Minggu, 11 Januari 2009

Nasi goreng terenak….


Aku adalah orang yang sangat menyukai makanan yang satu ini. Makanan khas dalam negeri ini selalu membuatku kangen rumah. Paduan rempah-rempah yang diulek sebagai bumbu menambah cita rasa tersendiri. Aku benar-benar bisa melihat Indonesia dari hanya melihat satu piring nasi goreng yang siap disantap. Bumbu yang terbuat dari paduan cabe-cabean dan bawang-bawangan menunjukkan bahwa negeri ini memiliki beraneka ragam flora. Tambahan garam sebagai penyedap rasa menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari lautan. Cobek yang digunakan dalam pengulekan bumbu menunjukkan bahwa bangsa ini sangat mencintai warisan leluhur. Beras sebagai bahan baku nasi goreng menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu Negara agraris di dunia. Kecap menunjukkan bahwa penduduk Indonesia manis-manis. Saos yang berwarna merah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang pengecut. Minyak yang digunakan untuk menggoreng menunjukkan bahwa Negara kita masih punya stok minyak bumi, walopun tidak banyak lagi. Tumpukan nasi goreng yang berasap di atas piring menyerupai bentuk gunung yang menandakan bahwa Indonesia memiliki banyak gunung berapi. Sungguh makanan yang memiliki filosofi tinggi….!

Itu adalah beberapa alasan mengapa aku menyukai nasi goreng, selain karena harganya yang relatif terjangkau oleh mahasiswa rantau seperti aku dan waktu produksi yang relatif singkat. Semenjak menjadi mahasiswa dan mengenal apa yang disebut tempat kost, nasi goreng tidak lagi menjadi makanan gratis yang bisa disantap setelah mengucapkan password “Bu, tolong buatin nasi goreng!”

Masa-masa indah itu kini telah berlalu, tapi kenangannya masih membekas sampai sekarang. Waktu telah mengajarkan banyak hal tentang kedewasaan. Berbagai tempat makan aku jelajahi untuk mencari nasi goreng yang memiliki kualitas sebaik kualitas nasi goreng yang dibuat ibuku. Akhirnya, pilihan jatuh pada nasi goreng yang dibuat oleh seorang bapak tua di daerah Gebang, Surabaya. Gerobak dengan logo MN selalu menemani bapak tua ini dalam berjualan nasi dan mie goreng. Tangannya yang kurus kering mampu mengaduk 7 porsi nasi goreng sekaligus di atas penggorengan. Bapak tua yang sampai saat ini belum aku ketahui namanya ini merupakan orang yang sangat menjaga cita rasa dan mencintai kebersihan. Perhitungan komposisi campuran bumbu-bumbu merupakan hal yang sudah ada di luar kepala tanpa harus bergelut dengan mata kuliah kimia dan kalkulus. Antri adalah hal yang hampir selalu aku lakukan setiap memesan nasi goreng ini karena jumlah pembeli yang cukup banyak. Nasi goreng bapak tua ini selalu menjadi alternatif pertama saat aku ingin menikmati nasi goreng sebagai santapan malam hari.

Nasi goreng ini memiliki karakter sendiri dari segi rasa. Bumbu-bumbu yang digunakan tercampur secara merata pada nasi goreng. Tidak ada kadar yang berlebihan dan tidak terjadi penumpukan bumbu pada salah satu bagian nasi goreng. Potongan-potongan kecil ayam goreng yang diberikan untuk 1 porsi nasi goreng juga cukup banyak. Namun, tetap saja tidak bisa mengalahkan nasi goreng yang dibuat ibuku. Ada satu bumbu yang digunakan ibuku untuk memenangkan pertandingan ini. Bumbu rahasia itu adalah kasih sayang Ibu kepada anaknya.

Tidak semua larutan dapat saling campur! (Oleh : Asisten Percobaan 5 Kimia Dasar 1)


Mencampur larutan adalah hal yang tidak terlalu sulit untuk dilakukan seorang mahasiswa kimia. Laboratorium menjadi tempat yang asyik untuk melakukan pekerjaan ini. Banyak hasil yang dapat diperoleh dari hanya mencampur larutan. Timbulnya warna pada campuran, keluarnya gas, dan terbentuknya endapan bukanlah pemandangan yang aneh lagi. Sungguh sesuatu yang biasa….biasa membuat bingung bila harus menjelaskan reaksinya..hehe.

Terlepas dari kebingungan tadi, aku hanya ingin mencoba menjelaskan tentang campur-mencampur ini dalam kaitannya dengan suatu hubungan manusia. Manusia selalu berhubungan dengan manusia lainnya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Hubungan tersebut tidak selamanya berjalan dengan mulus dan tidak semua manusia bisa berhubungan dengan manusia lainnya dengan nyaman. Ada konflik sebagai bumbu.

Begitu juga dengan larutan. Hanya ada satu prinsip dalam pelarutan, yaitu like dissolved like. Larutan satu akan mampu bercampur sempurna dengan larutan lain apabila memiliki sifat (polaritas) yang sama atau tidak jauh berbeda. Bila pencampuran dilakukan antarlarutan yang memiliki tingkat polaritas yang berbeda, maka akan terbentuk lapisan antarmuka (interface) yang memisahkan kedua fase larutan. Peristiwa tersebut dapat kita lihat dengan nyata pada campuran air dan minyak. Salah satu hal yang dapat kita lakukan agar larutan yang tidak saling campur tersebut menjadi bercampur yaitu dengan mengatur temperatur campuran. Pengaturan temperatur dapat dilakukan dengan memanaskan atau mendinginkan campuran. Dengan begitu, diharapkan campuran tersebut tidak akan terpisah lagi. Tapi perlu diingat bahwa ada beberapa campuran yang membutuhkan suhu ekstrim (sangat tinggi atau sangat rendah) agar dapat saling bercampur satu sama lain.

Maka dari itu tidak heran bila melihat orang yang satu selalu tidak akur dengan orang yang lain. Ada orang yang sangat mencintai orang yang lain. Ada orang yang sangat akrab dengan orang yang dulunya sangat dia benci karena sudah melewati suatu proses pengaturan temperatur. Kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk mengatur temperatur emosi diri kita sendiri. Tidak seperti larutan yang membutuhkan pengaturan temperatur dari lingkungan. Sekarang, sudah saatnya kita mengatur temperatur emosi kita untuk dapat berhubungan baik dengan semua orang…(“,)

Berani Jatuh Cinta, Berani Bahagia!!

Mendengar kata cinta mungkin akan membahagiakan beberapa orang, membuat orang yang lainnya mencibir, atau bahkan ada yang langsung pergi karena memiliki pengalaman yang buruk akan hal ini. Namun, aku cukup bahagia bahwa masih ada yang mengklik judul ini dan mencoba mencari sesuatu yang mungkin berguna untuk menjadi bahan pemikiran.

Semua makhluk dikaruniai cinta. Cinta itu bagai energi yang tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Seorang pelukis mentransformasikan cintanya melalui kuas lukis yang menari indah di atas kanvas. Seorang penyair mampu menuangkan cintanya pada bait-bait puisi yang indah. Semuanya terasa indah, mengalir begitu saja tanpa ada yang menahan. Itulah realitas cinta…

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat. Apakah benar semua itu? Lalu mengapa ada orang yang sakit hatinya karena cinta?

Aku bukan orang yang tidak pernah sakit hati. Aku hanya seseorang yang baru saja tersadar bahwa cinta tidak membawa kita pada kesengsaraan. Dengan cinta, kita belajar menerima dengan ikhlas dan memberi dengan tulus. Hasrat dan nafsu untuk memilikilah yang sering membawa kita pada jurang ketidakbahagiaan. Cinta yang sejati selalu membawa pertumbuhan (kebaikan bagi seorang yang sedang mencintai dan bagi seorang yang dicintai), bukan bersifat posesif yang obsesif. So, tidak ada lagi sakit hati karena cinta….

Cinta terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Jutaan definisi cinta akan lahir dengan spontan apabila hal tersebut dipertanyakan. Berikut ini adalah beberapa bukti-buktinya :

Cinta adalah suatu campuran yang aneh dari hal-hal yang bertentangan. Di dalam cinta terkandung kasih sayang dan kemarahan, kegairahan dan kebosanan, kestabilan dan perubahan, pembatasan dan kebebasan. Paradoks cinta yang paling mendasar adalah bahwa dua menjadi satu, namun tetap dua (Dr. Les Parrott III dan Dr. Leslie Parrott).

Cinta bagaikan sebuah pertandingan tenis; Anda tidak akan pernah menang terus- menerus sebelum Anda belajar untuk melakukan pukulan awal dengan baik (Dan P. Herod).

Cinta adalah keinginan untuk mengembangkan diri sendiri dengan maksud memelihara pertumbuhan spiritual sendiri atau perkembangan spiritual orang lain (Dr. Scott Peck).

Cinta bagaikan aliran air yang bermuara pada lautan kebahagiaan (Penulis).

Biarkanlah cinta menemukan arti sejatinya bersama semilir sang waktu dan menemukan resonansinya di antara gemuruh gelombang kalbu.

Cinta juga tidak buta. Bahkan dengan cinta kita mampu melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat oleh mata kita. Kita mampu melihat keikhlasan, ketulusan, pengorbanan, dan kepercayaan. Sungguh luar biasa….!!

Akhir kata, jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya. Viel Glück….!!

Buat yang nggak suka tidur siang..

Kegiatan yang satu ini memang sering dipandang sebelah mata. Selain karena dianggap kegiatan yang tidak produktif, kegiatan ini juga sering dihubungkan dengan tingkat kemalasan seseorang. Tulisan ini dibuat bukan untuk mendukung hobi penulis, tapi untuk memberi wawasan bagi siapa saja yang masih menganggap buruk kegiatan tidur siang….

Tidur siang paling sedikit setengah jam atau lebih bagus lagi bisa satu jam, terbukti meningkatkan produktivitas kerja, kesiapsiagaan tubuh, dan memulihkan mood, seperti diungkap Survey National Sleep Foundation, Washington DC. Lebih 60% orang dewasa di Amerika tidak tidur siang dan mereka mengalami rasa mengantuk selama bekerja. Ongkos kehilangan produktivitas kerja yang harus dibayar akibat tidak tidur siang mencapai 18 milliar dolar AS setiap tahunnya. Berbeda dengan di kebanyakan negara di Eropa, Spanyol khususnya, mereka rata-rata menyisihkan waktu untuk tidur siang. Banyak toko tutup siang hari barang beberapa jam, sebagaimana di kota-kota kecil di Jawa Tengah. Dan ternyata ada manfaatnya. Studi yang dilakukan oleh Circadian Technologies of Lexington, Mass. AS, membuktikan hasil yang sama dalam hal manfaat tidur siang. Namun mereka menyayangkan lebih separo perusahaan di AS yang tidak setuju karyawannya memperoleh tidur siang, bahkan menegur, atau memecatnya. Studi Harvard membuktikan, dibanding pekerja yang diberi tidur siang sedikitnya setengah jam, para pekerja yang tidak tidur siang terbukti laju pekerjaannya lebih lamban dibanding yang mendapat tidur siang. Terlebih untuk jenis pekerjaan yang memerlukan konsentrasi. Mengingat secara teknis apalagi di Surabaya yang macet tak mungkin orang pulang dulu ke rumah hanya untuk tidur siang. Oleh karena itu, perlu dikondisikan agar semua karyawan bisa terlena sejenak di kantor. Asal tahu saja, Brian Wilson, si jenius kreatif yang berada di balik kesuksesan “The Beach Boys”, selama dua tahun, lebih banyak berada di tempat tidurnya. Pada masa itulah, pertengahan tahun 1960-an, ia mencapai puncak kejeniusannya, yang oleh fans-nya disebut sebagai “periode tidur” Wilson (Spagiari, 2004).

Mereka yang tidur siang selama setengah jam minimal tiga kali seminggu, lebih rendah 37% terkena serangan jantung atau masalah yang berkaitan dengan jantung. Menurut tim peneliti, tidur siang dapat mengurangi stres, dan stres yang dialami manusia umumnya berasal dari pekerjaan. Menurut Kepala Penelitian, Dr Dimitrios Trichopoulos, perempuan juga memetik manfaat yang sama dari tidur siang. Namun, dibandingkan dengan responden pria, hanya sedikit saja responden perempuan yang meninggal akibat penyakit jantung selama penelitian ini. Sebanyak 48 responden perempuan dalam riset ini meninggal dunia karena penyakit jantung, enam di antaranya karyawati. Para karyawan pria yang tidur sebentar di siang hari, rata-rata memiliki resiko 64% lebih rendah meninggal dunia dibandingkan dengan pria-pria yang tidak bekerja, yang hanya memiliki kemungkinan 36% lebih rendah. Bandingkan dengan 85 responden pria yang meninggal karena penyakit jantung selama penelitian. Sayangnya, banyak perusahaan yang menilai karyawannya yang tidur siang sebagai pemalas. Namun, tak sedikit pula perusahaan yang mengizinkan karyawannya tidur di sela waktu kerja, dan terbukti karyawannya tetap produktif. Manfaat tidur siang untuk kesehatan jantung juga dipaparkan ilmuwan Inggris yang tergabung East of England Development Agency (EEDA). Hasil riset menunjukkan manusia bisa bekerja lebih kreatif justru dengan menambah sedikit jam tidurnya pada waktu siang. Tidur siang sebentar yang dimaksud di sini, harus berkualitas bukan sekadar lamanya. Kualitas tidur ditentukan oleh kedalaman tidur tercapai. Orang cukup jeda tidur siang setengah jam jika sependek itu benar-benar penuh lelap tertidur. Harus diakui bahwa tidur soal penting dalam kehidupan. Selama tidur semua fungsi organ tubuh cenderung melamban, pada saat itu sel dan jaringan yang aus dan rusak dipulihkan. Buat bisa mencapai panjang umur, durasi tidur harian seseorang ikut menentukan. Tubuh memerlukan kecukupan waktu tidur. Penelitian itu menyebutkan sekitar 30% orang bisa mendapatkan ide-ide terbaiknya setelah tidur siang sebentar, sedangkan mereka yang bisa mendapatkan ide cemerlang di balik meja hanya 11% saja. Bagi yang tidak terbiasa memejamkan mata dan terlelap siang bolong, mulailah dengan tidur terlentang dan ciptakan suasana senyaman mungkin. Tiap orang mempunyai kebiasaan ‘persiapan’ tidur yang berlainan, barangkali memeluk guling, berselimut atau mendengarkan musik lembut dan mengisi perut terlebih dahulu. Jika sudah terbiasa, umumnya akan lebih mudah memejamkan mata dan langsung pulas. Hal penting yang harus dipersiapkan selepas tidur siang, apalagi jika dilakukan disela-sela pekerjaan rutin adalah apa yang dinamakan Sleep anertia, yakni rasa grogi dan disorientasi. Cara untuk mengatasinya disarankan untuk berdiam beberapa menit, membasuh muka, minum air putih atau berjalan kaki. Selanjutnya bisa kembali bekerja dan rasakan khasiat dari terlelap 10-20 menit itu. Usahakan agar tidur siang tidak terganggu, sebab jika terpotong tiba-tiba, sama sekali tidak ada manfaatnya, pada sebagian orang justru menimbulkan rasa pening. Perlu diingat pula bahwa tidur siang tidak dianjurkan melebihi 30 menit karena akan mengarah ke fase yang sangat lelap yang akibatnya akan mempersulit tidur malam (Roza, 2008).

Jadi, raih gulingmu, pejamkan mata, dan saatnya kita tidur siang…zzzzZZZ!!!

15 November 2008 (Malioboro 3)

Jalan masih belum kering, tapi kami masih tetap bersemangat untuk berpetualangan di Malioboro. Lampu-lampu kota mulai dinyalakan, pedagang-pedagang makanan mulai berdatangan, dan pasangan muda-mudi mulai keluar kandang…

Masih dengan style yang sama seperti tadi siang kami menyusuri jalan Malioboro. Banyak kaos oblong dengan berbagai corak didesign khusus agar seolah-olah mampu bersuara seperti ini : “Milikilah aku para lelaki ganteng. Kamu pasti akan nampak lebih keren bila bersamaku!!” Mendengar suara gaib seperti itu membuatku harus menutup telinga dan memegang bagian belakang celana jeansku agar dompetku tidak melakukan atraksi lompat indah.

Malam semakin larut, tetapi tidak menyurutkan niat Dani untuk mencari baju oblong gareng untuk sang Adik. Sungguh kakak yang baik hati…Anis pun dengan setia menemani kami bersembilan berjalan-jalan. Sungguh teman yang baik…! Terima kasih ya Tuhan, Engkau telah menghadirkan orang-orang yang baik hati.

Setelah sekian lama berkeliling, akhirnya ditemukan juga baju gareng bertuliskan salah satu grup band luar negeri yang cukup terkenal. Gambar mulut merah besar tersablon dengan sangat rapi di atas baju itu. Setelah negosiasi ala mahasiswa vs pedagang akhirnya Dani membeli baju tersebut dengan harga seperti yang tertera pada papan harga…hehe.

Perjalanan dilanjutkan ke alun-alun selatan. Tempat itu sangat ramai oleh anak-anak muda yang sedang memadu kasih. Malam minggu ini benar-benar momentum yang tepat bagi mereka untuk saling bertemu dan membicarakan kelanjutan hubungan mereka. Iringan musik di atas panggung menambah marak suasana. Siluet pohon beringin kembarpun tak luput dari pandangan kami. Pohon beringin yang dipercaya masyarakat sekitar memiliki kekuatan gaib. Siapapun yang mampu memasuki kawasan pohon beringin itu dengan mata tertutup akan dikabulkan permintaannya, terutama tentang jodoh. Kami sebagai mahasiswa eksak tentu saja tidak berkeinginan untuk mencoba hal semacam itu. Apalagi gelapnya malam pasti akan membuat kami semakin tersesat dan tidak dapat memasuki kawasan beringin itu…(Alasan ini nampaknya cukup kuat untuk mengalihkan alasan utama kami…hehehe).

Hangatnya ronde langsung meresap ke dalam tubuh kami dan berkolaborasi dengan indah di dalamnya. Obrolan santai pun tidak dapat dielakkan lagi di atas trotoar yang dilapisi tikar tipis. Obrolan yang tidak akan mungkin membahas perekonomian Indonesia, gonjang-ganjing partai, dan pertikaian Kaji Karsa. Nuansa yang begitu indah, begitu bersahabat. Hampir tidak bisa ditemukan di semua tempat di Indonesia. Reaksi yang sangat sempurna antara persahabatan dan semangat hidup. Tidak perlu katalis, tidak juga suhu dan tekanan tinggi.. Hanya dibutuhkan pengertian dan saling percaya…

Alun-alun merupakan tempat petualangan teakhir kami sebelum akhirnya kami sampai di tempat peristirahatan. Sebuah tempat yang cukup jauh dari pusat kota Yogya dan harus ditempuh dengan naik 2 kali trans Yogya dan 1 kali mobil carteran. Lelah yang kami rasakan sejak tadi siang pasti akan tersalur dengan baiknya pada kasur-kasur di kamar. Tidak ada residu padat, hanya kenangan indah berfase gas yang tidak akan kami lupa. Setelah mengucap syukur atas segala karunia-Nya, kami pun tidur dengan beraneka ragam posisi dan berharap esok pagi tidak tertinggal kereta yang akan mengantarkan kami kembali ke suatu tempat yang mempertemukan kami bersembilan, Surabaya!

15 November 2008 (Malioboro 2)

Berkeliling Malioboro dengan becak sungguh pengalaman yang mengasyikan. Empat becak disewa secara khusus untuk mengantar gerombolan kami. Perlahan namun pasti becak pun melaju dengan kecepatan yang tidak konstan karena dipengaruhi kekuatan si Abang becak. Becak yang aku tumpangi pasti merupakan becak terberat diantara ketiga becak yang lain karena hal ini tidak terlepas dari kehadiran orang yang satu ini. Anaknya baik; manis klo dikasi gula; ganteng klo diliat dari tugu pahlawan; tidak sombong, tetapi menggonggong; dan yang tak kalah pentingnya anak ini sangat mengagumi Gita Ketawa….Yak, tebakan anda benar…! Si Om alias Gendut alias Wawan adalah partnerku di dalam becak. Sudah dapat dibayangkan bahwa 3:1 merupakan rasio pembagian tempat duduk yang tidak bisa diganggu gugat sekuat tenaga. Untung saja jarak satu tempat dengan tempat yang lainnya tidak begitu jauh, sehingga aku bisa langsung bernapas lega setiap turun dari becak….hufff

Berkeliling-keliling di toko bakpia, dagadu, batik, dll (dan lainnya lupa) memberi kesan yang mendalam pada kami. Walau tak banyak barang bisa kami beli, tapi kami mendapat banyak pengalaman berharga selama perajalanan. Kami menjadi tahu bahwa harga kaos dagadu kini bukan 10 ribu rupiah lagi. Kami akhirnya tahu bahwa bakpia dengan tipe 25 bisa dicicipi gratis di tokonya langsung. Kami pun tahu bahwa baju batik juga bisa dipake saat kita kolokium… Semangat Bang!!

Hujan pun mereda dan kita tiba di pemberhentian terakhir pukul 5 sore waktu Malioboro. Setelah administrasi selesai dengan sopir pribadi kami, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Banyak patung-patung Pahlawan yang kami lihat selama berjalan kaki. Ada rasa senang dan rasa sesal bergelayut dalam hati yang paling dalam. Senang karena melihat patung-patung itu dijaga dengan baik. Semangat kepahlawanannya sangat terlihat dari guratan-guratan yang dibuat sang pengukir. Menyesal karena dulu tidak pernah memperhatikan guru PSPB, selalu menyontek LKS sejarah temen cewek di kelas, dan tidak pernah tertarik dengan manusia purba.

Benteng Vredeburg tidak luput dari kunjungan kami. Dengan 750 rupiah saja kita bisa memasuki benteng itu, melihat betapa indahnya taman yang ada disana, dan berfoto dengan patung salah satu Pahlawan Bangsa (sepertinya patung Jenderal Sudirman…).

Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi pasar sore Malioboro. Banyak yang dijual disana, mulai dari gantungan kunci sampe gantungan baju. Harganya pun sesuai dengan kantong mahasiswa, terutama mahasiswa ITS. Tempat inilah yang menjadi saksi bisu pertemuan aku dengan Anis. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan sesosok lelaki yang sewaktu SMA dipanggil dengan nama Bemby ini. Perawakannya masih seperti dulu, hampir tidak ada yang berubah dari penampilannya. Mulai dari potongan rambut sampe potongan kuku kaki masih menunjukkan Anis yang dulu. Hanya saja logat bicaranya sudah mulai menyatu dengan nuansa Yogya. Tidak lupa para laskar pelangi diperkenalkan juga dengan Anis agar mereka lebih akrab dan sebagai bahan cerita bahwa mereka sempat berkenalan dengan seseorang di Yogya….hehe (lanjutannya di Malioboro 3).

15 November 2008 (Malioboro 1)

Empuknya kursi kereta ekonomi harus aku rasakan lagi selama tidak kurang dari 7 jam. Perlahan namun pasti kereta seventeen (baca: selalu mengalah) ini berjalan menyusuri rel yang telah disediakan (kaya makanan aja). Dengan mengusung nama Pasundan, kereta ini mengajarkan kami tentang kesabaran, kesopanan, tenggang rasa, dan semangat hidup. Sabar untuk tidak mendahului kereta lain adalah kunci selamat. Sopan dalam bersilaturahmi di stasiun-stasiun yang ada menumbuhkan rasa kekeluargaan yang tinggi. Tenggang rasa terhadap sesama penumpang dan pedagang asongan dapat menumbuhkan rasa cinta kasih. Semangat hidup yang selalu membara terpancar pada ujung-ujung sapu pembersih lantai kereta, pada tongkat sebagai pengganti kaki yang tak sempurna, dan pada genjrengan gitar yang tidak selalu harmonis dengan suara vokal. Itulah hidup, penuh perjuangan.
Waktu menunjukkan pukul 12.15 saat kami tiba di stasiun tujuan. Suasana yang sangat damai langsung terasa saat kami tiba. Hawa panas Surabaya tak terasa sampai disini, yang ada hanya hawa lapar sembilan perut lelaki ganteng dengan seribu tingkah polahnya. Belum sempat kaki beranjak pergi dari stasiun, langit seolah begitu gembiranya menyambut kehadiran laskat pelangi ini. Perlahan namun pasti tetesan-tetesan air itu mulai turun membasahi bumi yang sejak tadi kering, seolah-olah ingin berkata, “Selamat datang di kota hujan, Yogyakarta!”.
Sedikit negoisasi dan banyak memaksa akhirnya aku dan Wawan berhasil merayu sopir angkutan untuk mengantarkan kami ke Malioboro dengan biaya tidak lebih dari 20.000 perak. Posisi 4-3-2 menjadi andalan kami dalam berjuang di dalam mobil carry coklat, walaupun kami tahu posisi ini tidak baik bagi kesehatan bila berlangsung selama 1 jam lebih. Dani, Daus, Wawan, dan Syafi ada di posisi back; aku, Bang Manan, ma Fuad ada di posisi gelandang; Mushlik n Hamzah dengan rela menjadi penyerang bersama pak supir. Derasnya hujan sudah mulai tidak terasa karena tetesan air itu membentur besi yang melindungi kami bersepuluh.
Setelah melewati perjalanan yang cukup rumit akhirnya kita sampai juga di depan Mal Malioboro. Semua mata memandang kami. Bukan karena kita bersembilan adalah cowok-cowok kece, bukan juga karena kita adalah mahasiswa dari perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal di Indonesia, tapi karena hanya kita bersembilanlah yang menyempatkan waktu untuk berlari-lari kecil di tengah hujan deras dari tempat pemberhentian angkutan ke depan Mal Malioboro. Sensasi seperti ini sangat langka sekali, apalagi yang melihat bukan hanya penjual kaos Dagadu, penjual es kelapa muda, n penjual es kopyor, tapi juga cewek-cewek manis yang rela menghabiskan berjam-jam waktunya di depan cermin untuk penampilan terbaiknya hari ini. Baju dan celana yang mengandung kadar air berlebih ini tidak menjadi penghalang bagi kami untuk tetap masuk ke dalam Mal. Pasangan muda-mudi sudah mulai berhadiran dalam pandangan. Aroma kue-kue yang dibuat dengan sangat memperhatikan faktor kesehatan mulai menggelitik hidung kami. Tapi kami semua tidak terpancing dengan kenikmatan duniawi seperti itu karena kami semua masih ingin pulang ke Surabaya besok tanpa harus menjadi gelandangan yang kehabisan uang di Yogya…hahaha. Hukum kekekalan massa mulai kami terapkan selama di dalam Mal. Tidak terjadi penambahan massa di dalam tas kami masing-masing selama berjalan-jalan di dalam Mal karena tidak ada barang yang berhasil kami beli.
Hujan mulai reda, tapi suara perut semakin bergemuruh. Mulai dari iringan dangdut sampai alunan jazz telah berhasil dimainkan dengan sangat baiknya oleh lambung-lambung kami. Bunyi-bunyian itulah yang memaksa kami untuk mencari tempat makan yang sesuai dengan suasana hati dan suasana kantong. Tetes-tetes hujan mengetuk kepalaku dengan sangat lembut tapi dalam. Mengiringi setiap langkahku dalam suatu pencarian. Pencarian yang akhirnya harus kutempuh sejauh 1 kilometer lebih dengan berjalan kaki mengitari Malioboro untuk sampai di warung makan yang menyajikan gudeg Jogja.
Makan + berteduh kurang lebih selama 1 jam setengah membuat kondisiku dan temen-temen kembali pulih. Udah siap untuk berpetualang di kota yang mengasyikan ini. Perjalanan mengitari Malioboro tentu bukan perkara mudah, apalagi hujan tak kunjung memberi ampun kepada kami. Maka dari itu, kami memutuskan menggunakan becak untuk berkunjung ke toko bakpia, toko dagadu, toko batik, dan tempat-tempat lainnya…..(bersambung!)