkin disambut dengan riuhya suara terompet; mengepulnya asap ikan, ayam, dan jagung bakar; genjrengan suara gitar; lantunan lagu-lagu kebahagiaan; atau gemerlapnya ribuan kembang api. Purnama yang mungkin dilihat dari balik jendela kamar rumah, dari balik tirai rumah sakit, dari belakang jeruji penjara, di hamparan rumput lapangan yang luas, di puncak gunung, di hamparan pasir pantai, di atas gedung hotel bintang lima, di bawah kolong jembatan, atau dari dalam tempat ibadah yang hening. Purnama yang sama. Purnama yang menggantung di langit sebagai pembuka tahun baru yang penuh dengan berkah. Dan bila masih tersisa satu ruang di langit sana untuk harapanku di tahun baru, aku hanya ingin bisa lebih berdamai dengan segala kehendak-Mu, ya Tuhan. Itu saja.
Selamat tahun baru 2010. Semoga semua mimpi mewujud dengan indah dan kebaikan senantiasa mengalir kepada hati-hati yang ikhlas menjalani hidup.

Sabtu, 26 Desember 2009

Antara Positif dan Tak-Negatif


Kita seringkali mendengar seruan atau nasihat seseorang yang mengajak kita untuk berpikir positif. Berpikir positif dapat diartikan secara sederhana dengan berpikir yang baik-baik atau berpikir yang baiknya saja. Lalu, yang negatif? Dihilangkan dari pikiran hingga tak berbekas. Sulitkah? Tentu saja. Menurutku, setidaknya ada 3 hal yang menjadi penyebab dasar kesulitan ini.
Pertama, setiap hari kita dihinggapi puluhan ribu pikiran. Richard Carlson, dalan bukunya "Don't sweat the small stuff", menyatakan bahwa dalam sehari, rata-rata, manusia memiliki kurang lebih 50.000 pemikiran yang beragam. Bukan perkara mudah mengontrol begitu banyaknya pemikiran manusia setiap hari. Pikiran-pikiran tersebut, pada akhirnya, menimbulkan beragam keinginan. Ketika melihat baju di toko, ingin membeli. Melihat gadis cantik, ingin berkenalan. Melihat buku kimia, ingin tidur. Semuanya berpusat pada pikiran. Namun, Erbe Sentanu pernah memberikan deskripsi yang cukup menarik tentang kehadiran pikiran manusia ini. Menurutnya, gerakan pikiran manusia itu seperti gerakan awan di langit. Jangan berfokus pada setiap gerakan awan itu, tetapi jadilah langit yang luas itu. Menjadi sesuatu yang kokoh dan tidak terganggu oleh pergerakan awan-awan pikiran. Itulah idenya.
Kedua, setiap orang mempunyai definisi yang berbeda tentang sesuatu yang positif. Positif bagiku bukan berarti positif bagi orang lain. Namun, hal-hal positif memberikan kesamaan manfaat yang tidak bisa dielakkan, yaitu kedamaian hati. Pikiran positif akan mendatangkan perasaan positif. Perasaan positif itu lebih penting dibandingkan pikiran positif itu sendiri. Oleh karena itu, pikirkanlah hal-hal yang dapat mendamaikan hati kita. Dengan hati yang damai, dunia tampak lebih indah.
Ketiga, kita masih sering menganggap bahwa berpikir tak-negatif adalah juga berpikir positif. Ini tidak sepenuhnya tepat. Sebagai contoh, seseorang yang ingin berhenti dari kebiasaan merokok seharusnya tidak memberikan afirmasi kepada pikirannya bahwa "Aku tidak akan merokok lagi." Kata-kata "Aku tidak akan merokok lagi" adalah contoh kata-kata yang ada dalam pikiran tak-negatif karena terdapat kata "tidak" dan hal yang, dianggap sebagian besar orang, negatif (merokok). Bagaimana mungkin bisa berhenti merokok, sedangkan dalam pikirannya masih "tertulis dengan jelas" kata merokok? Afirmasi yang lebih baik adalah "Aku ingin lebih sehat lagi dan Aku ingin keluargaku bahagia melihat Aku lebih gemuk." Atau "Aku menghargai tubuh yang bersih." Bisa juga dengan "Aku menghargai uang dan menggunakannya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan." Tidak ada lagi kata merokok. Harapannya, kebiasaan merokok akan memudar secara perlahan. Contoh kedua adalah pikiran untuk melupakan seseorang. Biasanya pikiran ini timbul pada akhir hubungan persahabatan atau percintaan yang kurang berlangsung baik. Kenapa aku bisa tahu? Karena aku pernah mengalaminya dan hanya ingin berbagi. Afirmasi yang timbul biasanya "Aku tidak ingin mengingatnya." Afirmasi seperti ini tentu saja merupakan afirmasi tak-negatif. Kita harus mengubahnya. Kita coba dengan "Aku ingin melupakannya." Nampaknya, lebih enak untuk dipikirkan. Namun, tetap saja sulit. Walaupun kata "tidak" telah dihilangkan, tetapi masih ada kata "-nya" setelah kata "melupakan". Bagaimana bisa kita melupakan sesuatu yang kita pikirkan terus? Afirmasi yang lebih baik adalah "Aku kini lebih bebas menjalani hari-hari yang indah." Atau "Aku kini mempersiapkan hatiku untuk seseorang yang mencintaiku dengan tulus." Mudah-mudahan pikiran dan harapan itu terkabul. Amiiiieeeeeennnnnnnnn!
Berpikir positif itu indah, asal kita tahu seninya. Aku bukan orang yang selalu dapat berpikir positif. Kadangkala ada saja awan gelap pikiran yang sulit disingkirkan. Menangani hal ini, aku butuh waktu untuk berdiam diri seraya berdoa memohon petunjuk. Mudah-mudahan selalu ada titik terang bila kita memusatkan pikiran dan hati kita pada Sumber Cahaya Yang Abadi. Semoga bermanfaat.

Sabtu, 19 Desember 2009

We have to be Rich...


Akhir-akhir ini, semenjak jadi pengacara, aku lebih sering menjadi penjaga tempat kost. Duduk santai di pagi hari yang cerah sambil membolak-balik halaman koran. Sesekali membaca rubrik show & selebriti dan tidak jarang juga membaca opini masyarakat tentang masalah-masalah yang sedang hangat di Nusantara. Tiada hari tanpa masalah. Ada tindak korupsi, demo taksi, kasus Century, kasus Antasari, perseteruan cicak-buaya, dan tidak ketinggalan koin untuk Prita.
Beragamnya kasus di Indonesia mencerminkan kondisi sebagian besar masyarakatnya yang masih belum kaya, alias masih miskin. Orang miskin zaman sekarang tidak lagi berpenampilan lusuh dan kumuh dengan kulit yang jarang dibasuh air bersih, tetapi terlihat lebih segar dengan dasi yang menawan hati. Berbicara panjang lebar tentang nasib rakyat, namun perutnya masih kosong, masih lapar…masih butuh makan uang rakyat. Sangat menyedihkan. Sungguh memilukan.
Agar tidak semakin menyayat hati, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk menenangkan pikiran. Membuka hati lebih lapang lagi agar mampu menerima pencerahan. Belajarlah kembali dari atom yang kecil itu. Atom yang sebagian besar tubuhnya hanya berisi ruang hampa itu. Belum cukupkah mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati? Kemudian bayangkan atom itu menyumbangkan elektronnya kepada atom lain yang membutuhkan. Lalu apa yang terjadi? Atom yang menyumbangkan elektronnya tersebut akan bermuatan positif..sungguh-sungguh positif. Belum cukupkah mengajarkan kita makna sebuah pemberian?
Memberi itu tidak mudah, Kawan. Kita harus menjadi pribadi yang kaya agar mampu memberi. Apa yang bisa diberi oleh seseorang yang tidak memiliki apa-apa? Orang yang kaya ilmu bisa memberikan ilmunya. Orang yang kaya harta bisa menyumbangkan hartanya. Orang yang penuh rasa bahagia mampu menularkan kebahagiaanya. Atom yang kaya elektron pun bisa menyumbangkan elektronnya. Perkayalah diri kita dengan hal-hal baik yang berguna bagi banyak orang. Hanya orang kaya yang mampu memberi dan orang miskin yang pantas iri. Pantas iri karena tidak memiliki apa-apa untuk diberi. Ciri yang lain dari seseorang yang miskin adalah selalu meminta. Orang yang ingin selalu diperhatikan adalah orang yang tidak memiliki perhatian, bahkan untuk dirinya sendiri. Orang yang ingin selalu dicintai adalah orang dengan sedikit kadar cinta di dalamnya. Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk memiskinkan diri kita dengan hal-hal tersebut. Berbagilah dan berbahagialah karena dengan itu kita menjadi positif. Semoga bermanfaat.

Senin, 07 Desember 2009

Memory of Camplong


Dimulai dari sebuah rapat kabinet di kost gang makam Keputih blok E no 22, akhirnya diputuskan bahwa lokasi tujuan tour pada tanggal 6 Desember 2009 adalah pantai Camplong. Ditinjau dari komposisi hurufnya, aku hampir tidak percaya bahwa “Camplong” adalah nama sebuah pantai. Menurutku, nama itu lebih pas bila dijadikan nama sebuah makanan khas daerah. Namun, bagaimanapun juga rakyat Madura sudah menyematkannya sebagai nama objek wisata bahari di kota Sampang. Waktu pemberangkatan direncanakan pukul 9 pagi dengan menggunakan sepeda motor.
Keputusan tersebut disepakati secara bersama dan dilanggar secara bersama pula karena kami baru berangkat pukul 10 siang...!! Hidup Indonesia...! Tiga sepeda motor telah siap meluncur menuju Madura. Pole position ditempati oleh Mushlik dan Kacong dengan sepeda motor bernopol S 3287 KK. Kacong adalah putra daerah Pamekasan dan telah bersedia dengan (mudah-mudahan) ikhlas untuk menjadi guide pada perjalanan kali ini. Makasi, Cong! Urutan kedua diisi oleh Dani dan Wawan dengan sepeda motor bernopol W 5919 XC. Nomor paling buncit dipegang olehku dan Riesthandie dengan sepeda motor bernopol DR 6830 AL. Madura, we’re coming...!!
Tiga puluh menit berlalu dan kami telah sampai di jembatan yang saat ini sedang naik daun, Jembatan Merah Plasa...ups salah, maksudnya Jembatan Suramadu. Sungguh megah dan benar-benar mempesona. Hasil karya anak negeri. Cukup dengan membayar tiga ribu rupiah saja, satu sepeda motor sudah bisa melintasi jembatan ini. Murah meriah. Perlahan namun pasti sepeda motor kami melintasi jembatan dengan panjang 5.438 m itu dan selat Madura terlewati begitu saja.
Kota pertama setelah melewati jembatan Suramadu adalah Bangkalan. Setelah menaklukkan Bangkalan, Sampang telah menunggu. Berhasil melewati Sampang, Pamekasan siap menghadang. Di posisi ujung, Sumenep pun bersiaga. Emang sampe Sumenep? Nggak kok, cuma mau ngasi informasi aja. Perjalanan menuju pantai sebenarnya sangat jauh, tetapi Kacong benar-benar telah menjadi motivator terbaik. Lama perjalanan yang sebenarnya tersisa 1 jam lagi dari tempat pemberhentian sementara di pom bensin dikatakan dengan polosnya tinggal 20 menit lagi. Bagus, Cong...! Kami pun berhasil sampai di pantai Camplong pukul 1 siang bolong, saat matahari tersenyum manis sekali.
Objek wisata pantai Camplong terletak di jalan raya Camplong dan dekat dengan PT Pertamina. Memasuki pantai ini, kita diharuskan membayar dua ribu rupiah. Mungkin untuk biaya kebersihan. Setelah memarkir sepeda motor di tempat yang layak, kami pun segera memanjakan perut-perut yang sedari tadi bersenandung lirih. Sepiring rujak dan segelas es degan cukup untuk membuat mereka berhenti bernyanyi. Setidaknya untuk 2 jam kedepan. Sambil makan rujak, kami pun menikmati pemandangan sekitar pantai. Pantai ini cukup bersih. Warna airnya biru jernih dari kejauhan, namun tidak menyatu dengan warna birunya langit. Pasir pantainya sangat lembut. Mungkin lebih tepat dinamakan serbuk pasir dibandingkan butiran pasir. Kapal-kapal nelayan dibiarkan terapung karena memang bukan waktu yang tepat untuk menangkap ikan. Hanya saja, pantai ini sangat sepi pengunjung. Yaiyalah, mana ada orang yang dengan cueknya jalan-jalan santai di pantai bermandikan sinar uv-a, uv-b, dan uv-c. Setelah berfoto-foto ria, kami pun segera meninggalkan pantai, menuju rumah Kacong.
Keikutsertaan Kacong dalam perjalanan kali ini setidaknya memberikan tiga manfaat penting bagi kami berlima. Pertama, Kacong telah berhasil menjadi peta berjalan, sehingga penggunaan bensin berlebihan yang disebabkan aktivitas bernama nyasar dapat dihindari. Kedua, keberadaan rumah Kacong yang dekat dengan tujuan tour mengakibatkan silaturahmi dengan keluarganya semakin erat dan camilan yang keluar pun semakin banyak. Ketiga, kemahiran Kacong dalam berbahasa daerah dapat digunakan untuk tawar-menawar harga oleh-oleh, sehingga selain harganya pas di kantong, pas juga di hati.
Setelah leyeh-leyeh di rumah Kacong, kami pun segera bersiap-siap untuk perjalanan pulang. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Bila perjalanan lancar, kami semua akan sampai di Keputih sekitar pukul 7 malam dengan kecepatan motor berkisar antara 60 – 80 km/jam. Kami semua berpamitan dengan Ayah Kacong yang sangat baik hati karena tidak marah melihat kami mambawa satu tas keresek mangga madu yang diambil dari pohon di halaman rumah. Namanya juga rejeki...!
Saat perjalanan pulang, aku melihat pemandangan yang sangat menarik, seperti hujan awan. Lokasinya cukup jauh dari jalan yang dilalui motor kami, maka dari itu aku hanya bisa memotretnya. Baru kali ini aku lihat awan lupa merubah dirinya menjadi air saat turun ke bumi. Sungguh indah.
Langit terlalu luas untuk sekedar dipandang dan laut terlalu dalam bila hanya untuk berenang. Maknai dan berkelilinglah untuk merasakan kebesaran-Nya. Semoga bermanfaat.

Jumat, 27 November 2009

Catatan Kecil tentang Sebatang Pohon..


Mataku terpaksa memandangi sederetan pohon yang tumbuh di tepi jalan Arief Rahman Hakim, Surabaya, ketika sedang melaju dengan sepeda motor. Terpaksa karena hanya itu pemandangan yang cukup membuatku merasa damai di tengah hiruk-pikuk keramaian kota metropolis. Sebenarnya, tidak terlalu banyak juga pohon yang tumbuh, tapi cukuplah untuk sekedar memberikan asupan oksigen yang berarti bagi paru-paruku. Masih bisa bernapas sampai sekarang adalah anugerah yang sangat luar biasa.
Di musim hujan seperti ini, kehadiran pohon sangat berarti sebagai penyerap air hujan yang sampai ke tanah, sehingga diharapkan tidak ada kelebihan air yang dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor. Kemampuannya mengolah karbondioksida menjadi oksigen dapat memberikan manfaat berarti bagi makhluk hidup lain. Kelebihan gas karbondioksida ini dapat memberikan pengaruh buruk bagi lingkungan karena dapat menimbulkan pemanasan global (global warming). Itulah sebagian manfaat dari kehadiran pohon bagi kehidupan makhluk. Pohon, yang kita lihat diam, tanpa ekspresi, dan tenang, memberikan satu manfaat besar bagi kita. Tidak ada kesombongan, yang ada adalah keikhlasan memberi. Ketenangan pohon ini memberikan aku inspirasi. Ada kalanya ketika kita harus diam, tak berbicara, namun tetap memberikan manfaat yang berharga bagi orang lain. Ini patut kita tiru agar pintu keikhlasan berkorban dalam hati terbuka secara perlahan.
Pertumbuhan sebatang pohon mengikuti cahaya matahari, namun akarnya menyusuri tanah yang dalam. Tumbuh mengikuti cahaya, namun akarnya kuat mencengkeram bumi. Seperti itulah kita seharusnya. Menimba ilmu mengikuti cahaya-cahaya kebenaran, namun tidak serta-merta melupakan asal-usul kita, suatu tempat awal dimana kita tumbuh. Kekokohan sebatang pohon dapat terlihat dari ketinggian pohon itu dan kedalaman akar yang menyangga tubuhnya. Dalam pertumbuhan sebatang pohon, ada kalanya ranting-ranting tua patah dan tergantikan ranting-ranting baru. Daun-daun yang telah layu menggugurkan dirinya dan diganti daun-daun yang lebih segar, kemudian tumbuh mekar. Sama seperti perjalanan hidup kita. Pola pikir yang telah usang, diganti dengan yang lebih memberi manfaat bagi banyak orang. Pandangan-pandangan yang sempit diperluas agar memberi kenyamanan bagi yang lain. Teori-teori lama digantikan dengan yang lebih bijaksana. Semuanya berubah seiring dengan peningkatan kedewasaan kita semua. Berubah untuk menjadi lebih baik.

Mudah-mudahan catatan kecil ini memberikan satu bentuk motivasi yang baru. Selamat Idul Adha 1430 Hijriyah, bagi yang merayakan, semoga kita semua senantiasa berkorban seperti pengorbanan sebatang pohon.

Surabaya, 27 Nopember 2009

Kamis, 26 November 2009

Kesesuaian Frekuensi, Mungkin Itulah 'Chemistry'..


Bila ada satu kata yang paling sering aku dengar 4 tahun belakangan ini, itulah kimia. Bila ada satu hal yang paling membuat aku bangga sebagai seorang mantan mahasiswa, itu juga kimia. Bila ada satu ilmu yang penuh dengan reaksi, dengan yakin aku katakan, "Pastilah itu kimia!". Kimia, kimia, dan kimia. Satu ilmu yang telah berhasil menjebakku dalam rutinitas pencampuran, pendinginan, pemanansan, pembakaran, penguapan, pengeringan, dan hal-hal lainnya yang tidak hanya membutuhkan keuletan, tetapi juga kesabaran. Aku telah terjebak, namun di tempat yang tepat dan nikmat.
Bila kita mempelajari kimia, kita harus rela mempelajari sifat zat dan mempelajari reaksi yang menjadikan satu zat berubah menjadi zat lain. Hanya ada dua asas yang mendasari konsep kimia, yakni kekekalan materi dan kekekalan energi. Reaksi kimia merubah satu zat menjadi zat lain, namun jumlah materi yang terlibat sepanjang reaksi selalu kekal. Begitu pula dengan energinya. Jumlah energi yang terlibat dalam reaksi kimia selalu kekal. Hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan terhadap energi yang tidak dapat kita ciptakan dan musnahkan, yakni merubahnya dari satu bentuk ke bentuknya yang lain. Menariknya, bila cinta dipahami sebagai sepaket energi, maka kita tidak akan pernah bisa memusnahkannya. Itulah yang menjadi alasan mengapa sulit bagi kita melupakan seseorang yang pernah kita cintai. Melupakan sama dengan memusnahkan. Lebih baik kita berusaha merubahnya menjadi bentuk energi lain yang positif.
Kimia, yang dalam bahasa Inggris disebut juga chemistry, diartikan secara indah oleh Martin H. Manser. Menurut beliau, "Chemistry is scientific study of the structure of substances and how they combine together." Dua atau lebih zat yang berbeda bisa bersatu (combine together) secara sempurna bila menganut satu prinsip pencampuran, yaitu "like dissolves like" atau suka sama suka. Tidak ada yang sempurna selain Yang Maha Sempurna, maka dari itu diperlukan pengaturan suhu, emosi, untuk mencapai pencampuran yang diinginkan.
Belakangan ini, istilah chemistry mengalami pergeseran makna. Definisi yang semula bersifat 'scientific' bergeser ke arah yang lebih kepada 'interpersonal relation'. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa curahan hati sebagai berikut, "Mungkin belum ada chemistry diantara kita!", "Rasanya nyaman banget ngobrol ma kamu, serasa ada chemistry diantara kita!", "Mana ekspresinya? Nggak ada chemistry sama sekali di adegan tadi!", "Should i give a reason for it? just say.. its our chemistry that make it this way." Chemistry dalam konteks curhat di atas lebih tepat diartikan sebagai kecocokan daripada ilmu kimia itu sendiri. Namun, sebagai seseorang yang sempat bergelut dengan hal-hal ilmiah, aku tetap memilih definisi yang lebih rumit, yakni kesesuaian frekuensi. Kesesuaian frekuensi menyebabkan resonansi, turut bergetarnya sesuatu karena pengaruh getaran sesuatu yang lain. Dan pada akhirnya, kecocokan itu timbul karena adanya resonansi...dari dalam hati.
Semoga bermanfaat.

NB: Terima kasih kepada Myru Nana atas komentarnya yang sangat inspiratif tentang chemistry!

http://selsurya.blogspot.com/

Rabu, 25 November 2009

Not only be a giver..


Akhir-akhir ini langit Surabaya sudah tampak bersahabat, setidaknya bagi para petani yang sangat membutuhkan air hujan. Memang belum terlampau sering hujan turun, namun hawa mendung langit, sesekali, menawarkan kesejukan tersendiri. Kipas angin di kamar tidak perlu lembur lagi dan selimut di atas tempat tidur mulai berfungsi kembali. Cerita mimpi tidur malamku sudah bisa kunikmati seutuhnya tanpa harus khawatir terputus karena terbangun tengah malam gara-gara kegerahan.
Hujan, begitu indah ketika bisa dimaknai sebagai serah terima air dari langit kepada bumi.Langit memberinya dengan senang hati dan bumi pun menerimanya dengan lapang hati. Langit telah menyajikan satu keindahan lagi. Menjadi pemberi, itulah yang ingin disampaikannya. Seperti hidup kita yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain, senatiasa memberi disertai keikhlasan hati. Petuah bumi pun tidak kalah pentingnya. Menjadi penerima yang lapang hati, itulah nasehatnya. Tanpa kelapangan hati bumi, pemberian langit tak akan berarti. Di lain waktu, bumi pun senantiasa menjadi pemberi yang baik dengan mengikhlaskan sedikit air dari samuderanya terangkat menuju langit menjadi segerombolan kabut tipis awan. Bumi tidak sekedar menerima, namun juga memberi. Begitu pula dengan langit. Semuanya memiliki peran penting masing-masing pada suatu waktu tertentu.
Kita dapat menarik satu benang merah dari persahabatan langit dan bumi. Alam semesta ternyata tidak hanya bercerita tentang keikhlasan memberi, tetapi juga kelapangan hati untuk menerima. Apa jadinya hidup ini bila semua orang ingin memberi? Lantas, siapa yang akan menerima semua pemberian itu? Maka, menjadi seorang penerima yang baik berarti menjadi seseorang yang telah memberikan makna terhadap sebuah pemberian, sehingga arus kebaikan senatiasa mengalir memenuhi jagat raya ini.
Seringkali, kita enggan menerima hal-hal kecil karena telah terbiasa menerima hal-hal yang sedikit lebih besar. Begitu enggan rasanya mendengar curahan hati seorang anak kecil, seorang teman, atau seorang nenek karena telah terbiasa dengan pembicaraan akademik maha rumit. Terkadang, mereka tidak butuh masukan, tetapi hanya ingin didengarkan. Mereka hanya ingin bercerita. Itu saja. Sedikit senyuman dan anggukan sudah cukup membuat mereka merasa dihargai. Jangan pernah bermimpi untuk dihargai bila kita tidak pernah berusaha untuk menghargai orang lain. Belajar mendengarkan adalah salah satu cara mewujudkan diri kita sebagai seorang penerima yang baik. Pada akhirnya, kita harus yakin bahwa akan selalu ada waktu terbaik untuk kita bisa saling berbagi dan bercerita.
Seiring berjalannya waktu, hidup membawaku pada suatu pemahaman bahwa masing-masing kita telah dipantaskan-Nya menerima segala bentuk pemberian-Nya. Anugerah itu dilimpahkan karena kita telah pantas untuk menerimanya. Musibah itu hadir karena kita telah pantas dan memenuhi syarat untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Keluhan, cacian, dan umpatan atas musibah ternyata merupakan bentuk pengingkaran kita terhadap kepantasan tersebut. Maka dari itu, menjadi penting bagi kita untuk saling mengingatkan dan saling menguatkan. Sebagai penutup, mudah-mudahan kita semua menjadi pribadi yang lebih bijak atas semua penerimaan kita. Semoga bermanfaat.

NB: Terima kasih kepada Mas Fahrul yang telah meyakinkan judul catatan ini dan kepada Dani, yang dengan statusnya telah memberikan inspirasi tentang sebuah penerimaan..

Selasa, 24 November 2009

Life is only life..


Seringkali aku bertanya untuk apa aku hidup di dunia ini. Tidak jarang juga aku menuntut jawaban dari langit tentang apa sebenarnya makna kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurutku, adalah hal yang wajar terlantun dalam hati dan pikiran kita sebagai hamba-hamba-Nya yang sedang dimuliakan-Nya melalui kehidupan ini. Bahkan, mungkin merupakan hal yang wajib dipertanyakan agar kita tahu dimana tujuan akhir kita dan bagaimana memaknai kehidupan yang sedang kita jalani sekarang. Akan menjadi hal yang aneh bila kita menjalani sesuatu yang kita sendiri pun tidak tahu apa maknanya dan kemana akan berujung. Keanehan itu sendiri nantinya akan tumbuh sebagai bunga-bunga keraguan, kekhawatiran, ketakutan, dan keputusasaan dalam menjalani hidup. Lalu, masih adakah tempat bagi bunga kebahagiaan untuk tumbuh dan bersemi? Maka dari itu, mendefinisikan hidup kita adalah hal yang penting, setidaknya bagi kebahagiaan kita pribadi.
Hidup seringkali dipandang dari beragam sudut, sehingga menghadirkan beragam makna. Bagi penyuka olahraga renang, wajar saja bila mengatakan bahwa hidup seperti air yang mengalir. Bagi yang suka berkeliling dengan kereta, tidak salah bila memaknai hidup seperti putaran roda yang membawanya pada suatu tujuan. Bagi yang senang bermain peran, tidak dilarang untuk mendefinisikan hidup sebagai panggung sandiwara. Bagi sang pemimpi, hidup juga menyajikan banyak pilihan. Bagi penikmat jalan spiritual, hidup tampak indah karena dimaknai sebagai anugerah. Bagi para musisi, hidup tampak bernuansa penuh dengan nada. Penuh perbedaan, namun satu dalam makna. Hidup dijadikan suatu ladang subur ekspresi diri yang dapat menumbuhkan bunga-bunga kebahagiaan. Memang tidak setiap saat kita mampu memupuk bunga-bunga kebahagiaan itu. Ada kalanya musibah dan bencana sesekali datang menggoda. Namun, yakinlah bahwa orang yang berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, tetapi berusaha menjadikan setiap hal yang hadir dalam hidup menjadi yang terbaik.
Kita hadir dalam definisi yang beragam tentang hidup bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. Seperti sebuah analogi, sulit memaksakan agar elang terbang bergerombol dan bebek bernyanyi sendirian. Biarlah elang terbang menyendiri mengitari cakrawala dan bebek bernyanyi riang bersama karena mereka "nyaman" dengan aktivitasnya masing-masing. Mereka sedang mengekspresikan diri masing-masing dengan caranya sendiri. Ketidakbahagiaan justru akan muncul ketika elang ingin berenang seperti bebek dan bebek ingin terbang setinggi elang. Ini yang dinamakan melampaui kodrat Ilahi. Kita memang bukan elang, apalagi bebek. Kita makhluk yang lebih baik karena mampu mengontrol ekspresi itu, sehingga tidak mengganggu yang lainnya dan secara bersama menjadi bermanfaat bagi sesama. Bermanfaatlah bagi sesama karena dengan itulah kita menjadi sebaik-baiknya diri kita, menjadi sebaik-baik ciptaan-Nya.
Marilah kita menjalani hidup ini dengan cara kita sendiri, dengan cara yang juga penuh toleransi, dengan cara yang melahirkan kebahagiaan, yang pada akhirnya tidak memberikan kita pilihan lain selain bersyukur kepada Penguasa Tertinggi. Kita memang tidak selalu bisa membahagiakan semua orang, namun kita bisa memulainya dengan membahagiakan diri kita sendiri.
Semoga bermanfaat. Thanks for your sms, Bu (Oka)...!

Jumat, 20 November 2009

21 Desember 2012 : Hari Semangat..!


Film 2012 yang dibuat Sony Pictures menyita perhatian publik di seluruh dunia. Bukan hanya karena efek animasinya yang sangat luar biasa, tapi juga karena pembuatan film ini merupakan respon terhadap sistem penanggalan suku Maya tentang hari kiamat. Ada yang mengatakan bahwa pada 2012 akan terjadi pembalikan kutub magnetik bumi yang bisa mengakibatkan badai hebat. Yang lainnya tak kalah seru membahas datangnya badai matahari seperti yang diilustrasikan dalam film Knowing. Dan film tetaplah film, seringkali tidak sesuai dengan realita yang ada karena dibangun berdasarkan ideologi kapitalisme untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Biarlah para penggiat dunia film membuat film yang baik dan berkualitas serta didukung animasi yang memukau, bila perlu. Ini adalah hal-hal yang dapat menumbuhkan kreativitas. Pengekangan terhadap hal-hal seperti ini biasanya berdampak kepada peningkatan nilai jual barang. Di satu sisi seolah-olah tampak sebagai upaya “pembersihan”, namun sisi lainnya adalah upaya promosi gratis yang sangat menguntungkan produsen.
Kehadiran film 2012 mengindikasikan beberapa hal. Salah satunya adalah banyak orang kini telah menaruh perhatiannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan akhir zaman. Harapannya adalah semakin banyak orang yang mulai melakukan introspeksi dan menyiapkan diri seuntuhnya menghadapi masa itu, bukan malah sibuk menghitung-hitung kapan tanggal yang paling tepat, apalagi sampai memprediksi bencana apa yang paling pas. Badai mataharikah? Air bahkah? Hantaman planet Nibirukah? Gempa bumikah? Masih pentingkah semua itu?
Memprediksikan sesuatu tentu tidak ada yang melarang, tapi jangan sampai meresahkan banyak pihak, apalagi sampai mengambil alih wewenang mutlak Yang Maha Mencipta itu. It’s not our job..! Hari kiamat itu ada bukan untuk diprediksi kapan kehadirannya, tetapi menjadi pengingat bahwa semuanya akan kembali kepada Ilahi. Kita tidak seharusnya menutup diri terhadap hadirnya hari kiamat, namun jangan sampai keterbukaan itu membawa kita pada bentuk ketakutan yang tidak perlu sehingga enggan menatap masa depan. Seorang guru pernah mengatakan bahwa apa yang terjadi kepada kita tidak lebih penting dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam diri kita. Penghinaan, cacian, kritik, dan umpatan yang ditujukan kepada kita tidak lebih penting dari keikhlasan untuk memaafkan yang datang dari dalam diri kita. Begitu juga dengan segala bentuk prediksi tentang hari kiamat ini tidak lebih penting dibandingkan dengan kebesaran hati kita untuk menatap masa depan dengan harapan penuh kemenangan. Maka dari itu, menjadi jelas bahwa hati kita adalah sumber terbesar kekuatan kita.
Kini, marilah kita sambut tanggal 21 Desember 2012 tidak lagi sebagai hari kiamat, tetapi sebagai hari yang penuh dengan semangat. Bagi yang berulang tahun pada tanggal tersebut, tetaplah membeli kue tar dan merayakannya dengan gembira. Bagi yang berencana menikah pada tanggal tersebut, tetap siapkan dekorasi gedung terbaik agar seluruh tamu undangan terpesona. Bagi yang berencana membeli rumah pada tanggal tersebut, belilah dengan harga terbaik. Bagi semua kakek yang bernama Ki Amat, tetaplah tersenyum seraya melihat cucu-cucu yang setiap hari semakin nakal.
Semoga bermanfaat dan tetap semangat!

Kamis, 12 November 2009

Hasil keikhlasan adalah 1 dibagi 0


Ada 4 operator dasar dalam perhitungan aljabar, yaitu tambah (+), kurang (-), kali (x), dan bagi (/). Banyak orang menyukai perhitungan menggunakan operator pertambahan. Selain karena relatif mudah, banyak diantara kita yang memang ingin bertambah setiap saat, seperti bertambah pintar, bertambah rajin, bertambah dewasa, bertambah cantik, bertambah ganteng, dan bertambah kaya. Operator kurang pun tidak kalah menariknya. Dengan kehadiran operator ini diharapkan membawa dampak berarti bagi kehidupan kita. Kita diharapkan mampu mengurangi kemalasan, kesombongan, kedengkian, dan kemarahan, sehingga tercipta nilai positif kedamaian. Kedua operator ini, tambah (+) dan kurang (-), memiliki level energi yang sama, hanya saja arah fungsinya berlawanan. Keduanya dapat digunakan untuk tujuan positif, bahkan negatif. Semuanya tergantung seberapa besar nilai kita sekarang.
Naik satu tingkat ke level energi perhitungan yang lebih tinggi, kita bertemu dengan kali (x) dan bagi (/). Operator kali (x) ini sungguh luar biasa. Dengan adanya operator ini, bilangan yang semula biasa saja dapat memiliki nilai hasil yang berlipat ganda apabila disandingkan dengan nilai lain yang tepat. Pemasaran dengan sistem jaringan dibangun dengan basis perhitungan perkalian. Tujuannya sudah jelas, yaitu keuntungan yang maksimal. Keuntungan tidak sekedar bertambah, tetapi juga berlipat-lipat. Oleh karena itu, banyak orang yang menyukai sistem ini.
Operator dasar yang terakhir adalah bagi (/). Pembagian merupakan fenomena matematika yang cukup rumit, bahkan terumit bila dibandingkan dengan penggunaan operator yang lain. Operator tambah dan kurang menghasilkan suatu nilai bilangan yang pasti, baik bernilai positif atau negatif, bernilai bulat ataupun desimal. Operator bagi (/) tidak hanya menghasilkan nilai-nilai bilangan yang bulat atau desimal, positif atau negatif, tetapi juga dapat menghasilkan nilai-nilai yang cukup unik, yaitu tak hingga, tak tentu, dan tak terdefinisi. Simbol dan nilai-nilai tersebut digambarkan seperti bentuk alis manusia yang berliku. Mungkin itu sebagai tanda kebingungan. Sulitnya operator pembagian ini mungkin menjadi penyebab sulitnya berbagi dalam hidup.
Salah satu perhitungan yang menyebabkan munculnya nilai unik ini adalah pembagian 1 dengan 0. Perhitungan ini menarik karena dapat dianalogikan dengan kehidupan kita. Satu dapat dilambangkan dengan Satu Energi Yang Maha Besar, Yang Maha Mencipta Semesta. Nilai nol dianalogikan dengan keikhlasan hati manusia dalam menjalani hidup. Ketika Yang Satu itu (1) membagi atau memberi (/) kepada yang ikhlas (0), maka hasilnya menjadi tak terukur logika. Inilah satu momen dimana logika matematika bertemu dengan kelembutan religi. Sungguh sulit sekaligus indah. Sulit untuk menjadikan diri kita seutuhnya ikhlas (nol). Namun, sulit tak memiliki korelasi dengan kemustahilan. Kita semua sedang berusaha mencapai titik ini, titik dimana angerah itu mewujud dengan indah.
Semoga bermanfaat!!

Selasa, 10 November 2009

Valentino Rossi dan Werner Heisenberg..


Bagi para pecinta MotoGP, Valentino Rossi bukanlah nama yang asing. Kemenangannya pada ajang MotoGP 2009 mengakibatkan namanya semakin dielu-elukan. The Doctor, sebutan untuk Valentino Rossi, telah memantapkan dirinya meraih gelar juara dunia MotoGP ke 9 dan menjadikannya sebagai lawan yang sulit untuk dikalahkan. Kecepatan motor yang sangat mengagumkan dan kelihaiannya menyalip lawan di tikungan menjadikannya sosok pembalap yang luar biasa. Selamat Bro..!
Di sisi lain, para fotografer yang berada di pinggir arena balap berusaha semaksimal mungkin untuk mengabadikan berbagai posisi para pembalap yang sedang berlaga. Itu bukan perkerjaan mudah. Selain membutuhkan kamera yang berkualitas tinggi, dibutuhkan juga keahlian khusus untuk mengambil gambar yang sedang bergerak dengan kecepatan tinggi. Cara yang paling sederhana adalah dengan mengambil sederet jepretan (snapshots) ketika objek (para pembalap) mulai mendekati daerah jangkauan cahaya kamera. Agar dapat hasil yang memuaskan, para fotografer biasanya memilih posisi di dekat tikungan. Hasil foto-foto tersebut, kemudian diseleksi dan dipilih yang terbaik.
Dalam bekerja, para fotografer harus berfokus pada posisi para pembalap, bukan pada kecepatan motor para pembalap tersebut. Akan sangat menyulitkan apabila seorang fotografer harus menafsirkan kecepatan motor pembalap ketika difoto pada posisi tertentu. Sudah ada tim lain yang memantau kecepatan para pembalap tersebut, termasuk pembalap yang bersangkutan. Artinya, pengukuran posisi dan kecepatan suatu objek tidak dapat dilakukan secara tepat satu sama lain pada waktu bersamaan, Semakin tepat pengukuran terhadap posisi, maka akurasi pengukuran kecepatan akan menurun. Begitu pula sebaliknya. Hal ini telah diungkapkan Werner Heisenberg pada tahun 1927 dan dikenal sebagai prinsip ketakpastian (uncertainty principle).
Prinsip ini penting mengingat banyak sekali pergerakan di alam semesta. Bahkan, benda/materi yang tampak diam pun, tidak benar-benar diam. Elektron sebagai partikel elementer penyusun materi melakukan pergerakan secara terus-menerus mengelilingi inti atom. Semuanya bergerak, namun tak selalu tampak. Entah apa yang terjadi bila sedetik saja elektron itu diam, tidak mengelilingi inti.
Ada hal yang menarik dari prinsip ketakpastian ini. Hidup kita seringkali diisi oleh usaha pencapaian target yang membutuhkan kecepatan tertentu. Semua orang memiliki kecepatannya masing-masing tergantung target yang ingin dicapai, waktu yang disediakan, dan tenaga yang dimiliki. Ada yang terbiasa dengan kecepatan tinggi, ada pula yang santai dengan kecepatan yang lebih rendah. Semuanya mendapatkan hasil masing-masing. Kecepatan itu penting, tetapi posisi juga menentukan. Agar posisi tampak jelas, kurangi sedikit kecepatan itu. Lihat dimana kita berdiri sekarang, sehingga mampu menerapkan strategi-strategi yang jitu untuk pergerakan lebih lanjut. Mungkin ada benarnya seseorang yang mengatakan bahwa hidup itu dapat dipahami bila kita melihat ke belakang dan dapat dijalani bila kita melihat ke depan. Kita membutuhkan posisi untuk melihat dan menafsirkan kedua dimensi tersebut dengan cara mengurangi kecepatan pergerakan pencapaian target dalam hidup. Namun, jangan jadikan ini sebagai alasan untuk diam dan terus bersantai. Bergeraklah untuk kemajuan diri, Bangsa, dan Negara. Selamat Hari Pahlawan!

Senin, 09 November 2009

Karena Nol tidak selalu Kosong..


Aku teringat masa-masa sekolah dulu. Suatu masa yang penuh dengan gejolak dalam meraih cita dan cinta. Berangkat pagi-pagi ke Sekolah untuk memanfaatkan beberapa menit yang tersedia sebelum bel tanda masuk berbunyi untuk mengerjakan PR yang tertunda karena bermain super nintendo semalamam. Duduk manis di dalam ruang kelas hanya untuk menunggu bel tanda istirahat dan bel pulang. Membawa banyak buku pelajaran ke sekolah sambil berharap dihampiri seorang teman akrab, yang dengan cerianya mengatakan, “Hari ini kosong, guru-guru pada rapat semuanya!”. Tobat…tobat…!! Ampun Bu guru…! Ampun Pak guru…! Ampun Bu penjaga kantin…! (lho?)
Berbicara mengenai kata kosong, ada sesuatu yang menarik. Seringkali kosong dikaitkan dengan suatu angka, yaitu nol. Pada beberapa kasus, kedua istilah ini dapat dianggap sama. Tidak semua nol berarti kosong. Begitu pula sebaliknya. Kosong dapat diartikan ketidakhadiran sesuatu atau ketidakberisian (pada contoh di atas, kosong dapat diartikan ketidakhadiran guru-guru di kelas), sedangkan nol merupakan salah satu nilai numerik tak negatif. Kosong lebih mengarah pada sifat ruang (berdimensi 3), sedangkan nol dapat berfungsi pada sistem 1, 2, ataupun 3 dimensi.
Kapan kedua istilah ini dapat dianggap memiliki makna yang sama? Misalkan, ada 9 buah jeruk di atas meja. Jeruk-jeruk tersebut dimakan sampai habis, kemudian kulit dan bijinya dibuang di tempat sampah. Ada berapa jeruk yang tersisa di atas meja? Jawabannya, sudah tidak ada jeruk yang tersisa di atas meja (kosong/ketidakhadiran jeruk di atas meja). Itu berarti juga nilainya sama dengan nol (9-9 = 0).
Kedua istilah tersebut akan bermakna berbeda satu sama lain ketika kita berbicara tentang himpunan matematika. Misalkan, Budi memiliki himpunan bilangan cacah yang kurang dari 1, sedangkan Badu memiliki himpunan kosong. Mereka sama-sama memiliki himpunan matematika, tetapi berbeda dari segi isi. Budi memiliki bilangan 0, sedangkan Badu tidak memiliki bilangan apapun dalam himpunannya (kosong). Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa nol pun suatu nilai dan sangat bermakna. Oleh karena itu, jangan pandang rendah angka nol. Teknologi komputer yang berkembang sampai saat ini dibangun dengan memanfaatkan banyak bilangan berbasis satu dan nol. Semakin banyak nol yang disisipkan di belakang nilai uang, maka pertambahan nilai uang tersebut semakin tinggi.
Aku tidak akan mengungkit bagaimana sebagian besar dari kita mengucapkan nomor handphone saat membeli pulsa. Itu hanya permainan kata-kata saja. Yang terpenting, kedua belah pihak saling mengerti dan pulsa handphone telah bertambah.
Banyak hal di dalam hidup kita yang dapat disamakan satu sama lain dalam beberapa kondisi, namun tidak pada kondisi yang lain. Jarang, atau bahkan tidak ada sama sekali 2 hal yang memiliki kesamaan pada seluruh segi kehidupan. Pasti ada perbedaannya, walaupun di satu titik yang kecil. Itulah yang menjadikannya indah...menjadikannya tampak bermakna. Merasa baik ketika perbedaan itu tiba pada suatu kondisi tertentu menjadikan kita sebagai pribadi yang penuh dengan rasa hormat.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 05 November 2009

Harapan Tak Berbeban..


Suatu ketika aku mendengar sebuah pernyataan menarik dari seorang kawan tentang harapan. Dia mengatakan, “Jangan terlalu banyak berharap, nanti kecewa!”. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam suasana persahabatan yang cukup santai. Bila ditelaah lebih dalam, pernyataan tersebut mungkin juga ada benarnya. Segala sesuatu yang melebihi takaran atau sering disimbolkan dengan kata “terlalu” tidak jarang memberikan dampak yang kurang baik. Terkadang, sulit bagi kita untuk cepat merasa cukup dalam pencapaian sesuatu. Bahkan, seringkali terlihat, terdengar, dan terasa tabrakan-tabrakan keinginan dan kepentingan yang berujung pada kebahagiaan di satu sisi dan kekecewaan di sisi yang lainnya. Itulah hidup.
Ada yang puas hanya dengan berjalan kaki, ada yang ingin terus berlari, bahkan ada yang ingin terbang tinggi agar memiliki jangkauan pandang yang lebih luas dibandingkan yang lainnya. Selama semuanya nyaman dengan aktivitas masing-masing tanpa ingin mengganggu yang lainnya, mungkin dunia akan terasa lebih damai.
Maaf bila mata ini salah memandang, tapi yang sering terlihat justru bentrokan keinginan yang menimbulkan perpecahan. Banyak yang belum merasa bahagia dengan pencapaiannya selama ini karena hidup dalam standar kebahagiaan orang lain, bahkan tidak sedikit yang tidak tahu apa yang membuatnya hidup bahagia di dunia ini. Untuk kasus yang terakhir, mungkin disanalah pentingnya sebuah harapan.
Pernah, pada suatu ketika, aku berada pada masa-masa ketika aku tidak tahu apa yang menjadi keinginanku, sehingga sulit merasa bahagia. Apa yang terjadi dalam hidup dianggap sebagai sebuah fenomena alam yang sudah seharusnya terjadi. Realitas tidak tercermin sebagai sebuah harapan yang mewujudkan dirinya bak merekahnya bunga mawar. Yang terjadi selanjutnya adalah ketidakhadiran rasa syukur yang mengakibatkan tak tersentuhnya dinding-dinding kebahagiaan dalam hati. Tidak ada sensasi layaknya seorang jagoan yang berseru, “Inilah yang aku inginkan!”. Kita memang tidak bisa melawan takdir, tetapi kita tidak dilarang untuk memperbaiki nasib dengan usaha dan doa.
Mengapa kita perlu berdoa? Apakan Tuhan Yang Maha Sempurna itu tidak mengetahui keinginan-keinginan kita? Bukan Tuhan yang tidak tahu, tetapi kita yang seringkali masih bingung dengan keinginan-keinginan kita, sehingga anugerah-Nya tidak disadari sebagai suatu kehadiran yang patut disyukuri. Belum sampai anugerah itu menyentuh bumi, sebagian dari kita sudah sibuk dengan keinginan yang lain. Yang lainnya sedang kebingungan seraya bertanya, “Aku kan minta ikan, kenapa dikasi kail?”. Sisanya lagi sedang sungguh-sungguh bertanya, “Kapan Engkau hadirkan kepadaku, ya Tuhan?”.
Ada hal-hal dalam hidup yang terkadang bukan perwujudan dari harapan-harapan kita sebelumnya. Beban harapan muncul ketika kita dengan sombongnya mengambil alih semua kehendak jawaban atas harapan-harapan kita tanpa mengizinkan Tangan-Tangan Yang Maha Lembut itu mengambil bagian. Kita terlampau angkuh untuk meminta semua yang kita inginkan tanpa mau menerima apa yang kita butuhkan. Namun, dengan berhenti berharap, kita telah dengan sengaja menutup hati kita akan kehadiran kuasa Sang Pengabul Doa. Menjadikan harapan sebagai beban malah semakin mengunci pintu keikhlasan. Sulit memang untuk membuka pintu keikhlasan, tetapi setidaknya jangan sampai kita sengaja untuk menguncinya. Biarkan perlahan-lahan terbuka oleh penerimaan-penerimaan kita akan karunia-Nya yang membungkus semua harapan-harapan kita. Semoga bermanfaat.

Rabu, 04 November 2009

Serendah Iri Hati, Setinggi Kesombongan..


Langit selalu menyajikan pemandangan yang sarat akan makna. Mentari, bulan, bintang, dan awan datang dan pergi silih berganti memainkan perannya masing-masing dalam pentas cakrawala. Sambutan hangat pun tersaji indah di balik kicauan burung-burung, lambaian ranting pepohonan, kepulan kabut pegunungan, dan riuhnya ombak di pantai. Semuanya tampak menakjubkan. Tersaji kebahagiaan yang menawan di tempat serendah bumi dan setinggi langit. Batas antara langit dan laut pun menjadi samar ketika keduanya membentang seluas mata memandang. Berpelukan begitu mesra seolah mengabaikan ketinggian dan kerendahan masing-masing. Adakah tersirat makna di dalamnya?
Seringkali dalam kehidupan ini kita bertemu hal-hal yang dapat merendahkan dan meninggikan diri. Berhadapan dengan pujian membuat kita menjadi semakin tinggi. Berdampingan dengan cacian mengakibatkan kerendahan diri yang sulit dielakkan. Sungguh manusiawi. Namun, akan menjadi penghalang pertumbuhan kualitas hidup kita apabila kesombongan dan iri hati turut berpartisipasi. Aku bukanlah pribadi yang tidak pernah menyombongkan diri akan sesuatu ataupun iri terhadap sesuatu. Akan menjadi sulit bagiku untuk menuliskan tentang kesombongan tanpa pernah merasa sombong. Begitu pula dengan iri hati. Aku hanya pribadi yang baru tersadar bahwa kedua sikap ini merupakan penghalang terbesar pertumbuhan kualitas hidup manusia.
Kesombongan telah menjadikan kita pribadi yang sulit untuk tumbuh lebih tinggi dalam kualitas-kualitas yang membanggakan. Kesombongan telah menghentikan langkah-langkah kita mencapai pembaharuan-pembaharuan yang menyegarkan. Logika tak terbuka, sehingga sulit menampung ide-ide baru. Hati sudah terkunci, sehingga sulit berempati. Mata dan telinga pun telah tertutup dengan rapi. Adakah yang ingin menjadi individu yang terhenti? Akan ada perhentian di suatu saat nanti, namun dengan kesombongan kita telah berhasil menciptakan perhentian akhir yang lebih awal daripada yang seharusnya.
Sama halnya dengan sombong, rasa iri pun merupakan pembatas kualitas hidup manusia. Dengan iri berarti kita telah dengan sengaja menempatkan diri kita lebih rendah dibandingkan kualitas-kualitas yang membanggakan. Iri adalah perwujudan pelarian ketidakmampuan kita untuk mencapai kualitas-kualitas tertentu yang lebih baik. Dengan kata lain, kita telah membuat jarak terhadap kualitas hidup yang lebih baik, sehingga menjadikan kita individu yang sulit untuk dihargai dan tidak pantas untuk dipuji. Menjadikan kita pribadi yang ragu atas pencapaian-pencapaian yang lebih baik. Terlebih lagi, menjadikan kita ragu akan kemahakuasaan Ilahi yang mampu menyentuhkan anugerah-anugerah-Nya agar kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi jelas bahwa tidak ada yang lebih merendahkan diri selain rasa iri yang disertai dengki.
Hidup menyajikan segudang pilihan. Ingin bebas atau terbatas dalam kualitas. Kesombongan dan iri hati adalah pembatas yang tepat bila diinginkan. Menghilangkan keduanya berarti menyiapkan diri untuk terbang bebas menggapai kualitas tanpa batas. Maaf atas semua tindakan yang sempat mengantarkanku kepada pembatasan-pembatasan ini. Mudah-mudahan menjadi pembelajaran yang indah mencapai kedewasaan dalam bersikap.

Kamis, 29 Oktober 2009

Chemistry is all about life..!!


Catatan ini bukan semata-mata untuk menyombongkan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam, bukan pula untuk merangkum segala isi alam semesta dalam satu kata, yaitu kimia, terlebih lagi bukan untuk ajang promosi salah satu jurusan terkenal di ITS. Buang semua pikiran itu..! Catatan ini dimaksudkan untuk sedikit memotivasi teman-teman yang karena angin nasib dipertemukan secara mendadak dengan tabung reaksi, erlenmeyer, buret, spatula, botol semprot, dan pengaduk. Jangan mengeluh, apalagi pindah jurusan, jalani saja dengan ikhlas..!
Sebagai seseorang yang pernah menduduki bangku kuliah selama 4 tahun di jurusan kimia, aku tidak asing lagi dengan istilah bahan kimia. Bahan kimia tersebut ada yang berbahaya dan banyak sekali yang bermanfaat bagi kehidupan. Berbicara mengenai bahan kimia, aku teringat percakapan seorang ibu dan pedagang tahu di pasar;

Ibu : “Pak, kok tahunya agak keras, pasti pake bahan kimia ya?”
Penjual tahu (PT) : “Nggak kok Bu, ini tahu baru. Percaya deh...Rasanya enak, harganya murah!!”

Sepintas percakapan tersebut sangat sederhana, namun telah sukses menggeser makna dari “bahan kimia” ke arah konotasi yang negatif. Sekarang, yang menjadi pertanyaan selanjutnya terkait percakapan di atas adalah, apakah mungkin penjual tahu tersebut membuat tahu tanpa bahan kimia? Apakah dengan segenap tenaga dalamnya, penjual tahu tersebut berhasil mensintesis tahu? Aku tidak perlu menjelaskan pembuatan tahu mulai dari penanaman bibit kedelai, tapi yang jelas bahan-bahan pembuat tahu adalah bahan kimia. Bahkan, tidak ada satu bahan pun di dunia ini yang tidak merupakan bahan kimia. Oksigen yang kita hirup, tempe penyet yang kita makan, air yang kita minum, obat yang kita konsumsi, dan tanah yang kita injak saat berjalan tidak lain dan tidak bukan adalah bahan-bahan kimia. Bukannya mau sombong, tapi ini fakta dan merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Eyang J.W. Dobereiner, Mbah J.A.R. Newlands, Bang Dmitri Mendeleyev, dan Mas Lothar Meyer yang dengan susah payah menyusun tabel periodik unsur-unsur kimia.
Ada juga percakapan yang masih kuingat sampai sekarang dengan seseorang yang bernama Burhan (bukan nama sebenarnya). Petunjuk : Kalimat dalam tanda kurung adalah perkataan dalam hati dan tidak diucapkan secara terang-terangan.

Burhan : “Denger-denger sekarang udah kuliah ya? Dimana?”
Yuda : “Iya dong, di ITS Surabaya.”
Burhan : “Ngambil jurusan apa?”
Yuda : “Jurusan kimia.”
Burhan : “Wah, pasti udah bisa bikin bom ya?!”
Yuda : “(Ya, buat ngebom rumahmu!!) Nggak kok, belum sampe sana pelajarannya.”
Burhan : “Nanti kalo udah bisa, ajarin ya!”
Yuda : “(Ya pasti dong, kamu kan korban pertamaku) Iya deh, tapi jangan untuk hal-hal yang negatif ya!”

Aku tidak tahu Burhan bercanda atau tidak, tapi yang lebih penting lagi penilaiannya tentang ilmu kimia sendiri sangat sempit, hanya sebatas bom. Banyak orang awam, yang tidak berkecimpung langsung dalam bidang kimia, memandang ahli-ahli kimia adalah orang-orang yang mahir dalam pembuatan bom. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah karena tidak semua orang bisa merakit bom tanpa pengetahuan kimia yang memadai, tetapi tidak bisa dijadikan tolak ukur penilaian ilmu itu sendiri. Kimia itu luas Bro...! Luas...!!

Ada juga percakapan yang cukup memilukan hati terkait ilmu kimia ini. Tapi orang yang berbicara sudah kumaafkan lahir dan batin.

Miss. X : “Ilmu kimia yang kalian pelajari di bangku kuliah hanya akan terpakai tidak lebih dari 5% di dunia kerja.”
Yuda : (Mbak dapet data dari mana? Tahun berapa? Yang buat masih hidup nggak? Sample perusahaannya apa aja? Simpangannya berapa? Udh di uji-t belum? Kalo aku jadi dosen, pasti lebih dari 5% donk?! Nggak mungkin kan dosen kimia pake hanya 5% ilmu kimianya?!)
Miss. X : “Oleh karena itu, siapkan dirimu menghadapi tantangan dunia kerja!”
Yuda : (Gimana kalo Mbak aja yang t’tantang berkelahi?)

Semangatnya sih boleh, tapi jangan pake data yang merendahkan kualitas ilmu kimia donk! Gimana mau semangat belajar kalo tahu bahwa ilmu kimia yang dipake cuma sedikit dalam dunia kerja? Teruslah belajar, kejar ilmu setinggi langit, jadikan bermanfaat bagi Nusa, Bangsa, dan agama. Kita tidak bisa hitung persentase ilmu yang kita serap, kita lupakan, dan kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada rumusnya. Semua pengetahuan yang kita miliki pada akhirnya membentuk karakter kita, dan menjadikan kita pribadi yang unik. Perhitungan seperti itu sungguh tidak penting. Hitunglah sesuatu yang dapat meningkatkan motivasi kita dalam bekerja, berkarya, dan beramal. Lupakan saja semua rumus yang dapat melemahkan motivasi kita akan semua hal yang baik.
Teruslah berjuang dan berkarya, hidup Kimia, hidup Indonesia..!

Sabtu, 24 Oktober 2009

Satu Pusat Yang Sama (Cahaya Putih)..


Sesuatu yang nampak paling indah di langit ketika hujan mulai mereda dan matahari mulai bersinar kembali adalah pelangi. Paduan warnanya sungguh menyejukkan hati. Kehadirannya seolah-olah mengisyaratkan bahwa hujan telah berlalu dan mari kita sambut sesuatu yang baru. Warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu berpadu dengan komposisi yang seimbang. Komposisi yang saling mendukung satu sama lain untuk menyebarkan pesona keindahan langit. Langit pun tersenyum seraya mengetuk hati kita bahwa hidup bukan tentang dominasi, tetapi tentang keseimbangan menuju keindahan.
Ada yang tersurat, ada pula yang tersirat. Ada yang nampak, ada pula yang tersembunyi penuh makna. Begitulah cara alam mengajar kita. Keindahan warna pelangi ini pun menjadi satu materi penuh arti.
Warna hadir secara khas dengan tingkat energinya. Rentang panjang gelombang tertentu pada cahaya tampak menghadirkan warna tersendiri. Sebagai contoh, warna merah memiliki panjang gelombang yang lebih panjang daripada warna hijau, sedangkan warna ungu memiliki panjang gelombang yang lebih pendek daripada warna hijau. Hal inilah yang sesungguhnya menjadi alasan ilmiah mengapa seseorang cenderung menyukai warna tertentu. Ada kesesuaian tingkat energi yang dibawa oleh warna tersebut dengan tingkat energi emosi seseorang. Tidak ada satu warna yang lebih baik dari warna yang lain. Semuanya berada pada rentang panjang gelombang yang tepat.
Keseluruhan rentang panjang gelombang cahaya tampak dikandung oleh sebuah cahaya, yakni cahaya putih. Putih sesungguhnya bukanlah warna, tetapi lebih kepada kesan yang ditimbulkan oleh kehadiran warna-warna (mejikuhibiniu) dengan proporsi yang seimbang. Pengertian ini dapat diperkuat dengan memerhatikan perputaran sebuah benda/bangun berbentuk lingkaran yang telah diberikan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna-warna tersebut berada pada posisinya masing-masing dalam lingkaran dengan proporsi yang sama satu sama lain dan berputar pada SATU PUSAT YANG SAMA, sehingga cahaya putih merekah dengan indah. Titik pusat inilah yang menjadi penyebab beragam warna yang ada memancarkan cahaya putih. Tidak ada lagi perbedaan, semuanya tampak satu. Tidak ada dominasi dan arogansi, hanya tentang keseimbangan...itu saja. Tampak sederhana, namun penuh makna.
Mungkin hanya ini yang dapat aku bagi dengan segala kekurangan yang ada. Memang terlampau mudah untuk mengetahui tanpa memahami, untuk memahami tanpa merasa, dan merasa tanpa bertindak. Bila hal kecil ini bisa memberi sedikit inspirasi, aku sangat terhibur. Bila hal kecil ini menyebabkan satu langkah berarti, aku sangat bersyukur. Namun, bila tidak ada sedikit pun makna yang tertangkap, aku mohon maaf, mudah-mudahan kebaikan datang dari segala penjuru.

Kamis, 22 Oktober 2009

Semakin Dilupakan, Semakin Muncul..


Pernahkan teman-teman memiliki keinginan untuk melupakan sesuatu? Sesuatu tersebut bisa saja berupa hal, peristiwa, ataupun seseorang. Atau seberapa seringkah hal-hal yang ingin dilupakan tersebut muncul kembali dalam benak teman-teman sekalian? Cukup jawab kedua pertanyaan tersebut dalam hati saja, jangan berteriak..(please!) karena akan sangat mengganggu rekan di samping Anda yang sedang online juga...hehe.
Banyak diantara kita (termasuk penulis) sering merasa amat kesulitan untuk melupakan suatu peristiwa atau kejadian di masa lalu, entah itu berupa momen-momen indah bersama orang terkasih ataupun tragedi dan bencana yang mengguncang jiwa. Namun, disisi lain seringkali dengan tanpa bersalahnya kita melupakan nama teman yang baru beberapa detik saja berkenalan dengan kita, melupakan rumus luas bangun prisma tegak segitiga yang baru beberapa saat kita hapalkan, atau melupakan hutang-hutang finansial kita di masa lalu. Semuanya tidak terlepas dari kinerja otak kita.
Sesuatu menjadi sulit dilupakan seringkali karena sesuatu tersebut telah sukses menyentuh tidak hanya ranah logika, tetapi juga perasaan. Banyak orang mudah melupakan sesuatu karena tidak menyentuhkan sesuatu tersebut ke dalam emosinya. Tidak merasa begitu berminat atau tertarik terhadap sesuatu, sehingga menjadi sangat mudah untuk melupakannya. Banyak pasangan kekasih mengingat tanggal jadian mereka karena emosi kegembiraan mereka terlibat langsung dalam momen bersejarah itu. Namun, apa yang terjadi saat siswa SD kelas IV ditanyakan tentang tanggal kelahiran Raden Ajeng Kartini? Sebagian siswi antusias membuka buku sejarah mereka karena merasa naluri kewanitaan mereka terpanggil, dan sebagian lagi lupa dan acuh tak acuh karena menganggap peristiwa tersebut terjadi jauh hari sebelum mereka lahir. Hal ini membuktikan bahwa banyak diantara siswa SD tersebut yang tidak hadir saat kelahiran R.A. Kartini, sehingga emosi mereka pun menjadi tidak tersentuh..(lho?)
Banyak hal yang menyebabkan seseorang sulit melupakan suatu kejadian. Bisa karena kejadian tersebut terlalu pahit atau bisa juga karena terlalu manis untuk dilupakan (grup band Slank). Sebelum melupakan sesuatu, kita harus tahu objek yang akan dilupakan. Proses mencari tahu objek ini disebut dengan proses mengingat. Jadi, sebelum proses melupakan, terjadi proses mengingat. Inilah yang menyebabkan kita sulit melupakan. Lalu bagaimana caranya agar sesuatu itu bisa hilang dari ingatan? Bayangkan ada suatu lahan yang subur. Lahan tersebut ditumbuhi tanaman bunga matahari, namun ada satu tanaman lain yang tidak diharapkan kehadirannya. Proses melupakan sama halnya dengan mencabut paksa tanaman tersebut yang pada akhirnya menjadikan lahan rusak akibat pergerakan akarnya yang mendadak. Lantas bagaimana caranya agar tanah tidak rusak? Caranya yaitu dengan tidak merawat tanaman tersebut dan membiarkannya mati yang pada akhirnya menjadikannya pupuk bagi lahan.
Semuanya butuh waktu dan tentu saja melibatkan kesabaran. Itu semua dilakukan agar lahan/tanah tetap subur. Proses melupakan yang disertai dendam sama halnya dengan memberikan racun bagi tanaman yang tidak dikehendaki keberadaannya. Tanaman tersebut memang akan mati, namun lahannya pun akan rusak yang tidak jarang disertai kematian tanaman-tanaman lain yang diharapkan keberadaannya. Proses merawat bunga matahari dengan menyiram dan memberi pupuk sama halnya dengan memberi emosi-emosi positif yang datang dari lubuk hati, sehingga bunga matahari tetap mekar dan tumbuh dengan subur. Sebagai penutup, marilah kita rawat bersama hamparan lahan dimana seluruh bunga matahari mekar dengan indahnya.

Rabu, 21 Oktober 2009

Doa adalah Katalis Terbaik..


Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan seorang teman tentang mekanisme reaksi yang terjadi pada roti yang telah diberi label "terima kasih" dan "kamu bodoh" (percobaan dengan menggunakan roti ini tertuang dalam catatanku yang berjudul "Ketika Air sedang Mengajar (Part 2)"). Tidak mudah menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan mekanisme reaksi, apalagi bahan yang aku gunakan sebagai objek penelitian hanyalah 3 potong roti. Banyak faktor pendukung yang dibuat tidak berbeda satu sama lain (berat roti, kondisi botol, dan kondisi tempat penelitian). Perbedaannya hanya terletak pada label dan kata-kata yang diberikan. Dan sekarang, aku akan mencoba menjawabnya melalui pendekatan teori katalis.
Katalis adalah suatu zat yang berperan sebagai pemercepat reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi reaksi tersebut. Dengan kata lain, katalis adalah pihak ketiga yang menyebabkan suatu reaksi berjalan lebih cepat daripada seharusnya (tanpa diberi katalis). Bila pengertian di atas masih terlalu rumit, anggaplah katalis sebagai "makcomblang" yang menyebabkan terjalinnya hubungan satu orang dengan orang lainnya menjadi lebih cepat. Dalam menjalankan tugasnya, katalis pun mengambil bagian dalam reaksi, tetapi tidak mengalami perubahan kimia yang permanen (be careful Guys!). Mengingat perannya sebagai "makcomblang" inilah, maka proses pemilihan katalis menjadi sangat penting adanya.
Konsep di atas merupakan konsep katalis berbasis materi (zat). Terkait dengan "percobaan roti", aku akan mencoba memaparkan sebuah konsep yang aku beri nama konsep katalis berbasis energi. Perbedaan kedua jenis katalis ini terletak pada wujudnya saja, namun memiliki fungsi yang sama, yaitu mempercepat reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasinya. Satu-satunya hal yang paling tepat untuk memaparkan konsep katalis berbasis energi ini adalah DOA. Doa adalah sepaket energi yang kita keluarkan dari lubuk hati menuju Energi Yang Maha Besar. Hati (Heart) merupakan pemancar energi yang sangat potensial dalam diri kita. Penelitian yang dilakukan HeartMath Institute menunjukkan bahwa medan magnet dari hati bahkan 5000 kali lebih kuat daripada yang ditimbulkan oleh otak (Franckh, 2009)
Agar dapat dibawa ke dunia luar, energi dari hati ini membutuhkan sebuah media. Media yang dimaksud terkenal dengan beberapa nama, diantaranya: medan kuantum, medan matriks, atau kuantum hologram. Medan energi ini memungkinkan kita terhubung dengan apapun dan dengan siapapun, secara sadar atau tidak. Menjadi jelaslah bahwa doa memberikan suatu mekanisme reaksi tersendiri terhadap sesuatu dan bekerja dalam dimensi energi.
Mohon maaf bila konsep ini mengaburkan perihal teknis karena bagaimanapun juga alam semesta tidak diciptakan untuk bisa dimengerti hanya oleh logika. Biarlah logika dan perasaan menempatkan dirinya masing-masing dalam memaknai hidup ini. Logika tanpa perasaan hanya akan mendatangkan keangkuhan, sedangkan perasaan tanpa logika menyebabkan kerapuhan. Bersyukurlah kita yang telah dianugerahkan-Nya logika dan perasaan ini.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Kasta: Perdebatan Sebuah Tangga


Tulisan ini dimaksudkan untuk melebarkan pemikiran-pemikiran yang semula terhimpit banyak pertanyaan, melapangkan hati yang semula kecil karena keraguan, dan mendinginkan emosi yang semula panas karena perdebatan. Aku bukan seorang ahli agama dan mungkin bukan orang yang tepat menuliskan hal ini, namun aku siap dan ikhlas. Siap untuk bertukar pikiran dan ikhlas untuk menerima saran. Aku hanya tidak ingin menjadi pribadi yang siap saat ini, namun terlalu lama menunggu sebuah ketepatan.
Banyak pertanyaan - dari rekan, kawan, maupun guru - yang pada akhirnya menjadi bara api semangat untuk menuliskan hal ini. Hal yang seringkali dianggap sebagai tradisi dan bahkan dianggap sebagai ajaran agama, khususnya agama Hindu.
Kata kasta bukan berasal dari bahasa Sansekerta, namun dari bahasa Portugis, Caste, yang artinya tingkatan-tingkatan. Kasta adalah stratifikasi masyarakat India pada masa lampau yang membeda-bedakan harkat dan martabat manusia berdasarkan keturunan. Munculnya kasta di India merupakan suatu persoalan yang banyak dikaji. E.A. Gait mengemukakan bahwa kemunculan kasta tidak terlepas dari kedatangan bangsa Arya. Bangsa Arya tidak suka perkawinan dengan suku lain yang dianggapnya lebih rendah derajatnya. Suku bangsa Arya di India menganggap suku Dravida lebih rendah harkat dan derajatnya. Dan seiring bergulirnya waktu, bangsa Arya kesulitan mendapatkan istri. Prof. Giles mengemukakan bahwa keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya percampuran darah antara suku bangsa Arya (yang berkulit putih) dengan bangsa Dravida (berkulit hitam). Percampuran suku bangsa Arya dan suku bangsa Dravida inilah yang mendatangkan pelapisan sosial yang tumbuh menjadi kasta (Wiana, 2006).
Kasta pada hakekatnya bertentangan dengan ajaran agama Hindu. Di dalam ajaran agama Hindu terdapat sebuah landasan konsepsi kemasyarakatan yang bersumber dari kitab suci dan dikenal sebagai CATUR WARNA. Warna berasal dari bahasa Sansekerta, dari urat kata Vri, yang berarti memilih lapangan kerja. Catur Warna membagi masyarakat Hindu menjadi empat kelompok profesi secara PARALEL HORIZONTAL, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Warna ditentukan oleh guna (sifat, bakat, pembawaan) dan karma (perbuatan). Jadi, warna tidak dibeda-bedakan berdasarkan kelahiran.
Mudah-mudahan konsep ini menjadikan kita lebih arif dalam menilai dan bersikap. Perbedaan hadir bukan untuk diperdebatkan, namun untuk dihormati keberadaannya. Memang tidak semua perbedaan adalah baik, namun yakinlah bahwa yang terbaik pasti berbeda. Tidak ada yang lebih memilukan hati daripada penilaian harkat, martabat, dan derajat manusia yang hanya berlandaskan kelahiran. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita hadir sebagai pribadi yang mampu menempatkan diri dalam keberagaman disertai cinta penuh penghormatan. Semoga damai di hati, di dunia, dan damai selalu.

Kamis, 15 Oktober 2009

Atom: Samudera Kerendahan Hati


Kata atom sudah tidak asing lagi di telinga para kimiawan, fisikawan, binaragawan, dan kawan-kawan sekalian. Secara sederhana, atom didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Dapat diartikan pula bahwa atom adalah penyusun suatu materi. Definisi ini cukup memberikan suatu gambaran sederhana bahwa ada sesuatu yang kecil sebagai penyusun sesuatu yang lebih besar. Banyak orang “beranggapan” (karena memang tidak dapat melihatnya) bahwa atom adalah penyusun terkecil suatu unsur. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena atom juga terdiri dari beberapa elemen penyusun, diantaranya elektron, neutron, dan proton. Apakah elektron merupakan elemen yang terkecil? Jawabannya tentu saja bukan karena masih ada kuark dan kawan-kawannya yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberi kebingungan baru terhadap definisi atom, hanya ingin membeberkan fakta sederhana tentang atom tanpa kehilangan segi keilmiahannya.
Banyak orang di zaman dahulu ingin meneliti “isi” dari atom. Bukan karena kurang kerjaan, tapi hanya dengan hal demikianlah seorang ilmuwan mempercayai sesuatu. Keingintahuan para ilmuwan tersebut membawa mereka hanyut dalam beragam penelitian. Hal inilah yang menyebabkan seseorang bernama Ernest Rutherford melakukan penelitian dengan menggunakan sinar alfa. Penelitian Rutherford terdiri atas penembakan foil emas tipis dengan menggunakan sinar alfa dan mengamati pembelokannya lewat kerlipan yang dihasilkan pada layar ZnS (seng sulfida). Yang paling menarik dari penelitian Rutherford ini adalah perilaku sinar alfa setelah ditembakkan dan mengenai foil emas tipis tersebut. Ada sinar yang terbelokkan dengan sudut yang besar, sebagian kecil “dipantulkan” oleh sesuatu, dan sebagian besar bergerak lurus melewati foil. Ini berarti bahwa sebagian besar atom tersebut terdiri atas ruang hampa (kosong) sehingga sinar alfa dapat menembusnya tanpa mendapat halangan sedikitpun dan sebagian kecilnya terdiri atas sesuatu yang kemudian dikenal sebagai inti atom.
Menjadi begitu bermakna ketika “kekosongan”atom ini menjadi dasar perilaku hidup kita. Tidak jarang dijumpai bahwa sesuatu yang tampak berisi sesungguhnya adalah kosong namun bukan tanpa arti. “Kekosongan” atom ini jangan diartikan bahwa tidak ada yang berguna dalam hidup. Apalagi sampai diartikan bahwa hidup itu hanya kekosongan belaka. Itu pengertian yang terlalu ekstrem. “Kekosongan” atom ini baiknya dimaknai bahwa kerendahan hati menjadi penting dalam hidup. Menjadi tidak sepantasnya kita menjadi angkuh karena menganggap diri paling “berisi” (paling pintar, paling ganteng, paling cantik, paling kaya, paling terkenal, dan paling berkuasa). Bila kita sulit mendapat pemahaman dari hal-hal yang besar, ada baiknya kita memahami hal-hal kecil. Dan atom telah mengajarkan kepada kita semua untuk menjadi “kosong” dalam “keberisian” yang tampak. Aku tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi hal yang indah. Aku pun ingin belajar untuk senantiasa berjalan dalam kedamaian hidup bersama kerendahan hati. Seorang guru pernah bertutur bahwa hidup itu harus besar dan luas, namun sederhana dalam sikap. Hal ini menyiratkan bahwa kesederhanaan bukan tumbuh karena kita tidak memiliki apa-apa, tetapi justru muncul karena kita memiliki banyak sekali hal yang tidak ada satupun diantaranya menjadi pantas untuk disombongkan. Sebagai penutup, mudah-mudahan hal yang kecil ini dapat menjadi samudera pemahaman bagi kita semua untuk selalu rendah hati dalam bersikap, sehingga kedamaian mewujud dengan ikhlas.

Sabtu, 03 Oktober 2009

Ketika Air sedang Mengajar (Part 2)


Thanks to Dr. Masaru Emoto..
Seandainya Bapak Masaru Emoto membuka blog ini dan memahami isinya, aku sangat terharu karena tulisan ini aku dedikasikan secara khusus kepada beliau dan secara umum kepada siapapun yang dengan sengaja atau tidak telah mengklik judul di atas.
Dari semua catatan yang telah aku buat, catatan ini yang paling berkesan. Bukan karena judulnya adalah lanjutan dari catatan sebelumnya, bukan karena aku penggila air, bukan juga karena ingin menyaingi Kang Habib yang telah menelurkan karya berjudul Ketika Cinta Bertasbih..(lho?), tapi karena telah aku buktikan sebelumnya bahwa ada satu kekuatan yang bisa mengubah segalanya.
Bukan tanpa alasan aku mengucapkan terima kasih kepada Dr. Masaru Emoto. Penelitiannya tentang air menunjukkan bahwa air membentuk kristal heksagonal paling indah jika diberikan kata “cinta dan terima kasih” dan tidak membentuk apapun atau malah menjadi kacau ketika diberi kata “kamu bodoh”. Bagaimana caranya? Pertama, air dimasukkan ke dalam botol gelas, lalu diberikan informasi ke air tersebut seperti sebuah kata, gambar, atau musik. Kedua, air diletakkan pada beberapa buah cawan petri (bagi yang bukan orang kimia silahkan search “cawan petri” pada Google agar diperoleh gambaran yang lengkap, terima kasih) berukuran diameter 5 cm. Ketiga, cawan-cawan ini dibekukan dalam freezer dengan suhu -25 derajat celcius atau lebih rendah. Tiga jam kemudian cawan-cawan tersebut dikeluarkan, maka terbentuk butir-butir es dengan bagian tengah yang membulat akibat tekanan permukaan. Setiap butir es lalu dilihat di mikroskop. Untuk melihat foto-foto kristal air yang telah diberikan informasi tertentu, silahkan membeli buku karya Masaru Emoto yang berjudul The True Power of Water di toko buku terdekat (bukan promosi, hanya menyarankan saja).
Tidak ingin kalah dengan pak Masaru, pada tanggal 28 Juli 2009 aku pun mencoba penelitian yang hampir mirip. Karena aku tidak memiliki mikroskop seperti yang dimiliki pak Masaru, maka objek penelitiannya diganti, bukan air, tetapi roti tawar. Roti tawar dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam 3 botol yang telah dicuci bersih sebelumnya. Botol pertama diberi label “kamu bodoh”, botol kedua tidak diberi label, sedangkan botol ketiga diberi label “terima kasih”. Ketiga botol kemudian ditutup rapat.

Hampir setiap hari botol itu kupandangi. Sesekali kupegang sambil kuucapkan dalam hati secara berulang-ulang kata-kata seperti pada labelnya masing-masing dengan penuh keyakinan dan keseriusan. Untuk botol yang tidak ada labelnya, aku tidak pernah menyentuhnya apalagi memberikan informasi berupa kata-kata. Hari demi hari berlalu hingga akhirnya aku sampai juga pada tanggal 3 Oktober 2009. Aku kaget, hampir tidak bisa berkata-kata. Sungguh, aku hampir tidak percaya. Mudah-mudahan gambar di bawah cukup menjelaskan.



Tidak perlu banyak berbicara. Cukuplah bentuk dan warna roti yang menjelaskan. Saudaraku, semua materi di dunia ini bisa berubah. Tidak ada yang kekal selain perubahan itu sendiri. Penelitian kecil ini mudah-mudahan menyadarkan kita semua akan kekuatan doa dan kebesaran Tuhan. Dr. Masaru Emoto telah membuka pikiran kita semua. Bukan tanpa alasan beliau memilih air sebagai objek penelitian karena air adalah penyusun utama tubuh kita. Pilihan sudah ada di depan mata, kita tinggal memilihnya. Tetap mengumpat atau terus bersyukur. Sebagai pesan terakhir, jangan lupa berdoa sebelum makan dan minum agar tubuh kita tetap sehat karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Salam olahraga….(“,)!!!!!

selsurya.blogspot.com

Jumat, 02 Oktober 2009

Sesungguhnya Tuhan tidak Murka..


Terdengar lagi rintihan anak bangsa diantara puing-puing bangunan yang runtuh, hancur, dan menyatu dengan tanah. Banyak orang yang mulai mengelus dadanya, berlari tak tentu arah menyelamatkan diri, dan berteriak meminta bantuan. Masih adakah yang bisa tertawa melihat saudara-saudaranya ditimpa bencana dan dengan sekejap dipanggil oleh Yang Maha Kuasa? Masih adakah yang hanya berdiam diri dan menganggap kejadian ini adalah hal yang biasa? Masih adakah yang sedang berpikir bahwa saat ini Tuhan sedang murka?
Sahabatku, manusia adalah sebaik-baik ciptaan-Nya. Diberikan akal, pikiran, dan hati nurani untuk berpikir jernih, berperasaan baik, dan berbuat untuk semakin mendekatkan diri pada-Nya. Masihkah ada dalam pikiran dan perasaan kita semua bahwa Yang Maha Baik itu menyimpan dendam pada kita sehingga harus melampiaskannya dalam bentuk kemurkaan? Masihkan hati nurani kita berbicara bahwa Yang Maha Mulia itu sudah begitu membenci ciptaan terbaiknya? Sungguh, jangan pernah berpikir demikian sahabatku, saudaraku, dan siapapun yang masih ingin dimuliakan oleh-Nya.
Pernahkan sesekali bercermin dalam diri seraya merenung bahwa apa yang terjadi di luar diri kita adalah buah dari pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan kita selama ini? Masihkan disangsikan lagi kebenaran hukum sebab akibat itu? Maaf bila terlalu banyak pertanyaan dalam tulisan ini. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab, hanya perlu direnungkan agar pikiran, kesadaran, dan perasaan yang telah jauh mendekat kepada-Nya.
Tidak menjadi indah ketika sifat murka disandingkan kepada Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang umat, Yang Maha Pemberi rezeki, Sang Pemelihara alam, Sang Juruselamat, Sang Pelebur Dosa, dan Yang Maha Tunggal. Manusia seakan-akan tidak mampu memikul tanggung jawab atas semua perbuatan di dunia ini dan dengan sengaja menyerahkan tanggung jawab itu kepada Sang Pencipta. Kembalilah ke dalam diri kita, Sahabatku. Renungkanlah segala perbuatan kita selama ini. Bersama-sama kita dekatkan diri dan kembali kepada-Nya. Tidak pernah terlambat bagi siapapun yang ingin menjadi seberuntung orang-orang yang bertobat. Aku pun ingin kembali, aku pun ingin mendekatkan diri setelah pergi jauh…jauh sekali. Maafkan karena aku lupa bercermin, Tuhanku. Sesungguhnya Engkau telah memberikanku cermin hati yang tidak dapat menyembunyikan segala kelebihan dan kekuranganku.

Turut berduka cita atas tragedi gempa Sumatera dan tsunami Pasifik..Semoga senantiasa ada kesabaran diantara tetes-tetes air mata yang jatuh dan lantunan doa yang tulus dari banyak hati yang bergetar...

selsurya.blogspot.com, 2 Oktober 2009

Sabtu, 19 September 2009

Ketika Air sedang Mengajar (Part 1)


Sama seperti jutaan penduduk Indonesia lainnya, hari ini aku melakukan perjalanan menuju kampung halaman. Suatu tempat dimana aku dilahirkan, diasuh, dan dibesarkan oleh orang-orang tercinta. Hanya dengan mengingat semua kenangan itu, perjalanan yang akan menempuh waktu 4 jam di laut ini tidak akan terasa membosankan. Pukul 5 pagi, aku telah sampai di pelabuhan Padangbai dan segera menaiki kapal dengan nama Perdana Nusantara.Kapal ini cukup besar, sehingga tak mengherankan jika penumpang yang menaiki kapal ini pun cukup banyak. Belum lagi truk-truk yang mengangkut bahan-bahan makanan ikut ambil bagian. Perjalanan menggunakan kapal laut seperti ini bukan yang pertama kalinya aku lakukan, sehingga aku sangat yakin sekali bahwa banyak penduduk pribumi mencari tempat duduk untuk melepaskan kembali lelahnya dengan merebahkan tubuhnya pada kursi yang tersedia, apalagi matahari pun belum muncul di ufuk timur. Hal ini sangat berbeda dengan orang-orang non pribumi yang mencari tempat duduk sebagai tempat untuk membaca buku, dan tak jarang yang memang sengaja tak mencarinya karena ingin menikmati perjalanan laut dengan melihat pemandangan sekitar. Bukan maksud hati ingin menyinggung perasaan, hanya ingin bertutur bahwa ada banyak hal berbeda yang terjadi pada waktu yang sama. Sungguh indah..
Kapal laut berangkat tepat pukul 05.30 ditandai dengan suara bel yang cukup keras. Perlahan kapal ini meninggalkan pantai bergerak menuju laut. Menit demi menit berlalu, jam pun demikian, hingga pada akhirnya pelabuhan sudah tak terlihat lagi. Sepanjang mata memandang hanya hamparan permadani biru yang begitu mempesona. Kadang tenang, kadang bergelombang, seperti mengajarkan bahwa menjalani hidup tak selamanya harus berlari kencang, ada saatnya untuk menenangkan diri seraya berinstropeksi. Hamparan laut yang begitu luas dan dalam ini membuat aku semakin yakin bahwa kerendahan hati adalah hal yang penting. Letak lautan yang lebih rendah dibandingkan sungai dan danau menyebabkan seluruh aliran air bermuara padanya. Sikap rendah hati yang selalu terbuka menerima aliran cinta layaknya lautan yang menyerahkan dirinya secara ikhlas menerima aliran air dari segala penjuru.
Paduan yang sangat indah sekali ketika kapal laut yang terbuat dari logam yang sangat keras melaju di atas lembutnya kumpulan air yang membentuk laut, seperti bercerita bahwa ada keindahan ketika dua hal berbeda saling bekerja sama tanpa keinginan untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Sungguh indah sekali. Benar-benar tertampar rasanya ketika mengingat masa lalu yang tak jarang berselisih paham dengan orang lain karena tidak bisa saling menerima satu sama lain. Keangkuhan dan ego benar-benar menjadi tuan, masih merasa bahwa kebersatuan hanya akan memperkeruh suasana, dan yang terjadi sesuai dengan apa yang dirasa. Ingin rasanya mengulang masa lau dan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Ah…tapi itu sungguh sulit dilakukan. Maaf atas semua khilaf dan ketidakdewasaan itu.
Tidak cukup dengan tamparan itu, air menyindirku dengan wujudnya. Kelembutan air merupakan paduan antara dua zat yang dekat sekali dengan api, hidrogen dan oksigen. Hidrogen merupakan gas yang mudah terbakar, sedangkan oksigen adalah gas yang menyebabkan pembakaran itu terjadi. Dua gas “panas” ini bersatu pada keadaan yang tepat membentuk air yang begitu lembut. Seandainya saja aku lebih mampu mengolah semua zat panas (baca: emosi, benci, iri) dalam diri, tentu akan terbentuk kelembutan hati yang indah. Lagi-lagi aku harus meminta maaf.
Tak terasa air sudah banyak mengajariku hari ini, sudah banyak mengingatkanku akan kesalahan-kesalahan masa lalu, dan tak terasa pula telah sampailah aku di pelabuhan Lembar. Perjalanan 4 jam ini sungguh sangat berarti dan menyentuh hati. Sesaat lagi aku akan bertemu dengan orang-orang tercinta. Orang-orang yang penuh dengan kehangatan dan kelembutan. Aku kini telah kembali setelah sekian lama pergi. Banyak hal yang harus kembali, bukan hanya untuk semakin dekat, tapi juga untuk menyadarkan pentingnya suatu awal..(Mataram, 17 September 2009)

selsurya.blogspot.com