Minggu, 25 Desember 2011

3R + 1R = 4R


Anak TK-pun tahu kalau 3 + 1 = 4. Menambahkan huruf R setelah angka-angka itupun tidak memberikan hasil yang berbeda. Huruf R bisa saja diasosiasikan dengan Rambutan, Rompi, Rubah, Rusa, Rumah, ataupun Rombong (R yang terakhir ini harapanku sendiri..hehe). Namun, kepanjangan R pada judul di atas sebenarnya adalah RIGHT. Right adalah kata dalam bahasa Inggris yang apabila diartikan kedalam bahasa Indonesia bisa berarti 'benar', 'tepat', 'hak', dan 'kanan'. Aku pribadi bukanlah orang yang ahli tentang kebenaran dan kesalahan. Oleh karenanya, aku lebih senang mengartikan Right, dalam kaitannya dengan judul diatas, sebagai tepat, sehingga formula yang lengkap menjadi 3 Right + 1 Right = 4 Right. Mari kita mulai sekarang!

Konsep 3 Right sebenarnya sudah sering didengung-dengungkan banyak orang, entah itu di seminar kerja, status facebook, buku-buku motivasi, media elektronik, dan media massa. 3 Right berarti Right yang berjumlah tiga dan terdiri dari Right Person (Orang yang Tepat), Right Place (Tempat yang Tepat), dan Right Time (Waktu yang Tepat). Bila konsep 3R diperpanjang lagi, kurang lebih akan seperti ini kalimatnya: Orang tepat yang berada di tempat dan waktu yang tepat. Pertemuan tiga ketepatan! Seperti anugerah, dan orang yang seperti ini seringkali dinamakan orang yang beruntung. Memiliki kualitas, kemudian berada di suatu tempat yang memungkinkan kualitas itu bermanfaat bagi lingkungan sekitar, terlebih lagi ada waktu yang tepat ketika kualitas itu berdaya guna. Hal ini bisa diumpakan ada seorang guru yang memang senang mengajar sedang berada di dalam ruang kelas sedang mengajar beberapa peserta didik pada suatu waktu tertentu. Atau bisa juga dianalogikan dengan kehadiran seseorang yang sangat kita nantikan di suatu tempat pada suatu waktu. Atau yang lebih dramatis lagi, seorang yang tak dikenal menyelamatkan anak kecil yang sedang lengah menyeberang jalan dari gilasan mobil truk di jalanan yang ramai pada siang hari yang terik. Orang yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, momen untuk berada di tempat dan waktu yang tepat seringkali hanyalah sebuah harapan, sehingga konsep 3R ini lebih mengarah kepada sebuah konsep imajinatif yang tidak "down to earth". Ada orang yang dulunya sangat menyukai bermain bola dan bercita-cita jadi pemain bola profesional, kini berjualan nasi untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga. Ada yang sangat gemar bermain musik dan ingin suatu hari nanti membuat grup band, kini bekerja di salah satu Bank swasta. Ada yang gemar mengajar anak-anak, tapi entah mengapa sekarang bekerja di perusahaan sepatu. So, what?? Tidak ada yang salah dengan semua itu. Aku pun yang bertahun-tahun memelajari ilmu kimia di bangku kuliah, sekarang berjualan pisang goreng. Di dalam hidup banyak sekali pilihan. Kita bebas memilih jalan yang mana saja. Bertahan dan memperjuangkan mimpi masa kecil atau beralih kepada mimpi lain yang lebih menjanjikan keuntungan finansial atau bahkan menguburkan mimpi pribadi demi mimpi orang lain yang kita hormati dan cintai. Tapi setidaknya, ketiga hal itu masih lebih baik dibandingkan menguburkan mimpi karena mengalami musibah atau jatuh miskin. Banyak adik-adik di Indonesia ini yang mimpinya sangat tinggi, namun terpaksa menjadi anak jalanan karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Anak-anak cacat yang mungkin diantaranya ada yang ingin menjadi dokter, pilot, atau guru yang sekarang tidak berada di jurusan kedokteran, penerbangan, dan sekolah. Kita masih lebih beruntung, Kawan. Bahkan sangat beruntung.

Setiap mimpi punya jalur pencapaiannya masing-masing. Orang yang bermimpi menjadi pilot tidak akan serta merta menjadi pilot dengan terus-menerus mengasah kemampuan bermain bola. Seorang yang bermimpi menjadi pelukis akan sulit mencapai keinginannya dengan terus-menerus melatih kemampuan masaknya. Bila kita menanam benih jagung, ya akan tumbuh jagung, bukan tanaman yang lain. Tapi, sebagaimana seorang petani yang menebar benih, kita juga harus mengerti bahwa dibutuhkan waktu yang berbeda-beda bagi setiap benih untuk tumbuh, menjadi besar, dan buahnya siap untuk dipanen. Oleh karenanya, konsep 3R bukanlah sebuah konsep yang "cring" secara otomatis bisa terjadi begitu saja. Ada satu variabel lagi yang harus ditambahkan sehingga konsep 3R bisa bekerja dengan baik, yaitu Right Way. Ada jalan tertentu untuk mencapai mimpi tertentu. Ada jalan tertentu untuk mencapai tempat tertentu. Kalau konsep 1R ini hilang, konsep 3R tidak akan berjalan/terjadi. Orang bisa saja berceloteh, "Semuanya akan indah pada waktunya!". Namun, apanya yang akan indah? Bagaimana caranya mencapai keindahan itu? Kalimat itu kurang lengkap karena tidak ada faktor "Way" disana. Seharusnya kalimat itu menjadi "Semuanya akan indah pada waktunya bila kita menabur pada waktunya"! Tabur dulu, tuai kemudian. Apa yang kita tuai kalau kita tidak pernah menabur apapun? Ini kan sama saja dengan mengatakan, laksanakan kewajiban dulu, setelah itu terima apa yang menjadi hak kita. Give and then Take!

Dengan segala kekurangan, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengajari siapapun melalui catatan ini. Aku hanya ingin berbagi agar kita tidak terpenjara oleh konsep-konsep yang sepertinya sangat enak didengar telinga dan sedap dipandang mata, tetapi sulit, bahkan tidak pernah kita rasakan. Kita semua berhak untuk menjadi orang yang tepat di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula, selama kita berada pada jalur yang tepat. Kita juga berhak memandangi dan merasakan keindahan dari benih usaha yang kita tanam. Mungkin bukan saat ini, tapi di kemudian hari. Tuhan yang paling mengerti tentang waktu, tugas kita adalah berusaha dan berdoa. Selamat menikmati akhir pekan. Mudah-mudahan catatan ringan ini bisa menjadi teman bersantai sembari melepas lelah.

Surabaya, 25 Desember 2011
Gambar diambil dari: http://diaryzainal.blogspot.com/2011/04/terimakasihku.html

Sabtu, 10 Desember 2011

Diferensiasi - Fungsi = Sensasi


Sabtu malam ini cukup dingin. Surabaya Timur baru saja selesai diguyur hujan, walaupun masih menyisakan sedikit rintik. Malam minggu ini juga malam purnama, jadi semakin romantis saja nuansanya...(",). Beberapa jam lalu, aku bersepeda motor menuju daerah Kenjeran. Perjalanannya biasa saja sampai aku bertemu dengan dua orang ABG (Anak Baru Gede) yang memberiku inspirasi untuk menulis catatan ini. Suara sepeda motornya sudah nyaring dari belakang, kemudian mereka menyalipku, dan terus melaju hingga akhirnya berada jauh di depan sepeda motorku. Kedua lelaki bercelana pendek ini pula tidak mengenakan pelindung kepala sama sekali. Aku tidak tahu apakah ABG-ABG jaman sekarang dianugerahi kepala dengan tulang tengkorak yang sangat keras sehingga tidak perlu khawatir apabila terjadi gesekan dengan aspal pada kecepatan tinggi. Polantas memang sudah tidak bertugas lagi malam ini, jadi mereka cukup "aman". Namun, ada hal yang paling membuatku tidak nyaman, yaitu suara kendaraannya, sangat bising. Inilah yang dinamakan polusi suara. Aku yakin, motor tersebut tidak "berbunyi" sedemikian bisingnya ketika pertama kali mereka...ehm...maksudnya orang tua mereka membelinya. Dengan modal wawasan dari teman-temannya dan buku-buku perbengkelan sederhana, diubahlah suara motor yang "halus" menjadi lebih "bising". Melihat usia mereka, aku kira tujuannya tidak lebih dari sekedar menunjukkan eksistensi. Eksistensi yang dibalut sensasi dapat meningkatkan gengsi, tapi belum tentu meningkatkan prestasi.

Aku memang tidak terlalu paham mengenai permesinan, tapi aku "merasa" bahwa tindakan menaikkan tingkat kebisingan sepeda motor bukanlah suatu upaya meningkatkan kecepatan sepeda motor tersebut. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa design sepeda motor tersebut bukanlah design sepeda motor balap. Energi yang seharusnya dikonversi menjadi kecepatan "diambil sedikit" untuk meningkatkan bunyi, sehingga kecepatannya berkurang. Motor yang seperti ini adalah tipe yang "besar suaranya, tapi gak ada larinya". Namun, usaha mereka cukup memberiku inspirasi. Mereka telah mencoba melakukan suatu tindakan yang dinamakan modifikasi.

Istilah modifikasi bisa juga disamakan dengan istilah diferensiasi, suatu usaha menjadikan satu hal berbeda dari kebanyakan. Dalam ilmu pemasaran, diferensiasi itu penting, sejauh diferensiasi tersebut meningkatkan nilai guna (value in use) dari produk yang dipasarkan, sehingga meningkat pula kepuasan pelanggan. Aku ambil contoh produk minuman teh. Di Indonesia ini ada banyak sekali brand minuman teh, namun tiap-tiap brand memiliki diferensiasi yang jelas. Ada brand yang menjual teh original, brand lain menjual teh rasa buah-buahan, brand lain lagi menambahkan soda ke dalam teh. Semuanya memiliki ciri khasnya masing-masing. Begitu juga produk sabun. Ada sabun kecantikan, sabun kesehatan, sabun yang dapat memutihkan kulit, dan lain-lain. Ada hal yang memang sengaja dibuat berbeda dari yang lain untuk tujuan tertentu. Dalam bidang pemasaran, tentu saja tujuannya mengarah kepada peningkatan omzet penjualan dari sebuah produk.

Hal yang sama bisa kita lihat di industri musik. Banyak sekali penyanyi di Indonesia ini, ada yang solo, duo, trio, dan yang sekarang lagi "hot-hotnya" adalah boys band dan girls band Indonesia. Untuk tetap bisa mempertahankan eksistensinya, penyanyi solo harus memiliki diferensiasi dari penyanyi solo lain, baik dari warna suara, genre musik, gaya menyanyi, gaya berbusana, bahkan gaya bergoyang. Semua upaya itu memberi kesan hiburan yang berbeda kepada para pendengar dan penikmat musik. Imbas baiknya, diferensiasi tersebut dapat meningkatkan jumlah fans, sehingga semakin banyak "job" manggung, penjualan album meningkat, dan meningkatnya kesejahteraan penyanyi. Imbas baik tersebut tentu saja tidak terlepas dari manfaat yang dirasakan pendengar akibat diferensiasi yang dilakukan para penyanyi. Bila pendengar tidak mendapat manfaat dari diferensiasi yang dilakukan penyanyi, imbasnya akan berbeda, malah bisa-bisa mengarah kepada penurunanan popularitas dan penjualan album. Menjadi jelas sekarang bahwa diferensiasi tidak bisa lepas dari value in use. Sekarang barulah judul di atas menjadi jelas, diferensiasi yang tidak berimbas pada nilai guna/manfaat/fungsi hanyalah "diferensiasi kosong" yang dinamakan sensasi.

Sensasi dapat dianalogikan seperti ini: Lidah normal kita ini bisa mengecap 4 (empat) rasa, yaitu manis, asin, asam, pahit. Lidah bagian depan peka terhadap rasa manis, bagian samping kiri-kanan depan peka terhadap rasa asin, bagian samping kiri-kanan belakang peka terhadap rasa asam, dan bagian pangkal lidah peka terhadap rasa pahit. Lalu pedas bagaimana? Pedas itulah yang dinamakan sensasi. Jadi pedas bukanlah rasa, hanya sensasi, "tidak menempel di lidah". Begitu juga "diferensiasi kosong" yang hanya menimbulkan sensasi, tidak memberikan manfaat, sehingga tidak memberikan kesan mendalam di hati orang lain. Poinnya adalah, jangan takut menjadi berbeda, tapi beri juga manfaat bagi orang lain dari perbedaan yang dibuat. Dalam hal ini, kita harus sama-sama mengingatkan dan menguatkan.

Ketakukan menjadi berbeda seringkali muncul karena ketidaksiapan kita menerima respon dari orang lain yang seringkali "terpikirkan bernada negatif". Dipandang aneh, dicibir karena melakukan hal yang tidak dilakukan orang kebanyakan, diragukannya kompetensi, dan masih banyak lagi efek dari keputusan menjadi berbeda. Namun, selama niat kita untuk memberi manfaat bukan hanya bagi diri kita, tapi juga orang lain, yakinlah selalu ada jalan. Banyak orang-orang besar, yang namanya tertulis anggun dalam sejarah sains dan kitab-kitab agama, dihormati sampai saat ini, yang sikapnya dijadikan teladan, yang pola pikirnya diabadikan ke dalam rumus-rumus fenomenal, justru dulunya dipandang aneh oleh orang kebanyakan, bahkan dikucilkan karena konsep dan pola pikirnya berbeda dari khalayak. Bagiku, lebih baik dipandang "aneh", namun kita berani jujur kepada diri sendiri dengan menjadi diri sendiri daripada ingin dipandang "tidak aneh" dengan mengikuti pola-pola umum yang sebenarnya tidak sesuai dengan kepribadian kita. Be yourself...that's it! Selamat malam, selamat beristirahat!!


Surabaya, 10 Desember 201
Gambar diambil dari: http://my.opera.com/masyhudah/archive/monthly/?month=201001

Sabtu, 03 Desember 2011

Overgeneralisasi = Membuat Simpulan LEBAY!

Pada sabtu yang cerah ini, mudah-mudahan teman-teman semua dalam keadaan sehat. Pagi tadi tiba-tiba terbersit sebuah gagasan untuk membuat tulisan yang bertema overgeneralisasi. Gagasan ini muncul karena seringnya aku membaca tulisan, baik berupa status dan komentar pada facebook; tweet pada twitter; maupun tulisan-tulisan lain pada media cetak, dan mendengar secara langsung simpulan terhadap hal-hal tertentu yang tidak didukung oleh data-data yang akurat.

Overgeneralisasi adalah salah satu jenis kekeliruan berpikir seseorang yang mencoba untuk membuat simpulan berdasarkan data-data parsial (sebagian). Overgeneralisasi juga dikenal dengan bahasa yang lebih keren sebagai Fallacy of Dramatic Instance. Karena kata "lebay" sudah ada di jaman sekarang, aku mengistilahkan overgeneralisasi sebagai membuat simpulan lebay (berlebihan). Aku tidak tahu dari bahasa mana kata "lebay" ini muncul, tapi nampaknya istilah yang berarti berlebihan ini sudah sangat populer di kalangan anak muda Indonesia beberapa tahun belakangan ini.

Overgeneralisasi muncul karena beberapa faktor, baik dari dalam diri seseorang (internal), maupun dari pengaruh lingkungan (eksternal). Faktor dari dalam diri sangat dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan seseorang. Semakin dewasa seseorang, semakin ahli membuat simpulan, yang tentu saja didukung oleh data-data yang akurat, up to date, dan terpercaya, serta disampaikan berdasarkan pola pikir yang runut dan logis. Seandainya pun ada data-data yang "belum matang", tidak akan digeneralisasikan menjadi sebuah simpulan. Rasa sakit hati bisa juga memicu kekeliruan berpikir jenis ini. Misalnya saja, seorang cewek yang baru saja putus cinta dengan kekasihnya mulai mengeluarkan unek-unek kepada teman curhatnya seperti ini, "Semua cowok sama aja, semuanya penipu!! Gak ada cowok setia di dunia ini!!" Dahsyat kan kata-katanya?! Overgeneralisasi seperti itu muncul lebih dikarenakan faktor intern. Pandangan tentang 1 (satu) orang bisa membias kepada semua cowok, bahkan semua cowok di dunia ini, walaupun sang cewek belum tentu pernah bertemu semua cowok di dunia ini.

Overgeneralisasi karena faktor dari luar diri lebih dikarenakan oleh penularan simpulan seseorang yang diterima begitu saja tanpa analisis lebih lanjut. Simpulan-simpulan tersebut dapat berbunyi seperti ini, "Kamu ini kan lahirnya hari jumat kliwon, pasti gak cocok kerja di air!", "Kamu kan sering kalah maen futsal, berarti kamu gak bakat di olahraga ini. Lebih baik tekunin bidang lain aja!", "Semua orang Solo pasti kalem dan pendiam!", "Orang-orang berbintang Libra itu selalu ribet dan banyak pertimbangan!", "Cewek cantik pacarnya pasti gak terlalu ganteng!", "Anak bungsu itu pasti manja dan banyak maunya!", "Orang-orang Jakarta materialistis!", "Aku memang lahir sebagai pecundang karena tidak pernah menang dalam hal apapun!" Dan masih banyak lagi contoh kalimat yang lahir dari kekeliruan berpikir jenis overgeneralisasi.

Kata-kata seperti tersebut di atas bisa sangat memengaruhi sikap dan sifat kita. Kata-kata yang tertanam kuat di pikiran dan mulai masuk ke dalam belief system menjadi dasar perilaku keseharian. Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam menerima nasihat dan menanggapi sesuatu. Terima yang baik-baiknya saja. Bukan hanya orang-orang yang lahir di hari jumat kliwon yang tidak cocok kerja di air, tapi kita semua tidak akan pernah cocok karena kita bukan ikan. Kalah dalam beberapa pertandingan olahraga lebih disebabkan oleh kurangnya latihan, bukan karena tidak adanya bakat. Dan masih banyak lagi pernyataan yang bisa membantah kekeliruan kalimat-kalimat di atas. Yang terpenting dari semua adalah teruslah belajar agar kita semakin mahir menarik simpulan dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi dan kita alami, serta menjadikannya motivasi dan inspirasi dalam menjalani hidup, bukan untuk melemahkan orang lain, atau bahkan diri sendiri.
Selamat beraktivitas di sabtu pagi yang cerah ini. Semoga kebaikan datang dari segala penjuru.



Surabaya, 3 Desember
Gambar diambil dari : ikanbelo.blogspot.com

Senin, 28 November 2011

CHEMINLOVE

Semenjak menduduki bangku SD, aku memang suka menulis, lebih tepatnya menulis karangan. Mengarang itu mengasyikkan setidaknya karena 2 (dua) hal. Pertama, karena mengarang adalah suatu aktivitas penyaluran imajinasi. Bagi seorang anak SD, menyalurkan imajinasi itu penting. Siapapun yang menghambat atau menghalangi, bahkan mengubah alur cerita dalam imajinasi akan dianggap sebagai musuh. Imajinasi adalah ruang bagi seorang anak kecil untuk menjadi sosok yang diinginkannya. Satu-satunya tempat bagi mereka untuk menjadi satu-satunya orang yang berdiri paling gagah setelah mengalahkan musuh yang menculik perempuan yang dikaguminya. Hanya disanalah seorang anak kecil akan bersembunyi setelah dimarahi ibu guru karena nilai matematika yang jelek, diejek kawan karena kalah bermain kelereng, dan dijemur di lapangan karena lupa membawa topi pada saat upacara. Kedua, karena dengan mengarang aku bisa "mempermainkan" waktu. Dalam kenyataan, waktu mustahil "dipermainkan". Dia berjalan terus tanpa pandang bulu, membuat banyak hal menua. Akan tetapi, dalam imajinasi, waktu kehilangan taringnya. Aku bisa menceritakan sesuatu dari masa sekarang ke masa lalu, atau dari masa lalu ke masa sekarang, atau lagi dari masa sekarang ke masa yang aku reka-reka sendiri. Dan untuk membuat waktu semakin tak berdaya, aku selalu mengawali karanganku dengan 3 kata pamungkas, yakni "Pada Suatu Hari", yang bisa saja telah, sedang, akan, atau tidak akan pernah benar-benar terjadi.

Seiring waktu berjalan, aku belajar lebih banyak hal, melihat lebih banyak pemandangan, mendengar lebih banyak suara, mengecap lebih banyak rasa, dan menghirup lebih banyak aroma. Aku mempelajari lebih banyak ilmu yang sering disebut orang-orang dengan sebutan ilmu pasti. Aku sendiri sebenarnya kurang setuju bila dikatakan ada ilmu jenis ini karena setiap saat dunia berubah, bergerak begitu dinamis, dan apapun bisa berubah terhadap pergerakan waktu.

Matematikawan mencoba menghitung banyak hal, tapi akhirnya sampai juga pada lambang yang mengisyaratkan hasil yang tak terdefinisi, tak tentu, tak hingga, dan imaginer. Begitu juga dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi. Pada tahun-tahun tertentu muncul teori-teori yang menggantikan teori sebelumnya. Michael Faraday dengan sinar katodanya, Gustaf Kirchoff dengan radiasi benda hitamnya, Max Planck dengan teori energi terkuantisasinya, dan Einstein dengan efek fotolistriknya membuat mekanika klasik menjadi tidak relevan dan akhirnya tergantikan oleh mekanika kuantum. Teori atom Democritus tersisih oleh teori atom John Dalton, kemudian secara berurutan disempurnakan oleh teori atom J.J. Thomson, Rutherford, Niels Bohr, dan model atom abad 20 oleh Erwin Schrodinger. Teori evolusi pun setali tiga uang, berkembang terus.

Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan ilmu pasti tidaklah benar-benar pasti. Ada kemungkinan teori-teori yang saat ini digunakan, tergantikan oleh teori baru di masa-masa yang akan datang. Memang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengganti suatu teori dengan teori yang lain yang lebih baru dalam sains. Berbeda dengan ilmu-ilmu sosial yang sifatnya "lebih cair" karena terkait dengan pola-pola interaksi perilaku, khususnya manusia, yang cepat berubah seiring dengan kemajuan teknologi. Ada 3 tradisi besar orientasi teori ilmu sosial, khususnya psikologi, dalam menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia. Pertama, perilaku disebabkan faktor dari dalam atau deterministik. Kedua, perilaku disebabkan oleh faktor lingkungan atau proses belajar. Ketiga, perilaku disebabkan oleh interaksi manusia dengan lingkungan. Memang ada juga beberapa pola-pola perilaku yang tetap dipertahankan dalam kehidupan bermasyarakat sebagai ciri khas suatu daerah, suatu keyakinan, atau suatu keturunan. Namun, secara umum, teori-teori dalam bidang sosial sifatnya "lebih cair"/perubahannya lebih cepat bila dibandingkan teori-teori sains.

Melihat perbedaan "tingkat kekentalan" seperti inilah, aku berusaha memadukan nilai-nilai sains, khususnya kimia (chemistry), dengan perilaku manusia pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari melalui beberapa tulisan. Seperti mencampur sirup dengan air yang masing-masing berbeda kekentalannya. Menikmati sirup saja akan terasa manis sekali, sedangkan menikmati air saja akan tawar rasanya. Dan mencampur keduanya dalam sebuah buku adalah pekerjaan mengasyikkan. Buku ini kuberi nama CHEMINLOVE (Chemistry in Love).

Cheminlove adalah buku kecil yang tidak berusaha untuk memamerkan satu cabang ilmu sains, tapi berusaha untuk menjadikan sirup (konsep kimia) yang terlalu manis, sehingga banyak yang menghindarinya karena takut batuk, dengan mencampurkannya dengan air (perilaku/peristiwa dalam kehidupan sehari-hari). Aku sangat menyadari bahwa tidak semua hal bisa dicampurkan sekehendak hati kita, namun dalam cinta (in love) kita akan melihat banyak perbedaan yang ternyata hadir untuk saling melengkapi.

Cheminlove adalah juga mimpi/imajinasi yang terealisasi karena memanfaatkan 3 kata pamungkas yang aku ceritakan di awal tadi. Oleh karenanya, jangan terlalu sering menyepelekan kata-kata anak kecil. Cheminlove bisa terwujud karena aku melengkapi 3 kata pamungkas tersebut sehingga menjadi seperti ini, "Pada Suatu Hari Nanti, Aku Akan Memiliki Sebuah Buku Yang Aku Tulis Sendiri!"

Selasa, 01 November 2011

Lovember

Pagi ini..
Batang-batang cahaya matahari menyelinap
memasuki berbagai celah
untuk menyapa raga-raga yang lelap,
yang lelah akan pengejaran, pencarian, pemenuhan, dan pencapaian
Sebagian cahaya lainnya
sedang menyoroti tetes-tetes air di atas singgasana daun teratai,
yang tetap anggun dalam wujudnya,
tertetes, namun tak membasahi..
dekat, namun tak terikat..

Sebagian cahayanya lagi membentuk kilauan pada jaring laba-laba
dengan aneka diagonalnya,
bertahta indah pada ruang-ruang yang tak terjamah
oleh ayunan napas manusia

Pagi ini..
Angin telah bercerai dengan debu
Membawa kesegaran bagi kepenatan, kejenuhan, ketidakpuasan,
ketidakberdayaan, dan kealpaan
Dan cinta pun telah disemai dari langit,
kemudian merunduklah orang-orang yang menganggap
bahwa cinta telah berhenti di ujung pena,
yang lupa bahwa cinta meresap memenuhi bhuana,
bahkan pada tetes-tetes air mata subuh
yang membiaskan warna matahari

Pagi ini..
Banyak jiwa yang terkunci dalam dimensi
sedang tersenyum karena menyadari
bahwa kerinduan telah menemukan penawarnya,
bahwa berdiri di bawah pohon waktu yang rindang kedamaian
adalah sebuah pilihan yang tepat

Pagi ini....pagi yang penuh cinta....
kuberikan saja nama Lovember


Surabaya, 1 Nopember 2011

Selasa, 18 Oktober 2011

Tak Lelahkah..

Sahabatku, aku ingin bertanya..
Tidakkah engkau lelah berdiri mematung,
membiarkan wajahmu dibelai angin malam
seraya menatap tajam langit mendung itu
dan menanti rintik-rintik hujan turun menampar kedua pipimu,
kemudian engkau bebas menghamburkan tangisan
karena saat itu, hanya saat itu,
tak seorang pun bisa memisahkan air matamu dari air mata langit?

Ijinkan aku mengira bahwa dengan begitu
tak seorang pun tahu bahwa engkau sedang menyembunyikan tetes air matamu
dalam derasnya tetes air mata langit..
Tak seorang pun tahu bahwa engkau sedang membasuh air matamu
dengan air mata lain
Ya, membasuh air mata dengan air mata...tidak lebih

Engkau mungkin bisa mengelabui mataku, tetapi tidak untuk langit
Kau pasti tahu bahwa langit menyaksikan semua itu
dari atas permukaan air yang hening, namun bening seperti cermin

Dan tahukah kau bahwa purnama yang tergantung di langit yang penuh rahasia itu
tidak pernah benar-benar hilang?
Dia hanya bersembunyi dan sesekali muncul agar kau tidak bosan
dengan wujudnya
Agar kau tetap rindu, tetap kangen dirinya saja

Aku juga ingin bertanya lagi..
Masih senangkah kau mempermainkan waktu dengan harapan?
Kau jejalkan berdesak-desakkan pada pisau detiknya,
kemudian dicabik-cabiklah mereka semudah merobek
kertas putih tipis yang kosong, tanpa tulisan

Sahabatku, mari kita berlindung dari guyuran hujan itu,
sesekali bercanda dengan purnama dan bersama-sama
menaiki komidi putar waktu...sesekali saja..tanpa harapan
karena langit telah melihat sesuatu yang melebihi harapanmu dan harapanku
dari atas permukaan air yang hening, namun bening seperti cermin..

Surabaya, 18 Oktober 2011

Jumat, 30 September 2011

Telah Cukup Baginya


Dan bila mentari harus tetap terbit
menyapa bumi pada sebuah ufuk
kemudian sinarnya menembus gumpalan awan yang menutupi langit,
menjangkau debu-debu yang beterbangan di udara,
daun-daun yang basah oleh embun,
tanah kering yang lama tak dipijak,
dan gulungan ombak yang menyembunyikan mutiara,
biarlah cinta tetap menemukan getarnya
sekalipun pada cahaya bintang yang mengalah pada fajar

Karena telah cukup bagi cinta untuk tetap indah,
walaupun tak terlihat, sekalipun di kejauhan
Telah cukup bermakna baginya,
walaupun harus berdiam di balik awan..
Setidaknya untuk saat ini..saat ini saja
Karena kesetiaan akan menenggelamkan mentari
dan melarutkan seluruh cahayanya dalam samudera yang tenang
hingga hanya guratan bias yang tersisa di langit
dan lambat laun terhapus oleh cahaya redup purnama

Akhirnya tak ada yang dapat menyembunyikan wujudnya
Langit telah menyibakkan awan dan menelanjangi dirinya sendiri
agar cinta terlihat,
kemudian menyelimutinya dengan angin dari
nafas jiwa-jiwa yang rindu kedamaian