Senin, 15 Februari 2010

Aku, DR 6830 AL, dan Lalu Lintas


Sebagai seorang yang senang jalan-jalan, aku sangat akrab dengan jalan raya dan segala aturannya. Mulai dari jalan yang mulus tanpa lubang, sampai jalan berbatu-batu yang terjal pernah aku lewati bersama DR 6830 AL. Motor supra kesayanganku ini dengan setia menemani hari-hariku dalam suka dan duka selama kurang lebih 8 tahun. Beragam kecelakaan, pertemuan dengan polisi dan surat-surat tilangnya, dan pertemuan dengan orang-orang dari daerah yang baru semakin mempererat hubungan kekeluargaan diantara kami. Tiga masa telah kami lalui bersama, yaitu masa sekolah, masa kuliah, dan saat ini - masa kerja. Penuh dengan petualangan dan menambah pengalaman.

Melintasi jalan raya, kita pasti pernah melihat lampu lalu lintas yang berwarna merah, kuning, dan hijau itu. Lampu tersebut dibuat dan dipasang dengan begitu baiknya disertai juga dengan penghitung waktu mundur untuk memberikan “efek kepastian” bagi pengendara, kapan waktu yang tepat untuk melaju dan berhenti. Namun, tetap saja ada pengendara yang tidak mampu membaca makna warna-warna yang indah itu. Buta warna jangan dijadikan alasan. Aku pernah berbicara dengan seseorang yang buta warna. Dia berkata, “Aku memang tidak bisa membedakan warna merah dan hijau, tapi aku bisa membedakan atas dan bawah. Bila lampu atas yang menyala, aku berhenti dan bila lampu bawah yang menyala, aku pun melaju.” Bila semua orang mampu memberi apresiasi yang baik pada isyarat warna lampu ini, aku pikir polisi tidak perlu lagi berdiri pada pagi hari di samping lampu lalu lintas untuk mengatur kendaraan yang akan berhenti atau melaju. Sudah ada aturan, tidak perlu ditambah aturan sejenis dengan gaya yang berbeda. Polisi cukup berdiri sambil bersiap menghadang para pelanggar lalu lintas sambil tersenyum ramah kepada pengendara yang patuh aturan. Senyummu begitu berarti. Kecuali, bila terjadi mati listrik dan lampu lalu lintas tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Namun, aku yakin dengan adanya Dirut PLN yang baru akan banyak perbaikan yang berarti.

Menunggu lampu merah yang akan berganti lampu kuning, kemudian hijau, memang terkadang membosankan. Nyala lampu merah tersebut pun bervariasi waktunya tergantung pada besar jalan dan banyaknya persimpangan. Ada yang setengah menit, 1 menit, bahkan aku pernah menunggu lebih dari 100 detik. Jangan bengong karena orang yang ada di belakang kendaraan kita sudah siap dengan klaksonnya. Berbicara mengenai klakson, aku punya beberapa tafsiran dalam bahasa manusianya. Makna klakson dibedakan berdasarkan panjang-pendeknya bunyi. Bunyi klakson yang pendek bisa berarti : “Permisi Mas, saya duluan ya!”, “Maaf, lampunya sudah hijau, waktunya melaju!”, “Jangan melintas dulu ya, Pak!”, “Halo cewek cantik!”, “Woi Bro, kita beli motor di kota yang sama!”, “Permisi, semoga saudara-saudara tenang di alam sana!”, dan “Permisi, saya ijin melintasi jembatan ini!” Bunyi klakson panjang bisa berarti : “Hei, matamu dimana?!! Lampunya udah ijo!!”, “Woi minggir, mau lewat nih!!”, “Jangan taruh motor di tengah jalan! Emang ini jalan bapakmu!!”, “Roti…roti…roti!”, “Sayurnya, Bu!”, “Arek-arek Suroboyo, saiki persebaya tanding!”, “Halo semuanya, hari ini Slank konser! Peace!!” dan “Akhirnya aku lulus UNAS!”.

Sambil menunggu lampu merah, kita pasti pernah membaca tulisan “daerah rawan kecelakaan” atau “disini sering terjadi kecelakaan” atau “disini lokasi bus terbakar”. Menurutku, kalimat-kalimat negatif seperti tidak perlu ditulis pada sebuah papan besar yang memberikan efek ketakutan pada pengendara. Ganti saja dengan yang lebih memotivasi, seperti “hati-hati pangkal selamat” atau “berkendaralah dengan hati-hati karena keluarga tercinta menunggu di rumah” atau “patuhi aturan lalu lintas agar selamat sampai tujuan, terima kasih” atau bisa juga “jangan lupa berdoa dalam perjalanan agar selamat sampai tujuan”. Para pengendara tidak perlu ditakut-takuti dengan kecelakaan-kecelakaan, perbaiki saja jalan-jalan yang berlubang besar dan tidak rata itu.

Mungkin sekian yang dapat aku bagi. Aturan lalu lintas dibuat untuk dipatuhi seluruh pengendara kendaraan kecuali ambulan dan motor serta mobil pengiring pejabat yang melintasi jalan raya. Semoga bermanfaat.

Kamis, 11 Februari 2010

Dari mana?


Dari mana adalah sebuah pertanyaan yang kadangkala membingungkan, ambigu, dan terkesan basa-basi. Namun, pertanyaan ini hampir selalu ditanyakan pada sebuah pertemuan awal dengan seseorang dan merupakan wujud keingintahuan kita tentang aktivitas seseorang. Bila hanya dua kata ini saja yang diucapkan, tentu akan menimbulkan beragam jawaban. Seseorang yang begitu menghormati ibunya pasti akan menjawab dengan begitu polosnya, “dari rahim seorang ibu”. Seorang putra daerah dengan bangga menjawab “dari Jakarte, kalo lo dari mane?”. Seseorang yang baru saja selesai mencuci tangan akan menjawab “dari belakang”. Seseorang yang belum sarapan akan menjawab “dari tadi tau!!” Seorang nasionalis akan menjawab “dari Sabang sampai Merauke”. Seorang pujangga akan berpuisi “dari hati yang penuh cinta”. Seorang musisi akan berdendang “dari kunci C ke F”. Seorang penggila bola akan menjawab dengan semangat, “dari kotak penalti”. Dan seorang gadis cantik yang sedang digoda pengamen terminal akan menjawab dengan judesnya, “mau tau aja!”
Pertanyaan sesederhana itu bisa menimbulkan respon yang beragam. Sungguh mengesankan. Belum lagi bila dikombinasikan dengan kata lain sehingga terbentuk pertanyaan seperti ini, “aslinya dari mana, Mas?” Ini adalah satu pertanyaan yang cukup lucu. Bagiku, bila ada sesuatu yang dikatakan asli, pasti ada sesuatu yang lain yang berstatus tidak asli atau palsu. Untung saja tidak ada orang iseng yang bertanya, “palsunya dari mana, Mas?” Ada juga pertanyaan filosofis yang menuntut pikiran kita bergerak ke wilayah filsafat seperti, “asalnya dari mana, Pak?” Bila berbicara masalah asal-usul, apalagi manusia, hanya beberapa ahli teologi dan saintis yang dapat memberikan gambaran, bukan orang awam yang tidak menyukai pelajaran sejarah sama sekali.
Banyak sekali hal-hal dalam kehidupan kita yang dibahasakan secara tidak tepat, baik dari segi tata bahasa maupun maknanya. Namun, kita harus menyadari bahwa komunikasi itu dijalin bukan untuk saling menyakiti. Ada komunikasi yang baik, ada juga komunikasi yang benar. Baik berarti mampu dipahami oleh masing-masing pembicara, walaupun dari segi struktur bahasanya tidak sesuai dengan kaidah. Benar berarti sesuai dengan kaidah bahasa yang telah ada, namun seringkali menyebabkan suasana perbincangan menjadi kaku, sehingga menimbulkan kecanggungan. Oleh karena itu, kita diharapkan mampu mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berbicara secara baik, kapan juga waktu yang tepat untuk menggunakan kata-kata yang baku atau resmi. Selain itu, kita juga harus tahu dimana dan dengan siapa kita berbicara. Tidak mungkin seorang sarjana ekonomi yang baru selesai makan di sebuah warung bertanya kepada penjual, “berapa biaya konsumsi yang harus saya keluarkan untuk pecel yang tadi saya makan, Bu?” Atau sangat jarang ditemukan ahli kimia yang berkata, “Bu, saya pesan air bening ya” pada saat makan malam di sebuah warung tenda. Cukup dengan mengatakan “air putih”, maka segelas “air bening” pun datang. Pertanyaan dan permintaan seperti itu tentu tidak salah secara makna, namun kurang tepat dari segi pemilihan tempat dan waktu.
Kadangkala kita ingin menjalani hidup ini dengan santai saja, berbicara apa adanya tanpa ada batasan-batasan tertentu, tertawa lepas tanpa ada yang merasa terganggu, berpakaian yang nyaman tanpa ada yang mencibir, bernyanyi tanpa ada yang menghujat suara kita, bercanda tanpa ada seorang pun yang menanggapinya serius, dan tidur dengan nyaman tanpa ada keributan. Itulah pentingnya kita berada di tempat dan waktu yang tepat. Bulan tidak akan secara egois menggeser posisi matahari pada pagi hari. Begitupun matahari yang tentu saja enggan bersinar di malam hari. Semua ada waktunya. Elang tentu akan kesusahan untuk berenang seperti bebek. Bebek pun tidak akan sanggup terbang di udara seperti elang. Semua memiliki tempat hidup masing-masing. Bahkan, membuang sampah pun tidak boleh di sembarang tempat. Mungkin kita mampu membuang bungkus permen yang kecil itu pada sebuah tempat yang bernama tong sampah, tapi kita belum mampu menahan diri untuk tidak mencaci, menghujat, dan berkata-kata kasar di depan orang lain. Cacian, hujatan, dan kata-kata kasar juga termasuk sampah, perlu dibuang di tempat yang tepat, bukan di gedung-gedung resmi seperti gedung DPR atau ruang pengadilan.
Hidup kita terlalu singkat untuk dilalui bersama pilihan tempat dan waktu yang salah. Oleh karena itu, renungkanlah kembali, sudah tepatkah tempat yang kita pilih saat ini, benarkah ini kendaraan yang tepat untuk semua mimpi kita, atau mungkinkan hanya waktu yang dapat menjawab semuanya. Bila masih ragu akan jawaban dari semua pertanyaan itu, belajarlah dengan nyaman di kampus atau sekolah saat ini, bekerjalah dengan penuh semangat di tempat kerja sekarang, dan cintai keluarga. Itu saja. Waktu akan memberi makna akan semua pilihan kita. Semoga bermanfaat.

Rabu, 03 Februari 2010

Catatan Pada Suatu Pagi..


Pagi ini, langit mulai menampakkan kemegahannya, mempersiapkan diri untuk kehadiran mentari. Aku dapat melihatnya. Syukur mataku tidak buta, ya Tuhan. Kicau burung mulai terdengar bersahut-sahutan, entah sedang bernyanyi atau bercerita. Aku dapat mendengarnya. Syukur telingaku tidak tuli, ya Tuhan. Udara pagi yang kuhirup benar-benar menyejukkan ragaku. Aku pun dapat merasakannya. Syukur hidungku tidak tersumbat, ya Tuhan. Sambutan alam yang begitu indah. Semuanya begitu nyata. Dapat kupandangi, kudengar, dan kurasakan.

Perlahan-lahan, cahaya mentari menerobos masuk melalui kaca jendela kamarku. Debu-debu yang berterbangan pun mulai nampak. Terasa begitu hangat cahaya itu saat mengenai kulitku. Ah, lagi-lagi harus kuakui bahwa ini nyata. Aku hidup. Aku hadir dalam kehidupan ini. Hari ini, bukan kemarin, apalagi besok. Dan nafas adalah satu-satunya hal yang menyadarkanku bahwa aku hidup di hari ini. Menyadarkanku dari lamunan, mimpi, dan khayalan yang entah kapan bisa terwujud. Setiap hirupan dan hembusannya seharusnya menjadi satu bukti kehadiran segenap pikiran dan tenaga kita yang utuh. Terkadang pikiran berkelana menembus batas ruang dan waktu. Melupakan hari ini dan menyisakan raga yang lemah tak berdaya seolah tak mampu digunakan untuk menjalani hari yang nyata ini. Kawan, bawa kembali pikiran itu, bernafaslah dengan tenang karena cara terbaik menghargai hari ini yaitu dengan menghargai nafas.

Tidak ingin terlena lebih lama lagi di tempat tidur, aku pun bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan diri, dengan air tentunya. Seandainya air bisa membersihkan semua penat, lelah, gundah, curiga, dendam, dan amarahku, mungkin aku akan menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi. Namun, percuma saja, air tak mampu melakukannya. Perlahan, aku pun kembali ke kamar. Mengenakan pakaian senyaman mungkin dan mulai mengarahkan pikiran kepada Sang Energi Tertinggi. Terkadang terasa getaran-getaran halus dalam diri, terkadang hilang begitu saja. Begitu damai…terasa ringan. Lepas sudah semua penat dan gundah itu. Terima kasih, ya Tuhan. Engkau hadirkan aku di dunia untuk bisa menyadari keberadaan-Mu melalui semua isyarat ini. Sungguh Maha Romantis. Engkau menampakkan kebesaran-Mu melebihi kemampuanku memandang semesta. Sungguh Maha Besar. Dan Engkau sentuh hati yang kotor ini dengan begitu lembutnya, wahai Sang Penyentuh Hati. Engkau membuatku tidak memiliki alasan untuk tidak mensyukuri semua nikmat ini.

Setelah seluruh raga terisi penuh dengan motivasi, barulah aku mulai sarapan dan bergegas untuk bekerja. Jalanan cukup ramai pagi hari. Pengedara motor dan mobil saling salip, bukan untuk menunjukkan siapa yang terbaik, hanya tidak ingin terlambat sampai tujuan. Ada yang harus menuju kantor, ada yang harus sekolah dan kuliah, ada yang harus bergegas ke pasar, dan ada juga yang baru pulang setelah mendapat giliran kerja malam. Mereka sekolah dan kuliah untuk bisa meningkatkan kualitas diri, sehingga berguna bagi keluarga, bangsa, dan Negara. Mereka bekerja untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga dan orang-orang terkasih. Sungguh mulia. Semua orang ingin berarti. Dan inilah mengapa kita harus tanamkan bahwa bukan seberapa besar tempat dimana kita hidup sekarang, tapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan di dalamnya.

Banyak hal yang tersirat di pagi ini. Masih banyak juga isyarat yang menunggu untuk diberi makna, oleh pikiran dan hati kita. Biarkan cerahnya pagi ini bersemayam dalam hati, membungkus semua mimpi, dan memberikan inspirasi serta motivasi. Semoga bermanfaat.

selsurya.blogspot.com, pada suatu pagi…

Selasa, 26 Januari 2010

Cilacap Part 2

Lanjutan dari Cilacap Part 1 (Kenangan Sebuah Perjalanan)!
Setelah puas berfoto-foto ria di telaga sunyi, perjalanan dilanjutkan ke Pancuran Tiga. Perjalanan ke Pancuran Tiga tidak kalah mengenaskan. Jembatan Gantung yang sudah direparasi tidak luput dari pandangan selama menyusuri jalan menuju Pancuran Tiga. Naik turun tangga membuat kakiku terasa ngilu. Lima puluh meter sebelum Pancuran Tiga ada sebuah tempat pemberhentian sementara. Kita semua beristirahat sebentar disana sambil melihat foto-foto yang banyak tertempel di dinding. Di tempat tujuan, banyak sekali orang-orang yang sedang berendam dengan santainya. Mungkin mereka percaya bahwa semua penat, lelah, dan rasa jenuh akan menguap bersama uap air hangat yang mereka pakai untuk berendam. Semoga saja. Secara perlahan aku mendekati sebuah tempat...dan ternyata disana terdapat tiga buat pancuran yang mengeluarkan air hangat. Tempatnya juga khusus, agak menjorok ke bawah. Namun, yang membuat semua penderitaan perjalananku tidak terbayarkan adalah : KETIGA PANCURAN ITU BUATAN MANUSIA!!!!! TIDAK ALAMI SAMA SEKALI!!!!


Badanku langsung remuk redam, luluh lantah tak berdaya. Lelahku selama perjalanan langsung mengumpul menjadi satu. Berbeda dengan Pancuran Tujuh yang sangat alami, Pancuran Tiga dibuat oleh tangan manusia dari semen dan sejenisnya, sehingga dihasilkan tiga pancuran yang kesemuanya memancurkan air hangat dan memancurkan amarahku!! Sabar...sabar...!

Setelah dari Pancuran Tiga, kita semua langsung menuju tempat makan soto di dekat salah satu Bank yang ada di Purwokerto. Tempatnya sebenarnya biasa saja. Satu porsi soto dihargai 6 ribu rupiah. Yang membuat kita semua terpana adalah orang-orang yang pernah mengunjungi tempat makan ini. Orang-orang itu diantaranya: Doni Sibarani (Ada Band), Dewa Budjana (Gigi), mantan Menteri Perhubungan yang khas dengan kepala botaknya, almarhum Taufik Safalas, dan Komar (Empat Sekawan). Pasti sotonya enak kalau sudah dikunjungi oleh banyak orang terkenal.

Soto datang tepat setelah alarm perutku berbunyi. Penampilannya penuh warna...!! Ada kerupuk yang berwarna merah, ada juga yang kuning, seperti lagu balonku ada sepuluh. Yang khas lagi, sambalnya menggunakan sambal kacang. Tehnya merupakan teh yang baik untuk kesehatan, yaitu teh yang tidak mengandung gula sama sekali. Satu hal saja yang membuat soto ini tidak bernilai sempurna, porsinya terlalu sedikit bagi anak kost seperti aku. Hanya beberapa suap saja, piring sudah bersih dari soto...!

Setelah kenyang, kita semua langsung kembali ke rumahnya si Om. Mas Eko langsung pulang setelah mengantar kita semua sampai rumah. Sepertinya badannya Mas Eko harus segera diistirahatkan di rumah. Kita pun beristirahat di rumah sambil mengenang indahnya perjalanan tadi.

Hari selanjutnya kita jalan-jalan ke Teluk Penyu. Kita berangkat pagi hari dari rumahnya si Om, sekitar jam 6. Supir kita kali ini adalah Dedi. Walaupun baru SMA, Dedi sudah lumayan handal menyetir. Nama lokasinya cukup bagus, tapi sayang disana sama sekali tidak ada penyu. Cuaca agak mendung sewaktu kita kesana. Pemandangannya lumayan indah, bersih, dan airnya sedang pasang. Seandainya cuaca agak bersahabat, mungkin kita berenam sudah sampai di Nusa Kambangan. Sayang sekali, kita hanya bisa melihat Nusa Kambangan dari jarak puluhan kilometer dari Teluk Penyu.



Dari Teluk Penyu kita kembali ke rumah si Om. Setelah menuntaskan kebutuhan jasmani di ruang makan, kita langsung mandi dan tidak lupa gosok gigi. Setelah ganteng, kita meluncur menuju Benteng Pendem. Bentengnya lumayan luas. Nuansa perangnya terasa. Ada banyak terowongan disana. Ada ruang peluru, ruang amunisi, penjara, dan banyak lagi. Jangan menyuruhku menjelaskan sejarah benteng ini, si Om saja, sebagai penduduk pribumi, tidak tahu. Setelah santai-santai di tepian pantai sambil minum es degan, kita semua pulang ke markas. Pulang untuk meninggalkan Cilacap dan kembali ke Surabaya. Namun, suatu saat kita pasti kembali lagi. Aku yakin.



Terima kasih untuk semua pengalaman ini, A2. Mudah-mudahan kita masih bisa merasakan nikmatnya berjalan-jalan dengan sedikit rencana, sedikit biaya, banyak bercanda, dan banyak berdoa. Semoga sukses selalu untuk kalian!

Cilacap Part 1 (Kenangan Sebuah Perjalanan)


20-24 Juni 2008

Perjalanan dimulai lagi. Selalu dengan sedikit rencana dan sedikit biaya. Oleh karena itu, aku, Dani, Daus, Mushlik, dan si Om memilih kereta ekonomi sebagai alat transportasi. Kita sampai di stasiun Gumilir sekitar jam 9 malam setelah sebelumnya sempat hampir turun di stasiun Karangandri karena si Om sudah kangen berat dengan ibu bapaknya. Sampai di stasiun, kita semua disambut orang tuanya si Om. Bapaknya persis sekali dengan si Om. Ibunya terlihat sebagai sosok yang selalu ceria. Kita berlima menuju jalan Bisma dengan avanza silver. Rumahnya si Om berlantai dua. Tentu saja ini yang dinanti-nanti anak-anak, tidur di lantai dua dan bisa genjrang-genjreng sepuasnya. Kamar di lantai dua lumayan luas. Ada gitar akustik, kasur, bantal, gitar elektrik, bas, drum, sofa, tali jemuran, dan yang paling menjengkelkan lagi adalah ada TV. Anak-anak pasti nonton EURO sambil teriak-teriak. Dan yang paling menderita adalah aku karena sepak bola bukan obsesiku dan terjaga di malam hari bukanlah pekerjaan mudah.

Di rumahnya si Om ada kakak ceweknya, namanya Neti. Mbak Neti kuliah di UPN Yogya jurusan teknik kimia. Adik laki-lakinya si Om namanya Dedi. Agak langsing kalau dibandingkan dengan si Om dan lebih gaul..maklum, masih SMA. Satu perbedaan yang paling mendasar antara si Om dan Dedi adalah Dedi punya pacar, sedangkan si Om ....(lanjutin sendiri!)

Malam pertama di Cilacap dilalui dengan tidur nyenyak. Aku tidur di sofa, sedangkan anak-anak yang lain lebih nyaman di kasur bawah. Mungkin tidur kita bakal lebih nyenyak seandainya saja kita berempat tidak mengalami penyakit murahan setelah berjam-jam berada dalam kereta ekonomi dan membiarkan jendela kereta terbuka selama perjalanan. Berdasarkan kesepakatan negara-negara berkembang, nama penyakit ini adalah: “enter wind”. Sang Bayu dengan puas bersenandung di dalam perut kita berempat. Kenapa hanya berempat? Satu-satunya orang yang tidak terserang penyakit memalukan ini adalah si Om. Mungkin juga ini adalah efek kebahagiaan pulang kampung dan bertemu keluarga tercinta. Aku baru percaya bahwa kebahagiaan adalah obat terbaik.

Suasana pagi di Cilacap sangat sejuk. Adem-ayem dan cocok dengan suasana hati. Bisa jadi satu lagu nih disini...hehe. Ibunya si Om baik sekali. Pagi-pagi sudah membuatkan teh untuk kita dan tidak lupa juga menyajikan sarapan pagi. Masakannya mengundang lidah untuk bergoyang, walaupun bukan masakan padang. Aku jadi rindu masakan ibu. Sudah lama tidak merasakannya lagi. Dua makanan yang berasal dari Cilacap dan akan teringat seumur hidupku adalah mendoan dan tahu berontak. Rasa dua gorengan ini: ”Ajip banget, Om...!”

Jam 10 siang kita berangkat ke Purwokerto. Sang supir bernama Mas Eko. Mas Eko adalah teman akrabnya si Om dan rumahnya tidak terlampau jauh dari rumahnya si Om. Dedi juga ikut serta dalam kegilaan kita. Di jalan, kita sempat melihat waduk Serayu yang lumayan luas. Perjalanan ke Purwokerto ditempuh selama 2 jam. Kita langsung mengunjungi objek wisata Batur Raden. Masuk ke tempat wisata tentu saja mengharuskan kita semua merogoh kocek. Satu kepala harus membayar 15 ribu rupiah untuk semua objek wisata yang ada disana.


Objek wisata pertama bernama Pancuran Tujuh. Tempatnya bagitu memukau. Memang ada tujuh pancuran air hangat disana. Mungkin dulu ada tujuh bidadari yang sempat mampir di tempat seperti ini. Aku sangat menyesal tidak mempelajari sejarah dengan baik. Sulfur sudah jadi pemandangan biasa disana. Mineral yang satu ini selalu ada di tempat-tempat pemandian air hangat yang alami. Ada juga bubuk sulfur yang dijual untuk obat seharga 500-1000 rupiah per plastik. Secara umum, jalan menuju Pancuran Tujuh berliku-liku dan banyak pohonnya. Maklum saja, karena kawasan ini adalah kawasan hutan.



Jalan-jalan di area Pancuran Tujuh lumayan membuat capek. Mas Eko juga menyerah dan langsung memesan satu cangkir kopi untuk memulihkan kembali energinya. Anak-anak tidak mau kalah. Aku dan anak-anak langsung menyantap makanan yang tidak bosan-bosannya kami nikmati selama perjalanan ini. Makanan itu adalah MENDOAN!!


Perjalanan dilanjutkan ke lokasi kedua, yaitu Telaga Sunyi. Perjalanan ke telaga cukup menanjak. Untung saja kita semua berada di dalam sebuah benda yang oleh masyarakat Indonesia lebih dikenal sebagai mobil. Perjalanan hanya tentang memutar-mutar benda bulat di hadapan pengendara, menginjak gas dan rem, serta menggerakkan tongkat pendek yang terletak di samping kirinya. Di sepanjang jalan ditemukan banyak terparkir sepada motor yang ditinggal begitu saja oleh pengendaranya. Tempat parkirnya cukup strategis karena bersebelahan dengan semak belukar. Setelah perjalanan yang berliku, kita sampai juga di Telaga Sunyi. Pemandangannya sip, Bro!! Indonesia masih kaya akan objek-objek wisata eksotis. Air telaga begitu dingin, jernih – seolah tidak berusaha menyembunyikan apapun di dalamnya. Gemericik suara air begitu syahdu terdengar telinga. Tuhan, terima kasih atas anugerah-Mu.

Lanjutannya di Cilacap Part 2..!

Minggu, 17 Januari 2010

Dilarang atau Terimakasih


Sewaktu kanak-kanak, seringkali aku dilarang untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya ingin sekali aku lakukan. Larangan itu biasanya datang dari ibunda, ayahnda, kakek-nenek, om-tante, guru-guru, dan teman-teman akrab. Larangan mereka mungkin merupakan perwujudan rasa sayang, namun satu hal yang selalu tertanam dalam otak sebagian anak kecil adalah "Semakin Dilarang, Semakin Penasaran." Larangan pertama mungkin bisa menghentikan langkahku karena tidak jarang disertai dengan bentakan dan munculnya dua jari tangan kanan berbentuk capit yang siap menjewer telingaku. Namun, hal ini tidak begitu ampuh untuk menghentikan langkah selanjutnya. Bila langkah selanjutnya tidak berhasil juga, dengan terpaksa aku mengeluarkan jurus andalan terakhir, yaitu menangis sekeras-kerasnya agar seluruh orang disekelilingku iba dan prihatin. Syukur-syukur kalau ada seorang ibu yang tiba-tiba menghampiri sambil membawakan sebatang coklat agar aku berhenti menangis. Itulah anak kecil. Seringkali tindakannya hanya untuk mendapat perhatian orang lain agar keinginannya terpenuhi.

Terkadang sulit bagi kita, sewaktu kanak-kanak, memahami maksud orang dewasa melarang kita melakukan aktivitas tertentu. Selalu ada satu pertanyaan mendasar dalam hati, "Kenapa hal tersebut dilarang?" Walaupun sudah ada alasan, tetap saja aku belum menemukan korelasi yang tepat antara nasi yang masih tersisa di atas piring dengan kematian seekor ayam. Aku juga belum pernah menemukan pohon yang tumbuh dalam perut seorang anak karena sebelumnya menelan sebutir biji jeruk. Aku rasa, lidahku tidak memanjang setelah aku mengumpat atau berbohong. Dan aku masih penasaran, kapan tangan kanan kita ini diberi predikat tangan manis.

Pernah suatu ketika aku menghadiri sebuah acara pelatihan sumber daya manusia. Ketika istirahat, pada layar proyektor tertulis begitu anggunnya sebuah larangan: "Terimakasih karena Anda tidak Mengaktifkan Handphone." Seketika itu juga, aku langsung mamatikan handphone yang berada di kantong celana. Itu adalah sebuah peringatan yang berisi larangan untuk mengaktifkan handphone, tapi ditulis dengan energi yang sangat positif. Rasanya tidak ada alasan untuk tidak melakukan hal yang diperintahkan. Ada kesejukan dalam hati. Seandainya semua larangan ditulis atau disampaikan dengan cara demikian, aku yakin akan mampu mengurangi peluang dilakukannya tindakan-tindakan yang menyimpang dari yang diperingatkan. Bagiku, ada dua kata yang memiliki energi positif sangat tinggi, yaitu "cinta" dan "terimakasih". Kedua kata positif ini mampu memberikan kedamaian, bukan saja untuk diri sendiri, tapi juga semua orang di dunia ini.

Seiring berjalannya waktu, kita semakin tahu tentang dikotomi benar-salah, baik-buruk, pantas-tidak pantas, tetapi semakin enggan untuk mempertanyakan alasan dibalik kebenaran dan kesalahan itu. Banyak orang tahu sesuatu itu salah atau benar, pantas atau tidak untuk dilakukan, tetapi tidak mengerti mengapa bisa demikian. Kitab suci menuliskan begitu, orang banyak berpendapat sama, dan aku malas harus berbeda dari yang lain adalah alasan-alasan klise. Bukannya ingin mengajarkan bagaimana menyimpang dari ajaran agama, norma, atau aturan yang sudah ada, hanya ingin berbagi bahwa kreativitas itu muncul bukan karena kita selalu mengikuti kebiasaan-kebiasaan umum. Kita tidak akan menjadi orang yang khusus bila selalu menggunakan cara-cara umum. Jangan pernah takut berbeda karena yakinlah yang terbaik itu pasti berbeda. Bebaskan pikiran kita untuk bereksplorasi dengan hal-hal baru. Jangan kurung pikiran itu dengan keengganan melakukan sesuatu karena takut berbuat salah. Dan tetaplah jadi diri sendiri. Hiduplah dengan standar-standar kebahagiaan yang kita tentukan sendiri, bukan yang ditentukan orang lain untuk kita. Kita mungkin sering melakukan kesalahan pada waktu mencoba sesuatu, tetapi itu lebih berharga dibandingkan kita tidak melakukan apapun. Pengalaman adalah guru segalanya. Pada akhirnya, kita akan menjadi pribadi yang unik, mempunyai gaya sendiri, lain dari yang lain, dan memiliki karakter yang kuat. Semoga bermanfaat.


17 Januari 2010, selsurya.blogspot.com

Minggu, 10 Januari 2010

Kesempatan Adalah Sebuah Reaktan


Hidup yang kita jalani saat ini adalah sebuah kesempatan. Kesempatan untuk memberi manfaat bagi sesama seraya mendekatkan diri kepada Yang Maha Tinggi. Satu ciri khas sebuah kesempatan adalah adanya batas waktu. Dengan kata lain, kesempatan selalu terbatas. Ini yang harus kita sadari. Terbatasnya kesempatan mengharuskan kita memberikan usaha-usaha terbaik untuk memanfaatkannya, bukan malah menjadi pribadi manja yang hanya bisa mengeluh. Mengeluh itu hanya memperbesar ukuran keringat.
Banyak orang mengatakan bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Namun, ada sebagian lagi yang didatangi kesempatan yang sama berulang kali. Memang ada kesempatan yang datang hanya sekali seumur hidup. Ada juga yang datang berkali-kali. Bagiku, tidak penting seberapa sering kesempatan itu datang. Yang terpenting adalah kesadaran kita akan kehadirannya dan berusaha menyambutnya dengan segenap usaha. Kesempatan adalah salah satu reaktan keberuntungan. Keberuntungan terbentuk karena reaksi yang sempurna antara kesempatan, persiapan, dan usaha. Dengan tambahan doa sebagai katalis, maka hidup adalah sebuah keajaiban. Kita seringkali mengharap keajaiban datang setiap berhadapan dengan masalah tanpa menyadari bahwa kehidupan yang kita jalani saat ini adalah sebuah keajaiban. Masalah itu justru hadir untuk melapangkan hati kita agar mampu menerima anugerah yang lebih besar lagi. Ada perbedaan paling mendasar antara orang optimis dan pesimis, yaitu perbedaan cara pandang mengenai masalah. Orang optimis memandang masalah sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri, namun orang pesimis memandangnya dengan cara terbalik, setiap kesempatan selalu dianggap masalah. Menjadi salah satu diantaranya adalah sebuah pilihan.
Kadangkala kita berada pada satu titik dimana kita berhadapan langsung dengan dua atau lebih pilihan yang sulit. Sulit karena kesemuanya itu memberikan kesempatan yang sama untuk dapat meningkatkan kualitas diri. Sulit juga karena dengan memilih salah satu berarti juga mengorbankan yang lainnya. Ingin berlari tetapi tidak mampu. Memutuskan diam, namun tidak nyaman. Kemudian doa terlantun begitu indahnya, bahkan lebih panjang dari biasanya. Seseorang pernah mengajarkan bahwa cara terbaik membuat keputusan dari pilihan-pilihan yang sulit adalah dengan mendekatkan kematian. Kematian, yang entah kapan itu, didekatkan secara perlahan untuk memicu pikiran dan hati kita memberikan stimulus-stimulus positif yang mengarah pada keputusan terbaik. Terbaik bagi kehidupan di dunia, maupun kelak. Memang sedikit menyeramkan, tapi tidak ada salahnya dicoba karena toh hanya pengandaian saja. Setidaknya, dengan mendekatkan kematian, kita akan semakin menyadari bahwa hidup bukan hanya urusan perut saja. Bukan hanya tentang kekuasaan saja. Bukan juga melulu tentang uang. Uang memang penting. Namun, sifat materinya hanya bisa didekatkan dengan sifat materi lain, bukan dengan energi. Uang bisa digunakan untuk membeli rumah, mobil mewah, kasur yang empuk, dan makanan yang nikmat (materi), tetapi tidak bisa digunakan untuk membeli persahabatan, persaudaraan, kenyamanan, kebahagiaan, keikhlasan, dan umur panjang, apalagi cinta (energi).
Mudah-mudahan semua keputusan dan tindakan yang kita ambil untuk setiap kesempatan yang hadir memberi warna tersendiri dalam hidup. Warna-warna yang pada akhirnya membentuk satu lukisan kebijaksanaan diri yang menawan. Semoga bermanfaat.



Terima kasih kepada Ibunda dan Ayahnda yang sangat menghargai keputusan yang telah aku ambil. Mudah-mudahan bisa menjadi berkah bagi keluarga. Amien.