Kamis, 26 November 2009

Kesesuaian Frekuensi, Mungkin Itulah 'Chemistry'..


Bila ada satu kata yang paling sering aku dengar 4 tahun belakangan ini, itulah kimia. Bila ada satu hal yang paling membuat aku bangga sebagai seorang mantan mahasiswa, itu juga kimia. Bila ada satu ilmu yang penuh dengan reaksi, dengan yakin aku katakan, "Pastilah itu kimia!". Kimia, kimia, dan kimia. Satu ilmu yang telah berhasil menjebakku dalam rutinitas pencampuran, pendinginan, pemanansan, pembakaran, penguapan, pengeringan, dan hal-hal lainnya yang tidak hanya membutuhkan keuletan, tetapi juga kesabaran. Aku telah terjebak, namun di tempat yang tepat dan nikmat.
Bila kita mempelajari kimia, kita harus rela mempelajari sifat zat dan mempelajari reaksi yang menjadikan satu zat berubah menjadi zat lain. Hanya ada dua asas yang mendasari konsep kimia, yakni kekekalan materi dan kekekalan energi. Reaksi kimia merubah satu zat menjadi zat lain, namun jumlah materi yang terlibat sepanjang reaksi selalu kekal. Begitu pula dengan energinya. Jumlah energi yang terlibat dalam reaksi kimia selalu kekal. Hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan terhadap energi yang tidak dapat kita ciptakan dan musnahkan, yakni merubahnya dari satu bentuk ke bentuknya yang lain. Menariknya, bila cinta dipahami sebagai sepaket energi, maka kita tidak akan pernah bisa memusnahkannya. Itulah yang menjadi alasan mengapa sulit bagi kita melupakan seseorang yang pernah kita cintai. Melupakan sama dengan memusnahkan. Lebih baik kita berusaha merubahnya menjadi bentuk energi lain yang positif.
Kimia, yang dalam bahasa Inggris disebut juga chemistry, diartikan secara indah oleh Martin H. Manser. Menurut beliau, "Chemistry is scientific study of the structure of substances and how they combine together." Dua atau lebih zat yang berbeda bisa bersatu (combine together) secara sempurna bila menganut satu prinsip pencampuran, yaitu "like dissolves like" atau suka sama suka. Tidak ada yang sempurna selain Yang Maha Sempurna, maka dari itu diperlukan pengaturan suhu, emosi, untuk mencapai pencampuran yang diinginkan.
Belakangan ini, istilah chemistry mengalami pergeseran makna. Definisi yang semula bersifat 'scientific' bergeser ke arah yang lebih kepada 'interpersonal relation'. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa curahan hati sebagai berikut, "Mungkin belum ada chemistry diantara kita!", "Rasanya nyaman banget ngobrol ma kamu, serasa ada chemistry diantara kita!", "Mana ekspresinya? Nggak ada chemistry sama sekali di adegan tadi!", "Should i give a reason for it? just say.. its our chemistry that make it this way." Chemistry dalam konteks curhat di atas lebih tepat diartikan sebagai kecocokan daripada ilmu kimia itu sendiri. Namun, sebagai seseorang yang sempat bergelut dengan hal-hal ilmiah, aku tetap memilih definisi yang lebih rumit, yakni kesesuaian frekuensi. Kesesuaian frekuensi menyebabkan resonansi, turut bergetarnya sesuatu karena pengaruh getaran sesuatu yang lain. Dan pada akhirnya, kecocokan itu timbul karena adanya resonansi...dari dalam hati.
Semoga bermanfaat.

NB: Terima kasih kepada Myru Nana atas komentarnya yang sangat inspiratif tentang chemistry!

http://selsurya.blogspot.com/

1 komentar: