Sabtu, 10 Desember 2011

Diferensiasi - Fungsi = Sensasi


Sabtu malam ini cukup dingin. Surabaya Timur baru saja selesai diguyur hujan, walaupun masih menyisakan sedikit rintik. Malam minggu ini juga malam purnama, jadi semakin romantis saja nuansanya...(",). Beberapa jam lalu, aku bersepeda motor menuju daerah Kenjeran. Perjalanannya biasa saja sampai aku bertemu dengan dua orang ABG (Anak Baru Gede) yang memberiku inspirasi untuk menulis catatan ini. Suara sepeda motornya sudah nyaring dari belakang, kemudian mereka menyalipku, dan terus melaju hingga akhirnya berada jauh di depan sepeda motorku. Kedua lelaki bercelana pendek ini pula tidak mengenakan pelindung kepala sama sekali. Aku tidak tahu apakah ABG-ABG jaman sekarang dianugerahi kepala dengan tulang tengkorak yang sangat keras sehingga tidak perlu khawatir apabila terjadi gesekan dengan aspal pada kecepatan tinggi. Polantas memang sudah tidak bertugas lagi malam ini, jadi mereka cukup "aman". Namun, ada hal yang paling membuatku tidak nyaman, yaitu suara kendaraannya, sangat bising. Inilah yang dinamakan polusi suara. Aku yakin, motor tersebut tidak "berbunyi" sedemikian bisingnya ketika pertama kali mereka...ehm...maksudnya orang tua mereka membelinya. Dengan modal wawasan dari teman-temannya dan buku-buku perbengkelan sederhana, diubahlah suara motor yang "halus" menjadi lebih "bising". Melihat usia mereka, aku kira tujuannya tidak lebih dari sekedar menunjukkan eksistensi. Eksistensi yang dibalut sensasi dapat meningkatkan gengsi, tapi belum tentu meningkatkan prestasi.

Aku memang tidak terlalu paham mengenai permesinan, tapi aku "merasa" bahwa tindakan menaikkan tingkat kebisingan sepeda motor bukanlah suatu upaya meningkatkan kecepatan sepeda motor tersebut. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa design sepeda motor tersebut bukanlah design sepeda motor balap. Energi yang seharusnya dikonversi menjadi kecepatan "diambil sedikit" untuk meningkatkan bunyi, sehingga kecepatannya berkurang. Motor yang seperti ini adalah tipe yang "besar suaranya, tapi gak ada larinya". Namun, usaha mereka cukup memberiku inspirasi. Mereka telah mencoba melakukan suatu tindakan yang dinamakan modifikasi.

Istilah modifikasi bisa juga disamakan dengan istilah diferensiasi, suatu usaha menjadikan satu hal berbeda dari kebanyakan. Dalam ilmu pemasaran, diferensiasi itu penting, sejauh diferensiasi tersebut meningkatkan nilai guna (value in use) dari produk yang dipasarkan, sehingga meningkat pula kepuasan pelanggan. Aku ambil contoh produk minuman teh. Di Indonesia ini ada banyak sekali brand minuman teh, namun tiap-tiap brand memiliki diferensiasi yang jelas. Ada brand yang menjual teh original, brand lain menjual teh rasa buah-buahan, brand lain lagi menambahkan soda ke dalam teh. Semuanya memiliki ciri khasnya masing-masing. Begitu juga produk sabun. Ada sabun kecantikan, sabun kesehatan, sabun yang dapat memutihkan kulit, dan lain-lain. Ada hal yang memang sengaja dibuat berbeda dari yang lain untuk tujuan tertentu. Dalam bidang pemasaran, tentu saja tujuannya mengarah kepada peningkatan omzet penjualan dari sebuah produk.

Hal yang sama bisa kita lihat di industri musik. Banyak sekali penyanyi di Indonesia ini, ada yang solo, duo, trio, dan yang sekarang lagi "hot-hotnya" adalah boys band dan girls band Indonesia. Untuk tetap bisa mempertahankan eksistensinya, penyanyi solo harus memiliki diferensiasi dari penyanyi solo lain, baik dari warna suara, genre musik, gaya menyanyi, gaya berbusana, bahkan gaya bergoyang. Semua upaya itu memberi kesan hiburan yang berbeda kepada para pendengar dan penikmat musik. Imbas baiknya, diferensiasi tersebut dapat meningkatkan jumlah fans, sehingga semakin banyak "job" manggung, penjualan album meningkat, dan meningkatnya kesejahteraan penyanyi. Imbas baik tersebut tentu saja tidak terlepas dari manfaat yang dirasakan pendengar akibat diferensiasi yang dilakukan para penyanyi. Bila pendengar tidak mendapat manfaat dari diferensiasi yang dilakukan penyanyi, imbasnya akan berbeda, malah bisa-bisa mengarah kepada penurunanan popularitas dan penjualan album. Menjadi jelas sekarang bahwa diferensiasi tidak bisa lepas dari value in use. Sekarang barulah judul di atas menjadi jelas, diferensiasi yang tidak berimbas pada nilai guna/manfaat/fungsi hanyalah "diferensiasi kosong" yang dinamakan sensasi.

Sensasi dapat dianalogikan seperti ini: Lidah normal kita ini bisa mengecap 4 (empat) rasa, yaitu manis, asin, asam, pahit. Lidah bagian depan peka terhadap rasa manis, bagian samping kiri-kanan depan peka terhadap rasa asin, bagian samping kiri-kanan belakang peka terhadap rasa asam, dan bagian pangkal lidah peka terhadap rasa pahit. Lalu pedas bagaimana? Pedas itulah yang dinamakan sensasi. Jadi pedas bukanlah rasa, hanya sensasi, "tidak menempel di lidah". Begitu juga "diferensiasi kosong" yang hanya menimbulkan sensasi, tidak memberikan manfaat, sehingga tidak memberikan kesan mendalam di hati orang lain. Poinnya adalah, jangan takut menjadi berbeda, tapi beri juga manfaat bagi orang lain dari perbedaan yang dibuat. Dalam hal ini, kita harus sama-sama mengingatkan dan menguatkan.

Ketakukan menjadi berbeda seringkali muncul karena ketidaksiapan kita menerima respon dari orang lain yang seringkali "terpikirkan bernada negatif". Dipandang aneh, dicibir karena melakukan hal yang tidak dilakukan orang kebanyakan, diragukannya kompetensi, dan masih banyak lagi efek dari keputusan menjadi berbeda. Namun, selama niat kita untuk memberi manfaat bukan hanya bagi diri kita, tapi juga orang lain, yakinlah selalu ada jalan. Banyak orang-orang besar, yang namanya tertulis anggun dalam sejarah sains dan kitab-kitab agama, dihormati sampai saat ini, yang sikapnya dijadikan teladan, yang pola pikirnya diabadikan ke dalam rumus-rumus fenomenal, justru dulunya dipandang aneh oleh orang kebanyakan, bahkan dikucilkan karena konsep dan pola pikirnya berbeda dari khalayak. Bagiku, lebih baik dipandang "aneh", namun kita berani jujur kepada diri sendiri dengan menjadi diri sendiri daripada ingin dipandang "tidak aneh" dengan mengikuti pola-pola umum yang sebenarnya tidak sesuai dengan kepribadian kita. Be yourself...that's it! Selamat malam, selamat beristirahat!!


Surabaya, 10 Desember 201
Gambar diambil dari: http://my.opera.com/masyhudah/archive/monthly/?month=201001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar