Senin, 24 November 2014

Bisa-Bisanya

Seorang bapak keluar dari tempatnya menjahit, kemudian memberi tau saya bahwa tempat tambal ban ada di sebelah utara, sedangkan saya sedang berjalan menggiring sepeda motor ke arah selatan. "Kalau terus ke selatan, tidak ada tempat tambal ban...jadi putar balik saja..ada gang di sebelah kanan..masuk saja..tambal bannya di sekitar sana," kata bapak itu. "Oh begitu..terimakasih banyak ya, Pak!" jawab saya.
Saya berjalan sekitar 50 meter, tiba di sebuah gang, dan menemukan tempat tambal ban yang buka. Syukurlah. Setelah diperiksa, ternyata pentil bannya lepas, sehingga harus mengganti ban dalam. Tidak apa-apa, pikir saya. Tidak ada pilihan lain juga. Yang penting ban belakang sepeda motor saya bisa tertangani dengan baik, dan saya bisa pulang dengan mengendarai sepeda motor yang kondisinya sudah baik.
"Buka 24 jam, Pak?" tanya saya kepada bapak tukang tambal ban. "Nggak Mas, bukanya malam saja sampai jam 7 pagi. Siang sampai sore tutup." Hebat juga, pikir saya. Saya jarang menemukan tempat tambal ban sepeda motor yang bukanya malam sampai pagi hari. Dan ini pertama kalinya saya mampir ke tempat tambal ban jam 12 malam! Bersyukur masih ada orang-orang yang bekerja malam hari seperti bapak ini. Ternyata ada juga rejekinya walaupun buka tambal ban malam hari seperti ini. Dan saya yang ditugaskan mengantarnya malam ini. 
Setiap pertemuan tentu tidak terjadi begitu saja. Tidak terjadi secara kebetulan. Kalaupun kita menyebutnya kebetulan, itu adalah batasan logika kita dalam membangun alasan atau merancang sebab terjadinya sesuatu. Di sepanjang perjalanan pulang, saya masih tidak habis pikir, bisa-bisanya saya bertemu seorang bapak penjahit yang memberi tau saya tempat tambal ban. Bisa-bisanya juga saya bertemu bapak tukang tambal ban itu. Bisa-bisanya ban motor saya 'bermasalah' tengah malam seperti ini. Dan bisa-bisanya Anda menemukan tulisan ini dan membacanya! Ada sebabnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar