Rabu, 23 Mei 2012

Dua Telinga


Ada perbedaan yang mencolok ketika lelaki dan wanita berbicara. Memang bukan sebuah kepastian atau teori baku, tapi setidaknya dengan memahami ini, kita bisa lebih mampu menempatkan diri ketika sedang terlibat dalam suatu pembicaraan. Sebagian besar wanita berbicara atau bercerita untuk menyalurkan apa yang ada di dalam hatinya. Bisa berupa perasaan sedih, marah, jengkel, sebal, bahagia, takut, dan lain sebagainya. Pengungkapan perasaan, itulah kuncinya. Dan mereka membutuhkan pendengar yang mampu menghargai dan memahami luapan-luapan perasaan itu. Mereka tidak terlalu membutuhkan solusi, hanya ingin didengarkan saja, agar hatinya plong. Bagi sebagian lelaki, ini mungkin masalah besar, lebih sulit dibandingkan menyelesaikan soal-soal kalkulus. Memahami perasaan wanita itu tidak mudah bukan saja karena tidak ada rumusnya, tapi juga karena terkadang wanita sendiri tidak tahu apa yang benar-benar diinginkannya…hehe. Berkebalikan dengan wanita, sebagian besar lelaki membutuhkan solusi ketika mengungkapkan satu atau beberapa hal. Mereka mengungkapkan permasalahan yang membutuhkan jalan keluar. Intinya begini, wanita cenderung mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya, sedangkan lelaki cenderung mengungkapkan apa yang bersemayam di otaknya. Cenderung. Berarti konsep ini tidak berlaku mutlak untuk semua wanita dan semua lelaki. Terkadang wanita juga bercerita untuk mendapatkan solusi dan adakalanya lelaki berbicara untuk mengungkapkan perasaannya.

Pada dasarnya, setiap orang ingin dihargai, ingin didukung, ingin dibantu untuk melempari dan mengenyahkan hal-hal yang tidak disukai. Dan berbagi cerita/saling berbicara adalah aktivitas yang memungkinkan terwujudnya hal-hal tersebut. Agar interaksi ini berjalan baik, tentu harus ada pihak yang berbicara, ada pihak yang mendengarkan. Kalau sama-sama bicara, akan ribut. Kalau sama-sama mendengarkan, jangkrik yang ribut..krik..krik..krik.

Aku sering sekali mendengarkan teman-teman bercerita, atau lebih tepatnya, teman-teman curhat. Tentang keluarganya, tentang cewek atau cowoknya, tentang hobinya, tentang aktivitasnya, dan banyak hal lainnya. Ada yang kuat bercerita berjam-jam, ada juga yang langsung berhenti bercerita ketika tahu bahwa aku sebagai pendengar curhat sudah tidur dengan pulas..hehe. Dan ini benar-benar pernah terjadi. Aku pernah melakukannya, saking tidak menariknya topik yang diceritakan. Karena pengalaman buruk itu, sekarang aku bertobat dan berusaha menikmati setiap cerita yang terlontar untuk aku dengarkan.

Ternyata mendengarkan itu ada seninya. Tidak semua orang ahli dalam hal ini, padahal hanya mendengarkan. Kita terkadang tidak sabar dan tidak tahan untuk turut berbicara. Bahkan juga sering menunjukkan reaksi fisik yang membuat kenyamanan orang yang bercerita menjadi berkurang. Mungkin karena ceritanya tidak penting bagi kita, ketidaksiapan kita untuk terlibat emosi dalam cerita tersebut, atau kita sudah bosan karena mendengarkan cerita tersebut berkali-kali dari orang yang sama. Meminimalkan hal tersebut, mari kita memaksimalkan dua telinga kita.

Sama seperti catatan yang berjudul dua pijakan, dua telinga ini lebih dimaksudkan kepada telinga psikis. Satu telinga digunakan untuk mendengarkan apa yang tersurat (konten cerita). Satu telinga lagi untuk mendengarkan apa yang tersirat (kandungan minat). Konten cerita tidak perlu dibahas lebih lanjut karena berkaitan dengan hal-hal yang diceritakan secara langsung. Untuk yang tersirat memang butuh kepekaan karena tidak diceritakan secara terang-terangan. Apa yang ingin dicapai pencerita, apa tujuannya, bagaimana ekspresinya adalah hal-hal yang tersirat. Perhatikan kata sifat yang digunakan dan kita akan tahu apa yang paling dibenci, disukai, diidam-idamkan, dan lain-lain. Hal tersebut mungkin tidak diungkapkan terang-terangan, tapi kita bisa sedikit “menerka” dari beberapa kata sifat yang digunakan.

Memfokuskan telinga pada konten cerita saja kadangkala membuat kita jenuh, kecuali bila cerita itu benar-benar menarik minat kita. Mendayagunakan satu telinga lagi untuk mendengar hal-hal yang tersirat bisa jadi sangat menyenangkan. Ada orang yang sangat ahli meniru mimik orang lain bercerita karena memerhatikan dengan jelas ekspresi orang tersebut ketika bercerita, meniru gaya bicaranya, suara bicaranya, dan mengetahui hal-hal yang dibenci atau disukainya. Ini pentingnya telinga yang kedua. Memang ketika kita mengaktifkan telinga yang kedua, fokus telinga pertama menjadi berkurang, namun pastikan kita cukup memahami apa yang kita dengarkan dengan mengangguk-anggukan kepala dan sedikit berdeham…he..em..(“,)

Menjadi pendengar yang baik sangat disarankan agar kita lebih mampu menghargai perasaan orang lain. Kita butuh orang lain untuk membantu, mendengarkan cerita kita, dan berbagi kebahagiaan dalam hidup ini. Terlebih lagi kita butuh orang lain untuk mengisi posisi titik buta (blind spot). Titik buta adalah titik yang tidak dapat kita lihat sendiri tanpa bantuan orang lain. Mata kita yang istimewa ini bisa melihat banyak hal, kecuali dirinya sendiri. Dan untuk melihat dirinya sendiri itu, dia membutuhkan cermin atau mata orang lain. Oleh karenanya, kita membutuhkan orang lain sebagai teman bercerita, berbagi nasihat, masukan, motivasi, yang kesemuanya adalah untuk saling melengkapi satu sama lain.

Surabaya, 23 Mei 2012
Gambar dikutip dari: http://jidhu.blogspot.com/2009/05/listen-to-your-heart.html

Sabtu, 19 Mei 2012

Tetap Mengalir..


Air...
Danau...
Sungai...
Parit...
Laut...
Selokan...
Kolam...
Sumur...
Bak...

Air...
Hujan...
Seni...
Limbah...
Ketuban...
Suci...
Awet muda...
Bah...

Air...
Asin...
Manis...
Tawar...

Air...
Biru...
Hijau...
Merah...
Bening...

Tetaplah air,
Mungkin berguna, mungkin tidak,
Namun, tetaplah air..
Yang ada saatnya nanti berpelukan di samudera,
saling bersapa dalam awan,
kemudian kembali mengisi celah-celah bumi.
Terus mengalir, sekalipun mata menangkapnya tergenang,
merembesi dinding tembok, menyelam dalam tanah, berusaha mencari celah,
untuk sampai di tempat yang serendah-rendah dan seluas-luasnya
Serendah-rendah dan seluas-luasnya
Mengikhlaskan dirinya kepada matahari
untuk mencapai tempat yang setinggi-tinggi dan seluas-luasnya
Setinggi-tinggi dan seluas-luasnya

Air tetaplah air
yang namanya beraneka tempat, rasa, bau, dan warna
Beraneka karena belum sampai
di tempat yang serendah-rendah, setinggi-tinggi, dan seluas-luas
hanya karena masih di tempat yang kecil..
ya, tempat yang kecil
sehingga persepsi belum sepenuhnya menyentuh esensi
masih sulit bagi logika untuk melepas kerinduan dalam rasa dan dalam rupa
Dan dalam semua keterbatasan ini,
aku hanya ingin melihatnya terus mengalir..terus mengalir..
menyehatkan alam semesta
Seperti hidup yang terus mengalir..
Namun, terkadang terasa lambat karena berat
Mungkin karena berdiam diri di satu tempat untuk terus melawan arus,
tidak berpindah ke tempat lain, mencari arus yang sesuai untuk mengalir..
Mengalir..alir...air..Itu saja.

Surabaya, 19 Mei 201
Gambar dikutip dari: http://dailyvibrations.blogspot.com/2012/03/lets-talk-about-water.html


Jumat, 11 Mei 2012

Dua Pijakan


Beberapa hari yang lalu, aku sempat berbincang hangat dengan seorang sahabat.Sudah lama juga tidak bertemu, kita membicarakan banyak hal, hingga akhirnya menyentuh tentang aktivitas sehari-hari dan pandangan masa depan. Bangga rasanya memiliki seorang teman yang visioner, memiliki keinginan-keinginan yang luar biasa untuk masa depannya, dan oleh karenanya bekerja begitu keras untuk mewujudkan kesemuanya itu. Aku melihat keseriusan dari wajahnya ketika menceritakan detail keinginannya dan apa saja yang dia lakukan untuk mencapainya. Sahabatku ini memang seorang pekerja keras, dan aku selalu bangga untuk karakternya yang satu ini, dari semenjak kuliah.

Aku terus mendengarkan cerita-ceritanya, sesekali juga aku berbagi tentang pandanganku tentang masa depanku, tentang rencana-rencanaku, dan apa saja yang aku lakukan saat ini. Terus berbagi cerita, sampai akhirnya aku sampai pada sebuah pertanyaan. Dengan santainya aku bertanya, “Apakah kamu bahagia saat ini?” Dan jawaban yang mengejutkan pun datang, sehingga memberiku inspirasi untuk membuat catatan ini. Jawabannya adalah, “Aku nggak bahagia, Coy!”

Seketika itu juga aku kaget, kemudian aku mengatakan, “Aku bangga dengan caramu memandang masa depan, tapi kecewa dengan cara pandangmu terhadap masa kini. Apakah kamu yakin kamu akan bahagia nantinya ketika sampai pada suatu hari disaat keinginan-keinginanmu terwujud? Keinginan kita tidak akan pernah ada habisnya. Saat satu keinginan terpenuhi, akan ada keinginan lain yang menuntut untuk dipenuhi. Lalu kapan waktunya berbahagia bila seluruh waktu digunakan untuk mengejar keinginan-keinginan itu? Dengan tidak menghargai masa kini, kita sebenarnya sedang tidak menghargai Tuhan yang menganugerahkan banyak hal dalam hidup kita. Suatu saat nanti, mungkin kita akan sampai pada waktu dimana keinginan kita terwujud, mungkin juga tidak. Dengan mengabaikan hari ini, suatu saat nanti, terlepas dari apakah keinginan kita terwujud atau tidak, kita telah kehilangan makna masa lalu.” Sahabat saya terdiam agak lama, sebelum akhirnya mengatakan, “iya, kamu benar.”

Aku memang bukan orang yang terlalu pandai merancang masa depan, tapi aku selalu berupaya untuk merasa nyaman dan bersyukur setiap hari. Aku memang orang yang terkesan santai dan oleh karenanya aku harus banyak belajar dari orang-orang seperti sahabatku itu dalam memandang masa depan. Menurut pandanganku, sahabatku itu sedang mengimplementasikan sebuah gaya hidup yang senada dengan kalimat, “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Dia sedang berupaya begitu kerasnya, hingga merasa “sakit/tidak bahagia” saat ini untuk kemudian merasa bahagia ketika seluruh upayanya membuahkan hasil yang sesuai dengan harapannya. Gaya hidup seperti ini bukannya tidak tepat, tapi sepertinya harus ada pembaharuan di jagad yang penuh dengan ketidakpastian ini. Siapa manusia di dunia ini yang sudah tanda tangan kontrak usia hidup di hadapan Tuhan, kemudian tahu batas usianya dan bisa merencakan dengan membagi waktunya menjadi “waktu untuk bersakit-sakit” dan “waktu untuk bersenang-senang”?Hidup itu penuh ketidakpastian dan karenanya kita patut mensyukuri dan menikmati detik-detik yang sedang berlangsung ini.

Aku punya sebuah konsep yang berhubungan dengan ini semua. Mungkin ini terkesan aneh, tapi setidaknya konsep ini menyamankan logika dan perasaanku. Aku menamakannya konsep “dua pijakan”. Dua pijakan membutuhkan “dua kaki”. Ini tidak ada hubungannya dengan kaki fisik, tapi kaki psikis. Satu kaki diletakkan di masa kini, kaki satunya diletakkan di masa depan. Sebesar, seindah, sekaya, secemerlang apapun keadaan masa depan yang kita harapkan, jangan pernah memijakkan kedua kaki kita di masa depan, simpan satu kaki di masa kini, agar pada saat kita tiba di masa depan itu kita tidak kehilangan masa lalu yang juga adalah masa kini yang kita abaikan. Memijakkan satu kaki di masa kini berarti mempersiapkan diri untuk mensyukuri segala hal yang terjadi, yang dianugerahkan-Nya kepada kita. Syukur itu adalah rasa yang harus dilatih. Itulah kenapa ada orang yang lebih bahagia dibandingkan orang lain, sekalipun orang tersebut tidak lebih kaya dibandingkan orang lain. Ada orang-orang yang lebih ahli bersyukur dibandingkan orang lain. Bukan juga karena lebih pintar, tapi karena lebih mampu melihat anugerah dari segala sesuatu yang tercipta dan hadir dalam hidup.

Kalau menulis sih gampang saja, merangkai kata tidak lebih sulit dibandingkan menjalani apa yang dituliskan atau diteorikan. Apalagi yang dijalani adalah hidup. Kalau kita berhenti di pernyataan ini, secara tidak langsung kita sudah menciptakan “tambahan pemberat” kepada kaki sendiri untuk melangkah. Berteori, berkata-kata, atau menulis hal seperti ini mungkin mudah, menjalani apa yang diteorikan itu agak sulit, tetapi mencari pembenaran untuk tidak melakukan apa-apa membuat segala sesuatunya tambah sulit. Jadi, sesulit apapun mari kita melangkah bersama, saling mengingatkan dan mendoakan, itu yang penting. Ada kalanya mungkin aku yang lupa, dan oleh karenanya mohon aku diingatkan. Sebagai pesan penutup catatan ini: Nikmati hari ini, nikmati hari ini, dan nikmati hari ini.

Surabaya, 11 Mei 2012

Selasa, 08 Mei 2012

Spirit of Kangen


Kita pasti pernah mengalami jenis perasaan ini. Kangen. Suatu perasaan yang muncul dari diri kita terhadap suatu hal/aktivitas/peristiwa/orang yang kita sukai atau cintai, namun lama tidak dilakukan atau dijumpai, sehingga muncul keinginan untuk melakukan atau berjumpa dengannya. Sangat manusiawi. Kalau cinta adalah sebuah pohon, kangen adalah salah satu rantingnya..(“,).

Kangen itu sebuah rasa, berarti juga sebuah energi, dan itu pastinya tak kasatmata. Namun, bukan berarti tidak bisa dideteksi. Karena sifatnya energi, berarti bisa berubah dari satu bentuk ke bentuknya yang lain. Bongkahan energi kangen di dalam hati itu biasanya bisa mencair dan mengalir melalui tatapan mata, nada suara, raut wajah, tetesan air mata, tulisan, lukisan, puisi, dan status facebook. Untuk yang terakhir, tidak usah dijelaskan lagi, itu sangat mudah dipahami. Terakhir aku lihat ada status dengan kata-kata: “KangeuNnd beud sm...”

Omong-omong tentang facebook, media jejaring sosial memiliki pengaruh cukup besar terhadap degradasi rasa kangen. Dengan adanya media ini, seseorang bisa berinteraksi dengan orang lain setiap saat. Tidak peduli perbedaan waktu atau perbedaan ruang. Ruang disini maksudnya adalah daerah atau wilayah, bukan alam. Karena aku sendiri belum pernah melihat ada seseorang yang sedang chat dengan temannya yang berbeda alam, yang satu di alam nyata, satunya lagi di alam gaib...hehe. Walaupun sifatnya pertemuan di dunia ‘maya’, namun aktivitas melalui media jejaring sosial ini cukup efektif untuk mengobati kangen, karena bukan saja kita bisa saling menyapa melalui kata-kata, kita juga bisa saling bertatap muka melalui layar kaca. Pada akhirnya, rasa kangen tereduksi, walaupun tidak menghilangkan.

Dulu, sebelum media jejaring sosial semarak sekarang, hp, laptop, dan bb seheboh sekarang, tidak mudah berinteraksi dengan keluarga atau sahabat yang berbeda lokasi tempat tinggal. Seringkali muncul rasa kangen yang semakin hari semakin besar. Semakin jauh lokasinya, semakin besar potensi kangennya. Dan bila ada kesempatan untuk bertemu, saat alat transportasi belum sebanyak dan sevariatif sekarang, biasanya butuh perjuangan yang cukup berat untuk menempuh jarak tertentu. Oleh karenanya, persiapan harus benar-benar matang, mulai dari persiapan fisik, pakaian yang akan dibawa, obat-obatan, hasil kebun, sejumlah uang, oleh-oleh untuk Mbah, Tante, Om, Ponakan, Tetangga, Pembantu. Saking matangnya, berat barang yang dibawa seringkali sama dengan berat pembawa barang. Atau mungkin juga lebih. Darimana datangnya kekuatan itu? Ya dari dalam diri, ini yang aku sebut sebagai spirit of kangen!

Sekarang? Sudah sangat jarang aku lihat fenomena seperti itu di kota-kota, baik yang masih berkembang, maupun yang besar. Facebook ada, twitter siap, HP tersedia, BB parkir di saku. Nanya kabar? Tinggal nge-wall, tweet, sms-an, bbm-an. Mau mengunjungi lokasi? Ada bus, travel, taxi, pesawat terbang, dll. Pesawat terbang sekarang sudah bukan alat transportasi orang kelas eksekutif yang terkenal dengan tarif mahal. Banyak pembantu dari Indonesia yang mampu berangkat-pulang naik pesawat, bukan hanya perjalanan dalam negeri, tapi juga ke luar negeri...untuk jadi TKI dan TKW..hehe. Bahkan, ramainya bandara sekarang hampir mirip dengan ramainya terminal. Dan saking seringnya bandara dikunjungi, bandara sudah dianggap sebagai rumah sendiri, sehingga ada saja yang tidur di kursi dan lantai. Dan yang jelas, tidak terlalu perlu membawa banyak barang seperti hasil kebun. Sudah begitu banyak retail, minimarket, swalayan, dan supermarket yang menjual barang serupa. Di jaman sekarang “sepertinya” segala sesuatu tampak mudah, tampak cepat, tampak “simple”, tampak banyak pilihan. Tidak perlu berjuang “sekeras” dulu. Banyak pilihan hadir dekat sekali di depan mata kita. Saking dekat dan banyaknya, sampai-sampai memunculkan keadaan hati model baru. Orang-orang menyebutnya dengan kondisi ‘galau’. Suatu kondisi hati yang sukses menggeser rasa kangen. Menghilang seluruhnya? Tentu tidak, ada beberapa yang entah menguap kemana..

Perkembangan teknologi dan perubahan jaman yang mengakibatkan perubahan paradigma, perubahan pergerakan sosial, dan perubahan gaya hidup mengambil andil yang penting terhadap perubahan perasaan, lebih tepatnya lagi perubahan cara kita merasa. Rasa kangen yang dulu seringkali membuncah ketika bertemu dengan seseorang yang sudah lama sekali berpisah mulai mengalir dengan tenang saja. Teknologi membuat banyak hal yang dulunya luar biasa, kini tampak datar-datar saja. Namun, sebagaimanapun kecanggihannya tidak akan mampu menghilangkan seluruh rasa kangen dalam diri kita. Rasa kangen akan masa-masa lalu, rasa kangen akan rasa makanan yang dibuat oleh tangan seseorang, rasa kangen akan belaian dan pelukan hangat orang tua yang dulu sering kita terima, senyum itu, canda itu, lelucon-lelucon itu, kegoblokan-kegoblokan itu, kasih sayang itu. Sebuah rasa yang tidak boleh kehilangan spirit-nya, tidak boleh dibiarkan dikikis jaman, agar dunia tampak penuh dengan warna. Dan salah satu parameter terhadap makna keberadaan kita di dunia ini adalah besarnya rasa kangen orang lain kepada kita. Karena cinta tanpa rasa kangen, seperti pohon yang kehilangan satu rantingnya....

Surabaya, 8 Mei 2012
Gambar diambil dari: http://freeimagesarchive.com/img12925.search.htm

Rabu, 25 April 2012

Sebungkus Nasi Pecel


Salah satu hal aneh yang aku temui ketika hari-hari awal aku tinggal di Surabaya adalah menu sarapan sebagian besar penduduknya. Mungkin sebagian besar orang tidak asing lagi dengan yang namanya nasi pecel. Di kota kelahiranku pun, Mataram, ada. Namun, bukan nasi pecelnya yang membuatku merasa aneh, tetapi suatu kenyataan bahwa menu nasi pecel adalah salah satu menu sarapan wajib yang disediakan oleh banyak warung makan di kota ini. Memang ada juga warung-warung yang menyediakan aneka sayuran dan beberapa lauk-pauk sebagai menu sarapan, namun lebih mudah menemukan nasi pecel di pagi hari di warung-warung makan. Ini aneh...lebih tepatnya asing karena aku tidak terbiasa dengan menu sarapan yang “berbumbu” seperti ini. Kalau dalam istilahku, “perut akan kaget kalau pagi-pagi sudah harus menerima asupan makanan yang berbumbu ‘hard’ seperti pecel”. Tapi mau bagaimana lagi, dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung, aku pun berusaha sedikit demi sedikit membiasakan diri sarapan dengan menu yang satu ini.

Lambat laun, seiring waktu berjalan, aku semakin ‘terlatih’ untuk menikmati pecel sebagai menu sarapan. Memang tidak mudah, penuh perjuangan. Dan semua pasti bisa menebak apa yang terjadi dengan perutku di awal-awal perjuangan ini. Berat sobat. Hidup memang bukan urusan perut saja, tapi bila perut bermasalah, hidup bermasalah..hehe. Minimal beberapa waktu dalam hidup harus rela dialokasikan di kamar mandi dan apotek!

Dua paragraf di atas sudah cukup untuk berbasa-basi, supaya tidak terlalu tegang...hehe. Sekarang kita masuk ke topikyang sesungguhnya. Pagi itu, beberapa bulan yang lalu, aku lupa hari apa, aku sedang bersepeda motor, berkeliling-keliling menikmati kota saja. Masih di Surabaya. Waktu itu, mungkin sekitar pukul 7, banyak sekali kendaraan tumpah ruah di jalan raya. Memang bukan hari libur, jadi banyak orang yang sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja masing-masing, dengan raut wajah yang hampir semuanya tegang, entah karena takut terlambat, banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan hari itu, atau mungkin karena memang wajahnya seperti itu...hehe.

Ketika sedang mengamati raut-raut wajah itu, mataku terpaku pada salah satu warung pecel di sekitar jalan Panjang Jiwo. Warung pecel ini tidak begitu besar, tapi cukup ramai. Langsung saja aku menepikan motor dan memesan satu bungkus nasi pecel dengan ayam dan telur ceplok sebagai lauk, ditambah teh hangat sebagai pembersih tenggorokan. Berhubung ada penjual buah di dekat warung, aku membeli 1 potong buah pepaya dan 1 potong buah semangga. Beuh...mantap betul menu sarapan hari ini, lengkap dengan pencuci mulutnya.

Setelah transaksi selesai, aku melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan menuju tempat kost, mataku disajikan pemandangan yang membuat hatiku bergetar. Ada seorang ibu yang cukup tua, mungkin sekitar 40 tahun, sedang menarik gerobak sampah yang berwarna kuning. Ibu ini berbaju kaos lengan panjang, bercelana panjang kaos, tanpa alas kaki, dan mengenakan topi lebar yang biasa dipakai para petani. Wajahnya? Jangan ditanya, lusuh dan penuh dengan keringat. Baru kali ini aku melihat seorang ibu menjadi penarik gerobak sambah. Gerobak itu penuh dengan sampah, jadi pasti cukup berat. Seketika itu juga aku teringat nasi pecel, teh hangat, dan buah yang baru aku beli. Aku mungkin bisa membelinya lagi, tapi ibu ini belum tentu. Langsung saja aku mendekati ibu itu dan memberikan sarapanku. Disini menariknya...Ketika aku memberikan sarapanku pada ibu itu, wajahnya seketika itu juga sumringah, berseri dengan senyuman yang sulit aku gambarkan dengan kata-kata. Mungkin itu senyuman yang jarang sekali dikeluarkan. Kemudian bibirnya mulai bergumam, “Ya Allah, matur nuwun, Mas..” Baru memberi nasi pecel saja sudah dibilang ‘ya Allah’...hehe. Tertangkap jelas ekspresi kebahagiaan yang dipancarkan ibu itu, dan aku pun tertular kebahagiannya.

Ada pelajaran menarik yang aku petik dari peristiwa itu. Seorang ibu telah mengajarkanku tentang kebahagiaan yang diputuskannya terhadap 1 bungkus nasi pecel. Aku jadi merenung, mungkinkah aku bisa sebahagia itu apabila mendapatkan satu bungkus nasi pecel dengan teh hangat dan sedikit buah-buahan ‘saja’? Mungkinkah aku bisa tersenyum selebar itu? Mungkinkah aku langsung berucap syukur ketika mendapat sebungkus nasi pecel? Jawabannya mungkin TIDAK! Kebahagiaanku nampaknya telah lebih mahal dari sebungkus nasi pecel, lebih mahal dari kebahagiaan ibu itu. Ya ampun! Seandainya kebahagiaan itu sesederhana penerimaan sebungkus nasi pecel, alangkah bahagianya aku saat ini dengan semua yang dititipkan-Nya kepadaku, hingga detik ini! Alangkah sederhananya merasa bahagia itu. Aku malu. Terlalu tinggi syarat yang aku tetapkan untuk merasa bahagia, sehingga sulit bagiku untuk melihat rasa syukur bahkan dalam sebungkus nasi pecel. Ibu itu telah mengingatkanku tentang syukur itu sendiri. Ibu itu memang telah dikirimkan-Nya untuk memberikan pelajaran berharga pada suatu pagi, beberapa bulan yang lalu, entah hari apa itu.

Surabaya, 25 April 2012
Gambar diambil dari: http://archive.kaskus.us/thread/8773803/

Kamis, 05 April 2012

Naik Becak..Ayo Melambat


Pernah naik becak?? Sebagian besar dari kita pasti pernah menaikinya. Bila belum?? Coba! Aku angkat judul naik becak pada catatan kali ini karena “merasa” ritme kehidupan berjalan begitu cepatnya di jaman yang serba canggih ini. Kemajuan teknologi membuat dunia semakin “datar” saja. Media jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Myspace memungkinkan setiap orang terkoneksi dengan orang lain dengan begitu cepatnya dari berbagai belahan dunia. Dunia sudah tidak bulat lagi..hehe. Berbagai informasi menghantam otak manusia setiap saat dan memengaruhi keputusan, sikap, pola pikir, dan pada akhirnya membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Acara-acara hiburan di televisi membuat anak-anak kecil berlaku, berbicara, dan menyanyi lebih dewasa daripada usia mereka. Sampai-sampai ada yang berinisiatif membentuk “boyband” anak-anak! So fast to serious!! Bahkan sehari yang lalu, aku menanam biji cabe, sekarang sudah berbuah lebat..haha. Yang terakhir tentu saja bohong, tapi yang jelas, aku ingin menunjukkan bahwa banyak hal yang bergerak begitu cepatnya di jaman sekarang ini.

Begitu banyaknya orang yang menasihatkan agar kita bergerak lebih cepat..lebih cepat..dan lebih cepat lagi. Pekerjaan harus diselesaikan lebih cepat, kuliah S1 kalau bisa diselesaikan 3 tahun saja, yang belum memiliki pacar harus cepat-cepat mencari pasangan, yang sudah memiliki pasangan harus cepat-cepat menikah, dan yang belum memiliki rumah tinggal harus cepat-cepat mengontrak/membeli rumah. Banyak yang cepat, bukan? Asal jangan sampai ada orang yang menasihatkan, “Yang masih hidup harus cepat-cepat mati!” Kata cepat itu sendiri sebenarnya sudah keren, namun bila ditambahkan lagi 1 kata cepat menjadi cepat-cepat, nilai kerennya menurun. Cepat-cepat terkesan terburu-buru dan dilakukan dalam kondisi yang kurang nyaman. Catatan ini bukan dimaksudkan untuk memprovokasi siapapun untuk mengurangi apapun yang bisa dikerjakan dengan cepat, tapi lebih kepada bersama-sama menyediakan sedikit momen untuk melambat…setiap hari.

Inspirasi untuk melambat ini datang dari seorang Abang becak yang sedang mengayuh kendaraannya pada suatu pagi yang cerah. Aku jadi teringat masa-masa ketika bersekolah di Cianjur. Sering sekali aku menaiki alat transportasi yang satu ini. Rasanya menyenangkan, ada angin semilir yang menerpa wajah, dan banyak benda terlihat lebih jelas. Bentuk pohon, daun, awan, tiang listrik, bangunan, sungai, dan trotoar dapat terlihat lebih jelas bila dibandingkan saat kita menumpangi kendaraan bermotor. Banyak hal yang bentuknya lebih jelas apabila kita melambat, apalagi kalau kita diam…hehe. Sesekali tidak ada salahnya menyimpan kendaraan kita di garasi dan berkeliling kota dengan becak, itung-itung penghematan BBM. Ongkos naik becak memang agak gelap, tidak ada standar yang jelas untuk jarak tertentu, tapi tidak apa-apa, anggap saja kita beramal kepada Abang becak yang sebagian besar adalah bapak-bapak dan ada juga yang hampir kakek-kakek. Bila di daerah tempat tinggal tidak ada becak, pergi ke kota lain yang ada becaknya, sekalian jalan-jalan. Tapi ingat, becak yang aku maksud adalah kendaraan roda tiga yang dikayuh oleh manusia, bukan digerakkan oleh motor, karena di Lamongan ada satu jenis kendaraan seperti becak yang digerakkan oleh motor, namanya BELA (Becak Lamongan) dan pengendaranya menggunakan helm.

Sampai di paragraf ini, aku akan memberikan inti dari catatan ini. Sebagian besar dari kita mengejar sesuatu dalam hidup ini. Sebagian besar dari kita memiliki impian dan kecepatan adalah hal yang penting dalam proses pencapaiannya. Namun, apabila kita yakin bahwa keberhasilan pencapaian impian kita sangat ditentukan juga oleh ENERGI BESAR yang hanya bisa diakses dalam zona yang hening dan gelombang otak yang berfrekuensi rendah, maka momen untuk melambat adalah hal yang sangat penting. Gelombang otak yang berfrekuensi rendah inilah yang aku analogikan seperti naik becak, bukan kendaraan bermotor. Sebagian orang menyebutnya zona khusyuk, atau berada dalam frekuensi gelombang alfa, atau dalam bahasa yang lebih keren, meditation state. Inspirasi, kreatifitas, dan ide-ide baru biasanya hadir apabila kita berada dalam zona tersebut. Seperti yang aku tulis sebelumnya, banyak hal yang terlihat lebih jelas justru ketika kita melambat, dalam hal ini gelombang otak kita yang melambat. Dan sediakan sedikit waktu, mari kita duduk saja, santai saja, bernapas perlahan saja, amati udara yang keluar dan masuk, dan syukuri apa saja yang kita miliki/terima. Rasakan seperti naik becak..hehe. Mari melambat…how slow are you??!

Surabaya, 5 April 2012
Gambar diambil dari: http://pakdeazemi.wordpress.com/2010/06/28/pengen-meniru-keikhlasan-ttkang-becak-di-jogya/

Selasa, 20 Maret 2012

Ngapain Nyuci Motor, Nanti Hujan Lho?!


Pagi ini langit Keputih memang tidak cerah, tapi tidak begitu mendung juga. Awan-awan masih tampak berwarna putih dengan guratan tipis warna abu-abu. Matahari tidak menampakkan diri. Beberapa hari terakhir ini, Surabaya memang sering dilanda hujan dan angin kencang, biasanya terjadi sore hingga malam hari. Melihat kondisi langit pagi ini, aku memutuskan untuk mencuci motor karena sudah tampak kotor sekali. Banyak jejak-jejak tanah yang menempel pada badan motor. Untuk tahap pertama, langsung saja aku mengambil seember air dan sebuah sikat gigi bekas untuk menyikat bagian-bagian motor yang sulit dijangkau tangan. Ketika sedang asyik menyikat motor, datanglah seorang Ibu yang rumahnya tidak jauh dari kostku. Sambil berjalan kaki, beliau mendekati dan bertanya, "Ngapain nyuci motor, nanti hujan lho?!" Kemudian aku menjawab dengan nada bercanda sambil tersenyum, "Supaya keringetan, Bu! Itung-itung olahraga..hehe!"

Pertanyaan yang dilontarkan Ibu tersebut sebenarnya tidak terlalu membutuhkan jawaban. Pertanyaan jenis ini sebenarnya mengandung sindiran yang sangat halus bahwa apa yang sedang aku kerjakan itu akan sia-sia beberapa saat kemudian. Karena memang pada dasarnya aku terganggu dengan kondisi motorku yang kotor dan ingin mencucinya, aku tidak terlalu peduli dengan kemungkinan turunnya hujan. Aku hanya ingin mencuci motor dan aku senang melakukannya.

Setelah menerima jawabanku, Ibu itu tersenyum sambil melanjutkan jalan kakinya. Sambil mencuci motor, aku mulai berandai-andai. Seandainya saja aku tidak begitu ingin/niat mencuci motor, mungkin aku sudah berhenti mencuci motor setelah mendapat pertanyaan dari Ibu tadi. Dan tentu saja motorku akan tetap kotor. Mungkin juga tidak akan ada upaya untuk membersihkannya karena toh hujan akan turun ketika motor sedang kukendarai di jalan dan pekerjaanku tidak akan banyak berarti. Tapi, siapa yang dapat memastikan turunnya hujan? Seandainya pun hujan turun, aku tidak begitu peduli, aku hanya senang mencuci motorku sendiri. Aku menikmati saat-saat mencuci dengan tanganku sendiri sebagai ungkapan rasa terimakasih atas jasa-jasanya menemaniku ke berbagai tempat...ceileh!

Seringkali dalam kehidupan ini kita bertemu orang-orang dengan beragam pendapatnya tentang sesuatu yang kita lakukan. Mungkin ada yang kurang suka, mungkin ada yang mendukung, mungkin juga ada yang seolah-olah mampu melihat kesia-siaan pekerjaan kita di masa depan. Tapi pada prinsipnya, sia-sia bagi orang lain, bukan berarti sia-sia bagi kita. Dan bagiku, pekerjaan yang dilakukan dengan senang hati, sehingga menimbulkan perasaan nyaman, tidak akan pernah sia-sia. Oleh karenanya, penting untuk menyukai apa yang kita lakukan agar kita selalu punya alasan untuk terus melangkah, terus bekerja, dan terus berkarya. Dan kita semua tahu pasti, perasaan nyaman dan puas itu akan semakin besar...semakin besar...semakin besar...ketika kita mampu membaginya kepada banyak orang. Siapapun yang terus-menerus memberi, akan terus-menerus menerima.

Sampai paragraf ini diketik, hujan tidak turun di langit Keputih, walaupun langit memang mendung. Motorku masih tetap bersih...hehe

"Bila sulit bagi kita untuk menutup mulut orang lain, tutuplah telinga kita dan terus lakukan apa yang membuat kita nyaman. Semoga suatu saat nanti ada manfaat yang bisa kita bagi kepada orang lain."


Surabaya, 20 Maret 2012
Gambar diambil dari: http://desy-purnama.blogspot.com/2012/02/lakon-hujan-hari-sabtu.html