Minggu, 11 Januari 2009

Jangan Lupa Pakai Helm!!

Hari ini selasa yang setengah cerah setengah mendung. Entah mengapa matahari menjadi benda langit yang kehilangan kejantanannya dan lebih memilih menutupi mukanya di balik tirai putih awan. Sungguh pemandangan yang membuat molekul-molekul air lebih nyaman berada dalam pakaian-pakaianku daripada harus merubah wujudnya menjadi uap-uap tak terlihat di udara. Andai kuputuskan untuk melaundrynya saja, pasti akan cepat kering!

Walaupun serba setengah, aku tidak akan mengantarkan Ida ke PolRes dengan setengah hati. Mendengar kata-kata yang berhubungan dengan kepolisian sering membuatku agak bingung. Bingung harus bersikap seperti apa di depan polisi; bingung dengan struktur organisasinya; dan bingung kenapa lampu lalu lintas selalu berwarna merah, kuning, dan hijau.

Terlepas dari itu semua, naluri pertemananku bangkit saat mendengar Ida kehilangan buku tabungan. Dengan gagah perkasa aku mengantarkannya menyusuri Keputih dan Gebang dengan sepeda motor andalanku semenjak SMA, Supra X. Tidak ada hambatan yang berarti selama di perjalanan. Polisi tidur kulewati dengan sangat mulus, tikungan yang ada tak mampu membuat stang motorku bergetar, lubang-lubang jalan akibat truk-truk nyasar masuk kampus tak mampu menjebak roda motorku untuk masuk ke dalamnya. Empat puluh merupakan angka yang aku pilih untuk kecepatan motorku hari ini. Angka ini cukup ideal untuk membonceng seorang cewek diiringi obrolan-obrolan ringan tentang perkuliahan dengan sesekali semilirnya angin membuat rambutku mulai berontak terhadap aturan yang aku tetapkan dengan sisir. Tapi, semuanya indah kok….!

Jarak Gebang dari Keputih tidak begitu jauh. Andai saja Ida mau sedikit agak berkeringat, perjalanan ini mampu ditempuhnya dalam waktu 30 menit dengan berjalan santai sambil mengisap lollipop. Untung saja dia termasuk kedalam ketegori orang beruntung yang mempunyai teman seperti aku….hehe.

Sesampainya di kantor polisi, nuansa heroik langsung terasa di sekujur tubuhku. Gedungnya yang didominasi warna cokelat membuka kembali kenanganku akan bangunan-bangunan sejarah masa lampau, akan pahitnya perang Diponegoro dan perang Padri, akan getirnya penindasan Belanda dan Jepang, dan akan suramnya kehidupan jaman purba (kok jadi pelajaran sejarah?!?!). Kupastikan semuanya baik-baik saja sebelum akhirnya kita berdua masuk ke dalam (yaiyalah, masa’ masuk ke luar!). Motor sudah terparkir di tempat yang disediakan, pakaian rapi, tampang innocent, tidak membawa senpi (senjata api)…”Ok, kita masuk!!” perintahku.

Sesampainya di dalam, kita langsung bertatap muka dengan pak Eliyanto. Jangan kaget mengapa aku tahu namanya karena membaca papan nama di baju polisi bukan hal yang sulit bagiku. Berikut ini adalah kutipan percakapan dengan pak Eliyanto yang sempat aku ingat:

“Selamat pagi, Pak!!” (dengan muka penuh percaya diri dan berwibawa ala mahasiswa ganteng.)

“Selamat pagi!” (dengan muka yang menunjukkan bahwa ia adalah polisi senior yang sering menggertak maling-maling ayam.)

“Kami bermaksud mengurus surat berita kehilangan. Mungkin Bapak bisa bantu?!” (dengan nada yang melankolis dan dimulai dengan kunci A minor.)

“Kehilangan apa?” (nadanya naik satu oktaf dari nada awal dan sedikit fals.)

“Kehilangan buku tabungan, Pak!” (Ida menjawab dengan begitu sopan.)

“Tadi dateng dari mana?” (pertanyaan yang udah keluar alur nih!)

“Dari Keputih.” (tetep dengan nada bicara cewek sopan!)

“Walaupun dari Keputih, tetep harus pake helm. Kalian kan mahasiswa, seharusnya bisa memberi contoh yang baik kepada masyarakat. Jangan bisanya hanya protes saja! Orang yang tidak membawa helm saat berkendaraan di jalan saja langsung kami bawa ke kantor, kalian malah jelas-jelas bersepeda motor ke kantor polisi tanpa membawa helm!!” (harus Dewa Budjana yang mencari kuncinya karena nadanya naik turun dan menukik tajam menembus dinding hatiku)

“?!?!@ Kami mohon maaf, Pak!!” (mulai terdengar fibrasinya.)

“Kalau di kantor polisi lain kalian tidak akan dilayani!!” (lirik penutup yang begitu dalam.)

Pak Eli masuk ke ruangannya dan diikuti dua bocah yang masih shock karena mendapat kultum (kuliah tujuh menit) pagi hari.

Setelah menjawab semua pertanyaan yang diajukan, Ida dapat langsung menerima surat bukti kehilangan yang dibuat pak Eli. Senangnya hatiku turun panas demamku…senangnya oh senangnya!!!

Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun bergegas pulang dan tidak lupa mengingat dengan kuat nama tempat ini. Aku benar-benar mendapatkan pelajaran moral yang sangat berharga hari ini. Aku menjadi tahu bahwa untuk mengurus surat berita kehilangan kita harus membawa 2 benda penting, yaitu kartu identitas dan helm.


Asimtot (mendekat tetapi tidak menyatu)

“Hari ini kita akan belajar mengenai trigonometri, adik-adik! Trigonometri adalah salah satu cabang ilmu matematika yang mempelajari tentang indahnya hubungan antargaris pada segi tiga. Tahu segitiga nggak? Klo nggak tahu, balik lagi aja ke TK!!

Berbicara tentang trigonometri pasti bicara juga tentang tiga serangkai ini; yakni sinus, cosinus, ma tangen (udah pada tahu rumus cepetnya kan, soalnya nggak akan diajarin disini). Sin, cos, ma tan udah kaya keluarga aja. Jangan memisahkan mereka bertiga dari ingatan selama kita ada di kelas IPA karena usaha itu akan memisahkamu dengan temen-temen sekelas yang kamu cintai dan mendekatkanmu dengan adek-adek kelas. Bahaya Brur!!!

Kita nggak akan membahas sin, cos, ma tan secara keseluruhan, tapi kita akan lebih fokus pada tan aja. Ini bukan usaha pemisahan loh, cuma pemokusan (ngeles!). Nilai tangen dari suatu bilangan bervariasi, tergantung dari besarnya bilangan tersebut. Semakin besar bilangan yang dioperasikan dengan operator tangen tidak menjamin hasilnya akan semakin besar pula. Sebagai contoh, nilai tangen 45 = 1, sedangkan nilai tangen 180 = 0. Kita ketahui bersama bahwa nilai 45 lebih kecil daripada 180, tetapi nilai tangennya memberikan hasil yang lebih besar. Ini bukan sulap, pemirsa!

Pada segitiga, nilai tangen suatu sudut dapat diketahui dengan membandingkan panjang sisi depan dan panjang sisi samping sudut yang bersangkutan. Biar lebih bingung lagi, nilai tan suatu bilangan dapat diperoleh dari perbandingan nilai sin dan cosnya. Udah mulai ngerti kan!!?!

Sekarang kita berbicara lebih dalam lagi (kaya sumur aja!). Ada beberapa nilai bilangan tertentu yang saat kita operasikan dengan tan memberi nilai yang cukup unik. Unik karena kita akan melihat tulisan Math ERROR pada kalkulator casio fx-350MS. Kenapa bisa terjadi hal demikian? Setelah diselidiki oleh ahli-ahli matematika, hal tersebut terjadi karena nilai penyebut dari suatu perbandingan adalah 0. Jadi, bilangan apapun bila dibandingkan dengan 0 akan membuat kalkulator bingung tujuh keliling. Contoh bilangan yang memberikan nilai unik ini adalah tangen 90 dan 270. Nilai ini akan sulit direpresentasikan pada suatu grafik cartesian. Maka dari itu, dibuat suatu pendekatan dengan menggambarkan kumpulan titik-titik (garis) yang merupakan nilai-nilai tangen bilangan yang lebih rendah dan mendekati niai 90 atau 270. Garis ini bentuknya melengkung dan sangat indah. Garis ini berusaha mendekati suatu garis lurus tertentu, namun tidak menyinggungnya sama sekali apalagi memotongnya. Berusaha untuk terus mendekatinya, tapi tidak akan pernah bersatu dengan garis lurus tadi. Inilah filosofi asimtot….sang pengagum sejati; berusaha ada di dekat seseorang yang dikagumi, tanpa ada keinginan untuk menyakitinya dan sadar dengan sepenuhnya bahwa menjadi satu terkadang bukan pilihan yang bijak.”

Teeetttt….teeettttt….teetttetteee….t….!!! “Udah waktunya istirahat, adik-adik!”

Juanda 2

Ada satu tekad yang kuat membara dalam diriku setelah insiden malam itu (Juanda 1), aku tidak boleh telat lagi…aku kangen rumah, kangen soto ayam mbah Putri, kangen pasir Senggigi, kangen temen-temen di Mataram!!

Pagi ini semuanya tampak rapi. Tidak ada hal-hal yang membuatku berprasangka buruk hari ini. Bolpoinku masih ada di atas meja, sisir masih terletak dengan ganteng di tempatnya, tas pakaianku masih tiduran dengan santai di atas lantai kamar kost. Semuanya tampak baik-baik saja. Asistenku hari ini adalah Mail. Mail adalah nama beken dari seorang cowok A2 yang santai, cuek, easy going, dan bernama asli Daus. Nama panjangnya dipakai bila kita membutuhkan bantuannya saat berada di hutan, yaitu Daaauuuuusssssss!!! Untuk selanjutnya kita sepakat menamai tokoh yang satu ini dengan sebutan MAIL.

Mail adalah orang beruntung yang akan mengantarkanku meyusuri jalan-jalan yang sudah aku jelajahi tadi malam, jalan menuju bandara Juanda. Setelah mandi, gosok gigi, dan sembahyang, aku segera menelepon Mail untuk panjelajahan hari ini. Pukul 8 kurang 15 WIK (Waktu Indonesia bagian Keputih) aku dan Mail berangkat menuju bandara. Kali ini tentu saja dengan motornya Mail. Perjalanan menyusuri Arief Rahman Hakim brerlangsung datar-datar saja. Kecepatan motor yang konstan diiringi obrolan ringan tentang chiki, taro, potato, dan cheetos…(itu sih makanan ringan!). Memasuki area Semolowaru, keringatku mulai menampakkan wujudnya. Macet Bos…! Jam-jam segeni biasanya bapak-bapak kantoran, anak-anak sekolah yang belum tau mau jadi apa, ma ibu-ibu rumah tangga yang suka menghabiskan waktunya berjam-jam di pasar pada tumpek blek di jalan yang kira-kira memiliki lebar 3,4561 m. Mobil pribadi, mobil pinjeman, mobil kreditan, motor ramah lingkungan, motor berasap, sepeda ontel, becak, dan beberapa jenis kendaraan lainnya sama-sama berusaha menjadi yang terdepan. Menjadi yang terdepan emang bagus, tapi kalo sama-sama kaya gini…macet, g ada yang mau ngalah. Aku dan Mail menyingsingkan lengan baju dan bersiap untuk persaingan tidak sehat ini. Trotoar serasa jalan bagi kendaraan bermotor juga. Hari ini aku dan Mail buta rambu-rambu lalu lintas. Waktu yang tersisa tinggal beberapa menit, sedangkan jarak yang ditempuh masih cukup jauh. Aku lupa memperhitungkan kemacetan ini. Aku harus sampai di Juanda pukul setengah 9 agar tidak terjadi insiden seperti tadi malam. Ayo iL kamu bisa….Aku percaya kamu (D’masiv)!

Pukul 8.15 kita udah sampai di Giant pondok Candra. Tinggal 15 menit lagi dan aku merasa Mail sanggup mengantarkan aku tepat waktu. Apalagi melihat track recordnya sebagai pembalap Keputih yang cukup punya nama. Aku pun terhanyut dalam kepasrahan..Oh, indahnya.

Sesuatu yang indah memang sering berlangsung begitu cepat. Menurut perhitunganku berlangsung selama 5 menit sebelum akhirnya kami berdua jatuh tersungkur di jalan depan UFO (nama toko pakaian) gara-gara menabrak bagian belakang mobil carry yang hendak belok kanan. Bruk!!!…Prank!!!….Aduh!!! (yang terakhir suaraku sendiri). Benar-benar kejadian yang tak terduga. Seandainya saja lampu sein mobil itu menyala, keadaannya mungkin tidak separah ini. Dengan menahan sedikit sakit aku mendorong motor Mail yang sudah hancur bagian spakbornya ke trotoar. Aku dan Mail cukup shock. Luka di kaki tidak separah luka di hati saat melihat mobil carry yang kita tabrak dari belakang terus melaju lurus seolah tidak terjadi apa-apa. Hei Bung, inikah cara orang kota berbicara,,,?!?!?!

Aku lihat wajah Mail tampak lesu. Tangan kanannya memegang minuman kemasan yang diberikan seorang wanita yang bersimpati kepada kami. Tatapannya masih kosong. Terlihat jelas bahwa dia merasa bersalah hari ini karena tak mampu mengontrol kecepatan motornya. Sambil minum aku pun berdoa, “Ya Tuhan, aku berpasrah bila hari ini bukan hari terbaik untuk keberangkatanku ke Mataram.”

Setelah beberapa menit Mail bangkit dan langsung menyuruhku untuk mengangkat tas pakaian. “Masih ada waktu Coy! Motorku masih bisa jalan! Ayo kita lanjutin!”

Aku tiba-tiba melihat semangat yang membara dari kedua matanya. Semangat yang entah datangnya dari mana mampu membuat Mail terlihat begitu tampan hari ini. Sepatu kets, celana jeans, sarung tangan, dan jaket merah Mail seolah–olah berkata “tidak ada kata terlambat Bung! Let’s go!”

Aku menuruti permintaan Mail dengan perasaan yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata sederhana. Baru kali ini aku merasakan luka di kaki dan hati bercampur dengan perasaan bangga akan kebaikan seorang teman dan kerinduan yang mendalam akan kampung halaman. Sungguh mempesona!!

Sampai di Juanda, aku langsung berlari menuju tempat check in tiket. Tidak ada lagi adegan melankolis pengucapan terima kasih. Yang harus aku lakukan adalah memastikan bahwa jam di bandara belum menunjukkan pukul 8.30. Mail menungguku di tempat parkir bandara. Akhirnya, angin surga pun berhembus….Begitu senangnya aku saat melihat angka 8.28 WIB terpampang besar di tembok bandara.

“iL, makasi banyak. Gimana keadaanmu? Aku udah bisa check in sekarang. Tunggu aku pulang ya, nanti kita urus motormu sama-sama.”

“Ok Coy, tenang aja. Aku baik-baik aja kok.”

Percakapan yang terjadi di dalam gedung bandara dan tempat parkir bandara ini kunobatkan sebagai percakapan teromantis hari ini…Makasi banyak iL!!

Setelah mematikan handphone, Mail pun bergegas meninggalkan bandara dengan sepeda motor yang memberikan efek tambahan baru bagi penumpangnya.

Juanda 1

Alkisah, hiduplah seorang pemuda dari kerajaan Mataram yang kini menimba ilmu di perguruan ITS. Bertahun-tahun mempelajari ilmu kimia untuk menaklukan musuh-musuhnya. Musuh terbesarnya tidak lain dan tidak bukan adalah….eng…ing…eng….dirinya sendiri (glodak, gubbrakkk, prang, dueeerr!!).

Sekarang mulai serius nih….!

Hari ini tepat tanggal 21 Desember 2008 penanggalan masehi. Lebih tepatnya lagi jatuh pada hari minggu pon, sasih kenam, wuku dukut (pasti bukan hari yang cocok buat kerja di air, soalnya bukan lumba-lumba!hehehe). Angka di kalender berwarna merah dan ini merupakan salah satu indikator kebahagiaan bagi mahasiswa rantau seperti Aku ini. Berbulan-bulan berhadapan dengan jurnal-jurnal ilmiah, laporan praktikan kimia dasar, laporan KP, rancangan TA yang belum jadi, dan rancangan masa depan yang mulai kelabu, akhirnya Aku memutuskan untuk turun gunung sekedar melepas lelah. Tepat pukul 18.50 WIB nanti, pesawat yang akan mengantarkan Aku ke Mataram berangkat dari bandara Juanda. Persiapan harus matang, mulai dari baju layak pakai, celana pendek dan panjang, perlengkapan mandi, dan beberapa aksesoris peningkat ketampanan tidak boleh lupa dibawa. Ternyata itu saja belum cukup, Papa (ceileh!) menyuruhku untuk membelikan pakaian untuk 2 penjahat kecil di Mataram. Kedua makhluk ini tentu saja misan-misanku yang baru berumur masing-masing 1 dan 2 tahun. Pekerjaan tambahan deh…!

Pekerjaan seperti ini tentu saja membutuhkan naluri seorang wanita. Dengan daya penglihatan dan penciuman yang dimiliki, wanita pasti dapat mencarikan hal-hal yang berhubungan dengan pengemas badan balita ini dengan amat mudah. Hal seperti itu sudah Aku ketahui, so Aku meminta tolong seorang teman cewek dari perguruan yang sama untuk menemaniku mencarikan barang wasiat ini. Nama wanita tersebut adalah Bunga (bukan nama sebenarnya).

Perjalanan ke tempat tujuan tidak membutuhkan waktu lama. Delta Plasa masih berdiri di tempat yang sama seperti 3 tahun lalu. Tanpa berpikir panjang kami pun langsung menuju lantai 3 dan bersilaturahmi dengan para pelayan Matahari Dept. Store disana. Muter-muter, ngobok-ngobok pakaian balita, dan clingak-clinguk adalah aktivitas-aktivitas yang kami lakukan secara berulang-ulang di dalam toko yang membuat kepalaku pusing 7 keliling. Waktu begitu cepat berlalu, dan 2 jam di dalam toko sama seperti 120 menit….hufff. Dengan penuh perjuangan, kami pun menemukan 2 pakaian balita yang sepertinya cocok untuk misan-misanku di Mataram. Harganya pun tidak lebih mahal dengan harga gitar Akustik yang ada di kostku (perbandingan yang aneh!). Setelah transaksi pembelian berlangsung, kami pun tidak lupa pulang ke kost masing-masing. One mission complete!!

Jam 3 sore Aku ada janji ma anak-anak Vanilla untuk ngeband bareng. Sebagai anak band yang bertanggung jawab, mau tidak mau Aku harus menepati janji itu. Studio yang kami pilih untuk atraksi kami hari ini adalah studio Mayura di daerah Bratang. Pram, Gendut, Mail, Lego, Dani, Prima, ma Aku tentu tidak bisa menyembunyikan kegembiraan di sore hari ini. Dengan durasi waktu 2 jam kami berhasil merubah semua aransemen lagu D’masiv, Ungu, dan ST 12 menjadi tidak komersil….hehehe. Penyaluran energi ini cukup positif sekali bagi kami. Tidak menyebabkan kanker, gagal jantung, dan gangguan kehamilan. Walaupun lebih banyak tawa dibandingkan suara alat musik, kami semua bahagia….sekali lagi…bahagia!!

Pukul 5 sore atraksi berakhir dan Aku harus cepat-cepat pulang ke kost dan bergegas ke bandara Internasional yang disepakati bersama bernama bandara Juanda. Letaknya cukup jauh dari Keputih dan itu berarti dibutuhkan perhitungan waktu yang sangat rumit untuk sampai tepat pada waktunya. Setidaknya rumus t=s/v merupakan rumus dasar yang Aku gunakan untuk perhitungan awal. Riesthandie adalah orang yang terkena musibah untuk membantuku mengaplikasikan teori kecepatan klasik ini. Pukul 6 sore kami berdua meninggalkan Keputih dengan sepeda motor. Langit sudah mulai menghitam. Petir mulai menunjukkan taringnya di kejauhan, tapi hujan belum berani turun. Perjalanan ini sungguh menegangkan, setidaknya untuk kami berdua. Aku baru menyadari pentingnya waktu disaat Aku tidak mempunyai banyak waktu lagi…(yang ini serius Coy!). Laju sepeda motor Riesthandie berbanding lurus dengan laju detak jantungku. Kerikil-kerikil kecil di jalan tak mampu membuat sepeda motor Riesthandie kehilangan keseimbangan, tetes-tetes air mata langit belum mampu memadamkan api semangat kami, tiupan angin malam belum mampu menerbangkan segala niat yang mulia untuk datang tepat waktu di Juanda. Teriring doa yang tulus, akhirnya kami pun sampai di bandara Juanda sebelum pesawat yang akan mengantarkanku ke Mataram berangkat. Bak seorang yang akan pergi jauh dan tak kembali, Aku pun menjabat erat tangan Riesthandie dan mengucapkan terima kasih dengan nada dasar C#m, sehingga terdengar lebih menyayat hati. Riesthandie pun berlalu dari hadapan dan dengan cepat malam membuat sosoknya tidak tampak dari kejauhan….

Memasuki bandara adalah hal yang biasa Aku lakukan. Berjalan santai dan tersenyum ramah pada petugas-petugas bandara adalah hal yang sudah Aku hapal semenjak SMA. Namun, ada hal yang agak luar biasa malam ini. Salah seorang petugas Lion Air menyatakan bahwa Aku tidak layak terbang malam ini karena datang terlambat ke Bandara. Bayangkan saja, aku datang pukul 18:40, sedangkan pesawat berangkat pukul 18:50…Ini g mahasiswawi..!

“Seluruh penumpang seharusnya sudah melakukan check in 30 menit sebelum pemberangkatan,” kata salah seorang petugas bandara ketika Aku menanyakan alasan mengapa insiden ini dapat terjadi. Ini bukan pertama kalinya aku datang ke bandara mendekati jam penerbangan pesawat, tapi baru pertama kalinya aku dinyatakan tidak boleh terbang karena masalah waktu seperti ini. Sebagai kaum intelektual aku tidak memperpanjang masalah dan mencoba menanyakan beberapa solusi yang mungkin agar Aku tetap bisa berangkat malam ini.

“>!@##!>#!#(#U$!(!),” kata petugas bandara tersebut.

Aku pun terdiam dan mulai menunggu di depan kantor Lion Air.

Entah ada angin apa, Aku mendengar pengumuman dari petugas bandara yang menyatakan bahwa pesawat Lion Air dengan tujuan Mataram ditunda pemberangkatannya sampai pukul 20:05 WIB. Sontak, Aku langsung menghampiri petugas Lion Air dan menanyakan tentang status kepenumpanganku malam itu. Mungkin ini adalah bagian dari proses saling menghormati dan menghargai, tenggang rasa dan tepa selira, serta saling mencintai sesama manusia dan Aku pun dinyatakan tetap TIDAK BISA berangkat karena alasan menyalahi ATURAN. Dengan lesu, Aku menelpon keluarga yang ada di Mataram dan mengabarkan bahwa Aku tidak bisa berangkat malam ini. Aku tahu ini berat, tapi Aku tidak mau membebani langkah kepulanganku ke kost dengan sumpah serapah!! Banyak pengalaman berharga yang aku peroleh….ada persahabatan, ada aturan, ada tiket untuk penerbangan esok hari, dan ada supir taksi yang turut berduka atas kecerobohanku malam ini….(Bersambung!)

Pake tangan manis donk..!


Judul di atas merupakan ucapan khas seorang Ibu saat melihat anaknya yang masih berusia di bawah 5 tahun mengambil sesuatu dengan tangan kiri. Mendengar kata-kata seperti itu sang anak langsung merespon dengan mengganti tangannya dengan tangan yang satu lagi untuk mengambil barang yang ada di hadapannya. Setelah barang berada di tangan, sang anak bisa tersenyum lega penuh kemenangan. Akhirnya, sang anak hidup bahagia untuk selamanya…(lho?!?!)

Kejadian tersebut sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hampir tidak ada permasalahan yang terjadi. Sang ibu senang karena anaknya telah belajar arti kesopanan, sedangkan sang anak juga tidak kalah senangnya karena telah mendapat barang yang diinginkan. Tidak ada konflik yang terjadi pada saat itu antara ibu dan anak. Namun, apabila kejadian ini berlangsung terus-menerus dan sang ibu selalu mengatakan kata-kata yang sama untuk melarang anaknya mengambil barang dengan tangan kiri, akan ada akibat yang muncul. Kata “akibat” tidak selalu berkonotasi negatif. Akibat adalah suatu konsekuensi yang terjadi karena sebab tertentu.

Seringnya sang anak mendengar kata-kata “tangan manis” menyebabkan terbentuknya suatu pemikiran bahwa tangan kanan merupakan tangan yang manis, sedangkan tangan kiri merupakan tangan yang “kurang manis” atau “tidak manis”. Dikotomi tersebut menyebabkan apresiasi negatif terhadap tangan kiri. Banyak orang yang menganggap tangan kiri bukan “tangan yang baik” untuk melakukan aktivitas yang sifatnya mengambil atau memberi sesuatu kepada orang lain. Oleh karena itu, banyak orang kidal yang berlatih “mati-matian” untuk mengaktifkan tangan kanannya dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut.

Kesopanan memang harus kita jaga. Sistem sudah dirancang dengan baik, tinggal bagaimana kita selalu menjaga alur agar tidak terlampau keluar dari batas. Penggunaan tangan kanan untuk aktivitas-aktivitas “memberi dan menerima” ini merupakan suatu hal yang sangat baik dan banyak orang akan merasa dihargai. Apalagi bila aktivitas ini dilakukan dengan penuh keikhlasan. Hanya saja, perlu ada suatu perubahan paradigma tentang dikotomi antara tangan kiri dan tangan kanan. Tangan kiri merupakan “slegrengan” (bahasa anak A2) bagi tangan kanan. Bersyukurlah kita yang dianugerahi kedua tangan ini oleh Yang Di Atas. Tangan kiri mungkin dianggap kurang baik untuk aktivitas-aktivitas tertentu, tapi dapat digunakan untuk aktivitas yang lain. Kita harus bisa mensinergikan kerja kedua tangan karena berpengaruh besar terhadap kinerja otak kanan dan otak kiri. Orang yang selalu mengerjakan sesuatu dengan tangan kanan merupakan orang yang otak kirinya bekerja lebih dominan dibandingkan otak kanannya. Kita harus menyeimbangkan kerja otak kiri dengan otak kanan dengan menyeimbangkan aktivitas tangan kanan dan tangan kiri. Kita dapat belajar menulis denan tangan kiri untuk lebih mengaktifkan otak kanan kita. Bisa juga mencoba menyapu lantai rumah dengan tangan kiri. Awalnya pasti sulit, tetapi bila dilakukan terus-menerus pasti akan menjadi suatu kesenangan tersendiri. Oleh karena itu, mari aktifkan tangan kiri kita. Hidup tangan kiri…!!!!!

Nasi goreng terenak….


Aku adalah orang yang sangat menyukai makanan yang satu ini. Makanan khas dalam negeri ini selalu membuatku kangen rumah. Paduan rempah-rempah yang diulek sebagai bumbu menambah cita rasa tersendiri. Aku benar-benar bisa melihat Indonesia dari hanya melihat satu piring nasi goreng yang siap disantap. Bumbu yang terbuat dari paduan cabe-cabean dan bawang-bawangan menunjukkan bahwa negeri ini memiliki beraneka ragam flora. Tambahan garam sebagai penyedap rasa menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari lautan. Cobek yang digunakan dalam pengulekan bumbu menunjukkan bahwa bangsa ini sangat mencintai warisan leluhur. Beras sebagai bahan baku nasi goreng menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu Negara agraris di dunia. Kecap menunjukkan bahwa penduduk Indonesia manis-manis. Saos yang berwarna merah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang pengecut. Minyak yang digunakan untuk menggoreng menunjukkan bahwa Negara kita masih punya stok minyak bumi, walopun tidak banyak lagi. Tumpukan nasi goreng yang berasap di atas piring menyerupai bentuk gunung yang menandakan bahwa Indonesia memiliki banyak gunung berapi. Sungguh makanan yang memiliki filosofi tinggi….!

Itu adalah beberapa alasan mengapa aku menyukai nasi goreng, selain karena harganya yang relatif terjangkau oleh mahasiswa rantau seperti aku dan waktu produksi yang relatif singkat. Semenjak menjadi mahasiswa dan mengenal apa yang disebut tempat kost, nasi goreng tidak lagi menjadi makanan gratis yang bisa disantap setelah mengucapkan password “Bu, tolong buatin nasi goreng!”

Masa-masa indah itu kini telah berlalu, tapi kenangannya masih membekas sampai sekarang. Waktu telah mengajarkan banyak hal tentang kedewasaan. Berbagai tempat makan aku jelajahi untuk mencari nasi goreng yang memiliki kualitas sebaik kualitas nasi goreng yang dibuat ibuku. Akhirnya, pilihan jatuh pada nasi goreng yang dibuat oleh seorang bapak tua di daerah Gebang, Surabaya. Gerobak dengan logo MN selalu menemani bapak tua ini dalam berjualan nasi dan mie goreng. Tangannya yang kurus kering mampu mengaduk 7 porsi nasi goreng sekaligus di atas penggorengan. Bapak tua yang sampai saat ini belum aku ketahui namanya ini merupakan orang yang sangat menjaga cita rasa dan mencintai kebersihan. Perhitungan komposisi campuran bumbu-bumbu merupakan hal yang sudah ada di luar kepala tanpa harus bergelut dengan mata kuliah kimia dan kalkulus. Antri adalah hal yang hampir selalu aku lakukan setiap memesan nasi goreng ini karena jumlah pembeli yang cukup banyak. Nasi goreng bapak tua ini selalu menjadi alternatif pertama saat aku ingin menikmati nasi goreng sebagai santapan malam hari.

Nasi goreng ini memiliki karakter sendiri dari segi rasa. Bumbu-bumbu yang digunakan tercampur secara merata pada nasi goreng. Tidak ada kadar yang berlebihan dan tidak terjadi penumpukan bumbu pada salah satu bagian nasi goreng. Potongan-potongan kecil ayam goreng yang diberikan untuk 1 porsi nasi goreng juga cukup banyak. Namun, tetap saja tidak bisa mengalahkan nasi goreng yang dibuat ibuku. Ada satu bumbu yang digunakan ibuku untuk memenangkan pertandingan ini. Bumbu rahasia itu adalah kasih sayang Ibu kepada anaknya.

Tidak semua larutan dapat saling campur! (Oleh : Asisten Percobaan 5 Kimia Dasar 1)


Mencampur larutan adalah hal yang tidak terlalu sulit untuk dilakukan seorang mahasiswa kimia. Laboratorium menjadi tempat yang asyik untuk melakukan pekerjaan ini. Banyak hasil yang dapat diperoleh dari hanya mencampur larutan. Timbulnya warna pada campuran, keluarnya gas, dan terbentuknya endapan bukanlah pemandangan yang aneh lagi. Sungguh sesuatu yang biasa….biasa membuat bingung bila harus menjelaskan reaksinya..hehe.

Terlepas dari kebingungan tadi, aku hanya ingin mencoba menjelaskan tentang campur-mencampur ini dalam kaitannya dengan suatu hubungan manusia. Manusia selalu berhubungan dengan manusia lainnya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Hubungan tersebut tidak selamanya berjalan dengan mulus dan tidak semua manusia bisa berhubungan dengan manusia lainnya dengan nyaman. Ada konflik sebagai bumbu.

Begitu juga dengan larutan. Hanya ada satu prinsip dalam pelarutan, yaitu like dissolved like. Larutan satu akan mampu bercampur sempurna dengan larutan lain apabila memiliki sifat (polaritas) yang sama atau tidak jauh berbeda. Bila pencampuran dilakukan antarlarutan yang memiliki tingkat polaritas yang berbeda, maka akan terbentuk lapisan antarmuka (interface) yang memisahkan kedua fase larutan. Peristiwa tersebut dapat kita lihat dengan nyata pada campuran air dan minyak. Salah satu hal yang dapat kita lakukan agar larutan yang tidak saling campur tersebut menjadi bercampur yaitu dengan mengatur temperatur campuran. Pengaturan temperatur dapat dilakukan dengan memanaskan atau mendinginkan campuran. Dengan begitu, diharapkan campuran tersebut tidak akan terpisah lagi. Tapi perlu diingat bahwa ada beberapa campuran yang membutuhkan suhu ekstrim (sangat tinggi atau sangat rendah) agar dapat saling bercampur satu sama lain.

Maka dari itu tidak heran bila melihat orang yang satu selalu tidak akur dengan orang yang lain. Ada orang yang sangat mencintai orang yang lain. Ada orang yang sangat akrab dengan orang yang dulunya sangat dia benci karena sudah melewati suatu proses pengaturan temperatur. Kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk mengatur temperatur emosi diri kita sendiri. Tidak seperti larutan yang membutuhkan pengaturan temperatur dari lingkungan. Sekarang, sudah saatnya kita mengatur temperatur emosi kita untuk dapat berhubungan baik dengan semua orang…(“,)