Senin, 24 November 2014

What We Accept, Transform

Ada seseorang yang tidak menyukai aktivitas memasak. Namun, sebagai seorang perempuan, dia merasa lingkungan seolah-olah menuntutnya untuk pintar memasak. Baginya, memasak itu rumit dan ribet, terlebih lagi dia tidak suka capek-capek membeli bahan-bahan makanan, kemudian mengolahnya. Lebih mudah dan praktis membeli makanan jadi di tempat makan. Simple.
Di jaman modern seperti sekarang ini, saya memang kerap bertemu dengan orang-orang, terutama perempuan, yang tidak menyukai memasak atau tidak begitu handal dalam memasak. But it's ok. Jaman berubah, dan bagi saya, setiap orang punya hobby yang berbeda-beda. Memiliki hal yang disukai dan tidak disukai. Tidak perlu dipaksakan untuk menyukai sesuatu yang sebenarnya tidak disukai.
Saya katakan kepada perempuan ini, "Tidak apa-apa bila tidak suka memasak. Itu oke. Lakukan saja apa yang kamu suka. Tidak ada yang salah dengan memasak, jadi tidak perlu sampai membencinya. Kamu hanya belum menyukainya saja, belum menemukan sesuatu yang menarik disana karena pikiranmu sudah membloknya dengan kata 'ribet'. Ada memang masakan yang perlu dimasak dengan 'ribet', namun ada juga yang praktis." Dalam banyak pertemuan dengannya, saya berulang kali mengatakan hal yang serupa dan mirip maknanya.
Bertahun-tahun berlalu, hal yang mengagumkan terjadi, kini perempuan itu suka memasak! Ketika bertemu saya, dia berkata, "Saya heran kenapa sekarang saya jadi suka memasak?! Hahaha...!" Saya juga ikut tertawa jadinya. Kini dia menyadari bahwa tidak semua aktivitas memasak itu ribet, ada juga yang mudah dan praktis. Saya sangat senang melihat perubahannya. Terutama saya menjadi semakin sadar bahwa dalam penerimaan, terjadi transformasi.
Seringkali kita berupaya mengubah seseorang untuk menjadi seperti ini dan seperti itu. Untuk menjadi seseorang dengan karakter yang 'baik' sesuai pandangan kita atau orang banyak. Namun, hal tersebut belum tentu nyaman dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Bisa saja orang itu 'berusaha berubah' sesuai dengan yang kita inginkan, namun bila dalam prosesnya dia merasa tidak nyaman, seperti sedang 'melawan sesuatu', akan ada titik jenuh yang menyeretnya kembali kepada pola lama. Dan setelah itu, bisa saja kita kecewa karena merasa orang tersebut keras kepala dan tidak mendengarkan kita.
Dalam penerimaan, kita memberi ruang bagi seseorang untuk merasa nyaman dengan sesuatu yang dianggapnya sebagai kekurangan. Dirinya akan merasa diterima dan dicintai. Dan ketika cinta itu muncul dalam dirinya, cinta itulah yang nantinya menggerakkannya untuk melakukan sesuatu. Untuk bertransformasi menjadi lebih baik. Tidak perlu kita 'berupaya mengubah' orang lain, biarlah rasa cinta di dalam dirinya yang menggerakkannya. Yang perlu kita lakukan adalah memberi ruang agar seseorang bisa lebih menerima dan mencintai dirinya sendiri, terutama mencintai kekurangannya sendiri. Ketika seseorang 'melihat' ada ruang yang lebih besar yang terisi cinta, sesuatu yang menakjubkan terjadi. Di dalam hidup ini, tidak ada yang lebih ajaib dari cinta, bukan?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar